Putaran Kehidupanku Part 16

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5Part 6Part 7Part 8
Part 9Part 10Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15Part 16
Part 17Part 18Part 19

Putaran Kehidupanku Part 16

Start Putaran Kehidupanku Part 16 | Putaran Kehidupanku Part 16 Start

Hari ini, kegiatan camping mahasiswa baru di kampusku di adakan. Lokasi camping di pinggir kota, di persiapkan pihak kampus untuk kegiatan kali ini. Kegiatan camping ini wajib di ikuti semua mahasiswa baru.

Pagi-pagi sekali, Gading dan Tasya sudah datang ke rumahku untuk menjemputku. Sejak peristiwa di kantin yang membuat Daniel terkapar tak berdaya karena di pukul Daniel, di kampusku seperti terjadi perselisihan dua kelompok. Kelompok Daniel yang cukup banyak pengikutnya, dan kelompokku yang hanya terdiri dari aku, dan Gading. Tapi, aku bersyukur dengan perselisihan ini, karena sudah tidak ada alasan lagi bagiku untuk basa basi dengan tingkah Daniel.

“Untung kemarin tuh elo gerak cepat bikin Daniel terkapar, kalau gak gitu, dah memar nih muka gue kena pukulan Daniel!!!….” ucapku pada Gading yang sedang membantuku memasukkan barang bawaanku ke dalam tas ransel yang akan aku kenakan.

“Dah gatel tangan gue bro dengan tingkah Daniel. Mumpung kemarin ada kesempatan, ya sekalian gue lampiasin ke tuh orang….”

“Hahahaha, bisa ja lo tuh Ding. Tapi, mulai sekarang kita harus lebih hati-hati!!!…. Daniel dan kelompoknya semakin dendam sama gue, dan sekarang elo jadi ikut terlibat juga….”

“Santai saja lo kalau soal Daniel dan kelompoknya, nanti di tempat camping ada satu lagi teman gue yang bakal bantuin, dan jaga kita!!….”

“Wih, sapa tuh Ding??….”

“Namanya Restu, dia salah satu anggota BEM kampus kita, tapi sebulan ini dia izin tidak ke kampus, karena ada urusan keluarga katanya….”

“Semoga tuh temen elo bisa di andalkan!!….” ucapku seraya menutup resleting tas ranselku.

“Kalian berdua udah apa belum??…. Dah hampir telat nih kita!!….” tegur Tasya yang muncul dari balik pintu kamarku.

“Nih dah siap….” ucap Gading.

“Yuk berangkat!!….” ajakku ke kedua temanku.

Setelah Tasya dan Gading keluar dari rumahku, aku segera mengunci semua jendela dan pintu Rumahku, serta menitipkan kunci rumahku ke tempat pak RT yang rumahnya tak jauh dari rumahku.

“Tas elo masukin ke belakang Ian, dan elo duduk di tengah sama gue, biar gading di depan!!….” perintah Tasya padaku.

Aku menaruh tas ranselku di bagian belakang mobil dan segera duduk di bangku tengah bersebelahan dengan Tasya. Mobil Tasya yang dikemudikan sopir keluarganya segera berjalan menuju kampusku.

Sepanjang perjalanan menuju kampus, Tasya senantiasa memegang lenganku dan meneluknya, kepalanyapu tak pernah bergeser dari pundakku. Antara enak dan risih yang aku rasakan saat ini. Enak karena sesuatu yang empuk terasa menghimpit lenganku, dan risih karena Gading terus melirik ke arah belakang mobil lewat spion tengah mobil, dan sesekali dia tersenyum melihat tingkahku Tasya padaku.

“Ian, nanti elo di bus duduk di sebelah gue ya, biar Gading duduk sama Maya!!….” ucap Tasya saat kita bertiga sudah sampai di kampus.

“Iya Sya, gue ngikut apa kata elo, lagian si Gading juga gak bakalan nolak kalau duduk di sebelah Maya, ya kan Ding??….” ucapku sambil menyenggol lengan Gading yang berjalan di sebelahku menuju bus nomor lima yang akan kami naiki.

“Ya, kalau kalian maksa gue duduk di sebelah Maya, gak bakalan nolak gue, hehehehe….”

“Sok-sokan bilang gitu, padahal di hati ingin lompat-lompat kegirangan!!….” sindir Tasya.

“Hehehehe, tau aja elo Sya, jadi pengen meluk elo gue!!….” ucap Gading.

