Polwan S2 Part 2

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Tamat

Cerita Sex Dewasa Polwan S2 Part 2 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya : Cerita Sex Dewasa Polwan S2 Part 1

Hajat Jaka telah tertumpah di payudaraku. Bagi Lelaki, bila telah berhasil “menumpahkan benih” di tubuh seorang wanita, sama artinya telah “mengecapkan stempel” pada diri wanita itu. Mungkin, Jaka telah berhasil mengecapku menjadi wanita kesekian yang telah berhasil ditidurinya.

Dasar lelaki, kalo udah “selesai” kemauannya, langsung aja mendengkur. Jaka kini pulas tertidur. Sejenak, aku merasa akan menjadi calon istri seorang Perwira.

“Pejantan” yang takluk disisiku ini bisa jadi bakal mendampingi hidupku selamanya.

” Kamu pemimpi Sinta, mana mau dia sama kamu”, suara hatiku tiba-tiba berbicara.

” Kenapa dia tidak mau?? barusan saja dia menggauliku seperti aku adalah istrinya?”, jawabku ,

” Dia lagi birahi aja tadi, salahmu sendiri mau aja “digauli” kayak binatang begitu!. Ingat Sin, kamu masih punya Tanto!. Gimana perasaan dia??, Udahlah cepat tinggalin rumah ini!”, perintah suara dalam hati.

Mendengar nama Tanto, menyentak kesadaranku akan urusan yang belum selesai.

” Tanto, ada dimana kamu, kita perlu bicara”, aku membatin.

Tangan Jaka yang masih memelukku kutepikan, kemudian beranjak bangun dari ranjang tempat tidur. Kebaya pink yang semula begitu indah ini kini sudah terkoyak oleh birahi. Harus mengenakan apa aku untuk pulang?. Inisiatif, Kubuka lemari Jaka untuk mencari pakaian yang pantas kukenakan. Kupinjam saja dulu bajunya yang pas dengan ukuranku.

Dari dalam lemari aku menemukan sepasang celana pendek dan kaos bola ukuran sedang, yang terlihat pas. Walaupun “lobok”, minimal pakaian ini dapat membungkus ketelanjanganku. Habis salin aku melangkah keluar kamar. Sebelum meninggalkan ruangan, kulirik Jaka yang masih terlelap telanjang.

” Apa yang sebenarnya kamu inginkan dariku Mas??, besar harapanku kepadamu. Tapi, apakah kamu akan sambut cintaku?. Bagaimana jika ini hanya menjadi cinta yang bertepuk sebelah tangan”.

Meski pesimis soal masa depan hubungan kami, setidaknya persetubuhan panas tadi membangkitkan harapanku untuk suatu saat dapat bersanding dengannya di pelaminan. Kulangkahkan kaki keluar dari rumah Jaka dengan sejuta kesan dan pertanyaan.

“Bagaimanapun kedudukan sosial kami tidak sederajat. Tapi bukankah cinta sejati selalu misterius. Sepanjang kami berdua memiliki cinta, semua bisa terjadi”, lamunku sambil menaiki taxi yang akan mengantarku pulang ke asrama.

HARI KEDUA : ” FIRST LOVE IS THE DEEPEST “

Keesokan harinya, aku terbangun gamang di ranjang. Tantri kini telah meninggalkan rumah dinas. Dia meninggalkanku seorang diri. Markas berencana menempatkan seorang Polwan remaja baru untuk menggantikan Tantri. Rasa sepi yang mulai melanda benar-benar perih. Aku tak sanggup , berada dalam kesunyian, tanpa seorangpun yang mau mendengarkan keluh kesahku seputar permasalahan kehidupan.

Berusaha tegar diriku untuk bangkit kembali dan menata kehidupan demi menyongsong hari baru. Walau terasa berat namun hidup harus terus berjalan. Kuambil handphone untuk sekedar menyapa Tantri, menanyakan kabarnya yang tengah asyik berbulan madu.

” TRI SAYANG , GIMANA KABAR BULAN MADUNYA??”, kuketik cepat, sambil mengenakan Pakaian Dinas Harian.

Tak lama, bunyi pesan balasan berbunyi. Segera kubaca ; ” BULAN MADUNYA HEBOH SIN!. GIMANA KABARMU?? AKU KAGET BANGET KAMU JADIAN SAMA JAKA! SEJAK KAPAN?? KENAPA GAK PERNAH CERITA”.

” AKU BINGUNG SOAL ITU TRI! KAPAN AKU BISA TELPON KAMU BUAT NYERITAIN SEMUANYA??”.

” NANTI SORE BISA. TELPON AKU YA SINTA!”.

” OKE TRI MAKASIH BANYAK YA SAYANG!! SALAM UNTUK ALEX”.

Kututup hand phone. Meski berjauhan, setidaknya Tantri masih bersedia untuk mendengar, itu sangat membantu. Sebelum berangkat tugas kusiapkan terlebih dahulu seluruh perlengkapan dinas yang diperlukan agar hari ini dapat kulalui dengan sukses tanpa halangan. Peralatan ini semuanya kusimpan di dalam tas, kemudian kubawa naik ke sepeda motor. Untuk pertama kalinya aku berangkat menuju kantor tanpa siapapun yang mendampingi.

Sampai di Markas, sosok Pak Burhan merupakan “momok” yang harus dihindari. Sedari apel dia terus mencariku. Secara sembunyi-sembunyi dan bergerak senyap aku berupaya mengelak. Kebetulan hari ini ada demonstrasi mahasiwa menuntut pengusutan kasus korupsi. Aku merasa tertolong kala membaca Surat Perintah penugasan, dimana namaku tercantum sebagai salah seorang Polwan yang ikut serta dalam regu pengamanan.

Lain Komandan Burhan, lain pula Inspektur Jaka. Tak disangka dia juga mencariku. Khusus untuk dia, aku tak tau harus berkata apa. Kemarin, tanpa mengucap satu patah katapun, dia menggumuliku. Tentu aku tak bisa menyalahkannya begitu saja. Aku sendiri “jangan-jangan” yang ingin ditiduri oleh seorang Perwira tampan.

