Polwan S2 Part 15

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Tamat

Cerita Sex Dewasa Polwan S2 Part 15 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya : Cerita Sex Dewasa Polwan S2 Part 14

THE FINAL COUNTDOWN

BRIDGE OVER TROUBLED WATER

” Enak makanannya Sin??”.

” Mmm enak buangggeettt Mas”.

” Lama kamu kalo makan ya???”.

” Makan itu harus dinikmati Mas, ngapain juga cepet-cepet??”.

” Punyaku udah habis dari tadi, kamu setengahnya aja belum”.

” Weekk siapa suruh ngajakin Sinta makan bareng, resiko tanggung yang ngajak hi hi hi”.

” Sin…..”.

” Mmmm ngomong aja sih Mas, Sinta kalo udah makan gak mau diseling ngomong, rasa makanannya jadi berkurang”.

” Kamu mau gak jadi pacar Mas???”.

” Eeeeee pacar???”.

” Iya”.

” Mmmm, Mas nembak aku ceritanya???”.

” Iya. Gak maksa kok Sin, kalo kamu gak mau Mas rela kok”.

” Eeeeee “.

” Gimana jawabannya mau atau enggak kamu jadi pacarku??”.

” ……………..”.

” Sin???”.

” Mmmmaaauuu ddeeehh Massss”.

” Terima kasih Sinta”.

” Ccuuupppp”.

Untuk pertama kalinya Tanto mencium bibirku. Baru sekian detik dia menembak, berikutnya dia mencium mesra. Kata orang ciuman pertama paling berkesan buat seorang wanita. Itu benar. Ciuman sepersekian detik itu membekas lebih kuat dalam ingatan daripada puluhan hubungan seksual kami kemudian.

Tanto menciumku penuh cinta. Tidak terburu-buru. Dikemudian hari semakin jarang dia lakukan. Begitu dihayati momen intim diantara kami, membawaku melayang melampaui imajinasi. Untunglah makanan di mulut sudah tertelan semua hingga aku bisa menikmati benar-benar sensasi ciuman pertamaku dengan Tanto.

Nantinya persetubuhan diantara kami hanyalah tinggal soal penetrasi. Masuk, tusuk, cabut , semprot, begitu saja terus-terusan. Hilang sudah rasa kedamaian di hati ketika mendapat ciuman pasangan. Tidak ada lagi relaksasi maupun intimasi yang diharapkan lahir dari sebuah cumbuan.

Padahal malam itu di sebuah restoran sederhana yang telah sepi, sebuah cumbuan terasa begitu nikmat. Bukan hanya pertemuan dua bibir, lebih dari itu, ciuman menyatukan dua insan berbeda jenis dalam satu hembusan nafas. Karakter kami berbeda sekali tapi ciuman mampu menyatukannya. Sekat-sekat pembatas yang sebelumnya berdiri kokoh di antara kami, luntur dalam harmoni penyatuan.

Rasanya sudah begitu lama ciuman bersajarah tersebut kualami, tapi bekasnya masih ada, bahkan dikala aku tengah berhadapan ” one on one ” melawan Tanto.

Kami berdua meringsek maju dengan kesiapan kuda-kuda siap tempur. Wajah Tanto dipenuhi nafsu ingin menghabisiku. Seandainya saja, masih ada setitik nurani dalam dirinya untuk bisa melihat kedalaman hatiku, Tanto tak akan melakukan ini. Dari lubuk sanubari aku masih ingat wajah Tanto waktu dia memberiku ciuman pertama.

Entah apa sebenarnya yang merubahnya. Kata Tantri ; ” pasangan ketika bercerai hanya bisa melihat hal paling buruk dari pasangannya, tanpa berusaha mengingat kebaikan yang pernah diperbuat pasangannya di masa lampau”.

Nyaris tak mungkin apabila seorang suami, istri, pacar, maupun kekasih tidak pernah melakukan kebaikan kepada pasangannya. Sebuah kebaikan mesti itu hanya sekecil semut tetaplah dihitung. Demikian pula sangatlah tak adil bagi Tanto, bila aku hanya bisa melihat sisi terburuk tanpa berusaha melihat sisi kebaikan dalam dirinya. Bagaimana pun selama sekian tahun kami bersama, dia telah banyak melakukan perbuatan baik.

Nasi telah menjadi bubur sekarang. Mesti terus berupaya berfikir posistif, sebagian diriku juga sudah paham ; Tanto hampir kehilangan akal sehatnya. Satu-satunya hal yang tersisa di kepalanya hanyalah menghabisi diriku.

” Kita harus hadapi Tanto dengan serius Sinta!! jangan setengah hati!!”.

” Siap pikiran!!”.

” Kalo kamu gak tega dia akan bunuh kamu. Jadilah wanita buas!!!”.

” Baiklah pikiran!”.

Deru nafas Tanto terdengar berat. Dia memasang kuda-kuda bela diri andalannya. Tak mau kalah aku pun mementaskan kuda-kuda tinjuku dihadapannya. Mata kami saling pandang, tak mau lepas satu-sama lain. Tidak ada yang berinisiatif memulai. Kami terus merapat hingga jarak antar kami hanya tinggal dua langkah.

Tidak ada diantara kami yang bisa berdiri tenang. Semuanya berposisi menunduk bersiap mengeluarkan jurus andalan. Siapa pun yang dapat menjatuhkan lawan pertama kali hampir dipastikan menang.

” Wuuuuuusssssss”, deru angin malam menambah tegang.

” …………”, hening.

” Ciiiiaaaattttt”, Tanto membuka serangan, kaki kirinya mencoba menghantam rusuk kananku.

” Beeeggg”, double coverku turun ke pinggang menangkisnya.

” Wuuuuusss”, aku memancingnya dengan sebuah pukulan jab pura-pura.

” Seeeettt”, Tanto melangkah mundur menjaga jarak.

Kami berdua masih berhati-hati dalam pembukaan duel. Saling jaga jarak mewarnai usaha kami melihat celah pertahanan masing-masing.

” Suuutt…sssuuutt…sssuuuttt”, aku inisiatif melangkah kecil-kecil zig-zag khas tinju berusaha mempersempit jarak dengan kepala terus bergoyang untuk menutup ruang serangnya.

” Haaaaaatttt”, melihatku maju, Tanto memberikan tendangan putar sambil melompat. Kaki kanan andalannya berusaha menghantam kepalaku.

Dengan kuda-kuda kuat, aku menunduk cepat. Lompatannya meninggalkan lubang menganga di celah selangkangan. Berusaha kumanfaatkan celah itu dengan pukulan jab.

” Sseeett….taaaappp”, bagus sekali refleksnya! tangan Tanto menangkis tinjuku. Hilang keseimbangan, dia melenting ke belakang, terjatuh. ” guussssraaaakkk…..sseeett”, jatuh, Tanto segera bangkit. Dia kembali merapatkan jarak denganku. Ronde pertama tampaknya selesai. Sama-sama mengatur nafas kami bersiap untuk ronde kedua.

Kembali kami berdiri berhadap-hadapan. Nafas kami mulai terdengar ngos-ngosan.

” Cccciiiaaaattt”, Ronde kedua dimulai, Tanto menyabetkan tangan kanan ke bahu.

” Blleeetaaaakk”, uugghh nyeri, kubiarkan sabetannya menghantam bahuku, demi menjaga pertahanan tidak terbuka.

” Haaatt…plaaakk….Hattt…plaaakk…..hattttt….plaaakkk”, kombinasi pukulan Tanto datang. Tumpuan kakinya sangat kokoh. Setiap pukulan ditopang tenaga kaki yang tertanam kuat di tanah.

Wajah, perut, dan leherku berusaha diserangnya. Double coverku masih rapat, semua serangannya tertahan tepat waktu.

” Ciiiiaaatt”, sekarang ganti tendangan mencangkul tanah diperagakannya. Kakinya mengangkat tinggi bersiap menghujam ke bawah untuk memberi kerusakan fatal pada jaringan organ tubuh.

” Huuuppp”, kaki kiriku bertumpu ke depan, kemudian kutarik punggung agar mundur. ” Jeett”, kaki kiri kulunjakkan agar membantu penarikan tubuh.

” Wuuusss”, cangkulan hanya menyentuh angin. ” Heepp”, Mendarat di tanah kakinya menumpu sejanak , kemudian mendorong kaki satunya memberikan tendangan lurus.

” Buuuggg”, tendangan masuk ke ulu hatiku.

” Uuuu……”, aku sulit bernafas. Hampir jatuh, aku berusaha mengatur nafas agar tetap berdiri.

Tanto melihat pertahananku terbuka. Dia maju untuk menyerang frontal. ” ddaaagg…daagggg…daagggg…daaaggg…daaaggg…cciaaaaattt”, beruntun enam kali tandangan menerjangku.

Nafasku tersendat, aku hanya bisa mengangkat tangan menutup wajah. Modus ” sansak hidup” diaktifkan. Modus ini bertujuan menerima setiap serangan dengan tabah tanpa bergerak, dengan harapan tubuh cukup kuat untuk terus berdiri. Sekali jatuh hampir pasti aku mati.

“Bletak…bleetaaakk…bletakkk..bletakkk”, Tanto tak kenal lelah menghambur serangan. “haaahh…hahhh…haahhhh…”, karena hambur serangan dia sulit mengatur nafas.

” Mmmm…mmm…mmmm”, melihat dia kesulitan bernafas. Kubuka double cover, menurunkan tangan ke pinggang, kemudian sengaja menggeleng-gelengkan kepala untuk meledeknya. ” Sinta gak ngerasa apa-apa tuh Mas. Cuma segitu doank??yeeeekk”, kujulurkan lidah.

Diledek seperti itu Tanto panas, tapi apa daya nafasnya belum pulih. Ronde kedua sepertinya selesai.

“………”.

” Hahh…hahh..hahhh..hahhh”, dia masih mengambil nafas.

“Maafin Sinta ya Mas Huuupp…tappp…tappp….tappp….tappp…tapppp…tapppp…bleeetaaakkk”, Kumanfaatkan kondisi fisiknya, mengawali gerakan dengan sopan, sekarang giliranku menghamburkan serangan.

Pukulan jab dan hook bergelombang menerjang Tanto. Meski nafas belum stabil, dia cukup sigap, serbuan kilatku di tangkis semua. Tapi batu yang diterjang air bah sekeras apa pun pasti jebol. Gelombang pukulanku pendek-pendek cepat. Tak mampu ditangkap saking cepatnya.

Sebuah pukulanku akhirnya bisa ” nyelonong ” menembus pertahanannya mengenai dagu. Kepala Tanto terbuang ke belakang. Ketika kepala itu kembali ke posisi semula, Tanto gontai karena efek pukulan. Siapa sih petinju dunia yang tidak goyah bila dagu terkena pukulan??. Disanalah letak saraf otak berada. Satu pukulan saja cukup membuat KO.

” Huuuppp”, kudorong dia agar jatuh. Dalam keadaan pusing Tanto jatuh, ” Gusssraaaakkk”.

