Polwan S2 Part 3

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Tamat

Cerita Sex Dewasa Polwan S2 Part 3 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya : Cerita Sex Dewasa Polwan S2 Part 2

Tanto adalah amarah

Itulah sifat paling pas untuk menggambarkan kepribadiannya. Tubuhnya yang tinggi kekar selalu dipenuhi dengan emosi. Apakah itu bawaan? ataukah “ekses” dari pendikan? bisakah itu merupakan alam bawah sadarnya yang berontak akibat tingginya tingkat stress dalam pekerjaan?. Semua itu adalah pertanyaan yang masih belum kutemukan jawabannya hingga hari ini.

Bagaimanapun Dia adalah pacarku sejak aku dinas di Polres. Latar belakang aku memilihnya mungkin karena membutuhkan sosok pria yang bisa memberikan perlindungan. Bukankah aku sudah cerita tentang ketergantunganku pada Tantri. Sebenarnya hal yang sama berlaku untuk Tanto. Kedua orang ini-kuanggap- mampu memberikan kepadaku sesuatu yang sangat kubutuhkan; Sebuah perlindungan.

Benar kata Pak Burhan tadi sore, aku hidup penuh dengan keraguan. Sikap itulah yang membuatku kehilangan keyakinan pada diri sendiri. Tatkala manusia tidak mampu mengurus dirinya sendiri, saat itulah dia akan bergantung pada orang lain untuk mengurusi dirinya. Keragu-raguan itulah yang membuatku memutuskan untuk memilih Tanto. Pria garang yang terlihat sangat tau cara mengurus dirinya sendiri.

Sebutkanlah sifat yang orang muak untuk melihatnya, maka Tanto memilikinya. Sombong, tergesa-gesa, pemarah, pencemburu berat, hyper sex, suka “menerabas” aturan. Syarat untuk menjadi pria dengan julukan ” bad boy” ada dalam dirinya. Lantas kenapa aku memilihnya? jawabannya mudah ; kuanggap, dia dapat memberiku perlindungan. Sesimpel itulah pilihan wanita. Berusaha mendapat laki-laki yang sesuai dengan kebutuhannya.

Kini berhentilah menyesali diri Sinta. Lihatlah dirimu sekarang. Sedari dulu, kamu sudah tau siapa itu Tanto, tapi tetap saja pacaran dengannya, hasilnya? ; kamu selalu jadi korban monster ini. Dasar wanita bodoh! berulang-ulang dianiyaya kamu tetap saja setia kepadanya. Mau jadi apa kamu Sinta?.

Tanpa belas kasih sedikitpun, Tanto menjambak rambut dan menyeretku hingga masuk ke dalam kamar. Dibantingnya aku ke sudut ruangan.

” KAMU HARUS DIBERI PELAJARAN!!”, Tanto berteriak.

” Maaaassss jangggannn Massss..aaammmpuunii Sinntaa…”, aku memelas.

Direnggutnya rambutku agar aku berdiri. ” Ditidurin Burhan kamu Sinta??”, ujarnya lembut sambil mengelus wajahku.

” Eeengggakkk Massss…”, aku menggeleng berusaha meyakinkannya.

” Sniff..sniffff..snifff…”, Tanto mengendus-ngendus ke seluruh bagian tubuhku,

” mana buktinya Sinta??”, dia terus berusaha menghirup aromaku.

” Aroma parfum Burhan ada di seluruh tubuhmu sayang”, katanya dengan nada lembut tapi penuh dengan kata-kata menusuk hati.

” NGAKU SINTA!!!”, dijambak rambutku hingga aku terjambak tertengadah.

” Sssiinnta ggakk nggggapaa-ngaaapaainn Massss..ampuunnnn”, aku terus memelas meminta dikasihani.

” Kalo gitu Sinta, aku harus buktiin kamu sudah tidur sama si Bandot itu!”, kata Tanto kembali dengan nada sinis.

” baring di kasur Sinta!”, perintahnya.

” Masssss….”, aku berusaha menolak perintahnya.

” CEPAT BARING DI RANJANG!!”, dia berteriak keras.

Penuh ketakutan, aku mengikuti perintahnya berbaring di ranjang.

” TERLENTANG! ANGKAT TANGANMU KE ATAS!”, Tanto memberi perintah tanpa melihat kepadaku.

Dia sibuk mengambil sesuatu dari dalam lemari baju. Penuh tatapan sinis, dia melangkah naik ke ranjang. Dikangkangi tubuhku sambil wajahnya menampakkan kengerian. sangat ngeri aku menatapnya. Tanpa dapat kucegah seluruh tubuhku merinding ketakutan.

” Sini tanganmu cantik”, dengan lembut dia mengambil kedua tanganku dan mengikatnya menjadi satu di tengah tiang ranjang dengan seikat kain. Dibuatnya kedua tanganku segera terikat tak dapat begerak kemana-mana. Semakin ketakutan aku sekarang.

” Massss…aku mmmmaauuu diapppaiin Masss?”, mataku mulai menitikkan air mata.

” Gak diapa-apain Sinta”, Tanto mencium bibirku, ” aku cuma pengen minta jatah malam ini”, dia kembali tersenyum mesum.

Diciuminya lagi bibirku. Tanto bukan pencium yang baik, kurasakan jelas bagaimana kasarnya dia ketika berciuman.

” Bajumu ini mahal kayaknya Sinta??”, kembali dia bertanya sesuatu yang menusuk hati,

” harus diapain baju ini”, tangannya mengangkat rokku naik sampe ke atas celana dalam.

” Oooh kamu masih pake CD, baguss”, model baju yang cukup mahal ini memang mempermudahnya untuk menggerayangiku.

” AAAAHhhhhhhh”, aku menjerit, kala Tangan Tanto dengan keras mencubit vaginaku.

” Kenapa jerit Sinta?? sakit sayang?”, tanyanya sambil menempelkan wajahnya ke hidungku.

“………………….”, aku tak mampu menjawab.

” Maafin Mas ya Sinta!, sini Mas elus-elus saja memekmu”, tangannya menembus celana dalamku dan mulai menjamahnya.

” mmmmmm”, mulai kurasakan sensasi aneh akibat sentuhannya.

Tanto telah cukup lama menjadi pacarku. Pergaulan bebas kami selama ini, membuatnya merasa bebas “mengubek-ubek” tubuhku. Seperti sekarang ini, tangan Tanto tak henti mengorek vaginaku. Dia memperlakukanku seperti istrinya, sekaligus budak seksnya.

Sentuhannya tangannya diawali dari sisi luar vagina. tangannya tidak langsung menyentuh sasaran utamanya, tapi berputar-putar di kulit luarnya. Sesekali dia melebar sampai ke paha dalamku, kemudian melipir di pantatku untuk meremas perlahan.

Aku mulai menggigit bibir, berusaha menahan rangsangan “tak diinginkan” yang mulai datang.

Kenapa aku terangsang? bukankah seharusnya aku sedang ketakutan dengan sifat “psikopat” Tanto?.

Masalahnya, Kami memang sering bermain peran ketika melakukan hubungan seksual. Sering Tanto menyuruhku berdandan seperti yang dikehendakinya, kemudian menyetubuhiku buas sesuai sekenarionya sendiri.Parahnya kebodohanku membuatku tak sanggup membedakan maksud tanto saat ini.