“Lo nyentuh gue, gue selesain hidup elo!!….” ancam Tasya.

Gading hanya nyengir mendengar ancaman Tasya, sedangkan aku yang berada di tengah perdebatan mereka, aku cuma tertawa geli saja dengan tingkah dua temanku ini.

Di depan Bus nomor lima yang menjadi tujuan kami, ada seorang lelaki yang melambaikan tangan ke Gading, dan ada juga seorang wanita yang menunggu kedatangan Tasya.

Dengan mempercepat langkahnya, Gading mendatangi lelaki yang barusan melambaikan tangan padanya. Mereka berdua terlihat sedang sapa dan berbicara.

“Udah lama elo May??….” tanya Tasya ke Maya, wanita yang menunggunya di samping bus.

“Baru lima menitan Sya, yuk langsung masuk!!….” Maya menarik tangan Tasya untuk mengikutinya masuk ke dalam bus.

“Gue tunggu di dalam!!….” seru Tasya padaku, yang aku jawab dengan anggukan kepala.

Dari arah depan bus, Gading mendatangiku bersama lelaki yang barusan ngobrol dengannya.

“Nih bro kenalin, ni yang namanya Restu, dia nih sobat gue sejak SD, dan di kampus ini dia tuh wakil ketua BEM….” Gading mengenalkanku pada orang yang bernama Restu.

“Andrian, tapi lo bisa manggil Ian…” ucapku memperkenalkan diri seraya mengulurkan tanganku.

“Restu….” jawabnya begitu datar, dan dia menjabat tanganku.

Tubuhnya tegap tinggi besar dan berotot, potongan rambut dan cara berpakaiannya sangat rapi. Mirip sekali dengan penampilan seorang anggota kepolisian. “Siapa Restu ini sebenarnya??….” tanyaku dalam hati.

“Gue ke tempat bus anggota BEM dulu, kita lanjutin ngobrolnya di tempat camping!!….” ucap Restu.

“Ok bro….” ucap Gading, sedangkan aku hanya tersenyum saja ke arahnya.

Di samping bus anggota BEM yang di tuju Restu, aku sempat melihat Hanna yang sepertinya juga sedang melihat ke arahku, namun aku sedikitpun tak menghiraukannya.

“Yuk masuk!!…. Di dalam ada yang lebih baik dari pada tuh si Hanna….” ajak Gading yang sepertinya menyadari apa yang sedang aku lihat.

Aku memalingkan pandanganku dari Hanna, dan kembali aku menatap ke arah bus di depanku.

“Sini duduk!!…” ucap Tasya padaku. “Ding tuh elo dah di tunggu Maya di belakang!!….”

Aku segera duduk di samping Tasya, dan Gading duduk di samping Maya yang berada dua kursi di belangku.

Setelah semua mahasiswa satu kelasku sudah berada di dalam bus, perjalanan bus akhirnya bisa di mulai. Tidak ada upacar pemberangkatan atau kegiatan apapun sebelum berangkat, karena sesuai selembaran yang di bagikan, semua kegiatan akan di mulai dan di akhiri di tempat camping.

“Nanti kalau aku kedinginan, kamu peluk aku ya!!….” pinta Tasya padaku.

“Jangan aneh-aneh deh Sya, lo tuh ketua kelas, masak nyontohin yang enggak-enggak di dalam bus….”

“Kalau lo gak mau, gue minta peluk yang lain saja, pasti mereka mau!!….”

“Eh, kok gitu!!…. Ya jangan gitu juga Sya!!….”

“Ya sudah, lo aja yang meluk, dan gak pakek nolak!!….”

“Ya deh, iya gue peluk. Tapi awas saja lo aneh-aneh, cuma meluk saja….”

“Iya cuma peluk kok, tapi kalau kamu mau yang lainnya, aku gak bakalan nolak….” ucap Tasya dengan senyuman genitnya.

“Enggak tuh ya enggak Sya!!….”

“Hihihihi……”

Hampir satu jam bus berjalan, kata seorang dosen yang satu bus dengan mahasiswa satu kelasku, perjalanan dari kampus ke tempat lokasi camping itu sekitar 8 jam, jadi baru sore hari nanti kita sampai di lokasi camping, melihat sekarang baru pukul sembilan pagi. Sejenak aku berjalan ke arah toilet bus, karena aku ingin buang air kecil. Saat baru keluar dari toilet, aku melihat sepasang mahadiswa yang duduk di bangku paling belakang mereka baru saja berciuman. Kedua orang itu seperti malu-malu saat melihatku, sedangkan aku hanya tersenyum ke arah mereka.

