Polwan S2 Part 8

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Tamat

Cerita Sex Dewasa Polwan S2 Part 8 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya : Cerita Sex Dewasa Polwan S2 Part 7

DAY 5. ; WE ARE ALL DUST IN THE WIND

I STARTED A JOKE

” Bangun Brigadir Sinta kamu mau dipindahkan ke lapas wanita”, suara Polwan senior hobi cemberut membuatku tersadar.

” Uummmm”, berusaha keras membuka mata aku menatapnya. Bertemu muka dengan wajahnya seketika melenyapkan pusing dan galau.

” CEPAT PAKAI BAJU!! BISA-BISANYA KAMU TIDUR TELANJANG DI TEMPAT SEPERTI INI”, melihatku tidur telanjang dia emosi dan mengeluarkan sumpah serapah.

” Siiiiaaaap Komandan”, grogi aku berlari telanjang ke kamar mandi. Siapa coba yang gak grogi, baru bangun sudah disembur oleh kata-kata mutiara.

Kenapa sih aku harus dipindahkan?? udah enak disini selnya sepi dan bersih, sekarang dipindah lagi. Yah namanya aja nasib jadi tahanan. Kalo gak mau susah ya jangan jadi napi. Kebebasan habis dipasung oleh jeruji sel .

” TIGA MENIT SELESAI SINTA!!!”, teriak sang senior dari balik kamar mandi.

” SSSSSIIIIAAPP SEENNIIOORR”, tergopoh-gopoh aku tak sempat lagi berdebat dengan pikiranku, menyelesaiakn mandi secepatnya, dan berlari dengan sikap sempurna berdiri dihadapannya.

” Brigadir Sinta siap berangkat senior”, ujarku dengan penuh hormat.

” Berangkat??? kemana??”, tanyanya dengan nada yang sudah turun.

” Keee lapass wanita senior??”.

” IYA KITA MAU KE LAPAS, TAPI MASAK KAMU HANYA PAKE BH DOANK KESANANYA SINTAAA??????”, teriaknya.

Terkejut aku baru menyadari saking buru-burunya tadi aku hanya mengenakan BH sebagai atasan saja dan belum mengenakan pakaian apapun.

” SSSiiiiiaaapp mmmaaaf seeeniiiorrrr”, aku balik kanan menahan malu berusaha mencari baju dan celana.

” Dasar! ayo cepat aku kasih kamu waktu 1 menit, CEPAT!!!”.

” SSsiiaaaap seenioorr”.

Dibawah satu menit aku sudah siap mengenakan pakaian yang rapi. Tak lama dengan pengawalan ketat, aku kembali digelandang ke mobil tahanan. Mereka sengaja memindahkanku pagi buta untuk menghindari kejaran wartawan. Bagaimanapun sekarang berita tentangku adalah isu nasional.

Kata para senior tempatku ditahan berikutnya adalah lapas khusus wanita. Saat kutanyakan kenapa tiba-tiba berubah? mereka bungkam. Kemudian kutanyakan pula kapan interogasi akan dimulai? jawabannya bukan hari ini.

“Kenapa bukan hari ini senior??, tanyaku penasaran. ” Banyak nanya kamu Brigadir! udah diam saja yang penting kamu ikut”. Itu jawaban mereka. Kata anak muda jaman sekarang jawaban itu anti demokrasi. Melanggar HAM, dan membunuh kebebasan berpendapat.

” Sok tau kamu Sinta ngomong soal demokrasi lagi kamu sekarang!”, pikiran kembali datang.

” Yah mau gak mau pikiran, kita kan hidup di jaman demokrasi sekarang. Setiap orang ngomongin soal itu. Jawabanya macam-macam, sampai gak ada yang bisa Sinta mengerti. Trus buat prosesormu yang lamban, apa itu demokrasi?. Jawabannya gampang perilaku Febi semalam itu demokrasi”.

” Apa maksudmu dengan Febi??”, pikiran bertanya.

” Ialah demokrasi buat Sinta kan saling memberi dan menerima. Febi kasih, Sinta beri tuntas perkara itu namanya demokrasi. Kalo senior disamping, ditanya gak jawab, tapi kalo dia tanya harus dijawab, itu gak tuntas namanya, apalagi demokrasi. Gimana jawabanku pikiran?? mantab toh”.

“………………….”, pikiran diam saja.