Pikiranku yang biasa memikirkan segala hal secara positif, beranggapan bahwa Tanto hanya akting menjambakku tadi, palingan ini hanya scenario saja untuk menyetubuhiku lagi dengan bermain peran seperti biasa. Pikiran seperti itulah yang membuatku mulai menikmati permainannya dan terangsang.

” Jangan nangis ya Sinta!”, tangannya membasuh bekas air mataku yang sudah kering. Diciuminya bibirku, sambil tangannya tak beranjak mengucek bagian bawahku.

” Enak cantik?”, bisiknya. Aku mengangguk.

” JAWAB YANG KERAS KALO DITANYA SINTA!”, tiba-tiba dia berteriak lantang.

” Eeeeenakkk Mas..enakkkk”, jawabku gelagapan.

” Seberapa enak sayang??”, tanyanya dengan suara yang melembut lagi.

” Enakk banget Mas”, jawabku berusaha menyenangkan hatinya.

” Mendesah donk kalo enak! Mas paling senang dengar desahanmu”, katanya sambil tangannya mulai menyentuh klitoris dan belahan vaginaku.

” ahhh..ahhh…”, aku mulai mendesah seperti yang diinginkannya.

” MENDESAH YANG KERAS DONK SINTA!! KAYAK DI FILM BOKEP GTU LHO. LEMES BANGET KAMU!”, kembali dia berteriak dengan nada tinggi.

Aku benar-benar bingung menghadapi pacarku yang satu ini dengan semua ketidakstabilan emosinya .

” AHHH..UUHHH…AHHHHHH”, aku mulai mendesah hebat, seolah-olah menikmati apa yang dilakukannya pada tubuhku.

” he he begitu donk. itu baru pacarku. Sinta si binal”, berkata seperti itu, dia kemudian berhenti untuk mengambil sesuatu dari bawah kasur.

Aku betul-betul kaget ketika melihat Tanto sudah memegang gunting besar di tangannya, yang diambilnya dari bawah kasur.

” Masss…..kenappppa…megangg guntingg???..”, tanyaku dengan nada ketakutan.

” Baju ini kebagusan buat kamu Sinta”, dia langsung mengarahkan gunting itu untuk merobek gaun biru mahal yang dibelikan Pak Burhan “. Krek..krekkk…bunyi suara baju yang disobek oleh Tanto membuatku teriris.

” mahal baju ini Sinta, gak pantes buat kamu!”, katanya yang dalam waktu singkat telah berhasil merobek gaun biru mahal ini.

Menerima perlakuannya, aku begitu sedih dan menitikkan air mata. Meskipun singkat, pertemuan sekilas dengan Pak Burhan sangatlah berkesan, dan baju ini merupakan saksinya. Melihat dengan mata kepala sendiri bagaimana Tanto merobek baju ini membuatku sangat sedih.

” Ya Tuhan, tolong selamatkanlah aku dari Tanto, dia tidak sedang pura-pura, dia sungguh-sungguh Ingin menyakitiku”, doaku sambil menitikkan air mata dan menyadari niat jahatnya.

” Eit ngapain matamu berkaca-kaca gitu sayang?? gak senang bajunya dirobek sama Mas??”, matanya kembali mendelik menatapku.

Posisiku yang terikat membuatku tak berdaya. ” ennggggaaakk Masss”, jawabku sambil menggelengkan kepala.

” Ngaku yang jujur sedih kamu bajunya Burhan dirobek??AYO NGAKU!!!!”, bentaknya sambil mencekik leherku”.

” nnnnngggggaakkkk maa….s.sss”, aku tercekik.

” hmmm”, mulai dilonggarkan cengkramannya,

” Mas percaya kok sama kamu Sinta”, bisiknya sambil menurunkan celananya.

” kamu gak usah sedih ya! sekarang kamu sepong kontol Mas aja ya cantik!”, dia langsung mengangkangiku dengan mengarahkan penisnya yang setengah tegak. Dibawanya penis itu kedepan mulutku untuk dioral. Penuh ketidak berdayaan segera kumasukkan penis setengah keras itu ke mulutku dan mulai kuhisap pelan.

” OOOOOH SSSIINNTA YANG KERAS DONK HISAPANMU!”, dia memegangi kepalaku.

Kuikuti kemauannya sebisaku.

” GAK KERASA! UDAH LAMA KAMU GAK NYEPONG YA? NIH MAS KASIH TAU CARA YANG NYEPONG YANG BENER!”, Tanto menekan tubuhnya sehingga mampu menenggelamkan sedalam-dalamnya penisnya dimulutku.

Dia melakukannya dengan cara membebankan tumpuan berat badannya pada bagian pinggang dan pantatnya. Menerima bobot tubuh ditambah penisnya membuatku langsung “nyungsep”. Semau sendiri, dimaju mundurkan penisnya di dalam mulutku. Begitu egois Tanto ini, hanya memikirkan kenikmatannya sendiri, tanpa pernah memikirkan ketidak nyamanan yang kualami untuk mendatangkan kenikmatan untuknya.

” UHHHUKKK…UHHUUKKK..UHUUUKKK”, aku langsung tersedak seperti mau muntah saat akhirnya dia melepas penis itu dari mulutku. Beberapa cairan ludahku ikut tercecer di sekitaran bibirku.

” Enak sayang??”,.tanyanya,

” uhukkk..uhuukk….uhukk”, masih terbatuk aku berusaha mengangguk.

” Sekarang Sinta, giliran memekmu ya sayang yang NGRASAIN KONTOLKU!”, tanpa basa-basi langsung dibenamkan penisnya di vaginaku dalam-dalam. CD yang masih ada disana tidak dicopotnya. Hanya ditepikannya sedikit CD itu kemudian mulailah gocekan penetrasinya di vaginaku dimulai.

Rasanya perih menerima tusukannya. Vaginaku yang masih tegang menerima keanehan perilakunya, membuatnya belum terlumasi dengan sempurna.

” cleepp…cleeepp.clleeepp”, bunyi penisnya mulai menumbuk dalam relung vagina.

” SINTA MEMEKMU INI MEMANG PALING ENAAAAKKK”, jeritnya semakin mempercepat pompaannya.

” ENAK GAK SINTA???”,tanyanya.

” eeennaakk ahhh ahhh massss”, jawabku sambil mendesah pelan menahan sakit.

” BLOON KAMU YA! KALO ENAK MENDESAH YANG KERAS!!!”, bentaknya sambil menjenggut rambutku.

” IYYA MASSS, ENAKK, AAAAHH…OOOOHHHHH..UUUUUUUHHHH”, aku mulai menjerit-jerit penuh kepalsuan hanya untuk menyenangkannya.

” SINTA….SINNTAAA..SIINNTAAAA”, dia terus menusukkan penisnya dengan menyebut-nyebut namaku.

” MASS KELUUUAAAR SINTAAA…. BUKA MULUTMU SAYANG TELEN SEMUA PEJUHKU!!!”, dia mencabut penisnya dari vaginaku, dengan cepat dibawanya ke mulutku.

Penis yang siap akan meledak itu benar-benar dikehendakinya untuk kutelan. dimasukkannya lagi penis itu dalam-dalam seperti oral sebelumnya, beban tubuhnya yang ditekan ke kepalaku membuatku kembali terbenam.