Aku kembali duduk di kursiku, Tasya masih saja sibuk mainin HP nya sedari tadi. Aku mencoba memejamkan mata sebentar, tapi belum juga mataku terpejam, lengan kiriku di tarik Tasya dan dia bersandar ke bahuku.

“Sya, kenapa??….”aku menoleh melihat ke arah Tasya.

Dia sudah menaruh HP nya di pangkuannya, dia kini memeluk tanganku erat, dan aku lihat dia sudah memejamkan mata, dengan kepalanya yang dia sandarkan ke bahu kiriku.

“Ngantuk gue!!….” ucap lirih Tasya.

Tidak ingin mengganggunya, aku membiarkan Tasya tertidur dengan bersandar di bahuku, dan memeluk erat lengan tanganku.

Aku lihat semua orang di dalam bus sedang asik dengan dunianya masing-masing, ada yang main HP, ada yang bercanda, dan ada juga yang sedang bermesraan dengan pasangannya.

Tasya yang ingin aku ajak ngobrol, sepertinya dia sudah lelap dalam tidurnya. Gading yang di belakangku sepertinya juga sedang asik dengan Maya.

“Tidur sepertinya enak!!….” batinku, dan tanpa mengganggu tidurnya Tasya aku mencoba memejamkan mata dengan bersandar di sandaran tempat dudukku.

“Ian,bangun Ian!!…..” aku mendengar suara orang memanggilku, dan aku merasa tubuhku seperti di goyang-goyang.

Perlahan aku membuka mata, dan mengumpulkan kesadaranku setelah barusan tertidur. Saat mataku terbuka dan bisa melihat, aku melihat wajah Tasya tepat di depan Wajahku.

“Hei Sya, lo mau ngapain??….” ucapku.

“Hihihihi, wajah elo tuh lucu kalau sedang tidur, gue jadi pengen nyium!!…”

“Gak usah aneh-aneh, dah sana duduk yang benar!!….”

“Iya, iya, sini peluk!!…” Tasya menjauhkan wajahnya dariku, tapi dia kini justru merentangkan kedua tangannya meminta aku memeluknya.

“Gue kedinginan, sini peluk!!!…. Lo tadi udah janji kan!!….”

“Bukan begitu Sya meluknya!!….” ucapku, dan aku merapatkan kedua tangan Tasya ke bagian depan. Kemudian aku memeluk pinggangnya dari arah belakang, dan dengan sekali tarik aku merapatkan tubuh Tasya padaku, dan dengan lembut aku menggerakkan kepala Tasya untuk bersandar ke pundakku dengan tanganku yang satunya.

“Romantis juga ya lo itu!!….” ucapnya.

Tasya membuat dirinya senyaman mungkin dalam pelukanku. Kedua tangannya yang tadi aku rapatkan ke depan, kini sudah bergerak sesuka dia. Tangan kirinya memegang tangan kiriku yang sedang memeluknya, sedangkan tangan kanannya memeluk tubuhku dari belakang.

“Bikin iri saja kalian tuh!!…” ucap wanita yang duduk di sebrang tempat dudukku.

Aku melihat ke arahnya dan tersenyum, diapun membalas senyumanku.

“Tin…Tin…Tin…” bunyi klakson bus, tepat di gerbang masuk sebuah tempat camping.

Tempat ini bukan seratus persen tempat camping, tidak akan ada kegiatan membangun tenda ataupun tidur di tenda. Melainkan ada cukup banyak rumah pohon yang akan di gunakan sebagai pengganti tenda.

Setelah bus terparkir di tempat parkir, semua mahasiswa keluar dari bus, tak lama kemudian, ada panggilan dosen, supaya semua ketua kelas berkumpul. Tasya dan ketua kelas yang lain segera berkumpul ke tempat yang sudah di tentukan.

Sambil menunggu kegiatan selanjutnya, aku duduk di pinggiran hutan, yang tak jauh dari tempat parkir bus.

“Lo sama Tasya pacaran ya??….” tanya tiba-tiba seorang wanita yang tadi melihatku sedang memeluk Tasya di dalam bus.

“Gak juga, gue ama Tasya cuma temenan!!…” jawabku.

