Polwan S2 Part 14

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Tamat

Cerita Sex Dewasa Polwan S2 Part 14 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya : Cerita Sex Dewasa Polwan S2 Part 13

LANJUTAN DAY 7 PART 1 ; THE RUNNING WOMAN

” Karya ini didedikasikan kepada setiap Polisi wanita yang telah mengorbankan jiwa raganya untuk menjaga keamanan Negara ini. Selamat Hari Ulang tahun Polwan”.

J R

Lewat tengah malam sekarang. Rasanya sudah sejam lebih aku berputar-putar keliling kota tanpa tujuan. Motor Tantri menemaniku di malam nan sunyi ini. Pemiliknya entah sudah selesai belum bertempur dengan suaminya. Gambaran persetubuhan dan desahan mereka yang begitu erotis masih terbayang jelas. Bagaimana keduanya silih berganti menggilir kenikmatan merupakan hal baru bagiku.

” Ahhhhhh Papaaaaa”, desahan serta wajah sahabatku tak mau pergi dari pikiranku walaupun sudah dibawa menghirup angin malam. Gigitan, remasan, penyerahan kendali tubuh, serta ciuman-ciuman mesra di antara keduanya terasa begitu nyata. Vaginaku masih saja terasa lembab akibat sensasi mengintip persetubuhan.

Ada bahayanya juga lho kalo seorang wanita sudah pernah merasakan nikmatnya hubungan intim sebelum menikah. Bahaya itu bernama bisikan setan untuk menyalurkan hasrat syahwatnya pada pria bukan suaminya.

Aku contoh nyatanya, terinspirasi dari Tantri, vaginaku terasa gatal ingin digaruk oleh laki-laki. Kutimbang-timbang, kalo bisikan setan berwujud birahi tak lagi terbendung siapa ya laki-laki yang bisa kuajak menyalurkannya??. Apakah Jaka?? hmm wajah ganteng, masa depan cerah, sayang kelainan.

Bagaimana dengan Tanto?? memikirkannya saja sebaiknya jangan, bukan orgasme nanti yang dikejarnya tapi nyawaku. Bisa-bisa dibunuh aku nanti. Lantas kandidat berikutnya ialah Ilham sang dokter? mmm dia nominasi kuat. Sebagai pria pencabut keperawananku, Ilham terlihat menjanjikan.

” Kita pikir baik-baik dulu sebelum bertindak!, Pikiran, bantu Sinta!! Benarkah kalo di tengah malam begini, Sinta main ke kantornya kemudian mengajaknya bercinta??”.

” Emangnya kamu gak tau malu Sinta??. Inilah akibat dari kamu terlalu banyak menonton film-film porno; hilang akal sehat. Asal kamu tau, indahnya hubungan seksual ala Alex-Tantri hanya bisa diraih karena adanya ” cinta “. Mereka bukan bersenggama seperti anjing atau kucing di pinggir jalan, tapi melakukannya sebagai mekhluk dengan kapasitas tinggi yang mampu melahirkan seni seksualitas lebih dari binatang”.

” Emang gimana seksualitas lebih dari yang biasa dilakukan binatang pikiran??”.

” Yah kamu lihat sendiri Sinta, binatang kalo bersetubuh pasti inginnya memuaskan nafsunya sendiri, tanpa memikirkan perasaan pasangannya”.

” Tapi manusia kupu-kupu malam kalo bersetubuh juga memikirkan perasaan pelanggannya??”.

” Itu Melayani atas dasar imbalan. Pelayanan seperti itu hanya bisa menghasilkan desahan, raungan dan orgasme palsu. Malahan kalo lama-lama hidup dalam kepalsuan, mereka akan kehilangan kemampuan untuk merasakan mana orgasme sejati dan palsu. Lihatlah Alex! kenapa dia harus bersusah payah menahan ejakulasinya sedangkan spermanya sudah sampe di ujung penis??”.

” Agar Tantri bisa memperoleh kepuasan???”.

” Betul itulah bedanya manusia dengan binatang kala berhubungan seks. Manusia bisa memilih ; mau memuaskan dirinya sendiri atau memuaskan pasangannya. Sekarang alih-alih memiuaskan pasangan, kalo kamu datang ke tempat dokter Ilham lalu mengajaknya bercinta itu sama saja dengan binatang yang mentingin nafsu sendiri. Kamu gak mikir barangkali dia sedang banyak pasien. Mereka butuh pertolongannya. lagipula kamu itu wanita Sinta, emang gak punya malu untuk menahan syahwat??. Salah sendiri tadi ngintip Tantri, birahi jadinya yang muncul. Udah tahan aja libidomu itu! resiko ngintip tanggung sendiri!”, pikiran terus menasihati dan aku mengangguk-angguk sendiri menyadari kebenarannya.

