Putaran Kehidupanku Part 1

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5Part 6Part 7Part 8
Part 9Part 10Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15Part 16
Part 17Part 18Part 19

Putaran Kehidupanku Part 1

Start Putaran Kehidupanku Part 1 | Putaran Kehidupanku Part 1 Start

CHAPTER I​

“He orang miskin, jangan duduk di sini, sono lu pergi jauh-jauh, bikin pelanggan gue jijik aja lo tuh ya…..” bentak seorang wanita, dan sebuah botol plastik kosong di lemparkan ke arahku.

“Sombong amat nih cewek, cuma pekerja yang bergaji tak sampai satu juta sebulan saja sombongnya sudah selangit, apa lagi nih orang jadi bos, gak bisa bayangin gimana sombongnya nih cewek….” keluhku dalam hati seraya berjalan menjauh meninggalkan emperan toko baju yang tadi sejenak kujadikan tempat istirahatku di siang yang begitu panas ini.

Kalau aku pikir-pikir, sebenarnya cewek tadi ada benarnya juga, orang-orang di sana pasti jijik dengan penampilanku yang mirip kerbau ini, baju lusuh penuh kotoran, wajahku pun tak luput dari debu dan minyak, dan bau tubuhku pun sudah mirip bau kotoran rumah tangga.

Siapa juga yang sebenarnya menginginkan hidup seperti ini, menjadi pengais sampah di kota ini. Setiap hari bergumul dengan sampah dan kotoran, bau sampah yang menyengatpun sudah seperti parfum yang kunikmati baunya.

Hinaan dan cacian seperti tadi, sudah jadi makananku tiap hari. Apa aku gak pernah di puji orang??….pujian mungkin hanya mitos bagiku, bahkan hanya untuk sekedar mengenalku saja sepertinya tak ada yang mau, yaa meski sebenarnya aku juga punya nama kalau ada yang menanyakannya.

Tubuhku sepertinya sudah tak tahan lagi dengan hawa panas siang ini, aku memutuskan pulang sejenak ke rumahku, rumah yang sudah tiga tahun ini kuhuni sendiri. Ibuku tiga tahun yang lalu sudah meninggal, sedangkan Ayahku, sejak aku lahir, sekalipun aku tak pernah melihatnya, atau sepertinya aku ini memang tak punya Ayah, karena Ibuku pernah bilang kalau dia belum pernah menikah. Apa aku anak haram??….“tak ada seorang anak yang terlahir dengan dosa atau di cap anak haram, melainkan hubungan orang tuanya lah yang haram dan penuh dosa…” itu jawaban Ibuku saat aku tanya apa aku ini anak haram.

“Andrian Julian Lee…” Ibuku yang masih berdarah Cina memberikan nama itu padaku sejak aku lahir, tapi tak pernah ada yang tau nama itu, nama “Ian” lah yang akan kuberikan jika ada orang yang bertanya namaku.

Mungkin aku ini Cina yang nggak beruntung, banyak orang keturunan Cina yang sukses, sedangkan aku seperti ini. Sebenarnya wajahku juga tak seburuk nasibku, kulitku pun tak segelap masa depanku. Wajah khas orang Cina dan kulit cerah masih kumiliki, bahkan rambutku sejak lahir berwarna kecoklatan. Tapi semua itu selalu aku tutupi dengan pakaian dan topi yang sehari hari aku gunakan, entah kenapa aku kurang pede jika orang-orang melihat penampilan asliku.

Setelah habis dua botol air mineral yang tadi sempat aku beli, dan kelihatannya mendung hitam telah menjadi payung bagi sang surya sehingga panasnya sudah tak terasa lagi. Aku segera membawa gerobak penuh barang bekas ke tempat pengepul. Dengan buru-buru aku berjalan menyebrangi jalan yang kelihataannya sepi, namun naas bagiku…..

“Ciiiittttttt……….” bunyi rem mobil. Sebuah mobil sedan mewah hampir saja menabrakku, tapi untung tuh mobil berhenti beberapa centi di sampingku. “Hahhh….hampir saja….” batinku.

Seseorang keluar dari mobil, aku berjalan ke tepian jalan, dan orang yang keluar dari mobil tadi menghampiriku.