” SINTAAA TELEENN SINNTAAA AGGGGHHHHHH”, berkali-kali semburan dari penisnya menyembur dan aku tak bisa menghindar.

” HAAHH..HAHHH..HAHHH”, jerit Tanto.

Aku hanya diam berusaha tidak muntah karena dipaksa meminum spermanya. Banyak cairan itu tertelan menimbulkan rasa enek yang parah.

” Uhuuuk…uhukkk…uhukkkk…”, batukku sekarang diiring dengan rasa mual.

” Hooekkk”, aku hampir muntah, untung dapat kutahan.

” pengen muntah kamu Sinta??”, tanyanya.

Aku menggeleng, “hooeeek”, tapi benar-benar aku tak mampu menipu rasa mual dari dalam mulutku.

” Meski mau muntah, kamu tetep cantik Sinta”, katanya,

” sayang Burhan sudah nidurin kamu”, lanjutnya,

” mas kecewa sama kamu, kecewa berat!”, katanya dengan suara lirih, sambil mengambil bantal disisiku,

” MAS KECEWA SINTA”, mendadak dia membenamkan wajahku dengan bantal itu.

” MASSS KECEWAAA!!!”, dia berteriak sambil membenamkan wajahku dengan tenaganya yang kuat sekali. rasa mualku jadi hilang akibat dibenamkan bantal, berganti rasa panik dan putus asa.

“Dipendem” bantal, udara mulai sulit kudapat. Tanto ternyata ingin membunuhku.

” Ya Tuhan tolong hamba….Ya Tuhan tolongggg…”, doaku, sambil menggoyang seluruh tubuh untuk berontak.

Gerakan histerisku justru semakin memperkuat cengkraman Tanto pada bantal.

” hmmmm…hmmmm…hmmmmm”, aku terus menendang-nendang tak berdaya.

Untungnya masih ada celah , rupanya ikatan Tanto ditanganku tidak terlalu kuat, dengan digoncang oleh gerakanku ikatan ini mulai lepas. Dengan terus menendang-nendang, tanganku berusaha berontak hingga akhirnya ikatan ini bisa lepas. Masih “ngap-ngapan” tanganku yang kini bebas meraih wajah Tanto yang belum sadar bahwa ikatannya telah lepas, kemudian kucolok tepat dimatanya.

” ADUUUUHHHH”, jeritnya sambil terguling-guling kesakitan.

” huh..huhh..huhhh”, aku menghimpun nafas banyak-banyak, setelah sempat tidak bernafas selama sekian menit.

Dengan gontai Tanto bangkit berusaha meraih dan mencabut gesper pinggang dari celananya yang terjatuh tak jauh dari tempatnya terguling .

” KURANG AJAR KAMU SINTA”, dia meraung sambil meraih celananya dan mencabut gespernya. Dia kini berdiri kalap, sambil memutar-mutar gespernya ke arahku.

” SINTA KAMU BENER-BENER BERENGSEK….”, dengan penuh emosi, tanpa bisa menyelesaikan ucapannya, dia mencambuk gesper itu langsung mengarah tepat ke arahku.

” Ctarrrrr”…”, cambukan pertamanya mendarat tepat di tubuhku.

” agghhhh” aku yang hanya tinggal mengenakan BH dan Cd terkena telak cambukan pertama itu dibagian pinggang. Nyeri sekali rasanya.

Kesakitan sekali , naluri “survivalku” bangkit. Kumeloncat kehadapannya untuk mendorong tubuhnya. Tanto begitu kuat, didorong olehku dia tidak bergeming. Alih-alih dia berusaha mencambukku lagi.

” Ctttarrr”, aku refleks meloncat berputar ke samping, gesper itu menyerempet tembok.

” KAMU HARUS MATI SINTA!!!!!”, Tanto meraung melompat ke arahku. Tubuhku yang lebih ringan membuatku masih mampu melontar ke sisi sebelahnya. Serudukan Tanto hanya menyentuh angin.

” Huhhh”, tidak puas dengan gesper, Tanto mengayunkan tinjunya ke arahku. Berat bobot tubuhnya dan emosi tinggkat tinggi yang sedang menyelubunginya membuat gerakannya lebih lambat dan aku bisa menghindari jotosannya.

” Masss aammmmpppuni Sssiinnta Masss…”, aku terus berusaha memelas, berharap penuh pada belas kasih Tanto.

” Ctarrr”, menganggap pukulannya sia-sia, kembali dia mengayunkan cambukan gespernya ke arahku. Kali ini aku melompat ala harimau ke depan dan berhasil lolos lagi.

Dengan berguling kudepan tubuh Tanto yang terbuka pertahanaanya aku bersiap melancarkan serangan balasan. Kucakar muka berikut matanya.

“Agggagagahhhhhhh”, ganti Tanto yang menjerit,

” LONTEE KAMU SINTA”, Mendapat cakaranku Tanto semakin kalap.

Gerakannya sekarang benar-benar diniatkan untuk menghabisiku. Beberapa cambukan dahsyat masih dapat kuhindari dengan lincah.

” masssss berrrhentilllahhh..TOOLLONG BERHENTILAH “, terus kuberusaha menyadarkannya.

” MAMPUS KAMU!!!”, Dia melompat ke arah kakiku. Tidak siap aku menerima serbuannya kali ini. Ditabrak dengan keras tubuhku hingga aku jatuh terlentang. Meski sudah jatuh, masih berusaha kuberontak dengan mencakarnya.

” Heeeeggghhh”, Tanto mencekikku dengan tangannya yang kuat menghentikan seranganku,

” Aaaam….mmpuu….nn”, aku tercekik kehabisan nafas. Mendapat leherku, kini Tanto mengerahkan seluruh tenaganya untuk menghabisiku.

Sambil tangan kanan mencekik, tangan kirinya merenggut gesper dan mencambukku,

” Ctarrr….ctarrrr….ctarrrr”, tiga cambukan telak mendarat di pinggang, perut dan payudaraku.

Begitu perih rasa cambukan itu, tapi cekikan Tanto di leherku membuat cambukannya berkurang kekuatannya. Tanganku terus berupaya untuk mengehentikannya dengan gerakan yang tanpa harapan.

“………………”, rasanya setengah kesadaranku mulai menghilang, sempat kulirik wajah Tanto yang mutlak telah kerasukan jiwa setani.

” Heeeggghhh”, Tanto semakin mengencangkan cekikannya. Dalam kondisi “blank”, hanya tinggal mengenakan BH dan CD saja mungkin aku akan segera sampai ke ujung hidupku. Sinta akhirnya kamu akan kembali kepada Sang Pencipta.

” Wahai Tuhan Sang Pencipta Alam, tolonglah hamba”. Hatiku penuh kepasrahan menyongsong datangnya maut yang tinggal sejengkal lagi. Rasanya seluruh tenaga dan pikiranku mulai melayang perlahan-lahan.

” TUHAN…..TUHAN…TUHAN “,bibirku mengucap, menyiapkan momen sekarat yang mulai menjelang. Mataku rasanya mulai mendelik, sebentar lagi akan keluar akibat tercekik. aku yakin ajalku tinggal sebentar lagi.

