Polwan S2 Part 9

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Tamat

Cerita Sex Dewasa Polwan S2 Part 9 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya : Cerita Sex Dewasa Polwan S2 Part 8

THE RIOT

Sore itu hingga malam, aku tertidur demikian lelap ditengah udara yang begitu pengap dan panas. Keberadaan teman-teman yang baik disekelilingku membuat suasana yang tidak enak dari luar itu jadi terasa nyaman. Memang benar kenyamanan dari dalam hati itu lebih baik daripada kenyamanan bikinan.

Menjelang Maghrib suara ledakan membuatku terbangun.

” Booom”, suara ruangan yang meledak serta merta membuatku terlonjak. Bu Mun telah berada disisiku untuk melindungi.

“Bu Sinta, di luar terjadi kerusuhan, ayo bangun”, dia membangunkanku.

” Apa yang terjadi Bu Mun??”.

” Seorang tahanan dianiyaya oleh sipir tadi sore dan itu berbuntut panjang. Lapas ini terlalu padat, masa mudah diprovokasi. Sekarang para napi mulai mengarahkan serangannya ke arah penjaga lapas dan sesama napi. Ayo Ibu Sinta bangun gak aman disini, Mereka yang sejak lama tidak senang dengan kami pasti akan segera menyerang”.

Kulihat sekeliling para tahanan sudah keluar semua dari selnya. Jumlah mereka begitu banyak. Beberapa diantara mereka sudah mulai membakari dan merusak benda-benda mudah terbakar yang tersebar begitu banyak di dalam penjara. Bau api yang menusuk mulai tercium.

Bersama Bu Mun dan rombongan, kami berlari menuju lorong penjara, beberapa titik lapas sudah berhasil ditembus oleh para tahanan. Para panjaga yang sial betul-betul dianiyaya habis-habisan oleh mereka. bersama Mun, jeny, Lidya, Anita dan teman-teman satu sel, aku berusaha menyelamatkan beberapa penjaga yang sedang dianiyaya. Tenaga Mun begitu besar dan dia ditakuti oleh para tahanan lain, sehingga aku dengan mudah menyelamatkan para sipir, dan membawa mereka untuk mengungisi ke tempat aman.

Beberapa titik lapas tapi telah porak poranda. Para tahanan mulai mampu merengsek masuk dan menyerang para sipir di sejumlah titik. Suasana menjadi demikian mengerikan. Tim anggota pengendali huru hara belum tiba di lokasi. Tampak di mataku api yang mulai menjalar dari ruangan samping. para tahanan telah berhasil membakar sayap ruangan.

Apa yang kami takutkan akhirnya datang. Dari belakang sekumpulan tahanan telah keluar dengan menggunakan senjata-senjata yang mampu dijarahnya dan bergerak menuju kami. Tampaknya inilah kelompok yang membenci Mun sekaligus sangat jijik dengan aparat.

” Awas Bu Sinta, mereka adalah penjahat yang tak punya belas kasih”, Mun berteriak memperingatkan ketika sekumpulan napi mulai menyerang kelompok kami.

Ditengah kepulan asap, tawuran antar tahanan meledak. Masing-masing blok tahanan mempunyai urusan dan dendam yang belum selesai. Mereka jelas punya masalah dengan kelompok Mun cs sehingga ingin menuntaskannya dalam serbuan yang mematikan.

Dengan pentungan, pisau, linggis, sampai kursi, 30 orang maju untuk meyerang kelompok Mun.

” Ini Bu ambil tongkat ini”, Mun melemparkan tongkat kepadaku.

” Terima kasih sudah memberi cerita yang sangat bagus Bu Sinta. Jeny jadi tau debu bisa jadi berarti”, Jeni tersenyum padaku sesaat sebelum maju dengan gagah berani menghadang para peneyerbu.

Aku masih berdiri paling belakang karena mereka semua berusaha maju untuk melindungiku. Tidak mau terlalu dilindungi, juga tidak ingin menggunakan senjata aku turut maju ke tengah medan pertempuran berjuang bersama teman-teman.

” Ya Tuhan tolonglah kami, lindungilah kami amin”, aku berdoa sesaat kemudian maju menyerbu.

” Mun telah membabat dua orang dengan tongkat yang dia pegang. Kekuatan lengannya begitu luar biasa. Jeny dengan bersenjatakan kursi juga telah membuat pingsan satu orang, sedangkan Anita tampak membantu Lidya yang tersudut karena dikeroyok oleh beberapa orang.

