Rahasia Gelap Part 13

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Part 25
Part 26Part 27Part 28Part 29Part 30
Part 31Part 32Part 33Part 34Part 35
Part 36Part 37Part 38Part 39Part 40
Part 41Part 42Tamat

Cerita Sex Dewasa Rahasia Gelap Part 13 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya : Cerita Sex Dewasa Rahasia Gelap Part 12

TRIP To SEMARANG
IV

Shit!

Dengan terburu-buru kami merapikan diri.

Andri junior yang masih tegang dengan terpaksa masuk kandangnya.

Sementara Raisa bangkit dari pangkuanku dan menurunkan roknya tangannya sambil dengan cepat menyambar vibrator dan memasukkannya kedalam tas.

Kuambil botol minuman dijok belakang dan menenggaknya, sekedar untuk menurunkan nafsu yang sudah diujung tanduk.

Uffttt Aku mengernyit ketika silau lampu kendaraan bermotor itu mengenai wajahku.

Setelah dekat terlihat sipengandara kendaraan bermotor.

Si polwan cantik!

Ada apa gerangan?

Seperti tadi, sipolwan turun dari motornya, sambil melangkah, pinggulnya digoyangkan dengan gemulai dilatari dengan sinar lampu dari motornya.

Kali ini tanpa diketuk aku menurunkan kaca jendela mobil.

Selamat malam pak, maaf mengganggu lagi Katanya sambil tersenyum.

Iya, ada apa ya mbak?

Bisa pinjam ponselnya pak? Alat komunikasi saya baterainya habis, handphone tidak ada sinyalnya

Ouwh, bisa mbak, tapi buat apa mbak?

Sambil mengambil handphone dari saku celana, kuperhatikan wajahnya yang sedikit kelihatan bingung.

Didepan ada tanah longsor pak, jalan tertutup sekitar 10 meter Terangnya.

Kulihat handphoneku dan bar sinyal menghilang, digantikan dengan dengan tanda silang berwarna merah.

Wah, sama mbak, handphone saya juga tidak ada sinyalnya

Is, hpmu ada sinyalnya? Tanyaku pada Raisa yang sedang minum air.

Sebentar mas Kata Raisa sambil mengambil handphonenya.

Wah, sama ne, gak ada sinyal juga mas Kata Raisa.

Wah, gak ada sinyal juga mbak, gimana mbak? Kutoleh mbak polwan dengan bingung.

Wah, artinya kita gak bisa kemana-mana sekarang pak, jalan buntu dikedua ujungnya. Jalur disini sudah dialihkan ke tempat lain karena jembatan yang rusak

Waduh, artinya kita harus nunggu sampai pagi mbak?

Well, that’s bad.

Iya mas, tadi saya lihat disana ada tanah yang sedikit lapang, mungkin bisa untuk tempat beristirahat, kalau mau ikut, mari kesana mas Ajaknya sambil menuju kemotornya.

Kulihat kearah Raisa dan kulihat dia mengganggukkan kepalanya.

Kukemudikan mobil dibelakang sipolwan cantik.

Dengan perlahan kami menuju ketempat yang dikatakannya tadi.

Mas, baru tadi siang Is minta camping, eh sekarang jadi camping Kata Raisa sambil terseyum.

Iya nih Is, untung masih ada sisa mie instant di belakang, air minum juga masih banyak stocknya

Is juga bawa cemilan mas, jadi gag kelaparan entar, Cuma

Cuma apa Is? Kulihat Raisa menundukkan kepalanya sambil menggigit bibirnya yang tipis.

Is belum mandi mas, dibawah juga masih basah, hihihi Tawanya sambil tersenyum penuh arti.

Owwww.

Kami tiba ditempat yang dikatakan sipolwan cantik, tempat ini cukup luas, namun terkesan sedikit angker karena ada beberapa pohon besar yang tumbuh disekelilingnya.

Kulihat mbak polwan menaruh motornya didekat sebuah pohon, kemudian dia meletakkan jas hujannya di sadel motor.

Hmm, jadi kemah Is? Tantangku pada Raisa.

Ayo, siapa takut? Katanya sambil turun dari mobil.

Oh iya mbak, kenalan dulu Kudengar sipolwan cantik berkata pada Raisa ketika kumendekat kearah mereka.

Megatri

Raisa

Mbak Megatri, ini Andri, TTM saya Kata Raisa sambil tersenyum jahil.

Buset dah ne anak.