“Mas tidak apa-apa??…” tanya lelaki yang sepertinya dia itu sopir orang yang masih di mobil itu, terlihat dari pakaian yang di kenakannya mirip pakaian sopir yang ada di sinetron-sinetron.

“Gak apa-apa kok Mas, cuma agak kaget aja tadi…” jawabku.

“Ma’af ya Mas, tadi saya ngebut, soalnya tuh si bos lagi buru-buru….” jelasnya padaku.

“Tuh benarkan dia sopir….” batinku. “Ya sudah, Masnya lanjutin perjalanannya, dari pada itu bosnya marah-marah lagi sama Masnya!!….” kataku.

“Iya Mas, sekali lagi saya minta ma’af Mas…..” katanya seraya kembali ke mobil untuk melanjutkan perjalanannya.

Sepintas tadi kulihat Bos lelaki itu, saat sopirnya keluar meminta ma’af padaku, dia justru sibuk dengan hidupnya sendiri, tak sedikitpun peduli dengan orang-orang di sekitarnya. “Dasar orang kaya sombong, cuma peduli sama hidupnya sendiri….” gumamku lirih.

Kembali aku lanjutkan perjalananku menuju tempat pengepul. Sesampainya di sana, semua barang-barang hasil mulungku hari ini di timbang, dari kardus, beberapa potong besi berkarat dan juga botol-botol plastik yang aku kumpulkan hari ini, uang 50ribu akhirnya masuk ke dalam saku celana rombengku. “Uang 50ribu ini sepertinya cukup buat makanku selama dua hari, jadi besok cari uang lagi untuk aku tabung…” kataku dengan perasaan senang.

Mungkin, karena saking senangnya, aku sedikit kurang hati-hati saat berjalan. “Brughhh….” aku menabrak seseorang sampai jatuh. Bukan-bukan, bukan seseorang yang aku tabrak, aku menabrak karunia Tuhan, eh bukan karunia tapi Nia, ehh…. Mbak Nia.

“Ma’af Mbak, gak sengaja aku tadi…” kataku seraya membantu Mbak Nia bangun.

“Sakit tau Ian!!…. Kenapa sih kamu tuh jalannya gak hati-hati??….” ucap Mbak Nia yang sepertinya menahan sakit di lengan tangannya.

Ingin aku memegang tangannya dan melihat lukanya, tapi aku sadar dia tuh istri bos pemilik tempat aku stor barang tadi, Mbak Nia ini istri kedua Haji Sodik, pemilik tempat pengepul sampah siap daur ulang. Sedangkankan istri pertamanya Haji Sodik yang lebih tua dari Mbak Nia, biasanya ku panggil Bu Hajah Nimas.

“Sekali lagi ma’af Mbak, beneran tadi gak sengaja…”

“Ya sudah, lain kali hati-hati. Tuh topi kamu jatuh….” ucapnya dan salah satu jari telunjuknya menunjuk topiku yang terjatuh.

“Eh iya Mbak, terima kasih….” segera kuambil topiku yang jatuh dan kembali memakainya.

“Ada uang tuh di tabung Ian, pakek acara rambut di cat segala….” kata Mbak Nia.

“Ini asli kok Mbak, dari dulu juga gini warnanya, dari lahir malahan….” jawabku jujur.

“Benarkah??…ternyata setelah aku perhatiin kamu tuh orangnya ehmmm….” ucapnya tertahan.

“Kenapa aku Mbak??….” tanyaku penasaran.

“Eh bukan apa-apa, sudahlah, aku ke tempat penimbangan dulu. Kamu hati-hati dan jangan jalan seperti tadi…” sedikit pesan Mbak Nia sebelum ia melanjutkan langkah kakinya.

“Aneh kamu Mbak…” batinku. Mungkin di antara beribu wanita yang pernah bertemu denganku, kamu cuma diantara dua wanita setelah Ibuku yang tak jijik denganku. “Wanita muda, sudah bersuami, tergolong orang kaya, tapi tak sedikitpun sikap sombong terlihat dari Mbak Nia, tapi sepertinya semua keluarga Haji Sodik tak ada yang sombong, semuanya baik…” ucapku saat berjalan menuju rumahku.

