Pondok Pesantren Part 3

Part 1Part 2Part 3Part 4    

Pondok Pesantren Part 3

Start Pondok Pesantren Part 3 | Pondok Pesantren Part 3 Start

PART III

Balik ke waktu normal

Di pesantren putri ini terdiri dari 3 tingkatan. Santriwati junior, santriwati semi senior, dan santriwati senior.

Di sini juga ketika santriwati telah menyelesaikan studinya selama 3 tingkatan maka diwajibkan untuk mengabdi minimal 1th menjadi ustadzah.

Suasanya sore menjelang penutupan pendaftaran santriwati baru.

Pondok ini berdiri baru sekitar 10th, dan terbilang aneh untuk hal kurikulum pembelajaran nya.

Di pesantren ini memang minim sekali pria, paling hanya ustadz dari luar yang ditugaskan mengajar, petugas kebersihan pondok dan penjaga malam pondok yang ditugaskan oleh abah agus.

Para santri baru diseleksi oleh pihak ustadzah pondok, bagi yang bener bener belom mengetahui soal agama maka itulah yang diperkenankan masuk, tentu saja hal ini menjadi rahasia test masuk pondok.

*POV USTADZAH DEA

Perkenalkan namaku ustadzah dea, ini adalah tahun ke 5 aku mondok di pelosok kabupaten ponorogo, ntah apa yang membuat abi dan umi melemparku jauh dari bandung dan di damparkan di pelosok kabupaten ponorogo ini.

hal yang paling aku sukai di pondok ini adalah semua seakan tunduk dan patuh dengan abah kyai agus. Ya memang sudah kewajiban dimanapun untuk santri tunduk kepada titah (perintah) romo kyai.

Tapi ada yang beda dari titah abah dan bu nyai (sebutan untuk istri abah) dengan perintah dari kyai kyai di pondok yang lain.

Ya perintah itu adalah untuk memuaskan abah agus, pada awalnya kami pada santriwati menolak tapi setelah bertatap mata langsung dengan abah, kami langsung jatuh cinta terhadap beliau dan ingin memuliakan beliau.

*FLASHBACK TAHUN KE 2 USTADZAH DEA

Pagi di tahun kedua aku di pondok ini.. hoaaaaams rasanya masih capek semalam menyiapkan buku pelajaran buat pagi ini. Aku males masuk kelas hhihih.

“Deaaaaaaaaa buruaaaan mata pelajaran bu nyai looo” teriak teman teman satu asramaku dari luar.

Apaaaaaa oiya aku lupa pagi ini jam pertama pelajaran bu nyai, kok bisa lupa gini sih,

“Iyaaaa bentaaaaaar” jawabku sambil merapikan buku yang akan aku bawa ke kela.

Di pondok ini memang kebiasaan kami tidak memakai tas seperti sekolah pada umumnya kami hanya membawa buku yang diperlukan untuk jam pelajaran 1-3 dan ketika istirahat biasanya kami kembali ke asrama untuk mengambil buku mata pelajaran selanjutnya.

Oiya waktu santri junior kami tidak diperkenankan untuk melihat dan bertatap mata dengan abah kyai agus, ntah emang itulah peraturan di pondok ini, hehe aneh ya ? ya begitulah pasti di setiap pondok pesantren ada salah satu peraturan nyeleneh (aneh), jika bertemu abah, para santri junior wajib untuk menundukkan muka.

Hari ini pengalaman pertama diajar oleh bu nyai, deg deg an juga hehe, bu nyai adalah wanita paling di kagumi di pondok ini oleh para santriwati tentu setelah abah hihihi.

Perawakan bu nyai yang lemah lembut memberikan cinta kepada para santriwatinya dan paras yang polos menambah point kekaguman kami.

Yap sampailah di kelas, kelasku berisi 15 orang santriwati, maklum abah hanya membatasi santriwati baru berjumlah 150 orang tiap tahun nya, itu pun kalau di terima semua, dan mungkin ada yang gak betah trus pulang di tahun pertama. Jadi ya satu angkatan ku tiap kelas terdiri ya sekitar 15-20 orang.

