Putaran Kehidupanku Part 10

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5Part 6Part 7Part 8
Part 9Part 10Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15Part 16
Part 17Part 18Part 19

Putaran Kehidupanku Part 10

Start Putaran Kehidupanku Part 10 | Putaran Kehidupanku Part 10 Start

“Tik….tik…tik….” suara tetesan air terdengar lirih di telingaku, kubuka mataku dan kulihat sekelilingku.

Sayup-sayup suara orang berbicara, terdengar menggema di sekelilingku.

“Dimana aku??…. Apa aku sudah mati??…. Sesingkat inikah hidupku??….” aku bersuara, namun terasa aku hanya diam.

“Kenapa gelap??…. Siapapu tolong jawab, dimana aku ini??….” sekuat tenaga aku mencoba berteriak, namun semua terasa sia-sia. Tak ada satupun suara yang menjawab setiap teriakanku.

Dari kejauhan, sebercak cahaya muncul dan bergerak mendekat ke arahku. Semakin dekat cahaya itu, kilau silau cahayanya membuatku menutup mataku.

“Satu…..dua….tiga….empat…..” tepat di hitangan ke sepuluh, aku perlahan membuka mataku.

Saat mataku terbuka, yang pertama aku lihat, ada dua orang yang menatap dari kiri dan kananku. “Syukur kamu sudah sadar, Dek….” suara orang di kiriku, aku begitu mengenal suara ini. Namun, aku tidak mengetaui siapa dia, karena separuh wajahnya tertutup masker yang hanya menampakkan kedua matanya.

Seperti menyadari akan kebingunganku, seseorang yang tadi berbicara padaku, perlahan membuka masker penutup wajahnya. “Kak Ferry!!….” ucapku lirih.

Kemudian Kak Ferry kembali menutup maskernya. “Sebentar ya, kakak pindahin kamu ke ruang perawatan!!….” ucap kak Ferry.

Aku kembali terdiam, mataku bergerak ke kanan, ke kiri, mengamati sekelilingku. Ruangan yang begitu penuh dengan alat-alat kesehatan, dan aku melihat slang infus menancap di tangan kiriku. “Bunyi air tadi sepertinya bunyi air infus yang menetes dan mengalir ke tubuhku, dan suara-suara tadi tentunya suara kak Ferry dan rekannya….” ucapku dalam hati setelah melihat apa yang ada di sekelilingku, dan kini aku tau ternyata ada tiga orang selain aku yang berada di ruangan yang aku yakini ruangan ini bagian dari rumah sakit.

Aku teringat akan semua kejadian yang menimpaku. Tapi, satu yang jadi pertanyaanku. Siapa yang membawaku sampai ke tempat ini.

“Kak, kalau boleh tau, siapa yang membawaku ke rumah sakit??….” tanyaku ke kak Ferry yang sedang menyiapkan tempat tidur dorong yang akan di gunakan untuk membawaku ke ruang perawatan.

“Pacar kamu sama teman kamu cowok. Tapi yang cowok sepertinya sudah pulang tadi, ada kerjaan katanya….” jawab kak Ferry.

“Pacar!!…..” gumamku lirih yang sepertinya di dengar kak Ferry yang berdiri di sampingku.

Dengan sedikit mengerutkan dahinya, kak Ferry menatap ke arahku. “Tuh si Hanna anaknya Pak Sukoco, pacar kamu kan??….” tanya kak Ferry.

“Eh, Hanna!!….” semakin aku bingung dengan situasi saat ini.

“Sudah, gak usah banyak mikir!!….” ucap kak Ferry, dan dengan di bantu dua orang temannya, kak Ferry memindahkan aku ke tempat tidur dorong.

“Pacar kamu tuh baik dan perhatian banget ke kamu. Nih kamu sudah di siapkan ruang rawat VIP sama tuh pacar kamu….” ucap kak Ferry, namun aku tidak mempedulikan ucapannya. Aku masih bertanya-tanya dalam hati, kenapa Hanna bisa sampai tempat ini, dan bagaimana dia bisa tau keberadaanku di gudang??…. Setauku cuma Gading yang saat itu menemukanku dan berbicara sesuatu padaku.

Selesai merapikan yang perlu di rapikan, tempat tidurku di dorong kak Ferry dan salah satu temannya, sedangkan satu temannya lagi bersiap membukakan pintu keluar ruangan ini.

Sesaat setelah pintu ruangan terbuka, aku mendengar suara ribut-ribut di depan pintu keluar ruangan ini.

“Buat apa kamu peduli sama cowok yang tidak jelas masa depannya, mending sekarang kamu pulang!!….” suara lantang seorang lelaki terdengar jelas olehku.

