Putaran Kehidupanku Part 5

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5Part 6Part 7Part 8
Part 9Part 10Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15Part 16
Part 17Part 18Part 19

Putaran Kehidupanku Part 5

Start Putaran Kehidupanku Part 5 | Putaran Kehidupanku Part 5 Start

Kilatan cahaya putih di langit dan gemuruh petir yang cukup memekakan telinga menjadi warna langit malam saat ini. Aku masih terpaku menatap rumah di hadapanku, rumah yang tak semestinya aku datangi malam ini. Dalam mimpipun aku tak pernah memimpikan kembali ke rumah ini.

Sesaat ujung mataku bergerak kesamping, mengarah ke arah seorang wanita yang kini sedang tersenyum penuh kemenangan. “Hahh…..” sedikit aku menghela nafas.

Dari arah teras rumah, seorang lelaki bangkit dari duduknya dan berjalan kearahku. Langkahnya yang begitu berwibawa, dan senyum yang mengembang dari bibirnya samar-samar semakin nyata terlihat oleh kedua mataku. “Bodohnya gue, kenapa juga tadi gue gak lihat kemana Kak Herra membawa gue, dan gini nih akibatnya…..” gerutuku dalam hati.

Jantungku kini berdetak semakin cepat, semakin lama aku memandang rumah ini, semakin jelas juga bayangan masa lalu yang terekam di ingatanku. Rasa kecewaku dengan keluarga ini, kini beradu dengan kenyataan yang harus aku hadapi di depan mataku.

“Sudah!!…. jangan ingat yang dulu-dulu, kini waktunya kita semua membuka lembaran baru…..” tegur seorang laki-laki sesaat setelah menepuk punggungku.

“E,eh…. Om!!…..” sedikit keterkejutanku saat aku tau lelaki yang tadi berjalan ke arahku ternyata Om Tirta, yang tidak lain adalah Ayahnya Kak Herra.

“Iya ini Om, bukan hantu kok!!….” sedikit canda Om Tirta yang sepertinya menyadari keteganganku saat ini.

“Her, nih kamu ajak adik kamu masuk!!…. Ayah mau beri tau Nenek dulu.” pinta Om Tirta.

“Om masuk dulu, kamu gak usah tegang gitu. Yakinkan diri kamu, semua sudah berubah Ian.” lanjutnya, aku hanya mengangguk dan sedikit tersenyum ke arah Om Tirta.

“Hehehehe…. tegang amat elu dek!!…. santai napa, gak bakalan ada yang ngusir elu kok. Sini, yuk masuk!!….” dengan sedikit menarik tanganku, Kak Herra memaksaku masuk ke dalam rumah.

“Gue lom yakin nih kak!!…..” aku hanya bisa mengeluh. Sedangkan wanita yang menarik tanganku, kini justru semakin mempercepat lankahnya yang membuatku mempercepat langkahku mengikuti langkah kakinya.

Semakin dekat ke pintu masuk rumah, jantungku kian terasa berdetak semakin cepat. Langkah kakiku yang tadi terasa cepat, saat ini justru terasa begitu lambat. Suasana tiba-tiba menjadi semakin sunyi, suara petir yang menggelegar seolah tak dapat menembus gendang telingaku. Kini hanya suara detak jantungku yang terdengar seirama dengan langkah kakiku.

Tepat diambang pintu masuk, aku dapat melihat seorang wanita paruh baya sedang berdiri seolah menanti kedatanganku. Dengan beberapa uban menghiasi rambutnya yang dipotong sebahu, sedikitpun tak mengurangi aura kecantikan wanita itu di usia senjanya. Wajah cantik yang masih terlihat begitu mempesona, dihiasi dengan bibir tipis yang kini menyunggingkan senyuman ke arahku. Sebuah senyuman yang tak pernak aku bayangkan, sebuah senyuman yang seketika menghapus keraguan diriku.

Langkah kaki seorang wanita yang terlihat begitu anggun, menuntunnya ke arahku yang masih terpaku menatap ke arahnya. Seperti adegan slow motion di film-film, wanita itu menggerakkan tangannya seolah ingin memeluk tubuhku, tapi…….,-

“Eh!!…..” sedikit aku terkejut, dan tidak percaya dengan apa yang terjadi saat ini, bukan cuma aku, tapi sepertinya semua yang ada di tempat ini tak ada satupun yang menyangka hal ini bisa terjadi. Seorang wanita terhormat, seorang wanita yang begitu terkenal dengan kesombongannya kini justru bersimpuh dan sujud dihadapanku.

