Rahasia Gelap Part 1

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Part 25
Part 26Part 27Part 28Part 29Part 30
Part 31Part 32Part 33

Cerita Sex Dewasa Rahasia Gelap Part 1 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sex Dewasa Rahasia Gelap Part 1

PREPARATION

“Apa dia masih menyelidiki hal itu?” Tanya seorang yang berjas hitam kepada beberapa orang di depannya.
“Masih boss, setiap hari dia semakin dekat ” Sahut si mata sipit.
“Apa yang harus kami lakukan?” Tanya si kemeja putih.
“Habisi dia” Sahut si jas hitam.
“Apa boss yakin?” Tanya si mata sipit.
“Tentu saja!”.

***

“Pagi boss…” Sapa Erlina. Sekretaris pribadiku.

Dengan tinggi 165cm, payudara yang besar dan pantat yang sekal, tentu dengan mudah aku bisa tertarik atau tidur dengannya. Namun, well, dia sekretarisku. Bisnis adalah bisnis, seks adalah seks.

Percayalah, sekretaris yang bagus susah ditemui. Setidaknya itu pengalamanku dengan beberapa senior Erlina. Mendapatkan kombinasi wajah cantik, tubuh yang bagus dan otak yang encer dan memahami tugasnya, sesuatu yang sulit. Beberapa pendahulu Erlina bahkan rela telentang diatas mejaku supaya bisa bertahan dengan pekerjaannya.

“Pagi Lina”. Lina, itu panggilanku untuknya.

“Jadwal hari ini hanya rapat dengan Pak Edy dan Frans, kemudian ini beberapa dokumen yang perlu anda tandatangani” Sahutnya sambil menyerahkan setumpuk dokumen.

Ketika menunduk, belahan dadanya terlihat dengan jelas, well 34D, cukup membuat menggeliat yang dibawah sana.

“Thanks Lin, tolong minta Edy dan Frans ke ruang rapat”

“Iya pak” Sahutnya sambil berlalu menuju keruangannya, menyisakan pemandangan pantat sekal berbalut rok mini yang bergoyang dengan gemulainya.

Huft, minggu yang melelahkan.

Oh ia, aku Andri, di usia ku yang 25 tahun ini, aku bekerja sebagai CEO di perusahaan yang kudirikan 3 tahun lalu. Perusahaan yang bergerak di bidang IT ini sekarang telah cukup mempunyai nama di bidangnya. Frans dan Edy adalah teman-teman sekaligus pemegang saham terbesar di perusahaan ini. Frans bekerja sebagai kepala marketing, well, sesuai dengan orangnya yang humoris, easygoing dan lady-killer. Edy di bagian keuangan. Dari tiga orang ini, hanya Edy yang sudah berkeluarga. Dan, benar, dia orang yang paling sabar dan teliti dari kami bertiga.

“Pak, sudah ditunggu di ruang rapat” Tegur Lina yang sekaligus membuyarkan lamunanku.

“Roger that.” Sahutku sambil beranjak keruang rapat.

***

“Woi Ndri,, cepet dikit lah, banyak acara hari ini boyyyyy….” Kicau Frans saat aku masuk keruang rapat.

“Acara? Paling dugem atau kelayapan” Sahut Edy sambil tersenyum.

“Harus, malam minggu man, saat nya melemaskan otot yang tegang” Sahut Frans sambil nyengir.

“Roger that, melemaskan otot yang tegang, dan menegangkan otot yang lemas, ikutlah sekali-kali, Intan pasti tidak keberatan” Sahutku. Intan, istri Edy.

“Well, setidaknya, aku ada yang menunggu dirumah, bebas melemaskan yang tegang kapan pun yang ku mau, dan, gratis” Giliran Edy yang tersenyum lebar.

Skak

“Hmmmm, sebaiknya kita membahas proposal untuk Alfa Medika” Sahutku sebelum debat tentang melemaskan otot ini berkepanjangan.