“Papa kenapa bilang seperti itu, kak Ian tuh baik, dan Hanna yakin kak Ian tuh bisa lebih baik kedepannya….” sebuah suara kembali aku dengar.

“Hanna….!!!” ucapku lirih. “Kak, bisa dipercepat kita keluar??….” pintaku ke kak Ferry.

Tepat ketika aku keluar dari sebuah ruangan di mana tadi aku di rawat. Seorang lelaki memandang sinis padaku.

“Panjang umur kamu, baru juga saya mau ke dalam dan membuat perhitungam denganmu, kamu justru muncul di tempat ini!!….” dengan nada suara meninggi, lelaki yang aku kenali seorang bernama Bapak Sukoco, atau dialah orang tua Hanna, dia langsung menghardikku.

“Pah, cukup!!….” tegur Hanna.

“Sudah kamu diam!!…. ini urusan Papa, dan kamu Mah, jagain tuh anak kita….!!” dengan emosi yang meluap-luap, Pak Sukoco berbicara ke anak dan istrinya.

Seketika suasana menjadi tegang, kak Ferry masih diam tanpa membuka penutup mukanya. Sedangkan aku, akupun juga ikut diam, menunggu apa yang akak Pak Sukoco ucapkan padaku.

“Kamu butuh uang berapa??….. Kamu bilang saja, dan setelah itu kamu jangan muncul lagi di kehidupan anak saya. Orang miskin sepertimu tidak cocok berdekatan dengan anak saya….” ucap Pak Sukoco.

Sedikitpun aku tidak merasa terhina dengan ucapan Pak Sukoco, karena semua ucapannya benar adanya. Aku memang orang miskin. Namun, sepertinya kak Ferry yang justru mulai naik emosinya. Telingaku begitu jelas mendengar nafas kak Ferry yang semakin memburu karena emosi.

“Ma’af Pak, saya tidak membutuhkan uang Bapak…..” dengan suara pelanku aku berucap ke Pak Sukoco.

“Sombong sekali kamu. Sudah miskin sombong, dasar sampah masyarakat!!…..” sindir Pak Sukoco padaku dengan suara lantangnya.

Emosi, sejujurnya aku memang emosi. Namun, aku masih bisa menahan itu.

Berbeda denganku yang masih bisa menahan emosi, kak Ferry dengan kesal membuka maskernya dan bergerak ke arah Pak Sukoco.

Tentu Pak Sukoco sangat mengenal siapa Kak Ferry. Menantu anak pertama seorang Julian Budi Hartanto. Tentu semua orang di tempat ini mengenalinya.

Kak Ferry berdiri menatap Pak Sukoco yang terlihat gentar berdiri di depan Kak Ferry.

“Ma’af Mas Ferry, saya tidak ada urusan dengan anda. Tapi, urusan saya dengan sampah masarakat ini…..” Pak Sukoco menunjukkan jari telunjuknya tepat ke arah mukaku.

“Bapak bisa tidak kalau gak menghina orang yang Bapak sendiri belum mengenalnya??….” ucap kak Ferry bertanya ke Pak Sukoco.

“Ma’af sebelumnya Mas, saya sudah sangat mengenal pemuda ini. Dia cuma anak seorang pembantu, dan selalu menjadi benalu di kehidupan anak saya!!…..” dengan tegas pertanyaan kak Ferry di jawab Pak Sukoco.

Kak Ferry tidak melanjutkan ucapannya, dia justru membalikkan badan, dan menatapku penuh kemenangan. “Mampus….!!” ucap lirih kak Ferry padaku.

Aku cuma nyengir melihat tingkah kak Ferry, dan aku juga baru tersadar, ternyata dari tadi mereka sudah berdiri di sana dan tak satupun dari keluarga Pak Sukoco menyadari keberadaan mereka.

“Heee kamu, ini terakhir kali saya katakan ke kamu. Setelah semua ini, kamu harus jauhin Hanna. Kalau sampai kamu masih ada hubungan dengan anak saya, kamu bakal menyesal….!!!”

“KAMU YANG AKAN AKU BIKIN MENYESAL SUKOCO!!…..” suara lantang seorang lelaki yang masih terlihat gagah di usia senjanya, membuat Pak Sukoco seketika terdiam.

Semua kembali hening, yang terdengar hanya suara beberapa langkah kaki yang berjalan mendekat ke arahku.

Dengan sangat jelas, aku dapat melihat tubuh Pak Sukoco bergetar, dan perlahan membalikkan badannya ke arah lelaki yang tadi membentaknya.