” brrrrrrrrmmmm”, bunyi deru gas motor terus terdengar.

” Yah kamu benar soal kualitas seksualitas manusia harusnya lebih indah dari hewan wahai pikiran, tapi Sinta akan tetap ke rumah sakit. Sssst jangan rusuh dulu, Sinta sama sekali gak ada niatan buat ngajakin Ilham nge-sex kok, cuma mau menjenguk doank. Sinta ingin nengok Komandan Burhan dan Febi sekaligus melihat kondisi mereka. Kebetulan keduanya dirawat di RS yang sama”.

” Kamu gak salah Sinta?? tengah malam buta mau menjenguk orang di rumah sakit??”.

” Eeee Gak apa donk , menjengukkan bisa kapan saja, lagipula Sinta Cuma mau melihat kondisi mereka kok”.

” Diusir kamu nanti sama satpam!!!”.

” Kamu terlalu pesimis, belum juga dicoba udah ” nge-per” duluan, nih ikutin Sinta kita lihat apa yang terjadi!”.

Akhirnya meski sempat berdebat panjang, sudah kuputuskan, untuk meluncur ke Rumah Sakit.

” Brrrrrrmmmm”, kugas motorku cepat menyusuri jalan lengang menuju tempat Febi dan Pak Burhan dirawat.

Dalam waktu singkat, didukung jalanan sepi, tibalah aku di RSUD. Kuparkir motorku di parkiran. Sekilas kuperhatikan masih ada dua petugas stand by. Seorang aparat lho Sinta ini jangan lupa, jadi punya feeling kuat soal keamanan suatu tempat. Kami biasa menjadi lebih peka seandainya merasa akan terjadi sebuah kejadian akibat penjagaan yang longgar.

Suasana sekeliling RSUD relative sepi. Masih ada beberapa perawat hilir mudik tapi para pengunjung sudah tidak ada yang terlihat. Semuanya telah beristirahat di dalam gedung. Ada yang tergoler di lantai depan ruangan pasien, juga ada di dalam ruangan. Kudatangi meja resepsionis dan bertanya pada suster penjaga dimana ruang Komisaris Burhan dan Febi dirawat. Awalnya mereka keberatan mengijinkanku masuk, namun atas alasan pemeriksaan keamanan yang kukemukakan, dibarengi menunjukkan tanda pengenal anggota akhirnya mereka bersedia.

Perasaanku tidak enak. Seharusnya dalam keadaan merawat dua orang korban sekaligus saksi kunci dari sebuah kasus besar, rumah sakit ini dilengkapi dengan system keamanan yang lebih baik. Dalam hitunganku, seharusnya ada petugas pengawal lebih banyak daripada hanya dua orang satpam di pos depan.

Walaupun Masih ada perasaan mengganjal di hati, kupaksakan untuk naik ke lantai dua. Tanpa ditemani suster, aku menuju kamar nomer dua dan tiga tempat kedua Komandanku dirawat. Sangat mudah menemukannya karena kedua kamar itu terletak paling ujung dekat tangga. Kecurigaanku semakin besar mendapati lantai dua juga sepi. Tidak ada satu petugas keamanan pun yang berjaga.

Sebagai langkah antisipasi kucoba menelpon Tantri mengabarkan longgarnya keamanan disini. ” ttuuuuttt…tttuuuttt….ttuuuuuuttt”, bunyi telpon menunggu diangkat. ” Nomer yang anda tuju….”, suara operator menjawab. Tantri kamu mau main sampe berapa ronde sih??? sampe sekarang kok hand phone belum diangkat. ” Huhhh kesellll dugg” kutendang tembok karena frustasi.

Tak tau harus melakukan apa lagi, kucoba mengiintip sejenak ke kamar nomer 2 dan kulihat Pak Burhan tengah tidur tenang. Selang oksigen menutupi hidungnya membantu pernapasan. Pada kursi di depan tempat tidurnya ada seorang anggota keluarga yang menungguinya sambil tiduran di sofa.

” Kalo pihak keamanan tidak ada, untuk sementara aku saja deh yang menjaga mereka!”, batinku.