“Roger that” Sahut Edy dan Frans bersamaan.

“Jadi, hari Senin, kita ada presentasi dengan Alfa Medika. Mereka perusahaan farmasi terbesar di Asia Tenggara. Fokus kita kali ini membuat program untuk produksi, tranportasi dan karyawan. Kemungkinan nanti kalau deal, langsung dengan hardware nya juga. Data-data pendukung dan materi presentasi sudah ada di file yang kukirimkan lewat email. Ada saran?”

“Jadi seperti rapat sebelumnya, titik berat nya di GUI, buat sederhana dan user friendly. Kita fokuskan disana” Saran Frans.

“Ide yang bagus, namun kita masih kekurangan data untuk teknis produksi dan alur transportasinya. Untuk keamanan, standar 2 layer seperti di presentasimu sudah cukup. Namun kudengar, bukan hanya kita yang akan presentasi senin ini?” Timpal Edy.

“Yups, aku hanya diberitahu akan ada dua presentasi. Tapi aku belum tahu siapa atau perusahaan apa yang akan ada disana.”

“Well sebaiknya kau bersiap-siap hadapi segala kemungkinannya” Saran Edy.
“Dan boss, file tentang CEO Alfa Medika, sudah kukirmkan lewat email. Minggu yang sibuk boss!” Cengir Frans.

“Itu bisa kami kerjakan kalau kau mau Ndrii, kita juga punya staff khusus untuk mempersiapkan presentasi dan contoh dari GUI nya” Saran Edy mengenai presentasi hari Senin.

“Well, aku terbiasa melakukannya sendiri Di, tidak plong rasanya kalau mempresentasikan hal yang orang lain buat dan mempresentasikan hal yang kurang kau kuasai” Jawabku seperti biasa.

“Kalau begitu jangan kelayapan dan ngegame besok dan minggu” Saran Edy seperti biasa.

“Sialan, tidak bisa allnight party nih…” Gerutuku.

“Well, kudengar Bidadari Massage punya banyak terapis baru akhir-akhir ini, tertarik? ”

Finally, good news for today.

“Roger that.”

“Negative.”

Sudah bisa menduga yang bilang negative kan???

***

30 Menit kemudian. Bidadari Massage.

“Halo cantik, punya beberapa peri manis dan lugu untuk melemaskan otot yang tegang?” Sambil tersenyum mesum Frans bertanya kepada mami disana.

“Melemaskan aja nih mas?” Sambil tersenyum Nia, mami sekaligus resepsionis disini menyapa kami yang baru datang.

“Hmmm,, maunya sih keduanya, katanya ada beberapa peri baru ya?” Sahut Frans.

“Tau aja Mas Frans kita ada stok baru disini”

“Mana?” Tak sabar Frans bertanya.

“Ini koleksi baru hari ini” Sambung dia sambil menyerahkan album kecil berisi beberapa foto gadis full body dengan baju yang mini.

“Ini Ida, baru datang seminggu lalu, janda anak satu. Ini Intan….” bla bla bla.

“Ini siapa?” Sela ku sambil menunjuk seorang gadis di halaman terakhir album fotonya yang mengenakan blus putih dan rok hitam mini.

“Boss tau aja barang yang bagus, ini Sisca, baru dtg beberapa hari yang lalu. Sebelumnya dia kerja di panti pijat milik ibunya.”

“Panti pijat milik ibunya?” Alisku berkerut mendengarnya.

“Iya boss, dia baru hari ini melayani tamu ++” Cengirnya.

Well, setidaknya aku akan mendapatkan pijatan yang bagus hari ini.

“Aku pilih dia, longtime”.

“Yakin boss??, soalnya dia baru pertama layani tamu hari ini, pijatannya oke, tapi urusan ini” sambil mengelus penis ku dari balik celana yang kupakai.

“Kayaknya dia perlu training lebih boss “. Katanya manja.

“Hmmm…. Nanti kalau perlu trainer lebih, aku panggil kamu” Sahutku sambil tersenyum.

