Polwan S2 Part 7

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Tamat

Cerita Sex Dewasa Polwan S2 Part 7 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya : Cerita Sex Dewasa Polwan S2 Part 6

DAY 5 ; WE ARE ALL JUST DUST IN THE WIND

STRANGER IN THE NIGHT

Sore yang nestapa. Diapit dua orang Polwan Provost, aku melangkah bagai pesakitan di lorong menuju kamar tahanan yang terletak di dalam kantorku sendiri. Seumur hidup, tidak pernah aku merasa begitu asing dan terpinggirkan seperti sekarang. Semua mata yang melihat Sinta adalah para Komandan, senior, sahabat, junior, dan para pegawai yang biasa berinteraksi dengan begitu akrab.

Sekarang mereka tidak lagi memandangku sebagaimana biasa. Lebih tepatnya mereka mulai menilai Sinta sebagai seorang pesakitan. Kedua tangan yang baru saja menghajar puluhan berandal mulai terasa nyeri. Tidak seberapa sakit di kulitnya, tapi begitu mengiris luka di hati. Segala bentuk pengabdian pada tugas dibayar dengan sebuah penangkapan tanpa bukti. Sedari tadi air mata tak henti mengalir.

” Ayo Sinta cobalah berfikir positif. Bukankah kamu sendiri yang mengikrarakan diri sebagai duta posistif thingking?”, seru suara pikiran.

” Gimana caraku bisa berfikir posistif dalam kondisi kayak begini wahai pikiran??. Kamu tidak lihat perjuangan Sinta sampai sekarang??, aku berjuang demi tugas dan pengabdian pada Negara, kemudian dibalas dengan tuduhan tanpa alasan yang begitu menyakitkan”, berdebat aku dengan pikiran sendiri.

” Menyakitkan??? apa sebenarnya yang bisa nyakitin kamu Sinta?? dikeroyok dua puluh orang begundal saja kamu menang. Emang apa yang lagi bisa nyakitin kamu??”, suara pikiran kembali menantang.

Termenung aku mendengar argumentasinya. Betul juga apa yang dikatakan pikiran, kalo dua puluh orang preman saja cuma jadi tempe dihantam kibasan tinjuku, masak berhadapan dengan fitnahan remeh begini saja bisa bikin aku KO?.

” Baiklah pikiran, Sinta setuju denganmu! Ayo kita bangkit! jangan sedih !”, dengan ketetapan hati kusapu butiran air mata yang terus menetes di pipi.

” JADI BAGAIMANA MENURUT ANDA PROF? ANDAKAN SEORANG PAKAR DALAM MASALAH KRIMINALITAS, KETERLIBATAN SEORANG POLWAN DALAM KASUS PERCOBAAN PEMBUNUHAN SEORANG KOMISARIS POLISI, APAKAH DAPAT DIKATAKAN SEBUAH FENOMENA BARU??”, sebuah suara dari televisi mengalihkan perhataian kami.

Wawancara live di sebuah stasiun tv nasional sedang tayang. Letak televisi yang menggantung di ruang tunggu membuatku dapat menyimak sejenak berita hangat yang menggegerkan masyarakat. Bukan hanya masyarakat satu kabupaten, tapi satu Negara kesatuan, mungkin, sedang melihat wawancara aktual yang begitu terkini.

” DAPAT DIKATAKAN DEMIKIAN MBAK JOSELYN, SEORANG POLWAN IKUT ANDIL UNTUK MEMBUNUH ATASANNYA SENDIRI. BICARA SOAL TINDAK KRIMINALITAS, KITA HARUS MENENGOK MOTIF…………….”

” KIRA-KIRA APA PROF, MOTIF DARI BRIGADIR SINTA DALAM KASUS INI??”.

” ADA BANYAK MBAK , BISA JADI FAKTOR SAKIT HATI, PERNAH MENDAPAT PELECEHAN SEKSUAL, BISA JUGA TINGKAT STRESS YANG TINGGI, ATAUPUN……”.

” TAPI PROF BIASANYA KAN TINDAKAN KEJAHATAN DILAKUKAN OLEH LAKI-LAKI BUKAN WANITA……..”.

Gamblang kusimak dilayar kaca dua sosok manusia sedang melakukan dialog yang disaksikan oleh puluhan juta pasang mata pemirsanya.

” Apa sebenarnya yang kalian bicarakan??”, Aku berusaha memahami. ” Untunglah kamu dianugerahkan dalam kecepatan begitu lambat duhai pikiran, seandainya saja kamu lebih cepat prosessornya, kita berdua bisa sakit hati mendengar hal yang mereka sedang diskusikan”.

Ada banyak cara menyimak sebuah berita yang disajikan di tv ; Orang bijak melihat, memahami, dan mengambil hikmah dari acara yang mereka saksikan. Kaum cendikia melihat, memperbandingkannya dengan teori yang mereka kuasai dan meragukan segala hal yang dilihat.

Orang normal melihat acara dan labil dalam pemahaman, kadang ” mudeng “, lebih sering alpa. Paling parah diantara semua adalah orang dengan kemampuan mencerna otak sepertiku ; melihat , gak paham apa yang disaksikan sebenarnya, dan sama sekali tidak bisa mengambil hikmah apapun, serta punya potensi meniru contoh jelek dari teladan buruk yang diberikan oleh layar kaca.

Dalam pandangan orang-orang lambat berfikir, dua orang di layar yang asyik berdiskusi ini hanyalah sedang ngobrol santai, cuma bedanya ; dishooting pake kamera. Mereka cerminan era emansipasi dan modernitas ; yang satu wanita “cemerlang “, dan laki-laki paruh baya.