Ingin rasanya aku berlama-lama membiarkan wanita sombong ini tertunduk di hadapanku. Tapi sayang, aku bukan orang setega itu, yang tega membiarkan Nenekku sendiri bersujud di atas kakiku. “Sudah Nek, bangun!!…. tidak sepantasnya Nenek melakukan ini….” dengan gerakan lembut, tanganku memegang tangan Nenek. Sedikit aku menundukkan tubuhku, dan perlahan kutarik Nenek ku untuk berdiri sejajar denganku.

Tak ada suara keluar dari bibir Nenekku, melainkan hanya tetesan air mata yang mengalir membasahi wajahnya yang sedikit keriput di tepian matanya yang kini terlihat begitu jelas di hadapanku.

“Ma’afin Nenekmu ini Ian!!…. tidak seharusnya dulu Nenek berbuat kasar pada kamu dan mendiang Ibu kamu….” suara begitu lirih keluar dari bibir Nenek.

Aku kembali memandang Nenekku. Masih begitu jelas di ingatanku, saat Nenek mencaci Ibuku, dan dengan kasar mengusir aku dan Ibuku dari rumah ini. Tapi, apa aku harus terjebak dengan masa laluku, saat ada masa depan yang harus aku jalani.

Rasa sakit itu tentu masih ada, rasa kecewa juga masih ada. Tapi, kini di hadapanku ada seorang wanita yang terlihat begitu tulus meminta ma’af akan kesalahannya di masa lalu. Mungkin kalau Ibuku masih ada, tentu beliau akan mema’afkan Nenek. Jadi, kini tak ada alasan bagiku untuk tidak mema’afkan kesalahan Nenek.

Tanpa bersuara, tanganku yang sedari tadi memegang tangan Nenek, kini perlahan bergerak memeluk tubuh Nenekku. Memeluk tubuh wanita yang dulu begitu aku benci, tapi akupun juga sadar, wanita inilah yang melahirkan Ibuku, dan tanpanya tak mungkin aku ada di dunia ini. “Ibu, aku bahagia. Aku tidak tau kenapa saat ini aku begitu bahagia. Memeluk Nenek, bagiku serasa memeluk Ibu…..” ucapku dalam hati, dan kini tak bisa aku bendung lagi, air matakupun ikut keluar membasahi setiap lekuk pipiku.

“Ian, apa kamu mau mema’afkan kesalahan Nenek kamu ini??…. Nenek sangat tau, kesalahan Nenek begitu besar padamu dan mendiang Ibu kamu. Apapun pasti Nenek lakukan, supaya kata ma’af bisa kamu berikan ke Nenek!!…..” suara Nenek yang terdengar saat pelukanku di balas dengan pelukan erat Nenek.

Perlahan aku melepas pelukanku dengan Nenek. “Sudah Nek, Ian sudah ma’afin Nenek. Benar kata Om Tirta dan Kak Herra, semua itu hanya masa lalu Nek, dan saat ini bukan saatnya menyesali yang telah berlalu. Kini saatnya buat lihat ke masa depan!!…..” entah dari mana aku dapat kata-kata itu, yang jelas kata-kataku barusan sedikit bisa mencairkan suasana yang cukup kaku barusan.

Senyum Nenek kembali menghiasi bibir tipisnya, senyum yang mengingatkanku dengan senyum Ibuku. “Gitu Nek, senyum gitu kan kelihatan cantiknya….” sedikit candaku yang di sambut senyum semua orang di tempat ini.

“Wah bahaya nih Nek, cucu Nenek yang satu ini masih jomblo loh. Kelainan ya elo dek, sepertinya lo tuh sukanya sama wanita berumur deh, hihihihihi…..” celetuk Kak Herra yang semakin mencairkan suasana malam ini.

