Putaran Kehidupanku Part 9

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5Part 6Part 7Part 8
Part 9Part 10Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15Part 16
Part 17Part 18Part 19

Putaran Kehidupanku Part 9

Start Putaran Kehidupanku Part 9 | Putaran Kehidupanku Part 9 Start

Pagi ini setelah selesai sarapan gado-gado favoritku, aku kembali pulang ke rumahku. “Brugh…..” dengan sedikit melompat aku rebahkan tubuhku di sofa ruang tamuku.

Hari ini aku masih izin tidak masuk kerja. Tepatnya tiga hari aku izin tidak masuk kerja, karena masih ada kegiatan di kampusku.

Dalam diam dan kesendirianku, kembali aku teringat dengan peristiwa kemarin. Tepatnya peristiwa di kantin kampusku. Bukan tentang Laras, tapi aku teringat tentang dia!!…..

“BRUGHH……” aku menabrak seorang wanita sampai buku yang dia pegang jatuh berantakan, untung aku dan dia tidak sampai jatuh.

“Ma’af Mbak ma’af…..” segera aku jongkok dan mengambil buku yang berserakan. Tapi anehnya wanita yang baru aku tabrak, dia justru masih berdiri tanpa bersuara. Aku hanya mengerutkan dahiku melihat semua itu.

Saat aku berdiri dan berniat mengembalikan buku milik si wanita yang tadi aku tabrak. Tiba-tiba……

“Kak Ian…..”

“Eh……” mataku terbelalak menatap wanita di depanku, dia…..

“Hanna, iya elo kan Hanna Tsania Sukoco teman sekelas gue di SMA??….” ucapku.

“Iya nih aku kak, Hanna. Tapi, ini beneran kak Ian kan??…..” dengan tidak percaya, Hanna menatap ke arahku.

“Iya Han, ini gue Ian. Teman sekelas elo yang paling bodoh…..” ucapku meyakinkan Hanna.

Ya, dulu aku memang bodoh. Bodoh karena selalu menolak ajakan berpacaran wanita tercantik dan terpintar di kelasku, Hanna. Bukannya aku tidak menyukainya, tapi saat itu aku memang sedang tidak bisa menjalin sebuah hubungan, setelah aku merasakan rasanya di sakiti oleh suatu hubungan.

Tanpa aku duga, Hanna menepis buku yang ingin aku serahkan ke dia sampai jatuh berantakan lagi, dan dengan cepat Hanna langsung memeluk erat tubuhku. Tentu apa yang Hanna lakukan menjadi perhatian orang-orang yang berada di kantin. Termasuk Laras, dari ujung mataku, aku dapat melihat dia memandang aneh ke arahku.

“Kemana aja sih kamu kak??…. Kenapa tiba-tiba menghilang??…. Hanna tuh kangen sama kak Ian. Aku takut gak bisa ketemu kakak lagi, lagian kenapa sih kak Ian tuh gak pernah mau kasih alamat rumahnya ke Hanna??…. Capek tau kak Hanna kesana kemari cari di mana kakak tinggal!!….” ucap Hanna sambil terus memeluk tubuhku.

“Ternyata Hanna sebegitunya merindukan kehadiranku. Memang seharusnya aku dulu tidak meninggalkannya begitu saja….” ucapku dalam hati.

“Ma’afin gue ya Han, tak seharusnya gue dulu ninggalin elo dan menghilang begitu saja!!….” ucapku padanya, dan akupun membalas pelukannya.

Tapi, tiba-tiba Hanna melepas pelukannya. Dengan raut wajah cemberutnya, Hanna kembali menatapku

“Sudah, gak perlu minta ma’af. Yang penting kak Ian jangan ngilang lagi, aku gak mau kehilangan kak Ian….” ucapnya lantang padaku.

“Kenapa lo gak mau kehilangan gue??….”

“Karena, Hanna sayang kak Ian. Perasaan Hanna ke kak Ian sedikitpun gak pernah berubah dari dulu….”