Sekarang Kualihkan pandanganku ke kamar sebelahnya tempat Febi dirawat. Rupanya tidak ada keluarga yang datang menungguinya. Tampak dia tidur sendiri masih dengan jarum infus menempel di lengan. Kucoba membuka pintu, tidak terkunci. betul-betul longgar dan menjengkelkan pengawalan untuk mereka berdua.

Ruangan kecil tempat merawat Febi kumasuki perlahan. Sejuk hawa dalam ruangan dengan AC menyala dalam suhu sedang. Komandanku nan cantik terlihat terbaring terlentang. Masa kritisnya dua hari lalu sudah berhasil dilalui. Dia kini kembali terlihat cantik dengan warna kulit yang memancarkan gairah kehidupan. Nafasnya naik turun teratur. Indah sekali melihat seorang wanita cantik sedang tidur nyenyak seperti ini.

” Tep……”.

” Hiiiiiiiiiiiiiiiiii”, aku kaget setengah mati.

Febi bangun mencengkram tanganku keras. Bahkan dalam kondisi sakit kewaspadaannya tetap terjaga.

” Kooommannndannn iniii Sinnttaaaa”, ujarku gemetaran kaget.

” ………”, Febi tersenyum lembut kemudian kembali tenang melepaskan cengkramannya.

” Kukira kamu penjahat Sinta! tarik kursi, duduklah di dekatku!”, perintahnya.

Aku menarik kursi duduk di sebelah ranjangnya berdekatan dengan kepala Febi. ” Komandan sudah sehat??” tanyaku.

” Sudah Sin! Polwan gak boleh sakit lama-lama he he”, tawanya mengembang. Melihatnya kembali ceria membangkitkan rasa haru dalam hati. Tanpa terasa air mata menetes dari kedua bola mata.

” Sleeeepp”, Febi mengusap pipiku lembut menyeka butiran air mata yang mulai berjatuhan.

” Jangan menangis Sinta! kamu penolongku tidak boleh bersedih”.

” Komandan sniff sniifff salah, justru Sintalah penyebab Komandan tertusuk di tahanan”.

” Itu pilihanku Sinta untuk datang menyelamatkanmu. Kalo kemudian aku harus tertusuk maka itulah resikonya. Jangan pikirkan soal itu. Kamulah sang penolong! tanpa kamu aku pasti sudah mati”.

” Sniifff…sniiiiff Sintaa gak ngerti Komandann??”.

” Aku nyaris mati Sinta. Dalam kondisi koma, sejengkal lagi aku melihat dengan mata kepala sendiri, jiwaku akan masuk jurang neraka….”, raut wajah Febi berubah serius.

” Tidak ada satu orang pun mau menyelamatkanku saat itu. Tapi kamu dengan berani datang menolong menerobos kobaran api….sniiff”, Febi menghentikan ucapan karena mulai emosional. Setangguh-tangguhnya dia sebagai Polisi Wanita, sisi wanitanya masih berlaku. Dia mulai menangis.

“……..dan kamu berhasil membawaku kembali….sniff terima kasih banyak Sinta….”, Febi memelukku . Kami berpelukan penuh keharuan. Meski hanya di dalam mimpi aku pernah merasakan rasa pelukan ini. Saat di neraka, seberkas cahaya membawaku masuk ke dalam api dan bisa menyelamatkan Febi melalui sebuah pelukan. Melalui ekspresi kasih itulah api neraka padam. Sekarang rasa itu datang lagi melingkupi kami berdua menghadirkan kedamaian. Lama kami berpelukan.

” Heeeeppppp”, Febi tiba-tiba melepas pelukannya dan membenamkan kepalaku agar masuk ke kolong ranjang.

” Berlindung di bawah kasur!! ambilkan senjataku di laci lemari paling bawah Sinta cepat!!”.

Menurut, aku meringkuk di bawah kasur mengendap-ngendap ke lemari yang terletak di samping tempat tidur untuk mengambilkan senjata febi. Pistol enam peluru miliknya telah terisi penuh.

” Iiiinni Kommmnaddannn”, aku menjangkaukan tangan ke atas untuk memberikan pistol.

” Sembunyi di bawah kolong!!”.

Hmmm ada apa ya??. kok jadi tegang begini situasi. Padahal baru aja Sinta merasakan kedamaian, jadi begini lagi keadannya.

” wweess…wwweess…wwesssss…prookk…prrookk..prrookk”, dari depan kamar terdengar bunyi derap sepatu banyak orang. Siapa mereka?? apa dokter datang mau visit pasien?? tapi kenapa banyak sekali dokternya??.