Dalam posisi terlentang kududuki dadanya. Wajahnya kuberondong pukulan. ” tappp…tapppp….tapppp…tapppp…taaaappp…crrooott…crrooottt”, darah segar tumpah dari pelipis Tanto saat kulitnya sobek.

” annjjjrriiitttt….hhiiaaaatttt”, kedua kakinya berusaha meraih leherku untuk melakukan kuncian.

” Huuupp”, aku sadar gerakannya. Cepat aku berguling ke depan menghindari datangnya kaki. Tanto berhasil lepas dari pukulan, aku selamat dari kuncian.

” Huuuhh…huuhhh..hhuuuhh”, Aku bisa saja maju lagi, tapi kutahan, kasian Tanto, pelipisnya sobek. Kubiarkan dia bangkit dahulu. Meski ini duel terakhir etiket pertarungan harus ditegakkan.

” Teeennngg”, dalam pikiranku bunyi bel ring berbunyi menandakan ronde ketiga selesai. Tanto diselamatkan oleh bel ring. ” Saved by the bell”.

” Huuuupp”, Tanto bangkit. Tangannya memegangi kepala.

” Masih mau lanjut Mass???”, godaku.

” KURANG AJAR KAMU SINTA!!!”.

” Mmm itu jawaban untuk lanjut ya?? ayo lanjutt!!!”.

” Ccciiiaaaatttt”, Tanpa disuruh Tanto menyerang dengan lebih cepat dan liar. Semua pukulan kaki dan tangan digunakannya. Ronde keempat mulai.

“Buuuggg…bbuuuggg…bbuuuggg…bbuuuugggg….bbuuugggg…bbuugg….plaakk…”, Variasi jurus tiba melibatkan pukulan kombinasi. Awalnya seluruh serangan itu dapat kutahan dengan double cover, tapi saking cepatnya tiga pukulan tetap bisa masuk dan menghantam hidung dan pipi. Menerima pukulan di pipi aku terjatuh.

” Gusssraaakkkkk”, untung pipi yang kena. Kalo dagu??.

” Ha..ha…ha..haaaa”, Tanto begitu senang melihatku jatuh dengan hidung mengeluarkan darah. Dikiranya aku KO apa??? Sinta masih lebih kuat dari ini kelesss.

Segera aku bangkit, memegang hidung persis kayak bintang film laga legendaries, menyentuh darah di hidung sedikit, kemudian menyapunya penih gaya ; ” Cuuuiiiihh”, Sinta udah seperti cewe jagoan beneran sekarang.

” Maju Mas!! gak kerasa pukulanmu!!”, tantangku.

Sekarang waktunya merubah gaya bertinju. Sebelumnya aku petarung bergaya ” Fighter” yang memburu lawan dengan double cover setia menempel di dagu. Kini kuganti dengan gaya ” boxer”. gaya ini tidak memerlukan double cover. Seperti petinju legendaries berjuluk ” the greatest”, Kedua tanganku bersemayam di pinggang meninggalkan pertahanan muka. langkah kakiku melompat-lompat ringan, begitu lincah tanpa pertahanan sama sekali. Kecepatan langkah kakiku adalah pertahanan itu sendiri.

Entah kebetulan atau tidak, gaya ” boxer ” sekilas mirip gaya kung fu milik bintang film legendaris yang gayanya baru saja kuikuti untuk menyapu darah di hidung. Bedanya aku tak akan menggunakan kaki untuk menyerang lawan.

” Ayooo Mas Tantooo…majuuu Sinta disini!!”, kuledek lagi tanto.

” Huuuhhhhhh ciiiaaaatt…cciiiaaattt…ciiaaattt…”, Tanto panas. Pukulan kiri datang Sinta mundur. Tendangan kanan menerjang, Sinta melompat ke samping. Tendangan cangkul menghujam, Sinta tangkis pake tangan kanan.

” Tep “, pertahanan tanto lowong setelah tendangannya kutangkis. ” beleetaaakk”, ,memanfaatkan longgarnya pertahanan pukulan kiriku menghujam wajah Tanto.

” Bllaaaggg”, Tanto kena telak. Keseimbangan hilang. Dia berusaha menutup wajahnya menahan pukulan lanjutan. Sebagai petinju bergaya boxer aku tak akan menyerbu seperti tadi. Sebaliknya aku sabar menunggu hingga dia membuka sendiri pertahanannya.

Sekali lagi aku memberi kesempatan Tanto untuk pulih terlebih dahulu. Ronde empat selesai. Sebentar lagi ronde lima.

” Huuup”, Meski pusing juga berdarah-darah ego laki-laki memang lebih tinggi dari gunung Himalaya. Tanto memasang kuda-kuda lagi. Gak kenal kapok dia masih mau menyerang.

” Hap…ayo Mas..happp….ayo Mas..happp….”, aku menari di atas tanah, provokasi selalu kuberikan untuk memancing Tanto emosi.

” huup…hup..huupp…huuppp”, kakiku kugerakkan kiri kanan lincah menyiapkan foot work.

” Haaaahhh”, Tanto termakan umpanku dia naik pitam.

” Ciaaaaatttt”, sabetan tangan Tanto terjangkan ke arahku, ” Tappp”, kutepis ringan. ” Huupp”, kubalas sebuah pukulan jab pancingan ke arah kepalanya. ” Tap” dia tangkis”, aku mundur mengatur jarak.

” Wussss…wuuuss….wuuss”, Tanto maju dengan serangan ritmis. Pukulan, tendangan kombinasinya, menghantam tubuhku.

” Beeegg….taaaappp”, sebagian kubiarkan masuk, sisanya kutahan dengan tangan.

” huuuppp”, pukulan hook balasan coba kumasukkan ke kepalanya. ” Tap”, ditepis lagi-lagi aku mundur.

” Ciiaaatt…ciiaaattt…cciiiaaaatttt….cciiiaaatt”, Tanto menggila, empat tendakan putar berturut-turut digeber. Aku mundur dengan langkah ringan menghindarinya.

Tanto berhenti. Dia mengambil nafas panjang mengembalikan oksigen dalam paru-parunya. Posisi menyerang memang selalu lebih lelah, baik dari sisi tenaga maupun mental. Sebuah serangan tepat sasaran akan meningkatkan motovasi petarung bertipe pnyerang.

Namun, pukulan luput akan membuat jengkel, menaikan emosi, dan menyedot tenaga. Tidak baik emosi naik dalam petarungan. Hal Itu kupelajari dari tinju. Semakin naik emosi, pukulan akan menjadi tak terkontrol. Sebaliknya karena aku sedari tadi hanya bertahan, staminaku terjaga, kepalaku tetap dingin.

Bertahan lebih baik untuk pernafasan. Bertahan tidak membuat emosi bila dilakukan dengan sabar. Malahan bertahan dapat melatih pikiran agar tetap tajam untuk mengindera serangan mana yang harus ditahan maupun dilepas. Kok dilepas?? iya kalo semua derangan ditangkis, pertahanan kita pasti terbongkar. Petarung sejati tau kapan harus berkorban.

” Mmmm…mmmm..mmmmm”, Setiap dia ngos, Sinta pasti menggeleng-geleng kepala di depannya, bersikap seolah pukulan tendangannya tak berasa sama sekali. Provokasi buat membangkitkan emosinya harus terus dilakukan agar dia semakin hilang kontrol. Bukankah ahli bela diri pasti lupa ilmunya kalo dia emosi.

” Gak kerasa Mas….gak kerasaaa…Cuma gitu doank???”, kuledek dia.

Wajah Tanto merah padam. Sebagai pacar Sinta hafal tabiatnya. Ketidakmampuan mengendalikan diri sendiri, adalah sisi lemah Tanto yang akan kumanfaatkan.

” Ciiiiaaaattt….ciiiaaatt….cciiaaaattt”, dia maju lagi dengan lebih brutal. Pukulan-pukulannya terlihat keras tapi semakin tak terarah. Lihatlah dia menahan nafasnya ketika menendang atau memukul. cara memukul seperti itu hanya menghamburkan energy lebih banyak.

” Huup…huupp…hhuupp”, langkah ringan sambil berjinjit, kupentaskan begitu indah menghindari semua aksinya. Seperti penari balet, aku berputar-putar membiarkannya melampiaskan seluruh emosinya. Tak terhitung berapa banyak pukulan-tendangan yang Tanto berikan, semuanya dapat kuhindari.

” Heeehh…heehh…hheehhh….”, Tanto ngap-ngapan. ” Heeeh…heee..cciiiaaaattt”, dia maju lagi tanpa memikirkan nafas. Sinta tidak mengelak lagi sekarang. Aku maju menyongsongnya. Sudah kuhitung semuanya; Tanto maju dengan tenaga besar, Sinta juga maju mengincar kepalanya. Sayang untuk Tanto, konsentrasinya sudah terkuras. Dia tak sannggup menduga apa rencanaku.

Dalam posisi maju tanganku mengeluarkan pukulan jab lurus mengarah ke rahangnya. Jab itu menjadi dua kali lipat tenaganya karena objek serangannya bergerak maju.

” Brrraaaggg…..kkrraaaakkk”, pukulanku masuk telak. Serangan Tanto menghilang di telan jab. ” Jduuukk”, dia nyungsep mencium tanah.

Lucu melihat posenya yang nyungsep tengkurap. Tapi aku gak boleh berleha-leha. Inilah momen mengakhiri semua kekonyolan ini. Kuputar tubuhnya agar telentang kemudian kutindih dia. Pukulanku siap mengakhiri drama nan tragis antara aku dan dia.

” Huuuppp”, hampir saja kutonjok dia. Tapi hatiku tersentuh melihat matanya yang belum kembali ke dunia. Tanto masih di awang-awang akibat ku-jab. Kalo di tinju dia sudah KO mencium kanvas. Kutunggu dengan sabar kapan dia pulih.

Kira-kira sepuluh hembusan nafas kemudian, kesadarannya kembali. Dia bisa melihatku dan mengerti situasi kritisnya.

” Huuuppp”, tanganku sudah diudara siap memberi satu pukulan mematikan.

” Cuuuuuhhh”, Tanto meludah ke arahku tepat mengenai wajah. Tiba-tiba harga diriku panas karena diludahi. Sepanjang petarungan aku menjaga etiket. Kenapa lawanku tak sanggup melakukan hal yang sama??. Tanganku begitu gregetan ingin menghabisinya seketika akibat air ludah tadi.

Tapi disaat itu secara ajaib aku teringat Tuhan. Setan masuk membuat kita emosi melalui perbandingan kita terhadap orang lain. Aku melakukan begini sedangkan kenapa dia melakukan begitu??. Seperti itulah metode setan mengaburkan akal sehat kita. Sinta tak boleh terpancing oleh setan.

” Huuuhhh”, membuang egoku sendiri, aku bangkit meninggalkannya. Duel sudah selesai akibat sikap tidak hormatnya tadi terhadapku.

” SIINNTAAA maaauu kemana kammuu??? habisi aku Sinta sekarangg!!!!”.

” Huuhhh, ngapain aku harus menghabisi kamu Mas??”.

” Taaappii ttingggal saatu pukulan lagi kamu bisa membunuhku Sinntaaa”.