Si wanita cemerlang merupakan figure ideal perempuan jaman sekarang ; cantik , lumayan sexy, intelek, ahli komunikasi public dengan bahasa lokal maupun interlokal , pendidikan lulusan sekolah luar negeri, dan penuh keyakinan. Dari gerak gerik luarnya saja terlihat dia siap menaklukkan dunia. Bapak paruh baya disebelahnya merupakan kebalikannya ; jadul, sama sekali tidak menarik, komunikasi payah, pintar mungkin tapi sorotan kamera membuatnya jadi orang semi ; setengah pintar juga rada blo’on, dan ragu-ragu.

Karena Sinta suka banget sama aktifitas nge-seks. Acara ini kayak sedang melihat seorang wanita dengan gairah ranjang meluap-luap, sedang memplonco laki-laki paruh baya ganjen yang sok pede karena pengaruh obat kuat. Sama sekali tidak imbang dan menyedihkan. Bapak kenapa kamu tidak tinggal saja di rumah dan istirahat??. Wanita pembawa acara jelas-jelas sedang mengebiri anda.

Kurang apa coba kelucuan bapak ini??. Katanya namanya saja ; Prof. Menggelikan tidak?? Kok ada ya orang tua yang tega-teganya menamakan anaknya Prof??. Apa coba arti kata Prof dalam kamus besar bahasa Indonesia??. Sebuah nama tapi kayak penggalan kata tanggung yang belum selesai ditulis.

Pujangga bilang apalah arti sebuah nama. Tapi buat Sinta nama itu penting. Nama mencerminkan orangnya. Gak percaya?? lihat aja si bapak yang seharusnya jadi narasumber jadi tampak begitu o’on di layar kaca. Kok tampak bodoh?? lha iya donk, orang lemot kayak Sinta aja bisa ngeliat, setap waktu, omongan si bapak dipotong sama si Mbak penyiar. Kan hanya orang kurang pandai yang ucapannya diserobot terus.

Salut Sinta sama keberanian Mbak penyiar. Berani amat ya dia motong-motong omongan pak Prof??. Sinta aja paling gak berani motong orang kalo lagi ngomong. Takut kualat. Ah tapi itu mah salah si bapak sendiri, siapa suruh namanya gak jelas kayak kepotong begitu, jadinya dipotong orang terus kan kalo ngomong.

” He..he..he nama orang kok Prof”, aku tertawa sendiri dengan kelucuan nama si bapak.

” Apa yang kamu tertawakan Brigadir?”, Polwan Provost berwajah sangar di sampingku menegur.

” Eeeeeh tidak menertawakan apa-apa senior”, senyum yang semula hadir segera kuhapus dari wajah digantikan dengan muka merengut.

Kenapa ya dalam lingkungan kerjaku sebuah senyum itu mahal. Gak yang cowo ataupun cewe semuanya mahal memberikan senyum. Tapi kalo disuruh merengut pada jago-jago. Negur pengendara gak tertib di jalan ; merengut. Ngasih tilang SIM ; merengut. Ngajarin anak sekolah yang kurang disiplin ; merengut. Ngobrol sama temen ; merengut. Trus gimana kalo lagi berhubungan suami- istri ya? apa merengut juga?? pasti gak bisa ” konak” tuh suaminya kalo diperengutin sama mereka yang hobi merengut.

” He he berhubungan badan merengut ya gak nikmat donk”, aku tertawa sendiri lagi.

” BRIGADIR SINTA KAMU SENYUM-SENYUM APA??”, Provost sebelah kembali membentakku.

” Eeeee siap tidak senior”, aku merengut kembali.

Agak kesal mereka berdua sepertinya sehingga mempercepat segala proses pengurusan administrasi.

” Ayo ikut kami ke selmu!”, si Provost yang masih jengkel mengantarku masuk ke dalam sel tahanan.

Sempit sekali sel tahanan yang kudiami belum lagi sangat sumpek. Tapi masih beruntung ditahan di kantor sendiri, karena ditempatkan sendirian gak gabung sama napi yang lain, trus kebersihan ranjang dan ruangan terjamin. Bau ranjang kecilku sekarang saja hmmmm wangii. selain itu juga tersedia kamar mandi ukuran mini di dalam sel jadi aku gak akan rebutan kamar mandi. Tampaknya instruksi dari kantor yang menyuruhku ditahan disini sangat bijaksana. kalo ditahan satu sel rame-rame udah pasti Sinta tersiksa dan gak bakalan bisa tidur.

” Nih bajumu, tadi sudah diambilkan oleh juniormu dari rumah dinas”, senior provost menyerahkan satu tas berisi baju. Rupanya baik juga kok dia. Wajah merengut bukanlah indikator baik buruknya seseorang.

” Istirahatlah yang nyaman Brigadir Sinta, besok kamu akan mulai menjalani pemeriksaan intens”, ujar mereka sebelum meninggalkanku. dari nada suaranya mereka punya rasa sayang yang besar.

” Siap senior terima kasih banyak”, balasku penuh hormat atas kebaikan mereka.

Bunyi sepatu dinas yang berderap lantang menemani perjalanan mereka berdua meninggalkan ruangan.

” Hufff akhirnya kesunyian dan kesendirianlah yang akan menemani kamu Sinta”. Lemas, kurebahkan tubuh di ranjang. Sejuta perasaan hadir menghampiri. Kesedihan tetap yang dominan menguasai. Hari ini rasanya begitu panjang. Coba kurefleksikan seluruh peristiwa yang datang bertubi-tubi ; Apel pagi –Febi – Jaka – Polda – interogasi – Jaka – Doni – sex orgy – penembak misterius- dua puluh berandal – Febi – ciuman- penjara.

” HAAAHHHH KENAPAAAA JADIIII BEGIIIINIIIIIII”, aku berteriak lantang mengusir kegalauan.

” HOI JANGAN TERIAK-TERIAK KAMU BRIGADIR SINTA”, ups rupanya provost wanita yang tadi masih belum jauh.

” SSssssiiiaaaap SENIOR MMMAAAFKAN SIINTA”.