” Ckleeeekk”, pintu dibuka. Dua orang terdengar memasuki kamar Febi.

” Ini Inspektur Febi??”, seorang pria bertanya.

” Iya betul dia! sama kayak di foto”.

” sayang sekali, padahal Febi cantik sekali , kenapa harus dibunuh cepat-cepat”.

Celaka orang-orang ini ingin membunuh Komandan Febi rupanya.

” Lihat kemolekan tubuhnya! Gimana rasanya “ngewee” sama Polwan secantik dia Bro??”.

” Rasanya pasti ” Nyos ” Mal, kita cobain aja dulu yuk! habis itu baru kita habisin”.

” Ok tutup pintunya dulu Bro! biar yang lain menghabisi Burhan di sebelah, kita ngentot dulu sama si Febi”.

” Ckklleeekk..sllleppp”, Si Bro menutup pintu dan menguncinya.

” Siapa giliran pertama ayo kita suuiitt!!”.

” Tu..wa..ga….Nah aku menang Mal!! giliranku pertama. Lu nonton aja dulu, dari kursi sono tuh..he he he gue mau ” ngwee” ama cewe cakep!”, kaos si Bro di lepas dan dijatuhkan ke lantai. Dari bawah tempat tidur, tanganku rasanya sudah gatal ingin langsung keluar dan menonjok pria cabul ini berikut temannya.

” Mmmm tubuhmu wangi manis, bibirmu penuh menggairahkan, kita main bagian yang mana dulu nih”.

” Teeeppp”, bunyi tangan dikunci. ” Kita main ini aja Bro!!” suara Febi terdengar.

” Doooooooooooorrr”. Bunya letusan pistol demikian kencang meletus. Cipratan darah tumpah di lantai.

” Brrrooo”, orang kedua berdiri terkejut dari kursi.

” Doooorrrr”, letusan kedua meledak, dia juga tumbang.

” Duugg…duugg…duggg “, dari luar pintu digedor kencang. Aku keluar dari persembunyian melangkah cepat ke pintu.

” Menjauh kamu dari pintu Sinta!!”, Febi memerintah.

” Sinta mohon ijin untuk tidak patuh Komandan!!”, jawabku.

” Ngawur kamu! cepat minggir !!!mereka bersenjata Sinta!”.

” Tenang Komandan”, tegang sekali hatiku tapi apa boleh buat demi menyelamatkan Febi dan Pak Burhan. Sejenak aku berdoa kepada Tuhan memohon perlindungan.

” Amin” , kukatupkan tangan ke muka.

” Sinta jangan gila kamu!!”.

” He he sayangnya kita kadang-kadang perlu berbuat gila Komandan!”, aku tersenyum renyah membuka slot kunci dan membuka pintu.

****************

Baru saja kubuka pintu, moncong senjata sudah menyambut. Doorrr, si pemegang senjata menembak. Terlambat baginya, untung buatku, tembakannya luput, aku sudah menunduk duluan mencengkram kemaluannnya.

Kupelintir punyanya sekencang mungkin , aaaauuuuuuuu, kemudian dengan tenaga bahu tubuhnya kuputar ke arah kawanannya. Bangun cepat, aku memegang tangan si penembak yang masih memegang senjata dan menjerit kesakitan, kutegakkan tangannya lalu arahkan ke teman-temannya yang berdiri di sekelilingnya.

Dorrrdorrrdorrrdoorrr..doorrrr, kutembak lima orang sekaligus di kakinya.

Bertumbanglah kawanan tersebut seperti daun di musim gugur.

Drrraaagg, terakhir kusikut pria yang pelernya sudah kuremas sampai pingsan.

Sadar akan gentingnya situasi, cepat kumasuki ruangan Komandan Burhan yang sudah terbuka. Keluarga beliau yang menunggui di sofa tadi sudah tergeletak di lantai pingsan. Di dalam ruangan ada dua orang yang mengarahkan senjata ke Komandan Burhan bersiap menembaknya.

Doorrrr, aku tembak duluan kaki orang pertama. Tembakanku kena dia jatuh. Orang kedua mengarahkan senjatanya tepat ke arahku. Tanganku tidak cukup cepat untuk merespon balik.

Braggg, dari belakang Komandan Burhan bangkit dari tempat tidurnya dan menghantam orang kedua dengan pispot. Penyerbu kedua pingsan seketika.