” Sebelumnya Sinta bertarung tanpa emosi Mas. Sampai tadi Mas meludahi Sinta. Hadir setan dalam diriku karenanya, itu tidak baik. Aku bukan seperti kamu Mas yang senang mengikuti bisikan setan!!!”, kutinggalkan dia sambil mengambil senjata yang yang meledak sendiri tadi.

” SSIINTAAA…SIINNTAAA..”, Tanto terus memanggil namaku.

Tak kupedulikan. Duel sudah selesai. Terserah mau apa dia nantinya. Semoga duel ini dapat memberinya pelajaran hingga memilih jalan yang benar. Kutinggalkan dia menaiki unduk-ndukan tanah yang menghubungkan dengan jalan besar di atasnya.

Jalan besar telah sepi. Hiruk pikuk pertarungan di bawah sama sekali tak terasa.

Baru saja berjalan beberapa langkah, sebuah mobil berkecepatan tinggi datang dari arah belakang. Sinta pasang ancang-ancang. Jangan-jangan ini begundal yang tertinggal. Kecurigaanku semakin besar melihat arah mobil mengarah tepat ke sini. Lagi-lagi dengan kecepatan tinggi.

Aku bersiap mengarahkan senjata ke mobil. ” Nggeeenngg…ccciiitttt”, mobil mengerem berhenti tepat di hadapan. Aku bersiap menembak.

” SSIINNTAAA CEPAT NAIKK!!!”, kata pengemudi mobil.

” Masss, kirain siapa! hampir saja kutembak kamu”.

” Ayooo naikk!!!”.

” Mas aja deh!!! SInta jalan aja!”, kutolak ajakannya.

” Tolonglah Sinta!!”.

” Gak ah Mas! Sinta sendiri aja!!!”.

” Untuk terakhir kalinya deh, aku mohon kamu untuk percaya padaku!. Setelah ini Sinta boleh gak mau percaya lagi!! tapi ” please” untuk kali ini aja naik ke mobil!!”, wajahnya memancarkan aura serius berbalut kepanikan yang tak pernah kulihat sebelumnya.

” Ada apa sih Mas???”.

” Nanti kujelasin di mobil!! naiklah cepat!!”.

” Mmm “, aku mengangguk.

Sebenarnya jiwa raga ini enggan masuk mobilnya, akan tetapi melihat raut wajahnya begitu serius, aku jadi penasaran. Kaca dekat pengemudi mobil sudah diganti, tapi masih belum rapih. Interior dalam masih persis sama seperti ketika dia mengajakku beberapa hari yang lalu.

” Ada apa Mas???”.

“…….”, dia tidak menjawab.

Begini terus sih kelakuan nih cowo. Sudah berkali-kali dibuat begini Sinta tak tahan juga. Kali ini aku harus mendapat jawaban. Kudekati wajahnya, nada suara kutinggikan sedikit untuk berkata ; ” MASSSS ADA APA SIIH???”.

Cukup lega dapat melakukan tindakan kurang sopan seperti ini kepadanya. Mengingat semua kelakuan menjurus kelainan miliknya, sebuah teriakan bisa melampiaskan tingkat sebalku yang telah masuk taraf stadium tinggi.

” Brrraaaagggg”, masih dalam posisi kepala rapat dengan kuping Inspektur jaka, aku terlempar ke belakang hingga membentur kaca mobil. Untunglah pintu sudah dikunci.

” Uuuuhhhh”, penggungku membentur pintu.

” Cckkkiiiiittttt”, Jaka berusaha mengembalikan kendali mobil yang oleng akibat diseruduk dari belakang.

” Kamu gak apa Sin???”, tanpa melepas pandangan dari jalan, jaka bertanya.

” Uuhhh sakit dikit Mas, siapa sih mere…..”.

” Brraaaaggg”, benturan kedua terjadi. Aku terdorong lagi, kali ini ke depan.

” Teepp”, tangan kutumpu pada dash board mobil menghindari benturan.

” Heegghh”, jengkel, kupersiapkan lagi senjata. ” Ckreekk…krreek”, tanpa banyak bertanya lagi pada Jaka aku melompati jok pindah ke kursi belakang.

” Sinta mau ngapain kamu???”.

” Mereka mau bunuh kamu Mas???”, tanyaku.

” Sepertinya sih begitu”.

” Kenapa banyak sekali pembunuh ya akhir-akhir ini??”.

” …….”, Jaka diam tak mengerti.

Jelas kulihat sekarang dari kaca mobil ada tiga mobil mengejar kami. Masing-masing tampak tidak ingin memberi jaka kesempatan untuk meloloskan diri. Kalo aku dikejar-kejar begundal rasanya kok sudah biasa. Tapi Jaka??? kenapa dia ikut dikejar-kejar juga??. Semua kok jadi aneh begini ya.

” Braaaagggggg”, cukup keras kali ini mobil pengejar menabrak kami.

” Ckkiitttttttttttttt”, Jaka melakukan maneuver ekstrim. Untung aku sudah berpegangan kuat di sofa mobil hingga tidak terlempar. Dalam keadaan mobil berlari cepat, Jaka menarik tuas rem tangan , hingga mobil dipaksa berputar. Ketiga mobil sedikit terkejut hingga tak mengantisipasi perubahan arah kami.

” Ngggeennngg”, jaka menggas lagi mobilnya setelah kami balik kanan.

” Ckkkitt….ckkkittt…cckkiiittt”, ketiga mobil segera melakukan manuver untuk kembali mengejar kami.

” Apa kesalahanmu sama mereka Mas??”.

” Kamu Sinta!!”.

” Lho kok aku sih???”.

” Iya aku mencintai kamu! itulah yang membuat mereka mengejarku.

” Ahhh masak siihh????”, aku penasaran sekaligus tersipu.

” ……………”, Jaka mengangguk semakin membuatku tersipu.

” Sialan ini mobil gak ada tenaganya buat lari! Sudah di gas poll tapi tetep aja terkejar!”, Jaka ngedumel.

” Hmmm tenang Mas! coba Sinta bantu”.

” Sinta bantuanmu itu kadang ngorbanin dirimu sendiri tau!! kayak pas tawuran itu kamu nekad melawan mereka sendirian. Gimana kalo terjadi apa-apa????”.

” Ahhh siapa juga sih Mas yang peduli sama Sinta kalo terjadi apa-apa??”.

” Aku peduli Sinta!!! seandainya saja terjadi sesuatu denganmu…. aku peduli!!”.

Untuk pertama kalinya, Jaka berusaha untuk berbicara sambil melihat wajahku. Padahal dia lagi mengemudi, udah gitu dikejar-kejar sama tiga mobil gak jelas, tapi tetap berusaha untuk menatapku. Kami kaum wanita mudah terenyuh oleh sebuah hal kecil. Tindakan Jaka merupakan salah satunya. Begitu sepele tindakannya, namun cukup menyentuh hatiku. Rasa cintanya terasa kuat memancar.

” Terima kasih ya Mas. Sekarang Sinta mau minta maaf karena harus ngerusakin mobilmu lagi!!”.

” APA??? APA KATAMU???”.

” Rattaaat….prangg…..tattt…tatttt…tatttt…taattt…tatttt”, ketiga mobil sudah dekat bersiap menabrak lagi. Tidak ada lagi opsi yang kumiliki selain menembak mereka. Kebetulan senjata ini memiliki kemampuan menembak beruntun. Semoga saja dapat mematahkan serbuan mereka.

” Prrraaanggg…praaannggg…praaaanggg”, berhasil, ketiganya porak poranda terkena tembakan. Satu mobil terbalik akibat bannya pecah. Dua mobil lagi hilang arah karena sopirnya tertembak. Mobil kami akhirnya bebas.

Jaka melirik ke belakang tak percaya dengan tindakanku.

” Upppsss…maaaf…maaaf…maaafinn Sinta ya Mass!!!”, aku merasa bersalah telah memecahkan mobilnya.

” Pindahlah ke depan Sinta!!”.

Menurut aku melompat lagi ke depan. ” Kenapa mereka mengejarmu Mas???”, tanyaku. Jaka tersenyum.

” Nanti aku jelaskan Sinta!! senang bisa bertemu lagi denganmu!!”, ucapannya sekarang selalu dibarengi matanya yang menatap ke arahku. Sikap tubuhnya membuatku merasa dihargai.

” Upss, Sinta juga minta maaf ya Mas kerana ” menandukmu” waktu di rumah”, aku menunduk mengingat tragedy tak menyenangkan tersebut, ” juga kaca mobil belakang, nanti Sinta ganti deh!!!”.

” Aku pantas kamu tanduk Sinta!! kaca mobil lupain aja. Tindakanmu tadi heroik banget!!”.

” Ahhh Mas bisa aja. Itu hal biasa buat Sinta si jagoan he he he”.

” Kamu jagoanku Sinta!!”, Jaka manis sekali memujiku.

Dini hari ini suasana hatiku langsung berubah akibat kedatangannya. Senyum bahkan perhatiannya sanggup menghilangkan semua kepenatan. Sakit di sekujur tubuh ikut hilang besama rasa kasihnya. Seminggu lalu dia membawaku, dengan mobil yang sama, tanpa rasa cinta sedikit pun. Kala itu hanya ada nafsu dan syahwat.

Waktu tampaknya telah merubah Jaka. Sebagai wanita aku bisa merasakan perubahan besar dalam karakternya. Kapan sih dia memandangku saat bicara??. Saat berhubungan badan, pandangan matanya hanya terpusat pada payudara maupun bagian sensual tubuhku. Kali ini dia menatapku penuh rasa cinta.

” Maukah kamu tidur di rumaku lagi?? malam ini saja”.

” Mas….”, aku ragu.

” Iya dosaku banyak kepadamu di rumah Sinta. Tapi kondisi malam ini rawan!! Informasi dari intelijen mengatakan serangan terorganisir diluncurkan di saat yang sama untuk menghabisi Pak Burhan , Febi, dan…”.

” Inspektur Jaka??”, tanyaku.

” Benar, entah bagaimana nasib Pak Burhan dan Febi…”.

” Mereka selamat Mas!”.

” Hah, kok kamu bisa tau Sinta?? siapa yang menyelamatkan mereka??”.

” Tuhan mas “.

” ……”, Jaka tak sanggup berkata apa-apa.

” Tuhan juga menyelamatkan kamu Mas”.

” Iya Sinta. Aku bersyukur telah diberikan keselamatan…..Tuhan begitu baik padaku,”, dia merenung,” kamu terutama yang berkorban paling banyak”, lanjutnya.

” Sinta gak ngapa-ngapain Mas”.

” Boleh gak aku mohon sesuatu padamu lagi?”.

” Apa??”.

” Mau ya tidur di rumah satu hari saja!! Hanya sampai kondisi kembali normal”.

” …..”, aku mengangguk.

Jaka terlihat bahagia dengan jawabanku. Coba kuingat-kuingan dengan ini sudah tiga kali aku menyambangi rumahnya. Dua pengalaman sebelumnya sama sekali gak berkesan, bahkan traumatis. Semoga kunjungan ketiga lebih baik.