DEGH…. Terkejut, mungkin itu yang aku rasakan saat ini. Sekian lama aku menghilang darinya, dan selama itu pula dia masih menjaga perasaannya untukku. “Betapa jahatnya diriku yang telah menghilang begitu saja darimu Han!!….” batinku.

“Pokoknya, kak Ian gak boleh pergi lagi!!…..” ucap Hanna, dan kembali dia memelukku.

“Iya, gue gak akan pergi lagi. Tapi, udahan dulu meluknya Han, tuh gak enak di lihatin orang-orang!!….” dengan perlahan aku melepas pelukan Hanna.

“Hihihi….namanya juga kangen kak. Eh, kak Ian MABA atau pindahan??….” tanya Hannya begitu antusias.

“Gue junior elo dek, seharusnya gue yang manggil elo kakak senior, hehehehe…..” dengan santainya aku bercanda dengan Hanna.

“Jadi selama dua tahunan, kak Ian gak kuliah!!…. Terus selama itu kakak kemana saja??….”

“Gue gak kemana-mana Han, ceritanya panjang. Nanti kalau ada waktu kakak pasti cerita. Lagian nih gue mau temani teman, teman gue mau keliling lihat kampus ini Han…” ucapku seraya menunjuk ke Gading yang sedari tadi hanya diam melihatku dan Hanna ngobrol.

“Eh, temannya kak Ian ya. Kenalin, Hanna!!….” Hanna mengulurkan tangan ke Gading.

“Gading……” jawaban singkat Gading, dan dia menjabat tangan Hanna meski tidak lama.

“Ya sudah kak, aku duluan kalo gitu. Nih nomer HP Hanna, pokoknya kak Ian secepatnya hubungin Hanna!!….” secarik kertas yang sudah di coreti Hanna dengan nomer HPnya dia serahkan padaku.

“Iya Han, nih gue simpen. Nanti pasti gue hubungin…..”

Setelah pamit denganku, Hanna pergi meninggalkanku. Bersamaan dengan kepergian Hanna, Laras dengan cowoknya juga pergi meninggalkan kantin. “Gue gak peduli dengan tatapan elo Ras!!….” ucapku dalam hati saat sesaat mataku bertemu pandang dengan tatapan mata Laras padaku.

Aku sedikit menatap sinis ke arah Gading, dari tadi dia diam terus. Waktu Hanna mengajaknya berkenalanpun dia juga kaku banget.

“Hei, kenapa lo Ding??…..” tanyaku ke Gading.

“Heran gue ama elo, sepertinya elo tuh kenalannya dari cewek kalangan atas semua. Tadi Laras, dan Barusan si Hanna, dan kalo gue gak salah, Ayah Hanna, Bapak Sukoco tuh bukannya pemilik beberapa hotel mewah di kota-kota besar di Indonesia, dan Ibunya juga seorang anggota dewan….” ucap Gading.

“Apalagi tuh si Hanna, dengan beraninya tadi bilang sayang ke elo di tempat seramai ini. Gue sepertinya harus belajar banyak ke elo deh, biar setidaknya adalah satu cewek kalangan atas yang suka ama gue. Suhu Ian, tolong angkat gue jadi anak didik Suhu!!…..”

“Apaan sih elo tuh, berisik banget!!…. dah yuk katanya lo mau keliling kampus!!….” ucapku sambil berjalan keluar dari kantin.

“Woi tungguin napa!!….” panggil Gading yang begitu saja aku tinggal pergi.

“Tok..tok..tok…” benyi ketokan pintu membuyarkan lamunanku.

“Iya sebentar….” segera aku bangkit dari tiduranku dan membuka pintu rumahku.

Beberapa saat kemudian…..

“Silahkan di minum dulu minumnya Pak, ma’af cuma ada minuman Pak, gak ada temannya ngemil!!….” ucapku sopan ke Haji Sodik yang bertamu ke rumahku.

Aku bercoba bersikap wajar di hadapan Haji Sodik, yang siang ini menjadj tamu dadakan di rumahku. Meski sejujurnya aku begitu khawatir dengan kedatangan Haji Sodik yang tiba-tiba. Aku takut Pak Haji tau atas ulahku dan Mbak Nia, dan beliau pasti marah padaku.