Sinta.heehh hehhh heehh, masih menggunakan selang oksigen Pak Burhan memaksa berdiri. Kondisinya begitu lemah dia hampir terjatuh ke lantai. Untunglah aku sigap merangkulnya. Kutangkap Beliau kemudian kududukan kembali di ranjang.

Komandan baik-baik saja???.

Hehhhehhhhehhh, beliau mengangguk belum sanggup bicara banyak, heh..hehh..hehh., nafasnya masih berat sekali.

Komandan istirahat lagi ya!! Biar Sinta yang bereskan semuanya, dengan kedua tangan kubantu Beliau untuk rebah kembali di ranjang.

Dooorrrr..bruuugg, aku terkejut dengan bunyi tembakan berikutnya.

Bahaya!!! panggil teman-teman di bawah cepa.dddooorrrr, bunyi tembakan lagi.

Aku begerak cepat melihat apa yang terjadi. Di luar sudah jatuh lagi dua orang. Siapa yang menembak mereka???.

Sinta, Febi berdiri gontai di depan pintu kamarnya memegang pistol dan tiang berisi selang darah. Rupanya dia yang menembak para penyerbu susulan tadi.

Komandan Febi, kenapa berdiri?? Komandan belum sembuh benar, aku memegang tangannya.

Kamu bener-bener ngeyel Sinta!! tindakan gila kamu itu membahayakan…

Ssssstttt, kututup bibirnya dengan jari. Komandan tolong disini saja ya jagain Pak Burhan! Sinta mau turun ke bawah, ngejar komplotan mereka.

Sendirian?? kamu ini edan beneran atau…

Ckleeek, pintu kamar lain terbuka. Dengan wajah panik para pasien ke luar melihat kondisi yang terjadi. Febi tak bisa berkata apa-apa karena banyaknya orang yang melihat. Saat dia tak bisa bicara, langsung aku berlari menuju tangga, meninggalkan Febi yang masih bengong.

Baru mau menuruni tangga Febi memanggil, Sin. Aku menoleh.

Bawa senjataku!.

Komandan saja yang pegang!, jawabku. Tolong jaga Pak Burhan, lanjutku sambil melanjutkan berlari turun.

Berlari sprint aku ke arah Lobi. Kepanikan terlihat di lantai satu. Para pasien yang mendengar ledakan senjata berkerumun di lobi, suster berusaha menenangkan mereka. Untunglah para penyerbu berikutnya belum terlihat. Mungkin mereka tertahan dengan kepanikan di dalam sehingga tidak berani masuk.

Feelingku mengatakan mereka masih di halaman. Aku lanjut berlari.

HEEEII ITUUU SI POLWANN!!, ada lebih dari sepuluh orang berjaket hitam-hitam menuding-nuding ke arahku setibanya aku di pelataran parkir. Ini pasti mereka. Kuhentikan lariku, lantas dengan gagah menghadapi mereka berhadap-hadapan. Sebagai Polwan aku harus berani!! untuk inilah kami dilatih.

JANGAN PADA CEMEN LU BERANINYA NGELAWAN ORANG SAKIT!!, kuprovokasi mereka dengan jari tengah teracung.

PADA GAK PUNYA KONTOL APA LU??? LAWAN GUE SINI, tantangku. CIIIUUUUH, kumeludah ke arah mereka untuk semakin membuat panas.

ANJJIINNG KEJARR TUH CEWEE!!!!, mereka terpancing dengan provokasiku. Semuanya mengejarku dan tidak ada yang bergerak masuk ke dalam.

Berlari cepat aku menyusuri pelataran RSUD menuju jalan besar. Suasana sepi dini hari berubah riuh dengan bunyi gas mobil dan motor milik mereka yang di gas poll. Mereka sadar tak akan sanggup mengejarku sambil berlari sehingga menggunakan kendaraan. Sedikit aku membalikkan kepala untuk menghitung jumlah para pengejar. Ada tiga mobil, dua motor trail, dan sebuah motor bebek bersamaan memburuku. Tetap berusaha tenang dengan terus mengingat nama Tuhan, aku mulai mengatur nafas saat berlari.

Adalah kesalahan besar apabila aku meng-geber lari sprint untuk menghindari mereka. Selain boros nafas, berapa sih kecepatan kaki dibanding akselerasi mobil atau motor??. Kecepatan kendaraan hanya dapat diimbangi dengan penguasaan medan. Sekali lagi kemampuanku menghapal jalan berguna. Sinta hafal betul kawasan sini berikut jalan tikusnya. Berkali-kali ujung mobil sudah meneyentuh kaki Sinta tapi bisa dihindari dengan manuver-manuver tajam di tikungan sempit.