Megatri

Andri

Mbak Megatri namanya unik, jadi inget karakter di film robot-robot itu,hihihi
Raisa cekikikan ketika aku menjabat tangan Megatri.

Iya mbak, nama sebenarnya nya Mega Tri Wulandari, tapi di akte salah ketik jadi Megatri Wulandari, yah, jadi dipanggil Megatri terus sampai sekarang mbak Sambil tersenyum Megatri menjelaskan.

Kalau kepanjangan bisa panggil Tri aja Lanjutnya.

Kok gak dipanggil Megan aja mbak? Kan dari wajah mirip tuh Kataku, sambil mengingat wajah salah saru pemeran wanita di film robot di televisi.

Ah mas bisa aja Sahut Tri dengan wajah yang bersemu merah.

Cantik.

Segar.

Seperti bunga mawar yang indah namun penuh duri.

Mbak Tri, kalau mau, nanti bisa gabung sama kita, Mas Andri mau bikin kemah katanya Kata Raisa sambil mengedipkan sebelah matanya.

Hmm, boleh juga mbak, tapi Ragu Tri melanjutkan perkataannya dan memandang kami dengan pandangan bingung.

Tenang aja mbak, mbak gak ganggu kami kok, lagian kalau ada mbak, Mas Andri malah seneng tuh, hihihi Kata Raisa.

God Damn It!

Ne anak ngomong to the point bener.

Tapi apa yang dikatakannya benar juga, kupandang wajah Tri dan dia terlihat semakin manis ketika wajahnya bersemu merah seperti sekarang, tubuhnya terlihat ramping walaupun terbungkus pakaian seragamnya yang sedikit basah terkena hujan.
Rambut poninya mengelilingi wajah oval yang dihiasi lesung pipit ketika tersenyum. Matanya jernih dan kelihatan cerdik.

Jangan didengerin mbak, Raisa memang suka ceplas-ceplos kok

Sambil tersenyum aku mengambil dua tiang yang ada diatas kap mobil dan memasangnya ditanah samping mobil. Aku tarik dan rentangkan atap seperti terpal yang ada diatas mobil, kupasang ke tiang yang baru saja kudirikan. Sekarang mobil kami sudah mirip seperti tenda mini.

Wah, kalau seperti ini tendanya, dimana tidurnya mas? Kata Raisa bingung.

Didalam mobil lah Is

Terus ini buat apa mas? Lanjut Raisa sambil berdiri bingung.

Buat masak Is

Masak, pake apa mas? Kayu bakar?

Pake kompor is

Hah, dimana nyari kompor mas? Tanya Raisa, kelihatan linglung.

Pake ini Is Sambil menunjukkan sebuah smart stove pada Raisa.

​Ouwhh,, pake itu, panci untuk ngerebusnya dimana mas? Biar aku sama Mbak Tri yang masak kata Raisa bersemangat.

Didalam mobil Is, yakin bisa masak neh?

Yeee,, jangan salah, iya kan mbak? Tantang Raisa sambil menoleh kearah Tri.

Iya Mbak Raisa Kata Megan sambil tersenyum.

Panggil Is aja mbak

Kalau begitu panggil saya Tri saja

Sambil memperhatikan kedua gadis itu berbicara, kumasuk kedalam mobil dan melihat perlengkapan yang bisa dimanfaatkan ditas adiknya Frans.

Oke, mari kita lihat apa yang bisa dimanfaatkan.

Senter.

Tali.

Panci.

Nesting.

Sendok.

Garpu.

Lampu tenda.

6 bungkus mie instant.

Air mineral 1 dus.

Garam.

Not bad pikirku, setidaknya sampai besok siang kami masih bisa bertahan.
Kuambil panci dan garam lalu menuju kearah Raisa dan Tri.

Is, ini pancinya

Sambil menyerahkan pancinya kearah Raisa, aku melihat kearah Tri.

Mbak Tri bisa pakai kompornya?

Bisa kok mas, pemantiknya dimana mas? Tanyanya setelah melihat kompornya.

Didalam mobil Tri, sama Is nanti ambilnya, saya mau nyebarin garam dulu ya

Sambil berkata seperti itu aku melangkah mengelilingi mobil dam tenda darurat kami sambil menyebarkan garam.

Kulihat Raisa dan Tri asik berbincang-bincang sambil membuat mie rebus.
Namun Raisa terlihat malu untuk duduk.

Oh iya, dia tidak pakai celana dalam!

Seperti biasa, sel abu-abu dikepalaku langsung bereaksi.

Is, kok berdiri terus? Duduk aja bareng Tri sekalian istirahat Kataku sambil tersenyum.