Bukankah setiap Wanita memiliki pesona, yang akan digunakannya untuk “menjaring” mangsa yang diinginkan untuk menjadi suami. Pesona itu adalah tubuhnya. Ketika pria bujangan memutuskan “meniduri” seorang gadis, maka si wanita punya posisi tawar lebih besar untuk menuntut dinikahi.

Namun untuk Jaka, posisi tawarku tetap lemah. Bagaimanapun juga, posisiku yang terjebak ditengah “dilema”, menempatkanku dalam posisi rumit. Dilema yang kumaksud, disebabkan oleh tiga pejantan ini ; yang pertama Tanto pacarku yang membawa kasus, kemudian Pak Burhan dengan kekuasaannya, terakhir Jaka lewat wibawa dan ketampanan seorang Perwira.

Dilihat dari sudut manapun peristiwa kemarin terasa begitu aneh. Hal itulah yang membuatku malu menemuinya. Bagaimanapun aku masih menjaga kehormatan dari pandangan orang lain dan partner kerja. Statusku masih pacarnya Tanto seorang Brigadir Kepolisian.

Walau secara kepangkatan, statusnya masih jauh di bawah Jaka, secara kodrati, dia tetaplah manusia yang memiliki hati. Bagaimana perasaannya kalo dia tau pacarnya telah ditiduri seorang Perwira?.

Aku memutuskan mengesampingkan semua kemungkinan terburuk yang hadir, dan memilih memusatkan perhatian menghadapi demonstrasi. Segera kutukar bajuku di ruang ganti dengan Pakaian Dinas Lapangan. PDL merupakan baju lapangan khusus untuk menghadapi kegiatan di medan operasi.

Berbeda dengan PDH yang mengenakan rok dan berlengan pendek, Pakaian PDL merupakan seragam tangan panjang, dibawahnya rok diganti celana panjang berkantung, lengkap dengan sepatu boot panjang. Untuk menghadapi demo, baju ini masih dilengkapi rompi anti peluru, kemudian baret. Sejenak kupantaskan penampilanku di cermin. Ketika kunilai semua telah “pas” barulah kebergabung dengan regu pengamanan.

Apel Briefing singkat menjadi awal pengantar tugas. Pasukan yang berbaris rapi merupakan symbol kesiapan menghadapi tantangan. Selain kesiapan personil, tampak dari kejauhan tiga buah unit mobil truk berukuran besar milik unit anti huru-hara telah siap mengangkut para pasukan. Disamping truk, juga berjejer mobil besar “barracuda” dan water cannon. Semua kelengkapan sudah siap.

Bersama pasukan dan kelengkapan anti huru-hara, kami melangkah menuju kendaraan.

” Sinta tunggu sebentar!”, sebuah suara menghentikan langkahku.

” Sssssiiap Inspektur Jaka”, kenapa aku masih saja tergagap bila bersua dengannya.

” Kamu menghilang kemarin!”, Jaka menyentak dengan pertanyaan yang membuatku otomatis tertunduk,

” Mas nyari kamu ke tiap sudut rumah, tapi kamu lenyap”.

” Iiiiiiyyyaa mmmmaaaf Kkoom….Masss….Koomannndan”, aku makin tergagap dan salah tingkah,

” Mmmmaaaf Siiinnta gggak enak Komandandann, takut ada orangg yang liat. Ooo ya Ssiinta ngammbil bajuu Kkomandan yang ada di lemaari, ada di ttas Komandan, nnanti diantarrkan ke ruangann”.

” Emang kenapa kalo ada orang yang liat?? “, sosor Jaka.

” Iiiiyaaa Koomannndan maalllu ….”.

” Gak boleh kamu ngilang lagi kayak kemarin Sinta! Mau kemana kamu sekarang?”.

” Ppppenggamanan demo Komanndan”.

” Ada demo? dimana?”.

” Di depan Kantor Bbbupati Komandan, aaada yang menuntut kkkasus korupsi”.

” Hati-hati kamu! nanti Mas pengen bicara lagi, menghadap ya ke ruangan! sambil Bawa baju yang kemarin kamu ambil”.

” Ssssiiiaapp Mass, eee maksudd Siinta; Kkomandan”.

Dia berpaling dingin seperti biasa. Begitu menjaga wibawanya dia dihadapan orang lain. Peristiwa kemarin seolah tak meninggalkan bekas apapun. Apa sebenarnya arti persetebuhan bagi laki-laki?. Dibanding diriku yang merasa begitu bersalah, dia justru cuek dan dingin.

Apakah dunia kami memang berbeda? entahlah aku tidak tau. Kehilangan Tantri mulai terasa. Sosoknya yang selalu mau mendengarkan dan memberikan solusi sangat tak tergantikan. Dia pasti sanggup memberi jawaban mengenai dinginnya sifat Jaka.

Dengan langkah pasti kunaiki truk Pasukan anti Huru-hara. Bergabung bersama Polwan lain yang bertugas. Kami sama-sama berdoa terlebih dahulu. Bagimanapun pekerjaan sebagai Polisi mempertaruhkan nyawa. Komandan reguku hari ini adalah Inspektur Febi.

Sebagai pimpinan, dia telah membagi tugas yang harus kami laksanakan di lokasi. Aku sendiri kebagian mengamankan demo di garis depan sebelah barat. Loksai ini berbatasan dengan pagar Kantor Bupati.

Setibanya di lokasi, kami- sekali lagi- melaksanakan apel persiapan. Setelah jelas pembagian tugas, meluncurlah kami menuju daerah persiapan. Siang itu aku banyak melamun dan termenung. Panasnya cuaca hari ini, yang masih ditambah menumpuknya kerumunan demonstran di depan kantor Bupati, tak sanggup mengalihkan lamunanku akan permasalahan berat yang tengah dihadapi.