“Sudah kan acara sedih-sedihnya??….. kalau sudah, yuk makan dulu!!….” suara Tante Jenni yang tiba-tiba muncul dan berjalan menghampiri Nenek. “Yuk Bu, tuh sekalian ajak cucu Ibu yang paling ganteng makan, Jenni sudah nyiapin makanan special buat malam ini….” lanjut Tante Jenni yang tak lain adalah Ibunya Kak Herra dan tentu Tante Jenni ini istrinya Om Tirta.

“Ihhhh…. Bunda tuh, masak cuma Ian ama Nenek, akunya gak di ajak!!!….” seru Kak Herra dengan memasang wajah cemberutnya. “Dah tua, masih juga suka merajuk….” batinku, dan tanpa sadar aku tersenyum melihat tingkah Kak Herra.

“Iya tuh Her, Ayah juga tidak di ajak. Mentang-mentang ada cowok ganteng, lupa deh ada suaminya!!….” timpal Om Tirta.

“Nih anak sama Ayah kok sama aja, dah yuk semuanya makan!!…..”

“Ian, sini ikut makan juga!!…. Rumah ini juga rumah kamu, kalau kamu mau tinggal di sini, Nenek tentu lebih senang….”

“Makasih Nek, bukannya aku menolak!!…. Tapi aku ada rumah tempat aku pulang, dan gak mungkin aku tinggalin rumah itu Nek….”

“Ini masih ngobrol juga!!…. makan dulu, nanti ngobrol di lanjutin lagi!!… malam juga masih panjang nih…” ucap Kak Herra. “bener-bener gak sopan nih orang….” gumamku lirih, Nenek yang mendengarnya hanya tersenyum ke arahku.

Akhirnya acara makan malam yang cukup mewah tersaji di hadapanku, berbagai menu makanan mewah tertata begitu rapi. “Seandainya Ibu ada di sini, semua pasti terasa lebih sempurna….” sejenak aku tertunduk di tengah keriuhan acara makan malam saat ini.

“Sudah, lo gak usah sedih!!…. Tante pasti senang lihat semua ini, percaya deh ama gue….” bisik Kak Herra yang sepertinya tau akan isi fikiranku.

°

“Nek, Kakek di mana??…. sepertinya gak ada di rumah!!….” tanyaku sesaat setelah acara makan malam selesai, dan kini semua sedang duduk santai di ruang keluarga.

“Kakek kamu masih di Singapur Ian, ada kerjaan di sana, mungkin satu minggu lagi pulang. Tadi Nenek sudah kasih kabar ke Kakek kamu, kalau kamu sudah datang ke rumah. Kakek kamu begitu bahagia mendengar kedatangan kamu….” mendengar ucapan Nenek, sedikitpun aku tidak terkejut dengan kabar Kakek yang sangat bahagia dengan kedatanganku, karena memang dari dulu Kakek begitu menyayangiku, namun sayang Kakek selalu mengalah dengan semua kemauan Nenekku.

“Kok bukan Om Tirta yang ke Singapur Nek??….. kan kasihan Kakek sudah tua….”

“Ian, Ian, kamu tuh lupa ya!!…. Om itu seorang dosen, bukan seorang pekerja kantoran…..” aku hanya nyengir mendengar jawaban Om Tirta yang mengingatkanku akan pekerjaan Om Tirta.

“Yang seharusnya pergi tuh Tante, Ian. Tapi, dasarnya saja tuh Ayah keras kepala, katanya sih gak tega kalo anak ceweknya pergi jauh….” tutur Tante Jenni.

“Dan seharusnya yang paling tepat pergi tuh ya elo Dek, iya kan Nek??….” kini Kak Herra yang bersuara.

“Ya, Nenek berharap suatu saat nanti, kamu dan Herra mau melanjutkan perusahaan Kakek. Terutama kamu Ian, kamu kan cowok!!…..”

“Wahuh, berat tuh Nek!!… apalagi aku kuliah juga baru mau mulai ini!!…..”

“Kan Nenek juga bilangnya suatu saat nanti, dasar Ian oon, ihhhh…..” terlihat muka gemas Kak Herra yang begitu gemas akan tingkahku.

“Sopan dikit kenapa Her bahasanya!!….” tegur Om Tirta yang hanya di balas tawa kecil Kak Herra.

Sempat terjadi sedikit keributan di ruangan ini, keributan karena candaan seorang anak dan kedua orang tuanya. “senang memang melihat candaan mereka, meski sejujurnya aku iri dengan semua itu. Dulu hampir setiap saat aku bercanda dengan Ibuku, bahkan gara-gara aku kentut saja bisa jadi lucu karena candaan Ibuku….”