Mandi dan membersihkan badanku adalah hal pertama yang aku lakukan setelah sampai dirumah, mencuci pakaian kotorku juga tak kulewatkan setelah tubuhku bersih. Dengan mengenakan kaos oblong dan celana pendek yang warnanya sudah mulai pudar, aku keluar rumah dan berjalan menuju penjual gado-gado langgananku yang jualan di ujung gang tempat tinggalku.

Di temani tangisan langit yang berlahan membasai bumi, aku berjalan selangkah demi selangkah ke tujuanku.

“Kok hujan-hujanan to dek!!….” sapa seorang wanita dan tanpa meminta persetujuanku dia memayungkan payung besar yang di gunakannya di atas kepalaku.

“Eh Bu Hajah, kok repot-repot mayungin Bu, dah biasa kehujanan juga kok Bu, jadi gerimis gini sih sangat biasa Bu….” sedikit kagetku saat aku tau pemilik suara tadi ternyata Bu Hajah Nimas.

“Biasa ya biasa, tapi kalau sudah sakit repot kan nanti. Apa lagi kamu tuh tinggal sendirian….” ucapnya. “Kamu mau kemana??….” imbuhnya.

“Itu Bu, mau beli gado-gado di ujung gang…” jawabku.

“Oalah, ya sudah ikut Ibu saja, Ibu juga mau kesana, lagi malas masak di rumah, hihihihihi…..” sedikit tawa terdengar dari bibir tipis Bu Nimas.

“Dasarnya orang jawa, sekian lama tinggal di kota, jawanya juga gak bakal hilang sepertinya….” batinku. Bu Nimas yang aku kira usianya sudah kepala tiga memang asli jawa, tapi sikap anggun dan lembutnya masih dapat kulihat sampai saat ini.

Satu porsi gado-gado sudah tersaji di hadapanku, sedangkan Bu Nimas sudah balik beberapa waktu yang lalu setelah semua gado-gado pesanannya selesai di bungkus. Sebelum pulang, Bu Nimas sempat menawariku tumbangan pulang dan menyuruhku membungkus saja gado-gadoku, karena menurutnya hujan siang ini akan semakin deras. Tapi karena aku males bungkus, aku tolak tawaran Bu Nimas, dan benar juga sekarang setelah aku selesai makan, hujan yang cukup deras turun dari langit dan membuat basah seluruh bumi di hadapanku.

Sedang enak-enak duduk di tenda penjual gado-gado sambil menunggu hujan reda, tiba-tiba sebuah mobil range rover berhenti tepat di depanku. Aku gak tau siapa pengendara mobilnya karena tertutup kaca mobil yang gelap.

“Hei cina gagal!!…..” sapa pemilik mobil seraya menurunkan kaca jendela mobilnya. Sebuah sapaan yang sudah bertahun-tahun tak pernah lagi kudengar, kini kudengar lagi. Pengendara mobil di depanku ternyata sahabat lamaku, Jimmy Lee. Nama akhirnya memang sama denganku, tapi nasib ku dengannya bagai bumi dan langit, dia orang kaya, sedang aku orang miskin. Sebenarnya aku cukup kaget juga, dia dulu mau berteman denganku.

“Hei orang kaya bodoh….” sapaku balik dan segera aku bangkit dari duduk ku.

“Dasar bocah gila….” ucap Jimmy yang sudah keluar dari mobil.

Setelah empat tahun, inilah pertama kalinya aku bertemu lagi dengannya. Kami berpisah saat dia melanjutkan kuliahnya ke Amrik sedangkan aku masih kelas X SMA waktu itu. Bukannya aku bodoh, tapi Jimmy memang tiga tahun lebih tua dariku, dan dia selain sahabatku, dia juga sudah aku anggap seperti kakakku sendiri. Kebaikannya di masa lalu tak mungkin bisa aku membalasnya. Pernah aku bertanya padanya, “kenapa lo baik ke gue Bang Jim??….” aku kira saat itu dia akan menjawab karena kasihan denganku, tapi aku salah, dia justru menjawab, “gue tuh pengen punya adek sejak dulu, tapi lo tau kan Nyokap gue dah gak ada. Jadi lo tuh dah gue anggap adek sendiri. Jadi lo tuh jangan banyak nanya kenapa gue baik ama lo, karena tuh dah kewajiban gue sebagai kakak lo..” jawaban itu selalu ku ingat sampai sekarang.