” TUHAN..TUHAN…TUHAN..”, Aku kembali menyebut nama-Nya.

” Terimalah hamba-Mu ini. Inilah nyawaku ambilah”.

Tanto tiba-tiba berhenti dengan tubuh bergetar merinding karena sesuatu hal yang dia lihat.

Tubuhnya gemetaran, apa yang sebenarnya terjadi dengannya aku tak tahu. Dia kemudian bergegas bangkit-masih tanpa celana- dan lari terbirit-birit keluar dari kamar.

Bagai seekor ikan yang keluar dari air, kemudian kembali menemukan air, aku menghirup udara sebanyak-banyaknya. Terlentang, kuhirup udara segar sedalam-dalamnya dari dalam hidung, kemudian kuhembuskan dari mulut.

“hmmmmmmm…..huuuufffffff”.

Semua rasa sakit yang mulai kurasakan, tidak seberapa dibanding nikmatnya mampu kembali bernafas, ” Terima kasih Ya Tuhan”, aku begitu bersyukur telah mendapat pertolongan-Nya. meski nyawa sudah diujung rambut, pertolongan Tuhan telah menyelamatkanku.

Kenapa Tanto tadi gemetaran?? mengapa dia berhenti mencoba membunuhku?? masa bodoh. Yang penting aku hidup.

Terngiang-ngiang nasihat Tantri yang selalu diucapkan setiap hari kepadaku ; ” Sin, apapun yang terjadi selalu ingat Tuhan ya! mudah-mudahan Tuhan Yang Maha Esa selalu membantu kita”. Tak kenal lelah Tantri memberi petuah itu, dan hasilnya betul-betul kurasakan sekarang.

” hah..hahh..hahh…”, masih terengah-rengah kuberusaha untuk mengambil nafas.

Cekikan Tanto betul-betul membuatku kesakitan. seluruh tubuhku kini berangsur dapat berfungsi normal kembali. Kesakitan yang lain memang mulai muncul, luka sabetan di kulit mulai perih terasa. tapi semua rasa itu kutepikan jauh-jauh. Bagaimanapun mensyukuri nikmat masih diberi kesempatan hidup begitu terasa indah sekarang.

kelelahan hebat, dibalut deg-degan hampir mati, meskipun kini masih dilanda kesakitan, rasa syukur yang terasa meluap-luap di hati membuatku terpejam, dan jatuh tertidur.

HARI KETIGA : NO MIND ALLOWED

Paginya aku bangkit dengan tubuh remuk redam. Tertatih-tatih aku mencoba melangkah ke depan cermin. Bagimana kondisi tubuhku sekarang? untunglah Tanto tidak memukul wajahku, sehingga tidak ada bekas lebam di wajah.

Sabetannya di pinggang memang perih, tapi bisa ditutupi oleh baju nantinya. Sedangkan bekas cambukannya memang betul-betul menyeplak di kulitku. Warna kulitku yang putih semakin mempertegas luka yang terjadi semalam. Kuhitung ada sekitar lima luka yang terceplak telak di kulit.

Tapi kamu memang bodoh Sinta. Wanita lain yang mengalami nasib tragis sepertimu ,pasti akan tenggelam dalam tangisan ,depresi dan traumatis berkepanjangan. Kamu beda, sedari tadi kamu hanya tersenyum dan bersyukur kerena tidak mati malam tadi.

” Yah setidaknya aku tidak sedih berkepanjangan. Coba kalo aku menyerah sekarang tenggelam dalam hanyutan duka, mau menjadi apa aku?? sulit memang, tapi cobalah untuk bangkit Sinta!”, kataku menyemangati diri sendiri.

Rasanya tiap centi tubuhku betul-betul remuk. Hatiku lebih sakit karena karakterku telah dibunuh oleh prasangka dan fitnah pribadi Tanto. Faktanya adalah Pak Burhan memang mengajakku jalan. Tapi diluar dugaan, Burhan justru berprilaku santun sekali dihadapanku dan mengantarku pulang, dengan tanpa menyentuhku sama sekali. Tanto yang kebetulan ada di rumah dinasku, melihat pak Burhan mengantarku, dan berprasangka secara keji. Betapa sadis dampak dari sebuah prasangka.

Aku tidak pandai. Kuakui itu dan dulu kuanggap itu sebagai kelemahan. Namun perjalanan waktu membuatku sadar kalo kelemotanku itu dapat menjadi kelebihan juga. Bayangkan dengan lambatnya aku berfikir, membuatku tidak punya energy ekstra untuk berprasangka buruk terhadap orang lain.

Tidak seperti Polwan lain yang kadang memendam rasa iri terhadap rekan kerjanya yang lebih cantik, tajir, atau berposisi lebih “basah”, aku tidak bisa seperti itu. Buatku mampu selamat, satu hari saja, tanpa dimarahi oleh atasan, karena kebodohanku, adalah anugerah terbesar.

Itulah mungkin yang membuatku dikenal supel, mudah bergaul, dan disukai oleh orang banyak. Aku telmi, tapi kebodohanku membuat aku tidak punya prasangka di hati. Sebaliknya Tanto, dimana ya dia sekarang? kasian kamu Tanto, begitu kerasukan setan, padahal hanya disulut oleh sebuah pikiran buruk dalam dirimu sendiri. Coba kamu mau mengikutiku sedikit saja untuk selalu berfikir yang baik, pasti kamu tidak melakukan kebuasan semalam. Egomu terlalu besar Tanto untuk mendengar saran dari seorang wanita.

“Pikiran baik” itulah senjataku.

Maklum kalo sudah punya otak pas-pasan masa mau digunakan untuk berfikir yang jelek?. Pikiran baik itu selalu kugunakan saat berhungan dengan semua orang. Contohnya pak Burhan, sejahat-jahatnya Pak Burhan digosipkan, sebenarnya aku tidak pernah berprasangka apapun kepadanya. Hanya saja “gambaran” seseorang yang timbul akibat “gossip” yang beredar, memang dapat mempengaruhi pandangan orang. dari gossip aku mulai percaya kalo Burhan adalah bandot, ternyata?? gossip itu salah, dia baik sekali kemarin.

” Aduh nyeri sekali seluruh tubuhku! celakanya sebentar lagi sudah waktunya apel pagi. Ayo Sinta semangat kamu harus segera berangkat! disemprot Inspektur Febi pagi-pagi bukan sarapan yang menyehatkan. Akhirnya meski masih menahan nyeri kupaksakan untuk berdiri mengenakan kembali baju tugas yang telah disiapkan malam sebelumnya.

Untunglah bekas luka hanya terdapat di kulitku sehingga mampu disembunyikan oleh baju. Tak ada sabetan Tanto yang mengenai tubuhku yang terlihat keluar. Sambil meringis aku berjalan tertatih menuju motor untuk berangkat ke kantor. Rasa kulit lecet bersentuhan dengan kain baju sangat mengiris perasaan.

Sepeda motor ini adalah sahabat setiaku. Motor inilah yang setia mengantarku kemanapun sepanjang karirku. Kesetiaan dan kehandalan mesinnya membuatku selalu memperlakukannya penuh kasih sayang. sifat penuh belas kasih juga dominan dalam diriku.

