Polwan S2 Part 6

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Tamat

Cerita Sex Dewasa Polwan S2 Part 6 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya : Cerita Sex Dewasa Polwan S2 Part 5

SHORT STORY BEFORE DAY 5 ; ” THE JAB “

Langkahku begitu ringan meninggalkan rumah Jaka. Kuludahi sambil lalu dua mobil yang terparkir di halaman rumahnya sebagai ekspresi rasa jijik. Pengalaman melihat persenggamaan secara bersama-sama di depan mata sungguh sulit terlupakan. Semakin kaya seseorang, makin mentereng pangkatnya, semakin aneh juga kelakuannya.

Aku yakin pria yang bernama Doni bukanlah orang sembarangan. Mobilnya mewah. Pacarnya si Icha juga terlihat high class. Yang paling mengherankan, Jaka tidak berani berhadapan dengannya. Emangnya siapa dia bisa buat Jaka ragu-ragu begitu?.

” Cuihh harus mandi besar nih gara-gara udah disentuh laki-laki tidak higienis seperti dia”, suara hati berbicara sambil mata mencari cari tukang ojek yang mangkal.

” Bang ojek sini!!”, seorang tukang ojeg sudah terlihat.

Mendengar dipanggil dia menghampiri. ” Iya non mau kemana??”.

” Antar ke jalan protokol ya Bang. Saya mau makan bubur!”.

” Iya non silakan naik! ini helmnya”.

Diantar tukang ojek aku cabut dari rumah Jaka. Bagaimana ya rasanya maen sex rame-rame begitu??. Kembali sebuah pertanyaan unik menghampiri. Dasar kamu Sinta! gak usah dipikirin kelainan seksual mereka. Itu mainannya orang kaya yang kebanyakan duit.

Saking kaya dan menterengnya jabatan, mereka pengen ngebeli wanita dengan uangnya. Mereka pikir bisa beli kamu juga buat diajakin ngeseks berempat, gak tau mereka Sinta ikut tinju di asrama. Mereka “Macem-macem”, Sinta tonjok, KO semua deh.

Sebagai informasi aku memang suka dengan olahraga tinju. Kalo kebanyakan jurus mana bisa diahapal sama otak yang lamban. Tantri ahli karate, dia udah sabuk hitam punya banyak jurus mematikan. Buatku tinju sudah cukup. Kuasai tiga teknik pukulan dengan baik ; jab, hook, upper cut. Jaga fisik, rapatkan pertahanan tangan, sudah cukup untuk membela diri.

Yah kalo cuma bonyok dikit sampe berdarah darah udah pernah ngalamin sih. Cocoklah olahraga ini karena gak banyak mikir. Terpenting ” feeling”, kapan harus mukul, kapan musti bertahan. Di kantor Sinta menangan lho kalo soal tinju. Wajar aja wong lawannya gak ada ha ha. Teman Polwan yang lain lebih milih nyalon mempercantik diri dan merawat tubuh daripada ikut tinju.

Terngiang ucapan kotor Doni dan Jaka tadi yang memuja wanginya aroma tubuhku. Padahal tadi pagi aku hanya mandi bebek. Tapi mereka masih muji kalo aromaku wangi. Apa rahasianya Sih??. Jawabannya gampang ; jaga makan. Sebagai wanita banyak-banyaklah makan sayur. Coba aja datang ke asrama liat pilihan makanan yang kupilih ; sayur segar, rujak, lalapan, buah-buahan, semua dimakan rutin tiap hari.

Daging-dagingan sama jeroan kadang-kadang aja. Yah palingan waktu makan bubur doank. Itu rahasianya kenapa kulitku segar, wangi dan cerah . Wangi tubuh hasil makanan alamiah beda sama bikinan semprotan parfum.

Kalo parfum sementara aja wanginya, sedang yang alamiah permanen dan tahan lama. Ngeliat mereka berdua tadi begitu tergila gila sama aroma ketiakku menunjukan keberhasilan ngejaga badan dan aromanya. Buat wanita apa sih yang lebih utama daripada kemampuan ngejaga kecantikan badan dan aroma tubuh?.

Tapi sekali-kali boleh kan makan bubur lengkap ama daging dan jeraoannya??. Itu alasan utama, yang buat aku datang lagi ke tempat bubur ini untuk sejenak makan dan refreshing melupakan peristiwa aneh barusan. Momen makan selalu special untuk mendinginkan hati dan pikiran.