“Gue kira pacaran, habisnya kalian pelukan gitu tadi, hihihihi…. ”

“Lo ngapain ke sini??….” tanyaku setelah dia berhenti tertawa.

“Sampai lupa, gue belum ngenalin diri ya, gue Syerli, dan gue yakin lo belum kenal gue, karena kita belum pernah kenalan. Untuk alasan gue kemari, karena tugas dari Ayah elo!!…” ucap Syerli lirih.

“Tugas dari Ayah gue!!…. Apa maksut lo??….” dengan keterkejutanku, aku bertanya.

“Di kampus elo semakin bahaya, gue harus jaga elo!!…. Identitas gue cuma elo yang boleh tau, dan jangan elo buka identitas gue, itu pesan Ayah elo…” ucapnya tegas dengan suara lirih. “Cuma itu yang bisa gue bilang ke elo, yuk kembali ke tempat teman-teman berkumpul, tuh si ketua kelas sudah datang!!….”

Syerli setelah berbicara denganku, begitu saja meninggalkan aku, dia berjalan ke arah kumpulan teman-teman satu kelasku.

“Mereka belum tau aku, tapi mereka semakin dekat denganku, aku harus lebih berhati-hati. Terimakasih, meski kita tidak bertemu, kamu masih mau menjagaku….” ucapku dalam hati, dan akupun segera berjalan ke arah Tasya yang sudah berkumpul dengan yang lainnya.

Tasya menatap tajam ke arahku saat aku datang dari tempat yang tidak dia ketahui. Apa lagi aku datang setelah Syerli datang, Tasya menatap curiga ke arahku dan Syerli.

“Kelas kita di bagi menjadi delapan kelompok dan masing-masing kelompok terdiri dari empat orang. Setiap kelompok akan menempati satu rumah pohon, yang di dalamnya ada dua kamar…” tutur Tasya begitu tegas.

Tasya membagi semua kelompok, setelah semua setuju, Tasya langsung membagikan kunci kamar ke masing-masing kelompok. Aku lihat Syerli cukup senang dengan pembagian kelompok yang dilakukan oleh Tasya, karena rumah pohon dia akan bersebelahan dengan rumah pohon yang aku tempati.

“Lo yakin dengan ini Sya??….” tanya Gading. “Kelompok kita cukup aneh loh Sya!!….”

Tidak heran kalau Gading bertanya seperti itu, karena di kelompok kelasku yang lain, cowok sama cewek terpisah, sedangkan kelompokku, ada dua cewek dan dua cowok. Tasya, Maya, Gading dan aku, menjadi kelompok terakhir di kelasku.

“Gue yakin Ding, tuh lo lihat kan di kelas lain, banyak yang seperti kita!!….” ucap Tasya.

Dan benar juga, di kelas lain cukup banyak kelompok yang mirip dengan kelompokku. Bahkan ada beberapa kelompok dengan anggota tiga orang cowok dengan satu wanita dan ada juga yang sebaliknya.

Tepat jam 5 sore, kita dapat izin istirahat sejenak sebelum acara makan malam. Karena capek setelah perjalanan, aku dan Gading segera menuju kamar. Maya dan Tasya mengikuti kami dari belakang.

“Nih kunci kamar kalian, kalian yang kiri, kita yang kanan!!….” tutur Tasya.

Aku mengambil kuncinya dan begitu saja membuka pintu kamar. Di dalamnya cuma ada satu bed yang cukup besar, cukup untuk dua orang. Satu kamar mandi yang menyatu dengan kamar, yang di batasi dengan papan kayu. Tidak ada AC atau pendingin ruangan lainnya di dalam kamar, tempat ini selertinya sudah cukup dingin karena berada di kaki bukit dan di tepian hutan. Jadi, pendingin ruangan tidak di perlukan di tempat ini.

“Gue tidur sebentar ya bro, ngantuk gue!!…..”

“Ya udah lo tidur, gue mau mandi dulu terus gue mau jalan ngelilungi tempat ini sebentar….” ucapku.

Aku mengambil handuk dan baju ganti di dalam tasku, dan setelahnya aku masuk ke kamar mandi. Di dalam kamar mandi sudah tertata dengan rapi perlengkapan untuk mandi, ada sabun badan, sabun cuci muka, dua buah sikat gigi, beserta pasta giginya, terakhir ada sampo.