Melihat posisi Anita dan Lidya yang terjepit aku berlari ke arah mereka. Empat orang penyerbu, dua bersenjatakan pisau tajam berusaha membunuhnya. Aku melompat harimau sambil berguling tiga putaran kedepan menubruk seketika dua penyerbu bersenjatakan pisau. Saat terjatuh mereka berusaha menusukku. Tangannya yang lurus berusaha meraih perutku, segera kutangkis, dan kupelintir agar pisau lepas. Temannya yang berusaha menusuk terkejut saat tubuh penyerang pertama kujadikan tameng hidup. Pisaunya menancap ditubuh rekannya. Syok dia lengah dan langsung saja kubabat dengan sikuku hingga dia tersungkur.

Anita terjatuh dan hendak ditebas kepalanya oleh dua penyerang tersisa. Cepat kuambil pisau yang terjatuh dan melemparnya ke arah kaki si penyerang.

” Clleeep”, pisau yang kulempar melesat menancap paha. ” aaaaaaaaggggggghhhhh”, si penyerang meringis. Melihatnya menjerit Anita menghantam kepalanya dengan balok yang dia punya tepat di kepala. Penyerang malang terjatuh bersimbah darah. Lidya dan Anita selamat.

Para penyerang dari blok dua juga maju ingin menyerang kelompok kami. Rupanya para tahanan ini ingin memebela teman-temannya dengan menyerang kami. Mereka datang dari sudut yang persis berada di sebelahku. Berusaha meredam serbuan kuhadang 15 orang lagi yang baru datang.

” happppp”, kurentangkan tangan lurus. ” jdeeeegg”, tangan masuk ke jidat penyerang pertama dia langsung roboh.

Penyerang kedua bersenjatakan pisau, kuhantam rahimnya pake upper cut mencungkil. Penyerang ketiga kucolok matanya. Penyerang keempat kujambak rambutnya dan kubanting ke tembok. penyerang kelima kuhantam dengan kepala hidungnya patah. Penyerang keenam kusudutkan ditembok dan kuberikan pukulan hook kombinasi, ” tap…tap..tapp….tapppp…tappp”. Penyerang ketujuh, delapan, Sembilan, sepuluh, semua kutaklukkan dengan cara pukul, tunduk, hajar, elak, pukul, menyamping, berputar, jab…jab….jab…jabbbb….jabbbbb…pukulan kombinasi menjatuhkan satu persatu tubuh mereka.

” Jleeeebbbb”, suara kulit yang tertembus pisau terdengar di belakangku. ” Jennnyyyyy”, wajah Mun tampak begitu histeris melihat Jeny tertembus pisau perutnya karena berusaha melindunginya. Pemandangan Jenya yang berdarah-darah mendapat tusukan diperutnya menjadi pemandangan terburuk yang pernah kulihat.

” Uuuuuuhhhh” Jeny terkapar.

” Hiyaaaaaahhhhhhh”, Mun kalap dan menghajar setiap penyerang yang datang menghampirinya.

” haaaahhhhhh”, bukan hanya Mun, aku juga ikut emosional melihat sahabatku sendiri tertikam. Aku juga maju dengan kalap menghantam para penyerbu dengan tinju terkeras yang pernah aku berikan.

” Brugg…bletaakkk….breeeeeekkkk…..kreeeekk”, bunyi pukulanku yang terhambur dengan begitu kencang kepada para penyerbu.

” Tep” sepasang tangan mengunci bahuku. Rupanya datang lagi para penyerbu dari belakangku. Perhatianku yang rusak akibat emosi membuatku lengah. Lima orang mengeroyokku bersamaan. Tangan yang terkunci membuatku tak berdaya. Seseorang wanita bertampang sangar melangkah ke hadapanku dan langsung mendaratkan bogem mentahnya tiga kali ke wajah dan perutku.

” beg..begg..begggg”, rasanya hidungku mengeluarkan darah dihantam tinjunya. Pukulan yang mendarat di perutku juga membuatku tertunduk nyeri.

Si pemukul kemudian mencabut sebilah pisau dari balik bajunya. Dia bersiap menikamku.

” Bu Sinnnta jangggggaaaannn”, Mun berusaha menolongku tapi sebuah kaki menjegalnya dan dia terjatuh. Selepas Mun terjatuh enam orang maju mengeroyoknya dan memukulinya bagai binatang.

Tak ada lagi yang dapat menolongku kini. Kupejamkan mata menunggu datangnya saat-saat akhir dalam hidupku. Sebilah pisau siap mengiris daging tubuhku.

