Polwan S2 Part 13

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Tamat

Cerita Sex Dewasa Polwan S2 Part 13 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya : Cerita Sex Dewasa Polwan S2 Part 12

HUMAN ANATOMY

Pelukan erat Tantri menentramkan suasana hati yang bergejolak tiada henti dalam enam hari terakhir. Seluruh cobaan, kerumitan persoalan kehidupan, serta dinamika pasang surut perasaan seorang wanita terobati dalam pelukan seorang sahabat. Adakah yang dapat menggantikan keintiman pertemanan antar dua orang sahabat??.

Keakraban hubungan antara sahabat terbangun atas dasar ketertarikan satu sama lain. Berdasar kesamaan minat, mereka mengokohkan hubungan dengan komunikasi, dan saling mendengar curahan hati satu sama lain. Dalam pondasi hubungan nan kokoh itulah masing-masing mereka merasa berharga, dibutuhkan dan layak hidup di belantara kehidupan duniawi yang kadang-kadang terasa tragis.

Pelukan Tantri memberiku kekuatan hidup. Difitnah demikian kejam di ruang sidang, sebagian dari diriku meminta untuk segera mengajukan surat pengunduran diri dari institusi Kepolisian. Semua jerih payahku selama mengabdi di Kepolisian seakan menghilang ditiup asap kepalsuan sebuah laporan. Apakah Negara tidak pernah menghitung bagaimana pengorbananku demi masyarakat??. Cukuplah mereka membayarku dengan gaji yang pas-pasan namun jangan fitnah diriku seperti ini.

Seandainya saja tidak ada seorang pun mampu membangkitkan jiwa positif dalam diri, bisikan iblis yang menuntut kompensasi untuk dihormati itu pasti kuturuti. Alasan utama merubah bisikan negative yang datang, adalah teriakan orasi para pedagang kecil pendukungku di luar sana.

Tanpa mempedulikan rasa lelah dan terik matahari, mereka mengorbankan segalanya untuk seorang Polisi Wanita. Bisakah pengorbanan mereka dibayar dengan watak kekanak-kanakanku yang meminta berhenti sebagai Polisi?? jawabannya pasti tidak. Meski aku bekerja berpuluh puluh tahun ke depan sebagai Polisi baik, rasanya masih belum cukup untuk membayar pengorbanan mereka.

Bapak-bapak dan ibu-ibu di depan bukan orang kaya dan berkecukupan. Hidup mereka pas-pasan namun mandiri dan tidak ingin merepotkan orang lain. Menjadi pedagang, mereka mencari rezeki secara halal. Membayangkan mereka rela tidak mendapatkan uang satu hari ini, karena menutup lapak dagangannya demi diriku sangat membuat terharu, sekaligus mampu meniup jauh-jauh bisikan setan tadi. Seandainya saja di halaman Polda tidak banyak wartawan meliput, mereka pasti yang pertama aku ingin temui.

Selain mereka, motivasiku adalah Tantri. Polisi Wanita berusia sebaya denganku namun memiliki kebesaran hati dan banyak sifat mulia.

” Dia masih berbulan madu Pak Hakim” , kata Kompol Eduard di ruang sidang.

” Belum membaca berkas dari kesatuannya”. Rangkaian kata itu menjadi bukti pengorbanan Tantri. Pasangan mana sih mau diganggu saat berbulan madu??.

Bukankah momen sakral bagi para mempelai itu selayaknya dihabiskan berdua tanpa gangguan orang lain??. Alih-alih mengisi bulan madunya dalam lautan cinta dan kebahagiaan, sahabatku nan molek lebih memilih melewatkannya terbenam dalam kerumitan kasus seorang Sinta.

Perjuangan teman satu rumahku, dengan lebih memprioritaskan kepentinganku daripada kebahagiaannya sendiri layak diingat oleh setiap orang di ruang persidangan. Ketika aku memeluknya semua penonton di belakang kami bertepuk tangan dengan riuh.

Mereka seolah turut merasakan apa yang kami rasakan. Berkali-kali jabat tangan, tepukan semangat di bahu, maupun doa mengharapkan keselamatan untuk karier kami di masa depan, menghampiri setelah sidang usai.

Bahkan seorang Ketua Persidangan, Kombes Pol Harun sampai turun langsung menjabat tangan kami, mengajak ngobrol dan memberi kata-kata inspirasi.

” Brigadir Tantri dan Brigadir Sinta”, suara Kombes Pol Harun menyapa kami.

” Siap Komandan!”, kami menjawab serempak.