Bagaimana menghadapi masalah yang bertumpuk?. Burhan tetap merpakan fokus utama. Kehilangan sosok Tantri sangat memukulku secara psikologis. Tanto sampai sekarang menghilang. Dan Jaka begitu misterius.

” Hufff Sinta, kamu udah gede, gimana coba caramu menyelesaikan ini”, batinku.

” HATI-HATI…HATI-HATI….PROVOKASI”.

Berjarak setengah meter dihadapanku, para Demonstran mulai meneriakkan yel-yel dan merengsek maju sesekali menggoyang pagar betis Polisi. Mereka terus berteriak keras mengeluarkan aspirasinya.

” TURUNKAN PEJABAT XXX, DIA TELAH MENCORENG MUKA KABUPATEN KITA DENGAN MELAKUKAN TINDAK TIDAK TERPUJI!!….”. Lantang mereka berbicara.

” BAPAK POLISI DI HADAPAN KITA INI, BERUSAHA MENAHAN KITA UNTUK MEMASUKI RUMAH RAKYAT!! AYO TEMAN-TEMAN KITA MAJU UNTUK MENDOBRAK PAGAR TEMPAT PERSEMAYAMAN PARA KORUPTOR!!!”.

Polwan disampingku menggandeng tanganku untuk makin merapatkan pagar betis. Tampaknya situasi memburuk. Para Polwan telah ditarik mundur ke ring dua. Teman-teman PHH bersenjatakan pentungan telah mengambil alih pengawalan ring satu.

Berhadapan dengan kepanikan seperti ini, pikiranku malah kembali disibukkan memikirkan sosok Jaka. Begitu tampan dia, calon pejabat tinggi di Kepolisian. Sangat tinggi derajatnya di tengah masyarakat. ” Bagaimana ya seandainya aku menjadi istrinya. Kemudian bersanding mesra dengannya di pelaminan??”, aku kembali terbenam dalam lamunan.

Entah dari mana semua berawal, saat aku tengah asyik berkhayal, terdengar bunyi kaca pecah dihantam batu, bersamaan dengan terdengarnya baku pukul hebat ditengah kerumunan masa.

” Plakk….plukkk….bugggg…bagggggg…..AMPUUUUNNN……ADUUUUHHHH”, raungan dan jeritan mulai nyaring terdengar.

Kondisi menjadi tak lagi terkendali. Inspektur Febi, lantang berteriak-teriak kepada para Polwan untuk mundur ke balik pagar. Anggota PHH laki-laki yang bersenjatakan tameng dan pentungan mulai merengsek maju membubarkan masa. Di tiap sudut jalan, kepulan asap hitam – hasil ban yang terbakar- mulai mengganggu pernafasan dan penglihatan.

” JANGAN MELAMUN SINTA!!! CEPAT LARI MASUK KE BALIK PAGAR!! DEMO SUDAH ANARKIS!!”, Inspektur Febi bereteriak sambil tangannya menarik rompi anti peluruku. Tersadar dari semua lamunan, aku berlari kencang masuk ke dalam pagar. Inspektur Febi terus menarikku hingga berhasil selamat terlindung dibalik tembok.

” HEI BODOH JANGAN MELAMUN!!”, Febi menamparku, ” BISA MATI KAMU KALO NGLAMUN!!”.

” Sssssiiiiap Koooomannndan mmaaafkannnn Sssinta”.

Aku hanya bisa meminta maaf terbata-bata, menyadari begitu fatalnya keteledoranku karena kehilangan fokus. Kuintip situasi aktual di depanku, telah berubah demikian brutal dan tak terkendali. Rekan-rekanku dari anti huru hara telah mengambil tindakan tegas untuk membubarkan masa. Gas air mata telah dilontarkan demi merusak titik konsentrasi masa.

Dari balik pagar, mobil water canon maju untuk menyiramkan air ke arah demonstran.

Inilah dinamika demokrasi yang berwujud demonstrasi. Dua hari sebelumnya, ijin yang masuk ke Polres, pelaku demo ini adalah mahasiswa. Namun di lapangan, sejumlah masa misterius bergabung dan memprovokasi demonstran. Akibat provokasi yang dikobarkan di tengah ribuan masa sangatlah fatal.

Hujan lemparan batu bukan hanya membuat jatuhnya korban jiwa dari kedua belah pihak, tapi juga porak porandanya infrastruktur pemerintah dan masyarakat.

Polisi telah mempunyai protap yang jelas dalam menghadapi situasi semacam ini. Teman-teman begitu terlatih dalam mengendalikan masa. Segala tahapan, dari memberikan himbauan persuasive hingga upaya deteksi dini-melalui intel lapangan, telah ditempuh. Hanya saja ketika masa tetap mengamuk dan mulai merusak tindakan tegas-yang terukur- harus dilakukan.

Upaya pengendalian masa berjalan lancar. Berkat profesionalitas anggota di lapangan, hanya butuh 15 menit sejak lemparan batu pertama, masa pendemo telah berhasil dipukul mundur. Situasi berangsur kondusif. Anggota PHH dan intel telah meringkus sejumlah pelaku yang diduga provokator. Tim kesehatan juga mulai turun merawat korban jiwa dari kedua belah pihak.

Sisa anarkisme demo ini begitu terlihat. Pecahan kaca yang berhamburan, puluhan demonstran maupun Polisi terkulai bersimbah darah di jalanan, Gedung fasilitas pemerintahan dan masyarakat hancur lebur. Alangkah mengerikannya dampak demo yang berujung anarkis. Nafsu untuk “memaksakan sebuah pendapat” menghancurkan segala hal yang telah terbangun dengan baik.

” Sinta sini kamu!”, Komandan Febi memanggil setelah suasana kondusif.

” Siiap Koomandan”, sadar akan kekeliruan, aku mengambil sikap sempurna siap menerima hukuman.