Ahhhh gak asik disini. Mau ngapa-ngapain salah. Sedih sudah seharusnya, tapi kalo meluapkan kesedihan gak boleh. mau denger musik gak bisa. Mau smsan atau browsing, handphone sudah disita. Mau makan gak bisa gimana caranya coba dalam sel begini??.

” Peeettttt”, seluruh lampu lorong tahanan tiba-tiba dipadamkan. Sudah jam sepuluh malam. Seluruh tahanan diwajibkan tidur. Untung di dinding atas sel ada lubang kecil yang tertutup kelambu. Dari sana ada cahaya lampu dari luar yang dapat masuk. Bisa ngeliat minimal dimana tadi naruh tas dan peralatan yang dibawa sama junior.

Kalo kamu gak punya mental yang kuat Sinta bisa gila kamu sebentar lagi. Situasi sekarang mungkin yang disebut kesunyian yang bisa membunuh itu ya. Bingung mau ngapain di kegelapan malam, aku memilih untuk mandi saja. Kulepaskan begitu saja baju dan celana safari di lantai dan ngeloyor bebas ke kamar mandi sempit. Siapa juga yang mau ngintip gelap gulita begini. Sebelumnya handuk, CD dan BH baru yang disiapkan junior kubawa ke kamar mandi.

” Byuuurr…byuuuurr…byuuurrr”. Brrrrrr dingin banget mandi malam-malam. Berkali-kali sebenarnya Sinta ingin menangis meratapi nasib. Tapi menangis tidak konsisten dengan komitmen awal donk. Entah kenapa Sinta harus komitmen buat gak boleh ngeluarin air mata.

” Wajar kali kamu udah dianiyaya kayak gini Sin”, kata pikiran.

” Masalahnya kalo Sinta nangis-nangis lagi kayak dulu di pendidikan bisa kesurupan lagi duhai pikiran”, debatku.

” Bener juga ya, Selain hobi kesurupan kalo nangis-nangis kamu juga gemar mikir soal kemungkinan bunuh diri!”, pikiran menyahut.

Tuh alasannya kamu bahaya kalo nangis-nangis lagi Sinta. Dulu waktu di asrama, Sinta paling hobi nangis-nangis Bombay kayak anak ABG labil. Dimarahi senior ; nangis, gak bisa ngerjain tugas ; nangis, dikejain penjahat ; nangis. Bayangin aja kalo tiap dihantem masalah nangis kapan kelarnya?????.

” Ahhhh udah deh mending coba tidur aja buat ngelupain masalahnya”, ujarku sambil ngeloyor menuju ranjang dengan handuk yang masih menempel di tubuh.

Masih mengeringkah badan pake handuk aku berdiri ditengah kegelapan malam dalam sel tahanan. Tidak ada suara peradaban manusia apapun yang bisa menemani. Suara televisi saja sudah lenyap apalagi radio, canda tawa tetangga tinggal kenangan.

Sel tahanan betul-betul dibuat untuk membuat gila para penghuninya. Semakin cepat kamu bisa menghilangkan sedih kewarasan dapat dirasakan. Tapi kalo kemu bersedih, kegilaan dan bangsal rumah sakit jiwa bakal tercatat seumur hidup sebagai tempat peristirahatan. Hiiiiii gak mauuu jadi orang gilaaaaa.

Handuk yang membelit tubuh Sinta buang begitu saja untuk menghilangkan pikiran gila. Hmmmm enakan tidur sambil telanjang bulat aja deh biar waras.

Tidur bugil yang paling pas buat dilakuin sekarang. Soalnya bukan hanya gak ada hiburan buat mendinginkan otak, kipas angin aja gak ada. Selain biar otak adem, Sinta memang hobi tidur telanjang, sejak dari rumah maupun di asrama. Wanita kan perlu menjaga sirkulasi darah di payudaranya jadi dianjurkan gak pake BH waktu tidur.

Bertelanjang ria , aku terlentang di ranjang dengan suara jangkrik yang menemani.

” Hummmm apapun yang terjadi besok, Sinta serahkan padamu Ya Tuhan”. Dengan berdoa aku memejamkan mata dan berusaha tidur, siapa tau semua yang terjadi hanyalah mimpi buruk, dan esok, ketika terbangun semuanya sudah baik-baik saja seperti sedia kala.

” Ckleeeekk”, suara jeruji besi dibuka.

***

Baru sebentar sekali aku tidur. Mata rasanya menuntut untuk kembali terpejam. Suara tadi kudiamkan saja. Aku terlalu lelah , remuk redam, begitu lemas dan agak pening karena waktu tidur yang awut-awutan. Waktu tidur tidak boleh lagi terganggu.

” Heeeeppp”, mulutku tiba-tiba dibekap oleh seseorang. Tidurku berantakan lagi jadinya. Berusaha kutinju pembekap ini, tapi dia lebih cepat memiting tanganku dengan teknik kuncian terlatih. ” heeeeegggg”, kedua tanganku tak berhenti berontak tapi si penyusup mampu menguncinya dengan kokoh.

” Sssssttt Sinnta ini akuu, jangan ngelawan”, bisik si penyusup.

Cahaya sel yang remang-remang, membuat mataku harus berkontraksi maksimal untuk melihat siapa gerangan dia.

” KKoomandan Febi….”, aku sangat terkejut dengan kemunculannya.

” Kokk bisa masuk sini???”, sambil duduk karena kuncian Febi telah dibuka, kutanyakan pertanyaan yang membuatku penasaran.

” tep”,jari telunjuknya dirapatkan ke bibirku sebagai sinyal jangan berisik.

” Ssssst, aku ngikutin kamu sejak dari area pergudangan. Tak kusangka kamu akan ditahan disini. Perkiraanku kamu akan ditahan di lapas wanita, rupanya kantor masih punya belas kasih. Di sini bukan hanya kamu yang jago lompat pagar, aku juga hafal luar kepala setiap sudutnya”, terang Febi. Dia melihatku dengan tatapan yang begitu terpesona dengan tubuhku yang telanjang bulat.