Sejahat-jahatnya Tanto dahulu sampai semalam, aku selalu ada untuk membantunya di tengah kesulitan. Bahkan, meskipun dia hendak membunuhku seperti semalam, bila Pak Burhan menawarkan membebaskannya dari kasusnya-walau dengan “imbalan” tubuhku sebagai jaminanya, aku akan segera menyanggupinya. kenapa kamu mau Sinta? aku tak tau wahai pikiranku, tapi perasaanku mengatakan begitu, jadi aku lakukan saja.

Penuh nyeri di sekujur tubuh aku berangkat ke markas. Sepanjang jalan kurasakan sejuknya udara pagi. Begitu kubersyukur pada Yang Kuasa atas limpahan nikmatnya yang masih dapat kurasakan. Semua pemandangan dan keindahan ini tak pernah kuhargai sebelumnya.

Akan tetapi setelah merasakan dicekik hingga hampir mati, semua anugerah Tuhan menjadi begitu bermakna. Kemarin, aku seperti menjadi seokor ikan yang gelagapan keluar dari air. Apa mungkin karena selalu dilimpahi oleh air, seokor ikan menjadi kurang bersyukur, hingga tibalah saat air itu dikuras dari dirinya hingga dia sekarat, barulah dia menghargai limpahan air itu? entahlah pertanyaan itu terlalu berat buatku.

” HHmmmm Sinta indahnya udara pagi inii…”, aku melambatkan laju motor sejenak menghirup udara segar pagi hari.

Memasuki jalan protokol, kumelihat di tepian jalan sosok seorang ibu tua tukang jamu hendak menyebrang jalan. Sangat padatnya jalanan dengan kendaraan, membuat Ibu itu sulit untuk menyebrang. Mengambil resiko akan terlambat apel pagi dan mendapat omelan dari Inspektur Febi, kuputuskan untuk menepikan motorku untuk sejenak membantu Ibu jamu.

” Ibu ayo saya bantu nyebrang”, sapaku dengan ramah.

” Wah makasih banyak Nduk, udah dari tadi Mbok disini gak bisa nyebrang-nyebrang banyak banget mobilnya”, curhat Mbok Jamu.

Aku tersenyum mendengarnya, kuambil tangannya kemudian kugandeng dan kubantu menyebrang jalan.

” Nduk makasih banyak! semoga Nduk selalu “diparengi” lindungan dan kelancaran dari Gusti Allah”, Ibu itu mendoakanku dengan tulus sekali.

” Amin, terima kasih banyak ya Mbok! hati-hati dijalan”, kembali kuberikan senyum kepadanya kemudian melangkah kembali ke sepeda motorku.

Sebelum kunyalkan mesinnya aku masih sempat berfikir dulu ; ” Didoain sama Ibu tadi membuatku tambah semangat! tapi kalo dihitung-hitung, sekarang sudah jam segini, apel pagi jelas tidak keburu. Ah kenapa tidak sarapan bubur ayam saja dulu, kebetulan aku belum makan, lagipula cari penyakit sekali datang jam segini- bukan hanya Inspektur Febi, senior Polwan yang lain juga masih banyak yang bisa “nyap-nyap” gak karuan, bisa jadi bubur beneran nanti aku”.

Lagipula aku ingin sejenak duduk untuk mengistirahatkan nyeri luka sabetan di kulit. ” Akh nekad ajalah makan bubur dulu Sinta”, tegasku. Kuputuskan untuk mampir dulu saja ke bubur ayam langgananku tak jauh dari jalan protokol.

Lengkaplah sudah syarat sebagai Polwan paling kacau di kantor , selain agak telmi, aku juga sedikit nakal, maksudnya nekad dan suka nerabas aturan. Tapi bukan nakal yang berat, hanya curi-curi kesempatan makan bubur sambil sekali-kali bolos apel pagi gak kenapakan?.

” Mas, bubur ayam biasa ya!”, pesanku.

” Ya Bu Sinta segera dianterin, mau pake sate apa aja?”, tanya penjual bubur dengan ramah.

” Sate ati sama telor puyuh aja ya Mas biasa”, jawabku sambil tersenyum.

” Iiih Si Eneng manis amat kalo senyum”, canda si tukan bubur yang membuatku tersenyum plus tersipu.

Huff akhirnya aku bisa duduk menarik nafas sebentar. Luka yang digores Tanto terasa “sedikit” hilang dengan senyum dan doa tulus dari Mbok jamu tadi dan kepolosan tukang bubur di hadapanku. rasanya melihat orang kecil seperti mereka begitu tulus menjalani hidup sedikit banyak membuatku malu. Meskipun kamu habis dihajar habis-habisan Sinta, setidaknya masih banyak orang lain yang lebih menderita dari kamu, tapi mereka selalu bersyukur dan tegar menjalani hidup.

Pengalaman sepele, membantu Mbok jamu menyebrang tadi, membuatku makan dengan lahap. Kukunyah perlahan sate ati dan telur puyuh yang tersaji, untuk menikmati betul tekstur rasa masakannya. Sebagai wanita aku punya kebiasaan makan dengan lambat sekali. Tantri saja sering kesal dengan kebiasaan itu. apalagi saat di pendidikan, kami dituntut makan cepat dalam hitungan detik, aku pasti tertinggal dan lagi-lagi mendapat hukuman dari para senior ataupun pelatih.

Untukku pribadi momen makan adalah sakral. Selain bentuk rasa syukur terhadap pemberian Yang Maha Kuasa, menikmati makanan perlahan juga membantuku untuk tidak mudah merasa lapar. Bagaimanapun kehidupan seorang Polwan menuntut kami untuk menjaga badan selalu “slim”.

Yang terutama, makan secara perlahan juga membuatku bisa merasakan benar racikan bumbu dan kenikmatan masakan yang tersaji. Sebagai wanita aku selalu berdoa supaya suatu saat bisa memasak masakan sendiri. Aku belum bisa masak, tapi setidaknya dengan membiasakan makan pelan-pelan dan menikmati makanan benar-benar akan membuatku bisa masak suatu saat nanti. Betul tidak sih pikiranku itu?? aku bingung sendiri.

Asyik, aku tenggelam dalam kenikmatan ritual makan bubur. Rasa bubur yang berpadu dengan suiran daging ayam, ditambah kecap, daun bawang, seledri dan kacang, terasa begitu pas di lidah. Mmmm rasanya sejenak saja persoalan kehadiran empat pria sekaligus dalam hidupku serta penganiyayaan Tanto lenyap dilahap oleh rasa bubur ini. Banyak wanita lain yang memerlukan shoping, clubbing atau gadget canggih, untuk menghilangkan stress. Untukku?? cukup makan sepiring bubur ayam yang enak.

” Dor”. Tiba-tiba terdengar bunyi letusan keras sekali tak jauh dari posisi aku duduk.

Kuputar kepalaku untuk mencari arah letusan yang keras itu, tapi tak kulihat apapun yang terjadi. Apa itu ya?? mungkin ban meletus , kasian pengendaranya harus menuntun motornya kalo betul itu bunyi ban meletus. Mmmm cuek saja kulanjutkan kembali memakan sesondok bubur lagi. Ah kerupuk ini, kenapa aku lupa untuk menyantapnya ya.Dasar Sinta kerupuk aja kamu lupa apalagi yang lain. ” kriuk..kriuk..kriukkk”, kukunyah kerupuk itu dengan penghayatan yang syahdu.

