Polwan S2 Part 5

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Tamat

Cerita Sex Dewasa Polwan S2 Part 5 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya : Cerita Sex Dewasa Polwan S2 Part 4

Sisa malam itu berlalu tanpa terasa. Memenuhi janjinya, Febi mentraktirku makan di warung makan yang masih buka. Sedikit sulit menemukannya karena telah tengah malam, namun akhirnya dapat kami temukan dan cukup menggembirakan hati, karena rasa masakannya enakkk.

Iyalah warung yang masih buka inikan restoran sea food terkenal di daerahku yang buka sepanjang malam sampai menjelang subuh. Menyantap sea food yang bergizi tinggi mampu memulihkan cepat stamina.

Pulang dari resto kami balik kanan menuju kantor. Suasana di kantor dini hari bukannya sepi malahan bertambah ramai. Para wartawan yang mendatangi markas semakin banyak. Terlihat jelas lambang pers mereka yang beberapa diantaranya bertuliskan nama stasiun tv dan media cetak papan atas nasional. Rupanya kejadian sekarang, bukan lagi menjadi konsumsi media lokal semata tapi sudah menjadi isu nasional.

Karena mengendarai mobil preman kami tidak terlihat mencolok dan mudah lolos dari perhatian para wartawan. Meski awalnya menentang, Inspektur Febi terpaksa setuju dengan usulku untuk masuk kantor dengan cara memanjat pagar. Gimana? Pagar yang mana?, jelas donk jawabannya, pager yang tadi kupanjat sebelum dihardik Febi.

Berdua kami saling bantu untuk menjangkau ketinggian pager yang relatif tidak terlalu tinggi. Dengan menundukkan diri aku membantu Febi naik. Kakinya bertumpu pada punggungku agar dapat menjangkau pagar. Setelah terjangkau barulah dia menggapainya dan dengan kekuatan otot punggung melompat ke dalam. Aku sendiri tak perlu bantuan.

Maklum sudah ahli kalo masalah beginian he he. Cukup ambil bangku kecil bekas warung di sebelah, dijejek ringan dan huuuup, aku berhasil menggapai atap pagar, kuungkit badanku naik dibantu kaki dan kedua tangan, akhirnya mendaratlah aku dengan selamat.

” Jago kamu Sin, kalo soal loncat tembok”.

” Ah Komandan, gak keren donk kalo jagonya Sinta hanya masalah pager Doank”.

” Semua diawali dari hal kecil Sin. Awalnya Cuma pager, siapa tau lain waktu jadi hotel dan apartemen”.

” Lho apa hubungannya sama hotel sama apartemen Komandan??”.

” Gak tau Sin, aku udah lelah, jadi ngasal ngomong aja”.

Kami sama-sama tertawa menertawakan kelucuan kami yang sudah kelelahan tapi terus saja memaksakan diri. Febi mengajakku untuk tidur saja di ruangannya. Meskipun awalnya menolak tapi karena dipaksa aku jadi menurut. Ruangan Febi memiliki karpet yang cukup nyaman untuk dibuat rebahan. Berdua kami rebah di karpet itu dengan kelelahan parah dan segera tertidur.

DAYS 4 ; DIGNITY

Pagi itu aku terbangun dengan cipratan air di muka. Febi telah bangun dan tempaknya telah mandi dan bersiap dengan seragam lapangan. Jam berapa ini? Tidurku begitu tak terasa.

” Bangun anak mama! Mandi sana sudah siang”.

” Mmm jam berapa Komandan?”.

” Jam 6 “.

” Komandan sudah mandi??”.

” Udahlah, kamu mandi cepat! Hari ini ada apel besar-besaran diambil Bos besar dari propinsi”.

” Kenapa mendadak Komandan??”.

” Merespon kejadian kemaren Sinta. Udah gak usah banyak tanya mandi sana”.

Menahan rasa sakit kepala sebelah, aku berjalan ke kamar mandi yang terdapat di ruangan Febi. Tidur sejenak kalo dilakukan siang hari enak dan bikin segar. Tapi kalo pada malam hari bisa buat migrain dan mood hilang. Huuufff rasanya lelah sekali.

Cepat aku mandi. Istilah mandi bebek benar-benar kulakukan. Pokoknya yang terpenting semua bagan tubuhku kembai bersih dan segar sudah cukup. Berikutnya kuhanduki tubuhku dan kukenakan lagi pakaian dinas yang telah kupakai dari kemarin. Hiii jorok banget sih kamu Sinta. Ya mau gimana lagi? Pulang gak diijinkan tapi pakaian tidak disediakan.

Keluar dari kamar mandi, kulihat Febi sedang membaca laporan. Sebagai seorang perwira dia memang benar benar memiliki kualitas. Rajin, cerdas, komitmen, dan melindungi anak buah, betapa beruntung aku mendapat Komandan handal seperti beliau.

” Sin, bajumu masih yang kemarin?”, melihatku dia berkomentar.

” Iya Komandan, saya tidak bawa baju ganti”.

” Dalemannya juga yang kemarin?”.

” Siap iya Komandan”.

” Dasar jorok kamu! Ambil baju safari di lemari itu! Ukuran kita sama pasti cukup buat kamu. Dalemnnya juga kamu ambil aja di laci bawah”.

” Mmmmaksuudnya, Sinta pake baju punya Komandan?”.

” Betul Sinta! Cepet deh gak usah banyak mikir! Nanti keburu apel”.

Wah baik sekali aku dipinjami baju. Lemari yang ditunjuk oleh Febi segera kubuka. Di dalamnya begitu rapi dan tertata. Terdapat beberapa baju dinas yang telah siap. Baju safari yang dimaksud Febi juga ada disana dalam keadaan rapi dan wangi. Ada tiga warna tersedia, biru, coklat dan hijau muda. Kuambil yang hijau muda.

Baju safari Polwan itu bentuknya panjang. Biasanya pas badan. Sedikit menonjolkan lekuk tubuh namun tetap memberi kesan elegan. Baju ini biasa dipakai oleh mereka yang memiliki tugas khusus. Itulah sebabnya Febi memintaku mengenakannya, karena situasi yang kami hadapi sekarang dapat dikategorikan khusus dan luar biasa. O ya tak lupa sepasang daleman milik Febi juga kupinjam untuk mengganti milikku yang sudah tidak higienis. Untunglah ukuran daleman Febi juga masih pas untuk kukenakan.

Kupatut diriku di cermin sejenak.

“Mmm mengenakan baju ini kamu jadi makin cantik Sinta”, pujiku pada diri sendiri sambil berlenggak lenggok di depan cermin.

Ketika aku kembali ke ruang utama, Febi sudah berdiri dari bangkunya dan menggenggam senjatanya. Kulirik jam di dinding sudah pukul 6.55. Sebentar lagi bel. Bergerak cepat aku dan Febi segera beranjak menuju lapangan apel.

Perhitungan Febi tepat, setibanya kami di lapangan bel pun berdering.

” kamu gabung dengan pasukan Sin!”.

” Siap. Komandan mau kemana??”.

” Ada satu hal yang aku harus lakukan”, ujarnya langsung berlari ke aula.

Cepat sekali dia mau kemana ya?? Ah sudahlah Sinta Fokus ke apel saja dulu. Karena yang mengambil apel adalah Kapolda, jadi persiapannya begitu serius. Sudah begitu para wartawan ikut juga meramaikan suasana. Dengan kamera serta para penyiar yang mulai on air, mereka betul betul menarik perhatian kami yang memang belum pernah melihat pemandangan para wartawan yang begitu gesit memburu berita.

Banyak dari para Polisi yang harus melayani wawancara live dari wartawan. Untunglah kemarin sudah ada briefing yang menyiapkan kami dalam menghadapi wawancara. Tampaknya jelas ini sudah menjadi berita nasional. Seru juga ya kalo kerjaan kami diikuti kamera terus pagi, siang malam. Rasanya kami akan segera jadi artis.

