Polwan S2 Part 4

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Tamat

Cerita Sex Dewasa Polwan S2 Part 4 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya : Cerita Sex Dewasa Polwan S2 Part 3

NIGHT BEFORE DAYS 4 ; BERCINTA DENGAN MAUT

Siapakah Komandan Burhan sebenarnya?. Ini jadi pertanyaan paling dibicarakan di Markas. Desas desus, gossip, sampai takhayul, tiba-tiba merebak ke permukaan. Bertentangan dengan kebiasaanku untuk sedikit berfikir dan stay positive, teman-teman justru teralu negative melihat sosok pak Burhan.

Ada yang menyebutnya mata keranjang , suka daun muda , sampe penjahat kelamin. Namun pada dasarnya gossip sangatlah mengganggu penilaian orang akan sesesorang yang dimaksud. Aku sangat yakin tidak ada satu sifat pun dari yang digosipkan oleh mereka mampu menggambarkan sosok beliau yang sebenarnya.

Penilaianku sendiri, Pak Burhan adalah sosok yang baik. Pertemuan kami sebenarnya hanya berlangsung singkat dan misterius. Namun hal tersebut sudah cukup untuk membuatku berfikir yang paling baik tentang Beliau . Kata orang, dedikasinya pada pekerjaan membuatnya ditinggal cerai oleh istrinya delapan tahun lalu.

Saat masih bersama istrinya, Pak Burhan merupakan figur pria normal yang perhatian terhadap keluarganya. Baru sepeninggal istrinya, yang tak tahan dijadikan istri kedua (istri pertama adalah pekerjaannya) Beliau mulai berubah.

Sebenarnya di lingkup kerjaan, karir dan prestasinya untuk mengungkap kasus kejahatan masih salah satu yang terbaik. Bersama Komandan Hendri, Beliau merupakan salah seorang Polisi paling jenius. Mereka berdua berkali-kali masuk televisi untuk memberikan sebuah analisa ahli akan kasus kriminalitas.

Sayang hubungan mereka akhirnya berkembang menjadi rivalitas sengit. Persaingan mereka berkembang tidak hanya di karir kerjaan tapi juga menyentuh ranah pribadi.

Kejatuhan karir Burhan dimulai ketika dia bercerai dengan sang istri. Gosip mengatakan, perceraiannya menjadi objek rekan kerjanya yang iri dengan kejeniusan dan karirnya yang cemerlang untuk membuatnya jatuh. Maklum saja di dunia Kepolisian, karir seseorang biasanya berjalan beriringan dengan keharmonisan rumah tangga.

Terjadinya ketidakharmonisan dalam rumah tangga akan membuat karir seseorang dalam bahaya. Pak Burhan adalah salah seorang diantaranya.

Begitu jatuh surat keputusan cerai dari pengadilan, ikut terjun bebaslah karir cemerlang yang selama ini telah dirintisnya selama bertahun-tahun. Kejatuhan karir Beliau beriringan dengan melonjaknya karir pak Hendri (ayahnya jaka) yang mulai saat itu bersinar sendirian.

Dari sinilah sifat Pak Burhan berubah. Markas besar mencopotnya dari jabatan bergengsi dan memutasinya ke jabatan kering. Menghadapi kenyataan itu, Beliau berubah menjadi sosok yang begitu emosional, serampangan dan penuh rasa frustasi. Yang paling parah dari semua ini, dia juga berubah menjadi figur komandan cabul dan rajin menggoda para Polwan anak buahnya yang memiliki paras cantik dan sexy .

Puluhan sifat-sifat jahat yang mulai dipupuknya ini segera saja mendekatkannya pada dunia kejahatan bawah tanah. Bukankah sifat jahat akan menarik sifat jahat lainnya, dan sebaliknya sifat baik akan membuat sifat baik yang ada disekitarnya mendekat. Pak Burhan telah memilih untuk berputar haluan menjadi sosok jahat. gayung bersambut, para mafia kejahatan menangkap perubahannya ini dan mulai mengajaknya bersekutu.

Bertahun-tahun Burhan berkecimpung ke dalam dunia kejahatan bawah tanah dan mulai memiliki pengaruh. Keluwesannya bergaul dengan para bos mafia, germo, mucikari sampai gembong narkoba kelas kakap di provinsi kami, justru membuat karirnya kembali diperhitungkan. Lebih dari sekali, Markas besar harus memohon-mohon bantuannya untuk mengungkap kasus kejahatan misterius yang begitu sulit dilacak.

Akhirnya setelah sempat dibuang dan dikucilkan, karena pengaruh dan pemahamannya tehadap dunia kejahatan begitu membantu kinerja kepolisian, Markas besar kembali mengangkat Beliau untuk sebuah jabatan bergengsi yang dijabatnya hingga tertembak secara misterius malam ini.

Manusia memang ditakdirkan memiliki benang nasib nan misterius. Tepat dikala pak Burhan sepertinya memutuskan untuk berubah ( dari jahat menjadi baik kembali), dua buah peluru menembus tubuhnya dan membuatnya tergeletak di dalam ruang kerjanya. Siapa yang melakukannya? apakah bunuh diri atau ada seorang penembak misterius?.

Semua pertanyaan itu masih menjadi awan gelap yang menambah pekat selubung hitam kebingungan. Namun ditengah kekalutan, patut dipuji penanganan taktis tim forensik untuk segera mengungkap peristiwa sebenarnya. Bukan hanya telah berhasil menemukan selonsong peluru yang menembus tubuh Pak Burhan, mereka juga telah menemukan sejumlah petunjuk yang dapat dipakai untuk memecahkan kasus.

Tim forensik telah melakukan semua prosedur yang diperlukan untuk melakukan identifikasi awal untuk menemukan motif peristiwa. Semua kejahatan dapat diungkap berdasar motif. Oleh karenanya upaya menemukan motif pelaku biasanya adalah hal pertama yang mesti dilakukan.

Bagaimana dengan kondisi Komandanku yang malang? Berkat kerja keras semua anggota, tubuh Pak Burhan telah dilarikan ke rumah sakit. Ketika tubuhnya yang berdarah-darah melintas, semua anggota dihalau, hingga hanya sedikit orang yang dapat melihat bagaimana kondisinya.

Dari beberapa teman yang dapat menyaksikan tubuhnya diangkut ke ambulance didapat informasi kalo Pak Burhan masih hidup. lapisan lemak yang tebal di tubuhnya rupanya telah menolongnya, hingga peluru gagal menjangkau titik vital yang dapat membunuhnya seketika.

” Syukurlah Beliau masih hidup”, ujarku penuh rasa syukur.

” Hei Sinta kenapa kamu mesti repot-repot bersyukur ? toh sebentar lagi dia akan mati dalam perjalanan”.

” Wahai pikiranku yang usil, hidup atau mati itu bukan urusanku. Itu milik Tuhan. Sekarang Beliau masih bisa bernafas saja adalah sebuah karunia yang begitu besar. Belajarlah banyak-banyak bersyukur wahai pikiran agar hidupmu bisa menjadi tenang”. nasihatku pada diri sendiri.

Suasana kantor tetap mencekam. Semua anggota yang masih berada di kantor saat kejadian, dikumpulkan dan di briefing oleh seorang pejabat. Kami semua diinstruksikan tetap tenang dan tidak bergosip yang tidak-tidak sampai tim forensik dapat mengumpulkan semua fakta-fakta kejadian.

Dalam rangka menghindari kesimpang siuran informasi, kami juga diharamkan untuk memberikan informasi apapun kepada para awak media yang akan segera tiba. Seorang pejabat dalam bidang kehumasan telah disiapkan untuk memberi informasi yang terbaik dan meneduhkan kepada para wartawan.