” Dah sampe Non”.

” Makasih ya Bang!. Ikut makan dulu yuk! nanti anterin saya habis dari sini balik ke asrama Polisi ya”.

” Ooo Non Polisi ya?? iya siap Non”.

” Mas pesen bubur biasa ya! sama buatin buat bapak ini juga !”.

” Siap Komandan Sinta pahlawan kami”, tukang bubur memuji berlebihan.

Jadi artis bener kamu sekarang Sin. Lihat mata bapak-bapak sama ibu-ibu disini yang menatapmu kayak ngeliat artis ibu kota.

” Bu Sinta boleh foto bareng??”, kata seorang bapak pelanggan bubur.

” Wahh boleh Pak, tapi kenapa mau foto sama saya??”.

” Ahh Ibu Sinta ini merendah aja. Ibu ini pahlawan kami. Udah cantik, sexy, pemberani lagi”.

Bapak itu orang pertama minta foto bareng. Habis itu ada lagi, lagi, lagi dan lagi. Bahkan anak-anak SMP yang lagi makan bubur juga ikut-ikutan minta foto bareng. Kalo gini ceritanya gimana caraku makan?? Jadi artis rasanya gak enak juga ya.

” Udah cukup bapak-bapak, kasih kesempatan Bu Sinta makan dulu”, Mas bubur datang sambil membawa semangkuk bubur ayam. ” Silakan makan dulu ya Bu Polwan yang cantik. Gak usah khawatir sama bapak-bapak yang minta foto bareng! nanti saya halau semuanya”.

” Wiss sejak kapan pake istilah-istilah Polisi Mas?”, tanyaku terkejut sekaligus geli mendengar kata halau. ” Ya sejak jatuh cinta sama bu Sinta lah”, ujarnya genit. ” huuuuuu”, bapak-bapak yang lain sontak menyoraki Mas bubur sebagai ekspresi rasa cemburu.

” Heee”, aku hanya bisa tersenyum melihat semua tingkah laku mereka. Ada gak enaknya jadi orang beken, tapi ada juga nyamannya. Wanita mana sih yang gak seneng jadi pusat perhatian?. Temen-temen sesama Polwan aja pada rebutan ngincer posisi penyiar di televisi nasional biar beken. masalahnya syarat buat kesana kan harus cantik dan pinter. Sinta memang cantik, tapi pinter??. Hmm karena jawabannya enggak, tau diri aja deh buat ngebatalin niat ngelamar ke sana, itu sama aja mimpi di siang bolong.

Yah syukuri aja Sinta, meskipun belum pernah masuk tv, kamu udah jadi terkenal. Tenar dikalangan para pelanggan tukang bubur ini maksudnya. Udah deh gak usah banyak mikir soal ketenaran, sekarang yang penting makan.

Nah mulai deh momen indah menyantap hidangan utama bubur yang ueenakk ini. Apa yang buat bubur ini jadi makin enak ya?. Rasanya baru kemarin kemari, tapi rasa bubur ini jadi makin enak saja. Bumbunya begitu meresap dan kuahnya menambah rasa penasaran ingin menyantapnya terus.

Seperti biasa makan bubur gak lengkap tanpa sate dan kerupuk yang banyak. Udah kebiasaan yang dihafal sama bapak-bapak kalo aku makannya lama. saking lamanya, banyak diantara bapak-bapak itu yang curi-curi kesempatan untuk memotret lewat ponselnya. Sinta cuek aja. Kalo udah makan ngapain mikirin yang lain??. Rasa masakan ini tetap jadi fokus utama, hal lain lewat.

45 menit sudah berlalu. Bubur, sate, kerupuk semua sudah tandas. Mau kemana kita sekarang ??, kembali ke kantor??, ahh nggak lah malas. Lagipula tadi Pak Hendri ngasih ijin pulang mendahului, kapan lagi coba?? harus dimanfaatin semaksimal mungkin kesempatan langka kayak gini.

” Mas berapa semuanya??”.

” Untuk Bu Komandan ; GRATIS “.

” Yang bener sih Mas??? buat bapak ojeg deh saya bayarnya”.

” Buat bapak ini juga gratis Bu Komandan. Pokoknya untuk pahlawan kami semua gratis”.

” Wah jadi gak enak nih Mas”.

Tambah bikin gak enak perasaaan pandangan Tukang bubur dan bapak-bapak ini yang memujaku berlebihan. Mereka memberi semua kemudahan dan penggratisan syaratnya satu ; asal boleh foto bareng. Terpaksa deh sebelum pergi aku berikan pose-pose cantik untuk mereka.