Akhirnya apel yang ditunggu itupun mulai. Kapolda memasuki lapangan upacara. Dibelakangnya jajaran pejabat tinnggi turut mendampingi lengkap dengan gemerlapan lencana dan tanda pangkat. Jaka terlihat ditugaskan menjadi komandan upacara. Febi sendiri tidak terlihat sosoknya lagi.

Melihat Jaka menjadi Komandan upacara, mengembalikan memoriku tentang sebuah hubungan terlarang. Gimana tidak terlarang sedangkan tidak ada yang megetahuinya, dan kalaupun ada yang tau sebisanya harus dibungkam karena bisa saja berujung skandal. Lihatlah dia sekarang, lengkap dengan pedang di pundak begitu tampan, kuat, dan berwibawa.

” Siaaaaaap Graak!”.

Dari nada suaranya mengandung ketegasan juga ego yang besar. Sudah berulang kali rasanya berusaha kusangkal kekagumanku pada Jaka. Tapi hatiku selalu berkhianat dan kembali jatuh dalam pesona wajahnya yang tampan. Bagi kaum laki-laki memilih wanita biasanya tergantung apa yang dikatakan oleh mata.

Cantik, bahenol, serta seksi merupakan gambaran sosok wanita ideal dari kacamata kaum laki-laki. Untuk wanita berbeda, pemilihan laki-laki tidak hanya ditentukan oleh mata akan tetapi juga oleh pesona laki-laki yang bernama “kharisma”. Tampan dan bertubuh sexy untuk seorang lelaki bolehlah, tapi tanpa kerjaan dan masa depan yang jelas buat kami ya nggak juga “keles”.

Kembali ke apel. Kapolda tampak serius saat memberi sambutan. Dia tekankan tiga hal. Pertama ; janji untuk mengungkap kasus ini secepatnya. Kedua ; instruksi agar kami semua mengerahkan yang terbaik dalam penyelesaian kasus. Ketiga ; harapan kepada para wartawan untuk memberi pemberitaan yang teduh ,tidak simpang siur dan menenangkan masyarakat.

Selesai apel, para wartawan segera memburu Pak Kapolda. Kami para peserta apel dapat kembali ke bagian kerja kami masing-masing. Sebelum kembali aku mencari Febi tapi dia masih tak terlihat. Kemana ya dia. Hmm kubiarkan saja dulu nanti juga Febi akan mencariku sendiri.

” Sinta”, sebuah suara memanggil.

” Siap Komandan Jaka”.

Begitu tampan dia dengan pedang yang telah disarungkan dan sapu tangan putih. Betul-betul sosok laki-laki jantan.

” Kemana aja Sinta? Kemarin aku nyari-nyari kamu”.

” Emm saya ada tugas kemarin Komandan”.

” Papa nyari kamu! Beliau minta aku buat nyari kamu dan ngenter kamu ke ruangannya”.

Wah masalahku dengan Pak Hendri dimulai lagi nih.

” Oo Siap Komandan nanti Sinta akan segera mengahadap Beliau bersama Inspektur Febi”.

” Kenapa harus sama Febi?? Udah kamu ikut aku aja nanti kuantar ke Papa. Ayo!”.

Meskipun malas terpaksa aku memenuhi ajakan Jaka.

” Pakai baju safari kamu makin cantik Sinta”, puji Jaka.

Aku tersipu tak mampu menengadahkan wajah. Sepanjang jalan menuju ruangan ayahnya, Jaka tak henti memujiku dan membuatku ingin menenggelamkan wajahku di kolam saja.

Sesampainya kami dalam ruangan Pak Hendri suasana riuh. Banyak sekali anggota yang sepertinya merupakan anggota tim buru sergap sedang di brifing. Mereka berkumpul lengkap dengan senjata yang terlintang di pinggang. Pak Hendri saja jadi tak terlihat karena tenggelam dibalik lautan tubuh mereka.

“Komandan ijin menghadap”, kata Jaka tegas.

Mendengar suara Jaka para anggota yang tadinya ribut mendadak tenang. Meski pangkat mereka banyak yang diatas Jaka, hubungan darah dia dengan Pak Hendri membuat mereka segan. Melihat Jaka datang sambil membawaku, pandangan Pak Hendri berbinar.

” Sinta sini nak”, ramah sekali sambutan Beliau.

Berdua aku dan Pak Hendri berbincang di luar ruangan. Jaka tinggal di dalam.

Dalam pembicaraan ini awalnya Pak Hendri momohon maaf atas tempramennya yang kurang baik semalam. Dijelaskannya bahwa kondisi genting kemarin telah mempengaruhinya secara emosional hingga sulit berfikir secara rasional. Beliau juga menerangkan informasi intelijen tentang kejadian pada tengah malam antara aku, Febi, dan Tanto. Dari info itu Beliau berterima kasih padaku karena telah membantu memecahkan sebagian besar dari kasus.

Jelas aku bingung dengan segala penjelasan Pak Hendri yang demikian runut. Apa yang telah kubantu hingga beliau harus berterima kasih??. Lantas yang dikatakan dengan; memecahkan sebagian besar kasus itu maksudnya apa?? Aku kok tidak mengerti.

” Jaka! Kesini nak”, Pak Hendri memanggil putranya.

” Siap Komandan”.

” Tolong antar Sinta ke Polda sekarang ya! Ada data yang diperlukan oleh mereka untuk penyelesaian kasus tertembaknya Burhan”.

” Kenapa harus ke Polda Komandan?”, meski jelas sedang bicara dengan ayahnya, Jaka tetap menjaga adab.

” Mereka udah turun tangan Jaka. Kasus ini kategori berat. Kamu kawal Sinta selama di Polda ajarkan dia untuk hanya menjawab poin-poin penting pertanyaan saja!. selepas itu antarkan pulang ke rumah ya, kasian Sinta pasti cape. kamu dapat dispensasi istirahat Sinta”.

” Siap Komandan!”, ujar jaka. ” Siap Komandan terima kasih banyak”, jawabku hampir bersamaan.

Wah perkembangan menarik sepertinya. Aku dipanggil Polda dan dapat kesempatan istirahat sorenya. masalahnya, nada-nadanya aku akan diinterogasi lagi. Tapi sekarang yang mendampingiku Jaka yang ganteng dan bukan Febi. Masalahnya Pak Hendri menugaskan khusus putranya untuk mengawalku, apakah itu tidak berlebihan??.

Hmmm semua pemikiran masih bergelayut dalam pikiran ketika Jaka membawaku dengan mobilnya menuju Polda. Rasanya dianugerahi rasa terima kasih oleh seorang Polisi jempolan seperti Komandan Hendri, atas sesuatu yang aku tidak tau apa, tergolong ganjil.

Bukankah, kata Beliau, aku membantu memecahkan kasus Pak Burhan. Lantas apa yang sebenarnya kubantu??. Hmm apa membawa Febi ke rumahku kemarin merupakan pemecahan masalahnya??. Kalo jawabannya iya, berarti ini ada kaitannya dengan Tanto. Ya betul Sinta kenapa kamu gak pikir dari tadi soal Tanto.

Apakah Tanto inti masalah ini??. Kalo ditarik seperti ini runtutannya, menjadi jelas Tanto yang akan jadi tersangka dan akan diburu oleh tim buru sergap. Lucunya Tanto sendiri merupakan anggota tim buru sergap. Sekarang kalo tim itu ingin menangkap anggotanya sendiri, apakah mereka bisa??.

” Ahhh semua permainan pikiran detektif ini membuatku pusing”, batinku sambil tepok jidat.

” Ngapain?? Pusing? Atau mabuk??”, Jaka berujar.