Habis di briefing, kami semua kemudian diminta untuk berkumpul di sebuah ruangan aula agar mudah dipanggil bila dibutuhkan. Juga, kami tidak diperkenankan pulang hingga waktu yang belum ditentukan. Wajar sih kami diperlakukan seperti ini. Posisi kami yang masih berada di kantor pada saat kejadian, membuat kami adalah objek pesakitan. Maksudnya, objek yang bisa saja dijadikan saksi, atau yang terburuk bisa saja dikaitkan dengan kejadian bila terbukti terlibat.

Sebagai barisan objek pesakitan, perlakuan terhadap kami juga berbeda. Untuk menuju aula saja kami dikawal oleh dua orang provost dengan sebuah perintah tegas; untuk mengawasi setiap gerak gerik kami.

Dengan dikawal dua orang pria tinggi tegap, digiringlah kami untuk berkumpul disebuah aula kecil kantor. Kami tak tau mau harus ngapain di sini. Palingan kami hanya bisa ngeriung dan mengobrolkan kegentingan situasi.

Terlihat dari raut wajahnya, teman-teman tetap tidak bisa menyembunyikan rasa terkejutnya terhadap apa yang baru saja terjadi. Dalam sejarahnya, kantor kami baru kali ini mengalami kejadian heboh dan berdarah-darah. Meskipun rekan kerjaku sudah biasa menangani kejadian seperti ini, huru hara yang terjadi di dalam rumahnya sendiri tetap membuat mereka syok.

Ramai dibicarakan tentang kemungkinan demi kemungkinan. Apa yang sebetulnya terjadi?. Betulkah Pak Burhan mencoba bunuh diri??. Adakah orang yang tidak suka dengannya dan menembaknya??. Kalo betul iya siapa yang berani menembaknya di dalam ruangannya sendiri yang dipenuhi kami para polisi?. Trus kalo memang ada penembaknya, kok bisa tidak terendus sama sekali?.

Dua opsi itu ; bunuh diri dan penembak jitu menjadi fokus pembicaraan. Sambil bersila di tengah ruangan aula, masing-masing dari kami, dengan spesialisasinya masing-masing berusaha menganalisa. Aku sendiri hanya bisa terbengong-bengong mendengar semua argument yang bersileweran.

Sebagian bisa kucerna, banyak diantaranya yang tak dapat kumengerti. Buatku yang terpenting pak Burhan masih hidup. Bukankah kalo hidup, Beliau bisa menceritakan dengan pasti apa yang sebenarnya terjadi?.

Bunuh diri merupakan salah satu kemungkinan. Banyak diantara kami yang menimbang motif bila memang opsi ini yang terjadi.

“Pak Burhan stress karena karirnya mentok”, kata seseorang rekan.

” Bukan dia takut karena dikejar mafia akibat kelakuannya sendiri, jadi memutuskan menembak dirinya sendiri”, kata yang lain.

” kebanyakan main cewe sih dia jadi ilang kewarasannya”, kata orang yang kayaknya benci banget dengan sosok Burhan.

Dari pengalamanku bersama Beliau, khususnya waktu di boutique kemarin ada sisi positif dari Beliau yang bisa diambil. Dengan mata kepala sendiri kulihat, bagaimana seorang tukang parkir sangat berterima kasih dengan kebaikan pak Burhan. Rasa terima kasih itu menunjukan bahwa Beliau sebenarnya masih memiliki hati.

Tindakannya waktu dinikahan Tantri memang menunjukkan libidonya yang tak terkendali, namun esoknya saat dia tinggal menjentikan jarinya saja untuk bisa menikmati tubuhku, secara mengejutkan justru tidak dilakukannya.

Semua kejanggalan perilakunya membuatku berfikir bahwa ada sesuatu yang baik dengan Pak Burhan. kejahatan dan kebaikan memang berjalan beriringan dalam tubuhnya. tapi kuat perasaanku mengatakan bahwa kebaikanlah yang tampaknya mulai unggul, sebelum peluru itu berusaha merenggutn nyawanya.

Kemungkinan kedua adalah penembak misterius. Untuk topik ini kami benar-benar berdebat hebat. Ada yang berpendapat tidak mungkin ada orang yang berani. Sedangkan yang lain mengatakan ada. Dan kalaupun ada pelakunya kuat kemungkinan dari kalangan kami sendiri, yang telah mengetahui selak beluk kantor.

Rasanya semua argument ini membuatku kunang-kunang. rangkaian kejadian beberapa hari ini, betul betul membuatku mual. Ditiduri jaka, menangani demonstrasi secara sembrono, Pak Burhan memergoki Jaka dan menamparnya telak dihadapanku, penyiksaan Tanto, sampai menghadang peluru dengan nekat, semua terjadi dalam tiga hari yang begitu singkat. Apakah kebetulan kalau semua harus terjadi ketika Tantri tidak ada?.

“Waduh Sinta kalo kamu tidak segera cari makanan untuk dimakan bisa-bisa kamu segera ko’id”, batinku.

Perutku begitu keroncongan. Makanan terakhirku adalah bubur ayam tadi pagi. siang aku lupa makan. Sore mau makan sepulangnya dari kantor malah jadi begini, tertahan tak bisa kemana-mana, para wartawan telah datang berkerumun dengan kamera dan video recordernya.

” Udahlah Sinta, nekad aja kayak tadi, persetan sama wartawan, kita nekad makan aja dulu di penjual nasi goreng depan kantor untuk mengisi perut”.

” Coba bayangin Sinta, nasi goreng kambing yang disajikan lengkap dengan sambal terasi dan kerupuknya mmm begitu nikmat. ayo Sinta kabur aja”, desak pikiranku.

” mmmm ayo deh siap udah lapar juga nih” jawabku mengiyakan.

Maka berjalanlah aku untuk meninggalkan teman-teman yang masih asyik berdebat di aula. Diam-diam saja aku melipir minggir meninggalkan mereka semua.

” mau kemana Brigadir??”, suara anggota Provost yang berjaga di depan aula mengagetkan.

” eeee mau ke toilet dulu senior”, jawabku sekenanya saja.

” Ya sudah jangan lama-lama!”.

” Terima kasih senior”.

Kembali aku berjalan mengendap-ngendap di pelataran markas. Aura kantor sendiri masih mencekam. rasannya anyir darah pak Burhan begitu menyengat tercium keseluruh ruangan.

” hanya satu bau yang bisa mengalahkan bau darah. Apalagi Sinta kalo bukan bau nasi goreng cak Man depan kantor. Hmm, rasa aroma nasinya sudah mengundangmu untuk datang dan menyantapnya dengan lahap. Ayo cepat kita keluar dari sini dan makan nasi goring itu”, suara pikiran terus memprovokasi.

Sudah lama aku kerja disini, jadi hafal betul lika liku jalan tikus yang dapat membawaku keluar dari sini. Boleh saja pintu depan ditutup, tapi toh aku bisa manjat pagar buat keluar he he he.

Senyap aku melintasi ruangan kantin kantor yang telah tutup di bagian sayap kanan kantor. Sayang sekali kantin ini hanya buka sampe sore, kalo saja sampe malam kan gak perlu kayak gini. Dari arah kantin, aku melangkah cepat tak sampai 50 meter jauhnya dari sana untuk menemukan tembok berukuran tidak terlalu tinggi yang bisa mengeluarkanku dari kurungan kantor.

” Huuuppp”, aku melompat dengan kaki kaki kanan ikut meraih pinggiran pagar. Sangat berpengalaman dalam bidang loncat meloncat pagar aku tinggal selangkah lagi menuju kebebasan sebelum sebuah suara menghardik.

” SINTA!!”, hardik Inspektur Febi, yang berhasil memergokiku.

Aku beku mematung. dalam posisi memanjat pagar, kepergok oleh Komandanku sendiri.

” CEPAT TURUN! ATAU KULEPAS ANJING PEMBURU BUAT NGEJAR KAMU!”.