” Dorr”, bunyi ledakan kedua terdengar. Ada lagi ya motor yang meledak bannya?. Kenapa bisa begitu ya. Antara ya dan tidak aku memikirkan itu, sebab aku kini tengah merem melek menikmati suapan bubur dengan sate atinya. Mmm enakkk. Betul-betul enak Sinta.

Dari arah gerobak , tukang bubur berlari tergopoh-gopoh ke arahku.

” Ibuuu Sinta ..tolooong Bu..ada perampokannn mobill…”, seorang tukang bubur penuh dengan hysteria ketakutan dan mulut yang menyembur beberapa butir ludah, mengucap grogi dan boros kepadaku.

Bengong, aku masih menggigit sate ati yang begitu gurih.

” Ayo Bu tolong itu ada tiga orang mau nyolong mobil, mereka bawa pistol lagi”, tukang bubur itu memaksaku setengah menarik bajuku.

Masih bengong, aku berdiri sambil berupaya pelan-pelan mencerna apa yang terjadi sebenarnya. Tukang bubur mengarahkan telunjuknya ke sebuah arah. Kuarahkan mataku melihat ke titik lokasi yang ditunjuk itu. Mulai gamblang di pandanganku, terlihat tiga orang bersenjata sedang menodongkan senjatanya ke arah seseorang- tampaknya pemilik kendaraan- di seberang jalan.

Dengan masih mengunyah sate ati di mulut, aku berjalan “setengah meloading pikiranku” menuju mereka. Naluriku alamiahku meraba pistol yang melingkar di pinggang. Sebenarnya ini pistolnya Tantri, aku diminta mengembalikannya hari ini ke kantor.

Aku sendiri dengan kecerobohanku sebenarnya tidak boleh memegang pistol oleh Inspektur Febi. Namun penganiyaan Tanto malam kemarin membuatku jaga-jaga dengan meletakkan pistol ini di sabukku.

Dari jarak tidak terlalu jauh kulihat pengendara mobil itu masih melakukan perlawanan. Hal itu membuat ketiga orang itu tampak panik dan hendak menembaknya. Situasi jalanan disini memang mulai lengang itulah yang membuat kawanan ini nekad beraksi. Pelan, mulai mampu kutelaah gawatnya situasi, saat melihat bahaya yang tengah dihadapi bapak itu. Aku berteriak spontan;

” Polisi!! letakkan senjata kalian! “, lantang aku berteriak.

Kaget dengan kemunculan seorang Polisi wanita yang tiba-tiba, mereka semakin panik. Salah seorang diantara mereka yang menggunakan topeng memukul pengemudi dengan gagang pistol dan langsung membuatnya tersungkur.

” Letakkan senjata Bapak-Bapak”, aku berteriak, dengan tetap menjaga kesantunan berbahasa.

” Cepat Tembak Dia!!! kita harus cabut dari sini”, seorang rekan malingnya menyuruh si pria bertopeng itu.

Aku masih belum sepenuhnya mudeng. Inilah yang aku tidak terlalu senang, ketika situasi berubah cepat dihadapanku tapi otakku masih berjalan ditempat . Dihadapanku ketiga orang ini saling berteriak-teriak.

Ada yang mengacungkan jari telunjuknya ke arahku dengan wajah panik. Juga ada yang mulai mengacungkan moncong pistol arahku. Mau ngapain ya mereka?? Aku tetap maju penuh kebingungan, selangkah demi selangkah, sambil tetap mengunyah sisa makanan.

” Dorrrr”, si perampok bertopeng menembakkan pistolnya ke arahku. Kedua temannya yang tadi menunjuk-nunjuk kini tergesa-gesa naik ke atas mobil.

Sampai disini aku masih belum “ngeh” ngapain orang itu menembak ke arahku. Bunyi letusan peluru yang begitu keras hanya mengagetkanku sehingga berhenti sejenak. Meski samar, tapi aroma bubuk mesiu mulai kucium , berikut desingan suara peluru yang tampaknya melesat disamping telingaku.

” swwwiiiiinnggg”, terdengar seperti itu deru peluru yang melesat disisiku.

Peluru pertama itu, lucunya meleset. Aku tetap berdiri soalnya maka kusimpulkan peluru itu meleset. Lantas bagaimana Sinta?? apa yang harus kamu lakukan. Aku tidak tau. yang penting pistonya Tantri kucabut saja dulu dari bungkusnya, dan aku maju lagi ke arah mereka. mulai lagi, pasca ledakan tadi, aku melangkah maju tapi dengan tangan yang terentang lurus ke bawah memegang pistol.

Tanganku kaku banget rasanya, tak bisa diangkat ke atas untuk mengarahkan pistol ini ke arah laki-laki bertopeng. Rupanya seperti ini ya rasanya megang pistol.

” Bego kamu Ndul! nembak aja gak becus! tembak lagi cepet!!”, terdengar perintah kawanan yang telah berada di atas mobil.

” iiiiyaaaa iyaaa bosss”, kata si Topeng,

” Dooooor….”, dia menembak lagi. tembakan kedua meletus kembali lagi-lagi mengarah tepat kepadaku.

Aku masih saja berajalan penuh kepasrahan, tak berlindung terhadap apapun, menuju si penembak. Betul-betul Polisi paling bodoh aku ini. Rekanku di detasemen anti terror saja, kuyakin tidak akan melakukan apa yang sekarang aku lakukan.

Sesungguhnya aku ini belum dapat mencerna situasi yang terjadi, tapi berlagak terlihat seolah berani dengan maju ke depan, dengan sebuah niat mulia untuk menyelamatkan bapak korban tadi.

Niatnya sih baik, melindungi korban, Tapi apa daya tanganku sendiri tak mampu digerakkan untuk mengangkat senjata. Yang bisa aku lakukan hanya melangkah maju seperti orang idiot berhadapan dengan peluru.

” Gilla saktttii Polwan inii bosss..”, si topeng kenapa mulai gemetaran dihadapanku ya?. Apa kerena peluru kedua juga gak kena??”.

” Ndul..bego banget kamu!! jangan maen-maen cepat tembak… habisi dia”, pencuri yang dimobil berteriak-teriak, ” iya ngapain sih kamu cepetan begoo”, temannya menimpali.

” Hiiiiiiii”, si topeng makin tampak bergetar hebatt ketika aku semakin dekat ke arahnya.

” Dorrr….dorrrrr…..dorrrr…doorrr” empat tembakan beruntun dilontarkannya secara membabi buta.

Beberapa peluru kurasakan anginnya berdesing begitu kencang menerpaku. Dalam hati aku pasrah saja, menghadapi peluru itu. Sesuai saran Tantri, untuk selalu menyebut nama-Nya. berulang-ulang aku mengucap keagungan nama-Nya. Boleh saja aku tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi, tapi setidaknya aku mengingat nama Yang Maha Pelindung. pasti itu bisa melindungiku. yakinku dalam hati.

Lucunya empat peluru itupun kembali meleset. Benar-benar mukjizat. Aku tetap berdiri tegak dan melangkah maju. Kini jarakku dengan si penembak tinggal sejengkal. Tangannya yang begetar menodongkan pistolnya ke tepat ke arahku. Bagaimana kondisi tanganku?? masih kaku tidak bisa digerakkan apalagi diangkat.