“Oke, aku pilih Intan dan Nia, longtime!” Cengir Frans tak mau kalah denganku.

Setelah selesai deal dengan sang mami, kami pun segera diantar ke ruang VIP.

Di pintu menunggu lah sang bidadari.

Mengenakan kimono berwarna ungu diatas lutut yang memperlihatkan paha mulus khas ABG nya. Rambut panjang sepinggang yang dibiarkan tergerai, membingkai wajah yang cantik dengan makeup yang minimalis. Dan penis ku mulai menggeliat dibawah sana.

“Sisca, ini Mas Andri, langganan kita disini, layani dengan baik ya, kalau perlu bantuan, teleponkedepan saja” Saran Nia sambil menggoyangkan pantat nya yang besar kembali ke meja resepsionis.

“Mari mas, ke dalam dulu” Ajak Sisca dengan ramah.

Sambil berjalan masuk, mataku mengikuti pantat kenyal Sisca yang sedikit terhalang oleh kimononya.

“Mari saya bantu buka pakainnya mas ” Tawar Sisca yang kujawab hanya dengan anggukan.

Dengan telaten tangannya yang mungil mulai dengan perlahan membuka satu demi satu kancing kemeja yang kupakai. Tangannya sedikit bergetar dan kulirik mukanya pun sedikit memerah.

“Hari pertama ya?” Tanyaku.

“Ehh.. iya mas” Sahutnya tersipu.

“Santai saja Sis” Kataku sambil sedikit tersenyum.

Dengan sedikit menunduk dia membantu menurunkan celana panjang yang kupakai.

“Mas maw dipijit apanya dulu? ” Tanyanya dengan lembut.

“Penisku Sis “Ups.

“Ehh.. itu… anu….” Dengan tergagap Sisca berusaha menjawab.

“Hahaha… bercanda Sis,, itu nanti, pijit bahu dan punggunggu aja dulu” Jawabku sambil merebahkan diri di kasur king size di sebelah jacuzzi berbentuk bulat. Selain jacuzzi juga tersedia shower dan wastafel.
Hmmmm,,, ruangan yang komplit.

“Mas mau minum apa? ” tanya Sisca sambil mengambil peralatan massage dari sebuah lemari kecil sebelah kasur. Hmmm,,, disebelah kotak massage ada kotak yang bisa membuat mu melayang sis…
Tangan-tangan lembut Sisca mulai memijat bahuku yang lumayan pegal. Dengan terampil jari jemarinya memijat urat-urat yang pegal di bahuku.

Good massage girl.
Well sebaiknya jarinya juga seahli itu di bagian tubuh yang lain. Pikiranku mulai membayangkan jemarinya yang lentik mengocok penisku.

Dan, junior dibawah sana pun mulai beraksi.

“Hmmm,,, pijetanmu enak sis, dah lama mijet?” Tanyaku mencairkan suasana.

“Sudah setahun lebih mas, bantu mijet di panti milik ibu dulu” Sahut Sisca.

“Asal mana Sis? Kok pindah? ”

“Bandung mas, ingin cari pengalaman aja mas”

“Loh, katanya Nia kamu pindah karena ada masalah?” Sorry Nia, pinjem namanya bentar.

“Eh anu mas…”

“Bilang ja, santai aja sis”

“Aku pindah karena bertengkar dengan ibu” Sahutnya lirih.

Shit.

“Pijat kebawah dikit sis” Sahutku mencairkan suasana yang terasa sedikit kaku.
Tangan nya dengan lembut mulai memijat paha dan kakiku.

Bukan dibawah itu sayang.

“Mas bisa balik, Sisca mau pijat yang sebelahnya” Kata Sisca setelah 30 menit lebih memijat kaki dan pahaku.
Tanpa menjawab aku membalikkan badan.

Oh my god!

Wajah Sisca sedikit memerah, butir keringat menempel di dahinya. Beberapa helai rambut menempel di dahi dan pipinya. Dan giginya menggigit bibir bawahnya.