“B.Bapak Julian….!!” dengan bibir bergetar, Pak Sukoco menyebut nama kakekku yang telah berdiri di depannya.

“Kamu mengenalku, tapi kenapa kamu sedikitpun tidak mengenal cucu kesayanganku??…. justru kamu malah menghinanya” hardik kakek dengan nada kesalnya.

“Cucu Bapak!!…. saya mengenal cucu Bapak, dokter Ferry ini cucu Bapak….” ucap Pak Sukoco.

“Ohhh, ma’af sepertinya Bapak salah mengerti, saya tidak sedikitpun menghina cucu Bapak, dari tadi yang saya marahin tuh si itu, pemuda yang lagi tiduran di tempat tidur….” lanjut Pak Sukoco.

“Drama….” ucapku begitu lirih, yang aku yakin cuma kak Ferry yang mendengarnya. Karena cuma dia yang tersenyum geli mendengar ucapanku.

“Kamu melihat berapa orang cucuku di tempat ini??….” ucap kakek Julian.

“Jelas saya melihat dua Pak, Mbak Herra dan Mas Ferry kan cucu Bapak….”

“Kalau aku bilang di sini ada tiga cucuku apa kamu percaya??….”

“Hahahaha….. Bisa saja Bapak bercandanya, jelas-jelas cucu Bapak cuma….,-

“Kek bisa cepat ngobrolnya, aku tuh lagi sakit!!…..” ucapku memotong ucapan Pak Sukoco.

Seketika tawa sombong Pak Sukoco menghilang, matanya melotot memandang ke arahku dan sedetik kemudian berganti menatap kakekku.

“Fer dan kamu Her, sana antar adik kamu ke ruang rawat khusus keluarga kita. Biar di sini kakek dan Nenek yang urus….” ucap kakek Julian.

“Emang ada kak ruang rawat khusus keluarga kita di rumah sakit ini??….” dengan heran aku bertanya ke kak Ferry.

“Rumah sakit ini milik kakek, dan ruangan itu sengaja kakek dan kakak siapin buat anggota keluarga yang sakit….” jawab kak Ferry.

“Oooo….” ucapku, dan kembali aku menatap ke arah Pak Sukoco yang kini terlihat seperti robot yang habis batreinya. Dia cuma diam tak berkata maupun bergerak. Begitu juga dengan Istri Pak Sukoco, yang saat aku lihat dia juga diam membisu.

“Hanna…!!” ucapku lirih.

Berbeda dengan kedua orang tuanya, Hanna justru tersenyum dan tampak tidak mempedulikan kedua orang tuanya. “Duh Han, jangan senyum seperti itu!!…. Aku takut ada semut yang menggigit kamu, karena senyum kamu lebih manis daripada gula….” ucapku dalam hati.

“Ehm..ehm….dasar playboy cap curut, ceweknya dimana-mna ada!!….” suara kak Herra yang membuyarkan lamunanku.

“Sudah, sono lo panggil!!…. Masak pangerannya gak di dampingi permaisurinya, hihihihi….” terdengar tawa cekikikan kak Herra.

Sedikit aku menarik nafaa dan mengeluarkan perlahan. “Han, sini!!….” panggilku ke Hanna.

Ibu Hanna yang sedari tadi memegangi lengan putrinya dengan erat. Kini justru melepasnya dengan begitu gampangnya saat Hanna melepas pegangan tangannya, dan kemudian dia berjalan ke arahku.

Tanpa banyak bicara, aku meninggalkan kedua orang tua Hanna yang sepertinya akan dapat hadiah dari kakek dan nenekku.

“Kakak heran ama elo dek, setiap berurusan ama cewek, kenapa selalu bonyok??…. bahkan sampai separah ini….” ucap kak Herra yang kini membantu kak Ferry mendorong tempat tidurku ke ruangan yang tadi di maksut kakek, sedangkan Hanna ada berjalan di sisi yang berbeda, namun tetap di sampingku.

“Tapi, ini bukan karena Hanna loh kak, dia gak tau apa-apa soal kejadian ini. Jadi kakak jangan nanya macem-macem ke Hanna!!….” ucapku.

“Cie…cie…. Langsung di tamengin nih pacarnya. Iya, iya, kakak gak akan nanya ke pacar lo yang cantik ini. Lagian gue udah minta si Jimmy tuh buat ngurus masalah ini….” ucap kak Herra.

“Eh, lah kenapa kak Herra minta bantuan tuh orang??…. Hayo, kak Herra sudah ngomongin apa saja ke Bang Jimmy??….”