” Selamat! kalian berdua mengajarkan banyak hal mulia kepada kami hari ini!”.

” Mohon ijin Komandan??”, Tantri bertanya.

” Persidangan belum pernah berbalik arah sedemikian kencang Tantri”.

” Berbalik arah Komandan??”, tanyaku gantian bertanya.

” Kamu hampir pasti akan kembali ke tahanan tadi Sinta, seandainya tidak muncul surat dari Kompol Burhan”.

” Siap Komandan”, jawabku.

” Ijin, tapi kenapa Komandan memutuskan untuk membebaskan Sinta hanya berdasar secarik surat tersebut??”, Tantri dengan kritis bertanya.

” KEPERCAYAAN Tantri! itu hal besar yang kalian ajarkan kepada kami”.

” Eeeee maafkan saya kalo tidak mengerti Komandan. Tapi saya betul-betul gak paham??”, aku bertanya lugu.

” Kita percaya dengan seseorang manusia Sinta, walaupun orang bersangkutan tidak hadir dan terlihat di ruang sidang. Bahkan dalam perjalanan kariernya Beliau sempat berubah dengan mencontohkan hal-hal kurang baik. Akan tetapi setiap orang yang pernah merasakan secara langsung karakter Komisaris Burhan akan memiliki kepercayaan kepadanya. Saat reses, banyak hakim anggota menyerang catatan hitam Burhan, tapi kepercayaan kami kepadanya membuat catatan itu menjadi tak berarti”.

” Siap Komandan”.

” Mengabdilah dengan baik untuk Kepolisian! Kalian masih muda. Masih jauh perjalanan. Selalu berbuat terbaik meskipun dunia mengatakan yang terburuk tentang kalian! Kelak ketika mereka yang berkata buruk merasakan sendiri kebaikan kalian, mereka akan belajar untuk percaya pada Institusi Kepolisian. Persis seperti anggota dewan hakim belajar percaya pada Kompol Burhan. Kalian mengajarkan kami untuk memiliki sebuah kepercayaan”.

” Siap Komandan!”.

” Mereka akan belajar untuk percaya pada Institusi Kepolisian “.

Sangat indah perkataan Komandan Harun, menjewer pikiranku sendiri, yang meskipun sesaat tapi mewacanakan untuk mengundurkan diri. Bagaimana bisa aku mundur, sedangkan para anggota hakim saja belajar kepada kami?. Sebenarnya pujian Hakim Ketua sangat berlebihan tapi ada benarnya. Percaya merupakan kunci hubunganku dan Tantri. Berapa kali coba aku bertanya pada Tantri namun tidak dijawab?. Juga betapa sifat ” o’on ku” sangat membahayakan dia tapi tidak dihiraukannya. Siapa sangka kepercayaan yang kami bangun dalam rumah dinas dahulu, dapat memancarkan auranya hingga ke ruang sidang.

Ada sebuah nasihat seorang pujangga kubaca berulang-ulang waktu di asrama ; ” Bila ingin merubah dunia, rubah dirimu sendiri terlebih dahulu”. Betulkah jika dengan bahasaku sendiri petuah itu ku ubah menjadi ; ” Bila ingin membuat dunia percaya pada dirimu, terlebih dahulu percayalah pada dirimu sendiri”. Nah kata-kata itu terdengar bijak dan menggambarkan peristiwa barusan.

Pak Harun melanjutkan memberi kami motivasi dalam mengarungi dunia kerja. Dia ceritakan pasang surut kariernya selama puluhan tahun. kami mendengar dengan respek segala hal yang diutarakannya. Bagaimana Beliau bertahan tetap menjadi Polisi idealis nan setia menjunjung tinggi kode etik, walau dihadang berjuta rintangan menjadi poin terpenting yang kami akan selalu ingat sepanjang perjalanan karier.

Lama beliau bercerita, khususnya mengenai besarnya rasa pengertiannya pada kami selaku anak buahnya di persidangan. Dikatakan bahwa alasan utama Beliau bersimpati pada kami adalah karena sebuah alasan sepele yaitu ; rasa kesetiaan pada Korps. Bukan arti kata ini dalam arti negative, akan tetapi dari sisi positif. Sebagai seorang Polisi baik, kemudian melihat anak buahnya berjuang untuk kebaikan, menerbitkan simpati dan bela rasa. Itulah sebabnya Beliau membela kami.