” Ssiiaaap Komannndan”, mendengar anjing pemburu disebut aku jadi gemetar dan langsung melompat kembali masuk dalam pagar. Anjing Polisi besar-besar badannnya makannya aja daging daging segar yang sering lebih bergizi dari yang dimakan oleh manusia.

” MERANGKAK KAMU DARI SANA KE SINI SINTA!! SITUASI GENTING BEGINI KAMU MAU KABUR LAGI!”.

Patuh dan ketakutan langsung saja kubaringkan tengkurap badanku, dan merangkak sambil menyeret seluruh badanku. Berat lho harus merangkak tengkurap begini, minimal tanganmu harus kuat agar bisa menjadi tumpuan buat menyeret badanmu ke depan.

” Bangun kamu!”.

” ssssssiiap Kkkkomanndan”, jawabku gugup.

” Keterlaluan nakalnya kamu ini!” Inspektur Febi bicara dengan nada yang lebih lembut,

” kalo tidak kayak gini situasinya, aku akan suruh kamu lari keliling kantor ini sampe elek”, ancamnya sambil menggeleng-gelengkan kepala.

” sekarang kamu ikut aku ke ruangan Komandan Hendri kamu dipanggil!”.

Sedikit kasar aku dipaksanya ikut. Meski kondisiku semi digelandang tetap ada dua hal yang ingin kutanyakan padanya.

Pertanyaan pertama ; ” Ijin Komandan kok bisa tau Sinta mau keluar lewat pagar?”.

” kamu udah lama jadi anak buahku Sinta! tetek bengek soal kamu aku udah hapal!”.

Ok itu pertanyaan pertama, coba pertanyaan kedua ; ” Ijin lagi Komandan, kalo boleh tau ada apa ya Komandan Hendri manggil Sinta??”, tanyaku dengan lebih penasaran. Bukan apa-apa ya, selama tugas disini gak pernah aku dapat kehormatan dipanggil sama Komandan setenar Pak Hendri.

” Gak usah banyak nanya dalam situasi kayak gini!”.

” Siap Komandan”, jawabku dengan lemas. Alasan lemas dan gontaiku bukan karena tidak mendapat jawaban memuaskan darinya tapi karena belum makan. Aduh nasi goreng, padahal rasa gurihmu sudah menyeplak di lidahku, tapi dasar nasib aku malah ketangkap.

Bicara soal Komandan Hendri, tau tidak beliau ini merupakan figure yang sangat ingin medapatkan menantu Tantri. Namun sayangnya dia gagal karena Tantri lebih memilih Alex. jabatannya adalah Kepala Divisi Kriminal di Polres. Dia merupakan rivalnya Pak Burhan.

Di kantor, kejeniusannya dalam memecahkan kasus sangat tersohor. Semua orang memujanya. Hanya sedikit yang mengkritiknya, mereka kebanyakan dari barisan simpatisan pak Burhan, yang masih menganggap jabatannya selayaknya milik pak Burhan.

Ada apa ya aku dipanggil olehnya? sepanjang karirku di Kepolisian hampir tidak pernah aku dipanggil olehnya. Beliau hanya tertarik dengan pegawai dengan potensi kecerdasan otak yang tinggi seperti Tantri. Untuk polisi kurang begitu cerdas sepertiku, bisa dipanggil olehnya adalah sebuah mimpi yang jadi kenyataan.

” Tokk…tokk..took”, Inspektur Febi mengetuk ruangan.

” Mohon ijin Komandan, Brigadir Sinta menghadap”, lanjutnya sambil memberi penghormatan. sangat protokoler sekali Komandan Febi ini.

” Makasih Febi”, jawab suara dari dalam ruangan , ” masuk Brigadir Sinta! kamu juga masuk saja Feb, temani Bapak”, sambungnya sambil memanggil namaku dan Febi.

Bergegas aku masuk ke dalam untuk menemui Komandan Hendri. Beliau tengah duduk di meja kerjanya dengan begitu serius. Raut kecerdasan memang memancar jelas dari wajah Beliau. Benar kata Tantri, selain begitu cerdas, Beliau juga ganteng. Menatapnya mengingatkanku pada ketampanan jaka yang begitu memukau.

” Sinta duduk!”.

” Inspektur Febi, benar ini Sinta anak buah anda?”, tanyanya langsung kepada Febi. ” Betul Komandan”.

” Kalian berdua duduk dulu”, tunjuknya agar kami duduk di depan mejanya.

” Ok Bapak langsung saja. Sinta kamu tau kenapa kamu Bapak panggil?”, tanya Komandan Hendri, dengan nada seorang penyidik tegas dan langsung tertuju ke sasaran.

” Sssiiiiaapp bbbbellum ttau Kkoo..mmandan”, aku tergagap lagi, menerima serangan awal.

” kamu tidak boleh gagap lagi Sinta! kamu harus punya keyakinan”, terngiang jelas instruksi Pak Burhan ditelingaku yang menegurku karena gagapku waktu di boutique.

” Tenang Sinta! jangan gugup”, lanjut pak Hendri tenang sambil mengambil satu gelas air mineral,

” minum dulu ini, cobalah relax”, perintahnya. Tanpa menunggu segera kuseruput air mineral yang ditawarkan hingga habis tak tersisa.

” haus kamu?”, tanya Pak Hendri lagi kini dengan senyum.

” Tidak Kommmandan”, jawabku mulai bisa menghilangkan gagap, akibat teringat nasihat pak Burhan.

” gak haus, tapi Itu kayak bocor air minummu Sinta”, terusnya dengan senyum, membuatku jadi malu sendiri.

” Ok kita bicara serius Sinta”, ujarnya sambil mengenakan kacamatanya,

” kamu bapak panggil, karena bapak menangkap ada kaitan kejadian ini dengan kamu…”, ujarnya sambil menatap curiga ke arahku, “..terkait dengan tertembaknya Burhan, maaf Komandan Burhan, maksud bapak”, ralatnya. Dari nada suaranya tergambar betapa keras persaingan antara mereka berdua.

” Kenapa saya dikait-kaitkan Komandan?” , tanyaku penasaran.

” Insting Sinta. Sudah puluhan tahun bapak menangani situasi kayak gini, insting bapak jarang salah. Baiklah bapak akan jelaskan sama kamu biar ngerti. kenapa kamu terkait? ada tiga jawaban. Pertama; Saksi mata dari anggota melihat kemarin sore di Kantor, Burhan berjalan pulang bersama kamu”. mendengar ini aku jadi deg-degan.

” Kedua ; malamnya, tetanggamu melihat Burhan mengantar kamu ke rumah dinas” , aku semakin deg-degan dan putus asa,

” dan ini yang harus kamu jawab, sebab ketiga ; dimalam yang sama, empat rumah disebelahmu, mendengar kamu menjerit-jerit seperti dianiyaya”, Pak Hendri mengambil nafas sejenak, ” coba kamu jelaskan satu-satu!”, ujarnya tenang tapi menusuk.

Aku termenung dalam kebimbangan. Bagaimana menjelaskan semua ini. Dia begitu diteil. Bahkan penganiyayaan Tanto di rumah rupanya terdengar oleh tetangga. Sebagai Polisi, ini untuk pertama kalinya aku mengalami dienterogasi oleh atasan sendiri. Dan yang mewawancarai bukan Polisi sembarangan tapi yang terbaik. Bagaimana bisa begitu cepat dia mengaitkan semua ini?. Kualitas Komandan Hendri memang betul-betul handal.

” mmmmm”.

” Silakan dijawab Sinta”.

” Eeeeeeee”, aku masih bingung harus dimulai dari mana menjawab tiga pertanyaan maut.

” Komandan Hendri mohon ijin”, Inspektur Febi menyela, ” Sinta ini anak buah saya, ijinkan saya untuk bicara sebentar empat mata dengannya, agar beliau lebih kooperatif dalam penyidikan”.