“Buset dah nih bocah, dalem amat nglamunnya. Woe bangun napa!!…. tuh janda lo di curi orang….” bentak Bang Jimmy.

“Apaan elo tuh Bang, Sorry nih Bang, pangling gue liat penampilan lo sekarang, makin ok punya….”

“Ya lah, gak kayak lo, makin dekil aja gue tinggal beberapa tahun ini…”

“Gimana lagi Bang, namanya orang kismin, mau beli baju aja kudu puasa satu bulan penuh, baru kebeli tuh baju…” jawabku sedikit bercanda, tapi sebenarnya memang itu kenyataannya.

“Bisa aja lo tuh ya!!…. Dah yuk ikut gue, gue anter lo pulang. Tuh di mobil banyak oleh-oleh buat elo dan mami lo, dah sini cepet…” kata Bang Jimmy yang sudah berjalan ke arah mobilnya lagi.

Aku masih diam, aku masih bingung harus bilang apa padanya. Kedatangan Bang Jimmy sangatlah mendadak. Selama empat tahun ini aku memang terpisah dengannya, tapi komunikasiku dengannya tak pernah terputus, seminggu sekali dia pasti menghubungiku dan menanyakan kabarku dan Ibuku. Saat kematian Ibuku, dan kesusahan hidup yang aku alami sangat aku tutup rapat-rapat darinya. Aku tidak ingin membuat dia kawatir dengan semua keadaanku, aku sudah terlalu banyak merepotkan dia di masa lalu. Tapi, mungkin sekarang waktu yang tepat buatku jujur padanya.

“Gua lempar mobil juga lo ya!!!….dari tadi banyak diemnya….” teriak Bang Jimmy yang sudah di dalam mobil.

“Bisa anterin gue bentar gak Bang??….”

“Sok, ayuk mau gue anter kemana??….”

“Ikutin saja arah dari gue Bang, tar juga nyampek…” kataku seraya masuk ke dalam mobil bang Jimmy.

Hujan telah berganti menjadi grimis kecil, bias sinyar sang surya sudah kembali mulai terlihat. “Bang di depan belok kiri!!….” suruhku ke Bang Jimmy saat hampir sampai ke tempat tujuanku.

“Stop…stop…Bang, berhenti di sini saja!!….” ucapku.

“Lo mau apa di mari??….ini kuburan nyet, mau cari nomer togel lo ya??….” entah itu bercanda atau sindiran.

“Dahlah Bang, sini ikut gue!!….” ajak ku, dan segera aku keluar dari mobil.

Jalan setapak yang masih basah kupijak, setiap langkah kakiku bergerak bergantian menuju tempat yang aku tuju. Bang Jimmy masih setia mengikuti kemana aku mau mengarahkannya.

“Napa lo berhenti??….” tanya Bang Jimmy.

“Kita dah nyampek Bang. Tuh……” tunjukku ke arah sebuah makam yang selalu terlihat bersih dan terawat, karena aku selalu rajin membersihkan makam ini.

Bang Jimmy terduduk lemas melihat makam itu, makam yang selama beberapa tahun ini selalu aku sembunyikan darinya. Inilah makam Ibuku, makam orang yang sampai kapanpun akan selalu menjadi orang yang paling aku cintai.

“Ini beneran kan ian??….atau ini cuma makam kosong??….jangan bercanda lo tuh ya!!….”

“Apa gue kelihatan bercanda Bang??….ini beneran makam Ibu Bang….” jawabku seraya ikut terduduk di samping Bang Jimmy.

“Kenapa bisa sampai seperti ini Ian??….apa sebenarnya yang terjadi selama kepergian gue??….”

“Penyakit jantung Ibu kambuh Bang, dan gue kehabisan biaya waktu itu….” sedikit ceritaku.

“Kenapa lo gak hubungin gue??….bukannya gue dah bilang ke lo, kalau ada apa-apa bilang ke gue…” kata Bang Jimmy dengan tegasnya.