“Hei, Dek!!…. kerjanya melamun mulu dari tadi, tuh di panggil Nenek!!….” tegur Kak Herra yang menyadarkanku dari ingatan tentang Ibuku.

“E,eh…iya, ada apa Nek??….” sedikit aku gugup karena keterkejutanku.

Senyuman Nenek kembali terlihat. “Gini Ian, tadi Nenek nanya!!…. malam in kamu mau nginap di sini atau pulang??….” suara Nenek yang begitu lembut, terdengar saat mengulangi pertanyaannya padaku.

“Anu Nek, ehm…. besok tuh aku ada kerja pagi, baju ganti juga ada di rumah. Nanti aja Nek kalo pas liburan Ian nginep di sini….” jelasku ke Nenek.

“Kerja!!…. Bukannya kamu tadi bilang mau kuliah??….” sedikit ketidak percayaan terlihat jelas dari tatapan mata Nenek.

“Yah, itu Nek, kalo saya enggak kerja, kemaren-kemaren gak makan Nek!!!….” ungkapku yang di sambut pelukan haru Nenek.

“Sudah Ian, mulai sekarang kamu tidak usah kerja!!…. kamu fokus saja kuliahnya, Nenek akan biayai semua kebutuhan kamu!!….”

“Gak usah Nek, biar Ian tetap kerja. Kan ini juga bisa buat latihan untuk masa depan Ian, bukannya Nenek tadi bilang ke Ian, kalo suatu saat nanti harus nerusin usaha Kakek, jadi Ian mau belajar dulu dari nol….”

“Kamu tuh mirip sekali dengan Kakekmu, selalu tidak mau merepotkan orang lain….” puji Nenek yang kini semakin mempererat pelukannya ke tubuhku.

°

“Kamu pulangnya di anter Herra saja!!….”

“Tapi Nek, ini dah malem!!…. kasihan Kak Herra, mending Ian naik ojek aja!!….”

“Sudah sini gue anter, dah biasa kali gue pulang malem. Lagian Om dokter lagi dines keluar kota, sekalian deh nanti gue nginep di rumah elo..hihihihi….” kata Kak Herra seraya menggandeng tanganku, dan bersandar manja ke lenganku.

“Dasar jablai!!….” bisik ku ke Kak Herra. “Akhhrr……!!!!”

“Kenapa kamu Ian??….” tanya Nenek yang mendengar teriakanku barusan.

“Gak kenapa-napa kok Nek, cuma nih ada semut gigit lenganku…..”

“Ya sudah, kalian hati-hati!!…. bawa mobilnya gak usah ngebut-ngebut Her!!….” sedikit pesan Nenekku.

Setelah pamit dengan Nenek dan kedua orang tua Kak Herra. Kini aku di perjalanan pulang di antar wanita super nyebelin, yang hobinya menyiksa tubuhku.

“Diem mulu elo tuh!!…. Apa mau tidur lagi??….” tanya Kak Herra yang memecah kesunyian dalam mobil.

“Kagak, siapa juga yang mau tidur??…. ngeri tidur di dekat elo Kak, takutnya ntar gue kena tabok lagi….”

“Yeee, makanya tidur tuh ya tidur. Tidur kok mimpi jorok, pakek mendesag dan manggil-manggil nama gue lagi. Gue tabok deh, hehehehe….”

“Namanya juga cowok Kak, ya wajar lah mimpi jorok, apa lagi baru lihat pemandangan indah, hehehehehe…..”

“Dasar maniak pantat, nih deh lo puas-puasin lihatnya, atau lo mau lihat langsung??….”

“Ogah… gue gak senafsu itu juga kali Kak…..”

“Iya, iya, gak nafsu, tapi cuma kepengen kan??….”

“Hehehehe…. tau aja elu Kak!!…..”

“Dasar cowok….. Eh ini elo mau langsung pulang atau mau mampir kemana gitu??…..”

“Cari supermarket yang buka deh Kak!!!…. mau belanja dulu nih gue….”

“Tuh di depan ada yang buka…” ungkap Kak Herra. “Dah sini biar gue yang belanja, kalo elo yang belanja, isinya pasti cuma mie instan, telor, ama beras doang….”