Sadar begitu ceroboh dan gak sopan, aku berusaha meraih selimut untuk menutupi tubuh.

” klep”, tangan Febi Manahan tanganku. Dilepasnya selimut agar tubuhku tetap telanjang.

” Ayo kita kabur Sinta!”, ajaknya.

” Kabur kemana Komandan??”.

” Kemana saja yang yang penting kamu bebas dan tidak diperlakukan kayak binatang”, Febi terlihat gusar.

” Eeeeee sebenarnya Sinta mau aja kabur Komanndann tapii……”.

” Tapi apa???”.

” Tapi Sinta harus mempertanggung jawabkan apa yang difitnahkan oleh siapapun yang memasukkan Sinta kesini, Kalo kabur sekarang, sama artinya Sinta bersalah Komandan”, aku menunduk karena malu telah berani mengeluarkan pendapat.

” Kamu berani Sinta???”, diangkatnya wajahku.

” Sinta berani Komandan, menghadapi lusinan laki-laki aja Sinta berani, masak nagadepin penjara ” cemen” kayak gini takut”, tegas aku berujar.

” Kalo kamu berani, aku ada bersamamu Sinta”, ujar Febi sambil mendekatkan bibirku agar mencium bibirnya.

” Cupp”, tanpa basa basi dia langsung mencium bibirku.

” Aku akan menjagamu”, bisiknya sebelum kembali mencium dan mulai menindih tubuhku.

Menghadapi Febi yang menciumiku sedang aku dalam posisi terlentang, membuatku pasrah. Aku tak berdaya merasakan kesungguhan dan pengorbanan yang telah diperjuangkannya untuk menyelamatkan seorang anak buahnya.

Cipika-cipiki Febi tidak sanggup lagi kutahan seperti tadi sore. Selain pusing, merasakan perjuangan beratnya untuk masuk ke dalam sel tahanan ditengah keheningan malam, membuatku tak sampai hati untuk melukai perasaannya.

Ciumannya juga menjawab kebutuhanku akan sebuah ” penyaluran” untuk meredakan seluruh masalah yang menimpa. Relaksasi dan refleksi itu yang selalu kucari dalam sebuah ciuman dengan hati. Apakah dengan hati juga Febi mencumbuku sehingga membuat ciumannya terasa nikmat dan melegakan??. Aku tak ambil pusing yang penting aku menjaga perasaannya. Lidah Febi mulai keluar mengundang lidahku untuk keluar bermain. Kali ini kusambut lidah itu dengan bergairah.

Rentetan masalah yang mendera ini terasa begitu berat. Alangkah indah bila ada seseorang yang tulus untuk membantu meringankannya. Pancaran kasih sayang Febi yang begitu besar, kurasakan begitu membantu. Kehadirannya sudah cukup membuat beban yang memberatkan pundak menjadi ringan.

Febi kini mengenakan celana training dan kaos pendek menindih tubuhku yang telah telanjang bulat. Pancaran remang-remang cahaya dari atas lubang sel manambah panas suasana.

” Tanganmu sakit Sin??”, tanya Febi sehabis melepas ciumannya.

” Ssedikit Komandan”, ujarku yang diam saja saat tanganku dipijat. Menghantam lebih dari sepuluh orang bukan hanya membuat otot pegal tapi juga nyeri sekali.

” Sekarang kamu diam saja ya, biar kupijit tanganmu”, ujarnya masih sambil berbisik.

“………”, aku menangguk sebagai jawaban.

” Hmmm “, senyum Febi begitu indah terpantul cahaya lampu.

Usia Febi masih muda. Dia belum menikah. wajahnya begitu cantik, putih, dan memiliki sepasang mata sendu yang menambah kecantikannya. Ukuran tubuhnya sama sepertiku, itu kenapa pakaian dalamnya begitu pas kukenakan. Sangat pintar merawat badan dia sebagai wanita. Keharuman tubuhnya selalu membuat tergila-gila rekan-rekan kerja yang pria.

Pijatannya begitu lembut, dan penuh kasih sayang. tangannya yang mungil dengan jari-jari yang lentik memijatku dengan perlahan. Ditelusurinya tanganku dari lengan, sampai telapak tangan. Pijatan Febi membuatku tenang dan memejamkan mata.

Melihatku memejamkan mata, Febi mulai berani melebarkan pijatannya hingga kadang-kadang menyentuh payudara dan bagian sensitive tubuhku. Kudiamkan saja semua tindakannya sebagai wujud rasa hormat kepadanya. Melihatku diam saja menerima semua aksinya, Febi semakin berani.

” aaaahhhhhhhh”, aku membuka mata sambil mendesah saat tangan Febi terang-terangan membelai dua bongkah payudara yang telah bebas tak terhalang apapun.

Bibirnya bersamaan turun begitu lembut mencumbu leher, bahu, lengan dan beberapa bagian tubuh yang lain. Sangat lembut rabaan dan ciumannya, berbeda dengan Tanto, Jaka,ataupun Doni yang sangat egois ketika mencium, Febi sangat tau apa yang sedang dilakukan.

Dalam hati sebenarnya, Sinta masih belum lepas dengan apa yang dilakukan Febi. Sebodoh-bodohnya Sinta tau ini aneh, bahkan menjurus kelainan. Kelakuannya membuat hati ini begitu galau. Mau melayani atau menolak??.

” Kalo tidak mau diperlakukan begini, bilang sekarang Sinta, sebelum dia melangkah semakin jauh!”, pikiranku berpendapat.

” Iya tindakan Febi pasti bentuk kelainan wahai pikiran. Tapi apa dayaku??? pengorbanannya begitu besar. Belum lagi perhatian dan perlindungannya yang diberikan kepada Sinta tak bakal mungkin dapat dibayar. Bila melayaninya bisa sedikit melunasi hutang budiku padanya, akan Sinta ladeni apapun permainanya”, tekadku sudah bulat untuk membiarkan Febi.