Hmmm,,, bibir itu. Merah dan basah.
Uffttt,, ada yang mengeras!

Sambil mengoleskan minyak Sisca mulai memijat bahu dan tanganku.

Wangi parfumnya mengelus hidungku.

Si junior dibwah sana mulai sesak!

“Ah, Sisca curang, masa aku dah buka baju gini, kamu masih pakai kimononya?” Sambil pura-pura cemberut aku bertanya kepadanya.

“Sini aku bantu bukain” Tanpa menunggu persetujuannya, aku membuka tali kimono dibagian pinggangnya. Dengan perlahan kimono ungu nya jatuh kelantai.

Oh My God!

Tanpa bra!

Hanya mengenakan g-string mini warna hitam yang kontras dikulitnya yang putih. Putingnya berwarna kemerahan dan terlihat mengacung malu-malu!
Dengan perlahan dia melanjutkan pjatannya di bahu kananku.

Harum tubuhnya semakin jelas di hidungku. Boxerku mulai melengkung, menahan penisku ku yang sudah setengah tegang.

“Kok pake tangan ja mijetnya Sis?” sambil kulirik nakal payudaranya yang sekal.

“Eh, iya mas” Dengan canggung dia naik keatas tubuhku.

Dengan perlahan dia menekankan payudaranya ke dadaku.

Empuk.

Sekal.

Dan putingnya mengeras!

Well, bukan aku saja yang terangsang disini.
Dengan lembut payudaranya menggesek dadaku.
Pahanya menekan penisku dibalik boxer yang kukenakan.

Dari dada, payudara bergerak turun ke pinggang, melewati boxer ku, menuju paha kanan.

Wajahnya terlihat bersemu merah. Mungkin antara malu atau terangsang.
Aku tidak tahan lagi!

Dengan lembut kupegang tangannya ditepian boxerku, dengan perlahan tangannya kubimbing untuk menurunkannya.

Tuinggg…

Dengan sigap penisku yang sudah mengeras dari tadi keluar dari sarangnya.

“Ouwh,,,, ” tatapan kagumnya membuat darahku mengalir lebih deras.

“Sekarang giliranmu sayang”.

Sisca POV

Aku bisa merasakan wajahku memanas saat melihat ukuran penis Andri. Walaupun belum menyentuhnya secara langsung, namun rasanya jauh lebih besar dari ukuran penis mantan pacarku.

Oke. Jujur ini penis kedua yang pernah kulihat selain penis mantan pacarku. Dan membayangkannya memasuki diriku, membuat vaginaku basah.

Dengan lembut dia mencium bibirku. Lidahnya yang basah menyeruak masuk. Mencoba membelit lidahku yang pasrah menerimanya. Tangannya yang terampil tanpa henti mengusap lembut payudaraku. Namun, putingku yang menegang keras belum disentuhnya. Ini membuat gairahku semakin tinggi.

Ciumannya perlahan turun kearah leher, menyusuri rahangku, kemudian dengan perlahan menelusuri kedua buah payudaraku. Tak bisa kutahan lagi tanganku dengan reflek mengarahkan wajah Mas Andri ke putingku yang geli ingin disentuh.

“Aaahh.. sshh.. sshh” aku tak bisa menahan desah kenikmatan ketika dengan rakus mulutnya mengulum putingku yang kecil kemerahan. Tak sadar aku mencengkram rambutnya dengan keras. Mencoba menekan kepalanya lebih dekat lagi.

Sambil tetap menciumi putingku yang membesar dengan rakus, dengan pelan dia merebahkan tubuhku yang hanya tinggal mengenakan g-string hitam mini. Sekarang aktivitas kulumannya berganti dengan remasan tangannya yang kasar. Sementara itu mulutnya dengan intens menciumi perutku, dia berhenti sebentar disana, dengan penasaran ku melihat kebawah untuk memandang dua buah mata yang gelap diselimuti birahi.