“Tau aja elo Kak, hehehehe…..”

“Gini-gini gue tuh dah nikah, jadi taulah kebutuhan rumah tangga. Tapi dasarnya cowok, dimana-mana tuh sama kalau di suruh belanja, yang di beli ya tiga barang tadi….” aku hanya tersenyum saja mendengar penjelasan Kak Herra barusan.

Tak butuh waktu lama, dua keranjang penuh belanjaan aku bawa ke kasir. “Nih belanja atau kelaperan sih Kak??…. banyak amat.”

“Buat elu satu bulan nih kalo cukup. Kalo gak cukup ya belanja lagi, hihihihi….”

“Bukan masalah cukup gak cukup satu bulan Kak, nih uang gue yang gak cukup!!….” keluhku yang hanya jadi bahan ketawaan Kak Herra.

“Nih gue kok yang bayar, dah sono lu bawa nih semua ke mobil!!….” tanpa di ulang untuk ke dua kalinya, aku langsung membawa semua barang belanjaan ke mobil.

“Makasih kak dah di blanjain sebanyak itu….” kataku saat sudah duduk berdua dengan kak Herra di dalam mobilnya.

“Biasa ja Dek, demi sang putra mahkota, gue rela kok melakukan apapun….”

“Kemaren pangeran sekarang putra mahkota, besok apa lagi kak??…..” tanyaku.

“Ya kan benar, elo tuh putra mahkota keluarga Julian, hehehehehe….”

“Putra mahkota kok gak ada pengawalnya!!…. di culik orang hilang nanti…..”

“Bisa aja elo dek, nanti deh gue usul ke Nenek biar elu ada yang ngawal….”

“Nih orang ya, orang gue tuh bercanda, pakek di seriusin….”

“Hehehehe…. siapa tau ada yang beneran mau nyulik elo, kan kalo ada yang ngawal, elo jadi aman….”

“Mulai deh nglanturnya!!….” ungkapku. “Tuh di depan stop Kak, awas keterusan!!….”

Tepat di depan rumahku, Kak Herra menghentikan laju mobilnya. “Gak jadi nginap sini Kak??….” tanyaku ke Kak Herra yang masih duduk di dalam mobil.

“Lain kali aja dek, gue lagi halangan, iritasi ntar kalo lo masukin,hihihihi….”

“Apasih elo tuh Kak, ya udah sono hati-hati pulangnya!!…. gak usah ngebut!!….” sedikit pesanku.

“Iya, iya Kakak lo yang cantik ini gak ngebut kok, dan selalu hati-hati juga….” kata Kak Herra dengan PD-nya.

“Da…. adikku yang paling ganteng, Kakak cantik pulang dulu!!…..” ucapan Kak Herra yang aku balas dengan juluran lidahku.

Setelah mobil Kak Herra menghilang dari pandanganku, segera aku masuk ke dalam rumah. Sejenak aku menata barang belanjaanku di dapur, dan beberapa barang seperti sayuran dan daging aku masukkan ke kulkas.

Sedikit aku melepas lelah dengan duduk di sofa ruang tamu. Dengan di temani segelas air putih, aku menikmati sisa malamku. “Semoga kedepan hidup gue bisa lebih baik…..” do’aku dan tak lama aku terlelap tidur di sofa ruang tamuku.

°

Beberapa jam kemudian di kantor David Imperial Group. “Ceria amat muke lu pagi ini, padahal di luar lagi mendung…” sapa Laras saat berpapasan denganku di pintu masuk ruang ganti.

“Daripada manyun kayak yang ono noh!!…” tunjuk jariku ke arah Nina yang pagi ini terlihat cemberut mulu. “Kan enakan ceria gini Ras….” lanjutku.

“Napa gue di bawa-bawa!!…. kalo kalian mau pacaran tuh sono jauh-jauh, dan gak usah bawa-bawa gue segala!!….”

“Tuh si Nina jadi marah kan!!…. dah sono lu hibur si Nina dulu, setelah tuh lo ikut gue beres-beres ruangnya Pak Jimmy!!….” tutur Laras sebelum pergi meninggalkanku berdua dengan Nina.