Pengagungan mereka pada kecantikanku terlalu lebay, bayangin aja mereka sampai mengantarku rame-rame naik ke atas motor. Bahkan banyak diantara mereka rebutan ingin mengantar sampe di asrama. Semua kutolak secara halus, soalnya aku tetap setia sama bapak ojek. Sebagai wanita Sinta tipe setia banget lho. Tanto buktinya.

Sebejat-bejatnya dia, Sinta tetap bertahan bersamanya. Asal tau aja ya, waktu dianiyaya di rumah dinas, sebenarnya Sinta bisa saja ngelawan dia dengan teknik tinju. Tapi kan kasian kalo pria yang kita sayangi harus ditunju. sakit nanti rasanya buat Tanto.

Bodoh kamu nih memang jadi cewe, Tanto aja gak sayang, tuh buktinya dia nyambukin kamu sampe puas. Itu urusan Tanto kalo gak punya belas kasih. Buatku rasa kasih sayang adalah segalanya.

” DDadahh ibuu Sintaaa”, serempak mereka melepasku pergi bagai bintang film merangkap tuan putri dadakan.

” Non??”, tanya tukang ojeg.

” Ya Bang??”.

” Non artis ya??”.

” Apaan sih Bang saya Polisi bukan artis”.

” habis fansnya banyak Non. Bapak juga mau deh jadi fansnya. Non cantik banget soalnya. hatinya baik lagi”.

” husssh Bang, lihat ke depan aja deh biar kita berdua selamat sampe tujuan”, ketegasanku menghentikan gombalan si bapak.

Masih tersipu-sipu aku beberapa saat akibat perlakuan mereka dan pujian si bapak. Begitu mengagung-agungkan sosok wanita lemot ini mereka. Emang apa yang sudah aku lakukan??. Hanya membela seorang pemuda yang coba dirampok mobilnya.

O ya apa kabar pemuda itu ya?? namanya si Rudi kan? cukup ganteng dia. Juga tajir. Semoga sehat ya Rud. kasian kepalamu bonyok dipukul sama perampok. Ya Tuhan kasiani si Rudi, lindungi dia agar cepat sembuh. Sinta berdoa tulus kepada sosok pemuda yang katanya sangat ingin main ke kantor itu.

Karena keasyikan berdoa dan memandang ke jalan, kami tak sadar ada dua sepeda motor yang tampaknya sengaja memepet motor kami.

Laki-laki yang datang dari motor sebelah kanan langsung menodongkan pistolnya ke arahku dalam jarak begitu dekat. Aku masih berdoa tak sadar apa yang dilakukan oleh pria ini.

” Dorrrrrrrrr”, Pria tadi menembak tiba-tiba.

Jaraknya hanya sekian centimeter dariku, tapi tembakannya masih juga luput. Lucunya peluru yang meleset itu malah menghantam temannya yang ada di sebelah kiri. Tertembak telak, temannya langsung roboh ke jalan. Pak Tukang ojek terkejut dengan tembakan itu langsung mengerem mendadak.

” Cccciiiiitttttt”, bunyi ban nyaring berdecit.

Kami berdua hampir jatuh, kalo saja bapak itu tidak memiliki keseimbangan tubuh yang cukup baik kami pasti telah terperosok.

” Aduuuh hampir jatuhhh maaaf Non”

” gak apa Bang untung kita gak jatuh”, Aku lihat pengemudi motor yang menembak tadi berhenti sejenak untuk memeriksa keadaan sambil menggeleng-gelengkan kepala. Siapa lagi orang ini yang tiba-tiba mau menembakku?? apa gerembolan perampok mobil kemarin masih belum tertangkap dan penasaran mengejarku?.

” Pak pinjam motornya dulu ya! saya mau kejar orang itu. bapak saya minta tolong telpon ke kantor polisi laporkan ada orang tertembak minta pertolongan segera!”.

” IIiiyaaa Buu siaaapp”, bapak ojeg masih gemetaran.

” Tenang ya Pak”, aku tersenyum menenangkannya.

Sekarang rasa jengkel mulai menghinggapi dan ingin menuntaskan urusan dengan orang ini segera. Hanya sekian centi rasanya peluru itu hendak menyambar kepala dan mencabut nyawaku. Maha Agung Tuhan yang masih melindungi.