Sambil tersenyul simpul, dengan menggunakan giginya, perlahan dia menurunkan g-string ku sampai mata kaki. Gesekan antara dagunya yang kasar paha dalamku membuatku merinding geli.
“Wow… Nice… vagina yang sempurna. Dan basah” Pujinya sambil memandang celah kecil diantara kedua pahaku yang polos.

Untungnya pagi ini aku sempat mencukur habis semua rambut kemaluanku, namun menyisakan segitiga kecil di atas clit-ku.
Ciumannya berlanjut, pahaku bagian dalam terus….

Please.. cium vaginaku….

Pacarku belum pernah mau mencium vaginaku, dan dari cerita dari teman-teman yang sudah lama disini membuatku penasaran bagaimana rasanya jika bagian itu dijilat dengan lidah yang kasar dan basah. Membayangkannya saja mulai membuat gairahku ke ubun-ubun. Dengan pandangan memohon aku menatap Mas Andri. Seolah mengerti Mas Andri mulai mengarahkan ciumannya ke vaginaku.

“Sshh.. sshh.. sshh….ahhhhhhhhhh…….” Tak bisa kutahan desahan keluar dari mulutku ketika akhirnya lidahnya yang panas dan ahli mulai menjilati bibir luar vaginaku.

“Mmmhhmmmmhhhhhh,,, mass…. terussss….” Aku hanya bisa menjambak rambutnya dengan keras ketika ciumannya semakin intens.

“Owhhhh,,,, ahhhhh…” Lidah nya menjulur masuk ke liang vaginaku yang basah. Tangannya tak berhenti memijat pelan payudaraku.

Dan akhirnya kenikmatan itu terlalu sulit untuk kutahan. Perasaan geli dan nikmat itu mulai berkumpul di satu titik.

“Sud….ddah henti..kan mas… aku mawwwww….pi….pisss….”

Tapi jawaban yang kudapat malah ciuman keras di clitoris yang menyembul malu-malu dari vaginaku.

“AAAHHHHHhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhh…..masss,,, aku piiiiii…pissssss!”

Jadi inikah yang namanya orgasme?.
Dan itu, sangat nikmat!

Orgasme yang panjang dan intens merasuki diriku, pinggulku terangkat menjepit kepalanya.
Kakiku bergetar dengan keras, lututku terasa copot.

“Hmmmmm,, manisssss,,,, gurih,,,” Kudengar Mas Andri berkata sambil bangkit dari kasur.

“Mau lagi Sis?” Senyumnya.

“HHHhhhh,,,hhhhhhhhhh,, nanti mas,,, masih lemas” Sahutku malu.

“Oke…. mau minum apa sis?” Tawar Mas Andri sambil beranjak menuju kulkas mini yang berisi berbagai macam softdrink.

“Air putih saja mas”.

Dengan tersenyum dia menyerahkan sebotol air putih kepadaku.

Sebelum selesai aku meminum air yang diberikannya, tubuhku sudah dibaringkan lagi keatas ranjang.
Dengan terampil tangannya membelai putting dan payudaraku. Gairahku yang sempat turun kembali naik dengan cepat.

“Mas,, sudah giliran mas sekarang”

“Hmmmm…hhmmmm” Tanpa menjawab pertanyaanku, tangan kirinya membelai putingku, sementara mulut dan lidahnya yang panas dan ahli itu kembali menyeruak celah basah vaginaku.

“Ahhhhhhhhh masss… sudahhh,,, masss,,,,Ahhhhhhhhhh…..” Suaraku diantara erangan yang tak bisa kutahan.

“Ahhhh,,, mass keatas lagi mas… please,,,, ” Tanpa malu-malu ku memintanya.

Lidah panas nya kembali bermain di klitoris ku, dan tunggu!, satu jarinya perlahan menerobos vaginaku yang basah dan ketat.

“HHmmmmmmm.. masss,,,, pelan-pelan,, dah lama gg dipkee…” Jeritku sambil menahan nafas.