” ye ye yeee akhirnya Sinta menang lawan pikiran”, kukepalkan tanganku sebagai ekspresi kemenangan.

” NGAPAIN LAGI KAMU SINTA???”, Polwan senior menghardik.

” SSiaaap tiiidak ngapa-ngapain senior”, langsung aku nyungsep malu dengan pandangan tertuduk.

Perjalanan ini memakan waktu sebentar. Letak lapas wanita tak jauh dari tahanan Polres tempatku ditahan sebelumnya. Melihat dari luarnya tempat ini kayak kandang ayam. Semoga dugaanku salah, kalo di dalam manusia ditumpuk-tumpuk kayak ayam dalam satu kandang. Sayangnya ternyata dugaanku benar. Casing luar mencerminkan apa yang ada di dalam.

Kesan sumpek, bau, sangat kotor, adalah tiga kesan pertama yang kurasakan ketika menginjakkan kaki untuk kali pertama di dalam lapas. Beberapa sel yang kulintasi menunjukkan betapa kemanusiaan, untuk beberapa aspeknya, telah menghilang di balik jeruji besi.

Satu sel berukuran tidak terlalu besar dihuni beberapa wanita dengan tatapan hampa. Fasilitas?? lebih baik jangan ditanyakan!. Lapas ini perlu pemberitaan media tampaknya sebagai syok terapi. andai saja wartawan masuk ke sini dan mengadakan reportase, bisa jadi lapas ini berubah lebih baik dan memanusiakan para tahanan.

Tatapan para penghuni lapas di beberapa sel juga sangat horror. Melihat seorang wanita berambut pendek dengan status seorang Polwan memasuki sarang mereka, membuat sebagian diantara mereka menebarkan aura permusuhan. Tatapan penuh intimidasi mulai bertebaran di seantero ruangan.

Menyadari akan segera menjadi daging segar yang akan dilempar ke sarang harimau, aku terus berdoa tidak henti memasrahkan hidup mati kepada Tuhan. Keberadaan kedua seniorku turut membantu meredakan ketegangan yang berkecamuk di dada.

Sedikit beruntung mereka tidak memasukanku ke sel yang penuh wanita bertatapan setan. Entah sengaja atau tidak mereka memilihkan sel dengan para penghuni yang memiliki tatapan teduh dan tidak ingin menyakiti. Mereka tetap sangar tapi relative lebih tenang.

” Kamu di sel ini saja dulu gabung dengan sepuluh orang tahanan!”, kata si Provost pencemberut yang kuketahui bernama Nila.

” Siap”, kali ini Sinta gak banyak protes. Gimana mau protes masuk sel lain bisa jadi bubur nantinya.

” Kesini dulu Brigadir!” Provost satunya yang bernama Leli menarikku agak menjauh dari penglihatan para napi.

” Sinta kamu sabar dulu di dalam sini….”, agak menarik nafas Polwan Leli meneruskan bicara, ” Maafkan kami sebelumnya Sinta, kami Cuma menjalankan tugas”, akhirnya setelah dua hari bertindak penuh rengutan sekarang mereka mencair.

” Siap senior, Sinta sangat paham”, jawabku.

” Ssst diam-diam saja, semalam seharusnya kamu sudah masuk di lapas ini. Kami beserta para Polwan seniormu yang lain berusaha sekuat tenaga agar kamu bisa tidur nyenyak walaupun hanya semalam”, Polwan Nila ikut berbicara.

” Pandangan napi disini pada Polwan sinis Sinta”, sekarang Bu Leli yang bicara. ” Mereka sangat sakit hati telah dimasukkan ke dalam penjara. Melihatmu sebagai perwakilan Polisi berada disini, membuat mereka tidak segan-segan membunuhmu”.

” Haaahh….terrrus bagaiiimana senioorr??”, gentar juga aku jadinya.

” Tenanglah dari semalam kami tidak tidur untuk memilih teman selmu yang kami yakini tidak akan menyakitimu”, Provost Nila menepuk bahuku menentramkan.

” Iya Sin, mereka kami telah seleksi semalam. Diantara para napi lain merekalah yang paling baik. Tapi kamu jangan lengah. Sekutumu hanya ada mereka bersepuluh.Jangan kamu percaya sama napi yang lain dari ruangan manapun. Mereka bisa saja punya niat buruk untuk menghabisimu”, Bu Leli juga menentramkanku.