Dengan gas poll aku berusaha mengejarnya. Menyadari dikejar, pria penembak juga tancap gas. Motor gede yang digunakannya tentu lebih cepat dari motor bebek ini, tapi pengejaran harus terus dilakukan. Ini bukan aksi sia-sia, Sinta punya kelebihan kok. Apa itu? hafal sama daerah ini. Kabupaten ini kecil saja ukuran wilayahnya. Penduduknya juga saling kenal satu sama lainnya. jadi gampang kalo kejar-kejaran, buat yang tau jalan.

Segesit apapun dia meliuk-liuk menerobos kepadatan lalu lintas, aku pasti bisa mengimbangi. Bukan hanya jago melompati pagar, untuk urusan menghapal jalan-jalan tikus Sinta juga piawai. Kulihat kini si penembak menyalip dua kendaraan dalam satu tarikan gas. Kemudian berbelok kayak pembalap moto gp, menikung di perempatan jalan.

Begitu boros gerakannya, macho sih, maskulin, tapi mubazir. Untuk mengejarnya aku cukup belok kanan sedikit pelan-pelan , lewati jalan setapak dan…hap itu dia terlihat lagi.

Manuver-manuver ekstrim terus dilakukan oleh si pria misterius. Menghadapinya mudah, cukup dengan dengan gerakan standart, konvensional dan biasa saja milik Sinta, tapi efektif.

Perjalanan berkelok-keloknya kini memasuki kawasan pergudangan tua yang sudah lama tidak beroperasi.

Sekarang saatnya perjalananmu berakhir wahai pria misterius. Jarakku dengannya tak sampai 50 meter. Cukup untuk dua buah peluru panas. Mari kita lakukan semua dengan benar, pertama lepaskan tangan dari pedal gas, trus cabut pistol dari pembungkus pinggang, buka tuas pengaman, selanjutnya bidik, rasakan arah angin, tarik nafas dalam-dalam. ” hhhhhmmmmm”, terakhir tarik pelatuk ;

” Dorrr….dorrrrrrr”, dua peluru melesat bersamaan dengan manuver si pembalap bergerak condong ke kanan ingin berbelok. Bayangkan dalam gerakan slow motion, peluru yang ditembakkan memiilih sudut yang paling rendah dan telak menghantam kakinya.

” Trassss”, peluru yang menembus kulit dan tulang terdengar nyaring.

Si Pria hilang keseimbangan jatuh terguling-guling lengkap dengan motornya yang terperosok.

Tenang, aku turun dari motor. Pasang standart motor jangan lupa Sinta. Yak selesai semua sekarang kita lihat siapa bapak ini sebenarnya.

Aku melangkah tenang ke arah bapak yang tergeletak tak bergerak, kubuka helmnya, dia pingsan. Kuambil sandaran kepala seadanya yang ada di sekitaran sini untuk menyangga kepalanya. Maski baru saja hendak berperan sebagai pencabut nyawa, melihat pria ini berdarah-darah menerbitkan rasa empati, soalnya sebentar lagi bisa jadi malah dia yang mau dicabut nyawanya oleh sang malaikat maut.

” Ck ck ck jadi ini Polwan sakti itu Bos”, suara orang dari arah belakang cukup mengagetkan.

Tampak di sekeliling kawasan pergudangan tua, muncul dua puluh orang pria-pria berbadan tegap dan seram. Wajah mereka sangar khas preman. tato yang berseliweran dibadan mereka menambah kesan angker.

” Ndul, kamu cek si Ruli gimana keadaannya!”, kata orang yang sepertinya pernah Sinta liat dua hari lalu waktu kejadian perampokan mobil. Rupanya sampai saat ini rombongan perampok mobil kemarin masih bebas. Kok bisa lambat ya kinerja teman-teman Reserse?? apa perhatian mereka terpusat semua ke penembakan Pak Burhan hingga tak bisa bertindak lebih cepat?. Masalahnya sekarang gawat juga nih menghadapi sekitar dua puluh orang pria berbadan besar-besar dengan libido tinggi begini.

” Pingsan bosss”, kata orang suruhan.

” Mbak Polwan manis”, si bos maju bicara,

” dua hari lalu, kamu berhasil menangkap seorang dari kami. Jujur Abang juga terkejut kenapa si bodoh itu gagal nembak kamu. Apa kamu bener-bener sakti, atau dia yang bener-bener o’on Abang gak tau”. Dia mengambil nafas.