Setibanya kami di rumah, Jaka memperlakukanku begitu sopan. Disiapkan khusus bagiku kamar tersendiri terpisah darinya. Aku minta jaminan darinya, dengan ancaman akan menanduknya lagi, seandainya mencium sedikit saja kehadiran temannya ; si pengemar sex orgy itu. Doni terlihat batang hidungnya, Sinta out, itu perjanjiannya. Jaka menyanggupi sembari berjanji bahwa Doni tidak akan berani datang lagi. Pukulanku padanya sudah cukup membuatnya kapok.

Beres menyiapkan kamar untuk kudiami. Jaka, dengan tangannya sendiri, membuatkanku makan malam. Pantaskah disebut makan malam sedangkan matahari hampir terbit??. Meski terlihat canggung dia merebus sendiri dua mie instan, berikut telur dan sayuran.

” aku sudah belikan baju buatmu Sinta!. Kaos kesukaanmu yang pas badan dan agak jungkies. Celana training panjang juga sudah disiapkan berikut semua pakaian dalamnya. Maaf ya, tapi ” pengalaman” kita membuatku tau semua ukuranmu”.

” ………….”, aku bingung harus berkata apa jadinya.

” Mandilah dulu! setelah itu segera kembali kesini! kita makan sama-sama mie instan buatanku pasti enak!!”.

” Siap Komandan”., panggilan itu kusematkan lagi padanya. Sebelumnya aku pernah bersumpah tidak akan menyebutnya lagi dengan panggilan itu gara-gara perilakunya bersama Doni. Tapi melihat semua perubahan dalam dirinya sekarang dia layak menyandang panggilan itu.

Untuk menghormatinya aku tidak lama-lama mandi. Kamarnya sangat lengkap fasilitasnya. Sebuah shower dengan air hangat siap kugunakan. Rasanya cukup bisa melonggarkan otot-otot tubuhku aliran air hangat. Setelah berkontraksi terus-terusan membabat para begundal, sayangnya termasuk Tanto, ototku perlu dibuat relax.

Habis mandi kukenakan semua baju yang telah dibelikannya. Bahkan hingga pakaian dalam semuanya pas dan begitu nyaman kukenakan. Kenapa dia harus repot-repot membelikanku semua ini??. Mengenakan kaos pas tubuh kesexyan tubuhku kembali terlihat. Sebelumnya, bila mengenakan kaos “gombrang” ditambah rambut pendek, bisa-bisa orang salah menyangkaku sebagai laki-laki.

Memberanikan diri aku keluar dari kamar. Sampai sekarang aku selalu grogi bila bertemu Jaka. Ada tuntutan untuk selalu berpenampilan terbaik di hadapannya. Apakah ini tandanya aku jatuh cinta??. Bukankah wanita selalu salah tingkah bila bertemu cowo yang ditaksirnya.

” Ayo Sinta kita makan dulu!!!”, sambut Jaka. ” Sssrrrrggg”, Jaka menarikkanku kursi dan mempersilakanku duduk ” Silakan duduk tuan putri Sinta!!”.

” Komandan kok jadi baik gini sih?? Sinta jadi gak enakkk….”.

” Ssstt, kamu layak dihormati dan dicintai Sinta!!”.

” ……..”, aku membisu. Dicintai?? itu kata-kata terbaik yang ingin kudengar keluar dari mulutnya.

” Kamu cantik make baju yang kubelikan!”.

” Terima kasih Mas. Kok repot-repot beli baju wanita berikut pakaian dalamnya?? jangan-jangan buat orang lain ya???”

” Enggak kok buat kamu seorang saja Sinta!! lihat donk ukurannya, pas kan??”.

” Pas sih Mas”.

” Nah itu dia bukti cintaku!”.

” Tapi kenapa??”.

” Karena aku sayang kamu Sinta!!”, Jaka menatapku.

Kubalas tatapannya untuk menilai keseriusannya. Jelas dari guratan wajah, dia sungguh-sungguh. Dunia lucu ya, sebelumnya Sinta menyukai dia atas dasar pangkat, kegantengan ataupun prospek masa depan. Sekarang semuanya jadi tak berarti.

Sinta gak butuh pangkat, emangnya mau diapain coba. Kegantengan?? semakin ganteng cowo biasanya kelakuannya makin aneh. Prospek masa depan?? bergelut saban hari dengan peluru, membuatku tak terlalu lagi memikirkan masa depan. Yang penting bisa hidup sekarang, kita isi sebaik-baiknya. Siapa tau besok ada peluru menerjang mau bilang apa??.

Sekarang yang membuatku menyukai dia hanyalah kualitas kepribadiannya. Perhatian, kemampuan menghargai wanita, jujur, berani mengakui kesalahan, dan segala perubahan dalam dirinya menerbitkan asa cinta.

Jaka rupanya seorang pria yang juga lambat makannya. Mie buatannya kami nikmati perlahan-lahan sekali. Katanya makanan itu harus dinikmati agar rasanya meresap di lidah. Aneh kan?? aku tak pernah cerita padanya betapa kata tersebut telah begitu sering kuucapkan.

Sambil makan perlahan, kuceritakan seluruh kisahku yang penuh action dalam seminggu terakhir. Dia sabar mendengarkan semua ceritaku. Berkali-kali dia terpingkal-pingkal mendengar kepolosan tutur kataku. Baru sekarang hambatan pangkat berikut status sosial berhasil kami lampaui. Tak ada lagi batas antara perwira- bintara. Kami ngobrol berdua sebagai Sinta dan Jaka. Rasanya begitu menyenangkan.

Ketika waktu beribadah tiba, di luar dugaan Jaka mengajakku menunaikannya bersama-sama. Buatku sendiri hal itu sangat berarti. Jaka telah berubah. Apakah bisa orang berubah secepat dia?? Kalo dia memiliki niat kuat perubahan pasti bisa terjadi.

Setelah ibadah selesai dia memimpinku berdoa mengharapkan keselamatan serta kebahagiaan bagi kami berdua. Jaka mengajakku sebagai pengikutnya ketika beribadah. Aku sebaliknya bersedia dia menjadi imamku. Persatuan diantara kami semoga diberikan perkenaan oleh Yang Kuasa.

” Ya Tuhan, selamatkanlah kami berdua. Lindungilah dari segala kejahatan yang tengah menyelimuti kami saat ini. Bersihkanlah kami dari segala fitnah maupun kemungkaran. Selamatkanlah calon istriku Sinta! lindungi dia dari segala aksi nekadnya. Bila seorang penjahat Ya Tuhan, semoga Engkau tidak mengijinkan hal ini terjadi, mencoba menembak dia lagi lindungilah dia. Tamengi Sinta seperti Engkau telah berkali-kali melakukannya dalam seminggu terakhir. Terima kasih atas segala lindungan-Mu Amin”. Bersama kami mengatupkan wajah setelah doa selesai ditunaikan.

” Calon istri Mas???”, tanyaku.

” Betul, hatiku sudah mantap Sinta!! besok seluruh dunia akan tau, bahwa dirimulah yang akan bersanding di sisiku”.

Butir air mataku mengalir. Tak sanggup lagi hati menanggung perasaan nan begitu penuh. Hati manusia terbelah kata orang bijak. Sampai dia menemukan jodohnya, serpihan hati tetap belum lengkap dan selalu mencari kekurangannya. Hanya saat kedua belahan hati telah bersua perasaan penuh tersebut baru dapat dirasakan.

Jaka memelukku dia juga menangis. Kami berdua menangis haru. Laki-laki bisa menangis juga ya ketika merasakan cinta??. Rupanya laki-laki dan perempuan itu sama-sama manusia yang memiliki persaan. Kami berdua berpelukan haru. Sebagai wanita kami dikaruniai jiwa keibuan.

Betul akulah yang pertama menangis. tapi merasakan jaka ikut menangis, rasa haruku segera reda. Rasa itu berganti jiwa mengayomi, yang ingin menentramkan hati pasangan. Kuelus bahu kekarnya untuk memberi keteduhan.

” Terima kasih Sinta!”.

” Buat apa Mas??”, mata kami berdua sama-sama berkaca-kaca.

” Segalanya”.

” Cuuupp”. siapa yang memulai kami juga tak tau. Tapi dalam waktu sepersekian detik bibir kami sudah berpagut. Kami berciuman mesra sebagai kekasih. Setelah lama terpisah, Tuhan mempertemukan kami kembali. Rasa haru yang sebelumnya datang menambah kesyahduan cumbuan kami.

Dalam ciuman intim, tak ada yang ingin dominan atau memenangkan sesuatu. Kami berdua sama-sama ingin kalah. Tak ada yang ingin mengambil kuasa. Semuanya pasrah menikmati aliran cinta. Kami berdua hadir dalam ciuman. Kami nikmati tiap detik momennya. Detak jarum jam di dinding bahkan mampu kudengar menjadi irama merdu mengiringi persatuan sepasang kekasih.

Bibir kami saling bertaut. Maju menghisap, setelah itu saling mengendurkan, tak lama menghisap lagi kemudian mengendur. Mata kami terpejam menikmati betul anugerah terindah ekspresi kasih dari Sang Pencipta. Tak ada lagi rasa takut, resah , gelisah, cemas. hanya ketenangan, rasa dicintai dan penghargaan yang hadir diantara kami. Jaka melepaskan ciumannya dan menggendongku masuk ke dalam kamar. Begitu ” gentel ” dia rebahkan diriku diranjang. Lagi-lagi aku terkejut saat dia tidak langsung menggumuliku ganas seperti kali pertama kami bersua. Ditariknya selimut lalu diselumitinya tubuhku.

” Tidur dulu ya sayang!! kamu sudah melakukan banyak hal luar biasa malam ini! Istirahatlah dulu!!”, Jaka mencium keningku kemudian bangkit.

” Mas…..”.

” Hmmm??”.

” Sinta gak bisa tidur kalo sendirian”.

” Mmm manja!! kamu kan Polwan!”.

” Eeenngaaakk bisaaa tidduurr, temeninnn!!”, raungku manja.

” Iya deh, aku temenin”.

Jaka mengalah. Dia rebah di sampingku.

” Peluk Sinta Mas!!!”.

” Mmmmm”, Jaka menurut.

” Kenapa kamu jadi manja gini sayang???”.

” Sinta sendirian seminggu terakhir menghadapi badai cobaan Mas. Perlu seseorang buat meluk Sinta itu aja kok”.

” Ngerti Sinta!! dah tidur!! aku tidur disampingmu sekarang. Kamu aman bersamaku”.

Jaka memelukku dalam posisi menyamping. Tubuhnya yang jauh lebih tinggi merangkulku dari belakang. Dapat kurasakan deru nafasnya menerpa kulitku. Dalam waktu singkat dia tertidur duluan. Siapa sih yang capek sebenarnya?? aku atau dia?? kok malah dia tidur duluan.

” Hhhmmm senangggnnyaaaa”, aku tersenyum bahagia. Pertama kalinya aku bisa merasakan sebahagia sekarang. Begitu total, begitu penuh. Selanjutnya dalam senyum indah itulah aku terlelap.