Rasa cinta akan kebaikan jugalah yang membuat Beliau mengamanatkan sebuah tugas pada kami. Beliau menitipkan nomer hand phone untuk dapat kami hubungi. Guna nomer itu hanya satu ; kami harus melaporkan pada Beliau terkait berita Komisaris Burhan. Bagaimana kondisi Pak Burhan, apa curahan hatinya, bahkan siapa penembak misterius sore itu bila beliau sudah bisa bercerita, harus segera dilaporkan kepada Beliau.

Aku dan Tantri menyanggupi tugas itu. Untuk Tantri yang sudah pernah bersua sebelumnya dengan Pak Burhan tugas ini relative mudah. Tapi untukku?? tentu tak semudah kelihatannya. Ada hubungan emosional tumbuh antara aku dan Pak Burhan. Entah hubungan apa itu sebenarnya, yang pasti terdapat rasa sayang, hormat, dan segan berbaur menjadi satu. Pertemuan singkat antara kami berujung malapetaka. Bila Tuhan mengijinkan momen pertemuanku nanti dengan Beliau pastilah emosional.

Setelah Pak Harun pergi, barulah kami berdua beranjak meninggalkan ruang persidangan. Kali ini tidak lagi dikawal oleh anggota Provost. Tanpa pengawalan merupakan sebuah anugerah karena disanalah aku merasa bebas. Bayangkan saja sudah beberapa hari ini, aku melangkah gontai terpasung dari dunia luar. Di kanan dan kiri berdiri pria ataupun wanita berbadan besar yang menjepitku. Kini semuanya telah usai. Semoga untuk selamanya.

Bersama Tantri aku melangkahkan kaki ke luar dan menghirup kebebasan. Aku sangat ingin menemui para pendemo tapi dia menolak. Sekali lagi, dengan alasan untuk menghindari kejaran wartawan, Tantri menyusupkanku ke sebuah jalan tikus terhubung langsung dengan pintu samping Polda.

Meskipun aku sangat kecewa dengan keputusan Tantri, hati ini paham untuk sementara itulah keputusan terbaik. Kemampuan menjawab pertanyaan wartawanku masih sangat gagap, sedang kasus ini tergolong begitu sensitive dengan kejanggalan di mana-mana. Lebih baik aku menghindar dulu nanti ketika suasana telah pulih baru kutemui mereka.

Seakan masih tak percaya dengan namanya mukjizat, detik ketika kaki ini menyentuh pelataran dunia luar nan asri, aku bersujud di tanah. Tantri tak dapat mencegahku. Tak kupedulikan debu atau kotoran disana, aku hanya ingin bersujud dan mensyukuri kebebasan. Teringat jelas saat aku bersyukur bersama teman-teman di theater of hell dunia mimpi. Bagaimana perasaan damai dan tenang selalu menemani setiap tarikan nafas kita kala sujud.

” Sudah Sinta, ayoo bangun!”, Tantri menepuk bahuku.

” Hikkk….hiiikkk….hiiikkk”, aku menangis.

” Ayo kita pulang!”, peluk Tantri mengajakku bangun.

” Iya Tri hikk…hikk…aku udah kengen rumah dinas”, jawabku masih sesenggukkan.

” Kamu pulang ke rumahku bukan ke rumah dinas”, lembut jawaban Tantri.

” Lho??? Aaaaku ggak mmau ganggu kamu Tantrii. Kamu udah terlalu banyak membantu”.

” Sampai Tanto ketangkap Sinta! Cuma sampe dia ketangkap. Lagipula gak aman kalo sekarang kamu pulang”.

” Yakin gak apa Tri?? Alex gak keberatan??”.

” Dia tidak keberatan Sinta! kami senang kamu tinggal di rumah kok”.

” Terima kasih banyak ya Tri”.

” ……………”, Tantri kembali merangkulku sebagai ungkapan sayang.

Dia terus memelukku hingga kami tiba di mobilnya.

” Masuklah Sin! biar aku yang mengemudi!”, Tantri mempersilakanku naik. Tak lama kemudian dia menstarter mobil dan menginjak pedal gas untuk membawa kami meninggalkan pelataran gedung Polda. Banyak cerita di gedung ini yang tak akan kami lupakan untuk bertahun-tahun lamanya.

***********************************

Tantri membawaku menginap di rumahnya. Rumah Tantri sederhana namun rapih dan tertata indah. Katanya, rumah ini merupakan wujud cinta mereka berdua. Entah dia akan tinggali rumah ini untuk berapa lama, karena tuntutan kerja kami sering meminta untuk pindah tugas, namun Tantri merawat rumah ini dengan sangat baik. Sama seperti ketika dia tinggal di rumah dinas, Tantri selalu mengutamakan kebersihan dan kedamaian di dalam rumahnya.