” Slllep”, bunyi tikaman datang. Tapi kenapa aku tidak merasa sakit??.

” Doorrrr”, bunyi ledakan begitu dekat meledak di depan wajahku.

Kubuka mata, seorang wanita berambut pendek telah berada di depanku untuk menjadi tameng hidup menghadapi tajamnya belati.

” Kkkoommannndann FFebbii”, aku terkejut melihat Febi memenuhi janjinya untuk kembali datang ke sel. tapi kenapa harus malam ini Komandan???di saat kondisi kacau dan mengerikan. Darah??? darah apa ini???. Ada darah mengalir dari pisau yang tertancap di perutnya kemudian terciprat ke bajuku. Rupanya tikaman itu mengenai Febi bertepatan dengan ledakan pistol yang menghantam penyerangnya.

” FEBBBIIIII”, aku berteriak histeris melihatnya bersimbah darah dan mulai duduk terduduk tak berdaya.

Entah mendapat tenaga dari mana. Bahuku mengangkat si penyerang yang masih memegang tubuhku dari belakang dan memebantingnya ke depan. Serta merta kuhajar dia dengan pukulan kombinasi terkeras yang pernah kulepaskan. Begitu dia pingsan segera kuberlari memeluk Febi yang masih terduduk tak berdaya.

Kupeluk dia dari samping. Pisau yang masih menencap di perutnya segera kucabut.

” Ssiiiinnnttaaa…..”, ngap-ngapan dia berusaha berujar kepadaku sambil mengelus wajahku.

” KKoommmndaaaannn”, air mataku mulai jatuh dan membasahi pipinya.

” jjjjjaaaaaanngggann nnnnnangiisss’, Dielusnya pipiku yang mengeluarkan airmata.

” Hhhhhaaarrrriii iinnii kammmuu jannji akannn memmberrikuuu kennikkkmatannn yannnggg sejatttiiii”, ujarnya terbata-bata.

Tersenyum begitu indah Febi kepadaku kemudian dia memejamkan mata.

” KKOMANNDANN JANGANNN MATIII….BANGUUUN KOMMNANNDANN…FFEBII BANGUUUUUNNN……………..BANGUNNNNLAHHHHH”, aku berteriak histeris.

Empat orang penyerang lainnya maju ke arahku. Mun sudah ambruk, teman-teman sibuk dengan pertempurannya masing-masing.

Jelas kulihat keempat orang itu dengan senjata tajamnya mengarah ke arahku ingin menghabisi nyawaku. Tidak ada lagi daya dan kekuatanku untuk menghadang mereka. Febi yang tergolek di pelukan membuatku makin tak berdaya.

” Braaaakkkkk”, tiba-tiba dari arah depan seorang polisi wanita berseragam lengkap melakukan tendangan lurus dengan gaya karate ke seorang penyerang. Dengan tubuhnya yang tinggi semampai bagai peragawati, dan kulitnya yang eksotis, dia kemudian berbalik memberikan pukulan karate andalannya berantai merobohkan empat orang sekaligus.

Begitu mempesona sosok Polwan misterus ini yang tiba-tiba muncul dengan segala kecantikan dan pesonannya.

Brigadir Tantri Wulandari tiba-tiba muncul dan kembali menyelamatkanku untuk kesekian kalinya seumur hidup. Kecantikannya yang bagai peragawati selalu menjadi topeng yang menyembunyuikan keperkasaannya.

” dorrr…doorrr…dooorrr”, Tantri memberikan tiga tembakan yang membubarkan masa. Sejak dari dulu dia tidak suka basa basi.

Mendengar tembakan Tantri, masa yang mengerubungi Mun dan rekanku yang lain berhamburan melarikan diri.

” HARI INI KAMU JANJI AKAN MEMBERIKANKU KENIKMATAN YANG SEJATI”, terdengar jelas kata-kata Febi yang terucap sebelumnya.

Kulihat Febi yang telah kehilangan tanda-tanda kehidupan.

Kuangkat dia dan kugendong dengan kedua tanganku. Entah dari mana tenaga yang muncul untuk mengangkatnya aku sudah tak peduli. Kutatap Tantri sesaat, tampak dia menggeleng dengan pandangan penuh penyesalan melihat kondisi Febi.

” FEBBBIIIIIII TTIIIDAAAAAKKKKKKKK JANGGAAANNN PERGIIIIIII”, dengan memanggulnya di kedua tangan, aku berteriak sedih.

BERSAMBUNG