Air di tempat ini terasa dingin, bahkan terasa semakin dingin saat membasahi tubuhku. “Dinginn!!!…..” keluhku sesaat setelah selesai mandi.

Dengan handuk aku mengeringkan tubuhku, baju ganti yang aku bawa, aku kenakan sekalian di dalam kamar mandi. Selesai memakai baju dan celana, aku menjemur handuk basahku di jemuran kecil, tepat di samping pintu masuk ke kamar mandi.

“Ding, gue keluar dulu!!….” pamitku ke Gading.

“E’ehmmmmm….” jawaban gak jelas Gading, yang sudah nyaman dengan posisi tidurnya.

Aku keluar kamarku, di luar banyak mahasiswa yang berjalan kesana kemari melihat-lihat keindahan tempat ini. Sejenak mataku mengarah ke kamar di samping kamarku. Terdengar obrolan dua wanita yang aku kenal dari dalam kamar.

“Gue istirahat dulu ya Sya, mabuk perjalanan sepertinya gue!!….” ucap Maya.

“Iya gue juga May, di bus gak bisa istirahat nyenyak, goyang-goyang mulu busnya….” ucap Tasya.

“Apanya yang goyang, yang ada situ yang ganguin gue istirahat, Sya….” ucapku dalam hati.

“Ya sudah, nanti malem saja kita bangun waktu makan malam. Belum ada kegiatan kan hari ini??….” tanya Maya.

“Gak ada May, baru besok mulai kegiatannya. Ya sudah, gue istirahat dulu!!….”

“Gue juga istirahat….”

Terakhir aku mendengar suara Maya, setelah itu mereka hening. “Sepertinya Tasya capek, padahal baru juga ada niat ngajak dia jalan-jalan….” batinku.

“Elo mau jalan-jalan??….” tanya wanita, yang untuk kedua kalinya datang tiba-tiba, tanpa sedikitpun menimbulkan suara.

“Oh, elo syer!!…. Iya gue mau keliling tempat ini, tadinya mau ngajak teman, tapi mereka pada capek semua. Sepertinya gue mau jalan sendiri saja….” jawabku.

“Boleh aku temanin??…..”

“Silahkan saja kalau kamu mau!!….” ucapku seraya turun dari tangga rumah pohon yang aku tempati.

Cukup deg-degan aku berjalan berduaan dengan Syerli. Bukan karena dia salah satu anggota Ayahku, yang pastinya Syerli ini orang terlatih, aku deg-degan karena penampilan Syerli, penampilannya yang berani memamerkan keindahan lekuk tubunya, dan di tampah wajahnya yang sangat cantik. “Jadi minder gue jalan di dekat elo Syer!!….” ucapku.

“Gue yang seharusnya minder jalan di dekat elo. Gue akuin banyak cowok yang ngelirik ke arah gue, tapi ada dua kali lipat jumlah cewek yang ngelirik ke arah elo. Memang ya kharisma Ayah dan kakek elo, sepertinya nurunnya ke elo semua!!…..” tutur Syerly.

Aku hanya nyengir mendengar setiap ucapan Syerli yang terdengar sepertk pujian, atau hanya sekedar omong kosong.

“Sedikit ke dalam hutan yuk!!…. Sepertinya ada air terjun di sekitar hutan sini….” ajak Syerli.

“Ini sudah mau gelap, gue gak bawa penerangan. Besok aja ke hutannya kalau dah terang….”

“Gue bawa HP nih, nati bisa buat penerangan, sepertinya tempatnya juga gak terlalu jauh!!….” ucapnya. “Atau sebenarnya elo takut ya keluar malam di hutan??….” lanjut ucapan Syerli seraya dia menatapku.

“Jujur gue gak takut, tapi ini tempat baru bagi gue, dan gue sama sekali belum tau tempat ini….”

“Percaya deh lo sama gue, di jamin aman!!….”

“Ya sudah terserah elo deh, gue ngikut saja. Tapi, bukannya elo ada buat jagain gue, kenapa juga justru ngajak gue ke hutan, di sana kan cukup bahaya!!…”

“Gak usah khawatir soal itu, orang-orang yang gue curigai bisa celakain elo, mereka semua tadi ada di kamarnya dengan pasangannya masing-masing. Jadi kita aman!!….”

“Ya sudah, buruan jalan!!….”