” Kamu meleng tadi! Bodoh sekali! Kalo kamu sampe celaka, aku yang akan tanggung jawab!. sebagai hukumannya kamu tinggal disini!. Ikuti mobil ambulance yang membawa korban ke Rumah Sakit. Data jumlah korban! laporkan balik kepadaku di Markas!”.

” Siap Komandan”, Setelah memberi perintah, Inspektur Febi pergi kembali ke markas.

Untung saja aku hanya dihukum ringan. ” Huff kalo dihukum fisik, apalagi ditegur senior bisa mampus kamu Sinta” ujarku dalam hati.

Rombongan pengendali masa telah kembali ke markas. Mereka meninggalkanku bersama tim kesehatan. Kata orang aku ini orang yang ramah. Meski tidak terlalu pandai, untuk urusan bergaul aku termasuk supel. Dalam waktu singkat, aku telah akrab dengan tim kesehatan. Mereka orang-orang baik yang mendedikasikan dirinya dalam bidang medis.

Dibawah arahan mereka, mulai kubantu para korban. Banyak teman Polisi yang terluka terkena lemparan batu. Puluhan mahasiswa maupun warga juga banyak yang terluka terkena pentungan. Semua korban jiwa kudata rapih di catatan. Pemberian pertolongan pertama akhirnya rampung. Kami dapat mengantar mereka menuju Rumah Sakit.

Rumah Sakit Umum Daerah kami kini super sibuk melayani korban. Hadirnya para wartawan yang begitu banyak untuk menggali info seputar insiden ini membuatku merasa cemas. “Bagaimana ya caraku menghadapi wartawan?. Tidak ada Polisi lain- yang masih sehat-selain diriku disini”, mulai panic aku melihat awak media.

Berlagak sibuk aku untuk menghindari mereka. Kuambil tumpukan kertas kosong dari meja resepsionis. Dengan percaya diri aku mencoret-coret kertas itu. Menurutku, kini aku tampak sibuk dan tidak mungkin mereka akan menggangguku.

” Permisi, ibu yang bertanggung jawab disini??”. Rupanya dugaanku salah.
Aku berlagak cuek, terus mencoret-coret lembaran kertas.

” Bu berapa korban yang jatuh??”, tanya wartawan lain.

Ketika kumelirik, rupanya para wartawan telah berkerumun. Aku tak bisa lagi berakting.

” Apa pemicunya Bu Sinta??”, kata wartawan lain yang rupanya membaca papan namaku.

Kilatan lampu flash kamera mulai berkelebat. aku semakin cemas. Dalam situasi tertekan seperti ini biasanya aku jadi tergagap.

” Bu jangan diam saja donk! berapa jumlah korban??”.

Didesak terus aku terpaksa menjawab, ” Mmmmm, Jjjjuumllah …kkoorban 72 orang”, aku memaksa diri untuk tegas tapi tak bisa. Melihat aku tergagap para wartawan semakin mencecar,

” Dari mana saja mereka Bu?? ada yang tewas tidak?? siapa yang harus bertanggung jawab??”, terus mereka memburu, hingga membuatku semakin terjepit.

” Sebentar bapak-bapak!, kasian Ibu ini. Biar saya bantu Beliau, apa yang mau ditanyakan?. Saya Dokter Ilham yang bertanggung jawab sekarang di ruang UGD ini”, Seorang Dokter muncul dari arah belakang. Sangat lega rasanya hatiku mendapat pertolongannya.

” Pak Dokter berapa jumlah korbannya?? dari mana saja?? dan bagaimana perawatannya??”.

” Baik saya jelaskan ; jumlah korbannya adalah 72 orang. Rinciannya sebagai berikut ; 10 orang dari Polisi sisanya dari mahasiswa maupun masyarakat. Semua korban kami jamin mendapat perawatan terbaik dari Rumah sakit”.

Fasih, dokter ganteng ini menjawab pertanyaan wartawan. Aku merasa sangat mengenalnya. Kenapa aku jadi telmi begini. Hanya Tantri yang tau “penyakitku” saat sedang tertekan. Bukan hanya jadi gagap, aku juga jadi lambat berfikir dan bersikap seperti orang bodoh. Termasuk dengan sosok Dokter ini. Andai saja dalam keadaan tenang, pasti, aku bisa mengenalnya.

Tenang sekali dia diserbu dengan pertanyaan bertubi-tubi seperti itu. Alih-alih panik, dia begitu relax. Kadang dia membuat joke yang mampu mencairkan suasana. Dengan kemahirannya, dalam waktu singkat para wartawan mampu diajak keluar dari ruang UGD. Berhasil menyingkirkan para insan pers, Dokter itu melangkah ke arahku. Siapa dia sebenarnya?.

” Sinta apa kabar?? masih ingat aku??”, dia menyapaku. Kecurigaanku benar, seharusnya aku mengenal dia.

” Mmmaaf Dok, sayyya luppa”.

” Masih seperti dulu, gugupan kalo tertekan. ini aku Ilham.”.

” Ilham??? yang bener???”. Akhirnya aku ingat sosok ini, ” Masa kamu.. udah jadi dokter Ham??”.

” Iya berkat doamu, aku udah jadi dokter”.

” Perasaan aku gak pernah doain kamu deh Ham”.

” Ha ha ha masih kayak Sinta yang dulu! polos kalo ngomong. Yuk duduk dulu sini! kita ngobrol dulu mengenang masa lalu”. Diajaknya aku untuk duduk di sebuah bangku.

” Gimana kabarmu Sin?. Lama kita gak jumpa”.

” Baik Mas, aku sekarang jadi Polisi. Dinesnya di Polres sini”.

” O ya?. Wah jodoh donk kita. Aku juga dinas di RSUD sini Sin. Aku kangen kamu!. Lama amat kamu ngilang”.

” Ada kok Mas. Sinta gak ngilang”.