” Sudah waktunya ayok kita masuk Sinta, jangan khawatir kami akan selalu mengawasimu”, mereka berdua bicara bersamaan.

Akhirnya masuklah aku ke dalam sel tahanan untuk pertama kali seumur hidupku.

Ketika kami masuk para tahanan berbaris rapi dan sopan. Ketika Polwan Nila hendak bicara memberi arahan, mereka mau mendengar dengan tenang.

” KALIAN JAGA BAIK-BAIK SAHABAT KAMI SINTA! KALO KALIAN MENYENTUH SATU SENTI SAJA DARI TUBUHNYA, KAMI AKAN BALAS DENGAN PEMBALASAN YANG LEBIH BURUK TERHADAP KALIAN “, Bu Nila memberikan doktrin.

” Iya bu “, serempak jawab mereka. Entah efektif atau tidak doktrinisasi mereka, tapi sikap para napi membuatku tentram.

” Kami tinggal ya Sinta! jaga dirimu baik-baik”, Provost Bu Leli tersenyum indah. Dunia yang kelam tiba-tiba jadi bercahaya ketika melihat senyum beliau.

” Sssiiaaap ttterima kasssih sennniooor”, gagapku saja sampai kumat gara-gara melihat senyum mereka berdua.

Tugas mereka sudah dilaksanakan dengan begitu baik. Benar mereka bertugas mengantarku masuk penjara. tapi dilakukan dengan sangat manusiawi sekali. Ternyata dari semalam sel inilah tempatku seharusnya tinggal. Bagaimana perjuangan mereka melindungiku walau hanya semalam dengan menempatkanku di sel pribadi sangat mengharukan.

Kelak kalo kamu bebas Sinta harus banyak berterima kasih pada mereka.

Berlalunya mereka dari pandangan menyadarkanku untuk segera berbaur. Ada 10 orang dengan 20 bola mata yang menatapku penasaran. Harus segera kuperkenalkan diriku pada mereka agar semuanya cair dan akrab.

” Pagi saya Sinta, teman-teman siapa namanya??”, inisiatif aku ingin menyalami mereka satu persatu.

Wajah mereka wanita tapi beringas. Senior-seniorku di pendidikan saja tak ada yang seseram meraka wujudnya.

” Saya Mun Bu Sinta”, wanita yang berwujud paling beringas berjalan mendekatiku. Tingginya jauh diatasku. Dia dulunya mungkin pemain basket wanita. Derap langkahnya memacu jantungku berdetak kencang karena agak takut melihatnya. Bisa-bisa aku langsung dihajar sebagai perkenalan.

” Saya Sinta”, polos saja kujulurkan tanganku untuk menjabatnya. Seumur hidup Sinta tidak pernah betul-betul takut hanya agak. jadi kujabat dia dengan yakin.

” Mun”, suaranya berat juga dan jabatan tangannya begitu keras. Tangan si Mun pasti sering dipakainya bekerja keras sehingga kasar semua permukaannya. Baru semalam merasakan tangan Febi yang begitu lembut, sekarang ketemu wanita tangannya gak ada lembut-lembutnya sama sekali.

Jabat tangan intimidasi dari Mun, kuhadapi tenang saja. Sekeras apapun remasannya di tanganku tidak bisa membuatku meringis. gimana mau membuatku sakit sedang tanganku masih baal hasil menonjok para begundal.

” Hemmmm”, aku tersenyum penuh percaya diri.

Melihatku begitu tenang, Mun jadi bergetar sendiri dan memperlemah cengkraman tangannya.

” Cupp”, yang membuatku terkejut kemudian adalah ketika dia mencium tanganku setelah tubuhnya gemataran melihat kharismaku.

” EEehhhh Bu Mun gak usah pake cium tangan segala, Sinta jadi gak enak”, segera kucabut tangaku saking rikuhnya.

Melihat Mun bergetar dan mencium tanganku. Sembilan orang penghuni sel yang lain ikut maju bersamaan ingin berjabat tangan sebagai wujud rasa hormat. Benar dugaanku Mun adalah jeger dari sel yang kuhuni.

Tersudut di tembok aku akhirnya harus mau melayani jabat tangan mereka satu persatu yang dilakukan sambil mencium tangan.

” Saya Jeny Bu. Saya Lidya. Kalo nama saya Anita,….”, kata mereka memperkenalkan diri satu persatu.