” Tapi jujur Abang salut sama keberanian cewe seperti lu manis. Asal tau aja ya, sekarang luw ada di kawasan kami. Disini kalo luw kami perkosa rame-rame juga gak bakal ada yang tau “.

” Gak usah banyak ngomong deh Bang”, potongku. Semakin panjang dia ngomong semakin Sinta gak mudeng soalnya. ” Udah bilang aja mau apa kalian???”.

Agak terkejut juga si bos dipotong pidatonya. ” ngelunjak nih cewe beneran ! mentang-mentang Polwan. Kami ingin merkosa luw rame-rame disini tau”, tantangnya kesal.

” Merkosa ane Bang?? ayo coba kalo bisa”, tantangku gak mau kalah.

” Kurang ajar! Bocah-bocah ayo kita maju barengan! ini cewe sakti soalnya. Coba kita liat kesaktiannya bisa gak ngelawan kita segambreng ini. siapa aja diantara luw yang bisa ngelumpuhin dia, gue ganjar giliran pertama buat merkosa nih cewe”.

” Asyiiikk beneran ya Banggg”, kata banyak diantara mereka yang mulai melihat tubuh Sinta dengan pandangan cabul dan lidah terjulur.

“Karena kita mau maenin nih cewe ampe pagi gak boleh ada yang make senjata! biar kejaga kemulusan badannya”.

” Abang udah siap obat kuat nih neng buat ngwee kamu sampe besok pagi”.

” Liat pantatnya Bang pasti kuat ngewenya nih cewe”.

” Tuh liat tetenya kenceng banget”.

” Kapan lagi kita bisa ngerasain cewe putih mulus begini”.

Semua ucapan cabul itu kudengar keluar dari mulut mereka. cuekin aja, ngapain juga dipikirin. Sehebat-hebat mereka hidup mati inikan bukan mereka yang nentuin. Bagus Sinta berdoa dulu sekarang sama yang ngasih hidup dan tempat kita semua balik nanti saat kematian menjemput. Kuangkat tangan dan menundukkan wajah. Khusyuk Sinta berdoa kepada Sang Maha Tunggal penentu nasib hamba-Nya.

” Tolong Sinta Ya Tuhan. hanya Engkau yang dapat menolong. Meskipun jumlah mereka ada banyak, tidak akan Sinta tundukkan wajah ini pada mereka, sebab Sinta hanya mau tunduk kepada-Mu. Maka Ya Tuhan selamatkanlah sinta Amin “.

” MAJU KALIAN SEMUA”, Jariku kugoyangkan seperti Bruce Lee.

” Ayo kita serrbbuuuuu, yang pertama ngalahin dia bisa merkosa sampe puas”.

Serentak mereka maju menyerbu.

” YAAAAAAHHHHHHH”, raungan perang dimulai.

Tenang Sinta, majukan dulu kaki kiri ke depan. Dua tangan dinaikan sejajar dagu membentuk pertahanan ” double cover ” tinju. Kuda-kuda badan agak tunduk dikit, biar pinggang leluasa menghindari serangan. Kalo kaki udah kokoh, giliran tubuh diayunin kiri kanan nyiapin bahu buat nambah “power” tangan waktu mukul. Pondasi kaki memang harus kuat tapi ” foot work ” musti tetap lincah biar gampang menghindari pukulan sama tendangan.

Mereka berlari dengan penuh nafsu. Tanganku sudah mengepal sempurna menyambut kedatangan para berandal. Orang pertama tiba, dia menghambur ingin merangkul. Mudah diatasi, langkahkan tubuh satu langkah ke kanan, Rangkulannya luput, tangan kiriku masuk kasih ” hook” ,…. ” Bruuggg”, pukulan pertama mendarat tepat di dagu. Awal yang bagus. Bisa pingsan langsung nih orang.

Bener saja dia jatuh. Sekarang Dua orang dari kiri dan kanan mukul barengan. ” Wusssss”, pukulan dari kanan ngantem angin soalnya tepat waktu Sinta nunduk. Dua kakiku nekuk biar elastis nunduknya. Habis itu kaki kanan jungkit naik dikit, bahu maen, pukulan ” upper cut keras ” masuk , tenaga full.

” Kreekk”, bunyi dagu patah.

” Teeeep”, pukulan dari orang sebelah kiri kutahan sama ” double cover ” , langsung balas sama jab ke kemaluan. ” prrruuut”, pukulan masuk. ” Anjjjjjrrrriiit”, orang kedua berteriak samar kemaluannya penyok.