“Kenapa lagi sih elo tuh Nin, dari kemaren uring-uringan melulu. Kalo gue ada salah ya ma’af deh!!….” kataku seraya duduk di samping Nina yang masih cemberut tanpa melihat ke arahku.

“Bodo!!….” ucapnya ketus.

“Kalau elo terus begini, gue tinggal juga nih!!….” ucapku, dan akupun berdiri untuk meninggalkannya.

“Sini dulu, jangan pergi!!….” bentak Nina dengan sedikit menarik tanganku.

“Huh… Iya, iya, nih gue di sini. Makanya di tanya tuh di jawab!!…di tanya kok malam diem….”

“Tar pulang kerja elo ikut gue!!….” ucapnya seraya bangkit dari duduknya dan berlahan pergi meninggalkanku.

“Woi… malah pergi!!…. tar pulang kerja mau ngapain??…” sedikit teriakku karena Nina begitu saja berjalan menjauhiku.

“KENCAN!!……” jawab Nina tanpa menoleh ke arahku, dan menghilang dengan cepatnya dari pandanganku.

“Duh ya tuh cewek satu, kadang nyenengin, tapi keseringan nyebelinnya. Dasar cewek aneh!!….” gumamku dalam hati.

“Ehm, mau kencan nih yee!!…..” tegur Laras yang tiba-tiba muncul begitu saja.

“Eh elo Ras, bikin kaget saja!!…. tau deh tuh orang aneh satu, bingung gue dengan maunya tuh orang!!….”

“Aneh, aneh gitu, elo suka kan??….” tanya Laras dengan sedikit melirik ke arah mataku. “Sialan tuh lirikannya, kenapa bikin gue deg, degan??….” batinku.

“Apa sih elo tuh, suka apanya??…. orangnya ja kayak gitu. Lagian dia juga dah ada cowok. Dah yuk mending kerja!!….” ajakku ke Laras.

Pagi ini kantor terasa sepi, maklum lah hari jum’at banyak yang lagi dinas luar kantor sekalian liburan. Termasuk Bang Jimmy yang pagi tadi bilang padaku kalah dia ada kerjaan di luar Kota. Biarpun sepi, acara bersih-bersih juga tetap aku lakukan. Seperti sekarang aku dan Laras sedang membersihkan dan merapikan ruang kerja Bang Jimmy.

“Elo beneran gak suka ama tuh si Nina??….” tanya Laras di sela-sela pekerjaan kami.

“Lo tuh ya, masih aja bahas itu. Gue tuh memang suka ama Nina, tapi lo ingat ya perasaan suka gue tuh cuma sebatas suka ke temen, gak lebih!!….” jelasku ke Laras yang kini justru sedang menatapku dengan tatapan aneh, tatapan yang seolah bisa menatap sampai dasar hatiku.

“Terus kalo ama gue, gimana perasaan elo??….” pertanyaan Laras yang kini sukses membuatku kebingungan.

“Makin aneh deh elo tuh yah!!…. Kalo gue bilang, gue suka ama elo seperti gue suka ama Nina, apa elo marah??…..”

“Justru gue seneng kalo lo bilang seperti itu, artinya lo tuh jujur orangnya….” ungkap Laras, aku hanya memandangnya dengan penuh kebingunganku.

“Hehehehe…. sudah ah, sini lanjut kerja dulu!!…. biar cepet istirahat, dan gak capek. Kan nanti elo mau KENCAN ama si Nina…hihihihihi….” ucap Laras dengan sedikit penekanan pada kata “kencan”.

“Mulai deh, mulai lagi!!…..” sedikit gemasku dengan tingkah Laras.

“Ian!!…..” suara lirih Laras memanggilku. Aku yang sedari tadi memunggungi laras, perlahan membalikkan badanku.

“Apa sih Rass,-……

“Cup….” sebuah kecupan mendarat di bibirku, aku hanya melotot memandangnya yang tersenyum begitu manis setelah satu kecupan bibirnya mendarat di bibirku.

“Jangan nakal ama si Nina!!…. ntar gue cemburu…..” bisik Laras yang kemudian pergi meninggalkanku, meninggalkan orang yang masih terdiam dalam kebingungannya.