Matahari yang sedikit demi sedikit mulai menghilangkan pancaran sinarnya, membuat suasana semakin gelap. Syerli yang berjalan di depanku mulai menyalahkan lampu HP nya. Dari tempatku sekarang, sayup-sayup aku mendengar suara air terjun.

“Sudah dekat ya kita??….” tanyaku.

Syerli tidak menjawab, dia justru diam mematung seperti sedang memastikan sesuatu. Aku berjalan mendekatinya.

“Kalau di tanya tuh di jawab!!…. Ada apaahmmmmm,-….” mulutku di bekap Syerli.

“Stttttt…. Lo jangan berisik, dengerin baik-baik, ada suara aneh!!….” bisik Syerli

Aku diam, apa aku takut, tentu tidak. Aku sedang siaga. Aku dan Syerli sama-sama diam, suasana semakin hening. Sayup-sayup terdengar suara aneh, selain suasana air terjun.

“aaahhhhhh….ehmmmm….aaahhhh….teerrruuuuus…..aaahhhhhh…..”

“Inikan suara desahan wnita…” batinku.

Aku dan Syerli saling pandang, dan sepertinya dia mengerti maksutku. Lampu HP nya dia matikan, dan perlahan aku dan dia berjalan berlahan ke arah sumber suara.

Langkah kaki kami semakin mendekati arah air terjun, dan sura itu semakin nyaring terdengar di telingaku.

“aaahhhhh….yaahhhh….teeerrruuusss….aaahhhh…..” suara itu semakin jelas aku dengar.

“Eh, itu mereka!!…” ucap Syerli seraya menunjuk ke arah tepian air terjun, tempat di mana banyak batu datar yang biasa di gunakan orang bersantai setelah bermain di air terjun.

Dengan di bantu cahaya senja yang masih sedikit memancarkan sinarnya, samar-samar aku bisa melihat seorang wanita dan lelaki yang sedang memadu kasih di tepian air terjun.

“Astaga!!….” ucapku dalam keterkejutan.

Mataku melotot seperti tidak mau berkedip saat melihat siapa sepasang kekasih yang sedang bercinta di sana. Jilbab yang masih menutupi kepalanya, baju yang sudah tersingkap sampai keatas dan menunjukkan dua payudara yang sudah tanpa BH, sehingga terlihat jelas bentuk payudara seorang wanita. Rok panjang yang baru saja di tarik ke bawah oleh lelaki teman bercintanya, dan kini aku melihat dengan jelas, wanita itu hanya mengenakan celana dalam.

“aaahhhhhh……..” desahan kembali terdengar saat si lelaki kembali meremas dan mengulum payudara wanitanya dengan rakus.

“Kriek!!…..” bunyi ranting yang tidak sengaja aku injak.

Sepasang kekasih yang sedang asik memadu kasih, menghentikan sejenak kegiatan mereka, dan mereka melihat ke arah sekitaran mereka.

Aku dan Syerli saling pandang, dan dengan cepat kami bergerak menjauh dari lokasi kami mengintip. “Ternyata kamu wanita seperti itu!!….” batinku.

“Hash….hash….hash….” nafasku yang terenga-engah karena aku tadi di paksa lari oleh Syerli.

“Capek gue!!….” ucap Syerli seraya duduk di tangga munuju rumah pohon tempat kamarku berada.

Aku terdiam, rasa capek tidak begitu aku rasa. Yang aku rasa hanya rasa kecewa, dan yang aku lihat tadi semakin membuatku kecewa.

“Gue balik dulu, mau mandi!!….” ucap Syerli.

“Iya…..” jawabku singkat, dan aku begitu saja masuk ke kamarku.

Di dalam kamar aku melihat Gading yang baru berganti baju, sepertinya dia baru selesai mandi.

“Napa tuh muka di tekuk gitu, ada masalah??….” tanya Gading.

“Gak ada apa-apa, gue cuma capek….” jawabku.

“Lo dari mana saja??….” tanya Gading. “Tuh barusan Tasya nyariin elo…..”

“Gue cuma jalan keliling tempat ini….” jawabku. “Ada apa Tasya nyariin gue??….”

“Tuh anak mau nitip makan malam ke elo, tadi Maya juga nitip ke gue. Mereka katanya masih cpek, mau tiduran di kamarnya….” tutur Gading. “Yuk makan dulu, sekalian bawain makanan buat dua wanita kita, hehehehe…. ”

“Lo duluan Ding, gue bentar lagi. Mau tiduran bentar saja….” ucapku.