Astaga asyik berfikir aku sampe lupa ada Jaka disebelahku. ” eeee ggakk kenapa kok Komandan, lagi mikir aja”.

” Mikir apa Sinta??”.

” Mmm soal Polda….”.

Sebenarnya aku juga tegang dengan akan kembali mengalami interogasi. Rasanya pengalaman kemarin malam saja sudah cukup. Bagaimana sih rasanya harus jujur tanpa harus membuat masalah baru?. Dalam ajaran agama kan jelas mana yang hitam dan putih. Sekarang putih adalah kejujuran. Sedangkan hitam adalah kebohongan.

Kemarin aku keras untuk jujur saat pertanyaan ke arah Pak Burhan menjurus Fitnah. Jangan dilupakan aku juga tegas untuk berbohong kala interogasi mengarah ke arah Jaka. Kalo aku jujur kasian dia dengan karirnya yang cemerlang di depan mata. Oooo interogasi betapa bertanya harus kembali manjalani dirimu dan keunikannya.

” Kenapa soal Polda Sin? Kamu grogi??”.

” Iiiiiya Kkomandan ssedikiit”.

” Plek”, tangan Jaka menepuk pahaku. ” tenang ada aku! Percayalah!”, senyum dia begitu manis , ” satu lagi jangan panggil aku Komandan kalo sedang berduaan, seperti kemarin saja panggil “mas”.

” Sssiaap Mass”.

Mas itu panggilan yang aneh. Terdengar akrab juga mesra. Masalahnya hanya boleh diucapkan kalo kami sedang berdua. Jadi kalo di hadapan orang lain panggilanku padanya tetap komandan. Itukan panggilan hirarki atas bawah. Hmm dimana akrabnya? Serta disebelah mana mesranya?.

Jaka cukup taktis untuk melaksanakan perintah ayahnya dengan cepat dan tepat. Dalam waktu singkat kami telah tiba di tujuan. Suasana disini lebih penuh dengan disiplin. Tampak jelas dari kualitas para anggotanya yang penuh dengan tata krama dan protokoler. Lumrah sih, cakupan medan tugas mereka memang lebih luas.

Tanpa membuang waktu, Jaka membawaku ,sesuai perintah, ke bagian divisi kriminal Polda. Disini, aku kembali dimintai keterangan. Bila kupelajari baik-baik inti pertanyaannya berputar ke masalah kemungkinan keberadaan Tanto. Mereka memintaku untuk menyebut “spot-spot” yang biasa didatangi oleh pacarku itu.

Awalnya aku agak berat memberi jawaban dan ingin menutup diri lagi seperti kemarin. Sayangnya disebelahku duduk Jaka. Dia dengan kehadirannya saja sudah cukup untuk membuatku tak berdaya. Strategi Pak Hendri tepat dengan memintanya mengawalku. Setiap Jaka memintaku untuk cerita kepada penyidik aku pasti memenuhinya.

Beragam pertanyaan mulai dari kapan kami mulai pacaran hingga hoby Tanto berhasil digali oleh penyidik. Meski tampaknya aku sudah buka-bukaan, faktanya tetap ada hal yang kurahasiakan. Masalah Pak Burhan dan hubungan terlarangku dengan Jaka tetaplah rahasia. Sampai kapan hubunganku dengannya dikategorikan “hubungan terlarang”?. Bukankah tinggal menunggu kesediaan darinya saja untuk meresmikan status hubungan kami?.

Seandainya saja, aku sendirian kemari bisa-bisa berjam-jam jadinya pemeriksaan yang kujalani. Sekali lagi aku bersyukur dengan kebijakan Pak Hendri. Jaka memang betul-betul berguna. Dengannya rangkaian interogasi yang bisa berlangsung 6 sampai 8 jam diselesaikan hanya dalam 3 jam saja.

” Huff kalo aku diforsir terus dengan pertanyaan berat pasti semua rahasia bisa terbongkar!. Untunglah semua sudah selesai”.

” selesai kan Sinta!”, Jaka berujar.

” Iya mas terima kasih banyak atas bantuannya”.

” Itu sudah tugasku, gimana tadi pengalaman di ruang interogasi??”.

” Deg degan mas. Takut salah jawab”.

Sebenarnya lebih dari itu. Aku takut tidak bisa memperhitungkan konsekuensi dari sebuah pertanyaan dan jawaban. Apa yang akan ditemukan oleh seseorang yang mencari-cari kesalahan seseorang?? Pasti kesalahan. Itulah hakikat sebuah penyidikan yaitu mencari kesalahan. Sekarang gimana kalo yang dicari itu kesalahan dari pegawai yang amburadul sepertiku. Pastinya akan ditemukan berjuta kesalahan.

” Ya yang penting udah lewat Sin ayo kita pulang”, gandengnya ramah.

Selalu tak berdaya aku oleh semua kelembutannya. Dia adalah pria yang luar biasa mempesona. Ketika dia bersikap begitu baik terhadap wanita, hampir dapat dipastikan kaumku akan “klepek-klepek”.

Mobilnya kembali siap untuk membawa kami kembali ke markas. Distarternya mobil itu dan kami mulai beranjak meninggalkan pelataran Polda.

Di dalam mobil Jaka banyak bercerita. Tidak seperti pertemuan sebelumnya dimana dia lebih banyak diam.

Sepanjang perjalanan kami bertemu dengan konvoi anak SMA yang tampaknya baru saja merayakan kelulusan. Mereka berkonvoi dalam kelompok besar sambil berboncengan, berteriak-teriak, dan baju dicoret coret dengan cat. Banyak diantara mereka yang mengabaikan aspek keselamatan berkendara dengan tidak mengenakan helm. Selain itu banyak juga diantara mereka yang mengenakan motor berknalpot racing yang menimbulkan kebisingan. Berhadapan dengan ini Jaka memilih untuk mengemudi dengan lebih perlahan untuk memberi kesempatan mereka melewatinya.

” Sinta “.

” Ya Mas”.

” Mas cinta sama kamu”, ujarnya terdengar sungguh-sungguh.

” Kenapa tiba-tiba Mas??…”.

Jaka menatapku serius. ” Emang gak boleh kalo aku cinta sama kamu Sinta??”.

” Bbbbuukkaan beegittu Masss…”.

Jaka menepikan mobil. Anak-anak sekolah masih berseliweran di jalanan utama.

” Sinta”, dia menggenggam tanganku kemudian menarik tubuhku untuk memberikan ciuman di bibir. Kejutan berikutnya dalam hidupku ; menerima ciuman darinya. Tanpa mempedulikan kaca mobilnya yang tidak terlalu gelap dan anak sekolah yang semakin ramai, dia begitu antusias memberikan ciuman. Menerima semua perlakuan ini, aku hanya bisa terpejam dan membiarkan semuanya mengalir.

Pengalaman dicium olehnya, meski hanya sesaat, merupakan momen relaksasi sekaligus refleksi. Dalama pagutan bibir pria nan tampan dengan karir cemerlang ini, aku melayang dalam sebuah impian memiliki dia sebagai suami.

Juga dalam genggamannya, aku mengistirahatkan semua beban yang terasa begitu berat membebani pundak. Menjadi wanita saja sudah demikian berat masih ditambah sebagai Polisi dengan kerumitan beban persoalan. Aku perlu penyegaran dan ciuman jaka dapat menjadi medianya.

” Maukah kamu menerimaku sebagai kekasihmu Sinta??”, kata Jaka melepas ciumannya.

” Mmmasss….aakuu…….”.

” Praaaaangggggg”, belum selesai jawabanku terucap sebuah batu bata besar telah melayang memecahkan kaca mobil dan menyerempet kepala Jaka.