Inilah teman sebangku ku. Dan juga se kamar ku, kita dijuluki perempuan paling taat dan paling cantik se angkatan. Hehe namanya LIA dan NINGRUM.

“selamat pagi, asssalamualaikum para santriwati ummi” kata bu nyai dalam pembukaan kelas kami pagi ini,

“selamat pagiiiiiiii bu nyaiii, waalaikum salam” jawabku dan teman teman sekelasku.

Pagi ini bu nyai mengajar mata pelajaran akhlak, dimana kita wajib memuliakan pemimpin termasuk abah mungkin ya maksud bu nyai hihihi, kan abah juga pemimpin pondok.

Akhinya kelas selesai, mata pelajaran selanjutnya adalah bersuci, tapi sebelum ustadz dari luar masuk ke dalam kelas kami, tiba tiba bu nyai menyuruh kami mengikutinya.

Bu nyai : nadea, lia, dan ningrum, bisa ikut ummi sebentar

Kami : injih (jawa: iya) bu nyai.

Kemudian kami pun mengikuti langkah bu nyai, ntah aku pun juga bertanya tanya kemana kami akan dibawa oleh bu nyai. Upps ternyata bu nyai membawa kami ke rumahnya. Pengalaman yang jarang di dapat dan sangat di inginkan oleh santriwati lain. Yaitu sowan (bertamu) ke pendiri pondok atau abah agus, kalau di pondok pondok lain bertamu ke pendiri pondok itu biasanya untuk “NGALAP BERKAH” . mungkin kami adalah yang terpilih untuk ngalap berkah romo kiai hehe

(ngalap berkah : meminta berkah)

Bu nyai : kalian tunggu disini sebentar ya, ummi masuk dulu, eh iya itu ada cemilan dari mesir gapapa di makan aja, kemaren ada wali santri yang bawakan.

Kami : baik bu nyai.

Setelah 5 menit masuk kedalam rumah kemudian bu nyai muncul kembali ke ruang tamu.

Bu nyai : nah sekarang ibu akan memberikan kalian ilmu tentang bagaimana ngalap barokah ke romo kyai Agus. Sebentar lagi abah agus akan keluar.

Gw : niki leres bu nyai (ini beneran bu nyai) ?

Bu nyai : iya dong, masa ummi bohong, ga baik bohong itu, hehe

Kami : alhamdulillaaaaaaaaaaaaaaah wkwk

Kemudian ketika kami ngobrol abah keluar dan langsung duduk di sebelah bu nyai, kami yang sebelumnya belum pernah ketemu abah, langsung menundukkan kepala menghindari kontak mata dengan abah, kebiasaan ketika masih menjadi santri junior, kan sekarang semi senior hehe.

Abah : oh ini santriwati pilihan ummi (panggilan abah ke nyai muna)

Bu nyai : iya bah, gimana. Pantas ngga menurut abah?

Abah : (sambil berbisik ke bu nyai) bagus sih body ketiganya, payudara mereka besar, itu sampai timbul bentuknya dari balik jilbab, ummi memang terbaik tau aja selera abah yang payudaranya besar hehe

Bu nyai : nadea, lia, dan ningrum sekarang angkat kepala kalian dan tatap mata romo kyai

Kami : baik bu nyai

Kemudian aku, kedua teman ku lia dan ningrum mengangkat kepala kami dan langsung melihat mata abah, ketika melihat mata abah langsung sperti kesetrum, aku merasa jatuh cinta sama abah agus. Ya ampuun perasaan apa ini, deg deg an tapi bahagiaaa.

Abah : yauda, kalian sekarang nurut apa kata ummi, abah mau masuk kedalam dulu, ummi, tolong ajari mereka dengan baik .

Bu nyai : siap abah (sambil cium tangan)

Ketika abah memberikan perintah seketika aku tidak punya hasrat untuk menolaknya. Apa ini dinamakan cinta. Aku seperti kerbau yang di cucuk hidungnya. Ya ampun inikah kharisma abah selama ini ?

Bu nyai : sekarang ummi mau tanya, apa kalian mau menuruti semua perintah ummi dan abah ?