” Ok Feb. tapi gak usah pake empat mata segala! kamu cukup bicara disini saja, dihadapan bapak”, jawabnya tegas.

” Siap Komandan”, jawab Febi dengan patuh,

” Sin! kamu dengar ya, tolong bantu Komandan Hendri dalam wawancara ini! kamu jangan malu-maluin pembinaanku sebagai Komandanmu!”. Inspektur Febi bicara begitu lugas memintaku kooperatif.

” Siap baik Komandan”.

” Bagus Sinta!”, Komandan Hendri memotong.

” Feb terima kasih”, katanya pada Febi.

” Ayo kita mulai lagi! gimana Sin pertanyaan pertama soal pertemuanmu sore kemarin dengan Pak Burhan?”.

” Siap Komandan, betul kemarin sore saya diajak pulang bareng Komandan Burhan”.

” Pernah kamu diajaknya pulang bareng sebelumnya Sin??”.

” Belum Komandan”, jawabku.

” kenapa sore itu dia ngajak kamu?”, kejar Pak Hendri.

” Mmm..”, aku agak terhenti karena teringat nanti kalo aku jawab pertanyaannya, bisa-bisa jaka malah tersangkut dan yang paling kutakutkan, kalo itu terungkap, skandal diantara kami akan terbongkar.

” beliau mengajak saya karena motor saya mogok kemarin Komandan”, asal aku menjawabnya.

” Mogok??”, tanyanya tak percaya.

” Betul Komandan”. Pak Hendri tampak menerawang mencari celah dari jawabanku tadi.

” Jam berapa dia nganter kamu pulang dari kantor??”, tanyanya lagi.

” mmmm, saya lupa persisnya Komandan. Tapi saya pulang sehabis mengawal demonstrasi”, jawabku.

” Berarti jam 16 kira-kira?”, posisi duduk Pak Hendri kini maju seperti telah menemukan sesuatu.

” Bukan Komandan”, bantahku.

” Lho katamu tadi sehabis pulang ngawal demo?? semua pasukan sudah pulang jam 15.30 Sinta”.

” Mohon ijin menyela Komandan”, Inspektur Febi kembali menyela. Pak Hendri mengangkat tangannya mempersilakan Febi untuk bicara.

” Ijinkan saya menerangkan, adalah betul Sinta mengawal demo kemarin, tapi dia tidak ikut pulang bersama rombongan”, Febi membantuku, aku jadi tambah simpati dengannya.

” lho kenapa Sinta terpisah dari rombongan Feb??”, heran pak Hendri kelihatannya.

” Iya karena Brigadir Sinta saya minta untuk mengantarkan para korban terlebih dahulu ke rumah sakit komandan”.

Komandan Hendri mengangguk. Fakta baru buatnya ini segera ditulis.

” Ok Sinta, lantas kamu pulang jam berapa kemarin sama Burhan?”, kembali dia mengejarku.

” Febi! kamu cari bukti otentik kalo benar Sinta kemarin kamu suruh ke Rumah Sakit! sekarang!!! bapak tunggu!” perintahnya kepada Febi.

Sebagai penyidik handal yang telah banyak makan asam garam, jelas terlihat dia tidak gampang percaya pada sebuah laporan. ” Siap segera saya ambilkan Komandan”, Febi segera menghambur keluar ruangan untuk mengambil data.

” Jawab Sinta!”, matanya menatap lekat. Tinggal berdua saja dengannya aku jadi makin grogi.

” Selepas jam 19 Komandan seingat Sinta”. Ditulisnya lagi jawabanku.

” Kemana dulu kalian??”, tanyanya tampak mulai kurang sabar.

” Tidak kemana-mana Komandan”. Dia mencocokan data di dua kertas.

” Jangan bohongi bapak Sinta”, matanya tampak melotot sekarang.

” Mohon ijin Komandan”, Febi kembali datang. Selaannya berkah yang besar buatku yang telah terpojok.

” ini salinan laporan yang ditulis Brigadir Sinta kemarin sore di RSUD, di cap dan ditandatangani oleh Dr. Ilham, seorang dokter di RSUD”.

Dengan tekun Pak Hendri memeriksa tiap laporan yang aku tulis.

” hmmmm”, dia berpikir. ” Kita rubah cara kita bertanya dan menjawab ya Sinta. Sekarang jawab singkat saja setiap pertanyaan bapak dengan jawaban ; ya atau tidak. Bisa dimengerti?”.

” Siap mengerti Komandan”.

” Kemarin sore kamu pulang bareng Burhan?”.

” Ya komandan”.

” Malamnya Beliau mengantar kamu ke rumah dinas?”.

” Ya Komandan”.

” Habis itu dia menganiyaya kamu didalam rumah dinasmu sendiri?”.

“…….”.

” Sinta!!”.

” Siap Komandan”. Jawabku gemetar. ” Ya atau tidak saja jawabannya Sinta!”, tegasnya.

” Tidak Komandan”.

” kamu yakin tidak terjadi penganiyayaan oleh Burhan sepulangnya dia mengantar kamu?”, tanyanya lagi.

” Siap tidak Komandan”, jawabku dengan nada pasti,

” Komandan Burhan tidak pernah melakukan kekerasan apapun terhadap saya”, jawabku agak bergetar karena emosional Pak Burhan telah dituduh begitu.

Hening sejenak.

” Baik. kita masuk pertanyaan berikutnya, tetap jawab saja ya atau tidak Sinta”.

” Siap Komandan”.

” Pak Burhan mengajak kamu ke hotel?”.

” Tidak Komandan”.

” Dia meniduri kamu??”, pandangannya tajam kali ini.

” Tidak Komandan”, keras jawabanku.

” Dia memaksa meniduri kamu di rumah dinasmu??”.

“SIAP TIDAK KOMANDAN”, jawabku dengan nada tinggi.

Hening.

” Minum dulu Sinta!”, pintanya untuk meredakan situasi yang memanas di ruangan ini.

” Siap Sinta tidak haus Komandan”, jawabku masih jengkel karena terus diarahkan seperti ini.

” Plek” Febi menepuk bahuku. ” Minumlah dulu” teduhnya sambil menusukkan sedotan ke air mineral dihadapanku. tampaknya Febi telah menyadari bahwa emosiku naik gara-gara dituding seperti itu.

” Komandan Hendri mohon ijin, tampaknya Sinta berkata jujur mengenai hal itu”, belanya.

” …………..”, Beliau tidak menjawab.

” Ceritakan dulu apa yang sebenarnya terjadi malam itu Sinta!”, ujarnya lembut tapi membawaku menuju babak interogasi baru.

” kenapa kamu berteiak-teriak kesakitan malam itu sampai terdengar jelas oleh para tetangga?”.

“…………………….”, aku bungkam.

” JAWAB BRIGADIR SINTA! INI PERINTAH!!”, hardik Pak Hendri dengan nada tinggi.

“…………………….”, aku tetap bungkam dan menunduk tak mau menjawab.

“JAWAB!”, pak Hendri mulai berdiri dan melangkah ke arahku.

” AYO JAWAB!!”, kembali dia berteriak lantang.

” Komandan”, Inspektur Febi menengahi,

” Mohon ijin ! Sinta Cuma perlu waktu menjawabnya. jangan ditekan seperti dia adalah tersangkanya”, kembali Febi membelaku.

” ………………..”, Pak Hendri terlihat menarik nafas dalam-dalam berusaha meredakan emosinya yang membuncah.

” Ya sudah kalian berdua keluar dari ruangan saya!”, perintahnya.

” Kamu gali info dari Sinta ini Feb! kalo sampe besok dia tidak mau buka mulut, bapak akan perintahkan dia untuk ditahan, karena menghambat penyidikan”, ancamnya.

” Siap Komandan! kami mohon ijin! Besok Brigadir Sinta pasti akan memberi jawaban terbaik buat Komandan”, janji Febi.