” haaaaaaggggghhhhh”, orang ketiga nongol dari belakang kayak pegulat professional. Lebih mudah lagi serangan model beginian. Kaki kanan menumpu, kaki kiri buang lurus kebelakang gak perlu noleh. Asal perhitungan tepat serangan model smack down longgar di pertahanan alat kelamin. ” krrriiuuuuk”, bunyi buah zakar yang ke”plites” kaki cukup merdu terdengar. ” hhaaaaaaagggggggggg”, si pria yang terobsesi jadi pegulat berguling guling terkapar penuh histeria.

” Ceweeee sialaaaaann”, orang keempat maju lagi. Porno nih orang kejantanannya nonjol ereksi sambil menyerang. Pasti dia lagi mikir jorok tentang Sinta.

Serangannya gak maen-maen pake dua tangan sekaligus. Gini cara ngadepinnya ; geser kepala nunduk miring kanan. Pukulan tangan kiri meleset. Habis itu ayunin pinggang ke kiri biar kepala miring kiri barengan tangan kanan kasih hook ke mukanya. Pukulan tangan kanannya luput, hook Sinta masuk. ” Kraaaakkkk”. Hidungnya patah.

Orang kelima sekarang maennya rangkulan. Cara ngelepas rangkulan; Tunduk dikit, tangannya sekarang diatas badan, ngeles satu langkah ke kiri, sapu rangkulannya pake dua tangan.” Tep”, Rangkulan lepas, pertahanan muka lowong. Hajar bertububi-tubi.

” tap…tap…tap…tap.tap…tap…tappp”, delapan pukulan jab lurus ngantem telak ke muka. Salut kalo gak roboh.

Ambil nafas panjang dalam tiga tarikan. Kini saatnya menyerang frontal.

” hhhhhmmmm”, hirup nafas dalam dalam. Orang keenam lagi bengong, tonjok cepat matanya.

” Braaaaakkkkk”, pukulan mendarat telak ke bola mata.

Hirup nafas lagi. Orang ketujuh nendang, Keseimbangannya lemah. Sapu tendangannya pake tangan, Siku nyodok ke kemalaun. ” HHUUHAAAAHHHH”, kena dia.

Orang kedelapan berhasil ngerangkul dari belakang. Menghinadrinya mudah ; Tubuhku bungkuk dikit, ungkit pake tenaga pantat, kaget- dia hilang keseimbangan, lempar dia ke depan pake tenaga pinggang. Begitu dia Jatuh di depan mata, hirup nafas lagi buang cepat, pukulan beruntun meluncur ” tap…tap..tap..tap..tapp”, lima pukulan hook kiri kanan nyuci muka cowo ini.

” Hiaaaaaat”, orang Sembilan , sepuluh dan sebelas maju bareng dari tiga arah. Serangan kombinasi cocok dipake sekarang Sinta.

Bungkuk dikit ke orang yang ada di kiri, Hirup nafas, hantem “low blow” sekencangnya sambil cakar buah zakar.

” konnnttooolllllkkuuu”, sebelum dia selesai jerit remes kencang bijinya, ungkit badannya pake bahu, angkat pake dua tangan.

Samson wanita sudah lahir ; sinta namanya. Berlagak kayak Samson, Sinta angkat pria ini di atas kepala.

” haaaaagggggghhh”, selanjutnya lempar badan orang ini ke dua orang temennya, ” Bruuuuugg”, mereka ambrug barengan.

sebelas pria tumbang. Tangan Sinta mulai sakit rasanya. tapi ada bagusnya, sisa dari begundal mulai ketakutan termasuk bosnya.

” bossss saktii beneraaan Polwannn ini”. teriak sorang berandal.

Gak usah banyak jerit-jerit lagi deh, kita selesaikan pertunjukan ini. Aku cabut pistol dari pinggang arahin tepat ke si bos.

” Lhhoo janggan tembakkkk nengggg”, si Bos kaget.

” Dooorrrrrr”, pistol meledak, bidikan tepat, peluru nembus paha.

Si bos jatuh. Anak buahnya yang tinggal delapan orang pada tabrakan berusaha kabur. ” huffffff”, kutiup bubuk mesiu seperti koboi jaman dulu. Ngapain pada kabur??. Peluru Sinta juga tinggal satu. Dua dipakai membubarkan tawuran. Dua lagi nembak pemotor yang nembak barusan. satu special untuk pak bos. Biar kapok.