” Adduhhh aaagggghh”, Jaka mengerang memegangi kepalanya yang tampak mulai mengalir darah segar akibat tertimpuk bata.

Kulihat di hadapanku pelajar yang tadi berkonvoi, rupanya saling bertemu dengan rombongan pelajar lain dari sekolah yang berbeda. Perilaku mereka yang dari tadi memang terlihat ugal-ugalan rupanya memprovokasi kumpulan pelajar lain untuk memberikan serangan.

Tawuran pecah tepat dihadapan kami.

Setumpukan batu mulai beterbangan dan menghantam mobil dan pertokoan. Melukai puluhan orang tak berdosa. Para pelajar ini juga mulai mengeluarkan beraneka macam senjata dari dalam tas maupun dari balik baju. Parang, celurit, gesper berduri, botol, samurai, sampai cincin berduri, kulihat mulai bertebaran di tangan mereka.

Darimana mereka mendapat semua senjata ini??, bukankah mereka generasi muda harapan bangsa yang seharusnya belajar di sekolah??. kalo begini perilaku mereka bukankah mereka belajar untuk membunuh sesamanya??.

Sekilas kupegangi Jaka yang masih mengerang-ngerang histeris. Kuambil saputangan yang kubawa dan kutekankan ke luka sobek yang mulai menganga di jidatnya. ” Dipegang mas, ditekan sedikit, biar berhenti pendarahannya”, ujarku menenangkan. Suasana dihadapanku semakin ” chaos “. Titik konsentrasi tawuran justru terjadi di depan mobil kami. Untuk menghindari mereka semakin brutal dan menghancurkan mobil, aku harus segera keluar.

” Mas tunggu dulu disini ya, Sinta harus bubarkan mereka!”.

” Sinta”, dia menggenggam lenganku, ” Jangan nekad, tunggu bala bantuan saja”.

” Kalo nunggu, mereka bisa mengahancurkan mobilmu Mas, gak apa kok tenang aja, Tuhan pasti menolong Sinta”, kataku menenangkan. Sebenarnya aku juga takut sekali, tapi mau bagaimana lagi, tawuran tepat terjadi didepan mataku dan korban mulai berjatuhan. 50 meter di hadapanku seorang anak sekolah sudah jatuh dari motornya dan mulai dikeroyok dengan demikian brutal.

” Ya Tuhan dengan menyebut nama-Mu tolonglah Sinta, anak dihadapanku ini, dan juga Jaka memerlukan bantuan, tolonglah aku agar dapat membantu mereka”.

Diawali dengan doa, aku mulai membuka pintu dan keluar ke lokasi tawuran. Dihirup dari aromanya saja perang antar pelajar ini tidak menyenangkan hawanya. Bau knalpot motor, beberapa benda yang dibakar, dan bahasa-bahasa kotor yang keluar dari mulut mereka menunjukkan kebinatangan dan kesetanan sifat manusia.

Kenapa kita yang sesama manusia bisa begitu tega menganiyaya. Apalagi mereka pelajar SMA yang seharusnya menyadari bahwa kawannya yang dikeroyok masih memiliki masa depan yang terbentang luas.

Adik pelajar yang jatuh tadi mulai dikeroyok oleh 10 orang. Tidak puas hanya dengan memukuli korban, mereka juga mulai menggunakan senjata tajam untuk menyakitinya. salah seorang yang tampak paling kesetanan kulihat malah bersiap menancapkan sebilah belati ke perutnya.

” Ya Tuhan beri kekuatan tanganku untuk menembakkan pistol ini”.

Sekarang tidak boleh lagi ada kegugupan seperti kemarin. Aku gugup dan tidak bisa mengangkat senjata lagi sama artinya dengan nyawa anak itu melayang.

Dengan cepat kali ini, tanganku meraih gagang pistol, mencabutnya dari sarung, membuka katup pengaman, mengangkat tanganku tinggi ke atas, dan menarik pelatuknya.

” Doorrrrr…doorrrrrr”, dua peluru kutembakkan ke angkasa.

” POLISI HENTIKAN ULAH KALIAN”, ujarku keras. Ketika 10 orang itu mendadak berhenti untuk melihat sumber ledakan, langsung kutodongkan senjataku ke arah mereka untuk menakut-nakuti agar mereka segera meninggalkan korban.

Melihatku hanya sendirian, mereka berusaha melempariku dengan batu.

Aku tak takut.

Tanpa memedulikan batu yang dilempar, aku maju merengsek untuk membubarkan mereka. Melihat polisi wanita yang dilempari batu bukannya takut malahan berlari maju, anak-anak itu ciut nyalinya. Mereka mundur.

Akhirnya aku berhasil, sebelum ada yang berhasil menikam adik itu, mereka semua berhamburan lari.

Segera kulihat keadaannya. Mengenaskan, meski belum terlalu parah, tapi mereka benar-benar sudah membuat adik ini babak belur, bonyok berdarah-darah.

” kamu masih bisa berdiri dik??”, tanyaku. dia mengangguk, ” ayo ikut sama Mbak”, papahku untuk segera mengungsikannya dari jalanan. Adik itu masih bisa berdiri, sehingga dapat segera kubantu untuk memasuki pinggiran jalan dan berlindung di sebuah bangunan. Melihat ada Polisi yang sudah tiba, para warga mulai berani keluar dari rumah untuk menghalau para pelajar.

Titik titik tawuran yang tadinya begitu banyak kini mulai menyusut. Anak-anak tanggung ini mulai kabur dari lokasi. Mereka yang sial, dan tertangkap warga harus kembali babak belur karena dihakimi masa. Aku berkali-kali harus menghentikan warga yang ingin main hakim sendiri.

” BAPAK-BAPAK HENTIKAN SERAHKAN KEPADA KAMI SEMUANYA”, teriakku berkali-kali untuk menghentikan amuk masa.

Untunglah para warga masih menghargai kami dan mendengarkan sehingga tidak ada lagi korban yang harus terjatuh. Suasana berangsur kondusif, apalagi setelah beberapa teman-teman sudah tiba di lokasi untuk membantu mengendalikan suasana. Beberapa pelajar berhasil diamankan dan mulai digelandang. Teman-teman mereka yang berhasil lolos tinggal menunggu waktu saja karena rekan-rekan dari Polantas telah bersiap meringkus mereka di jalanan.

Jaka segera mendapat perawatan dari anggota medis. Kembali kulihat keadaan mengenaskan di hadapanku, puing-puing kerusakan yang harus timbul akibat ulah tangan anak-anak muda.

Apa yang ada di kepala mereka?? meraka bukannya baru saja lulus sekolah. Apakah benar kelulusan harus dirayakan dengan parade penuh arogansi dan kerusakan seperti ini??.

” Huuuff apapun itu, aku bersyukur bahwa Tuhan masih menolongku, coba kamu gugup lagi dan tidak bisa mengangkat senjata Sinta, bisa-bisa adik itu sudah jadi mayat hidup”.

” Brigadir Sinta”, seorang Polisi senior yang baru tiba memanggilku.

” Siap Komandan”, hormatku pada beliau.

” terima kasih atas keberanianmu hari ini, kalo saja kamu gak berani untuk menghadapi anak-anak ini Brigadir, sudah ada korban yang tewas. Ini sudah kali kedua kamu melakukan aksi heroik. Kami sangat berterima kasih”, katanya sambil menjabat tangan.

” Siap sudah menjadi kewajiban Sinta Komandan”, ujarku sambil menyambut jabat tangannya.

Rasanya begitu bahagia bila ada orang yang menghargai usahamu. Mmm aku sendiri juga heran kenapa aku bisa seberani sekarang. Seseorang gugupan dalam beberapa hari ini terus menerus menjadi hero. Aku memutuskan tidak larut dalam kebahagiaan dan berusaha untuk melihat kondisi Jaka.