Cowo inilah yang merenggut kegadisanku. Sebenarnya aku menyerahkan kegadisanku kepadanya secara sukarela. Sedikit mengenang masa lalu. Waktu itu aku kelas tiga SMA, Ilham sudah jadi seorang mahasiswa Fakultas Kedokteran. Figurnya kayak seorang kakak buatku ; dewasa, pinter, ngayomin dan sabar. Sifat lemotku dalam belajar terbantu banget dengan kehadiran Ilham.

Suatu saat waktu sedang belajar barsama, Ilham mengutarakan cintanya. Tidak berhenti sampe disitu, tak lama Dia juga berniat menikahiku. Buatku yang memang tidak terlalu “mudeng” sama urusan begituan, tawarannya hanya kuanggap angin lalu. Ilham tidak menyerah. Meski terus kuabaikan dia terus membantuku lahir batin. Dalam bidang pelajaran kehadirannya buat aku makin pintar.

Orang tuaku waktu itu “getol” nyuruh agar aku masuk Polwan. Untuk masuk Polwan memerlukan hasil UAN yang baik. Disinlah Ilham terus membantuku siang malam, supaya aku mendapat nilai bagus yang memenuhi persyaratan.

Singkat cerita, aku berhasil lulus dengan nilai memuaskan. Sebagai “rasa terima kasih”, aku menerima saja waktu Ilham ngajak aku liburan ke tempat wisata yang hawanya dingin. Masalhnya Ilham ngajak aku berdua saja. Tentu aku harus mencari cara membohongi orang tua.

Akhirnya dipilihlah momen perpisahan sekolah, yang memang memilih tempat di lokasi yang sama. Ilham membooking sebuah villa, tak jauh dari lokasi kami menginap. Siang hari aku memang menghabiskan waktu bersama teman-teman, tapi di malam hari aku dijemput Ilham untuk menginap bersamanya.

Villa itulah yang menjadi saksi tercerabutnya mahkota keperawanan. Ditemani hawa dingin dan nafsu muda mudi yang begitu bergelora. Aku menyerahkan segalanya untuk Ilham. Bila harus menjawab, bagaimana rasanya malam itu, aku akan menjawab tegas ; “menyakitkan!”.

Bertentangan dengan semua mitos yang kulihat di televisi, “membelah” keperawanan seorang gadis, tanpa “ilmu” yang mumpuni dan terburu-buru akan sangat menyakitkan. Pasca malam itu, Ilham masih mengajakku melakukan hubungan sampai beberapa kali, dan aku selalu menyanggupinya. Semuanya terjadi hingga aku masuk ke pendidikan Polwan. Sejak masuk asrama, baru sekarang aku bertemu lagi dengannya.

Jujur aku berbeda prinsip dalam hal ini dengan Tantri. Dia begitu tinggi menjunjung tinggi nilai keperawanan. Sedangkan aku, mengikuti kebanyakan pola pikir teman sepermainanku -waktu SMA- yang menganggap menyerahkan keperawanan sebelum waktunya adalah hal yang biasa-biasa saja.

” Kamu tambah cantik Sin!”, Ilham memecah kebisuan.

” Nggak ah Mas, biasa aja. Bau asep gini kok dibilang cantik”.

” Justru makin cantik kamu kalo bau asep Sin!”.

” Huu gombal!!”, merengut, wajahku menatap kearahnya. ” Udah punya istri kamu Mas?”, tanyaku.

” Belum Sin masih jomblo aku”.

” Cowo dimana-mana kalo ditanya cewe soal status,pasti jomblo jawabannya”.

” Eh serius nih Sin. Kamu sendiri udah punya pacar belum??”.

Pertanyaan ini langsung mengingatkan aku sama Tanto dan masalahnya, jadi kualihkan aja omongannya ke topik lain. Ngomong sama Ilham memang lain. Kayak bicara sama orang yang mengerti banget siapa itu Sinta. Udah lama kami gak ketemu tapi obrolan kami tetap nyambung. Ilham ini bisa dibilang cinta pertamaku. Meski sampe sekarang, aku tetap gak ngerti; apa itu sebenarnya yang disebut cinta.

” Brigadir Sinta, ayo kita kembali ke markas! semua korban sudah ditangani oleh Rumah sakit”, suara kepala unit kesehatan memotong pembicaraan kami.

” Baik siap Pak! saya akan segera menyusul ke mobil”.

Ilham tampak kecewa harus berpisah denganku. ” Mas, aku pergi dulu ya! makasih banyak atas bantuanmu tadi!”, aku membungkuk kepadanya sebagai sikap menghormati.

” Tunggu Sin berapa nomer hapemu? nomermu yang dulu udah gak aktif”.

” Buat apa mas??”.

” Pake nanya lagi! buat menghubungi kamu lah”.

” Kirain!. Nih Mas nomerku..”, aku mendiktekan nomer hp, ” Ya udah Mas, Sinta jalan dulu ya”. Aku pamit meninggalkan Ilham yang masih terpesona.

” Sin!”.

” Ya mas??”, aku menoleh ke arahnya.

” Kamu makin cantik”.

Kubalas ungkapannya dengan senyum.

Semakin banyak saja laki-laki muncul dalam hidupku. Sekarang judulnya cinta lama bersemi kembali buat Ilham. Untukku? hmm aku tak tau jawabannya.

***

Dengan mengendarai mobil kesehatan aku diantar kembali ke markas. Sesampainya di Polres, aku segera mengambil baju dan celana Jaka yang “kucolong” dari lemarinya. Janji untuk mengembalikan baju ini harus kutepati. Setengah berlari, kumenuju ruangan Jaka, berharap agar orangnya belum pulang. maklum sekarang sudah mulai gelap dan ruangan telah banyak yang kosong. Kesibukan mengurus korban membuat aku kemalaman. Sampai di sana, ruangan Jaka tampak kosong. “Apa Jaka sudah pulang ya?”.