Takut ada ularnya mas, ihhh…..

Ular apa ular Is? Pikirku.

Udah mas sebarin garam Is, ularnya gak akan berani deket-deket kok

Kulihat Raisa memandangku dengan tatapan mas-jahat-sudah-tahu-aku-gak-pakai-celana-dalam.
Namun hanya sebentar, sebelum matanya berubah ceria.

Tri, aku ganti rok dulu ya, gak enak pakai rok disini Katanya sambil menuju kebagian depan mobil dan membuka pintunya lalu mengambil tas yang dibawanya.

Raisa kemudian masuk kebagian belakang mobil, mungkin biar lebih leluasa mengganti pakaiannya.

Sudah matang mie nya Tri? Tanyaku memulai pembicaraan dengan Megatri.

Baru dua bungkus mas, ini yang ketigaKatanya sambil melihat mengambil mie yang ketiga.

Yang sudah matang Tri taruh di nestingnya mas, kalau mas mau makan duluan silahkan
Katanya sambil menunjukan nesting atau rantang bertingkat.

Nanti saja sekalian Tri, nunggu Is selesai ganti baju dulu Jawabku.

TriTrisini bentar.. Panggil Raisa dari dalam mobil.

Tri kesana dulu ya mas Katanya sambil beranjak menuju mobil.

Huftttmalam yang dingin.

Angin malam mulai berhembus, walaupun tidak keras, namun tetap saja menusuk ketulang. Sinar rembulan sedikit menerangi tempat kami.

Sepi, dingin, sendiri.

Eh, si-celana-dalam-putih bagaimana sekarang disana ya?

Lidya POV

Akhirnya, selesai juga..

Sudah selesai mbak? Tanya Lisa dari balik meja ruang rapat.

Yups, ruang rapat.

Pukul delapan malam dan kami masih berada dikantor G-Team. Ruang rapat tepatnya.

Sudah Lis, draft tugas untuk masing-masing staff sudah selesai, tinggal kita bagikan besok Kataku sambil sedikit menekuk kepalaku yang terasa pegal.

Thanks ya Mas Frans dan Mbak Erlina, sampai malam begini Sambil memandang Mas Frans dan Mbak Erlina yang berada didepanku.

Sama-sama mbak Kata Frans.

Mbak Lidya, saya belum bisa menghubungi Pak Andri, dari tadi sore handphonenya diluar jangkauan, mungkin berada di daerah yang tidak ada sinyalnya Kata Erlina sambil mengutak-atik handphonenya.

Hmmm, mungkin kita bisa hubungi besok mbak, apa saja yang kita perlukan dari Mas Andri?

Untuk sekarang, perkiraan rute yang digunakan, alur produksi dan alur transportasi serta akses ke sistem keamanan dari Alfa Medika agar kita bisa membuat sistem yang bekerja dibawahnya Terang Erlina.

Saya sudah mengirim email ke Pak Andri tentang hasil meeting hari ini dan apa saja yang kita perlukan kedepannya mbak lanjutnya.

Pintar.

Efisien.

Cantik.

Seksi.

Pantas si-mata-keranjang menjadikannya sekretaris.

Apa dia dan si-mata-keranjang ada hubungan spesial?

Aduh!
Kenapa aku memikirkan si-mata-keranjang?
Pasti gara-gara pekerjaan.

Tanpa sadar aku menggelengkan kepalaku berulangkali.

Mbak Lidya, mbak kenapa? Nada suara Lisa terdengar kuatir.

Owh, nggak apa-apa Lis, cuma merasa sedikit penat aja

Istirahat aja dulu mbak, besok kita lanjutkan Untuk pertama kalainya kudengar Frans membuka suara sore ini.

Oke, kalau begitu besok kita lanjutkan lagi ya, thanks kerja kerasnya hari ini

Sambil beres-beres kulirik kearah Erlina.

Belahan dadanya cukup terlihat.

Dan dadanya, semua wanita pasti ingin punya dada sepertinya.

Dibandingkan aku yang punya dada minimalis seperti ini.

Huffffttt.

Mari mbak saya duluan Kata Erlina sambil beranjak keluar ruangan rapat.

Silahkan mbak Kataku.

Mbak, aku sama Mas Frans mau nyari makan di deket sini, mbak mau ikut? Tawar Lisa.

Enggak is, mbak nitip beli roti sama buah aja ya?

Oke mbak, kalau begitu kami duluan ya Kata Lisa.