***

” Bangun Mas, sudah siang!!”, aku bangun duluan dan membangunkan Jaka. Dia masih memelukku. Sepanjang tidur kami terus berpelukan.

” Mmmm sudah jam berapa Sinta??”.

” Sembilan Mas”.

” Ups kita berdua kesiangan ke kantor nih”.

” Sinta mah udah biasa dimarahin mas, gak tau kalo…”, jari Jaka menutup mulutku.

” Kita berangkat sama-sama ke kantor Sinta. Kalo ada yang marahin kamu, hadapin aku dulu!!”. Jaka berujar tegas.

” Iya Mass”.

” Cuuppppp”, kami berciuman kembali.

” Aku mandi duluan ya!!”, jaka bangun cepat menuju kamar mandi. Bajunya dilepas begitu saja di depan kamar mandi.

Dari semalam kuperhatikan pancaran matanya tetap penuh nafsu saat menatapku. Namun rasa bersalah atas kelakuan temannya tempo hari, tampaknya membuatnya menahan diri.

” Mmm coba kita uji, masih bernafsu gak dia kalo melihat kemolekan tubuhku”, watak nakalku kumat. aku ingin menggoda Jaka. Kulucuti seluruh bajuku di depan pintu kamar mandinya yang tak terkunci.

Jaka mandi dari shower. Teralisnya tak ditutup sehingga aku dapat melihat jelas postur kekarnya dari belakang. Pantat serta punggungnya yang padat berotot semakin membuatnya terlihat sexy. Dari belakang kupeluk dia dalam keadaan kami sama-sama telanjang.

” Siinntaaa…”, Jaka terkejut. Dia membalikkan tubuhnya.

Dipeluknya aku kemudian langsung diciumnya. Matanya memancarkan gairah membara.

” Sinta kamu udah gak marah soal kejadian waktu itu???”.

” Mmm..mmm”, aku menggeleng. ” Sinta sudah maafkan Mas!!”,ujarku tersenyum.

” Terima kasiihh…”, jaka menciumku lagi kali ini dengan gairah yang tak lagi ditahan-tahan.

Dia masih canggung. Ciumannya tak dibarengi remasan ataupun belaian melibatkan tangan. Maka coba kupancing dia. Kuelus bahu, kemudian otot-otot lengannya, naik ke dadanya, untuk membuatnya terangsang. Tanganku yang satu mengelus penisnya yang telah tegang sedari tadi akibat melihatku telanjang.

” Mmmm”, Jaka terbakar.

” Uuuhh” Dipepetnya aku ke dinding kamar mandi. Diangkatnya kedua tanganku tinggi agar memegang tiang handuk yang ada di atas. Kucoba untuk menyentuh bahunya lagi. Jaka memegang tanganku agar tidak turun. Matanya mengisyaratkan agar jangan melepas pegangan tangan. Aku memahami maksudnya.

” OOooooohhhh”, aku terangsang seketika kala bibirnya melumat leherku dengan ganas. Kedua tangannya sudah hinggap di payudaraku yang terlihat membesar akibat pengaruh tangan yang terangkat.

” Uuuhhhh”, dipompa payudaraku dengan gemas.

” Aaaahhh”, tanpa malu-malu aku mendesah kencang. Jaka semakin bersemangat mendengarku menyambut permainannya. lidahnya tak mau pergi terus menghisap-hisap pori-pori leherku. Sensasi geli-geli nikmat kembali kurasakan. Apalagi pompaannya di payudara terasa semakin membuatku membara.

Sensasi mengintip Tantri kemarin malam akhirnya bisa menemukan pelampiasaanya. Efek dari mengintip membuatku gampang terangsang, baru dibelai sedikit saja oleh Jaka aku sudah belingsatan.

Jaka pindah menciumi tulang bahuku. Dia menikmati tiap senti dari tubuhku. dia ciumi aroma tubuhku yang terkenal wangi dan menghisapnya tanpa kenal lelah.

” Auuuuu”, aku mengernyit saat bekas lebam di bagian bahu disentuhnya.

” Masih sakit sayang??”.

” Mmm..mmm”, aku mengangguk.

” Aku akan menyembuhkanmu!!”, Jaka menciumku.

” Cuupp…ccuupp”, dia menciumi lebam-lebam di sekujur tubuhku. Bahkan tanganku yang masih menggenggam tiang dia elus dengan hangat. jaka ingin menciumi seluruh bekas lukaku demi usahanya meringankan rasa sakit yang masih melekat di sana.

” Uuuuhhhh”, aku mengejang saat dia menciumi perutku. Tepat diperut tadi Tanto menendangku. Dicium dan dibelai lembut oleh jaka, perutku berangsur pulih. Rasa mulas sekarang berganti kenikmatan.

” Haaaahhhh”, Jaka naik lagi. Kini dia beroperasi di seputaran payudaraku. Air shower yang tadi dimatikan sekarang dihidupkannya. Air distelnya tetap hangat dan mengucur perlahan menyentuh kulitku. Sensasi percumbuan di bawah air mancur makin membuatku horny. Jaka membasahi payudaraku dengan air hangat. jarinya mengelus-ngelus sisi luar putingku. Perlahan sekali dia mempermainkannya.

Aku semakin ketagihan dengan semua kelakuannya.” haaaahhhhh”, aku mendelik saat lidahnya akhirnya membasahi sisi luar payudara. Dia tidak mau langsung menyentuh puting. Hanya jari-jarinya saja menowel-nowel. Lidahnya konsisten bermain di luar zona cokelat.

jaka tidak menginginkanku menurunkan tangan. hal tersebut membuatku tak berdaya.

” Mass….”, aku merengek.

” Mmmmm”, dia menatapku.

” Isepin Mas”.

” Mmmm apanya…..”.

” Puting Sinta Mas…”.

” Sinta mau dijilat???”.

” Mau Mas”.

” Emang gimana rasanya kalo putingmu aku jilatin Sinta??”.

” Ennnnnaaaakkk Masssss”.

” Ok!! tapi ada syaratnya!!”.

” Apa Masssss???”.

” Mendesah yang keras ya!!. Mas seneng banget denger suaramu kalo lagi enak begitu”.

” Mmm….mmmm”, aku mengangguk.

Jaka perlahan mengalihkan mulutnya bersiap mencaplok payudaraku sebelah kanan. Dilakukannya dengan bertahap. Pertama dijilati dulu putingku. Berikutnya dia hembuskan nafas ke dadaku menghadirkan rasa hangat. Kemudian dicaploknya seluruh puting payudaraku.

” Aaaaaaahhh…..”.

Menuruti keinginannya aku meraung-raung. Teringat bagaimana Tantri bereaksi terhadap rangsangan suaminya, begitu lepas penuh rasa percaya diri. Tantri bisa melakukannya karena dia tau suaminya mencintainya. Sekarang aku pun dapat melakukan hal sama. Jaka mencintaiku itulah yang membuatku yakin dan melepaskan ekspresi terdahsyat.

Peganganku di tiang semakin kencang. Seluruh tubuhku bergetar hebat. Sebuah cumbuan diiringi hisapan di payudara mengirim sinyal rangsangan ke seluruh tubuh. ” Hhoooohhh”, kepalaku tertengadah tak mampu menghadapi kenikmatan. Bergantian Jaka melumat payudaraku dimulai dari kanan kemudian kiri. Dengan cerdik dia dekatkan payudaraku agar bersatu kemudian dia jilati keduanya hampir bersamaan.

” Ggaaaaahhhh Massssss”, aku melunjak-luncak. Tangannya menggerayangi payudaraku.

” Heehhh…hhhheee..hheeeehh”, mata kami bertemu. Deru nafas aku dan dia sama-sama memburu.

” Ccuuuuppp”, Jaka mencium bibirku lama. Air masih mengalir perlahan menahan erotisme suasana kamar mandi.

” Uuuuhhhh”, dialihkan lagi ciumannya. Dia mengincar ketiakku. Tidak langsung menuju target tapi berputar-putar dahulu seperti tadi dia hendak mencaplok payudara.

” Hahhhh ssshhhhiiiitttt”, aku tak tahan. Bukan hanya rangsangannya begitu berlebihan. Tapi dipaksa menunggu rangsangan betul-betul membuatku mendidih.

” Huuufff….hhuuuffff”, hidung Jaka sudah hinggap di ketiakku, menciuminya penuh cinta. Aroma tubuhku tak perlu diragukan wangi. Semalam sebelum tidur aku sudah mandi duluan. Kebiasaanku untuk selalu makan sehat kaya buah dan sayur juga mendukung aromaku selalu terjaga.

” Sssslllrrrgg….sssslllrrggg…sssllrrgg”, Jaka memuai petualangannya menservice lembah-lembah ketiakku. Saat jilatannya datang, vaginaku mulai menyemburkan cairan-cairan nikmat. Semuanya memenuhi vaginanku. Orgasme pertamaku tiba. rangsangan, perhatian, dan perlakuan ” gentelnya ” akhirnya mengantarkanku menuju gerbang langit ketujuh.

” haaaahhhhhh”, aku begitu lepas menyalurkan semua kedahsyatan orgasme. Jilatan Jaka menambah kecepatan ledakan-ledakan orgasme dari dalam tubuh. Dari manakah asalnya orgasme??. Apakah dari vagina keluar ke lantai??. Menurutku bukan, orgasme itu dari dalam hati. Hanya si wanita yang bisa tau dia orgasme atau tidak. Syaratnya pun hanya satu; dia harus mau menyerahkan dirinya pada pasangannya. Saat dia mau menyerahkan dirinya untuk lepas dalam kuasa sang pasangan, itulah waktu orgasme menjemputnya.

” ssslllrrggg….ssslllrrrggg…slllrrggg”, Jaka tau aku orgasme. Ditekannya perut bawahku untuk membantu proses pelepasan. Seluruh masalah hilang seketika. Perasaan ” terbang ” menggantikannya. Sex memang bisa membuat kecanduan bagi wanita karena efeknya seperti narkoba ; Memberi kedamaian sekaligus ketenangan.

” Ooooohh Massss”, kulepas pegangan tanganku dari atas. Sudah tak tahan lagi rasanya.

” Heeehhh….heeehh…heeehhh”, aku perlu waktu buat istirahat. Jaka mengerti, dia memelukku hangat sembari mencumbuku lagi. Sudah berkali-kali kami berpagutan tapi rasa cintanya tak pernah berkurang. Dalam posisi berpelukan erat dapat kurasakan kedutan-kedutan dari arah bawah. Penis Jaka tampaknya sudah disesaki oleh aliran darah yang minta diledakkan.

Tanpa disuruh aku merosot ke bawah. Kubalik posisi kami dalam sekali gerakan.” Haahhh Sinntaaa”, Jaka terkejut dengan kekuatan tenagaku. Iyalah sudah bolak-balik menghajar puluhan pria dalam satu kesempatan tenagaku sudah teruji.

” Tangan ke atas mas!!”, perintahku sambil mengerling nakal. ” Pegang besinya!!”, lanjutku.