Kulihat sekeliling, 11 orang kesebelasan bergelimpangan mengerang ngerang, satu orang pingsan dan satu orang histeris kesakitan karena pahanya ketembus timah panas.

” Huuupppp”, kurenggangkan dulu tubuhku dengan melemaskan semua otot tubuh yang tegang habis bertinju.

” Untung aku petinju. Kalo bukan bisa udah habis diperkosa nih”.

Satu unit mobil preman tiba-tiba mendekat dengan kencang ke arahku. tampaknya ini mobilnya Febi dari mana aja dia.

” Sinta”, katanya berhambur turun sambil berlari.

” Kamu gak apa-apa???”, dipegangnya wajah dan tanganku yang berlumuran darah.

” Ssiiaaapp gak apa Komanndan. Ini darah mereka yang nyiprat ke tangan Sinta”, kataku menenangkan.

” Hanya kamu anak buahku yang benar-benar nekad”, ujarnya sambil tetap memegang wajahku. Komandan Febi tiba-tiba menggaet pinggangku, merapatkan tubuhku pada tubuhnya, mendekatkan wajahnya ke wajahku.

” Cuuup”, dia mencium bibirku tiba-tiba. Jujur aku masih gak ngerti apa yang dilakukannya. kami kaum wanita sudah biasa cipika-cipiki pipi. Mungkin di daerah asal Febi, cipika cipiki pake bibir ya??. Saking gak ngertinya dengan kelakuan Komandanku yang tiba-tiba mencium bibir aku diam saja.

Aku sendiri sangat senang dengan aktifitas berciuman. Itu momen relaksasi sekaligus refleksi. Dicium Febi aku nyantai aja dan gak pake perasaan apa-apa. Bayanganku, ini hanya aktifitas cipika-cipiki, cuma pake bibir. Sangat kurasakan adanya rasa sayang yang besar dari ciuman Febi.

Bibirnya yang lembut bersentuhan dengan bibir mungilku mentransfer rasa sayang. sangat membuat relaks dan menenangkan. Apalagi tangannya juga memelukku dengan kuat. Sebagai Polisi wanita fisik Febi cukup kuat sehingga menentramkan.

Lidah Febi tiba-tiba ikut keluar dari mulutnya dan mengajak lidahku bersentuhan.

” Kommanndann”, aku hentikan dia dengan menaikkan sikuku, karena kalo lidah sudah keluar nafsu yang main.

Agak gugup dengan penolakanku Febi terlihat rikuh.

” tangan Sinta sakit Komandan”, kataku menunjukkan tanganku sekaligus berusaha menjaga perasaannya yang kayak kehilangan muka dalam bersikap.

” Kenapa tanganmu Sin?”.

” Habis ninju banyak cowo Komandan”, ujarku bercanda.

” Coba aku liat. gila kamu nih benar-bener Sinta “, ujarnya sambil menyentuh hidungku dengan ramah sekali. rasa kikkunya tadi sepetinya sudah hilang berganti rasa sayang yang besar.

Dielus-elusnya tanganku dengan lembut sekali seperti ingin menghilangkan sakitnya. saat tadi menjatuhkan sepuluh orang rasanya tanganku gak kenapa-napa. tapi habis itu memang kerasa nyeri sekali. Terkait Febi aku sempe sekarang masih belum ngerti kenapa dia jadi begitu sayang padaku.

Ciumannya tadi kuanggap hanya cipika cipiki saja tapi versi sebuah kebudayaan yang mengkin aku belum pernah mengetahuinya, karena ilmuku yang “cetek”.

Dielusnya kini wajahku berkali-kali dengan penuh rasa sayang. hatiku sangat sensitive kalo merasakan kasih sayang orang lain . Yang aku mau tanyakan hanya satu sama Febi ; kenapa dia tiba-tiba menyayangiku dengan rasa sayang yang demikian meluap-luap?.

” nggguuuiing….ngguuiiinnggg….nggguuuiinnngggg”, bunyi sirine mobil patroli nyaring terdengar.

Febi tetap tenang tidak beranjak untuk memijat tanganku. Sekumpulan anggota turun dari mobil, kulihat ada lebih dari 10 mobil yang datang. Kasian bapak-bapak yang tergeletak ini mereka harus masuk penjara deh karena tingkah lakunya sendiri.

