Rahasia Gelap Part 11

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Part 25
Part 26Part 27Part 28Part 29Part 30
Part 31Part 32Part 33

Cerita Sex Dewasa Rahasia Gelap Part 11 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya : Cerita Sex Dewasa Rahasia Gelap Part 10

TRIP To SEMARANG
II

Butterfly?

Kupu-kupu.

Vibrator?

Penggetar.

Remote?

Pengendali.

Lambat-lambat otakku mencerna kata demi kata yang dikatakan Raisa.
Pelan-pelan terbayang suatu benda dibenakku.

​Terpaksa aku menelan ludah yang mulai mengumpul ditenggorokanku.

“Mas, aku juga gak pake cd lhoo….”

Shit….

Bayangan bibir vagina yang diisi dengan vibrator berbentuk kupu-kupu samar-samar terbentuk.

“Vibratornya isi penis, tapi kecil mas, sebesar jari telunjuk”

Gleeekk….

“Warnanya silver gelap, talinya ngelilit dipahaku mas…”

Gleekkk. Huffftttt…

“Penisnya kekecilan mas, kurang berasa, pengen punya mas yang ada disini..”

“Kepala kupu-kupunya pas di clitku lho mas….”

Seandainya tidak di jalan tol.
Seandainya aku tidak nyetir.
Seandainya…

“Hihihi…mas, ada yang bangun…” Katanya pelan sambil mengelus tonjolan di celanaku.

Digoda seperti ini.
Gak normal kalau Andri junior tidak memberontak disarangnya!

“Hihihi, makin keras aja mas…hmmmm” Pelan-pelan tangan Raisa memijat pelan penisku dari balik celana yang kupakai.

Hujan masih turun rintik-rintik, jalan tol sudah kami lewati tanpa terasa. Jalanan sedikit terasa lengang.

Mungkin karena hujan.

Srrrttttt…

“Eh, ngapain Is?”

“Hmmm, kasian kekurung didalam mas” Sahut Raisa sambil menurunkan resletingku. Tangannya yang mungil perlahan mengeluarkan penisku dari celah resleting.
“Is, nanti kelihatan yang lain”

“Sepi kok mas, lagian hujan, sulit lihat dari luar” Sambil tersenyum jahil Raisa mengocok pelan penisku yang sudah mengeras.

“Lagian Is dah kangen ma ini…cup..” Sambil menurunkan badannya, bibir mungil Raisa mengecup pelan kepala penisku yang sudah mengeras.

“Ufffttttt…huufhhhh…”tak bisa kutahan desisan pelan keluar dari mulutku ketika penisku dengan pelan masuk kedalam mulutnya.

Dengan cepat kepala Raisa naik turun di penisku. Semakin lama semakin cepat.

Tangan kananku memegang kemudi sedangkan tangan kiriku memegang kepala Raisa, menekannya sehingga mengulum penisku lebih dalam.

“Is, stop dulu, traffic light” Bisikku sambil menarik pelan kepala Raisa dari penisku.

Kumasukkan penisku tanpa menutup resleting celanaku.

It’s my time.

Ceklek…

Kutekan tombol on pada remote control yang tadi diberikan Raisa kepadaku.

“Ihhh, mas jahat” Kata Raisa sambil mencubit pelan lenganku.

Nguuunngggg…

Suara dengungan vibratornya sangat pelan, walau tanpa musik yang hidup didalam mobilpun tidak akan terdengar dari luar.

Tek…

Kutambah satu bar lagi kekuatan getarnya.

“Sttttttss, mas” Pandangan sayu Raisa semakin membuatku bersemangat.

Kutekan pedal gas ketika lampu berubah menjadi hijau.

“Sini mas” Sambil berkata seperti itu, kepala Raisa dengan cepat menunduk, mulutnya dengan cepat kembali mengemut penisku.

Tek…

Satu bar lagi.

“Ughhtttt,,,huuffgttt” Seiring dengan bertambahnya getaran vibratornya, hisapan Raisa juga semakin cepat dan kuat.