Tentu aku jadi heran sendiri kenapa mereka tiba-tiba bersikap begitu hormat dan pake cium tangan segala, maka kutanyakan pada pimpinan mereka si Mun.

” Ibu Mun kok pake nyium tangan segala??”.

” Mun sudah hidup lama di dunia Bu Sinta. Sudah banyak makan asam garam. Orang lain baru kudatangi pasti ketakutan setangah mati. Ibu beda, bukan hanya tidak takut, tapi Ibu menunjukkan kekuatan hati dengan tersenyum menyambut sebuah ancaman. Ibu wanita kuat. Layak dihormati. Berita di tv itu benar”.

” Berita di teve apa Bu Mun??”.

” Kami semua lihat di teve aksi Ibu Sinta sebelum ditangkap yang diberitakan menghajar tiga puluh orang laki-laki sekaligus. Semula kami tidak percaya. tapi melihat dengan mata kepala sendiri, Mun jadi yakin. Maafkan MUn telah berprasangka selama ini terhadap Kepolisian Bu SInta “.

” Berprasangka terhadap Kepolisian??”.

” Ya mulanya kami pikir Polisi baik itu sudah tidak ada. Tapi melihat sosok Bu Sinta, kami tau prasangka itu salah. rupanya masih ada seorang wanita tangguh di Kepolisian yang layak untuk kami hormati”, kata Bu Mun dengan tegas.

” Tttunggu dulu kalo tiga puluh orang itu lebay. Ppaaadahall gak sebanyak itu yang Sinta hajar Bu “, usahaku untuk meluruskan berita sekaligus mengalihkan pembicaraan. Setiap saat kalo ada pujian berlebihan dialamatkan kepada SInta, itu harus segera dialihkan. Karena yakinlah itu dusta.

” Gak masalah berapa banyak yang dipukul. Terpenting Ibu berani untuk menghadapi kesewenang-wenangan kaum laki-laki”, katanya.

” Iya betulll setujuuuuu. HIDUP BU SIIINTAAAA”, ternyata Sembilan orang lainnya menyimak dan mengaminkan perkatannya bersamaan.

” Aduuh kenapa jadi hidup. Sinta biasa aja Ibu-Ibu. Hanya Polwan yang mengabdi pada tugas. Itu aja gak lebih”, aku berusaha mencegah mereka mengagung-agungkan aksi konyol kemarin.

” Mari duduk dulu Bu Sinta, kami hanya punya karpet sederhana ini disini”, ujar Bu Mun mengajakku istirahat. Keakraban sudah terjalin berkat sebuah jabat tangan.

Menuruti kemauannya aku ikut duduk di hambal ruangan.

Sepanjang hari itu mereka memperlakukanku begitu berlebihan dengan memenuhi sebagian besar kebutuhan Sinta. Mau minum diambilkan. Ingin makan disediakan. Di penjara Sinta malah dilayani oleh teman-teman. Mendengar dari cerita mereka, benar kata dua Polwan yang bertugas mengatarku masuk tahanan. Dalam lapas para tahanan terbagi. Khususnya dalam sikap mereka terhadap aparat yang menjadi napi. ada yang pro juga kontra.

Ibu Mun bercerita, bahwa di blok sebelah sangat membenci aparat. Beliau memintaku agar selalu wapada dan selalu berada dalam lingkaran pertemanan. jangan melangkah sendirian. Yang membuatku salut Beliau berani menjamin, bahwa selama sosoknya masih ada, para tahanan lain pasti tidak berani macam-macam. Alangkah baiknya wanita yang dari luarnya terkesan beringas tapi hatinya romantis.

Siangnya untuk mengisi waktu mereka duduk melingkar. Aku duduk di tengah mereka. Sudah jadi tradisi setiap anggota akan bercerita apa saja untuk menghibur dan menyemangati rekannya. Cerita apa aja boleh; komedi, roman, sampai cerita jorok.

” Bu Sinta karena merupakan member baru kelompok, kita berikan kesempatan pertama. Silakan Bu Sinta untuk menuturkan kisahnya. kalo bisa yang banyak ya Bu biar kami terhibur”, Bu Mun sebagai pimpinan rombongan memberiku kesempatan. Wah jadi juru bicara sekarang kamu Sinta.