Huuhh.huuuuhhhuuuhh, deru nafasku tetap terkendali. Mereka terus mengejar dengan ulet. Sudah lebih dari 2 kilometer, tapi mereka belum juga dapat mendapatkanku. Para begundal itu semakin kesal.

Sampai kapan kamu akan berlari Sinta??, pikiran tiba-tiba hadir.

Huhhh.huuuhhh.huhhhh sampai lapangan di bawah kita pikiran.

Kuintip sejenak medan jalan sudah semakin lapang. Tidak ada satu kendaraanpun yang lewat. Di sebelah kiri jalan, ada turunan tajam yang beralaskan tanah menghubungkan langsung ke arah lapangan. Inilah tempat yang kunantikan sedari tadi untuk bermanuver.

Awas motor Trail sudah ada disampingmu Sinta, pikiran menjerit.

Huuuuppp, aku melompat harimau berguling, langsung memegaskan kakiku agar melonjak serong kiri, serbuan motor pertama berhasil dihindari.

Awaaassss Sinnntaaaa mobil mau nabrak!!!, pikiran menjerit lagi.

Haaaapppppp, aku melompat jauh ke dataran curam yang merupakan turunan menuju lapangan besar itu. tabrakan mobil luput lagi. Aku terjun bebas meluncur ke bawah sambil berguling-guling.

Bruuuggbrruuugg. brrruuuuggggg, dengan tangan terentang lurus aku berguling turun dari atas ke bawah. rasanya cukup jauh turunanku sehingga aku cukup pusing ketika tiba di lapangan. Untunglah kontur tanahnya lembut sehingga tubuhku tidak terlalu sakit. Tiga mobil pengejar harus berputar lumayan jauh untuk menjangkau lapangan. tapi dua motor trail cepat memburuku dengan menjajaki tanah hingga tiba di lapangan.

Brruuumm..brruuuummmmbrruuuummmm, melihatku berusaha duduk mengembalikan kesadaran akibat guling-guling tadi, mereka bersikap meledek dengan “menggereng-gerengkan gas motor.

Huuuf Terima kasih Ya Tuhan masih memberiku keselamatan, Tak henti aku berdoa.

Brrrrruuuuummmmm, tanpa menungguku bangkit, kedua motor menerjang maju.

Huuuupppp, bangkit berdiri, kuambil dua butir batu berukuran sedang yang kebetulan ada di dekatku. Bersamaan dengan laju motor, kulempar kedua batu bersamaan ke arah muka mereka berdua yang masih memakai helm.

Brrruuuuummmmbbbblletaaakk.praaangggg.ckkkiiiiitttt..brraaaaaggggggg.

Ajaib. Tanpa perlu bergerak lebih jauh. Kedua lemparanku tepat sasaran menembus helm depan para pemotor, menghilangkan keseimbangan, dan membuat tubuh mereka terlempar dari sepeda motor.

Krreeeekkaaaahhhhhhh..bbrrrmmmmm..aaaaduuuuhhh, bunyi nyeri terdengar hasil jatuhnya mereka.

Sudah berulangkali Sinta berpesan pada setiap pengendara motor di jalan ; hati-hati ya kalo mengemudi! jadilah pelopor keselamatan berlalu lintas! Kalo kalian ngebut terus jatuh, sakit sekali nantinya lho. Bagi siapa saja yang tak mempercayai nasihatku, lihatlah kedua pengendara motor barusan, jatuh dengan mengenaskan.

Lucu juga ya jatuh karena batu. Gimana teorinya?? sejenak aku berfikir bagai ilmuwan. yah meski kurang pintar kadang aku suka menganalisa sesuatu. Batu dilempar dengan kekuatan penuh dari satu arah. Dari arah sebaliknya datang motor berkecepatan tinggi. Tenaga batu yang meluncur menuju motor menjadi berlipat-lipat akibat pengaruh kecepatan dari benda pertama ketika keduanya bertumbukan. Jadi kesimpulannya ; kecepatan berpengaruh terhadap tenaga sebuah benda. Bener gak sih itu??? ahhh rasanya benar lah.

Ho Ho Ho Sinta jago Fisika sekarang, asyik aku berdecak pinggang sambil meniru gelak tawa tokoh kartun terkenal menyadari betapa cerdasnya Sinta dalam pelajaran fisika.