“Ini juga sudah cukup Nak. Oh iya, kata Nia kamu lanjut kuliah ya??….” Pak Haji dengan santainya bertanya padaku.

Meski aku tidak melihat raut muka Pak Haji nunjukin kalau dia sedang marah, tetap saja aku semakin merasa kawatir saat Pak Haji menyebut nama Mbak Nia.

“Iya Pak, baru kemarin mulai masuk….” ucapku seramah mungkin.

“Bapak bersyukur akhirnya nak Ian bisa lanjut kuliah. Ini sebenarnya maksut kedatangan Bapak kesini tuh, Bapak mau…….” DEGH….DEGH….jantungku semakin kencang berdetak saat menunggu setiap kata yang akan terucap dari bibir Pak Haji.

“Bapak mau ngasih ini ke nak Ian, mohon ini di terima!!….” amplop berwarna coklat dengan sesuatu di dalamnya diserahkan Pak Haji padaku.

“Apa ini Pak??….” tanyaku, sedangkan tanganku mulai membuka isi amplop itu.

“Anggap saja itu uang jajan buat kamu, lagian kamu tuh sudah Bapak anggap anak sendiri….” ucap Pak Haji.

“Tapi, ini terlalu banyak Pak!!….” aku melihat puluhan lembar uang berwarna merah di dalam amplop pemberian Pak Haji.

“Sudah, kamu terima saja, Bapak marah nih kalau kamu menolaknya!!….” sedikit Pak Haji mengancamku.

“Ya sudah Bapak masih ada kerjaan di tempat penimbangan. Kamu yang rajin kuliahnya, dan jangan sungkan main ke rumah. Tuh Mbak kamu di rumah pasti mau bantuin kalau kamu ada tugas kuliah….” lanjut Pak Haji, dan Mbak yang di maksut Pak Haji pastilah Mbak Nia.

Aku sangat merasa bersalah telah melakukan hal yang sangat terlarang dengan istri orang sebaik Pak Haji. Tapi, tidak ada gunanya juga aku menyesal. Semuanya juga sudah terjadi. Yang jelas, aku gak ingin mengulang kesalahan yang sama.

“Saya cuma bisa bilang terima kasih Pak, dan ma’af saya belum bisa balas semua kebaikan Bapak!!….” ucapku.

“Sudah nak, Bapak ikhlas memberikan semua itu. Bapak pamit dulu ya nak Ian, assalamualaikum…” salam Pak Haji pamit padaku.

“Sekali lagi terimakasih Pak, dan hati-hati di jalan. Waalaikumssalam…..” ucapku menjawab salam Pak Haji.

Rasa menyesal yang seperti tidak ada gunanya kini masih aku rasakan. Namun sesungguhnya kelegaanlah yang saat ini sangat aku rasakan. Kelegaanku karena sepertinya Pak Haji tidak mengetahui perbuatanku dengan Mbak Nia.

<•>

Belum lama sejak kepergian Pak Haji, aku sudah bersiap-siap berangkat ke kampus. Meskipun belum ada pelajaran di kampus, setidaknya aku hadir di kampus untuk acara perkenalan tiap dosen mata kuliah yang aku ikuti.

Siang ini aku menggunakan celana jeans, kaos polos yang aku tutup dengan jaket, dan tentunya sepatu menjadi alas kakiku berjalan menuju kampus. Dengan tas yang sudah kugendong di punggungku, aku menunggu angkot yang akan membawaku ke kampus.

Sekitar sepuluh menitan aku menunggu, dari kejauhan angkot yang aku tunggu mulai kelihatan. Tepat pukul 11 siang, aku mulai perjalananku menuju kampus menggunakan angkot. Biarpun kuliahku mulainya jam satu siang, gak ada salahnya berangkat awal. Tau sendiri kan Ibu Kota, gak pagi, siang, sore, atau malam, pasti macet. Dan benar saja, baru beberapa saat berjalan, angkot yang aku naiki sudah terjebak macet.