Dia sedang dirawat serius, kata tim medis kepalanya perlu mendapat 5 jahitan. Sambil meringis-ringis menahan sakit, Jaka juga mengacungi jempol atas tindakanku yang sangat berani. katanya tindakanku tadi nekad tapi begitu spektakuler.

” Tidak ada Polisi lain yang menyerbu seberani kamu Sinta!”, pujinya.

Aku sangat bahagia mendapat pujian dari Jaka yang bagai pangeran tampan . Beberapa rekan Polisi yang baru datang juga ikut menyelamatiku membuatku semakin rikuh. Asal tau aja ya sifat dasarku sangatlah pemalu. Disanjung sanjung orang membuatku justru merasa gamang.

Untuk sedikit menghilangkan diriku dari pandangan, kutemui anak sekolah babak belur yang dirawat oleh tim medis.

” Gimana keadaanmu dik?”, tanyaku.

” Bbbbaiikk Buu “, dia bukan gugup, hanya kesakitan di mulutnya akibat digebukin membuatnya sulit bicara.

” dari sekolah mana kamu??”.

” ssayya darri STMM Bbuuu”.

” Kenapa kamu tawuran??”.

” mmmmmm…”, dia terdiam.

” semoga kamu bisa belajar dari kejadian hari ini ya dik! kamu hampir mati karena tawuran”, kataku sambil membesarkan hati adik itu. Orang tuanya pasti cemas karena kelakuannya. Anak jaman sekarang bertindak tanpa mempedulikan perasaan orang lain.

” Sinta ayo kita pulang!!”, dari Jauh Jaka memanggil.

Aku segera kembali ke tempat Jaka dirawat. Kulihat dia sudah mulai diperban. Setelah dokter malakukan Med Check terakhir, kami diperkanankan pulang. Kutawarkan pada jaka untuk menggantikannya menyetir. Dia menolak. Kaca mobil yang pecah di dekat joknya membuatku kasian kalo dia yang mengemudi. Tapi dia bersikeras untuk tetap menyetir.

” Baru kali ini Sinta, aku melihat wanita seberani kamu”, pujinya.

” Ah Mas biasa aja kok itu sudah tugas Sinta”, jawabku.

” Terima kasih ya Sinta, kalo bukan karena keberanianmu mungkin mobil ini sudah habis dibakar anak-anak itu”.

” Wah Mas ini orang kesekian yang ngucapin terima kasih ke Sinta, gak apa kok mas. Nyantai aja”, ujarku penuh rasa malu.

Kami berdua kembali berjalan dengan mobil yang berjalan tanpa ac. kami tidak memerlukan ac lagi sekarang Karena jendela sudah terbuka lebar. Jaka mengemudi dengan tenang terlihat tidak terganggu dengan balutan perban di dahi.

Sudah empat hari berturut turut aku mengalami peristiwa mendebarkan bagaikan di film action. Ada apa ini Sinta?? kenapa hidupmu jadi begitu seru sekaligus sial?? tampaknya kamu perlu diruwat dulu untuk membuang sial.

Kupikir kami akan kembali ke kantor, rupanya jaka membawaku sekali lagi menuju rumahnya. Melihat pelataran rumah ini sudah cukup membuatku merinding. Masih terbayang jelas bagaimana perlakuan pria ini kepadaku sebelumnya.

” Ahh apalagi yang akan dia lakukan padaku di rumah ini”, batinku. Di halaman sebuah mobil warna merah tampak mentereng terparkir. Milik siapa mobil ini??, apa jaka punya dua mobil?.

Jaka turun dari mobil dan dengan sopan mempersilakanku untuk turun. Kemajuan! dia tidak main seruduk seperti kemarin. Berdua kami memasuki rumah Jaka dengan tenang tanpa keterburuan dan nafsu yang tak terkendali.

Jaka mengajakku untuk duduk di sofa ruang tamu. ” Sinta..kepalaku rasanya sakit lagi”, ujarnya. ” Mana mas coba Sinta lihat”, jawabku sambil mencoba memeriksa luka yang tertutup perban.

Tanganku yang berusaha memeriksa kepala Jaka tiba-tiba ditangkapnya.

” Aku cinta padamu Sinta “, diciumnya bibirku.

Kali ini ciuman itu kubalas dengan penuh gairah. Kami saling berciuman dengan ganas. Aku yang memegang kendali sekarang. Posisiku yang diatas jaka, membuatku mudah untuk gencar menyerangnya. Kuciumi dia sambil tanganku membuka cepat kemejanya. Tangan Jaka rupanya juga tak sabar ingin cepat menelanjangiku. Dua orang yang kelaparan kini saling cabik untuk melucuti busana lawan jenisnya. Sekarang kami sangat buas dan ingin memakan hidangan di depan mata.

Cepat kami berdua kini sama-sama telanjang polos di ruang tamu rumah Jaka. ” Ummmm”, mulut jaka kusumpal dengan ciumanku. Aku pegang kendali. Jaka yang cidera tampaknya kehabisan tenaga untuk mendominasi. Dari mulut ciumanku turun ke leher kemudian dadanya.

Inilah sisi liar dari seorang wanita bernama Sinta. Wanita yang bisa juga dimabuk birahi oleh ketampanan seorang pria kemudian ingin mengerahkan seluruh tenaganya untuk menaklukan pria pujaan hati. Tekuk lutut di sudut kerling wanita. Bait lagu itu tiba-tiba melintas di pikiran.

Dada Jaka yang ditumbuhi bulu-bulu halus tak terlalu tebal kini kugoda. Kupelintir putting susunya yang mungil kemudian kukulum dengan bersemangat. ” Sintaaaaaaaa agggghhhhh”, Jaka mengerang. Jeritannya membuatku tambah bersemangat merangsangnya.

Tanpa melepas cumbuan dan cubitanku diputingnya, tanganku yang satu kuarahkan ke pusarnya. Kucolok pusar nan menggemaskan itu kemudian kutekan-tekan ritmis dan kukelikitik. ” agggghhhhhh”, jaka histeris menjambak rambutku. Lucu melihatnya kegelian namun tak sanggup tertawa. Bagaimana dia bisa tertawa sedang rangsanganku begitu nikmat.

Berhadapan dengan seranganku yang cepat dan bertubi tubi Jaka semakin kelejotan. Kurasakan dengan pahaku rangsanganku berhasil. Jelas kurasa, pahaku mulai bergesekan dengan sebuah tombak kejantanan yang tegak berdiri. Tanganku yang sedari tadi mengeksplore dadanya kualihkan menyentuh perutnya yang ramping. Kubelai perut itu dan kuraba pinggangnya untuk merangsangnya. Terlihat dari ekspresinya Jaka semakin menggila.

Dari perut aku terus turun untuk menyongsong hidangan utama. Sebuah penis sexy dengan kemampuan tegak sempurna. Sangat senang aku memandang penis ini, yang dirawatnya dengan baik dan memangkas habis rambut jembut disekelilingnya. Warnanya yang coklat mulai berwarna kemerahan karena aliran darah yang deras mengalir. Ujung penisnya yang berwarna lebih terang juga begitu menggarairahkan karena tak henti berdenyut menandakan ia siap meledak kapan saja.

” Ahhhh….uhhhh…. ahhhhhh”, kaget aku karena mendengar dari kejauhan suara orang bersenggama. Suara apa itu? apakah Jaka memutar film porno dirumahnya sendiri?? tapi diakan bersamaku sedari tadi?? suara apa itu??. Meski penasaran aku berusaha cuek. Jaka juga terlihat tak terganggu.