” Eeee Sinta siap cerita, tapi sebelumnya sebagai bahan cerita, Sinta mau tanya dulu; ggimana kehidupan ibu-ibu di dalam tahanan??, apa yang buat ibu-ibu masuk ke sini??”, berusaha kulempar pertanyaan kepada mereka untuk menjadi bahan masukan untuk meramu cerita.

Mereka menjawab dengan lancar. tak ada lagi sekat diantara kami. Dari jawaban yang kudengar cukup beragam, ada yang penjahat kambuhan, hobi nyopet, pelacur yang tertangkap, KDRT tapi si cewe yang menganiyaya suaminya, ada juga yang kasusnya berat karena membunuh.

” Saya dihukum tiga puluh tahun Bu Sinta, karena menghilangkan nyawa”, kata ibu yang bernama Jeny.

” Ibu bunuh siapa?”, tanyaku.

” Mantan suami saya sendiri Bu”.

” Kenapa bisa??”.

” Iya bisa, kerjaan almarhum itu judi, mabok, maen perempuan, suatu saat dia datang ke rumah sambil mabok dan mukulin saya beserta buah hati kami. Saking maboknya dia tidur habis menganiyaya kami dengan buas, waktu dia tidur itu, saya ambil pisau dan menikamnya berkali-kali…”.

” Eeehh iya cukup-cukup”, merinding kami semua mendengar ceritanya jadi lebih baik untuk menghentikan saja cerita Bu Jeny. ” trus ibu sudah berapa tahun disini???”, tanyaku berusaha mengalihkan topik.

” Sudah empat tahun Bu, tapi buat saya hidup sudah berakhir…”, Jeny sangat sedih terlihat dari raut wajahnya.

” Tep”, Ibu Mun menenangkan dengan merangkulnya.

” Bu Sinta banyak dari kami disini sudah menganggap hidup kami sudah tamat. Ada diantara kami yang bisa keluar sebentar lagi seperti ibu Bety dan ibu Nuri, akan tetapi tanggapan dunia luar tetaplah sinis memandang setiap kami yang bebas. Padahal kami masih ingin bertobat dan menjadi anggota masyarakat yang baik. tapi buat masyarakat sekali berbuat salah kami tetap salah. Sekali menjadi penjahat, kami selamanya di cap penjahat….”, ibu Mun jadi tampak terharu.

” Apalagi untuk teman kita, Ibu Jeny yang dihukum berat, hukuman dari masyarakat sangatlah keji. Yah kalo mau diibaratkan kami ini udah jadi debu semua Bu Sinta. Debu yang tak berarti. Ada dipinggirkan, tidak ada disyukuri karena kami dianggap hanya bisa bikin kotor”.

” Debu Bu Mun???”, tanyaku.

” Iya debu yang tak berarti”, Bu Mun menyeka matanya.

Aku termenung mendengar cerita mereka yang begitu sedih. ” Tapi debu jika dibersihkan bisa sangat berguna Ibu-Ibu”, ujarku menghibur dan membangkitkan semangat. Bahan untuk bercerita sudah ketemu.

” Berguna bagaimana Bu Sinta???”, mereka tampak penasaran.

” Betul bahwa debu selalu disapu kesana kemari. Namun satu butir debu yang mampu bersabar dalam menghadapi setiap sapuan itu akan menjadi begitu berarti, saat manusia yang biasa menyapunya mengalami kesulitan air”.

” Kesulitan air???”.

” Betul Ibu-ibu, si debu makhluk terbuang, akan digunakan manusia untuk mensucikan dirinya. Bukan main-main mereka mensucikan diri untuk bersiap menghadap Sang Pencipta. Debu yang biasa dibuang, ternyata bisa menjadi begitu tinggi posisinya. Yang lebih luar biasa, debu itu setiap hari dilecehkan, namun ketika digunakan kembali oleh manusia, dia tidak pernah mengeluh, lagi ihlas mengorbankan dirinya untuk kepentingan orang banyak”.

Dari tatapan matanya mereka tampak terkesima mendengar cerita yang Sinta sajikan.

” Gimana caranya Bu, debu bisa jadi begitu berarti??”, Ibu Jeny sebagai pesakitan dengan hukuman terberat tampak paling bersemangat.

” Ada tiga cara yang akan Sinta rangkai dalam tiga buah cerita pendek. Ibu-ibu mau dengar??”, tanyaku dengan nada bicara seorang guru taman kanak-kanak.