Setelah hampir satu setengah jam aku duduk di dalam angkot yang terjebak di tengah kemacetan, akhirnya aku sampai di kampusku. Suasana masih belum terlalu ramai, maklum masih awal semester, dan pelajaran baru di mulai di minggu ke dua juga. Jadi, sepertinya masih banyak mahasiswa baru ataupun senior yang gak pergi ke kampus.

Dari arah parkiran mobil yang tidak jauh dari posisiku saat ini, aku melihat Laras dan si Daniel baru keluar dari mobil. Tapi, entah kenapa saat melihatku, Laras bergegas berjalan ke arahku meski si Daniel terus menerus memanggilnya.

“Kamu mau kemana??…. Kelas kita tuh ke sana, bukan ke sini!!….” ucapan Daniel yang terdengar di telingaku.

Bukannya mendengarkan ucapan Daniel, Laras justru mempercepat langkah kakinya ke arahku. “Gue mau ngomong sebentar ama elo, elo ada waktu kan??….” tanya Laras saat dia sudah berdiri tepat di depanku, dan tepat di samping Laras ada Daniel yang memandang sinis kearahku.

“Kamu ngapain sih berurusan ama cowok rendahan kayak gini??…. kuliah saja gak bawa kendaraan…” ucap Daniel yang sepertinya tidak suka dengan keberadaanku.

“Sudah, yuk kita ke kelas atau ke kantin saja Ras!!….dan buat elo, cowok rendahan, gak usah elo deket-deket ama pacaf gue!!…. Sono lo pergi jauh-jauh!!….” imbuh Daniel.

Aku hanya diam saja, karena sejujurnya aku sudah terlalu terbiasa dengan hinaan dan cacian seperti yang barusan Daniel lakukan padaku.

“Lo tuh bisa diem gak sih??…. Mending lo sekarang pergi, atau gue gak bakalan lagi mau berhubungan ama lo!!….” bentak Laras ke Daniel.

“Ok sayang, gue pergi. Buat lo, ingat gue belum selesai ama elo!!….” ucap Daniel, dengan jari telunjuknya menunjuk ke arahku.

“DANIEL!!…..” bentak Laras yang semakin kencang, seketika Daniel pergi dengan wajah penuh amarah.

Dari semua kejadian yang baru saja aku lihat. Aku dapat menyimpulkan, sepertinya Laras cuma setengah hati menjalani hubungannya dengan Daniel, dan entah mengapa aku justru merasa Laras lebih memilih aku ketimbang Daniel.

“Ian, gue mau nanya ama elo, dan gue harap elo bisa jujur ke gue!!….” ucap Laras.

“Iya, silahkan lo bertanya. Gue selalu jujur orangnya….”

“Siapa cewek yang kemaren meluk elo di kantin??….dan apa maksutnya tuh cewek bilang sayang ama elo??…. Ada hubungan apa sebenarnya lo ama tuh cewek??….” dengan raut muka yang begitu serius, Laras mengutarakan semua pertanyaannya padaku.

“Masih ada pertanyaan yang lain??….” tanyaku. Laras menggelengkan kepalanya.

“Ok, gue jawab satu-satu. Yang pertama siapa cewek yang kenarin, dia tuh sahabat gue sejak SMA, namanya Hanna. Kalo lo nanya kenapa dia bilang sayang ke gue, gue cuma bisa jawab, karena dari dulu Hanna memang sudah sayang ama gue. Dan hubungan gue ama Hanna, dari dulu sampai sekarang kita masih sahabat, tapi aku tidak tau kedepannya seperti apa…..” mendengar semua jawabanku, Laras hanya terdiam, terpaku menatapku.

“Kini giliran gue yang bertanya ke elo!!….” ucapanku yang seketika membuat Laras melototkan matanya ke arahku.

“Siapa cowok tadi??…. Beneran lo pacaran sama tuh cowok??…. Kalo lo beneran pacaran ama tuh cowok, kenapa lo masih di sini, kenapa lo gak susul tuh cowok elo?….” semua yang ingin aku ketahui, aku tanyakan semua ke Laras.