Hampir lima menit dia mengoral penisku ketika kunikmatan itu akan mendekati puncaknya.

“Is, cepetin,,,” Pintaku.

Plooppp…

“Kok?” Kataku sambil menatap bingung wajah Raisa ketika dia mengangkat kepalanya.

“Simpan buat nanti mas” Katanya sambil tersenyum jahil.

Ampun DJ.

Kumatikan vibrator yang dipakai Raisa. Rasanya gak adil kalau nanti dia mendapatkan orgasme dari benda itu.

“Eh mas, berhenti sebentar didepan, Is mau beli minum” Pinta Raisa ketika sebuah mini market terlihat tidak jauh didepan.

Hujan sudah berhenti sedari tadi, namun sinar matahari rupanya masih enggan menunjukkan dirinya.
Kumasukkan mobil kami ke area parkir dari minimarket itu.

“Mas tunggu disini ya, Is gak lama koq” Kata Raisa sambil membuka pintu dan turun menuju ke minimarket.

Kuambil handphoneku dan mulai mencatat dimana, pukul berapa kami sekarang.

Hmmmm, baru seperlima perjalanan pikirku.

Pandanganku terbentur kepada remote control vibrator yang diberikan Raisa tadi.

Sebuah ide muncul dibenakku.

Dengan tergesa au buka pintu mobil dan dengan langkah cepat masuk kedalam minimarket.

Kulihat Raisa masih mencari beberapa minuman kaleng yang tersedia.

Ceklek…

Kunyalakan vibratornya dari remote yang kubawa.

Bisa kulihat Raisa sedikit tersentak ketika getaran tiba-tiba melanda vaginanya.
Kepalanya menoleh kesana kemari, dan melotot galak ketika melihatku memegang remote controlnya.

Wajahnya terlihat antara marah, nafsu dan takut.

Tek…

Kutambah satu bar lagi.

Raisa mendelikkan matanya kepadaku.

1-1.
Biar adil.

Kuhampiri Raisa yang wajahnya terlihat mulai memerah.

“Kenapa Is?”

“Mas jahat, matiin mas, Is udah gak tahan” Katanya sambil menggigit pelan bibirnya yang merah.

“Yakin is?”

“Ihh mas” Dengan langkah yang sedikit kaku Raisa melangkah menuju kasir. Aku melangkah dibelakangnya dan ikut mengantri disampingnya.

“Ini semua mbak?” Tanya kasir dengan ramah.

“Iya mbak”Sahut Raisa sambil mengambil dompetnya. Kulihat tangannya sedikit gemetar. Samar aku bisa mendengar dengung dari vibrator di vagina Raisa.

Kupanggil handphone Raisa dari HP ku. Raisa mengambil HPnya dan menoleh keheranan kearahku.

Suara getaran HPnya mengaburkan suara dengungan vibrator di vaginanya.

Tek.tek.tek…

Kutambah frekuensi getaran vibratornya ke frekuensi maksimal. Kulihat Raisa terkejut dan sedikit terhuyung.

“Mbak nggak apa-apa?” Tanya kasir dengan cemas.

“Owh, teman saya sedikit kurang enak badan mbak” Jawabku sebelum Raisa sempat berbicara.

Kulihat tangan Raisa meremas roknya dengan keras.

“Ini kembaliannya mbak” Kata kasir sambil memandang kami dengan sedikit heran.

Raisa melangkah dengan cepat ke mobil.

Aku ikut dibelakangnya dan membukakan pintu mobil untuknya.
Sambil tersenyum aku melangkah ke kursi pengemudi.

“Ahhhhh,,, mas jahat” Kata Raisa sambil memukul lenganku.

“Tapi enak kan Is?”

“Banget”

“Mas, dikit lagi, kerasin mas…” Pinta Raisa sambil meremas tanganku.

Ceklek.

Kumatikan vibratornya dan tersenyum kearah Raisa.

“Buat nanti Is”.

Bersambung