Mari mbak Lanjut Mas Frans.

Hmmmm

Kelihatannya Mas Frans dan Lisa semakin dekat saja.

Kupandangi mereka yang beranjak kepintu sambil mengambil tas tanganku.

Saatnya pulang dan beristirahat.

Dengan perlahan aku melangkah keluar ruangan dan menuju kemessku.

Mess si-mata-keranjang tepatnya.

Sampai dimess kuletakkan barang bawaanku dan bersandar sejenak di sofa ruang tamu.

Huftt, hari yang melelahkan

Namun aku merasa puas, walaupun tanpa kehadiran si-mata-keranjang, aku bisa mengatasinya dengan baik. Setidaknya aku bisa menjalakan tugasku dengan baik hari ini.

Well.

Dengan dukungan Mas Frans, Lisa dan tentu saja si-sekretaris-seksi, Erlina.

Tok.Tok.tok.

Siapa yang datang kemari?

Pikirku dengan heran.

Iya sebentar Sahutku sambil beranjak ke pintu.

Kriieeeettt…

Kulihat seorang staff dari G-Team berdiri didepan pintu sambil membawa sebuah koper dan sekeranjang buah-buahan.

Koperku.

Koperku?

Maaf mbak, saya diminta Mbak Frida mengantarkan koper ini ke mbak, sekalian dengan kunci ini mbak Katanya sambil menyerahkan koper dan sebuah kunci.

Kunci mobilku.

Ya tuhan, aku sama sekali lupa dengan pakaian dan mobilku!

Waduh, terimakasih sudah repot mengantarkannya kesini mas Sahutku malu.

Sama-sama mbak, oh iya, untuk kamarnya mau dibersihkan setiap hari atau bagaimana mbak? Kalau mau dibersihkan, tolong titip kuncinya di FO ya mbak, soalnya kuncinya cuma dua, yang satu masih Pak Andri yang bawa. Terangnya.

Hmmm, mungkin gak usah saja mas, biar nanti saya saja yang membersihkan

Kalau begitu mari mbak Katanya sambil beranjak pergi.

Hufffttt, lagi-lagi aku merasa malu dengan si-mata-keranjang yang telah mengingat koper dan mobilku.

Dan aku disini mencurigainya macam-macam.

Tapi, dia bertemu dengan sekretaris dari Alfa Medika, dan sekarang berduaan dengannya, mungkin masih.
Apa yang dilakukannya sekarang ya?

Andri POV

Huft, kenapa aku memikirkannya sekarang.

Padahal ada dua orang gadis cantik disini.

Kulihat kedalam mobil dari celah-celah jendela. Kulihat tangan seseorang terangkat keatas. Kemudian sebuah blouse terangkat melewati tangan yang terangkat itu.

Perlahan tangan itu menekuk kebelakang dan sebuah bra terlihat menyusuri tangan itu.

Glek..

Dari belakang, terlihat sebuah tubuh mulus yang terawat, walaupun tidak secara jelas karena gelapnya malam.

Tubuh mulus Raisa.

Sekarang tangan itu terlihat menggenggam sebuah tank top hitam, yang kemudian melewati tangan yang kecil itu. Terus lewat kepala dan meluncur turun, melewati kepala dan akhirnya terlihat kontras dengan kulit tubuh putihnya.

Oh well, berarti…

Tanpa bra!

Gleekkk

Kemudian tubuh itu perlahan bangun sehingga bisa terlihat pantat yang masih tertutup oleh rok hitam. Kemudian pelan-pelan tangan itu memasang sebuah kain yang mirip kain pantai disekeliling pinggul yang ranum.

Dan perlahan pantat itu menungging dan tangan itu meluncur kebawah, melepaskan rok dan terangkat keatas.

Raisa go commando!

Malam yang menegangkan!

Eh, apakah Tri ganti baju juga?

Sudut dalam mobil begitu gelap, sehingga hanya bisa kulihat silhuetnya saja. Tidak terlalu jelas.
Beberapa lama kemudian kulihat Raisa turun dari mobil.

Oh

My

God.

Dengan sedikit sinar dari lampu tenda, terlihat samar kaki jenjang Raisa dari kain pantai tipis yang dipakainya. Kulihat sedikit keatas, terlihat samar rambut kemaluan yang cukup lebat.

Wow, Raisa tidak mencukur rambut yang tumbuh disana.

Keatas lagi, tank top hitam itu cukup ketat membalut tubuh indah dari Raisa dan terlihat puting kecilnya tercetak indah.

Perlahan Andri junior menegang dibawah.