Aku menatap Laras sambil menunggu satu per satu pertanyaanku di jawab olehnya. “Sepertinya, Laras beneran bingung dengan semua pertanyaanku….” batinku

“Semoga lain waktu elo bisa menjawabnya, gue ke kelas dulu!!…..” bersamaan dengan bell masuk kelas, aku pergi meninggalkan Laras.

“Jujur, gue mulai menyukaimu Ras. Tapi, gue juga jujur kalo gue saat ini juga merasa sakit karena elo Ras….” gumamku begitu lirih.

<•>

Kegiatan perkuliahan hari ini masih sama dengan kemarin. Hanya pengenalan Dosen dan pengenalan materi perkuliahan yang akan di sampaikan oleh masing-masing Dosen. Selebihnya, waktu hanya aku gunakan untuk bercanda dan bergurau dengan teman-teman satu kelasku yang ternyata orangnya asik-asik. Tidak ada satu orangpun di kelasku yang memandang orang dari segi finansial. Semuanya meluber jadi satu, dan terasa begitu menyenangkan.

“Gak nyangka gue bro, teman satu kelas kita asik-asik orangnya. Padahal sebagian besar orang berduit, tapi mereka gak pilih-pilih teman. Bakalan betah nih gue di kampus…..” ucap Gading.

“Syukur deh kalau lo betah, jadi ada teman senasib ama gue di kelas, hahahaha…..”

“Kampret lah lo tuh, susah kok nyama-nyamain!!…. Lagian ya kalau gue boleh jujur, lo tuh gak pantes di katain golongan orang susah. Wajah mirip bule asi timur, kulit bersih, badan lo ok. Mirip anak konglomerat di lihat dari mana saja lo tuh….” ungkap Gading.

“Gue aminin aja deh omongan lo. Tapi, nyatanya gue kan emang sama ama lo, terlahir susah. Besok-besok lo main deh ke rumah gue, biar elo bisa tau gimana kehidupan gue!!….”

“Tar deh kalo gue gak repot gue pasti main ke rumah elo…..”

“Ok gue tunggu. Tapi, karang elo tunggu bentaran ya, gue mau ke toilet bentar!!…. Udah di ujung nih…..”

“Iya deh iya, gue tunggu depan kelas nih!!…. Tapi lo berani kan ke toilet sendirian??…. Dah gelap nih, dan toiletnya pasti juga udah sepi….”

Memangsih sekarang sudah gelap, beberapa saat yang lalu adzan maghrib juga sudah berkumandang, dan kelasku sepetinya menjadi kelas terakhir yang menyelesaikan aktifitasnya.

“Lo pikir gue bocah kemaren sore yang takut ama setan menjelang malam. Dah lah, gue dah kebelet!!….” dengan sedikit berlari aku meninggalkan Gading menuju toilet.

“Uhhhhh…..leganya!!…..” lenguhku setelah selesai membuang air seni yang sedari tadi menyiksaku.

“Ini kenapa perasaan gue jadi gak enak gini ya, seperti ada yang ngawasin gue….” ucapku dalam hati saat sedang mencuci tanganku.

Aku lihat kiri kananku, semua kosong. “Lama-lama ngeri juga nih gue. Mana ni lampu toilet kedip-kedip gak jelas dari tadi!!….” gumamku lirih.

“Ngeek…cklek…” aku menutup pintu toilet, dan berjalan menjauh dari toilet.

Baru sekitar sepuluh langkah dari toilet, aku merasa ada seseorang yang mengikuti dari belakangku. DEGH….DEGH….terasa detak jantungku semakin memburu.

Aku hentikan langkahku, perlahan aku melihat kearah belakang. “Eh, kamu……

“BUGH!!…..”

Gelap…..seketika semua menjadi gelap.

<•>

Anak Ibu kenapa tidur??….. Cepat bangun!!….” suara Ibu terdengar di telingaku.

“Bangun sayang!!…. Anak Ibu tuh kuat. Ayo cepat bangun sayang, jangan malas!!….” lagi-lagi aku mendengar suara Ibu.