“Apasih mau elo tuh Ras, tadi seolah elo tuh cuek dengan acara gue sama Nina. Tapi barusan, kenapa elo cium gue??…dan kenapa juga elo melarang gue berbuat macem-macem dengan Nina??…” berbagai pertanyaan yang terus menerus mengisi fikiranku saat ini.

°

Jam dinding di tempat kerjaku menunjukkan tepat jam empat sore. Seperti biasa, semua kawan OB-ku bergegas pulang. Tadi Laras setelah pamit denganku langsung pulang naik ojek online pesanannya. Begitu juga yang lain, mereka pulang dengan kendaraannya masing-masing. “Dasar si Laras, niat banget bikin gue penasaran. Belum juga gue tanya-tanya, dah kabur duluan orangnya…” batinku setelah tadi melihat kepergian Laras.

Kini tersisa aku dan Nina yang berdiri saling diam dan saling pandang. “Kemana nih kita Nin??….” tanyaku mencoba memecah keheningan.

“Kencan!!….” setelah mengatakan satu kata yang sama persis dengan yang di katakannya tadi. Nina menarikku menuju motornya yang terparkir di parkiran kantor.

“Tampil beda ya lo sekarang??….” tanyaku ke Nina.

“Apa yang beda??…. perasaa dari kemaren-kemaren gak ada yang berubab sama penampilan gue…”

Iyasih gak ada yang berubah banget dari penampilan Nina saat ini, tapi menurutku hari ini dia kelihatan lebih feminim dari biasanya. “Dasar cewek tomboy baru tobat….” batinku.

“Nih sore-sore gini mau kencan kemana??….”

“Ke taman, terserah taman mana, pokoknya taman!!….”

“Ke taman kota mau??….” tawarku. “Lagian lo tuh ya, kencan kok gak ngajak cowoknya, malah ngajak gue…” lanjutku.

“Dah deh gak usah banyak omong, dah cepetan jalan!!… bisa kan elo bawa motor??….”

“Iya bisakok, tapi pegangan napa!!… tar jatoh, gue lagi yang di salahin!!….” dengan sedikit kaku, akhirnya Nina mau memegang pinggangku dengan kedua tangannya. Bukan maksutku mencari kesempatan, tapi ini demi keamanan. Meski kini aku dapat merasakan sesuatu di punggungku.

Dengan kecepatan sedang aku mengendarai motor Nina, jarak taman kota dari tempat kerjaku gak begitu jauh. Tapi, karena wanita yang aku bonceng cuma diam sesadari tadi, jarak dekatpun terasa begitu jauh.

“Yuk turun, dah nyampek!!….” pintaku ke Nina.

“Beliin gue minum dulu, terus temanin gue duduk di kursi taman!!….” perintah Nina.

“Cuma nemanin kan, gak jadi kencan dong??….” sedikit candaku.

“Sudah sono beliin, gue tunggu di sana!!….” dengan sedikit ketus, Nina berbicara padaku.

Aku hanya tersenyum dengan tingkahnya, karena jujur akupun belum tau apa maunya si Nina ini.

Di bangku taman yang di hiasi meja bundar yang terbuat dari kayu, aku lihat Nina duduk dan memandang ke arahku. “Nih minumnya tuan putri!!…. sudah jangan manyun mulu, gue kuncir juga tar tuh bibir!!….” kembali aku mengajak bercanda Nina.

“Makasih…..” jawab Nina dengan sedikit senyuman, dan akhirnya aku menduduk kursi di depan Nina.

“Nah, gitu dong senyum. Kan jadi semakin cantik kalo senyum gitu!!….” sedikit pujiku, tapi bukan sekedar pujian biasa, karen Nina memang semakin cantik kalo tersenyum.

Saat Nina yang sedari tadi hanya diam dan ngedumel mulu mulai tersenyum. Aku merasa ada tangan yang memegang bahuku, mata Ninapun sedikit melotot saat memandang seseorang yang mungkin kini sedang berdiri di belakangku. “Siapa nih orang??…” batinku, dan dengan perlahan aku menolehkan pandanganku.

“Jadi dia yang biki elo ngejauhin gue!!….”

“BRAGHHH…….”……..

Bersambung

END – Putaran Kehidupanku Part 5 | Putaran Kehidupanku Part 5 – END

(Putaran Kehidupanku Part 4)Sebelumnya | Selanjutnya(Putaran Kehidupanku Part 6)