Dan belum cukup sampai disitu, dibelakang Raisa terlihat Tri berjalan malu-malu.

Dengan celana pendek hitam dan tank top dengan warna senada. Paha mulus Tri terpangpang jelas, karena celana yang dikenakannya cukup pendek. Kulit Tri terlihat kontras dengan warna pakain yang digunakannya, dan itu semakin membuatnya terlihat menantang. Wajahnya terlihat segar kemerahan.

Malu? Mungkin.

Ihh,, Mas Andri, awas meloncat tu mata, segitunya ngeliat, ckckckc Ledek Raisa ketika aku tak berkedip melihatnya dan Tri.

Ada bidadari turun dari mobil, gimana gak liat sahutku memuji penampilan mereka.

Tri yang bidadarinya kali, kalau aku dayangnya aja Sahut Raisa.

Kalau seperti Mbak Is dayangnya, rajanya pada ngiler lihat deh Timpal Tri.

Iya-iya, terserah bidadari atau dayang, yang jelas, ada yang mau makan malam?

Mauuuuuu.Dengan kompak Raisa dan Tri menjawab.

Dingin, sepi dan ditengah malam seperti ini.

Perut dengan cepat terasa lapar.

Aku bagikan rantang satu persatu kepada Raisa dan Tri.

Garpu plastik sekali pakai juga tidak ketinggalan.

Mari makan Seruku sambil mulai menyendok mie.

Hmmmmm, sedapnya.. Tak sadar aku bergumam.

Benar kata orang-orang. Lauk terbaik adalah rasa lapar Kata Tri.

Wah, gak nyangka mie bisa terasa enak seperti ini Puji Raisa.

Tri asli sini Lanjut Raisa sambil makan.

Iya Is, kira-kira 10 km dari sini. Kalu Is sama Mas Andri? Tanya Tri.

Aku dan Mas Andri dari Jakarta

Mau kemana Is? Lanjut Tri.

Semarang Tri, ngambil gambar pabrikku untuk programnya Mas Andri nanti Jawab Raisa dengan mulut yang penuh dengan mie.

Wah, asyik ne Is, kerja sama pacarnya Senyum Tri sambil melihat kearahku.

Belum pacaran Tri, masih TTM-an Jawabku.

Iyah ne Tri, pacaran belum, mesumnya udah Kata Raisa blak-blakan.

Ughttt…uhuuukkk…uhuuukkkk…..

Aduh mas, kalau makan pelan-pelan biar gak keselek Kata Raisa sambil memberikan sebuah air mineral gelas dari dalam mobil.

Dia juga mengambil beberapa dan diletakkan diatas tanah.

Sialan, Is.

Itu mulut mending dipake buat ciuman aja deh, kalau ngomong seringan blak-blakan.
Pikirku.

Jangan didengerin Tri, Raisa suka ngawur kalau ngomong Kataku sambil minum.

Iya mas Jawab Tri dengan pelan, namun bisa kulihat wajahnya memerah.

Ih, siapa bilang ngawur, tadi aja mau main, tapi keburu Tri datang,hihihi

Gubraakkkkkkkk.

Raiiiiiisssssaaaaaaaaaaaaaaa!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!

Uuhhukkkk..uhuuukkkkk..uggghttt Sekarang giliran Tri yang terbatuk.

Ini Tri Sambil kuserahkan air minum kemasan kepadanya.

Bisa kulihat wajahnya merah padam.

Karena tersedakkah atau malu?

Entahlah.

Oh iya, Tri sudah punya pacar Tanya Raisa seolah tidak terjadi apa-apa.

Udah nikah mbak, baru sebulan Jawan Tri sambil tersenyum malu-malu.

Wah, pengantin baru nih, selamat-selamat, gak ditungguin entar dirumah ne? kataku sambil memandang Tri.

Sejenak wajah Tri berubah sebelum dia menjawab.

Gak mas, suami Tri sedang ke Jepang sekarang Katanya pelan.

Wah, kok pengantin baru sudah ditinggal Tri? tanya Raisa.

Iya Is, soalnya sedang study S2 disana, tidak dapat libur terlalu lama Is

Orang Jepang Tri? lanjut Raisa.

Iya Is

Kulihat Raisa tersenyum kecil.

Apa lagi yang dipikirkan ne anak?

Huaahhh, sedapnya, full rasanya Kata Raisa setelah selesai makan.

Setelah itu Raisa mendekatiku sambil berbisik.

Mas, mau makanan penutup?

Bersambung