Kuberanikan diri untuk masuk ke dalam ruangan. Melihat suasana yang begitu sepi, kuputuskan buat balik kanan saja. Namun, saat hendak meninggalkan ruangan, sepasang tangan kokoh tiba-tiba mencengkramku dari belakang. Kaget sekali aku jadinya. Apalagi saat tangan itu langsung melingkar di pinggangku yang masih berbalut rompi anti peluru.

” Darimana kamu Sin?? Mas kangen sama kamu”, rupanya Jaka yang menyergapku. sembunyi diamana dia tadi?. Tanpa basa-basi, Dia mulai menciumi leherku dari belakang.

” Ahhhhh Mas aku masih bau keringet”, aku berusaha mengelak dari ciumannya.

” Gak apa cantik!”, Jaka terus menciumku sambil tangannya berusaha membuka rompi anti peluru. ” Bleg”, ditendangnya pintu ruangan, hingga tertutup. ” Kamu buat Mas tergila-gila, sekarang Mas mau menikmatimu”, dibaliknya badanku hingga kami berhadap-hadapan. ” Cuuup”, mesra dia mencium bibirku. Kubalas ciumannya dengan gelora yang sama.

Tangan Jaka berusaha melepaskan rompi anti peluru yang masih menempel ditubuhku. Dipepetkannya diriku ke tembok, kemudian diangkatnya kedua tanganku. Tangannya begitu lincah melepas semua jepitan rompi. Dalam waktu singkat rompi itu tanggal semua. Kami kembali berciuman mesra.

Lepasnya rompi anti peluru, membuat Jaka bebas menggerayangi tubuhku yang masih mengenakan PDL. Tangannya memegang erat tanganku untuk mengacung ke atas. ” Jangan turunkan tanganmu Sinta!”, bisknya. Aku mengangguk. Dia kembali menciumku, kini sambil tangannya “memompa payudaraku dari balik pakaian dinas. Tanganku yang teracung ke atas, membuat pompaannya di payudaraku begitu mudah.

” Haaahh….hahhhh…hahhh”, aku sulit mengatur nafas kareana terus “dipompa”.

” Blakkk”, kami berdua terkaget-kaget, saat daun pintu tiba-tiba didobrak. Aksi kami otomatis terhenti.

” Jaka! ngapain kamu sama Brigadir Sinta”, keras nada bentakan yang kudengar..

Mendapat dobrakan seperti itu Jaka kaget, menoleh langsung ke sumber suara. Sedangkan aku yang terhalang tubuh Jaka masih belum tau siapa sosok yang mendobrak pintu ini.

” Komandan Burhan..anda belum pulang??”, Jaka terlihat syok.

” Pulang?? gimana aku bisa pulang, kalo ada anak buahku yang berbuat mesum. Awas kamu Jaka, perbuatanmu ini pasti kulaporkan ke Provost!”, Pak Burhan maju dengan nada arogan.

Tampaknya angin kini berpihak kepadanya , ” Nanti disana gak ada lagi Bapakmu yang bisa ngelindungin kamu!”, ditempelkannya wajahnya ke muka Jaka, ” Plakkkk”, Burhan menampar Jaka begitu keras hingga dia terhuyung.

” KAMU BENAR-BENAR BRENGSEK JAKA!!”, Burhan meledak. Jaka hanya bisa tertunduk menerima perlakuan Burhan.

” Brigadir Sinta, sini kamu ikut saya! kita tinggalin orang gak bener ini”, Burhan menarikku untuk mengikutinya. Kini Jaka tdk sanggup lagi menolongku. Dia hanya bisa menatapku yang ditarik oleh Burhan sambil mengelus wajahnya yang habis ditampar.

Seperti ulangan adegan di Ruang Resepsi Tantri, Burhan kembali menyeretku. Bedanya kini kami menyusuri lorong markas. Dituntun aku menuju mobilnya. Langsung didorongnya aku agar segera masuk ke dalam. Pak Burhan segera menghidupkan mobil dan kami mulai berjalan.

” Kurang ajar anak itu! Mau nyabulin kamu dia ya??”, masih emosi Burhan berbicara.

” Mmmmmm kkkammmi, gggaak ngaaapa….”, aku mengelak.

” Udah gak usah nutup-nutupin Sinta”, talunjuknya diarahkan ke bibirku ,

” Jujur sama Bapak”.

” Bbener Kkomanndan…..”. Kondisi “kegep” seperti ini membuatku jadi salah tingkah.

Posisiku sebagai wanita- anak buah lagi- kepergok sedang berbuat mesum oleh atasannya jelas membuat tak sanggup lagi bersikap.

“Sinta, kalo kamu bohong sama Bapak, kemesuman ini akan bapak naikkan agar jadi skandal besok!”.

” Iijjin Koomandan betull gak terjadi apa-apa..”, aku menunduk berusaha bertahan.

Pak Burhan memindahkan gigi mobilnya semakin mempercepat perjalanan. “Aku gak munafik Sin”, dia kembali bercerita, ” aku cabul!! semua temanmu pasti bilang begitu”, emosinya tampak belum reda, ” tapi Bapak gak akan ngelakuin itu di kantor kayak yang Jaka lakukan barusan!”, dia menggeleng-geleng kesal, ” DASAR MUNAFIK DIA!”.

” Kalo kamu gak percaya Sinta”, kembali dia berusaha berbicara,

” coba tanya semua Polisi Wanita yang kasusnya ditangani Bapak, gak ada diantara mereka yang bapak buka aibnya”, tegas gaya bicaranya,

” aman mereka semua, bapak gak pernah ngerendahin harga diri mereka, kayak yang dilakukan Jaka tadi terhadapmu”.

“…..”.

” Mau tau apa aja kasus yang pernah bapak tangani?, ada Polwan yang foto bugilnya disebarin sama pacarnya. Persis kayak insiden yang jadi isu nasional itu, tapi bapak berhasil ngeredam dan beritanya gak sampe kemana-mana. Banyak juga yang indisipliner trus kasusunya mau diangkat sama atasannya, bapak juga yang nolong. Kalo Bapak dianggep jahat Sin, itu karena Bapak minta ditemenin satu atau dua malam doank sama mereka. Toh itu juga gak beratkan??. Sebagai imbalannya bapak jamin kasus mereka aman”.