“Semua sudah gue omongin sama abang lo tuh, semula dia kaget setelah tau elo masuk rumah sakit, dan dia makin kaget saat tau kalao elo tuh adik gue….” jawab Kak Herra.

“Ngalamat bakalan di tanya A sampai Z nih gue ama tuh orang Kak, hmmmm…..”

“Hihihihi, biar semua tau dek, oh iya, sampai lupa. Tuh abang elo baru besok bisa kesini. Katanya masih ada urusan mendadak…” ucap kak Herra.

“Sudah, nih masuk dulu!!…. Ngobrolnya lanjut di dalam saja….” tegur kak Ferry.

Sebuah ruang rawat yang mirip hotel bintang lima kini aku tempati. Tv LED cukup besar menempel di dinding ruangan ini. Kulkas mini di dekat tempat tidur dan sebuah dapur kecil melengkapi ruangan ini.

“Hanna, kamu jangan malu-malu gitu, sini temanin pacar kamu…!!….” kak Ferry memanggil Hanna yang dari tadi cuma diam tak bersuara.

“Luka kamu gak ada yang serius dek, tapi ini luka di kepala kamu butuh beberapa hari buat sembuhnya….” ucap kak Ferry yang menata semua yang harus dia lakukan.

“Mas, terimakasih ya, kamu sudah merawat adikku ini. Untung juga tadi kamu hubungin keluarga di rumah, jadi kita bisa cepat-cepat datang kemari….” ucap kak Herra.

“Apaan sih kamu tuh dek, kan si Ian adek Mas juga, dan merawat dia tuh juga kewajiban Mas sebagai seorang dokter….”

“Ih Mas bisa saja jawabnya, jadi makin sayang..” tanpa rasa malu, kak Herra memeluk suaminya.

“Ehm…ehm…sono keluar kalau mau mesra-mesraan, gak punya malu nih ada dua orang nih yang lihatin kalian…” ucapku.

“Ye, sini udah sah kali. Situ bilang aja ngiri, tuh Han lo peluk si Ian, mupeng tuh orangnya!!….” canda Kak Herra.

Hanna yang menjadi korban bercandaan kak Herra, hanya bisa nunduk dengan wajah merona merahnya.

“Hus kamu tuh Her!!….” tegur kak Ferry. “Han, kamu temanin si Ian dulu ya!!… kakak sama kak Herra mau keluar sebentar beli makanan….” lanjut kak Ferry.

“Ingat, jangan macam-macam kalau berduaan….” masih sempatnya kak Herra bercanda sebelum keluar dari ruanganku.

“Kenapa masih di situ, sini Han!!….” panggilku ke Hanna yang masih berdiri mematung tak jauh dari tempatku berbaring.

“Kamu kenapa??….” tanyaku ke Hanna yang kini duduk di kursi samping ranjangku.

“Ma’afin Papaku ya kak??…. Aku tau Papaku tadi sudah keterlaluan….” ucap Hanna.

“Aku sudah ma’afin Han, dan aki cuma anggap tadi tuh hanya kesalah pahaman saja….” jawabku, dan aku tersenyum ke arahnya.

“Terimakasih kak. Kak Ian memang baik, dan beruntungnya aku bisa dekat dengan kak Ian….” selesai berucap, Hanna bangkit dan membungkukkan badannya, hingga wajahnya tepat berada di depan wajahku.

“Han kamu mau ngapain??….”

“Aku sangat kawatir saat lihat keadaan kakak tadi, dan kini aku senang ternyata kakak baik-baik saja….. Aku tuh sayang sama kakak, aku gak ingin kakak terluka lagi!!….”

“Sejujurnya aku tuh juga sayang sama kamu Han. Tapi, jujur aku juha masih takut untuk menjalin suatu hubungan, kamu tau kan masa laluku??….” tanyaku ke Hanna.

“Iya, Hanna tau kak, karena wanita itu kan??….” ucap Hanna berbalik bartanya padaku.

Hanya anggukan kepala yang aku berikan untuk menjawab pertanyaan Hanna.

“Kak, malam ini tepat pergantian taun, dan malam ini Hanna ulang tahun. Boleh gak Hanna minta satu kado ke kak Ian??….”

“Eh, ulang tahun!!….” ucapku dengan keterkejutanku. “Ma’af Han, aku beneran gak tau!!…. Selamat ulang tauh Han, ehmm….kamu minta hadiah apa??….” ucapku ke Hanna.

Tanpa menjawab, Hanna dengan cepat menurunkan wajahnya dan mendaratkan ciuman ke bibirku.

Bukan cuma ciuman, Hanna kiki melumat bibirku. “mmmfffmmm…” entah kenapa, bukannya menolak, aku justru membalas ciuman Hanna.