HooHooo..Hhoo.. fisika is my style.uuppss, asyik tertawa, aku baru sadar tiga mobil tadi sebentar lagi tiba di lapangan dan memacu kecepatannya begitu tinggi ke arahku.

Mau kemana sekarang kamu Sinta?? langkah seribu saja kabur ke belakang!!, pikiran datang lagi.

Mmm malu ah masak ahli fisika kabur.

Ahli apaan nilaimu itu jelek banget pada pelajaran itu dasar o’on!!!.

Ssstt, aku berfikir lagi, apabila sebuah benda berkecepatan tinggi dihadapi dengan mundur ke belakang, benda tersebut bisa menghilangkan gaya benda yang mundur hingga nilainya nol point, atau sama dengan aku mati ; death, aku mengerutkan dahi, Sebaliknya bila dilawan dengan kecepatan sama tinggi, maka bisa membuat kesetimbangan yang akan menghilangkan kecepatan benda pertama hingga mencapai nol juga, atau ; mereka yang death.

apa katamu Sinta??? kesetimbangan apaan itu?? emang kamu tau apa artinya????.

Yak, jadi pikiran, kita akan lari sprint untuk melawan kecepatan mobil. Ayyyyooo larriiiii!!!!.

Gilllaaa.gilllaaagillaaaaa teori apaaan sih yang kamu sebut tadi???gak ilmiah???? anehh.

Majuuuuuuuu.

Kutinggalkan pikiran dengan debatnya yang gak mutu. Jujur Sinta juga gak ngerti teori barusan. Mereka yang berniat membunuhku mungkin lebih tau apa artinya. Tapi kelihatan dari cara mengemudinya ketiga mobil itu juga bingung dengan kelakuanku. Mereka syok ada seorang wanita berani-beraninya menyongsong tiga mobil berkecepatan tinggi dengan berlari sprint sekencang-kencangnya.

Saking bingungnya tak ada yang mencabut senjata dan menembak. Padahal dalam perkiraanku, seharusnya dalam tiap mobil ini pasti membawa pistol. Kuputuskan dengan kemampuan ilmu fisikaku yang datang tiba-tiba, bahwa aku harus berlari di tengah. Ketiga mobil sekarang berposisi sejajar. Tampak kebingungan aku akan memilih mobil yang mana untuk membunuh diriku sendiri.

Sinta lebih cerdas dari mesin, begitu batinku sambil berlari.

Mesin gak punya IQ pastinya. Meski hanya dibawah 100, minimal aku masih punya IQ dan bisa mengalahkan mobil tak ber-IQ..

Kamu itu ngawur aja Sinta si bodoh, pikiran lucunya muncul lagi waktu aku sprint.

Gimana cara kamu ngalahin mobil???, pikiran menghardik.

Tenang pikiran nih aku ajarin caranya!!! sebut aku sekarang Sinta si jenius.

Pertama, larilah dengan perlahan, mengincar spion kanan pengemudi mobil tengah. Artinya ; tanpa mereka sadar Sinta harus mengincar sisi tempat supir berada.

Kedua, hitung jarak, kecepatan dan waktu.

Gimana cara kamu ngitung semua itu sedangkan jarak mobil dengan kamu tinggal dua jengkal lagi Sintaaaa????.

Nah itulah jaraknya yang kubutuhkan memang hanya dua jengkal!, ketika tinggal dua jengkal, Sinta terbang persis seperti di mimpi ketika membuat gol lewat sundulan.

Hitung kecepatan mobil dan waktu terbang di udara. Bila hitunganku tepat, maka saat mobil berada tepat di samping, Sinta masih terbang. Setelahnya dengan manfaatkan kecepatan angin, arahkan tangan ke kepala pengumudi yang jendelanya terbuka. Jangan tanggung!satu tangan tidak bakal kuat. Arahkan dua-duanya ke pengemudi. Lantas gunakan mukanya sebagai tumpuan hingga arah tubuhmu berbalik sesuai arah mobil.

Hhuuugggghhhh, pengemudi gelagapan karena tangan Sinta menutupi wajahnya dan menjadikannya tumpuan.

Sekarang mobil dan Sinta searah, ikuti arah angin tanpa melepaskan pegangan pada pengemudi. Rasakan ketika tenagamu menjadi dua kali lipat akibat bantuan angin.

kraaakkk, Leher pengemudi terdengar patah akibat pegangan tangan Sinta dan. dia akan kehilangan kendali mobil, tak lama lagi pasti menabrak mobil di sampingnya. Sekarang lepaskan tangan dan berguling-guling untuk mengurangi rasa sakit akibat jatuh dari mobil berkecepatan tinggi.