Karena birahiku juga mulai membuncah, kukulum penis itu dengan penuh gairah. ” Sintaaaaa fuckkkkkk babyyyyyy”, racau Jaka sambil menjambak rambutku. Posisinya yang duduk di sofa memudahkannya untu melihat sebuah seni. Iya seni kenikmatan dimana seorang wanita memberikan segalanya agar dia terangsang. Disibaknya rambutku sehingga semakin membuatnya mampu melihat keindahan pertunjukan dengan aku sebagai pemain utama. Mulutku yang mungil dan sexy maju mundur memberinya sensasi oral.

Kupandang wajahnya yang merah padam dari bawah. Oooh melihat seorang pria ngos-ngosan seperti ini membuatku tembah semangat. Sambil tetap memberikan oral mulai kukangkangkan lebih lebar kedua kakinya. Kubelai dengan kedua tanganku pahanya yang ditumbuhi bulu lebat namun halus. Begitu sexy Jaka dengan kedua kaki yang terkangkang lebar dan kedua buah zakar yang begitu segar.

Kurogoh kantung zakar itu untuk semakin menambah sensasi. ” Hisaaap….hisaaap Sinta”, bisik Jaka memintaku cepat menghiap kantungnya. Aku tidak mau terburu-buru. tanganku malah masuk jauh ke dalam celah pantatnya dan menggelikitik celah antara lubang anal dan buah zakar yang ditumbuhi rambut kemaluan. Kutekan tekan area perbatasan itu dan kucabuti perlahan satu helai jembutnya.

” Hoooooogggghhhhhh Fuckkkk”, Jaka histeris. ” Sintaaaaaaaaa”, dia semakin menjerit jerit mendapat permainan tangan dan hisapanku yang semakin dalam.

” Huuuuuuuggggghhhh”, Jaka melenting saat apa yang diinginkannya tadi sekarang kupenuhi. Dengan kuat kuhisap habis biji pelernya bergantian. tanganku kunaikan agar bermain di putingnya menambah sensasi.

” Ooouuuugggghhhh”, gerakan jaka semakin brutal dan mencengkram apapun di sofa.

” Aku mauuu keluaaaaarrrr Sintaaaaa”, Jaka histeris ketika semua rangsangan yang kuberikan hampir mencapai klimaksnya.

Melihat dia menjemput ejakulasi. Aku naik turunkan semakin cepat mulutku. Cubitanku diputingnya kugantikan dengan pijatan di buah zakar. Mendapat totalitas layanan seperti ini Jaka meledak.

“…..oooooggghhhh oooohhhhhhh”, Dengan wajah yang tak mampu lagi kulihat, Jaka mulai menyembur. Tubuhnya semua bergetar. Tidak ada satu jengkal dari tubuhnya yang tidak ikut bergoyang. Kubantu dengan mengelus halus pahanya agar kenikmatannya dapat dikeluarkan semua.

” Crrrooottt….crrrooottt…..crrrrooot”, lebih dari tiga semprotan menyembur di mulutku. Langsung kutelan sampai habis tak tersisa. Kata temen-temen menelan sperma ada khasiatnya. Aku tak tau apa manfaatnya, tapi aku senang menelan sperma. rasanya bisa buat aku awet muda.

” hahhh….hahhh….hahhhhhh”, Jaka terengah-engah. ” Nakal kamu ya!” ujaranya kepadaku , ” ayo kita pindah main di dalam kamar, kubales kamu”, lanjutnya. Digendongnya aku dengan tangannya yang kuat untuk memasuki ranjang kamar tidur. Penisnya yang masih belepotan sisa sperma tampak menarik perhatian saat dia menggendong.

” Huuupppp”, dilemparnya tubuhku di atas ranjang. ” Sebentar Sinta!! Kamu udah buat aku ngecrot, sebagai balasannya aku akan buat kamu gentian ngecrot!! kamu benar-benar nakal”, kata jaka yang kini tampak mencari sesuatu dari lemarinya untuk membalasku.

” nah ini dia, come on baby lets play he he he”.

” Hummmmmm”, sambil menindihku di atas ranjang dirinya langsung menciumku.

tangannya yang kokoh memegani kedua tanganku dan membawanya ke atas. Rupannya dia telah menyiapkan dua buah borgol yang tadi diambilnya dari lemari. Segera dia borgol kedua tanganku ke sudut ranjang sehingga aku terkunci.

“……”,tak bisa berkata apa-apa aku hanya memandang penuh nafsu ke arah Jaka.

” Sekarang kamu yang akan aku buat ngap-ngapan Sinta”, jaka langsung menyerang leherku.

” Agggghhhh masssss”, aku menjerit saat merasakan dari bawah vaginaku seperti dimasukan sesuatu. ” He he tahan sayang gak sakit kok, mas masukin vibrator dulu ke memekmu biar kamu tambah bergairah” , ujar jaka sambil memasukkan vibrator getar berukuran jempol ke dalam vagina.

Vibrator itu bergetar hebat dengan getaran yang berubah-rubah. Getarannya itu benar-benar membuatku gila. Baru pertama kali ada yang memasukkan alat ini ke kelaminku. Alat ini begitu pintar bergetar di spot-spot yang paling merangsang.

” Agggghhh….aggggghhhh….aggggghhhhh”, aku terus mendesah tak kuat menahan sensasinya. ” ha ha ha benar Sinta teruslah mendesah”, Jaka tampak begitu senang melihat keadaanku. ” Masssss apa yang ka….muu….aggggghhhhh”, aku terpejam. jaka rupanya menciumi ketiakku yang terbuka lebar karena tanganku terangkat. Ketiakku yang putih bersih dilumatnya dengan liar.

” Aroma ketekmu wangi Sinta, sexy lagi..slllrrggggg”, jaka menggigit. ” Addduuhhh aggghhhh”, aku semakin kelejotan. Tangan jaka bermain bebas memompa payudara. Diserang seperti ini aku mengalami orgasme pertama. ” masssss sintaaaa dapetttttt uuuuuuuhhhhhhh”, aku menjerit. Vibrator itu bergetar tepat di sebuah titik yang langsung membawaku klimaks.

Jaka tidak mengehentikan jilatannya di kedua ketiakku dia malah semakin mempercepat hisapannya. aku terlunjak-lunjak hebat selama beberapa menit dengan vibrator yang masih asyik bergetar.

” ahhahh..hahhh…hahhhh”, baru reda rasanya badai itu, Jaka kembali menyerbuku kali ini putting susuku yang dimakannya. ” Huhhhh….uuhhhh….ahhhhhhh “, ngos-ngosan aku bersusaha mengimbangi semua permainan jaka. tanganku yang terborgol membuatku tak berdaya dihantam kenikmatan bertubi-tubi.

sambil me “nete” jaka membalas perlakuanku di sofa. tangannya mengubek-ngubek pusarku dan menusuk nusuknya perlahan. ” ammmpuuuuuuun masssssss”, aku tak tahan lagi dengan semua sensasi ini dan mendapat orgasme kedua dengan cepat. membantuku mengeluarkan orgasme kedua jaka mencabut vibrator di bawah dan menggantinya dengan jarinya yang mengocok keluar masuk vagina.

” hagggghh…agggghhh…hagggggggH”, aku benar-benar lupa daratan. Terlunjak lunjak histeris selama beberapa saat untuk kemudian kembali rebah. Orgasme ini begitu spektakuler.

” massss berhenti dulu mas…. ampun…. istirahat dulu……”.

” He he he gantian cantik…kamu tadi membuatku ” muncrat ” di sofa. sekarang kamu yang aku buat ngecrot”. jaka memberikan pelukan.

Sangat baik dia untuk sejenak memberiku rehat. Tidak dipaksanya tubuhku, tapi dibiarkan merasakan nikmatnya sensasi orgasme. Dia peluk tubuhku dan diciuminya mesra.