” Mauuuuuuu”, mereka serempak menyahut.

” Baiklah dengarkan baik-baik ya”. Tanpa disuruh sebenarnya perhatian mereka telah terfokus untuk mendengar.

” Begini ceritanya ; “, aku berdiri di tengah mereka persis seperti kontestan stan up comedyan yang hendak menghibur para penonton.

Sejak kapan aku ahli bercerita ?? hmm rasanya sejak dari pendidikan Kepolisian. Sebagai salah satu bentuk hukuman, dahulu seorang siswa yang merupakan biang kerok akan diminta untuk berdiri dihadapan teman-temannya yang lain untuk melawak atau menceritakan sebuah kisah yang menghibur. Nah karena Sinta salah satu yang paling payah di pendidikan, hukuman itu berkali-kali menimpa dan menjadi sebuah kebiasaan buatku untuk menuturkan sebuah kisah.

Kisah pertama berjudul, DEBU TIDAK PERNAH PUNYA PRASANGKA ;

Alkisah sebuah debu memiliki tempat tinggal di dalam rumput stadion sepak bola terkenal. Selama bertahun-tahun dia tinggal disana menjadi saksi hidup pertandingan-pertandingan besar yang berlangsung di Negara eropa. Semua pemain terbaik di dunia pernah bermain pada stadion terkenal tempat debu tinggal. Mereka juga tidak ada yang absen untuk menginjak-injak dan menendangnya tiada henti selama Sembilan puluh menit pertandingan berlangsung.

Karena biasa direndahkan, si debu sudah maklum dengan kehadiran mereka dan segala tingkah lakunya. Selama pertandingan tidak ada yang menoleh pada si debu. Yang dikenal dunia adalan nama pemain atau pelatih dari klub yang kesebelasannya menang. Paling hanya satu kali si debu ikut tersorot. Yaitu ketika rumput stadion dikritik olah seorang pelatih yang kesebelasannya kalah. alasan tekstur tanah yang bergelomang menjadi kambing hitam.

Bayangkan ibu-ibu! ribuan pertandingan berjalan lancar di stadion dan si debu tak pernah dipuji. Namun ketika sekali saja tanahnya bergelombang, dia dicaci habis-habisan.

Lantas bagaimana sikap si debu yang hatinya baik tersebut?? apakah dia ngambek?? apakah dia mengeluh?? atau dia ingin menggugat setiap pemain bola yang pernah menginjakan kaki di tubuhnya sebagai biang kerok??. Tidak ibu-ibu, si debu menjauhi prasangka. Setiap kali dia ditendang, selalu dia bangkit lagi untuk memberikan kontur tanah terbaik pada si penendang, agar dia bisa mencetak gol.

Berulang kali dia dihujat oleh pelatih tukang kritik, dan hanya dijawabnya sambil tersenyum dengan memberikan bagian terbaik dari dirinya kepada kesebelasan si pelatih agar tim yang diasuhnya bisa menang. Seberapa pun buruk dunia memperlakukan dirinya, tidak pernah sedetik pun dia berprasangka buruk sangka terhadap orang yang berbuat jahat.

Maka cara pertama untuk menjadi debu yang bararti adalah ; jauhi sebagian besar prasangka.

” Ibu-bu masih mau mendengar cerita kedua???”, tanyaku.

” Maauauuu”.

Kisah kedua berjudul ; DEBU SELALU YAKIN.

Tersebutlah sebuah wilayah di Negara antah berantah yang tak lepas dari peperangan dan pertumpahan darah. Setiap detik ada orang yang mati dengan darah tercecer di tanah. Dalam permukaan tanah sebutir debu tinggal dan merasakan anyir darah dalam setiap detik kehidupan.

Menghadapi keadaan ini semua orang menjadi ragu-ragu. Mereka mulai meragukan bisa hidup tidak esok hari, mereka ragu dengan masa depan anak mereka, juga ragu dengan cinta kasih, dan ragu akan datangnya perdamaian.

Si debu telah hidup di tanah itu sejak tahun-tahun sebelum masehi. Namun bedanya dengan manusia dia TIDAK PERNAH RAGU. Apa yang membuatnya selalu yakin ?? jawabannya ; dia YAKIN bahwa suatu saat TUHAN AKAN MENJADIKAN MANUSIA BISA MENCINTAI SAUDARANYA SEPERTI DIA MENCINTAI DIRINYA SENDIRI. Dengan keyakinan itu, meski tiap saat dia melihat jenazah dan pertumpahan darah, si debu selalu berdoa kepada Tuhan untuk kebaikan manusia.