Berdua kami hormat penuh respek pada pak Hendri dan serempak balik kanan.

Febi kemudian mengajakku untuk bergerak ke aula kecil tempatku tadi berkumpul dengan beberapa rekan yang bernasib sama. Dia tidak banyak bicara kali ini, dan hanya terfokus ke satu titik tujuan. sayangnya aku belum mengetahui apa titik itu.

” Komandan”, ujarku memecah kebisuan,

” terima kasih sudah membela Sinta tadi”.

” Ssst itu tugasku. Selain itu sebagai wanita dituding seperti itu tentu sangat menyakitkan”.

Febi terus menggeretku masuk ke aula. ” Hmm mana ya bapak itu?”, tanyanya. ” Bapak siapa komandan?”, ujarku. ” Nah Itu dia pak Didin”. Hah kenapa komandan Febi ingin bertemu pak Didin ada apa ya?.

” Pak Didin mohon maaf mengganggu” ucapnya. ” ya Bu Febi dan bu Sinta, ada apa Bu?? saya sudah boleh pulang ke rumah sekarang??”, tanyanya. ” Mohon maaf Pak Didin boleh minta waktu sebentar saja ada yang perlu kami bicarakan”, ajak Febi agar kami melipir ke sudut yang sepi.

” Ada apa ya Bu?”, tanya pak Didin bingung.

” maaf ya Pak, yang pertama bapak belum boleh pulang. yang kedua pak Didin saya mau bertanya ; Sinta ini tetangga anda bukan ??”, tanya Febi terus terang. Astaga kenapa aku telat menyadari, rupanya febi masih berusaha mengorek keterangan tentang kasusku, tapi dengan cara mewawancara langsung tetangga sebelah rumah.

” betul Bu”, liriknya kepadaku. ” ada apa ya??”.

” Tolong ceritakan apa yang bapak dengar kemarin malam dari rumah Sinta Pak!”, mohon Febi. Sekilas tatapan pak didin bertemu denganku. Tak berdaya aku hanya bisa pasrah menundukkan wajah.

” Bu Sinta maafkan saya ya kalo ikut campur urusan daleman rumah ibu”, buka pak Didin. ” betul Bu Febi, malam kemarin saya mendengar Ibu Sinta mengerang-ngerang kesakitan beberapa kali disertai bunyi dentuman keras, seperti terjadi pemukulan”.

” Pak Burhan yang melakukan itu Pak Didin?”.

” Bukan Bu!. Pak Burhan hanya mengantar bu Sinta saja. Kenapa saya bisa yakin?? karena saya sempat berpapasan dengan mobil Pak Burhan waktu dia hendak kembali pulang dan Bu Sinta sudah masuk ke dalam rumah”.

” lantas bapak punya gambaran siapa yang kira-kira menganiyaya Sinta?”.

Pak Didin kembali menatapku iba. ” Tanto bu”, ujarnya pelan.

” Tanto pak??”, Febi terdengar gusar.

” Iya Tanto. Jujur Bu, ini bukan pertama kalinya terjadi keributan di rumah Sinta. Dulu kalo Tantri tidak ada di rumah, sering sekali mereka berdua ribut yang berujung jeritan dari ibu sinta. apalagi sekarang tantri sudah pindah, Tanto sepertinya jadi semakin bebas melakukan tindak kekerasan terhadap Bu sinta. tapi….”.

” Lanjutkan pak, tolong!”, mohon Febi.

” Ibu Sinta ini punya sifat penyabar yang besar. Dia bisa bersabar selama ini pacaran dengan orang yang terus menganiyayanya. saya beserta istri selalu salut dengan ketabahan Bu Sinta selama ini menghadapi Tanto. kalo bu Febi gak percaya omongan saya coba tanya orang satu kantor ini tentang perilaku Tanto!”.

“Mmm saya percaya sama Pak Didin. terima kasih ya Pak. Informasi dari bapak sangat berarti. Sekarang ijinkan kami undur diri ya pak!. Ada tugas segera yang kami berdua harus lakukan”, ijin febi.

” Bu Sinta”, kata pak Didin kepadaku,

” maafkan saya ya”.

Aku tersenyum. Beliau tidk bersalah apapun.

Febi membawaku masuk ke dalam kamar mandi wanita di Polres. Kemudian mengunci pintunya dari dalam.

” Tanto mukulin kamu selama ini?”. tanyanya.

” siap tidak Komandan”, jawabku tetap berusaha menutupi prilaku Tanto.

” Ayo sinta, bantu aku! ngaku sajalah demi kebaikanmu sendiri”, himbau Inspektur Febi kepadaku.

” Siap tidak Komandan”, aku masih berusaha menutupi. Febi terlihat menggeleng-geleng tak percaya dengan kekerasan hatiku.

” Baiklah Sin, kamu maksa aku. Tindakan ini harus dilakukan”, ujar Inspektur Febi dengan raut tegang.

” Buka bajumu Sinta, kamu resmi digeledah karena kamu berusaha menutupi penyidikan! surat penggeledahan akan segera dibuatkan, tapi karena gentingnya situasi, itu bisa menyusul, sekarang copot bajumu”.

” Kkkoomanndann”, aku gelagapan, kalo baju ini dilepas bekas lukaku pasti terlihat jelas.

” Cepat!!!!”.

Akhirnya dengan hati yang berat kulepas pakaianku. Begitu terbuuka bajuku, segera saja raut muka Inspektur Febi berubah. Dia menedekatkan wajahnya ke kulitku untuk melihat kengerian akibat bekas cambukan di kulit perut, pinggang dan sebagian payudaraku.

” Luka apa ini Sinta?? masih coba menutup-nutupi??”.

” Saya kepeleset Komandan”.

” Kepeleset??”, disentuhnya luka yang masih segar di kulitku.

” sampe kayak gini lukanya Sinta??, kepeleset kayak apa sampe bisa kayak gini ck ck ck”. Febi menggeleng-gelengkan kepalanya, sambil menatapku lekat,

” kamu diam saja mendapat penganiyayaan seperti ini Sinta?? jangan seperti ini, aku komandanmu, penganiyayaan seperti ini tidak boleh dilakukan kepada satu orang pun dari anak buahku”, ujar Inspektur Febi dengan nada yang agak emosional,

” pakai bajumu ikut aku! kita akan kejar Tanto!”, ujarnya cepat sambil melempar kembali bajuku untuk kukenakan.

” Kkkooomannndannn??”, gagapku datang lagi.

” GAK USAH BANYAK OMONG! PAKE BAJUMU SINTA! TANTO GAK BAKAL LOLOS AKU JAMIN ITU!!”.

Bersegera aku mengenakan kembali seragamku dibawah pengawasannya. ketika baju telah terpasang Febi segera mengayunkan tangannya sebagai tanda agar aku mengikutinya.

Segalanya kembali terjadi dengan kecepatan yang begitu tinggi. Inspektur Febi menarikku untuk naik ke mobil preman sambil membawa senjata lengkap laras pendek miliknya. dia tampak tegang sekali di dalam mobil. Suasana malam yang telah memasuki tengah malam, membut jalanan sepi. Febi menginjak gasnya maksimal.

” mauu kemana kita Komandan??”.

” Ke rumahmu Sinta!”.

” Kenapa ke rumahku Komandan??”.

” Gak usah banyak nanya”, kesal dia sepertinya. ” Siapkan senjatamu! kalo naluriku benar Tanto akan kembali ke rumahmu”.

” kenapa dia kembali ke rumah dinasku Komandan??”.

” karena Tuhan selalu membuat seorang penjahat kembali ke tempat dia melakukan kejahatannya Sinta”.

Aku merenung mendapat ilmu darinya. Sangat cerdas Komandanku satu ini.