“Iya, gue pergi duluan, elo jangan lama-lama tidurannya!!….”

“Iya….” ucapku singkat.

Setelah kepergian Gading, kamarku terasa begitu sepi. Membuatku semakin teringat akan kejadian yang baru saja aku lihat.

Sekitar lima menit aku tiduran di kamarku, dan aku memutuskan untuk bangun dan segera pergi ke tempat makan malam.

Baru saja keluar dari kamar dan menutup pintu, aku melihat seorang laki-laki dan wanita berjalan lewat di depan kamarku dengan pakaian basahnya. Sejenak aku menatap ke arah si wanita yang juga menatap ke arahku. Sedang si lelaki, dia terlihat begitu gelisah.

“Dengan yang sekarang aku lihat, aku sangat yakin kalian berdualah tadi yang di air terjun….” batinku.

Setelah dua orang itu menjauh, aku mempercepat langkahku menuju tempat makan malam. Aku melihat Gading mengambil dua porsi makanan, dan sepertinya dia akan membawa ke kamar untuk makan bersama dengan Maya.

“Ding tunggu sebentar, gue nitip punya Tasya, sekalian lo bawain!!….” pintaku.

Nasi putih, ayam bakar, dan sayuran aku tata di piring. Setelah selesai, aku segera menyerahkan ke Gading untuk di bawa ke tempat Tasya. Meski agak repot, Gading cukup lihai membawa tiga porsi makan di tangannya.

Nasi goreng, dan irisan telor goreng aku pilih jadi menu makan malamku hari ini. Sambil memakan makananku, aku begitu menikmati keramaian tempat ini.

Sekitar 15 menit aku menikmati makan malamku, kini aku berjalan sendirian menuju kamarku. Angin malam yang dingin sedikit membuatku menggigil karena aku cuma memakai kaos berlengan pendek.

“Dingin ya?…. Nih pakei jaketku!!….” ucap seorang wanita yang muncul dari belakangku.

“Terimakasih, tapi gue tidak terlalu membutuhkannya!!….”

“Kak, kenapa kamu jadi berubah??….” tanya wanita bernama Hana padaku.

Aku membalikkan badanku, aku menatapnya. Bajunya sudah ganti, begitu juga dengan jilbab yang dia kenakan. Dengan senyumannya, dia membalas tatapanku.

“Kenapa kamu tidak menjawab pertanyaanku??…..” tanya Hana.

“Lo tahu kenapa sikap gue berubah??…. Sejujurnya elo pasti tau apa sebabnya. Di depan banyak orang lo bilang sayang sama gue, tapi elo justru memilih lelaki lain buat menjadi kekasih elo….”

“Gue memang jauh dari kata sempurna, gue gak terkejut elo lebih memilih lelaki lain. Namun bukan begini cara elo buat ngancurin perasaan orang yang sayang sama elo….” untuk pertama kalinya aku mengungkap seluruh perasaanku ke Hanna.

“Kak, ma’afin aku, semua gak seperti itu. Aku dan kak Tomi gak pernah pacaran. Aku cuma sayang sama kakak, kak Ian aku mohon percaya sama aku….”

“Kenapa juga elo harus berbohong untuk menutupi semua kebohongan elo. Cukup Han, elo gak usah minta ma’af lagi, lagian apa yang aku lihat di air terjun tadi, sudah cukup membuktikan semua padaku…..”

Hanna terlihat begitu terjejut dengan apa yang barusan aku ucapkan padanya.

“Kak, itu semua gak seperti apa kakak lihat, aku cuma di paksa!!….” elak Hanna, dan entah kenapa air matanya masih bisa keluar.

“Sudah, elo gak perlu menangis. Gue sadar gue tuh juga banyak salah, tapi setidaknya gue belum pernah bilang sayang ke siapapun. Gak seperti elo yang berkali-kali bilang sayang ke gue, tapi itu semua hanya omong kosong. Gue harap setelah ini, kita gak akan pernah bertemu lagi, kecuali sebatas bertemu antar pelajar…..”

Dengan langkah kakiku yang begitu cepat, aku pergi meninggalkan Hanna tanpa sekalipun menoleh ke arahnya.

Bersambung

END – Putaran Kehidupanku Part 16 | Putaran Kehidupanku Part 16 – END

(Putaran Kehidupanku Part 15)Sebelumnya | Selanjutnya(Putaran Kehidupanku Part 17)