“Hah…. Bangun…..” perlahan aku membuka mataku.

“BUGH…..”

“Arghhh…..” aku hanya bisa merintih saat sebuah pukulan menghantam dadaku.

Seketika aku terbatuk, aku merasa dadaku begitu sakit, dan aku sulit mengatur nafasku. Di tengah ketidak berdayaanku, aku mendengar gelak tawa beberapa orang di sekitarku.

Aku ambil nafas dalam-dalam dan mencoba mengatur nafasku. Dengan manahan rasa sakit, kusapukan pandanganku ke sekelilingku. Dibawah lampu remang-remang, aku dapat melihat ada lima orang lelaki di sekelilingku. Dua orang di kiriku, dua di kananku, dan satu orang yang satu-satunya aku kenal, berdiri tepat di depanku. Sedangkan aku, kini tubuhku di dudukkan di sebuah kursi kayu dengan sandaran di belakang tubuhku yang mereka buat untuk mengikat erat kedua tanganku, kedua kakikupun di ikat di kaki-kaki kursi bagian depan.

“Plak…..”

Seseorang menampar pipiku. Ingin aku membalas, tapi dengan kondisiku saat ini aku hanya bisa diam dan merintih.

“Kenapa, elo mau ngebalas??….” bentak lelaki yang berdiri di depanku.

Aku menatapnya. “Daniel!!….” ucapku lirih.

“Hahaha, iya ini gue Daniel, dan ini buat elo yang udah berani berhubungan ama cewek gue!!….”

“BUGH….” kembali sebuah pukulan cukup keras, mendarat ke dadaku. Kembali aku terbatuk dan merasakan dadaku semakin sesak.

Aku masih sadar, meski rasa sakit semakin aku rasakan. “Gue gak da hubungan apa-apa ama cewek elo!!….” ucapku, bukannya aku mengiba, aku cuma mau Daniel tau kalau aku memang tidak ada hubungan apa-apa dengan Laras.

Daniel mendekatkan wajahnya tepat di depanku. “Lo sekarang bisa bilang begitu. Tapi, besok atau lusa, bisa saja lo jadi benalu di hubungan gue dengan Laras…..” ucap Daniel datar.

Daniel kembali berdiri tegak dan menatap tajam ke arahku. “Nih hadiah buat elo, biar elo gak gangguin lagi hubungan gue ama Laras!!….” selesai berkata….

“BUGH….BRAK….” Daniel menendang tubuhku sampai kursi yang menjadi dudukanku terjatuh kesamping. Bersamaan dengan itu, seorang lelaki dengan nafas terengah-engah masuk ke tempat Daniel menyiksaku.

“Gawat bro, gawat!!….ada beberapa orang jalan menuju tempat ini….” ucap lelaki yang baru datang.

“Bangsat!!….. bugh…bugh…bugh…” kembali Daniel menendang-nendang tubuh dan wajahkuu dengan amarah yang meledak-ledak.

Aku masih mencoba tetap sadar, meski selutuh tubuhku terasa begitu sakit.

Daniel terlihat berjalan menjauhiku, dan orang-orang di sekitarkupun berjalan menjauh menuju pintu keluar. Aku kira semua siksaanku sudah berakhir, tapi aku salah.

Setelah mengambil botol kaca dari sebuah meja. Dengan raut muka penuh amarah, Daniel kembali mendatangiku.

“Lo hari ini masih gue kasih nafas. Tapi, lo harus ingat, sekali lagi elo gue lihat berhubungan dengan Laras, gue pastiin, hari itu juga lo bakalan gak bisa bernafas lagi untuk selamanya….” bisik Daniel.

“PYAAR…..” sebuah botol kaca pecah setelah dengan kencang Daniel pukulkan ke palaku.

Rasa perih terasa di kepaku, darah segarpun mengalir membasahi keningku. Satu detik, dua detik, aku masih sadar.