“Ma’af Bang, gue dah banyak ngrepotin dari dulu, karena itu waktu Ibu sakit gue gak berani bilang ke Bang Jimmy….”

“Lo tuh ya, gue tuh Abang lo, dan sudah berapa kali gue bilang ke lo, kalau lo tuh sedikitpun gak pernah ngrepotin gue…” lagi-lagi Bang Jimmy berbicara tegas padaku.

Aku hanya bisa tertunduk di hadapannya, tak lagi bisa aku mengucap kata padanya untuk saat ini.

“Sekarang lo ikut gue, kita ke rumah lo sekarang!!….gue curiga ada yang lo sembunyiin lagi dari gue, ngelihat penampilan lo saat ini, gue makin curiga kalau beneran ada yang lo sembunyiin lagi dari gue…”

Dengan langkah lemas aku turutin ajakan Bang Jimmy. Tak butuh waktu lama, aku dan Bang Jimmy sampai di rumahku.

“Mulai besok elo kerja ikut gue, dan gak ada penolakan lagi!!….” ucapan tegas Bang Jimmy padaku setelah dia tau semua yang aku sembunyikan darinya.

Tak bisa aku berkelah lagi, tak bisa aku menolak kemauannya. Saat ini aku hanya bisa diam di hadapannya.

“Astaga Ian, Ian, lo tuh punya Abang banyak duit, lo minta juga gue kasih, lo butuh kerjaan pasti gue cariin. Kenapa pakek acara menyiksa diri lo sendiri. Dah ya, nih bukan gue mau sombong ama lo, tapi lo tuh adik gue, gue gak bakalan ikhlas lo kerja mulung-mulung sampah, biarpun tuh pekerjaan khalal. Tuh gerobak tar biar gue buang, terus nih rumah ntar biar orang-orang gue beresin, dan buat lo, sekarang ikut gue. Sementara waktu lo tinggal di rumah gue, tuh Bokap gue dah kangen ama elo, dah berapa bulan lo gak nengok Bokap gue….”

Aku hanya bisa menganggukkan kepalaku sebagai jawaban perkataan Bang Jimmy barusan. Setelah melihat jawabanku, Bang Jimmy meninggalkanku sendirian di dalam rumah, dia berjalan keluar rumah dan seperti menelepon seseorang, tak berapa lama, dia kembali masuk ke dalam rumah.

“Yuk ikut gue!!….” ajak Bang Jimmy.

“Kemana Bang??….” tanyaku penasaran.

“Dah lo iku gue aja, tar lo juga tau kita kemana. Oh ya, ni rumah gak usah lo kunci, bentar lagi orang-orang suruhan gue bakal kemari buat ngeberesin rumah elo. Karena gue yakin elo gak bakalan mau lama-lama juga tinggal di rumah gue…”

Aku hanya nyengir saja mendengar ucapan Bang Jimmy yang masih ingat dengan kebiasaanku sejak dulu. Aku sejak dulu memang gak petnah bisa lama-lama meninggalkan rumahku ini.

“Cepat masuk mobil!!…..” teriak Bang Jimmy yang sudah menungguku di dalam mobil.

Setelah aku masuk, mobilpun berjalan mengikuti kemanapun keinginan Bang Jimmy. Jalanan kota yang padat sedikit menghambat perjalanan kami. Jam-jam segini memang padat-padatnya karena bertepatan dengan jam pulang kerja.

Hampir tiga jam setelah bermacet-macet ria, mobil bang Jimmy berhenti di depan sebuah salon.

“Yuk turun!!…..” ajak Bang Jimmy.

Aku segera turun dari mobil dan mengikuti langkah Bang Jimmy yang sudah agak jauh di depanku. Hawa dingin ruangan full AC langsung aku rasakan setelah masuk ke dalam ruangan Salon. Kulihat Bang Jimmy sedang asik ngobrol dengan seorang wanita, tapi sepertinya mereka sedang ngobrolin aku. Terlihat di sela obrolannya mereka sering melihat ke arahku.

Sambil menunggu Bang Jimmy, aku duduk di sebuah sofa yang tersedia di tempat ini. Sesekali kubuka-buka beberapa majalah di depanku, tapi semua membosankan, isin majalahnya tentang cewek semua.