Kami : nurut ummi

Lalu kemudian bu nyai berdiri dan menutup pintu rumah dan tirai jendelanya, apa yang akan ummi lakukan ya tanyaku dalam hati. Setelah menutup pintu dan gorden bu nyai duduk kembali.

Bu nyai : apa kalian tau cara memuliakan abah ?

Gw : dereng (belum) bu nyai

Bu nyai : cara memuliakan abah dan mendapat barokah nya adalah dengan memuaskan abah, kalian tau cara memuaskan abah ?

Kami : dereng (belum) bu nyai

Bu nyai : sekarang ummi akan kasih tau, letak barkah nya abah ada pada air mani beliau, Nah jika kalian ingin berkah romo kyai agus kalian harus bisa mendapatkan air mani beliau. kalian tau air mani kan?

Kami : sampun (sudah) bu nyai

Bu nyai : salah satu cara untuk mengelurkan penis adalah dengan berhubungan badan. Sebentar ummi ambil sesuatu dulu.

Apaaah kita berhubungan badan dengan romo kyai, dada ini kembang kempis, gak percaya dan bahagia. bagaimana tidak melihat romo kyai saja kami jatuh cinta apa lagi ini berhubungan badan dan mendapat berkahnya pula… gilllak gilaaak bener bener rezeki nomplok kataku dalam hati.

Tak lama kemudian umi kembali dengan membawa sebuah kotak.

Bu nyai : deaa. Sini nduk (nduk : nak untuk cewe) duduk dibawah ummi (posisi ummi di sofa dan dea disuruh duduk dilantai)

Gw : iya bu nyai (sambil melangkah ke arah bu nyai dan duduk di bawah beliau)

Bu nyai : (membuka kotak) nah santriwati ummi, ini adalah dildo, penis tiruan dengan ini ummi akan mengajari teknik dasar untuk memuaskan abah, coba dea pegang dan di emut seperti emut eskrim

Gw : gilaak ini penis tiruan abah gede juga (dalem hati) … sluuup sluuuup sluuupps suara air liur gw bergesekan dengan dildo. Sluup sluuup ooookh

Lalu kemudian bu nyai duduk mengangkan dan menyibakkan rok gamis nya ke atas

Bu nyai : kalau sudah basah, dea coba masukkan dildo itu ke memek ummi.

Gw : nyuwun sewu (mohon maap) bu nyai, bahasanya sedikit kasar

Bu nyai : gapapa, kalau kita sedang memuaskan junjungan kita kita harus berbicara kasar seperti itu.

Gw : oooooooh. Iya bu nyai. Mohon maaf (sambil ku masukkan dildo tersebut ke dalam memek bu nyai

Bu nyai : sssssttthh emmpppph deaaaa.. maju mundurin nak dildonya, yang kenceng ya. Emmmmhh sssstt uuugggh

Gw : iya bu nyai

Bu nyai : aaaccch acccch accccch terus teruuus acccch deaaa kamu santriwatiiiii accch terpintaarh ummiih accch terus nak teruusss… liaaaaah ningruuummhh kalian ambil posisiiih acccch di kanaaaan dan kiri ummmiiiiih acccch cepeeet

Lia, ningrum: baik ummi

Bu nyai : accch acccch lia buka kancing gamis ummi.. aaaach emmmh kemudiaaan sedoootsh accch payudara umiiiiih yang kanaaaan accch dan ningruuum ah ah yang kiri acccch emmm sttt terusss deaaa teruusss.

Gw : injeh bu nyai, ini sudah kenceng

Bu nyai : accccch sedotan kaliaaaanh accch accch terus sedot, gigit puting ummiiiih aaaaacch deaaaaaa kenceng nduuuk ,,, ach ach acccccccccccch ummiiii samppeeee makan nih deaa berkah dari ummii accch accch seeeeer seeeeer hos hos

Gw : makasiii bu nyai aaah berkah bu nyai salah satu yang dea harapkan selama jadi santri

Bu nyai : loh abah sejak kapan berdiri disitu !

Haaaahhh abaaaaah (kaget kami bersamaan)

Bersambung

END – Pondok Pesantren Part 3 | Pondok Pesantren Part 3 – END

(Pondok Pesantren Part 2)Sebelumnya | Selanjutnya(Pondok Pesantren Part 4)