Aku masih mendengar Daniel dan kawanannya keluar dari ruangn tempat mereka menyiksaku. Aku juga masih mendengar seseorang berteriak yang membuat kawanan Daniel lari tunggang langgang, dan terakhir yang aku dengar ialah suara Gading….

“Jangan mati bro, jangan mati….!!” ucap Gading, dan aku merasakan satu persatu ikatan di tangan dan kakiku terlepas.

Aki mencoba tetap sadar, namun semua terasa berat. Rasa sakit semakin aku rasakan menjalar ke seluruh tubuhku. Aku merasa cahaya terang di depanku semakin pergi menjauhiku, gelap dan semakin gelap.

<•>

Di depan kelas Ian…..

Beberapa saat sebelumnya…..

Aku merasa ada sesuatu yang berbeda dengan si Ian, sahabat baruku. Meski berasal dari keluarga yang sepertinya sederajat denganku, tapi aku merasa ada sesuatu yang dia sembunyikan dariku. Sesuatu yang aku sendiripun tidak bisa menebaknya.

“Kampret bener dah tuh anak, ke toilet lama bener!!…..” umpatku kesal sendiri, hampir lima belas menit aku menunggu si Ian di depan kelasku.

“Srek…srek…srek….” langkah kaki terdengar dari belakangku.

“Lama amat lo tuh ya, dasar kamp…..” saat aku membalikkan badan, seketika ucapanku terhenti. Aku hanya nyengir menahan malu. Ternyata bukan Ian yang datang, melainkan teman wanitanya Ian yang mendatangiku.

“Eh Hanna. Ma’af Han, gue kira si Ian elo tadi!!….”

“Iya gak apa-apa, terus kak Iannya mana??….” tanya Hanna padaku.

“Tadi sih gue di suruh nungguin di mari, orangnya masih ke toilet….”

“Ohhh….. Ya sudah, gue temanin nungguin deh….”

“E.eh iya……” baru kali ini ada gadis secantik dan setajir Hanna gak risih di dekat orang miskin sepertiku.

Dari jam tangan jadulku, aku melihat hampir lima menit aku dan Hanna menunggu Ian, tanpa obrolan dan hanya diam membisu. Namun kenapa aku merasa cemas dengan tuh kampret satu.

Kalau di hitung dari awal menunggunya sampai sekarang. Ada kali dua puluh menit aku menunggu tuh anak. “Degh….Degh….Degh…..” tiba-tiba detek jantungku terasa semakin kencang. Aku melihat Hanna, dan saat bersamaan Hanna melihat ke arahku.

“Kenapa elo Ding, cemas gitu muka elo??….” tanya Hannya.

“Tiba-tiba perasaan gue gak enak Han, gue kepikiran si Ian. Nih gue dah nunggu si Ian hampir setengah jam kalo di hitung sebelum elo datang….” Hanna seketika tersentak dan menatap tajam ke arahku setelah mendengar ucapanku barusan.

“Toilet sekitara kelas ini kan adanya di lantai dua dekat gudang. Kenapa lo tadi gak anter sih??….” aku begitu jelas melihat raut kekawatiran di wajah Hanna.

Dengan cepat Hanna seperti menghubungi seseorang. “Sekarang kita cek ke toilet!!….” sedikit Hanna melirik ke arahku, kemudian begitu saja dia berjalan menuju toilet.

Biarpun dekat, jarak kelas ke toilet yang di tuju si Ian tadi ada sekitar dua ratusan meter, dan harus naik ke lantai dua, karena toiletnya ada di lantai dua.

Cepat-cepat aku mengikuti langkah Hanna yang sudah beberapa langkah di depanku. Beberapa langkah sebelum sampai tangga naik ke lantai dua, aku melihat seseorang yang cukup aku kenal. “Tuh kan si Yoyok, teman satu sekolahku. Kalo gak salah tuh orang kan anggota gengnya Daniel….” gumamku lirih, dan saat si Yoyok melihat ke arahku, dia buru-buru naik ke atas tangga.

“Duh kenapa tu anak kabur??….” ucapku dalam hati, dan sejenak aku berfikir. “Bangkek, sialan……” umpatku emosi. Segera aku berlari mendahului Hanna, terlihat Hanna yang melihat gelagat aneh dariku, langsung berlari mengikutiku.