Rombongan anggota yang turun terbagi dalam dua gelombang. grup satu menangkapi semua pria kesebelasan begundal yang berjatuhan di tanah. grup dua menuju arah kami. Rombongan yang ke arah kami kenapa banyak Polwannya ya?? dari Polwan Provost lagi. Padahal gak ada satupun dari penjahat yang kutonjok tadi wanita. Buang-buang tenaga nih kantor.

” Inspektur Febi”, seorang Provost memanggil Febi.

” Iya kalian tangkap saja para begundal yang bergelimpangan itu” kata Febi tenang tanpa menoleh kebelakang.

” Mohon maaf Inspektur, tapi kami diperintahkan oleh Polda untuk menangkap Brigadir Sinta”.

” APA??? NGAWUR PASTI KALIAN?? ATAS PERINTAH SIAPA??”, Febi berbalik badan marah. Dia tampak sangat tak percaya apa yang didengarnya barusan.

Aku masih bengong dengan kelakuan mereka. Siapa yang mau mereka tangkap??.

” Atas nama Kapolda Inspektur, kami harus menangkap Brigadir Sinta”, kata Provost.

” COBA KULIHAT SURAT PERINTAHNYA KALIAN PATI SALAH ORANG”, nada Febi masih tinggi.

” Brigadir Sinta anda ditangkap atas tuduhan terlibat dalam upaya pembunuhan Komisaris Burhan”, tanpa mempedulikan protes dari Febi dua orang Polwan maju untuk membacakan surat perintah.

” Karena anda adalah ” anggota ” kami tidak perlu memborgol saudari selama tetap patuh terhadap jalannya proses penahanan ini”, mereka membacakan hak-hakku dengan cepat.

” Anda ikut kami sekarang”, dua orang Polwan menangkap tanganku dan membawaku menuju mobil tahanan.

” SINTA KAMU JANGAN IKUT.SAYA PROTES TERHADAP PANANGKAPAN INI”, Febi masih emosional berusaha berontak untuk menghampiriku.

Dua orang Polwan Provost berbadan besar menahannya. Kutoleh ke arah Febi masih dengan bingung. ” Sintaa…”, dia memanggil namaku sambil ditahan oleh Provost. dari matanya terlihat linangan air mata. Febi menangis tapi dia tahan semampunya.

” Tenang ya Komandan”, senyumku padanya menenangkan. Meski belum bisa menangkap rangkaian kejadian ini aku berusaha memberikan Febi kedamaian hati. Dia terlalu emosional.

Dimasukkan ke dalam mobil tahanan yang tertutup, aku diapit oleh dua orang di kedua sisi tubuh. Para wartawan mulai datang berlari-lari menuju mobil.

Aku terbengong-bengong di dalam mobil berusaha mencerna situasi. Teriakan para wartawan yang saling bersahutan tidak ada yang bisa kudengar dengan baik. Para Polisi pria yang telah selesai meringkus para perampok, datang menghalau para awak media.

” PEMIRSA, KAMI MENYAMPAIKAN HEADLINE NEWS LANGSUNG DARI LOKASI KEJADIAN. POLISI BARU SAJA MENANGKAP SEORANG POLWAN BERNAMA BRIGADIR SINTA RACHMAWATI YANG DIDUGA IKUT TERLIBAT DALAM PERCOBAAN PEMBUNUHAN TERHADAP KOMISARIS BURHAN”, suara presenter televisi mengagetkan sekaligus menyadarkan lamunanku.

Aku hampir saja dibunuh oleh puluhan penjahat. Berkat ijin Tuhan aku berhasil mengalahkan mereka. Beberapa menit kemudian kenapa malah aku yang ditangkap??. Percobaan pembunuhan Komandan Burhan?? astaga kenapa mereka menuduhku begitu keji.

Sudah ratusan penjahat yang kutangkap dan kubawa ke penjara. Sekarang kenapa malah aku yang dibawa masuk ke penjara. Butiran air mata mulai menetes di kedua mata.

” ngiuuuungg…..ngiiiuuungggg…ngiuuuunnggg”.

” PEMIRSA BISA KITA SAKSIKAN BERSAMA, BAGAIMANA IRING-IRINGAN MOBIL POLISI AKAN SEGERA MEMBAWA TERSANGKA BRIGADIR SINTA MENUJU KE KANTOR POLISI. KAMI AKAN TERUS MENYAMPAIKAN PERKEMBANGAN BERITA INI LIVE AND EKSLUSIVE”, suara presenter itu menjadi suara yang paling tidak enak untuk kudengar.

Bersambung