Burhan melepas pegangannya dari perseneleng dan memegang wajahku lembut.

” Untuk kamu lain Sin! Bapak suka sama kamu”, aku terbisu,

” Bapak gak mau kebodohan Tanto, buat kamu tercemar”, entah dari mana datangnya tapi mulai terbit simpatiku kepada Burhan.

” Kamu masih muda! ngeliat orang masih dari luarnya doank. Kamu belum bisa ngeliat ada apa dibalik penampilan seseorang”, Burhan kembali menatap ke jalan, ” Si Jaka itu..hati-hati kamu sama dia”.

Entah apa yang dia maksudkan dengan ucapan itu. Burhan mendadak membelokkan mobilnya ke sebuah outlet baju ekslusive. Harga baju disini mahal dan hanya untuk mereka yang punya uang. Pak Burhan begitu misterius, sejenak lalu dia memaki Jaka, kini dia berbelok ke outlet. Mau apa dia?.

” Ayo turun Sin! Lusuh kamu bau asep lagi. Bapak mau beliin baju buat kamu!”, Burhan begitu lembut. Beda sekali dengan tampilan bandotnya yang kami biasa lihat sehari-hari.

” Sore Komandan!”, seorang tukang parkir menghormat kapadanya,

” Sore Ibu Polisi”, dia juga menghormat dengan sopan kepadaku,

” mau belanja Komandan Burhan??”, Burhan tampak merogoh kantong celananya.

Perutnya yang membuncit jelas terlihat, ” Nih buat kamu Sep”, Burhan memberi tips untuk tukang parkir itu,

” Gimana anakmu sekolahnya lancar??”, Berwibawa sekali nada pertanyaannya.

” Lancar Komandan, berkat bantuan Komandan yang ngebantu SPPnya kemarin, anak saya bisa bersekolah lagi, kami sekeluarga gak tau harus ngebales apa sama kebaikan Komandan”, Sangat berterima kasih dia.

” Udah kamu kerja yang baik aja ya! cari uang halal, jangan yang haram. Nanti tak tangkep kamu kalo nyari uang haram”, canda Burhan.

” Siap Komandan”, balas si tukang parkir.

Kami berdua masuk ke dalam boutique. Benar dugaanku memang indah sekali baju-baju yang dipajang. Begitu mempesona dan trendi.

” Tuh Sin kamu pilih dua stel baju yang kamu suka! Bapak yang bayar”.

” Ehhh sssserrriuuusss Komm….”, aku tergagap mendapat kejutan ini.

” Plek”, ditepuknya bahuku, ” Kamu gak usah gagap gitu kalo sama Bapak! tenanglah! Bapak gak gigit kamu kok”.

” Ssssss….”.

” Siaap”, potongnya, ” coba ulangi sekali lagi! Siap Komandan!”, tatapanya lembut menenangkan.

” Sssiap Kkkkomandan”, aku berusaha.

” ULANGI SINTA!”, suaranya meninggi.

” Siap Komandan!”.

” Nah tuh bisa!”, dia tersenyum senang,” Dah kamu pilih baju yang kamu suka! Bapak tunggu disini saja. Kamu yang pilih bajunya!”, lanjut Burhan.

Pak Burhan duduk di dekat kasir sambil menyuruhku memilih baju. Bingung!. Hanya itu kata yang bisa menggambarkan pengalaman ini. Semua perputaran roda nasib membuat aku jadi limbung.

10 menit telah berjalan dan aku gagal memilih satu bajupun. Melihat harga yang tertera membuatku gamang. Begitu mahal dan berkelas. Rasanya tidak pantas untukku.

” Kamu harus yakin Sin!”, suara Burhan mengejutkanku.

” Yakin Komandan?”.

” Belajar yakin! kamu itu cantik!. lebih dari Tantri, tapi kamu gak sadar. Gaya bicaramu masih gagapan, itu nunjukin masih ada keraguan dari dalam diri”, Burhan menghela nafas, perut buncitnya membuat nafasnya terdengar begitu berat. ” Sekarang pilih dua baju, Bapak tungguin!”, tegasnya.

” Ssiiap Kkoomanndan”.

” Tuh gagap lagi!”.

” Maafkan Sinta Komandan”.

” Iya udah cepet dipilih! jangan sampe bapak berubah pikiran!”, ultimatum Burhan.

Mendapat dorongan kepercayaan seperti ini, membuatku lebih percaya diri. Segera kutentukan dua baju indah yang dijajar di etalase. Baju yang kupilih berwarna biru dan merah. Kubawa kehadapan Pak Burhan kedua baju ini untuk mendapat penilaiannya.

” Gimana kedua baju ini Komandan?”.

” Bagus Sin! kalo kamu yakin pasti bisa. Tuh liat baju pilihanmu! cantik juga sexy kayak orangnya! Dah dicoba aja tuh di ruang ganti!”, Burhan menunjuk kamar ganti.

Tanpa menunggu lama, segera kumasuki kamar ganti itu, untuk mencoba baju baru yang kukenakan. Baju model gaun semi resmi warna biru ini begitu pas ditubuhku. Apalagi bila dibanding dengan penampilan “maskulinku” sebelumnya dengan baju dinas, rasanya gaun ini memancarkan keanggunanku yang tersembunyi.

Berjalan aku keluar dengan gaun biru ini. Burhan terkesima melihatku. Berulang kali dia mengungkapkan kekagumannya baik dengan kata-kata maupun bahasa tubuh. Meski secara fisik tidak tampan, setelah mengenalnya, Pak Burhan ternyata memiliki hati baik yang sanggup memberikan kesan.

Selain membelikan baju rupanya dia juga membelikanku sepatu yang pas dengan warna gaun. Katanya gak lucu udah cantik make gaun, tapi pake spatu boot.