Kebulatan tekadku semakin didorong oleh kesunyian, kesepian dan runtutan masalah yang tidak berkesudahan sejak ditinggal Tantri. Rasanya semua propblema tak akan sanggup lagi kutahan tanpa merasakan rasa kasih sayang yang tulus dari sesama manusia. Saat kasih sayang itu justru murni hadir dari kaumku yang sesama jenis, merangkap komandanku sendiri, tak mampu lagi kutolak ekspresi sayang yang datang.

Kulepas bebanku dengan mengijinkan Febi melakukan apapun yang diinginkan.

Merasakan aku telah lepas dan menikmati permainannya, kedua tangan lentik Febi semakin luwes membelai-belai lembut payudaraku. Dengan telapak tangannya nan mulus, dibawanya tangan itu turun menelusuri perut, pinggang, pusar, sampai menyentuh sebagian Jembut.

Dirabanya penuh penghayatan kulit tubuhku dan dijamahnya seperti dia tau pasti, titik-titik mana yang Sinta ingin disentuh. Tekanannya tak tergesa-gesa, namun penuh kepastian dan keyakinan. Keragu-raguanku hilang disapu aura yakin Febi. Bahkan untuk mencapai kenikmatan kita memerlukan keyakinan.

Tangannya sekarang naik memijat tulang bahuku. Dari sana dia beranjak menyentuh leher lalu beringsut kebelakang mengeksplore tengkuk. Rambut pendekku mempermudah akses menuju tengkuk yang ditumbuhi rambut-rambut halus nan sangat sensitive.

” Hhhuuuuuugggghhhh”, Sinta merinding saat tengkuk tersentuh.

” Kenapa Sin??”, Febi berbisik nakal.

” Geli Komandan”.

” Tahan ya sayang! “, dia memijat tengkukku dengan pijatan tangan yang begitu piawai. Kedua telapak tangannya membawa tengkukku terangkat sehingga posisi tubuhku jadi begitu sexy ; Tertengadah, tak berdaya dan siap menjemput kenikmatan. Jari tengah Febi mengurut-urut tengkukku yang berbulu halus membuatku demikian geli sekaligus terangsang.

” aaaaaahhhh KKoommmnaddaannn”, aku mulai menjerit lirih tertahan.

Melihat reaksiku Febi malah mengulum kupingku tanpa melepas pijatannya di tengkuk. Dia mulai membuatku lupa daratan dan melayang. Bibirnya menyedot nyedot kupingku menghadirkan sensasi geli, sedikit nyeri sekaligus enak.

” Balik badanmu Sinta”, kedua tangannya yang masih berada di tengkuk membalik badanku sehingga tengkurap di ranjang yang berukuran kecil. Sebagai anak buah yang baik aku menuruti perintahnya.

” hhhoooohhhh”, aku merinding seketika, saat Febi menghembuskan nafasnya di tengkuk yang telah terpampang bebas dihadapannya. Rambutku ditepikannya agar semakin memudahkannya mengeksplore bagian tergeli dari tubuhku.

” hhhuuuhh huuuhhhh”, aku berusaha bertahan dalam kegelian yang teramat sangat dengan nafas tercekat.

Febi tak mau melepas hirupan nafasnya dari daerah belakang leher. Tangan Febi mulai memforsir rangsangan dengan bergerak menyelip masuk untuk meremas payudaraku. Menindih tubuhku dalam posisi tengkurap di kasur, Febi tanpa keraguan menyelipkan tangannya disana dan meremesnya. Putingku yang semula terhimpit kasur diambilnya dan mulai dipelintir-pelintir dengan tangan mungilnya.

” Ahhhhhh….heeeegggghhhh”, kugigit seprai untuk membungkam rangsangan yang hadir.

” Kenapa Sinta??”, godanya sambil berbisik dari balik leherku.

” Geli Komannnndannn uuuuuuuuuuu”, aku makin tak tahan karena tangannya terus bergeriliya memilin putting payudaraku.

” Geli??? aku ciumin sekarang ya biar tambah geli “, Bukannya menghentikan permainannya Febi malahan mulai mencium dan menjilati tengkukku yang demikian sensitive.

” aaaaagggghhhh”, aku segera berontak kegelian, kepalaku kugerakkan liar kiri kanan, diiringi badan yang bergetar, seprai kucerabut dari ranjang. Tindihan Febi terlalu sempurna, kedua tangannya yang bersemayam di payudaraku, kini bertindak sebagai pengunci yang paling efektif. Seliar-liarnya gerakanku dia masih mampu menjangkau leherku dan memberikan beragam variasi ciuman dan jilatan yang membuatku semakin gila.

” Aaaaaaaaaggggghhhh”, bermula dari sensai geli, kini rasa nikmat mulai datang. Rasanya stimulasi di leher belakang mampu memancaing seluruh aliran darah untuk bergerak dan menyebar merata ke seluruh tubuh. Mukaku bersemu merah karena mendekati orgasme. untunglah kamar sel gelap sehingga Febi tidak mampu melihat perubahan rona wajahku.

Meninggalkan tengkuk, ciuman Febi perlahan turun ke area punggung. Dia cumbui perlahan-lahan punggungku yang sensual, dengan kedua tangan yang juga telah beranjak dari payudara, dan ikut membantu membelai wilayah punggung. Bibir Febi terus bergeriliya memberikan ciuman pada garis punggung utama yang memanjang sampai tulang ekor. Ciumannya berhenti pada perbatasan punggung dan pantat. Dijilatinya berlama-lama kawasan itu.