” Bapak yang terhormat letakkan senjatamu !”, ujarku perlahan penuh sopan santun. Terhadap orang yang mau membunuhmu?? kamu benar-benar sakit jiwa Sinta.

Sekarang bukan hanya tangan Bapak itu yang bergetar hebat, kakinya juga. Dia malah seperti melihat setan ketika melihatku. Tidak tau dia sedang berhadapan dengan siapa? Brigadir Sinta Polwan paling lemot di sini.

” Hiiii hiiii”, membayangkan Polwan terlemot, aku tersenyum sendiri. Padahal sedang berhadapan dengan Si topeng yang tengah mendodongkan senjatanya setengah centi dihadapanku.

Melihat senyumku, Si topeng justru semakin ketakutan. Dengkulnya bergetar gempa bumi dihadapanku. Pistolnya jadi terlepas dari tangannya akibat tingginya skala richter goyangan kakinya.

Kedua temannya memutuskan lari kabur tunggang langgang meninggalkan mobil yang hendak dicuri. aku tidak tau kenapa mereka lari terbirit-birit begitu. masalahku hanya satu, tanganku mati rasa tidak mau terangkat. Ayo tangan tersayang bantu aku donk, ayo gerak gerak gerak.

Pertama kuberusaha menggoyang jariku. Belum berhasil. Kucoba lagi. Lebih tenang Sinta. Lebih tenang. Nahh jariku akhirnya bisa bergerak, kemudian bahuku, lenganku, dan akhirnya, ini yang kutunggu, tanganku bisa bergerak naik dan langsung terarah tepat ke arah muka si bapak penembak.

“Bapak yang terhormat, letakkan senjatamu!”, kataku dengan nada lembut yang renyah.

Sok jago aku kelihatannya, padahal cuma ngulang perintah aja. Tapi, untuk action bolehlah. Tanganku sekarang memegang senjata yang dirahkan tepat ke muka bapak itu. Kayak wanita cantik di film-filem action yang pernah kutonton.

” Ampun Bu…ampunn..jangan tembak saya Bu Polisi”, dalam hitungan detik dia jatuh tersungkur di hadapanku, meraung-raung minta dikasihani.

” ampuuunn Bu…ampuuunnn”, raung Bapak topeng diiringi derai tangis sesenggukan.

” Malu ih udah bapak-bapak kok nangis, ayo bangun Pak”, kataku sopan sambil dengan lembut membekuk Bapak ini, sesuai prosedur penangkapan.

“Hidup Ibu Sinta….. Plookkk…ploook…ploooookkk…..”, dari kejauhan masyarakat yang berkerumun di sekeliling tukang bubur semakin banyak, dan serentak bertepuk tangan riuh seperti melihat pertandingan sepak bola. kebanyakan nonton piala dunia barangkali mereka ya?.

Siapa yang mereka tepuki itu ya?? apa bapak ini??. Aku bingung siapa sebenarnya yang mereka berikan tepuk tangan itu. Ah daripada bingung, mending kucabut saja borgol yang terbelit di pinggangku kemudian kukenakan ke pria yang topengnya sudah kucopot ini. Kedua temannya berhasil kabur, semoga saja teman-teman dari Serse dapat segera menangkap mereka..

” Ayo Bapak ikut saya ke pos Polisi”, ujarku sambil membawa dia dengan sopan ke tempat yang relative lebih aman.

” Plokkk..plokkk…plokkk Bu Sinta hebat. Udah cantik sakti lagi”, si tukang bubur mendatangiku.

” hush Mas, siapa sih yang kalian tepuki?? bapak ini??”, tanyaku bisik-bisik.

” Ibu Sinta ini kalo becanda memang beneran deh, ya Ibulah masak bapak ini??”, katanya tetap dengan senyum lebar di wajahnya.

Baru sadar aku dengan segala sorotan ini yang rupanya ditujukan kepadaku. Akhirnya Sinta, untuk sesaat kamu jadi bintang filem juga. Salah tingkah aku jadinya mendapat perlakuan masyarakat yang begitu heboh. Karena terus menerus dipuji aku jadi rikuh, dan memutuskan untuk melihat kondisi Bapak korban yang tadi ditimpruk oleh gagang pistol. Masih terduduk dia didekat mobilnya tanpa seorangpun yang menolong.

Saat kudekati ternyata cukup lusuh juga ya beliau ini, untuk seorang pengendara mobil, pakaiannya terlalu sederhana.

” Pak, ayo saya bantu bangun, gimana kepalanya masih sakit??”, kupegang lengannya untuk membantunya berdiri. Kok dia bawa karung kayak pemulung ya?? pikirku.

” Mbak, korbannya itu saya lho!”, suara seorang pria dari belakang mengagetkanku,

” bapak itu pemulung, yang lagi ngambilin sampah yang bersetarakan”, lanjutnya lagi.

Seketika kualihkan wajahku ke belakang untuk melihatnya. Seorang pria tampan, dengan busana rapi. Sebelumnya, rupanya dia telah ditolong oleh bapak-bapak lain. Melihatku salah orang, bapak-bapak itu cekikan geli. Aduh malunya aku, kenapa aku bisa salah orang ya. Baru aja jadi idola, udah jadi tertawaan lagi deh.

” eee mmmaaf ya Pak”, ujarku pada pak pemulung.

” jadi mas ya korbannya??”, tanyaku kepadanya.

” Iya Mbak”, dia sangat tampan, malah mirip seorang bintang film,

” Mbak, aku berhutang budi banget sama Mbak”, ujarnya sambil masih mengelus kepalanya yang tersabet gagang pistol.

” maksih banyak ya Mbaak….Sinta”.

” Iya Mas sama-sama itu sudah tugas dan tanggung jawab kami”, ujarku dengan nada suara yang ditegas-tegasin. Lucu juga ya bila seorang wanita gugup sepertiku, bersua dengan pria yang demikian tampan, kemudian berlagak berwibawa. Tapi, kesalahan menggandeng orang tadi membuat nilai wibawaku sedikit jatuh dihadapannya.

” Mbak Sinta, maaf kalo Rudi lancang, tapi, boleh gak aku ngajak Mbak makan malem?. Yah itung-itung Rudi ingin berterima kasih sama pengorbanan Mbak yang luar biasa”.

” Pengorbanan apa ya Mas??”, tanyaku bingung.

” maksud saya, tadi Mbak menghadapi 6 peluru lho, demi nyelamatin Rudi. Itu hal paling luar biasa yang pernah dilakukan orang sama aku Mbak”, dia menunduk malu-malu.

” utang budi ini, mungkin selamanya gak bisa Rudi tebus Mbak, tapi setidaknya Rudi bisa ajak mbak makan malem”.

” Mmm kamu gak usah repot Rudi”, kataku.

” Ini sudah tugas Mbak kok, yang penting kamu sehat kan?”.

” Sehat Mbak Sinta. Mbak kalo makan malam gak mau, boleh minta nomer hand phone gak??”.

” Buat apa Rud??”.

” mau ngucapin terima kasih mbak. Rudi beruntung banget udah diselamatin, yang nyelamatin Polwan cantik banget lagi”.