Sial-sial, kenapa gue bisa lupa. Tadi waktu tiba di gerbang kampus, gue kan lihat Ian, Laras, dan Galih terlibat obrolan di dekat parkiran. Yang terakhir gue lihat, tuh si Daniel marah dan pergi dengan raut muka emosinya.

Bertepatan dengan aku sampai di lantai dua, beberapa orang berdiri di depan pintu gudang. “Woii…..!!” teriakku cukup keras.

Seketika gerombolan orang di depan gudang lari tunggang langgang ke arah yang berlawanan denganku. Tapi aku tau persis, tadi tuh Daniel dan gengnya.

Aku tidak mengejar mereka, aku justru segera berlari menuju gudang. Saat aku membuka pintu gudang dan melihat apa yang ada di dalam gudang, seketika aku mengutuk diriku sendiri yang teledor dengan temanku sendiri.

Aku melihat Ian terikat di kursi yang telah jatuh ke lantai. Seluruh bajunya kotor, banyak luka lebam di wajahnya, dan yang paling parah, darah keluar cukup banyak dari keningnya.

Segera aku datangi Ian, dengan cepat aku membuka semua ikatan di kedua tangan dan kakinya. “Jangan mati bro, jangan mati!!…..” ucapku lirih ke Ian yang sepertinya mulai kehilangan kesadarannya.

“Kak Ian…..” teriak Hanna yang masuk ke gudang dengan dua orang berseragam, yang aku yakini mereka tuh bodyguardnya si Hanna.

Hanna mendekap kepala Ian dan menangis tersedu. “Han, bukan saatnya menangis, lebih baik kita segera bawa Ian ke rumah sakit!!….” seruku ke Hanna.

“Kalian berdua cepat bantu Gading gotong kak Ian ke mobil gue!!…..” perintah Hanna ke dua lelaki yang berdiri di belakangnya.

“Baik, non….” jawab kedua lelaki di belakang Hannya.

Dengan sangat cekatan, mereka berdua membantuku menggotong tubuh Ian ke mobil Hanna.

“Ke rumah sakit mana, Non??….” tanya sopir Hanna yang mengendarai mobil, sesangkan dua lelaki tadi menaiki mobil di belakang kami.

Hanna yang duduk di kursi belakang, dengan lembut menahan darah yang keluar dari kening Ian, yang terbaring di pangkuannya. Sepertinya Hanna begitu terpukul melihat kondisi Ian sampai tak menjawab pertanyaan sopirnya.

“Ke rumah sakit terdekat saja Pak!!….” ucapku yang duduk di samping sopir.

Tidak sampai lima belas menit, mobil Hanna memasuki pelataran rumah sakit. Saat mobil berhenti, aku segera berlari ke dalam rumah sakit untuk meminta pertolongan.

Beruntung aku langsung bertemu seorang Dokter laki-laki. Dengan cekatan Dokter menyuruh petugas untuk membantuku. Dokterpun ikut denganku ke luar untuk membantu membopong Ian.

Saat pintu bagian belakang mobil Hanna terbuka, semua orang melihat Ian yang kondisinya sangat tidak baik.

“Andrian….!!” seru dokter yang berada di sampingku.

Seketika aku menatapnya, entah kenapa Dokter di sampingku terlihat begitu khawatir melihat Ian. “Dokter mengenal Ian??….” tanyaku.

Dengan cekatan dokter dan petugas rumah sakit membopong Ian. Hanna yang di dalam mobilpun ikut keluar dan mengikuti kami. Di sela kesibukannya membopong tubuh Ian, seorang Dokter yang dengan sigap membantuku, menatap lurus ke arahku.

“Dia adikku….”

“ADIK….!!…..”

Bersambung

END – Putaran Kehidupanku Part 9 | Putaran Kehidupanku Part 9 – END

(Putaran Kehidupanku Part 8)Sebelumnya | Selanjutnya(Putaran Kehidupanku Part 10)