Dari perbatasan pantat Febi bergerak lagi, kali ini pinggangku yang dijilatinya dengan sangat bergairah. Tiap centi pinggang Sinta dilumurinya dengan cairan ludah. Bagai semut yang sedang bergerombol mengangkut makanan menuju sarangnya, jilatan Febi terus naik menuju sisi samping payudaraku. Tanpa malu-malu dia kemudian nyungsep untuk menikmati payudaraku dari samping. Dimiringkan tubuhku sehingga dia bisa mengakses putingku dan mengenyotnya.

” ahhhhhhhhhhhhhhhhhhh”, aku hampir menjerit lantang, sebelum tangan Febi menyumpal mulutku dengan tangannya. Telunjuknya dimasukkan ke mulutku agar aku mengulumnya. Efektif! asyik mengulum meredakan keinginanku untuk mendesah atau menjerit.

Payudaraku yang satu telah puas disedotnya, kini dia beranjak naik menuju sisi tanganku yang memang telah terangkat tinggi.

” Kamu wangi sekali Sin”, pujinya sebelum kembali menciumku kali ini di wilayah bahu. Jemarinya kemudian berkelana di sisi bahuku dilanjut ciuman-ciuman kecil disekitarnya.

Permainan Febi betul-betul membuatku relaks sekaligus segar.

” OOOhhhhhh”, agak kasar kali ini transisi serangannya dari bahu kemudian mengangkangkan kakiku lebar.

bantal yang semula ada di dekat kepalaku diambilnya kemudian dipindahkan untuk menyangga sekitaran panggul. Posisi pantatku jadi sedikit terangkat karena disangga bantal, posisiku tetap tengkurap.

Febi cepat turun ke bawah. Kepalanya langsung menyerbu ke paha bagian belakang. Sekali lagi aku kegelian hebat karena pahaku diserang dengan mendadak.

” Kiikkk…kiiikkk…kkiiikkkkkk”, aku terpingkal-pingkal tertahan karena menahan geli. Febi tau aku kegelian maka dipindahkan seranganku agar moodku tidak hilang dan langsung mengalihkan jilatannya ke vaginaku.

” Aaaaaaaahhhhh Ffuuuccckkk”, seketika hilang cekikikanku berganti kenikmatan syahwati lagi. Teringat ucapan kotor waktu di rumah Jaka, aku ingin mengekspresikan kenikmatan ini dengan kata-kata kotor yang menggambarkan betapa mahirnya Febi memperlakukan tubuhku.

Jari lentik Febi mengusap-ngusap daerah klitorisku dari balik bantal. Lidahnya sibuk bermain bergantian merangsang vagina dan lubang anusku yang terhidang dimatanya. Usapan Febi lembut dengan irama yang naik turun. kadang dia cepat, kemudian dilambatkannya hingga perlahan sekali. Tidak dia pedulikan getaran-getaran otot kakiku yang terus gemetar karena terangsang.

Rasanya cairan cinta dalam vaginaku mulai penuh. Sebagian terasa mulai luber dan keluar dari goa kenikmatan. Febi tidak menghentikan sedetikpun jilatannya. Berhadapan dengan cairan cintaku yang mulai keluar dia malah menelannya dengan nyaman sekali. Mungkin rasanya manis seperti madu, sehingga dia mendapat tenaga tambahan untuk semakin intens menjilatiku.

“‘ aaaahhh fffuuuccckkk…ggrrrrrrrrr…..ffuuuucckkkk…..grrrrrrr”. Gigit seprai, mendesah, berusaha menahan desahan dengan menggigit seprai, mendesah lagi, semuanya terus kulakukan untuk menahan agar semua ledakan dalam tubuhku tidak terlalu nyaring terdengar dan menarik perhatian penjaga.

Seprei putih penjara sudah lepas semua dari bednya karena kutarik-tarik histeris. Febi punya stamina yang kuat dalam melakukan oral. Dari tadi dia tak henti menjilati, bahkan sebagai wanita dia hapal benar wilayah mana yang harus dijilati dan dieksploitasi. Dengan feelingnya yang lembut dia rasakan betul kapan daging klitorisku akan keluar karena terangsang. Klitoris adalah harta karun wanita. Sebuah pemicu ledakan yang tinggal ditekan dan meletuplah erupsi dalam kemaluan seorang wanita.

Saat dirasakannya jilatan di anus dan vaginaku telah cukup sehingga daging klitorisku telah keluar dari persembunyiannya, dialihkan jilatannya untuk menyerbu C-spot. Jari tangannya turut beralih menusuk masuk ke dalam vagina.

Menghantam dua arah untuk menyiksaku tidaklah cukup buat Febi. Alih-alih memberikan waktu buatku beradaptasi dengan stimulasinya, tangan Febi yang satunya justru dicelupkan ke lubang anus. Dengan jari telunjuknya dia turut tusuk juga lubang yang menganggur sedari tadi.

” fffuuuuucccckkk aaaaahhhhhhhhhhhh………..sshhiiitttttt”, aku tak mampu lagi menahan jeritan saat merasakan dua jari Febi masuk sempurna dalam dua lobang bawahku. Jari yang di vagina dan di anus ditekan berkawanan arah sehingga keduanya seolah bertemu dan hanya dibatasi oleh dinding anus. Yang paling membuatku tidak kuat adalah sedotan Febi pada klitoris. Dia cium awalnya, kemudian jilat, lalu dihisap pelan, berangsur kuat, sehingga klitorisku rasanya mau copot saja.

Saat colokan Febi di kedua lubangku mulai dipercepat intensitasnya, dibarengi jilatan lidahnya yang demikian cepat di klitoris, cairan kenikmatanku yang semula berkumpul dirahim serta merta terdesak keluar melintasi saluran vagina kemudian ; ” bbbboooommm”, meledak begitu dahsyat.