” Ah kamu bisa aja”, ujarku menepis pujiannya,

“Mbak ada di Polres terus kok Rud, main-main aja ke kantor, Mbak pasti ada disana”. Enak juga ya berlagak jadi wanita dewasa yang jual mahal, batinku.

” Siap Mbak, nanti pasti Rudi main ke Polres”.

Kutinggalkan pria tampan itu. Bukannya aku pengen jual mahal, tapi udah cukup deh masalahku dengan egoisme para lelaki. Kalo seorang wanita pengen cari masalah, jalinlah hubungan dengan banyak pria, niscaya masalah pasti menghampiri anda. Hush Sinta kamu nasihatin diri sendiri lagi, sedangkan kamu sendiri pelaku utamanya.

” Plokkk..plokkk…plokkkk…”, hidup ibu Sinta….” plok..plok..plokkkk…”, mereka terus bertepuk tangan, sambil mengawalku sampai parkiran motor. Pelaku sudah diamankan oleh Polisi yang telah tiba di lokasi. Dikawal oleh masa yang berkerumun begitu banyak, aku jadi rikuh sekali dan kurang nyaman.

” Bu Sinta hebat sekali! sering-sering makan bubur disini ya Bu, untuk ibu gratis deh buburnya”, kata tukang bubur.

” mampir ke toko saya juga ya Bu Sinta, saya gratisin juga barang di toko”, kata bapak disebelahnya. wah jadi pahlawan benar aku sekarang ini. ” Maksih banyak ya Bapak-bapak, Sinta ijin dulu ya kembali bertugas”, ujarku dengan penuh hormat pada mereka.

” Hidup Bu Sinta!”, mereka serempak bersorak,

” plok…plokk..plokkk..plokkk”, mereka mengiringi keberangkatanku dengan tepuk tangan yang hampir saja membuatku hilang kendali motor. Untung aku tidak jatuh, coba jatuh, jadi bahan tertawaan betul aku nanti jadinya.

Kembali Brigadir Sinta mengendarai sepeda motor. Ingat Sinta kamu bukan hebat kayak yang dikatakan bapak-bapak tadi. Cuma kebetulan dan perlindungan dari Yang Kuasa. Jelas-jelas bukan karena kamu Sinta.

Tapi setidaknya kejadian tadi, menghilangkan rasa sakit di sekujur tubuhku. Setelah lolos dari cambukan gesper tanto, sekarang kamu lolos dari pelor. Bukan hanya 1 pelor, sekaligus 6. hebat betul kamu. Polwan paling lemot bisa-bisanya menaklukan peluru.

Sesampainya di kantor suasana telah lengang. tampaknya para rekan Polisi lain telah kembali ke bagiannya masing-masing untuk bekerja. Hufff Sinta action tadi pagi cukup kamu saja yang tau, gimana kalo orang lain tau? bisa dihukum kamu. Mana ada Polisi yang nyongsong peluru kayak kamu tadi?? itu betul-betul edan.

” Brigadir Sinta sini kamu!”, terdengar dari suaranya ini pasti Inspektur Febi.

” Siap Komandan”, tergesa aku segera lari menghampirinya.

” Apa yang kamu lakukan tadi di jalan protokol????, aksi bodoh lagi??”, tampaknya berita itu sudah sampai ke telingan Inspektur Febi,

” Sinta jawab!”.

” Siap Komandan”, aku senang gagapku mulai menghilang. Ngalahin peluru bisa, masak naklukin gagap gak bisa Sinta.

” tadi ada perampokan mobil di sudut jalan protokol, saya berinisiatif menyelamatkan korban Komandan”.

” Itu tindakan bodoh Sinta! lain kali kamu panggil bantuan dulu! kamu tau, semakin banyak aksi kekerasan terhadap Polisi akhir-akhir ini, itu yang membuat aku, selaku Komndanmu gak henti cerewet sama kamu”, cepat sekali untaian kata itu keluar dari bibir Komandan yang satu ini.

” siap Komandan”, jawabku dengan sikap hormat.

” Kamu sudah dilatih bagaimana caranya dalam menghadapi situasi seperti itu, utamakan keselamatanmu sendiri dulu Sinta! ingat itu baik-baik!”, tegasnya.

” Siap Komandan maafkan Sinta”, jawabku lagi.

“Ya sudah kembali bekerja sana!”, Inspektur Febi memerintahku.

” Siap Komandan”, aku segera balik kanan.

” Sin”, tegurnya lagi,

” kamu gila tapi..nice job”, dia mengacunkan jempolnya.

” Siap Komandan”, jawabku dengan penuh keriangan di hati. Dipuji Inspektur Febi gitu lho, kapan lagi??.

Suasana dan mood hari ini tiba-tiba begitu berbeda. Setelah disiksa Tanto semalam, sebuah kebaikan sederhana merubah suasana hariku. Kususuri lorong kantor dengan segala aktifitas dan kerumitan persoalannya. Pada sebuah ruangan, kulihat sekumpulan ahli forensik sedang menelaah barang bukti di tkp.

Dari arah bagian Reskrim banyak terdapat pesakitan yang menunggu giliran diperiksa. Unit narkoba juga sedang sibuk mempersiapkan penggerebekan parik sabu-sabu. Semuanya tengah sibuk dengan urusannya masing-masing.

Kuputuskan untuk melalui sisa hari itu dengan membantu Inspektur Febi dalam mengurusi masalah personil. Ternyata Beliau adalah wanita yang sangat baik. Dia disiplin dan punya naluri kepemimpinan yang tinggi. Sangat menjaga anak buahnya, itulah yang membuatnya sangat sering mengomeliku. Aku dianggapnya ceroboh dan membahayakan.

Sore itu aku menunggu telpon dari Pak Burhan yang telah janji mengajakku ketemuan malam ini. tapi sedari tadi dia tidak menghubungiku. Barangkali aku bisa benar-benar bebas darinya. Tidak mungkin aku menyambangi ruangannya. bagaimanapun tidak mungkin aku yang akan menghungunginya duluan.

Tapi sebagai bawahan situasi ini serba sulit. mau pulang duluan aku takut dianggap melanggar janji. tapi mau menunggu juga tidak tau ada dimana orangnya sekarang.

Sampai maghrib aku masih berrada di ruang kerja menunggu kejelasan. Setelah kupastikan tidak ada tanda-tanda keberadaan Pak Burhan aku memutuskan pulang saja. Jaka juga lenyap seharian ini. Entah ada dimana dia sekarang.

Ketika aku hendak pergi, tiba-tiba terdengar bunyi ledakan keras dari salah satu ruangan Polres.

Semua anggota yang masih tinggal di ruangan serentak berlari mencari sumber suara.

Dari arah ruangan Komandan Burhan, para anggota yang terlebih dulu datang, telah berkerumun penuh kepanikan dan saling berteriak satu sama lain.

Kucoba untuk menerobos masuk tapi tidak bisa karena regu provost telah menutup akses ruangan. Terpaksa kutanyakan kepada salah seorang anggota Provost yang terlihat sangat panik.

” Mas apa yang terjadi??”,

” Komandan Burhan bersimbah darah di dalam ruangannya Brigadir”.

” ya ampun kenapa mas??”, tanyaku

” masih belum jelas. Bisa jadi Beliau ditembak orang, bisa juga percobaan bunuh diri”.

” ………”

Bersambung