Ibu-ibu sekalian, rupanya keyakinan si debu pada manusialah yang membuatnya setiap hari berdoa. Seuntai Doa hanya bisa dipanjatkan dengan adanya keyakinan. Tanpa keyakinan debu hanyalah lelucon ditengah keragu-raguan.

Maka cara kedua untuk menjadi debu yang berarti adalah ; hiduplah dengan yakin dan penuh doa terhadap kebaikan Tuhan. Hindari keragu-raguan ya Ibu-Ibu! teruslah berdoa!.

Terakhir, kisah ketiga adalah ; DEBU TAK KENAL PUTUS ASA.

Pada suatu kota yang jauh sekali di ujung dunia. Orang hidup dalam keputus asaan dan mudah sekali bunuh diri. Putus cinta ; bunuh diri. Di PHK ; bunuh diri. Gaji tak dibayar ; bunuh diri.

Ada sebutir debu yang mendampingi para manusia putus harapan untuk mengakhiri hidupnya dengan segala cara ; Menggunakan obat nyamuk, sampai gantung diri semua disaksikan.

Lucunya ketika ditanya apakah dia pernah kepikiran untuk ikut-ikutan bunuh diri, si debu menjawab lantang ; TIDAK MAU. Kok bisa kan tiap hari kamu liat orang putus asa dan mengakhiri hidupnya dengan cara cepat??. Jawabannya ; benar sudah ribuan orang yang kusaksikan dan alasannya macam-macam tapi intinya satu ; mereka putus asa terhadap kehidupan.

Terus gimana caranya biar gak putus asa??.

Jawaban si debu ; berhentilah berfikir untuk kepentinganmu sendiri. Sebab bunuh diri hanyalah kepentingan egoisme dalam bentuk lain yang hanya memikirkan diri sendiri. kalo seseorang manusia masih memiliki rasa sayang kepada satu orang saja, niscaya dia tidak akan putus asa. Kenapa bisa begitu?? karena rasa sayangnya akan mampu menangkap ; bahwa rasa cinta kepada sesame manusia itu begitu indah. Dan hidup apa yang akan berarti untuk dijalani tanpa adanya cinta kepada orang lain??.

Jadi Ibu-ibu hiduplah dengan penuh cinta dan musnahkanlah rasa putus asa dengan cinta. Berhentilah mencintai diri sendiri, dan cintailah orang lain. Lihatlah, meskipun ruangan sel ini kecil dan sempit tapi rasa sayang teman-teman kita, membuat keindahan sel ini memancar begitu tinggi dan menumbuhkan harapan.

” Tiga hal itulah yang akan membuat sebutir debu yang dianggap tak berarti menjadi begitu indah. Hilangkanlah prasangka, tumbuhkanlah keyakinan, dan selalu penuhilah hati dengan cinta dan harapan. Bila ketiga hal itu dilakukan ibu-ibu meski mendekam dalam penjara hanya Kedamaianlah yang akan kita rasakan”, aku menutup ceritaku.

” PLOOKK..PLOOOKKK…PLOOOOKKKK”, tepuk tangan menggema dari balik sel. Teman-temanku bertepuk tangan riuh menyambut ceritaku. Senangnya ceritaku dihargai. Mereka serempak menjabat tanganku dan semakin menghormati setelah mendengar kisahku. Rupanya kebiasaan bercerita karena hukuman dulu mendatangkan manfaat.

Sehabis aku bercerita, mereka kemjudian giliran bercerita dengan beragam cerita yang unik dan menarik. Sore itu kami lalui dengan bahagia. Kebahagiaan kami membuat kami tak sadar di luar sana sedang terjadi keributan antara seorang napi dengan sipir penjara. Entah apa penyebabnya kami tak mau tau.

Sebab cinta yang kami pancarkan telah memancarkan kedamaian. Merasa damai aku ijin tidur sejenak kepada teman-teman. Kelelahan masih begitu terasa di seluruh badan. Meski panas dan hanya tidur di tikar yang jauh dari wangi aku bisa tertidur pulas dikelilingi para napi berhati mulia.

Bersambung