” HHHHHAAAAAAGGGGGGGHHHH………….FFFFFFFFFFUUUUUUCKKKK”, aku tumbang histeris terjungkit-jungkit mendapatkan orgasme. Semua persendian runtuh. Tanganku tanpa sadar menjambak rambut sendiri dan aku pun terungkit-ungkit selama berapa saat, kemudian rebah, terungit lagi, dan rebah lagi. Tingkat voltase setrum yang menyambar tubuhku begitu tinggi sehingga mataku terasa kunang-kunang.

Begitu nikmat orgasme yang kualami, sampai mampu menyapu bersih semua masalah yang ada. Febi terus merangsangku hingga semua kedutan yang timbul dari tubuhku reda.

Febi terus merangkulku sampai beberapa saat lamanya. ” Cuppp, istirahat ya Sinta anak buahku yang cantik! “, Setelah berhasil menenggalamkanku dalam lautan dosa, Febi mencium keningku dan bersiap meninggalkan ruangan.

” Itu hadiahku special buat kamu, supaya kamu tidak stress selama berada disini”, ujarnya sambil membelai rambutku dan mulai berdiri.Febi beranjak beringsut menjauh.

Meyadari dia hendak pergi begitu saja, aku segera membalik badan dan merangkulnya dari belakang.

” Mau kemana Komandan??”, tanyaku penuh godaan.

” lhoo?? mau keluar Sin, kalo kelamaan disini bisa-bisa kita berdua ketauan”, jawabnya mulai tedengar panik.

” Masak hanya Sinta doank yang seger Komandannya enggak??”, kenakalanku kumat. ” Sinta juga bisa kok buat Komandan seger”, lanjutku.

Yah walaupun canggung toh minimal kamu harus ngebales kebaikan Febi selama ini Sinta.

” Kasih Sinta lima menit aja Komandan! Sinta janji akan buat Komandan juga fresh he he he”, ujarku sambil mengangkat kaos Febi dan berusaha melepaskannya dari belakang.

” Angkat tanganmu Komandan!”, perintahku. kapan lagi coba bisa memerintah seorang Komandan.

Febi menurut diangkatnya kedua tanganya ke atas sehingga memudahkanku menelanjanginya. Cepat kupreteli kaos mininya berikut daleman dan celananya agar waktu lima menit yang kumiliki optimal.

Kedua tanganku berhasil. Dalam waktu singkat Febi kini telah bugil. Tubuhnya bagus sekali. Begitu terawat. Bahkan tidak ada satu helai rambutpun di badannya. Berbeda denganku yang memelihara jembut, vagina Febi begitu kinclong tanpa bulu seperti wanita ABG saja.

Gemas dengan bentuk tubuhnya yang indah kupepet dia ke tembok.

” Ooooohhh Sinta”, Febi mendesah ketika rambut pendeknya kujambak dari belakang. Posisinya kini terduduk diranjang dengan tumpuan kedua lutut dan tubuh terpepet tembok. Kubalas tunai perlakuannya yang tadi membuatku terjepit dalam posisi tengkurap. Kini akan kubuat dia semakin terpojok di tembok, tak bisa kemana-mana dan mengalami orgasme hebat.

” Ummmmmm”, tanpa melepaskan jambakanku kucumbu dia dari belakang. Dalam posisi tertengadah ke atas, kucumbu Febi dari atas tubuhnya. Mulutku kami saling betemu. Rupanya tenagaku jauh lebih kuat dari Febi. Tenaga petinjuku betul-betul membuat Febi tak sanggup mengimbanginya.

” Aaaaahaaaaaa”, tangannya berusaha menggapai kebelakang mencari rambutku agar bisa lepas. Segera kubuang tangan itu dengan menangkisnya dan memelintirnya seperti tahanan dengan satu tangan.

Ditanganku Febi tahanan sekarang. ” Aaaaaahh ammpuuunnnn”, dia semakin histeris saat kedua kakinya kukangkanghkan paksa dan satu tanganku yuang semula mengunci tangannya bergerak masuk ke dalam liang vagina.

Kucari-cari permukaannya dan kukucek cepat dengan tetap menjambak rambut. Kucolok lubang vaginanya dengan jari tengahku dan kucelupkan jari disana. ” Aaaaaaaaahhhh”, Febi menjerit lebih keras dariku. Jambakanku dirambutnya kulepas dan kusumpal mulutnya dengan tanganku. Tetap kuangkat kepalanya. Febi lebih sexy kalo sedang tertengadah begini.

Colokanku di vaginanya kupercepat dengan arah yang kupelajari dari si Doni di rumah Jaka.

” mmmm…mmmm…mmmmm”, menggeleng-geleng Febi begitu lupa akan eksistensinya. Ada di alam yang berbeda dia sekarang. Tak ku lepas tanganku terus kukocok dia hingga kurasakan ada kedutan hebat di vaginanya. Febi tergetar hebat dengan mata terpejam menahan saripati tubuhnya akan menyembur.

” Keluarin semua ya Komandan biar ringan”, berbisi Sinta lembut ditelinganya.

” UUuuuuuuggghh…..nmmmmmmm….AAAAagaggghhhh”, nafas yang tersengal menjadi penanda ledakan kenikmatan yang begitu eksotis. Febi takluk dengan jari tanganku. Berbeda dengan tayangan film porno yang penuh dengan drama dan kepalsuan. Orgasme Febi begitu riil, natural, dan berasal dari dalam hati. Sebongkah daging yang tersembunyi di dalam dada itu memencarkan cinta yang tulus, kemudian dengan seni seksualitas yang sederhana, ekspresi cinta itu terpancar keluar menjadi alunan rintihan, getaran, dan ekslosiveme tubuh yang tak henti merintih.

” Ooohhhh….ooohhh….aaaaaa”, seperti orang gila dengan mata tak memeliki fokus, Febi menggapai-gapai dinding mencari pijakan untuk tetap menjejakkan kakinya di dunia nyata. Kubantu dia dengan menjambak rambutnya lagi, dan memeluknya erat. Dijambak meskipun sedikit sakit, Febi lebih tenang. Kembali kudangakkan kepalanya untuk melihat ekspresi wajahnya.