Jaka menurut, digenggamnya besi penyangga handuk. ” Hhhhhaaahhhhhh”, sekarang gantian dia yang berekspresi lepas setelah menerima rangsanganku. Belajar darinya, aku tak mau terburu-buru. Penisnya sudah tegak optimal, semakin memudahkanku untuk merangsangnya perlahan-lahan, mulai dari sisi kulit batangnya hingga ke ujung. Kujilati seluruh bagian penisnya dengan antusias.

Dia menungguku mengulum penisnya. Masih belum juga kuberikan. Aku malahan asyik menikmati garis lurus tepat di tengah ujungnya. Kujilat-jilat ujungnya. dalam posisi memegang tiang, Jaka tak berdaya. Di mataku dia semakin menawan. Kulihat dari bawah matanya telah begitu hornya. Isyarat matanya mengharapkanku untuk segera melakukan oral.

” Ssssllleepp…ssslleeepp…sllleeepp”, kuturuti keinginannya.

” Oooooohhhh Siiiinnttaaa”, Jaka terdangak. Bibirku yang mungil menservicenya. Kumaju mundurkan penis itu perlahan-lahan di mulutku agar sensasinya semakin meresap dan membuatnya gila. Oral ” slow motion” yang kulakukan betul-betul menyihirnya. dia tak mampu berkata apa-apa, hanya mendesah-desah penuh gairah.

Pengalaman melihat Tantri dan Alex, menambah wawasanku akan sebuah seni oral. Air yang mengalir membasahi tubuh Jaka semakin mempermudah segalanya. Mulutku tetap mengulumnya. Kedua tanganku mulai berkelana. Awalnya memegang perut bawahnya, beralih menyentuh jembutnya, kemudian bertamasya ke belakang menyentuh pantatnya.

” Siintta apa yang kamuuu…ooohhh”, sedikit kupaksa kakinya agar membuka selebar bahu. kupermainkan pantatnya seperti Tantri mempermainkan Alex. Air yang datang kugunakan untuk membasahi pantatnya. Kupermainkan belahan pantatnya sambil terus memberikan oral. Tak henti kulihat bagaimana espresi Jaka menerima semua kelakuanku. Melihat dia semakin menggila menambah semangatku.

” UUUuhhhhhh SSiiinnntaaaa”, jaka menjerit kala satu jariku berusaha masuk dalam lubang anusnya mamberikan pijatan prostat seperti yang diajarkan Tantri. Air kugunakan sebanyak-banyaknya agat tanganku semakin licin dan mudah masuk ke dalam liangnya.

” Slllepp”, saat tanganku berhasil masuk jaka mendelik tak percaya akan kenakalanku.

” Haaahhhh fffuuuccckkkkk”, Jaka tak tahan dengan semuanya. Dia lepaskan juga pegangan tangannya dan memegangi kepelaku. Bukan untuk memaksa agar kecepatannya sesuai kehendaknya tapi memegang rambutku kemudian mengelus-elusnya penuh kasih sayang.

” Uuuuuhhhh…kamu nakal sayangggggggg”, Dia histeris dengan semua perilakuku.

” Sleeepp…slleeepp…sllleeeppp”, dari slow motion, kecepatan kutambah. jariku juga keluar masuk semakin cepat.

” Jangan cepat-cepat!! nanti keluar Sinta”.

” mmm…mmmm”, aku mengangguk memintanya untuk mengeluarkan saja semua laharnya tanpa ragu ragu. Satu tanganku yang masih bebas mengurut-urut buah pelernya agar laharnya menyembur semakin kuat.

” Aaaaahhh Siiinnntaaaaa, aku keluaaararrrr….ccrrooott…ccrooottt..crrooottt”.

Jaka mengejang-ngejang dalam genggamanku. dia tumpahkan seluruh perasaannya. Semua cairan spermanya kutelan dengan lahap. Bukan hanya spermanya yang tumpah ruah di mulutku. Kegembiraan bahkan kesedihannya pun turut tumpah dalam ejakulasinya. Dia mengelus rambutku dan jatuh ke bawah. Kami berpelukan mesra. Jaka menarikku agar menindihnya dan kami sekali lagi berpelukan di lantai kamar mandi.

Getaran tubuh Jaka lama hilangnya. Dia menyeka air matanya. tampaknya sebuah orgasme bisa juga menyeret sisi lain dari seorang laki-laki. Dia mengelus bibirku membersihkan sisa sperma yang tertinggal, kemudian kembali menciumku. lama kami berciuman dalam posisi saling menindih. Kubantu dia meredakan gairahnya secara perlahan-lahan.

” kamu sudah membuatku ke khayangan Sinta”, dia mengambil handuk dan mengelap seluruh tubuhku yang basah.

” Mmm..mmm”, aku mengangguk.

” Sekarang giliranku membuatmu senang, Huuuuppp”, Jaka menggendongku.

” Auuuu mass hati-hatiii, nanti bisa jatuhhh”.

” Enak aja aku kuat tauuuu!!!”, Jaka memamerkan ototnya.

” Mas…”.

” Mmmm??”.

” Sinta gak mau kalo maennya di kamar ah!! trauma!”.

” He he siapa juga yang mau maen di kamar??”.

” Lhoo???jadi mau men dimana Mas??”.

” Outdoor Sinta”.

” Haaahhh???”.

Jaka membawaku ke halaman belakang rumahnya yang cukup luas. Kami berdua masih sama-sama telanjang. Rumput hijau rumahnya tertata rapi. Terdapat sebuah air mancur buatan begitu menentramkan hati terletak di tengahnya. Di sebuah sudut terdapat gazebo indah dengan ornament etnik dan beralaskan kerpet tebal. Bantal-bantal banyak terserak di dalamnya. Mungkin tempat ini sering jaka jadikan tempat untuk menghilangkan stressnya dalam pekerjaan.

Dia membaringkanku di tengah gazebo. Disangganya kepalaku dengan bantal agar nyaman. Kami berciuman mesra kembali. Terdapat sensasi berbeda saat sebuah ciuman dilakukan di alam terbuka. Semilir angin yang bertiup mengantarkan Sang Surya yang semakin naik ke puncaknya. Cicit burung terdengar sedang bertengger pada pepohonan.

Baru saja padahal Jaka ” keluar “, tapi dia rela untuk kembali memberikan kepadaku sebuah permainan syahwat. Laki-laki lain pasti lebih memilih tidur setelah muncrat daripada melakukan sesuatu yang menyenangkan pasangannya. Tak bosan-bosan sepertinya Jaka menjelajahi seluruh bagian tubuhku. Kembali dia ciumi bibir, leher, bahu, telinga, ketiak, payudara, pusar, bahkan jari-jari tanganku satu persatu diciumi dan dijilatinya.

” Uuuhhh Massss”, Jaka mengangkat kedua kakiku. Diciuminya tumitku kemudian jari-jari kakiku diciuminya.

” Aaaahhhhh”, aku merasa sangat tersanjung dengan servicenya. Cumbuannya menjalar perlahan dimulai dari betis naik menuju paha. Dielusinya paha dalamku kemudian dicumbu halus. Pantatku kemudian tak terlewat dipermainkannya.

Puas mengeksplore tubuh bawahku mulai dia kangkangkan kedua kakiku lebar-lebar. Tidak lupa dia ganjal pinggulku dengan bantal hingga vaginaku semakin mudah diakses. Serangannya berawal dari memijat perut bawahku. Setelahnya dia mulai mencumbu area selangkangan tanpa menyentuh langsung ke menu utama.

Keterburu-buruan sama sekali tak terlihat dalam diri Jaka padahal waktu kerja sudah sangat terlambat. baru setelah sepuluh menitan dia berputar-putar di luar vagina, mulai dijilatinya area intimku langsung ke intinya. jembutku disisihkan kemudian dia lumat daging vaginaku.

Celah sempit vaginaku dibukanya dengan kedua tangan kemudian lidahnya menyeruak masuk. ” Aaaaahhhhhhhhhh”, aku tak berdaya. Lidah itu sekan masuk hingga ke dalam akibat dia membuka celahnya. Rasa yang datang begitu sulit digambarkan. Nikmat-nikmat gimana gitu. Remasan tanganku pada seprai kasur, desahan yang makin tak terkendali, atau goyangan liar kepalaku menjadi rangkaian ekspresi dari sebuah kenikmatan sejati.

” Heegghhhhh”, baru saja Jaka mengoralku tapi aku segera saja tiba di puncak. Orgasmeku begitu indah sekarang. Kulepaskan semua cairan tertahan yang minta dilepaskan. Getaran tubuhku seperti tersetrum listrik ribuan volt. Lama aku terlunjak-lunjak dalam genggaman Jaka.

Dia terus menjilatiku. ” UUuuhhh masss istirahat ddduulluu geeelliiii Massssss…….”, aku berusaha berontak karena kenikmatan telah berganti rasa geli tak tertahan akibat sensifitas kulit meningkat tajam. Jaka tak menggubrisku dia mencengkram kuat kedua pahaku agar makin mengangkang dan menjilati kembali dengan lahap.

Dari geli aku semakin gelid dan geli. Sangat tak tahan berusaha kujambak rambutnya, tapi aku tak tega. maka meskipun semakin geli berusaha kutahan saja semua rasa yang datang. Ajaib ternyata datang sensasi berbeda. Awalnya geli itu semakin menjadi. Tak lama geli berubah menjadi sensasi nikmat kemudian beralih semakin nikmat, lanjut lagi kenikmatan meningkat eskalasinya, dan ; ” Buuummmmm”.

Aku meledak lagi. Lebih dahsyat dari sebelumnya. Semua otot-otot tubuhku berkontraksi maksimal untuk mengelurakan kenikmatan itu. jaka begitu mahir. Ledakan tidak membuatnya mengendurkan jilatan. Dia terus menghantamku dengan menahan kedua kakiku hinga aku meledak lagi..lagi..dan lagi.

” OOohhhh Massss ennaaakkkk banggeeettt”, akhirnya semuanya berlalu. Aku terkapar kehilangan tenaga. Lututku hilang daya; ” kopong”. Dalam rengkuhan pria tampan bernama Jaka, tubuhku masih saja bergetar.

” Kok gemetaran gitu sayang??”.

” Gara-gara Mas sih”.

” Ha ha. Gimana rasanya??”.

” Enakkkkkk”.

” he he pengen enak lagi??”.

” Mmm..mmm”, aku mengangguk.

” Jadi istriku ya!!”.

” mmm…mmmm”, kembali aku mengangguk.

” Terima kasih sayang”.

” Terima kasih kembali Mas sudah mau mencintai Sinta”.

” Kamu wanita yang luar biasa Sinta!! Mas beruntung banget bisa dapetin kamu”.

” Aku o’on lho Mas!! kamu gak nyesel nantinya??”.

Jaka menutup mulutku, ” Tidak boleh menghina diri sendiri seperti itu!! kamu jenius Sinta!! wanita paling jenius yang pernah kutemui”.

” Ahhh masak sih Mas??”.

” Iya”.

” Mas kan dulu naksir banget sama Tantri, apa Mas mau nikahi aku karena pelarian gak dapetin Tantri??”.

” jawaban yang jujur atau gak??”.

” Jujur donkkk ahhhhh”, kucubit pinggangnya.