” ahhhh….aaahhhh…fuccckkkk….fuccccckk”, suara orang bersenggama itu semakin jelas terdengar. suara apa sih itu??. Kehidmatan “post” orgasmeku dengan Jaka sangat terganggu dengan suara desahan itu. Kayak suara film porno tapi begitu nyata.

” masss suara apa itu??”, tanyaku dengan nafas yang masih terengah.

” Husshh gak usah dipedulikan Sinta, yang penting kita nikmati permainan kita”, jawab jaka kembali menjilati ketiakku. ” ahhh massss geliiii”, aku kegelian. ” Ketiakmu sexy dan wangi sekali Sinta, mas jadi ketagihan “, jaka terus menciumi ketiakku.

” Tokkkk…tokkkk…tokkkkk….JAKA BUKA!!!”.

Akuu terkejut sekali saat mendengar ketukan pintu dan suara seorang pria.

” Masssss ssiaaaapppaaa???”, aku panik.

” Brengsek..dia ganggu lagi”, jaka tampak kurang begitu terkejut tapi sangat terganggu.

” Masss.. jangan dibuka pintunya. Sinta masih bugil mas. Lepasin dulu borgolnya..”, aku gelisah hebat karena masih terikat di ranjang. Tidak seperti di mimpi kemarin, dimana aku bisa segera mencari sesuatu untuk menutupi ketelanjangan. Dalam posisi terborgol, aku hanya bisa terlentang pasrah.

Tanpa memedulikanku Jaka bangkit untuk membuka pintu. Celaka mau ditaruh dimana muka ini kalo ada yang melihatku seperti ini.

” Ngapain sih lu Doni ganggu aja??”, Jaka menghardik sumber suara.

Aku berusaha mamalingkan wajah tak kuasa menahan malu.

” Udah lu diem aja Jack, gue mau ngeliat cewe baru lho”, kata sumber suara.

” Kenalin nih si Icha pacar baru gue”, si cowo misterius bergerak mendekatiku.

” agggghhhh masss sakitttt”, lho kok ada suara cewe juga yang mendesah. jangan-jangan yang sedari tadi mendesah suara cewe ini.

Penasaran aku palingkan wajahku ke arah sumber suara. ” hai cantik”, seorang cowo tinggi kekar kulihat sedang menggendong seorang wanita yang tingginya jauh lebih kecil darinya. Hyper sekali mungkin cowo ini karena sambil menggendong penisnya tetap tertancap ke vagina cewe yang tak henti mendesah dihadapanku. Dengan tangannya yang kuat dia naik turunkan pantat cewenya agar naik turun di penisnya.

Ini pertama kalinya aku melihat persetubuhan terjadi dihadapanku. Begitu vulgar dan tanpa sensor.

” Gila Jack, she’s a sex goddess man, lu dapet dimana?”, katanya. ” aaaggghhh aaahhhh ahhhhhh”, si cewe tetap meraung-raung.

Apa jaka sudah terbiasa main seks ramean??. Pertanyaan ini berkecamuk di kepalaku melihat pemandangan pria dan wanita yang tiba-tiba muncul ini. Ada rasa malu, jijik, juga sensasi aneh yang muncul dalam diri tapi semua kutepikan.

Tantri pernah cerita, dulunya jaka ini playboy sekaligus praktisi kehidupan bebas. Apakah saking bebasnya hidupnya dulu sampai dia suka sex orgy??.

akhh aku gak tau. tapi buatku aku sangat terganggu sekali dengan kemunculan mereka. Bermain cinta buatku sama dengan keintiman. Kalo suasanya rame-rame begini aku malah jadi ill feel.

Tapi bagaimana ya caranya berontak?? aku terborgol sekarang. Muslihat apa yang dapat kulakukan agar Jaka segera melepaskanku??. Pokoknya kalo tangan ini bisa bebas apapun yang terjadi aku akan segera kabur dari sini.

Bagaimana ya pikiranku yang lemot caraku untuk lolos dari para pelaku orgy ini??.

Karena pikiranku lemot aku tidak berfikir dengan cara wanita lain. Mereka pasti menjerit atau meronta ronta bila berhadapan dengan kejadian kayak gini. Aku sudah dapat pelajaran dari pendidikan, para pemerkosa atau pria kelainan justru tambah terangsang bila korbannya berteriak-teriak. Aku sudah terikat sekarang bila aku teriak mau jadi apa?? mau tambah diperkosa sama mereka berdua?? bisa jadi bertiga kalo si cewe ikut-ikutan.

Tenang Sinta pikirkan cara untuk lolos.

” Aha”, sebuah ide menghampiriku. Kucoba saja cara ini.

Kutatap wajah si cowo dengan penuh gairah. Pemandangan dia yang menyetubuhi cewenya kukesankan begitu membuatku terkesan sekaligus horny.

” Shiiit she is hot”, kata Doni ketika pandangan kami bertemu. Dilepasnya gendongannya pada cewenya, dan dia melangkah ke arahku dengan penis tegak mengacung dan berlendir.

” Cantik”, dipegangnya daguku, ” mau rasain maen sama abang??”, langsung diciumnya bibirku. ” Hussshh minggir lu Don jangan ganggu gue sama Sinta”, Jaka terlihat emosi melihatku disentuh Doni.

Dihalau tapi merasa kuinginkan, Doni kembali menyerbu kali ini Jaka didorongnya kemudian dia mengulum payudaraku.

Entah apa hubungan orang ini dengan jaka. tapi Jaka diam saja saat didorong. Alih-alih mengadakan serangan balasan khas laki-laki, dia malah tak mau kalah untuk juga mengenyot putting susuku yang satunya.

” Ahhhhhh fuuuuckkk”, aku mendesah sambil mengeluarkan kata kotor. Meski semi sandiwara dikenyot dua orang benar-benar membuatku merinding.

” Sexy bener keteknya cewe lu jack”, Doni mengusap-ngusap ketiakku.

” Aggggghhhh shhhiitttt fuuucckkkk”, aku kembali meracau ketika mereka berdua secara bersamaan menghujani ketiakku dengan ciuman dan jilatan.

Rasanya aku mengalami orgasme ketiga dengan serangan dua orang laki-laki ini. Untuk memuluskan aktingku memang aku berusaha masuk dalam permainan mereka. kalo mau jujur permainan dua orang cowo di tubuhku memang memberi sensasi maksimal. Apalagi yang diserang memang bagian tubuhku yang sensitive. Tapi semua tetap kutahan. Meskipun meledak aku hanya terjungkit sedikit tanpa membuat gerakan yang berlebihan.

Tangan Doni meremas payudaraku , mulutnya tetap menjilati ketiak. Sedangkan jaka di sisi sebelahnya.

Akhirnya Jaka Merasa terganggu dengan kehadiran Doni. Melihatku terus dijamah , jaka emosi dan mendorong untuk kali kedua temannya itu.

” Cukup!!! sana aja lu, garap cewe lu itu! jangan ganggu gue ama Sinta”.

Merasa kalah Doni berkata, ” ya udah gue maen di kursi ya”.

Ketika dia berlalu, kutatap mata Doni sambil mengerlingkan mata menggodanya. Mataku seolah bicara bahwa aku menginginkan kehadirannya.

Doni termakan umpanku. Ketika kujulurkan lidah untuk makin menggodanya, dia seketika meraih tubuh pacarnya yang bernama icha kemudian langsung digarapnya secara brutal.

” ahhhh ahhhh ahhhhhhh”, icha mendesah desah seperti artis film porno.

seolah tak mau kalah, meskipun tadi habis ejakulais Jaka berusaha memulai pompaannya di vaginaku dengan penisnya yang belum ereksi maksimal. Melihat Doni mengocok pacarnya cepat, ego Jaka terkena. Dia juga memompaku dengan begitu cepat. sayang penisnya yang semi ereksi membuatku tidak merasakan apapun.