“He Ian, tuh lo ikut Ibu itu!!….” perintah Bang Jimmy yang ternyata sudah berdiri di depanku.

Tanpa menjawab aku turuti perintah itu, sebagai adek yang baik kan memang harus nurut sama Abangnya, hehehehe…..

“Masnya silahkan ikut Mbak ini ke ruangan atas!!….” perintah seorang wanita yang tadi di panggil Ibu oleh Bang Jimmy.

Tadi di suruh kesini, sekarang kesono. Mau apa sebenarnya nih orang-orang di tempat ini??…. Mending aku nurut saja, males mikir juga.

Wanita berparas cantik dengan pakaian ehm… you can see, berjalan di depanku, ya iyalah di depanku kan aku mengikutinya. Kulihat dari wajahnya, wanita ini sepertinya seumuran denganku atau ya tuaan dia setahun dua tahun mungkin.

“Mas silahkan masuk, dan bersih-bersih dulu di kamar mandi, kalau sudah nanti Masnya silahkan manggil saya, saya tunggu di sini, dan ini pakaian ganti setelah Mas selesai bersih-bersih…” katanya seraya membukakan sebuah pintu kamar untuk ku.

Sebuah baju mirip baju tidur diberikan padaku. Dengan perasaan dan fikiranku yang belum mengerti dengan semua ini, aku turutin saja semua perintah wanita tadi, toh gak ada yang membuatku rugi.

Setelah masuk kamar, segera aku menuju kamar mandi. Kubuka semua baju, celana, beserta CD-ku. Kubasuh wajahku yang sebenarnya tidak kotor, setelahnya aku basuh tangan dan kakiku bergantian. Setelah semua kurasa beres, aku pakai pakaian yang tadi di berikan Mbaknya padaku. “Ini sih kimono, ini ada talinya di tengah buat ngiket nih baju…” ucapku ngasal.

“Mbak sudah….” panggilku ke wanita tadi yang ternyata beneran masih menungguku sampai selesai.

Dengan senyum manisnya, dia masuk ke dalam kamar berdua denganku. Setelah dia menutup pintu, aku seperti merasakan sesuatu akan terjadi.

“Mas silahkan berbaring di ranjang, biar saya pijat tubuh Mas-nya….” ucapnya begitu ramah padaku.

“Oalah, ini tadi ternyata mau mijit to…” batinku. “Oh iya Mbak….” jawabku.

Kuposisikan tubuhku senyaman mungkin di tempat tidur. Dengan posisi tengkurap, membuatku cukup nyaman.

Pijatan-pijatan si Mbaknya mulai kurasakan enaknya, biarpun wanita tapi pijatannya kuat banget, membuatku semakin nyaman dibuatnya.

Punggungku yang pegal-pegal mulai terasa enakan setelah dia pijat. Mungkin karena merasa begitu nyaman, rasa kantuk mulai menyerangku.

Entah berapa lama aku tadi memejamkan mataku, tapi tiba-tiba aku merasa ingin bangun karena merasa ada sesuatu yang memijit bagian sensitif di tubuhku.

“Mbak kok mijit di situ??….” ucapku saat melihat si Mbaknya mijit tepat di titik tersensitif di tubuhku.

“Tubuhnya Mas tadi yang tegang-tegang dan kaku kan sudah saya pijat sampai lemas, tapi yang ini kok tiap ku pijat bukannya lemas, tapi malah makin tegang….” ucapnya dengan memberi senyum genit padaku.

“Mbak sudah jangan di bagian itu!!….”

“Emangnya kenapa Mas??….” ucapnya.

“Nanti ada yang keluar….”

“Ohhh.keluarin saja Mas….” wanita itu justru semakin menggodaku. Tangannya yang sedari tadi mengurut-ngurut ringan, kini justru bergerak naik turun.

“Auhhh….Mbak sudah Mbak!!…..”

“Sudah apa Mas??….” sialan nih wanita malah makin menggodaku.

“Iiituu…Mbakkkaahhhhhh…..su.su.dddaahhhhh…….”

Bersambung

END – Putaran Kehidupanku Part 1 | Putaran Kehidupanku Part 1 – END

FIRST CHAPTER | Selanjutnya(Putaran Kehidupanku Part 2)