” heeeemmmmmmm”, digigitnya bibir atasnya. Dia semakin sexy saja dengan warna pipi yang bersemu merah. jadi begini raut wajah seorang wanita yang dihantam orgasme yang sejati. Begitu lepas dan sexy. Rangkaian orgasme pertamanya akhirnya berlalu.

Beberapa detik setelah selesai badai pertama, tanpa membuang waktu segera kutelantangkan dia di ranjang. Ingin kuberikan service yang optimal.

” Sssiiinnttaaa kasiih akku kesemmpatann isstti…..ahhhhhhh”, omongannya terhenti, payudaranya telah kuhisap dalam dalam. Dimulai dari yang kanan kemudian beralih ke kiri.

Tangannya yang berusaha menahan , kutelikung dan kuangkat ke atas. Payudaranya jadi makin menyembul karena tangannya kuangkat. Payudara Febi begitu kencang dan montok. Agak mungil tapi kencang dengan sepasang putting berwarna merah menggemaskan.

Kalo payudara kanan sedang kuhisap, maka pentil kirinya kutowel-towe hingga dia histeris. Hisapanku pada payudara membuat Febi makin gila dan siap menjerit kapan saja. Sebelum kami terdengat oleh penjaga, kulepas dulu cumbuanku kemudian kuarahkan wajahku tepat di depan wajahnya.

” huhh…huhhh…huuuhhh”, Febi terengah-engah.

Kami saling bertatapan. Wajah Febi yang hingar bingar dalam dentuman kenikmatan lucu juga, membuatku ingin tertawa melihatnya. jadi begini ya wajahku sendiri kalo sedang dalam birahi. Merah padam, nafas tak teratur, dan hilang akal. Buatku meskipun aktifitas ini menyenangkan, Aku tetap sangat sayang pada hubungan ranjang dengan laki-laki. Ini hanyalah sebuah refreshing yang menenangkan. Gila tapi asyik.

Tangan Febi yang masih terangkat sedikit tertekuk karena dia terus berontak. Kutuju lengannya yang tertekuk. Febi bingung dengan apa yang hendak kulakukan.

” Ciiiuuuhh”, sedikit kuludahi lengannya. Dalam temaram sinar cahaya terlihat air ludahku turun perlahan menuju ketiaknya. kami berdua saling bertatapan melihat air itu meluncur perlahan turun.

” Ciuuhhh”, kuludahi lagi ringan semakin membuat Febi bertanya-tanya apa yang hendak kulakukan selanjutnya.

Ketika air ludah kedua hinggap turun di ketiaknya, segera kulumat ketiak nan bersih itu dengan lidah yang lincah.

” HHooooohhh aaaaggghhhhh Siiinnt….’, segera kubungkam mulut Febi. Mungkin dijilati ketiak merupakan pengalaman pertama buatnya, dia tampak kegelian sekaligus terangsang hebat. Ini pembalasan buatmu Komandan, yang menyerangku tadi di tengkuk.

” Aaaaaaaammmmmmmm”, dia semakin berontak saat satu tanganku ikut masuk lagi ke vaginanya untuk memberi rangsangan selanjutnya. Rasa geli dan nikmat yang tadi dia berikan akan kubalas tunai sekarang.

” ssslllrrg..slllrrgg…sllllrrrgg”, jilatanku kupercepat sedang tanganku yang mengocok vaginanya juga semakin dahsyat. tangan Febi berusaha berontak kupegangi tangan itu. Bila pun dia menjerit dan kami ketahuan biarin saja deh udah nanggung.

” heeegghh heggghh heggghhh”, Febi melenting lagi untuk kedua kalinya. Tanganku merasakan limpahan cairan hadir di liang vaginanya. Kukocok terus hingga dia melunjak-lunjak lebih histeris dan tak tertahan.

Sangat indah adegan orgasme Febi diiringi lentingan hebat seluruh tubuhnya berkali-kali dan deru nafas yang terputus-putus berusaha menahan semua desakan syahwatnya sendiri.

” hhhuuuuhhh…..huuuhhhh…hhuuuhhhh”, saat semua akhirnya reda kupeluk dia dari samping. Dia masih merem melek. kami berdua sama-sama telanjang.

” Sintaaa enakk banget. awas kamu ya udah bikin aku bisa jadi histeris begini!”.

” he he pembalasan Komandan”, ujarku kepadanya.

” dasar”, disentuhnya hidungku mesra penuh dengan senyuman bahagia. Kami masih sempat saling berciuman dan berpelukan beberapa saat, sebelum akhirnya Febi harus segara bangkit dan mengenakan pakainnya kembali. Dari kejauhan suara dari penjaga terdengar mulai mendekat. Kami khawatir si penjaga akan menyidak ruangan ini karena terdengarnya bunyi-bunyian tak jelas.

Selesai berpakaian Febi melirikku masih dengna senyum ceria

” Besok malam aku datang lagi ya Sin. Besok kamu harus memberikan kenikmatan yang sejati kepadaku!”, dia mengerlingkan matanya dan tersenyum begitu indah. Febi sering tersenyum tapi entah kenapa senyumnya yang sekarang begitu cantik dan mempesona.

” Siap Komandan siapa takut”, tantangku.

Febi segera mengendap-ngendap keluar dengan gerakan begitu taktis meninggalkanku seorang diri lagi. Hufff rasanya cukup plong setelah dibantu febi mengeluarkan cairan syahwat dari dalam tubuh. Badan terasa begitu relaks dan memudahkanku untuk tidur karena aktifitas tadi mengeluarkan hormon pelepas stress. Kali ini kutarik selimut untuk menutupi ketelanjanganku. Dengan kondisi kepala yang kosong dan begitu ringan aku mulai tertidur.

Bersambung