” auuu sakit tau dicubit sama cewe jagoan. He he jawabannya ; kamu memang cinta sejatiku Sinta. kamu bukan pelarian!! , aku mau menikahi kamu karena kamulah; “Sinta”. wanita yang hanya mau menjadi dirinya sendiri. Bertahun-tahun kamu hidup bersama Tantri, tapi kalian berdua tetap menjadi diri kalian masing-masing. Tantri tak dapat mempengaruhimu. Begitupun kamu tak dapat mempengaruhi Tantri. Dalam perjalanan kamu malah tampil lebih jenius mengalahkan Tantri!!”.

” Ahhhh Mas ngaco”.

” iyaaa beeennerrrr!!”.

Kami berdua tidak ada yang ingin beranjak bangkit dari kemesraan yang telah terbangun begitu indah. Sayangnya aku sadar waktu kerja sudah sangat terlambat.

” Mas, sudah siang. Gimana kerjanya??”.

***

” Ya ampunn, bener Sinta. Berada di samping wanita cantik nan sexy sepertimu, aku jadi lupa waktu”, Jaka menciumku sejanak kemudian menghambur masuk untuk salin. Aku melangkah ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Sekali lagi aku tidak membawa baju seragam sangat bingung harus mengenakan apa ke kantor.

Jaka keluar dari kamar sudah berseragam lengkap. Pakian dinas harian telah melekat dengan gagah di tubuhnya yang atletis. Bila nanti menjadi istrinya, aku bertekad untuk tetap menjaga asupan makanannya agar dia selalu gagah ketika mengenakan seragam. Kalo nanti dia membuncit kan lucu banget keliatannya.

” Mas”.

” Ya???”.

” Miring lencananya”, aku maju menyentuh seragamnya dan membetulkan letak sebuah lencana yang terlihat miring.

” makasih sayang”.

” Brraaaaggggg”, pintu yang didobrak mengejutkan kami berdua.

Lima orang mengenakan jaket kulit menyerbu ke dalam rumah dan mengacungkan senjatanya pada kami berdua.

” MAU APA KALIAN???”, tegas Jaka menghardik mereka. tangannya menarikku agar sembunyi di balik tubuhnya.

” Kami tidak ada urusan dengan anda Inspektur!! kami hanya menginginkan Sinta”.

” SINTA BERSAMA SAYA!!! KALIAN TAU SEDANG BERHADAPAN DENGAN POLISI, BERANI-BERANINYA MAIN TODONG DI RUMAH SAYA!!!”, Jaka melindungiku sambil membentak mereka.

Dibentak meraka keder juga, tak ada yang berani maju.

” Serahkan Sinta Inspektur jaka!”, dari belakang pintu seorang pria mengenakan jaket kulit muncul.

” Komandan Eduard”.

” Cepat serahkan Nak!!”.

” Tidak!!”.

Berlindung dibelakang tubuh Jaka aku begitu ketakutan. Tanpa sadar tanganku mencengkram baju dinasnya. Bukankah sebelumnya dengan berani aku menghadapi begundal-begundal. Mengapa sekarang aku jadi ketakutan begini??. Si pikiran nan biasa mendampingiku pun terbisu tak mau nimbrung.

Ketika bertarung keroyokan dengan para berandal, pertempuran itu hanya melibatkan diriku seorang. Sekarang ada jiwa lain yang kucintai hadir di tengah medan laga. Jaka, kehadirannyalah yang membuatku ketakutan. Aku sayang padanya. Sangat tak menginginkan sesuatu yang buruk menimpanya. Masih belum hilang trauma psikologis terhadap orang yang berdiri didepan kami saat ini. Dia menghantam laporan Tantri secara telak di persidangan. Sekarang dia ingin menangkapku.

” Mungkin anda sudah lupa Komandan, Brigadir Sinta sudah dibebaskan oleh persidangan”, kata Jaka.

” Dewan hakim melakukan kesalahan. Mereka meralat keputusan itu dan memerintahkanku menangkap Sinta kembali”.

” Mana surat penangkapannya Komandan?? mengapa anda membawa preman jalanan dan bukannya petugas resmi dalam penangkapan ini??”.

” Tidak usah banyak tanya Inspektur!! cepat serahkan Sinta kepadaku!!”.

” Mmm…mmmm”, Jaka meniruku , dia menggeleng-gelengkan kepalanya secara menyebalkan kepada Pak Eduard.

” JANGAN MEMBANTAH PERINTAH PIMPINAN INSPEKTUR CEPAT SERAHKAN SINTA!!!”.

” Mmmm…mmmmm”, Jaka menggeleng.

Komandan Eduard maju mendekati Jaka. Aku semakin ketakutan berusaha menguatkan peganganku di baju jaka.

” Tenanglah sayang, aku akan melindungimu”, bisik Jaka menenangkanku.

” SERAHKAN SINTA!!”.

” …….”, Jaka diam, menatap lekat ke arah Komandannya tanpa melepas pandangan dari matanya. Dia tidak takut digertak.

” Jdddaaaakkkkk”, sebuah bogem mentah mendarat di pipi Jaka. Kepalanya sampai sedikit berputar kebelakang saking kerasnya pukulan yang diberikan.

” ………”, Jaka hebat. Dia sama sekali tak berniat membalas. Kembali dia arahkan seluruh tubuhnya menghadapi Eduard.

” KURANG AJAR SEKALI KAMU!!! CEPAT SERAHKAN SINTAAA!!!!”.

Jaka tak bergeming.

” Jdaaaakkkkk”, Eduard menghajar kali kedua.

” Cprraaatt”, darah menyembur dari hidung Jaka, cipratannya mengenaiku. Aku merangkulnya. Dia menepikan tanganku sambil tersenyum. ” aku baik-baik saja sayang”, bisiknya.

Kembali dia hadapi Eduard dengan gagah berani. Tangannya mengelus hidung yang mulai mengalirkan darah.

” BRENGSEK KAMU INSPEKTUR!!!”.

Pancaran mata Jaka tak menunjukkan sedikit pun rasa takut.

” Duduklah dulu Komandan!! kita bicarakan baik-baik. Bukankah kita sama-sama Polisi?? kenapa harus jadi begini??”, benar-benar hebat pengendalian dirinya. Bahkan setelah dihajar begitu telak dia tidak emosi.

” Huuuhhh”, kesal Eduard menurutinya duduk di sofa ruang tamu.

Jaka menggandengku agar duduk bersamanya di sofa persis di depannya.

” Ckleekkk”, bunyi korek api dinyalakan.

” Cesss”, rokok dibakar. Komandan Eduard menghisap rokoknya dalam-dalam. Aku hanya bisa menunduk melihat permainan psikologis mereka berdua.

” Habis kamu Nak huuuff!!”, dia mengepulkan asap rokoknya untuk menghina Jaka.

” Ijin??”.

” Kelakuanmu pagi ini akan membuatmu dipecat jadi Polisi!! aku menjamin hal tersebut!!”.

” Heehh”, Jaka tersenyum, ” Apa dasarnya Komandan??”, tanya Jaka.

” Melindungi tersangka!! huuffff”.

Jaka melirikku sambil tersenyum. ” Brigadir Sinta calon istri saya Komandan, dan dia sama sekali bukan tersangka”. Ucapannya membuatku merasa dilindungi.

” Haaahh calon istri?? ha ha haaaa”, dia tertawa lebar. ” Kalian akan menikah di tahanan kalo begitu”.

” Heeehh” Jaka tersenyum.

” Berapa tahun kamu baru mengabdi di Kepolisian Inspektur??”.

” Baru dua tahun Komandan”.

” Masih seumur jagung Nak. Kamu tau sudah berapa lama aku mengabdi??”.

Jaka menggeleng.

” Puluhan tahun Nak!!”, Komandan Eduard memerintahkan kawananya untuk merapat di belakangnya.

” Aku akan membawa Sinta dengan atau tanpa seijinmu Nak!! Tangkap wanita brengsek itu”, ujar Eduard membuatku tercekat.

” Sebentar!!” Jaka mengacungkan jari ke arah lima orang di depan agar menahan langkahnya. karismanya yang tinggi membuat kelima orang tadi menurut.

” Komandan, sebentar lagi rumah ini akan didatangi pasukan resmi Kepolisian yang akan menangkap anda beserta orang-orang ini!!”.

” MENANGKAPKU??? ha ha ha atas dasar apa??”.

” Pasal berlapis Komandan! percobaan pembunuhan berencana, rekayasa barang bukti, intimidasi saksi, dan lain-lain!!”.

” Waktu kerjamu baru dua tahun Nak,kamu masih hijau. gak ada dasar dari tuduhanmu itu”.

” Buktiku ada di Doni Komandan!!”.

Mendengar nama Doni disebut, membuatku ikut terkejut. Penggemar sex orgy itu bersama pacarnya Icha kedua-duanya telah kusikat. Apa hubungan dia dengan Komandan Eduard?.

” Doni??”, raut wajah Eduard berubah memancarkan kepanikan.

” Anak anda”, Jaka menekan kata anak.

” Kamu???”.

” Sejak aku bertugas di Polres, papa sudah memintaku mewaspadai dua orang yaitu Pak Burhan dan Anda!! papa mewaspadai rivalitas diantara kalian berdua yang semakin tidak sehat”.

” ……..”, Eduard diam.

” kenapa Papa memintaku mengintai kalian berdua??. Diantara semua perwira senior di Polres dan Polda hanya kalian berdualah yang menjalin kontak intens dengan dunia bawah tanah tempat para penjahat bernaung. Papa menyadari adanya upaya untuk menggunakan pengaruh dunia kejahtan untuk mengatrol karier salah seorang diantara kalian”.

” Kamu tidak punya bukti apa-apa Nak”, Eduard berusaha mengembalikan harga dirinya.

” Doni sudah membongkar semuanya Komandan, tanpa dia sadari”, rupanya perilaku jaka yang seperti kelainan itu adalah upayanya untuk masuk dalam lingkaran pergaulan Doni yang merupakan anak dari seorang perwira menengah di Polda.

“Apa yang dia bongkar Nak?? dia bahkan tak tau apa-apa”.

” Dialah yang menembak Komandan Burhan sore itu”, ujar Jaka tenang. ” Atas perintah anda!!”.

” Kamu benar-benar ngawur Nak”.

” Anda memerintahkan Doni datang ke kantor sore itu untuk membawa pesan penting. Pak Burhan menerima Doni tanpa menyedari itulah siasat anda untuk menyingkirkan beliau. Doni berhasil lolos karena ada sejumlah orang penting didalam Polres yang membantu anda. Siapa sebenarnya komplotan anda, kami belum tau. Tapi Papa telah melakukan pembersihan mulai hari ini untuk menangkap kalian semua”.

” TANGKAP MEREKA BERDUA CEPAT!!!”, mendengar ucapan Jaka, Eduard terlihat emosional dan memerintahkan para premannya menodongkan senjatanya ke arah kami.

” Ckleeekk…ckeeellkk”, lima senjata menodong kami tepat di kepala. Aku dan Jaka tak berdaya. kami sudah pasrah dengan segala sesuatu yang akan terjadi. Jaka memegang tanganku menatap dengan tersenyum menentramkan hatiku.