Masalahnya ada satu hal yang tak dapat ditawar-tawar lagi dan sangat mengganggu. Aku sudah begitu lapar dan lemas. rasanya seluruh tubuhku kini telah mengeluarkan keringat dingin karena mengalami kelelahan akut. Untunglah kecepatan Febi membuat kami segera tiba di rumah dinas.

Berdua kami segera keluar dari mobil dan bergerak senyap tanpa berusaha membangunkan para tetangga yang pasti sudah terlelap. Seperti di film action, kami mengitari rumah terlebih dahulu untuk memastikan jejak Tanto.

Kewaspadaan kami begitu tinggi. febi menyuruhku menggunakan senjata. Dia yang masuk ke pintu rumahku duluan. rumah dinas yang tak terlalu besar ini, membuat kami segera mampu mensweepingnya. Sejauh ini aman. Tanto tidak terdeteksi. Tinggal dua kamar lagi. Kamar Tantri dan kamarku.

” Buka kamar Tantri dulu Sin!” perintah Febi.

Segera kubuka kamar itu. Aman. Tidak ada tanda-tanda kamar ini pernah dimasuki orang sepeninggalnya Tantri.

” Sekarang kamarmu!”, kubuka juga kamarku dengan cepat namun tetap waspada. Juga aman. Sepertinya dugaan Febi salah Tanto tidak kembali kesini malam ini.

” Hmmm”, Febi menarik nafas panjang.

Di kamarku hanya ada sedikit perabotan. hanya ada lemari baju besar, kasur, dan kaca rias, serta beberapa fotoku selama dalam pendidikan. mata Febi menyapu seluruh ruangan. Dia menuju ke foto kecil ukuran postcard yang ada di meja rias. dia lihat foto yang memajang kemesraan antara aku dan tanto.

Mmmm aku kok lupa menutup lemari baju ya. Ujarku melihat lemari baju yang sedikit terbuka. Febi masih serius menatap foto. aku bergerak untuk menutup lemari baju yang terbuka.

” Jebret”, pintu lemari itu tiba tiba menghantam badanku, untung saja tenganku sedikit terlentang didadaku sehingga pintu lemari yang tiba tiba terbuka itu masih dapat tertahan tidak mengahantam telak ke wajah.

Tanto keluar dari lemari menyerbu dengan buas. Dia mendorongku hingga terlempar menghantam tembok. aku langung rebah. Tenagaku sudah betul betul habis. Terbentur tembok kepalaku membuatku langsung tak berrdaya.

Febi yang kurang siap karena sedang teralihkan fokusnya, segera diseruduknya dengan tenaganya yang kuat sehingga pistolnya lepas dari genggaman. Febi berusaha berontak tapi dua pukulan telak Tanto di wajah dan perutnya segera membuatnya pingsan tak sadarkan diri.

Puas menghantam Febi. Dengan begitu arogan Tanto melangkah ke arahku. Dengan sombong dan penuh kemenangan dikangkanginya aku. Tanganku yang berusaha melawan langsung ditangkapnya dan dibawanya terentang tak bisa kemana-mana.

” Mmmmmm”, aku berusaha berontak, tapi Tanto langsung membungkam mulutku dengan ciumannya.

” hhheeeeeggghhh”, aku berusaha melepas ciumannya.

Dikatup mulutku dengan jarinya agar diam, ” Febi sudah pingsan sayang! kamu mau juga seperti dia??”, tanyanya sambil memainkan jarinya di hidungku.

” Kamu semakin cantik Sinta. Kok aku baru menyadari ya betapa cantiknya kamu??”.

Habis menggombal dia kembali mencumbuku. Berbeda dengan peristiwa sehari sebelumnya, ciumannya kini begitu penuh perasaan. Disentuhnya bibirku pelan dengan bibirnya, kemudian dihisapnya dalam-dalam. Tanto biasanya malas dengan aktifitas berciuman, tapi sekarang??di momen ini, kenapa dia begitu menikmatinya?. perlahan-lahan, dia menikmati bibirku.

Setiap centi, bibirku yang penuh dihisapnya. Mungkin karena terlalu sering mengincar bibir vaginaku, dia tak pernah tau betapa exotiknya bibirku. Mungil, penuh, sensual dan berwarna kemerahan alamiah itulah bentuk dari bibirku yang kini dipagutnya.

Lidahnya pun mulai keluar bermain di mulutku. Dengan lincah, lidah itu berputar searah jarum jam, untuk membasahi ronga-rongga bibirku. Dia begitu perlahan memainkan bibirku dari luarnya, kemudian setelah puas berputar kembali memakan hidangan utama bibirku secara keseluruhan. OOww rasanya begitu intim, tanpa ada keterburuan, begitu akrab secara emosional.

Pilihan apa yang tersedia untukku terhadap pacarku ini. Tenaganya sekarang begitu kuat. sedangkan aku begitu gontai. Dia telah memukul Febi. Tinggal sejengkal lagi dia bisa menghabisiku. kalo otakku yang tidak pintar ini ingin selamat, sebaiknya kita ikuti saja permainannya sambil mengulur-ngulur waktu, siapa tau dia mengurungkan niatnya untuk menghabisiku seperti kemarin.

Dengan pemikiran itu, Aku mulai membalas ciumannya dengan gelora yang sama. Lebih baik kuladeni saja dulu nafsunya, daripada dia kembali kalap. Di lantai rumah dinasku, bersisian denagn Febi yang telah tak berdaya, kami berciuman seperti seorang kekasih.

Kini tak ada perlawanan lagi dariku. Permainan lidahnya kusambut, dengan lidahku yang juga bermain disekeliling mulutnya. Bagai dua orang yang saling beradu tarik tambang, kami berdua maju mundur menikmati indahnya permainan ciuman ini. Saat ciuman Tanto maju, untuk memberi kedalaman hisapan, lidahnya masuk jauh ke dalam mulutku dan berputar-putar di rongganya, nafsuku perlahan mulai bangkit.

Sebaliknya ketika giliranku datang untuk menyerang balik, kugunakan hisapanku yang juga dalam untuk memancing lidahnya keluar dan melumatnya dalam-dalam. Ciuman kami terus berlangsung di ruangan ini.

” Ayo kita naik ke ranjang sayang, aku pengen minta jatah malam ini hehe”, ujar tanto sambil menggendongku naik ke atas ranjang.

Aku begitu pasrah kali ini. tak ada lagi niat untuk melawan dalam bentuk apapun. Tenagaku sudah nol.

” Jangan dipikirkan kamu mau aku apain!, yang pasti, aku ingin menikmati tubuhmu sepuas-puasnya!”.

Tanto segera melepas bajunya. tampak jelas bentuk tubuhnya yang berotot saat baju itu dilepas. Setelah melepas bajunya Tanto langsung membungkamku lagi dengan mulutnya. Ciumannya tidak memberiku peluang untuk melawan. Dia menciumku sambil tangannya berusaha melepas seragam dinasku yang masih melekat.

” Uuuuuuuuuuhhhhhhh”, kugigit bibirku,

saat Tanto berhasil melepas semua kancing baju kerjaku. Dengan giginya kemudian dia melepas kaitan BHku dengan gerakan yang amat sensual. Melihat dia begitu sexy melepas bajuku, membawaku semakin ingin meledak saja. Jari tangan Tanto, yang besar kemudian menyingkirkan Bh itu, dan memulai remasannya di payudaraku. Sekali lagi dia sabar dalam memberiku rangsangan. Alih-alih asal caplok seperti biasanya, kini dia begitu lihai untuk tidak terburu buru.

” Kasian lukamu ini, sakit sayang???”.

“……………..”, aku menggeleng sambil meringis saat tangannya menyerempet ke bekas lukaku.

” Uuuuuuhhhhhh”, aku mendesah getir saat Tanto justru mencium bekas luka itu. Dibelainya lembut kulit kemerahan yang lecet itu. Kemudian dicumbunya pelan lalu dijilatnya.