“Ck..ck…ck…. Belum juga lima menit di tinggal, sudah gitu ya kalian!!…..”

Ciuman kami terlepas, Hanna melotot memandang ke arah pintu masuk, sedangkan aku hanya tersenyum memandang ke arah yang sama dengan Hanna.

“Dasar pengganggu…!!!”

Pov Gading

Di tempat yang lain, dalam waktu hampir bersamaan.

“Di sini kalian rupanya!!…. Kalian udah bikin sahabat gue babak belur sampai masuk rumah sakit. Kini gue balas lo semua….” ucapku lirih saat melihat Daniel dan kawan-kawannya berkumpul di suatu tempat yang mirip sebuah basecamp.

Aku tau tempat ini setelah mengorek informasi dari beberapa teman SMAku.

Sebenarnya aku sudah lama tidak terlibat kegiatan adu fisik. Sejak Ibuku sakit, aku lebih fokus kerja dan cari uang untuk membantu mencukupi kebutuhan keluargaku. Kalau ngandelin kerjaan Ayahku yang hanya buruh bangunan, gak akan terpenuhi semua kebutuhan keluargaku.

“Ma’afin anakmu ini ya Bu, malam ini demi seorang teman baruku yang begitu baik, anakmu ini kembali bikin onar..!!….”

Setelah merasa sekitarku aman, perlahan aku berjalan menuju basecamp Daniel.

Baru beberapa langkah berjalan, beberapa orang sudah terlebih dahulu mendatangi basecamp Daniel, dan tanpa bertanya mereka langsung menghajar Daniel dan kawan-kawannya dengan brutal.

Aku yang melihat dari kejauhan saja, terasa ngilu seluruh badan melihat kejadian di depanku.

Tak butuh waktu lama, Daniel dan kawan-kawannya sudah terkapar tak berdaya. Dengan jelas aku melihat luka yang paling parah di derita Daniel. Darah segar mengalir dari hudung dan mulutnya.

Takut aku jadi sasaran selanjutnya oleh orang-orang itu, aku segera mencari tempat bersembunyi yang terdekat dari basecamp Daniel.

Dibalik semak-semak yang tak jauh dari basecamp Daniel aku bersembunyi. Suasana sekitar yang gelap sepertinya membuatku aman bersembunyi di tempat ini.

Aku masih melihat sekitaranku. Delapan orang berbaju hitam yang tadi menghajar Daniel dan kawanannya dengan membabi buta, mereka masih berdiri menatap lima cecunguk yang sudah tidak berdaya di hadapan mereka. Tapi, kalau aku lihat-lihat, sepertinya Daniel dan kawan-kawannya mereka masih sadar.

Tak lama, sebuah mobil range rover berhenti tepat di depan basecamp. Seorang lelaki dengan pakaian yang begitu rapi, keluar dari mobil dan berjalan ke arah delapan orang tadi.

Meski aku sembunyi, samar-samar aku masih bisa mendengar obrolan beberapa orang di basecamp Daniel.

“Dengar baik-baik buat kalin berlima, sekali lagi kalian nyentuh si Ian, gue bakal bikin kalian menyesal seumur hidup!!….” suara lantang lelaki yang baru saja datang membuat suasana semakin tegang.

“Kenapa tuh orang kenal Ian, dan kenapa juga tuh orang terlihat begitu marah sama kawanannya Daniel??….” gumamku lirih.

Selesai berbicara, lelaki tadi berdiri tegak dan mengamati wilayah sekitaran basecamp, dia seperti sedang mencari sesuatu.

Alangkah terkejutnya aku saat mata lelaki itu memandang ke arahku, seolah dia mengetahui keberadaanku.

“Bahaya..!!…” aku segera bangkit dari tempatku bersembunyi dan secepatnya berlari menjauh dari lokasi basecamp Daniel.

“Ian, Ian, lo tuh sebenarnya siapa sih??…. Kemarin seorang dokter mengaku kakak elo, ya meski dia juga bilang kalau dia tuh kakak lo dari paman elo, tapi setidaknya elo tuh terlihat jelas bukan orang dari kalangan rendahan. Apalagi tuh barusan, orang itu kelihatan marah banget sama Daniel karena ulahnya ke elo. Gue harus tau siapa elo…..” ucapku sepanjang jalan menuju rumahku.

Bersambung

END – Putaran Kehidupanku Part 10 | Putaran Kehidupanku Part 10 – END

(Putaran Kehidupanku Part 9)Sebelumnya | Selanjutnya(Putaran Kehidupanku Part 11)