“Hmmmmggmmmmhh…” Hanya itu balasannya.

Jarinya perlahan semakin cepat keluar masuk liangku yang basah kuyup.

Dan tunggu, satu jari lagi!

Sekarang dua jarinya dengan cepat digerakkan keluar masuk vaginaku. Bisa kurasakan vaginaku semakin becek, bahkan terasa cairanku meleleh disepanjang pahaku.

“Mass,,, cepet..tttiiinnnnnnnnnn” Pintaku.

“Uufffffftttttt massss,,,,ahhhhhhh,,,dikittttt lagiii masss,,,,, ahhhhhhhh…” Ceracauku.

Paduan remasan di payudaraku, jilatan di klitoris dan kocokan dua jarinya benar-benar membuatku melayang. Vaginaku semakin basah. Rasa geli sekaligus nikmat yang tadi kualami serasa diulang kembali, namun lebih cepat dan nikmat. Kenikmatan ini mulai berkumpul di vaginaku.

“AAArrrrrrggggggggghhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhh….. Mass,,, Sissssscaaaaaa nyammmmpeeeeeeehehhhhhhhhh,,,,,,,,,,” Tanpa bisa kutahan aku berteriak ketika orgasme yang dahsyat mendera diriku.

Vaginaku berkedut dengan keras dan menjepit jari Mas Andri disana.
Kakiku menggigil dengan keras. Aku ambruk diatas ranjang.
Orgasme yang lebih dahsyat dari yang pertama.

“Hmmmm,,,,, lebih enak dari yang kuduga” Guman Mas Andri.

Dengan penasaran kulihat kebawah. Ouwhh,,, dengan rakus kulihat Mas Andri menjilati jarinya yang berlumuran cairanku!

Wajahku terasa panas. Mungkin warnanya sekarang seperti buah tomat masak.

Dengan perlahan kuambil botol air mineral yang belum sempat kuhabiskan tadi. Kuteguk habis isinya.
Kupandangi wajah orang yang pertama memberikan dua orgasme berturut-turut kepadaku.
Pandanganku perlahan turuh kearah penisnya yang mengacung tegang.

Untung juga dulu si brengsek selalu minta oral. Pikirku.

Dengan perlahan kudekati Mas Andri, dengan lembut aku mencium bibirnya yang barusan memberikan kepuasan kepadaku. Rasa dari cairan vaginaku masih sedikit terasa di mulutnya. Namun tak kuhiraukan, dikalahkan oleh sisa gejolak birahi yang menyelimutiku.

Dengan perlahan ciumanku turun kebawah, ke perutnya yang rata dan akhirnya kerah penisnya.
Besar dan panjang. Jauh lebih besar dari milik sibrengsek-baca mantan pacarku.

Kupegang penis yang keras dan panas itu dengan tangan kananku. Sementara tangan kiriku mengelus kantong bolanya. Kukocok dengan pelan batangnya sambil kulihat empunya.

Matanya terpejam!

Kupercepat kocokanku padanya dan kulihat dia melirik kearahku ketika aku mulai mencium kepala penisnya yang berwarna merah dan panas.

“Uffffttttt…. terus sayang” Bisiknya yang membuatku semakin bersemangat.

Dengan lembut aku memasukkan kepala penis nya dan mengulumnya dalam mulutku, tangan kanan ku mengocok batangnya dengan keras. Kuhentikan kocokan tanganku pada penisnya, dan kulanjutkan dengan menaikturunkan kepalaku disepanjang penisnya.

“Ahhhh,,, terus Sis,, ” Gumamnya sambil menarik rambutku.

Kulirik wajahnya yang memerah dan mata gelap terbakar nafsu, kuambil nafas panjang dan kucoba memasukkan penisnya sepanjang yang kubisa. Namun hanya bias masuk setengah nya saja.

Deepthroat.

“Ahhhh,,,, stop Sis!”.