” Aggggggghhhhh”, terpejam aku berusaha menahan rasa nyeri yang timbul. Tanto menahan tanganku agar tidak berontak. Dia terus menciumi bekas lukaku yang ada di pinggang. tangannya juga tak henti mengusap-usap bekas luka lain yang terdapat di payudara dan perutku.

” gak usah ngelawan Sinta. Lukamu pasti sembuh kalo aku jilati terus”, kembali lagi dia tenggelam untuk menciumi bekas luka maha karya dirinya sendiri.

Dari bekas lukaku tangannya kemudian bergerak meraba sisi luar payudaraku, kemudian meremasnya pelan tapi tidak menyentuh putingnya. Remesannya naik perlahan hingga menuju putingku. Dalam gengamannya yang kuat aku begitu terhipnotis.

” Ahhhhhhhhhh “, aku menjerit, bersamaan dengan gerakan telunjuknya yang berputar bermain-main di ujung putingku.

Antisispasi tubuhku untuk menantikan sentuhannya diputingku, membuatku sangat penasaran ketika ia tidak mau memenuhinya.

Walau mulai terangsang, aku sedikit sadar akan kenihilan hubungan kami, kemudian berusaha berontak untuk menghentikan semua aksinya. Aku takut terbuai dalam kenikmatan. Tapi Tanto selalu menghentikan aksiku dengan memegang tangan dan tubuhku. Diangkatnya tangan itu ke atas agar tidak bisa berontak. Dalam situasi ini, aku jadi makin tak berdaya. Tanto hanya tersenyum penuh nafsu saat menatap wajahku yang mulai terangsang hebat akibat kemahirannya.

Tanto, yang satu tangannya mengunci kedua tanganku, dengan tangan yang lain berusaha melepaskan celana kerjaku. Dengan menendang-nendang hampa berusaha kuhentikan keinginannya. Tapi sekali lagi dia terlalu kuat. Kemampuanku sudah habis untuk melawan. Celana kerjaku dengan mudah dipretelinya hingga hanya menyisakan CD saja.

Tangan yang tadi menelanjangi celanaku kini masuk dengan leluasa ke balik CD itu. Dua jari Tanto menyibakkan jembutku, kemudian mulai bermain di tepian vaginaku. Dia tau benar cara memainkan vagina itu sekarang. Sangat cepat tanto berubah. Kemarin dia asal tembak saja kini dia begitu piawai.

Sekarang tangan itu membelai dengan begitu lembut. Seperti menggunakan hati, tangan itu tidak main kasar. Sebaliknya tangan yang nyusup di balik CD itu, menciptakan iklim hangat dan terus dipanaskan sehingga menyentuh titik didih.

Bersamaan dengan itu dia kembali menciumiku. ” Mmmm..mmmmmm…mmmmm”, aku berusaha berontak, karena semua rangsangan ini mulai tak tertahan. Terasa begitu berlebihan buatku. ” Diam cantik!”, bisik Tanto, ” gak usah dilawan! nikmati aja!”, katanya.

Tangan tanto yang mengunci kedua tanganku mulai turun menuju payudaraku sehabis memerintahkan itu. Kembali dengan gentel dia meremas-remas kedua bukit menonjol yang ada di dadaku.

” Aaaaagggggggghhhhhh”, aku menjerit lagi saat mulut tanto mulai mengenyot payudaraku yang kiri, sedang sebelah tangannya tak beranjak membuai dadaku yang kanan.

Begitu hebat dia. Tangan yang dibawah juga membuatku semakin mendidih. Alih-alih asal main colok ke vaginaku. tangan itu justru asyik menstimulasi seluruh area sensitive disekitaran kawasan itu.

Paha dalamku di belainya, perbatasan pantat diputarinya, area bawah pusar ditekannya, apalagi sisi luar vagina, tak henti digodanya. Semua dilakukannya hanya dengan satu tangan. Tanto yang sekarang, mahir memilih momentum. Jari telunjuknya hanya mulai masuk mencolok vaginaku bertepatan dengan mulutnya yang menyusu di putting payudaraku.

bayangkanlah dua titik sensitive tubuhmu terstimulasi di saat yang bersamaan. Apa yang dapat kamu rasakan lagi Sinta selain sebuah mega rangsangan yang membuat bulu romamu merinding berdiri semuanya .

” Ammmpunnnnnn Masss Tantooo… agggghhhhh ampuuunnnn….jangan mainin tetek sama itu Sinta…….”. Mendapat rangsangan yang terus meningkat intensitasnya aku menjelang terbang dalam kenikmatan yang aneh. Tanpa penetrasi dan hanya pijatan, kenyotan di payudara, serta jari yang bermain didalam vagina aku seperti akan diantar menjemput orgasme.

Jepitannya diputing, diiringi dengan towelan-towelan cepat, lengkap dengan remasan nakal diseluruh permukaan payudara begitu merangsang. Cupangan di putingku juga makin hebat karena dia mulai menggigit-gigit lembut menghadirkan sensasi nyeri-nyeri nikmat. dari bawah jarinya mulai mengocok-ngocok maju mundur seperti ingin mengeluarkan sesuatu.

Titik puncak itu akhirnya tiba ketika jari itu semakin cepat mengocok bersamaan dengan gigitan dan remasannya di payudaraku.

” Hhhhuuuuggghhh……agggggghhhhhh…….uuuggggggkk”, aku melenting tinggi dengan Tanto yang menyambut lentinganku dengan bibirnya yang mencaplok payudaraku dengan hisapan nan indah. Meski tubuhku terungkit tangannya tak mau dilepasnya untuk tetap melaksanakan galiannya. Malam ini Tanto benar-benar membuatku mabuk.

Aku kehilangan nafas sesaat , dan sekilas pikiranku buyar.

“……………………………..”, begitu indah rasanya meski hanya untuk sepersekian detik, untuk memasuki dimensi tanpa pikiran yang dipenuhui kenikmatan seperti ini. Penari baletpun kalah melihat tegangan tinggi yang kuberikan saat menyambut orgasme. kontraksi otot di seluruh tubuh terasa begitu maksimal dengan kedutan-kedutan hebat diseluruh tubuh.

rangsangan dari dua titik atas dan bawah, mempertemukan dua aliran darah di satu titik yaitu area rahim sampai vagina. Pertemuan itulah yang menghadirkan ledakan tepat diseputaran perut. Untuk melepas ledakan itu tak henti aku seperti mengedan untuk meledakan semuanya.

” Haaaaaaaaggggggghhhhhh”, keras berusaha kutumpahkan seluruh beban dan masalah kehidupan dalam satu tarikan nafas orgasme. rasanya begitu indah.

Mengalami kondisi keluar dari dalam diri, itu rasanya tak terlukiskan. Tidak perlu menginginkan apapun karena dititik ini tidak ada keinginan lagi. bahkan tidak perlu berpikir apapun ,karena toh tak ada lagi yang dapat dipikirkan. Yang ada hanya ledakan syahwat, yang meluluhlantakkan semua bangunan persendian dalam sebuah erupsi sempurna.

Kulitku yang putih membuat wajahku tampak berwarna orange, penuh dengan darah yang bergejolak disana kala diterjang kenikmatan. Nafasku timbul tenggelam memasuki keadaan nafas dan tanpa nafas. Laki laki perkasa di depanku ini terus memberi rangsangannya secara maksimal di payudara serta vaginaku untuk memastikan bahwa orgasme itu benar-benar tuntas .

Histeria kenikmatan itu memang begitu eksentrik. Sebuah seni tingkat tinggi manusia yang tak sanggup lagi kugambarkan dengan kata-kata. Bayangkanlah ada dua aliran darah dalam tubuh yang memiliki tugas masing-masing. yang diatas memiliki fungsi menjalankan tubuh bagian atas. Sedang yang dibawah memiliki kewajiban menjalankan tubuh bagian bawah.