Bagai seorang putri aku di “make over” oleh Pak Burhan. Laki-laki yang tiada henti berusaha menggerayangiku sebelumnya, kini berubah drastis. Diantarnya aku untuk membayar semua ini di kasir. Kemudian dimintanya aku untuk naik lagi ke mobil.

Dalam mobil Pak Burhan menatapku.

” Kamu cantik Sin”, ditariknya bibirku dan kami mulai berciuman.

Tanpa perlawanan apapun kali ini. Malahan aku cenderung pasrah saja bibirku dicium oleh laki-laki paruh baya ini.

” Hanya kamu yang bisa buat Bapak begini!”, kembali dia menghela nafas, ” semuanya jadi tidak sesuai dengan rencana Bapak”, Burhan menggeleng ,

” kamu benar-benar cantik Sinta.

Aku tertunduk merasa tersanjung, ” Emang apa rencanaya Pak?”, tanyaku malu-malu.

” Mau tau aja kamu!”, Pak Burhan memasukkan perseneling dan kami berjalan lagi.

Perjalanan ini membuatku penasaran akan dibawa kemana. Apakah aku akan dibawa ke hotel kemudian Pak Burhan akan beraksi?. Kemungkinan ini membuatku bimbang. Sebelumnya jelas, dia adalah “bandot” tak berperasaan. Namun kini dia bagaikan laki-laki paling beperasaan di markasku. Entah apa sebenarnya yang terjadi dengannya.

Setelah berputar-putar sambil mengobrol ngalor-ngidul, rupanya dugaanku salah. Pak Burhan mengantarku pulang. Sangat diluar dugaan. Kupikir aroma hotel yang akan kucium malam ini, rupanya Burhan mengantarku pulang.

” Ini rumah dinasmu Sin, kita sudah sampai”.

” Komandan, Sinta gak tau harus ngomong apa. Semua yang Komandan kasih ini….”.

” Jujur Sin, Bapak juga gak tau apa yang sebenarnya Bapak lakukan”, Burhan memotong ucapanku,

” Awalnya Bapak cuma kepengen nidurin kamu, tapi ngeliat Jaka mainin kamu di kantor tadi, Bapak jadi iba, trus….entahlah Bapak juga bingung”.

” Terima kasih banyak ya Pak Burhan” tulus terima kasihku meluncur dari bibir.

” Ya sama-sama Sinta!. O ya untuk urusan Tanto kita obrolin lagi besok”.

” Siap besok saya akan ngadep ke ruangan Komandan”.

” Gak Sin, bukan di ruangan! Besok malam Bapak mau ngajak kamu makan malam. Kamu mau?”.

” Siaap mau Komandan”, otomatis aku menjawab.

” Bagus! pake baju yang Bapak beliin sekarang. Jam 19 Bapak jemput kamu”.

” Siap Komandan”.

Tidak ada yang terjadi malam ini. Dugaan kalo Pak Burhan adalah tukang mesum untuk sementara tak terbukti. Entah apa yang ada dipikiran Pak Burhan. Setidaknya aku masih dapat bernafas lega.

” Brrrrrt….brrrrrttt….brrrrrt”, bunyi panggilan telpon. Kulihat handphone untuk melihat siapa yang menghubungi, rupanya Tantri.

Tadi pagi aku sangat ingin bicara dengannya, tapi sekarang, hubungan misterisuku dengan Pak Burhan yang baru saja terjadi, membuatku mengurungkan niat untuk bicara dengannya.

Pasti dia tidak setuju dengan apa yang kulakukan. Tapi bukankah manusia itu misteri terbesar di alam semesta. Orang yang terlihat baik bisa jadi jahat. Orang yang terlihat jahat malah bisa saja baik. Sebelumnya aku bertemu dokter Ilham, pacar pertamaku. Kemudian Jaka lalu Burhan.

tapi kenapa pertemuan dengan orang terakhir inilah yang begitu berkesan?. Rasa deg-degan dihati ketika pak Burhan mengajarkanku arti keyakinan membuat hatiku berdesir. Rasa apa yang kurasakan terhadap pria yang usianya jauh diatasku ini??….

Sejuta perasaan masih menggelayutiku saat membuka pintu rumah. Perasaan ingin berbincang lagi dengan Pak Burhan begitu kuat kurasa.

” Cklek”, pintu berhasil kubuka.

” Sinta! ngapain kamu sama si Burhan tengik itu?”, sebuah suara mengagetkanku.

” Ttttaaannntooo, kkkaaammmu?”, rasanya baru saja hilang kegagapanku, kemunculan Tanto yang tiba-tiba justru memunculkannya kembali.

” Baju apa yang kamu pake ini”, Tanto merapat ketubuhku penuh curiga ,

” Burhan yang beliin kamu”, tangannya yang kekar mencekikku,

” NGAKU SINTA!! DIAPAIN KAMU SAMA BURHAN?”.

” Gggggakkk diaaapaa-apaaainn Masss”, Plakk…plakkk…plaaakk, belum selesai jawabanku, Tanto sudah memotongnya dengan tamparan keras dipipiku.

Digampar keras seperti itu, aku langsung terjatuh terhuyung membentur pintu yang belum tertutup.

” LONTEE KAMU SINTA!!!”, kasar sekali ucapan Tanto.

” Ahhhh ammpuuun Mmmasss”, dia menjambak rambutku agar mengikuti dia. Setengah terseret aku berusaha mengikuti kemauannya. Rumah yang kososng membuatnya semakin buas.

” Ammpuun Masss”, aku terus mengiba minta dikasihani, namun Tanto tidak mau mendengar, terus diseretnya aku menuju kamar.

” Braggg”, pintu kamar ditendangnya. Tanpa belas kasih, Tanto melemparku ke sudut kamar.

” Berani benar kamu mengkhianatiku Sinta. Kamu, HARUS DIBERI PELAJARAN!!”,.

BERSAMBUNG