” kalo kalian berdua aku lenyapkan maka semua bereskan Inspektur!! Semua bukti bisa kurekayasa!!”.

” JANGAN BERGERAK!!! rombongan tim detasemen 88 anti teror mendobrak masuk.

Dengan senjata laras panjang mereka menodong semua preman berikut Komandan Eduard sekaligus. Disergap oleh regu terlatih yang biasa menangani aksi terror di seluruh penjuru tanah air, membuat mereka ciut. Senjata segera mereka letakkan di lantai.

” MAU NANGKAP SIAPA KALIAN??”, bentak Pak eduard.

” Komisaris Polisi Eduard anda ditangkap”, Kompol Nurseha dari Polda muncul sebagai Komandan penangkapan.

” Apa buktimu Nur?? kamu tidak punya bukti untuk menangkapku”.

” Buktinya ada pada Inspektur Jaka”.

” Apa??”, Eduard menoleh.

” Ini”, jaka mengangkat sebuah pulpen. ” Barang bukti ini yang membuat anda mengirim orang untuk melenyapkanku semalam Komandan! pulpen ini berisi kamera didalamnya milik Komandan Burhan yang merekam momen tertembaknya Beliau. Rekaman sudah saya tunjukkan kepada Kompol Nurseha kemarin malam dan sudah diperbanyak rekamannya!”.

” Anda ditangkap atas tuduhan Percobaan pembunuhan berencana terhadap Komisaris Polisi Burhan, intimidasi terhadap saksi Didin Saparudin, rekayasa kasus Brigadir Sinta Rachmawati,……..”.

Daftar itu masih sangat panjang. Butuh waktu lama bagi Kompol Nurseha untuk membacakan rentetan kejahatan yang telah dilakukan Pak Eduard. Setelah pembacaan yang cukup lama akhirnya mereka semua digelandang ke mobil tahanan dengan pengamanan ekstra ketat dari Densus. Mereka memperlakukan mereka seperti menangkap teroris.

” Terima kasih banyak Inspektur Jaka dan Brigadir Sinta atas segala kerja keras kalian untuk mengungkap kasus ini!!”, Kompol Nurseha menghampiri kami.

” Siap Komandan!”, jawabku.

Jaka menghormat kepada Beliau kemudian bertanya, ” Komisaris, rasanya sangat ganjil bila semua tindakan ini, hanya dilakukan oleh Kompol Eduard beserta anaknya. Khususnya di Polres pasti masih ada pelaku lainnya”.

” Betul Inspektur! ayahmu sedang melakukan upaya penyelidikan intensif terkait hal tersebut”.

” Hmmmm”, Jaka terlihat berfikir serius.

” Tidak usah cemaskan itu Inspektur!!”.

” Tapi kejahatan….”.

” Kejahatan pada intinya bersemayam di setiap diri manusia. Upaya memberantasnya tidak dapat dilakukan dalam sekali tangkap, tapi memerlukan upaya terus menerus untuk melawannya. Setiap hari seorang anggota Polisi bangkit dari tempat tidurnya untuk melawan kejahatan. Siapa yang sangka Inspektur, bahwa kejahatan itu sendiri rupanya mengincar si Polisi sebelum mengincar orang lain.

Kalian berdua masih sangat muda, masih panjang perjalanan. Ingatlah sebuah pesan klasik dari para seniormu ini; “sebelum kalian berangkat kerja untuk menangkap penjahat, tangkaplah terlebih dahulu penjahat yang ada dalam diri kalian sendiri!!”.

Dalam kasus Kompol Eduard penjahat itu bernama kedengkian dan iri hati terhadap rekan kerjanya sendiri”.

” Terima kasih Komisaris”, jaka menjawab.

” Kamu dan Sinta?? kalian??”, Kompol Nurseha mengalihkan pembicaraan.

” Kami akan segera menikah Komisaris”, Jaka cepat menjawab.

” Syukurlah aku turut gembira”, dia tersenyum, ” Selamat buat kalian berdua!! o ya hari ini Kompol Burhan ingin bertemu kalian, jenguklah Beliau!!”.

” Siap Komandan”.

” Top “, Ibu nurseha mengacungkan jempolnya sambil tersenyum sebelum berlalu meninggalkan kami.

” Ijin Komandan!”.

” Apa Sinta??”.

” Bagaimana dengan Tanto??”, tanyaku.

” Hukumannya pasti dikurangi. tapi dia mencoba membunuhmu bukan Brigadir??”.

” EEeeee”.

” Kamu memaafkan dia??”.

” Siap iya Komandan!”.

” Sifatmu itu membuat kejahatan tidak pernah menang melawanmu Sinta”, Bu Nur tersenyum lagi.

” Ijin???”.

” Kamu tidak pernah membalas kejahatan dengan kejahatan. Hmm kamu beruntung punya calon istri sebaik dia Inspektur!! Kepolisian bangga pernah memiliki anggota sepertimu Sinta”.

” Siap Komandan terima kasih”, aku berdiri sikap sempuran dan menghormat atas segala kebaikan Beliau.

” Nguuuiiingg…ngguuiiingg….ngguuiiinnggg”, bunyi sirine mobil Polisi kembali menegakkan hukum di negeri ini. Di dalam mobil itu penjahat sebanernya telah tertangkap. Akan tetapi siapa sebenarnya komplotan Beliau masih memerlukan kerja keras kami untuk mengungkapnya.

” Sin”.

” Ya Mas??”.

” Kalo Tanto bebas, apakah kamu akan meninggalkanku??”.

” Mmm..mmm”, aku menggeleng, ” cintaku sudah kuberikan padamu Mas, kalo kamu masih setia dengan ikrarmu barusan, aku pun demikian”.

” Terima kasih sayang!! aku sangat takut kehilanganmu”, Jaka kembali merangkul kami kembali berciuman mesra.

***

Penuh rasa cinta kami berkendara menuju RSUD. Jaka mengajakku terlebih dahulu menjenguk Komisaris Burhan. Sesampainya di rumah sakit suasanya cukup ramai. Banyak pedagang makanan yang berjejer depan rumah sakit. Para pembeli melirik ke arah kami. Mungkin melihat Polisi, kemudian dihubungkan dengan peristiwa semalam membuat mereka sangat ingin tau.

Sudah siang sekarang, sejumlah ” Police line” telah digelar untuk memudahkan tim forensik mengumpulkan barang bukti. Regu forensic sudah pulang. Hanya ada beberapa anggota tampak stand by di lantai satu dan dua. Jaka mempersilakanku duluan ke lantai dua, dia hendak berkoordinasi dulu dengan anggota di bawah.

Aku berlari ke tangga. ” Bu, cari siapa??”, kata suster. ” Maaf karena peristiwa semalam, semua penjenguk pasien harus kami tanya terlebih dahulu”.

” O iya Sus, saya Polisi juga kok, mau menjenguk Komandan Burhan dan Febi”.

” Pak Burhan sedang melakukan scanning di ruang operasi. Semalam dia melakukan gerakan yang seharusnya belum diperbolehkan sehingga harus diadakan pengecekan ulang terhadap Beliau. Tapi untuk pasien Febi ada di ruangannya sedang ada visit dokter”.

” Baik Sus terima kasih”.

Aku berlari menuju kamar Febi berada. hampir saja aku masuk tapi langkahku tertahan ketika kulihat Febi tengah tertawa riang bersama seorang dokter. Dia sedang duduk di kursi berhadap-hadapan dengan dokternya. Tampak dari raut wajahnya dia begitu gembira.

Aku tak bisa mendengar perkataan mereka, tapi aku bisa mendengar tawa bahagia dari raut wajah Febi. Aku begitu gembira saat dokter itu dengan berani menggenggam tangan Febi. Siapa sih yang berani menggenggam tangan Polwan sembarangan?. yang membuatku gembira adalah reaksi Febi. Dia tersipu, malu dan menampakan sambutan posistif kepada sentuhan dokter tersebut.

Ilham memang sudah pernah punya pacar Polisi. Oleh karenanya ketika harus merawat Febi dia terlihat luwes dan mudah berinteraksi. Dengan gaya bicaranya dia bisa meringankan kesepian Febi. sampai sekarang belum ada keluarganya yang menjenguk. Febi pasti kesepian. tapi melihat tangan mereka yang saling menggenggam dan tatapan mata keduanya yang penuh cinta, aku tau tak lama lagi Febi pasti tak akan kesepian lagi.

Manusia sangat berbahaya ketika sendirian, terasing dan tak memiliki siapa pun untuk berbagi permasalahan. Orientasi seksual Febi sebelumnya aneh. tapi mungkin semuanya berawal dari kesendiriannya. Ketika dia menemukan seseorang pria yang mampu menerimanya dengan tulus dia terlihat amat gembira. Melihatnya gembira membawaku sangat bahagia. Tidak mau menganggu kemesraan mereka aku memutuskan turun saja ke lantai satu.

” Sinta Gimana Pak Burhan dan Febi?”, Jaka menyambutku dengan pertanyaan setibanya aku di bawah.

” Mereka berdua sedang medical check up Mas, gak bisa diganggu”.

” Mmm ok kita berangkat ke kantor dulu yuk kalo begitu. nanti sore kita kembali lagi”.

” Tapi aku belum bawa baju dinas”.

” Nanti kita mampir dulu ke rumah dinasmu!”.

” Siap mas”.

Kami berdua berjalan bersisian menuju pelataran parkir. Ada banyak orang hendak masuk ke dalam rumah sakit. Para penjenguk pasti panik akibat peristiwa penyerbuan semalam sehingga berbondong-bondong datang.

” Brrrrrmmm”, dari jauh Tantri masuk ke parkiran dengan mobilnya. Dia mendadahkan tangan pada kami berdua, kemudian memarkir mobil dan menguncinya.

Keluar dari mobil Tantri melangkah menuju kami. Jaka dan aku terus berpegangan tangan merayakan kasih sayang diantara kami berdua.

” Inspektur Jaka kamu telah membuat hidupku berantakan!!!”. Diantara puluhan manusia yang berjalan menuju Rumah sakit, seorang pengunjung dengan mengenakan jaket menutupi wajah, membuka tudung kepalanya dan mengacungkan pistol.

” Tanttoooo”, aku tercekat melihat sosoknya yang masih penuh lebam di wajah karena tonjokanku.

Dari belakang, Tantri sadar gentingnya situasi mancabut pistol dan mengarahkan ke arah Tanto.

Melihat tangan Tanto hanya beberapa detik lagi akan menekan picu, membuatku menarik Jaka ke belakang. Kutamengi dia dengan tubuhku, kutatap mata Tanto dalam-dalam. Tanto tampak begitu terkejut melihatku melindungi tubuh Jaka.

Tatapannya menggambarkan penyesalan, tapi pelatuk telah terlanjur ditekan.

Dalam hati kuucapkan sebuah nama yang selalu kuucap sejak aku dilahirkan ke dunia nan fana ini;

” TUHAN”.

” DOR!!!”.

“……………”.

“……………..”.

“……………….”

TAMAT