Bagaimana bila kedua aliran darah yang selayaknya tidak bertemu itu, kemudian dipersatukan oleh sebuah seni yang bernama klimaks kenikmatan. Sebuah seni yang menyatukan seluruh aliran darah dalam tubuh kedalam satu titik temu. Ketika aliran daran itu bersatu yang ada hanyalah ketiadaan.

Maksud ketiadaan disini adalah tidak ada satupun kata yang mampu menjelaskannya. Saat kata “kenikmatan” disebut memang kata itu sedikit tepat menggambarkannya. Akan tetapi tak mampu menggambarkan semua sensasi yang meluap luap.

Gambaran terbaik tak dapat dikatakan melalui kata-kata. Namun tergambar jelas dari ekspresi alamiah dari dalam tubuh. Begitu dahsyat klimaks ini ketika diekspresikan dengan jambakan dan cakaran hebat kepada Tanto yang kini bertindak bagai master seksualku. Sambil mengerang-ngerang penuh syahwat, kugenggam apa saja yang bisa kuraih dan kupelintir, cabik, dan tarik dengan sedemikian keras.

Tanto yang mendapat cakaran di tangannya, mengernyit pelan dengan senyum lebar kebanggan seorang lelaki yang berhasil membuat wanitanya lupa daratan. Senyum para pejantan yang menaklukan egoism seorang wanita dan menundukkannya untuk berserah diri dibawah kehandalan tangan dan cumbuannya.

” ammmmppuuunnn…..ampunnnn….ammpuuuunnnn”, tiba kembali ke dunia nyata, aku berusaha menyingkirkan tangan Tanto yang masih berusaha menyerangku dari dua titik .

Dengan tenaga normal tentu tak bisa aku menyingkirkan tangannya, tapi dengan tenaga spontan yang muncul akibat dorongan ingin menghentikan badai kenikamatn ini aku berhasil menyingkirkan Tanto. Tangan serta mulutnya yang masih di payudara kuhalau dengan lengan yang mendapat bantuan tenaga bahu. Sedangkan tangannya di vagina kusiukut dengan dengkul.

saat dia akhirnya rebah, segera kuringkukkan tubuhku dalam posisi duduk di ranjang sambil berusaha meredakan semua kenikamtan yang masih tersisa. badai itu lama hilangnya. Kedutan di vagina maupun payudara rasanya masih begitu terasa sampai beberapa menit.

” hahh….hahhh…hahhhh”, nafasku masih acak-acakan.

Tanto tetap tersenyum sambil membiarkanku meredakan sendiri badai kenikmatan yang menghantam.

” brakkkkkk”. Saat aku masih belum pulih benar. Pintu mendadak didobrak oleh seseorang.

Panik, Tanto langsung berdiri menatap ke arah sumber suara. Sedangkan aku juga tak kalah panik berusaha mencari apapun untuk menutupi ketelanjanganku.

” TANTO………….APA APAAN KAMU!”, mendengar suara itu membuatku heran sekaligus bahagia. itu suara pak Burhan dan ajaibnya dia masih hidup.

” Dasar kamu Komandan cabul”, melihat Pak Burhan yang datang Tanto kalap dan menyerbu ke arah beliau.

“Brug”, Tanto berusaha menyerang pak Burhan dengan pukulannya. Untunglah dengan teknik tinggi, pak Burhan menahannya dengan satu tangan kemudian ditelikung tubuh Tanto yang kekar untuk kemudian dilemparkan hingga menabrak kaca rias.

Tanto ambruk seketika .

Tanpa mempedulikan kemungkinan Tanto akan bangkit lagi, pak Burhan melangkah ke arahku.

” Sini Sinta, kasian kamu”, ujar pak Burhan sambil menutupi tubuhku yang telanjang dan merangkulku penuh kasih sayang. Rasanya begitu damai berada dalam pelukan pria ini, yang berkali kali melihat kelemahanku tapi selalu berusaha menutupinya dengan cinta yang tulus.

saat aku dipeluk oleh Pak BUrhan , Tanto rupanya bangkit kembali dan mengambil sebuah pistol yang tergeletak milik Inspektur Febi. Diarahkannya pistol itu kearah kami berdua.

” PAKK AWASSSS!!”, jeritku histeris saat melihat Tanto menodongkan pistol ke arah kami.

” MAS TANTO , JANGAN TEMBAK!!!”, jeritku.

” Sssst”, Burhan menghentikan jeritanku,

” jangan khawatir Sinta”, katanya,

” Bapak akan melindungimu cantik. Bapak akan selalu ada untuk kamu”, ujarnya dengan senyum yang begitu indah sambil menjadikan tubuhnya sebagai tameng.

” Dorrrr……dorrrrrr”, dua peluru terhambur menghantam pria gendut namun gempal ini.

Jeritanku nyaring terdengar seiring dengan cipratan darah pak Burhan yang terciprat ke wajah.

” Bapakkkkkkkkkk”, aku menjerit histeris.

Begitu besar kesedihanku hingga tanpa sadar mengusap ngusap darah Pak Burhan yang tumpah ke seluruh wajahku seperti orang gila.

” Tidaaaaaakkkkk”, dalam keadaan bersimbah darah di muka aku menjerit perih.

” TIDAAAAAAAAKKKKKKKKKK”.

***

” Sinta…bangun….bangun Sinta”, teriakan inspektur Febi menyadarkanku.

” hahhhhh”, aku tersadar.

“Pak Burhan Komandan???”, cengkramanku keras pada Febi.

” Kkoomandan apa yang terjadi dengan Pak Burhan??”, tanyaku panik semakin mencengkram pundak Febi.

” SINTA TENANG!!!. kamu mimpi buruk sehabis pingsan tadi”.

” Aaaapa yang terjadi Komandannnn?? saya pingsan???”, tanyaku penasaran.

” Iya kamu pingsan habis diseruduk Tanto! maafkan aku sempat lengah tak menyadari dia bersembunyi di dalam lemari”, kata Inspektur Febi sambil menepis darah yang keluar dari hidungnya.

” Darah..Komandan berberdarah??”, aku segera melepas cengkraman.

” Gak apa Sin!, Cuma mimisan. Habis mendorongmu Tanto menyerangku dengan buas, kemampuan bela diriku kalah darinya. Pistol yang kubawa terlempar,tapi untung aku sempat menendang kemaluannya hingga dia menjerit-jerit”.

” Menendang kemaluannya Komandan??”.

” iya dia langsung roboh Sin. tapi fisiknya memang kuat. meski sudah jatuh, dia cepat bangkit kembali dan menghambur lari tunggang langgang. Para tetanggamu sudah bangun semua untuk mengejarnya”.

” Ayo kita kejar lagi Tanto Komandan!”.

” Hush kamu terlalu lemah. Waktu kamu tak sadarkan diri meski cuma lima menit, tapi membuatku cemas gak karuan. Apalagi saat kamu ngigau waktu pingsan. Nih minum dulu air ini supaya kamu benar-benar sadar!”.

” Terima kasih Komandan”.

” Kalo kamu sudah sadar, kita jalan lagi Sinta!. Malam ini kita lembur”.

” Siap Komandan. Tapi….”.

” Tapi apa??”.

” Sinta mohon ijin boleh makan dulu tidak Komandan?. Sinta lapar sekali”.

Febi tersenyum. ” Oke kita makan dulu Sinta, malam ini aku yang traktir”.

Betapa bahagianya hatiku akhirnya bisa makan juga. Tapi mimpi tadi aneh juga ya. Meski Cuma mimpi tapi kenapa pengalaman orgasmenya itu terasa nyata. Darah yang muncrat ke wajahkupun terasa jelas. Apakah ini tanda bahwa Tantol benar-benar menembak Pak Burhan??”.

Bersambung.