” ahhhh fuccckkk masss enakkkk terusssss”, aku pura-pura meracau tak mau kalah dengan pacar Doni.

Doni yang melihat reaksiku tampaknya iri dengan kemahiran jaka dan ingin menunjukkan kebolehannya yang lain.

Dihadapan kami dia cabut penisnya kemudian dikangkangkan lebar kaki pacarnya. Setelah itu tangannya dengan dua jari mengocok cepat ke vagina pacarnya.

” ooowww babbyyy youre gonnna make me sqqqquuuiiirrrtttt”, jerit Icha tidak tahan dengan rangsangan Doni. Tak lama dikocok Icha rupanya bisa menyemburkan air kenikmatan dengan deras. ” cuuurrr….cuuurrr…cuuurrr”, terlihat dimataku dan jaka bagaimana vagina Icha menyemburkan air dibarengi tubuhnya yang terus mengalami kejang-kejang.

Melihat itu aku terkejut. Ini pengalaman baru sekaligus bahan buatku untuk menyentuh ego jaka.

” Masss Siiintaaa jugaaa mauuu dibuaaat kenccingg gttuu”, rengekku.

Mendengar rengekanku Jaka segera mencabut penisnya dan mulai meniru apa yang dilakukan Doni.

” aaaaggghhh Maasss buat Sinta kencing masss…..”, aku menjerit penuh harap, seiring dengan makin kencangnya tangan jaka mengocok liang vaginaku.

“………………………….”, kering tak terjadi squirt.

usaha pertama jaka gagal. Tidak ada air apapun yang memancar dari vaginaku. jaka terlihat sedikit kecewa kemudian mencoba lagi.

sampe merah padam kini wajahnya sekuat tenaga berusaha mengocokku dengan sekencang-kencangnya.

Apakah berhasil?? tidak Jaka kembali gagal. Tidak ada air apapun yang nyembur.

” Ckkkk”, aku menampakkan raut wajah kecewa, yang kuperlihatkan dihadapan Doni. Menangkap sinyalku Doni maju ke arah kami.

” Gini Jack caranya biar gue tunjukin”.

” jangan macem-macem deh lho udah urus aja tuh cewe loe”.

” Mass…gak apa dia nyoba. Sinta pengen bisa kencing gtu mas”, rengekku.

Mendengarku berujar seperti itu Jaka tak berdaya. ” He he minggir jack biar laki-laki sejati yang maju”, kata Doni dengan arogan.

” He he cantik gimana aroma vaginamu” diciumnya vaginaku, ” oooowwwww”, aku mendesah. ” hhummm kamu punya memek yang bagus “, dipegang celah vaginaku. ” merah merekah dan sehat, kamu bisa nyemprot kenceng nih babe”, goda Doni. ” aahhhh masss jangan lama-lama ayao bikin Sinta kencing”, rajukku.

” he he minta dulu donk manis”, syaratnya.

” mmmmas Doni tolong buat Sinta ngecrit”.

” yang keras babe!”.

” BUAT SINTA NGECRIT MASSS OOOOH”, jeritku.

” He he siap-siap cantik”.

dari kejauhan kulihat jaka sangat kecewa sekali dengan kelakuan temannya.

Dengan mahir dipijat perutku oleh Doni. Diurut-urut perut itu ke arah rahim. Tekanannya sangat pas. rasanya dari dalam perutku semua cairan seperti dipijat agar terpusat ke area pembuangan.

ada sekitar lima menit dia memijatku sambil melumasi vaginaku dangan rangsangan-rangsangan yang lihai. Kemudian mulai dicoloknya vaginaku dengan dua jarinya kemudian mulai dikocoknya seperti yang tadi dia lakukan.

” Liat ini jaka loe akan liat cewe lho berubah jadi ahli squuuuirrrtt”, dia mulai mengocokku dengan jari terarah ke arah g-spot.

” aaaahhhhh…..aaaahhhh…aaaahhhhhh”, aku melintir mlintir terangsang hebat.

” haaahhhh”, dicabutnya jarinya dari vaginaku.

“…………………”, Sayangnya tidak terjadi apa-apa. Tidak setitik cairanpun yang keluar.

Aku menampakkan raut wajah kecewa.

” don’t wory babe. kita coba lagi”.

kembali dia mencoba untuk mengocokku kencang sampe wajahnya juga berubah merah padam sendiri.

” agggghhhh agggghhhhh makeee meee sqqquiiirttt maassss”, aku mengejang.

“…………………………..”, kembali kering.

Sayang kocokan kedua juga nihil. air tetap tak keluar.

” hhahh…hahh…hahh..”, sambil terengah-engah aku kembali menampakkan wajah kecewa.

” Maass mungkin tanganku harus dilepas borgolnya baru bisa squirt”, kataku pada Doni.

” haahh o ya tanganmu diborgol toh babe. Lupa aku. makanya kamu gak muncrat-muncrat. Jack buka borgolnya cepet biar aku tunjukin ke kamu kejantanan laki-laki yang sejati”.

” Iya iya gue buka”, kata jaka malas-malasan.

Siapa sih Doni ini sehingga bisa nyuruh-nyuruh jaka kaya begini??. Aku masih misteri dengan sosok ini. yang jelas Jaka salah bergaul dengan orang ini. Betapa pergaulan yang tak baik bisa merusak kita.

Jaka mulai membuka kunci borgolku yang kanan kemudin yang kiri.

Saat jaka melepas kunci borgol terakhir dia agak membungkuk. Disaat yang sama dengan sigap dan mematikan kugunakan kepalaku untuk menyundul rahangya.

” hhhaaaaaggghhh”, disosok tepat di dagu membuat jaka terkejut sekaligus pingsan tak sadarkan diri.

Aku tak peduli lagi siapa yang kusundul itu. yang jelas buatku sebagai atasan dia-benar-benar membuat kecewa.

Doni yang masih bingung dengan apa yang terjadi juga segera kusodok dengan pukulan ” upper cut” tinju tepat mengenai rahangnya.

” aaaaaauuugggghhhh ffuuucckkk bbbiitttcchhhh”, dia mengerang-ngerang pilu.

Pacarnya yang melihat lakinya kusodok ikut maju.

” massssssss”, jeritnya sambil berusaha menyerangku.

Tanpa berpanjang gerak, siku tanganku langsung maju menyongsong wanita yang menyerbuku ini dan langsung menghantam hidungnya.

” kreeeek”, bunyi hidung patah memilukan terdengar.

Icha menjerit-jerit.

Kuabaikan dia dan melangkah ke Doni.

” hhu huuu huuu my chinnn bitchhh”, dia masih memaki saat lehernya kupegang dengan tangan.

” mau bikin aku squirt mas??” kataku masih dengan penuh sopan santun, ” squirt itu aku yang menentukan bisa nggaknya, BUKAN KAMU!!”, langsung kutinju lagi dia dengan jab dan membuatnya tak sadarkan diri.

Kutatap jaka Komandanku itu dengan kasian.

sayang padahal kalo kamu mau yang normal normal saja kita bisa melakukan hubungan yang panas hari ini. Kenapa kamu bergaul dengan orang tidak jelas seperti Doni ini??.

Kembali kukenakan baju safari yang telah tercecer di ruang tamu. Aku tidak peduli siapa yang barusan kutonjok yang jelas harga diriku terselamatkan hari ini. hanya laki-laki sejati yang dapat memperlakukan wanita dengan baik. Laki-laki yang mengijinkan temannya untuk menyentuh tubuh wanitanya, atas nama persahabatan, fantasy seksual atau apapun itu layak disodok sampai pingsan.

Siapa itu Doni?? apa hubungannya dengan Jaka?? tidak jadi soal buatku. yang jelas mereka sudah pingsan semuanya.

Dengan percaya diri aku melangkah keluar.

Bersambung