BOOODDDDDOOOHHH AWWAAAAASSSS..BRAAAAGGGGGGG.

Mobil tengah menghantam mobil di kiri, akibat pengemudi patah leher dan membanting setir ke kiri. Kedua mobil rusak parah..

Brruuugggbrruuggg..brruuuugggg, aku berguling-guling lagi dengan pose sama seperti di lapangan.

Ckkkiiiitttt, mobil satunya bisa lolos dari tabrakan beruntun berusaha mengerem.

Sekarang saatnya menghabisi mereka Sinta. Kuberlari sprint ke belakang mobil. suasana gelap membuat mereka bingung mencariku.

Carrii cewe laknat itu!!!, pengemudi di belakang turun mengacungkan sejata laras panjang sambil membuka pintu. Bodoh sekali dia aku sudah berada tepat di samping pintu mobilnya. Sebelum dia turun kututup lagi pintu mobilnya dengan kencang padahal tangannya masih terentang .

Kraaakkkk aaannnjrrriiiittt, tangannya patah kugencet,senjatanya lepas dan kuambil.

Mendadak situasi berubah. sekarang bukan aku lagi yang ditodong tapi menodong senjata ke arah mereka.

Mmmm angkat tangan bapak-bapak!!!, kuancam mereka.

“Aaammpunn Buuu.ammppunnn, kata mereka. Timbul rasa kasian dalam hati tapi kewaspadaan ala Tantri dan Febi harus diterapkan dalam kondisi seperti ini. Coba kuhitung jumlah mereka satu persatu. Mobil ini muat sepuluh penumpang. Dua deret kursi sudah angkat tangan, tapi deret belakang aku tak bisa liat.

Detik kala kucoba melihat kursi paling belakang, kilatan cahaya pistol terpantul mengenai mataku. Tanganku refleks menekan picu.

Injak pedal gas kaburrrr!!!!!.

Rattttaaatttatttttattttttattttt, deretan peluru dari tanganku menghujani sisi samping mobil yang meluncur cepat tak tentu arah. Saking tegangnya karena kutembak, driver mobil itu malah menabrakan mobil itu ke pohon yang terletak tak jauh di depannya.

Braaagggggg, bunyi pohon dan mobil bertumbukan keras.

Huuffffff, akhirnya semua selesai, kutiup moncong pistol seperti di teve untuk membuat kesan gaya.

Nggeeennngggngggeeennngggggg.ckkkittt, o ya aku lupa tinggal satu motor lagi si pengendara motor bebek. Kembali aku mengaktifkan modus siaga.

Lebih tenang dari para temannya dia turun perlahan dan melepas helmnya.

Ckkkckkkckkk..semua kamu babat seorang diri Sinta! hebat!!.

Duuggg jantungku terhenti ketika melihat siapa pria itu sebenarnya setelah dia melepas helm.

Mas bersama mereka mau bunuh Komandan Burhan dan Febi????, tanyaku.

Aku gak kenal mereka! mungkin aku mempertimbangkan mau menyerang Burhan, tapi mereka datang duluan! Urusanku sekarang hanya menyelesaikan urusan di antara kita yang belum beres.

Mas mau menyakiti Sinta???.

YA!!.

Pistol ini aku tembak sekali beres kamu Mas!, tantangku.

Aku kenal kamu Sinta! kamu gak bakal tega!.

He he Sinta bukan gak tega Mas, tapi, kubantinng pistol ke tanah.

Dooorrr, pistol meletus sendiri karena lupa kukunci pengamannya, ledakannya hampir mengenai dia.

Annjjrriiittt Sinnntaaaa, jangan asal main banting pistol aja kamu!!!.

Maaaff..maaaff Mas lupa ngunci Sintanya!!…, aku menunduk minta maaf kepada pria sok berani yang rupanya takut juga dengan tembakan barusan. Huuh cemen loe, bisanya petantang-petenteng aja sih.

Ok serius sekarang Mas! Sinta bukan gak tega!!, ulang deh dialog tadi padahal udah keren tapi ilang momen gara-gara pistol meletup, tapi pake pistol gak rame, begini baru seruuuu, kuangkat kedua tangan memperlihatkan tinjuku sebagai sinyal mengajaknya duel one on one. Bukan senjata, tapi kedua tanganku yang akan menghadapi duel terakhir melawan TANTO.

Bersambung