Andri POV

Uffffff. Hampir saja pertahananku jebol karena hisapannya. Bibirnya yang mungil itu seperti vacuum yang menyedot kepala penisku, serasa mau menguras cadangan sperma yang ada di kantong bolaku. Sialan Nia, dia bilang belum pengalaman. Hisapannya saja seperti ini!

Kurebahkan Sisca diranjang, dengan cepat kuciumi vagina dan klitoris mungilnya dengan lidahku. Vaginanya mulai basah. Klitorisnya yang semula malu-malu dengan pelan membengkak.

“Ahhhhhhhhhhhhh….. uffffttttttttttttttttttt….” Desahan mulai terdengar dari Sisca.

Kuhentikan jilatan di vaginanya, kuciumi bibirnya yang masih menyisakan aroma diriku. Kuambil kondom dari lemari disebelah ranjang, dan kupasangkan di penisku. Dengan perlahan kuposisikan di penisku yang sudah mengeras dengan sempurna ke belahan vagina basahnya.

“Pelan-pelan ya mas, punya mas jauh lebih besar dari mantan pacarku…” Seru Sisca dengan malu-malu..

“Ahhhh……ufffttttttttt” Sisca hanya bisa merintih pelan ketika ujung penisku kugesekkan di belahan vagina nya yang basah. Secara teratur ku gesek clitorisnya yang mulai membengkak dengan indah. Cairan vaginanya mulai membasahi ujung penisku. Dengan pelan kucoba memasukkan kepala penisku keliang vaginanya yang mulai merekah, merah dan basah.

“Huffftttt,,,,, hmmmmm…. Pelan-pelan mas,, ” Desahnya ketika kepala penisku mulai menyeruak masuk ke celah vagina mungilnya.

Shitttt! Sempit!

“Huffttttt….!” Akhirnya kepala penisku masuk keliang vaginanya, walaupun bukan perawan, liang vagina Sisca masih begitu sempit menjepit kepala penisku. Kulirik sebentar wajah Sisca, matanya sedikit mengernyit , entah menahan sakit atau nikmat, tanganya meremas seprai tanpa sadar.

Kudiamkan sebentar untuk menikmati sensasi jepitan vaginanya. Tanganku kugerakkan meremas payudara nya yang padat. Kuturunkan kepalaku dan kujilati puttingnya yang mengeras.

Kecil.

Merah.

Kulirik wajahnya dan terlihat dia mulai rileks, cengkraman tangannya di seprai mulai mengendur. Tangan kananku kutarik kebawah, membelai klitorisnya yang tersembul menantang. Desahan samar mulai terdengar dari mulut Sisca.
Kumasukkan penisku kedalam celah vaginanya yang mulai membuka. Cairan vaginanya yang banyak sedikit membantu penetrasiku. Ketika setengah penisku sudah masuk kedalam vaginanya, dengan satu hentakan keras kumasukkan penisku.

Jleeebbb,…..

“AHHHHHhhhhhhhhhhhhh… massssss,,,, aduuuhhhhh,,,” Desahan Sisca berganti dengan teriakan. Tangannya berganti memeluk punggunggu dengan erat, kurasakan sedikit perih, mungkin beberapa kukunya masuk kedalam kulitku.

Penisku belum seluruhnya masuk kedalam vagina nya, namun kurasakan sudah mentok didalam sana. Liang vaginanya serasa mencengkram dengan erat batang penisku. Selain sempit, liang vaginanya tidak terlalu dalam, sesuai dengan tubuhnya yang mungil.

“Mas jahatttt,,, sakit mas!” Protes Sisca sembari cemberut, yang nyatanya membuat
wajahnya semakin manis.

“Hehehe…Yang penting kan sudah masuk, vaginamu sempit sekali Sis” Pujiku.

“Bukan milikku yang sempit, punya mas yang kegedean” Sahutnya malu-malu.

“Apanya yang kegedean sis?” Desakku. Dirty talk, bicara kotor itu menyenangkan.

“Anu mas”

“Anu apa sis? Bilang namanya… ”

“Penis, penis mas,,, penuh banget di dalem vaginaku” Jawabnya dengan wajah merah.

Dengan perlahan dia mulai menggeliatkan pinggulnya, memutar-mutar, membuat si juniorku serasa dipijat dengan nikmat. Kuanggap itu tanda sudah bisa melakukan penetrasi lanjutan.

Dengan perlahan kumulai menaikturunkan tubuhku kedalam tubuhnya. Ketika penisku kutarik keluar terlihat bibir vaginanya ikut tertarik, begitu pula sebaliknya.

Sempit.

Menggigit.

Ritme kocokan penisku mulai kupercepat.

“Ummmhhhh….”

“Ahhhhh,,,,”

“Ufffff…..hufffftttt…” Desahan kami saling berganti. Kocokanku kuubah pelan.
Terasa sekali jepitan vaginanya dikepala penisku, hangat, basah menjepit dengan kuat. Lorong yang lembab itu terasa mau meremas isi penisku keluar.

Kutarik penisku sehingga hampir terlepas dari vaginanya, kemudian pelan-pelan kembali kuhentak masuk kedalam lorong yang hangat itu. Kuselingi dengan mengeluarkan penisku dan memasukkan hanya kepalanya saja. Kugesek dengan pelan. Kemudian kumasukkan hingga mentok diujung lorong sempitnya. Begitu berkali-kali berganti.
Wajah Sisca semakin memerah, kutahu orgasmenya sudah dekat, demikian juga aku.

Jepitannya membuatku melayang.

“Ssssshhhhhhh….ohhhhhhhhhh, cepetinnnn massss… Sisca dah mau nyampeee lagiiiiiii ” Erang Sisca pelan. Goyangan pinggulnya semakin cepat.

Kupercepat genjotanku ditubuhnya, penisku kunaikturunkan dengan cepat. Desahanku dan Sisca bercampur memenuhi ruangan.

“AHHhhhhh,,,,, uuffhhhhhhh….”

“AAhhhhh,,,, huuufftt..”

“Masssss,,, cepetinnnnnnnn,,, diiiikiittttt lagiiii”

Pompaanku kupercepat, wajah Sisca memerah seperti kepiting rebus, cengkraman tangannya di punggunggu semakin erat, pinggulnya mulai bergerak liar tak terkendali. Aku pun memompa dengan cepat, spermaku serasa sudah mengumpul manjadi satu.

“AHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHH,,, masssssssssssssss,,,, Sisca dapetttttttttt lagiiiiiiiiiiiiiiiiii,,,ahhhhhhhhhhh…..”.

Dengan satu teriakan panjang. Punggung Sisca melengkung keatas, kepalanya bergoyang kekiri dan kekanan sembari cengkeraman tangannya dipunggungku semakin keras. Mulutnya menganga seperti kesulitan bernafas, wajahnya memerah dengan tetesan keringat yang menempel didahinya.

Sexy.

Hanya itu yang ada dipikiranku. Sementara cairan hangat kurasakan membasahi penisku dari balik kondom yang kupakai. Vaginanya berkontraksi seakan meremas semua bagian penisku. Ini terlalu nikmat untuk dapat kutahan. Kupercepat kocokanku hingga terasa sperma mulai mengumpul diujung penisku. Kutarik penisku dari vaginanya sambil melepaskan kondom yang kupakai.

Croottttt…croottttt..croootttt…..

“Hahhhhhhhh………hahhhhh…….hahhhhh.”. Desisan nafasku bercampur dengan desis nafas Sisca.

Aku rebah terlentang di samping tubuh seksinya, spermaku bisa kulihat disepanjang tubuhnya. Dari perut, leher, payudara dan bahkan semprotan terakhir mengenai wajahnya. Aku pun terlelap diatas ranjang yang baru saja menjadi saksi bisu persetubuhan kami.

Bersambung