Bukan hanya kondisi rumah wajib terjaga, namun terpenting keadaan hati para penghuninya. Dia tidak ingin mendengar atau menjumpai pertengkaran apalagi kekerasan terjadi di sini karena hati orang yang mendiaminya dipenuhi curiga.

Lihatlah ke sekeliling rumahnya, sebagai wanita pembersih dan perfeksionis rumah Tantri memang sangat bersih. Dia mengakui rumah ini secara resmi baru mulai ditinggali kemarin sepulangnya mereka dari bulan madu.

Akan tetapi sejak mereka merencanakan pernikahan, rumah ini telah dirawat dengan begitu telaten agar, saat waktunya tiba, mereka dapat mendiaminya dengan nyaman. Di dinding terpasang foto Tantri dan Alex saling bergandengan tangan dan menatap begitu mesra penuh limpahan kasih sayang.

Perjalanan cinta mereka berdua terbilang panjang dan penuh rintangan. Mulai dari status Alex sebagai orang biasa, hingga keindahan penampilan fisik maupun kecerdasan Tantri begitu tersohor dan menjadi incaran para perwira muda dari semua kesatuan, mampu mereka atasi dengan keteguhan hati dan keyakinan teguh. Kesungguhan mereka berdua untuk berjuang mewujudkan cintanya hingga tiba di pelaminan layak ditiru oleh semua Polwan.

Dalam keseharian kami memang wanita berseragam dengan standart disiplin tinggi. Namun dibalik itu, kami tetaplah para wanita yang butuh dicintai dan dihargai sebagai manusia normal. Kami para Polwan sangat memerlukan pasangan yang dapat memberi rasa cinta selama pengabdian kami untuk Negara.

Kami butuh belahan jiwa untuk mengisi hari dan menyediakan bagi kami penerimaan, penghargaan, dan kasih sayang. Semoga kelak aku dapat menemukan cinta sejatiku kemudian berusaha mewujudkannya seperti Tantri dan Alex.

Mereka berdua membuatku kagum. Bagaimana ya bila kelak aku bersuamikan pria biasa-biasa saja dan bukan Polisi??. Skenario itu belum pernah terlintas di benakku sebelumnya. Dalam khayalanku Polisi hanya pas bersanding dengan Polisi. Mereka satu dunia kerja seharusnya lebih mudah untuk saling mengerti.

]Bila bersuamikan pria dengan profesi lain, apakah mereka bisa mengerti kami?? Itulah ketakutan terbesarku. Tapi Tantri bisa, lantas kenapa aku tak bisa?. Punya suami beda profesi juga bisa digunakan memperluas cakrawala.

Asyik berfikir, dahiku berkerut dan tangan menyentuh dagu. Poseku seperti para apa ya kalo Tantri biasa ngomong, ah ya seperti para filusuf tercetak di patung-patung.

” HEIII SERIUS AMITT”, Tantri menganggetkan. Sangat mengejutkan tepukannya sampai buat aku meloncat kaget.

” Hiiiiiiiiiiiiii….Tri kamu ngagetin aja!!!”,

” Kamu udah kayak Professor aja sih gayanya!! Mikir apa sih??”.

” Eeeee enggak gak mikir apa-apa”.

” Tuh kan main rahasia-rahasiaan”.

” Kan belajar dari kamu Tri”.

” Huuuhhh dasar”, Tantri merengut.

” Ha ha ha”, untuk pertama kalinya aku bisa tertawa lepas membalas kelakuannya.

” Hush jangan kelebaran ketawanya nanti lalat masuk”, balas Tantri sambil menutup mulutku gemas dengan jarinya. ” ini kamarmu ya Sin! Selama tinggal disini, bebas-bebas aja ya anggap seperti di rumah dinas saja!!”, katanya.

” Tri tapi sampai kapan aku tinggal disini?? gak enak tau, belum lagi sama Alex”.

” Iya aku mengerti perasaanmu Sinta. Tapi ini untuk kebaikanmu sendiri! sampai Tanto tertangkap ya! habis itu kamu boleh kembali ke rumah dinas”.

” Tri harus ngapain aku buat membalas semua kebaikanmu???”.

” Hushhh kamu gak perlu melakukan apa-apa!! cukup jadilah dirimu sendiri Sinta. Kami cinta dirimu apa adanya”, Tantri menepuk bahuku.

” Emang kayak apa diriku apa adanya Tri???”.

” Mmmm banyak sih, sifat-sifatmu unik, yang paling berkesan buatku kamu itu polos, lugu, jujur, dan….”.

” Dan???”.

” Enak buat dicubitin pipinya hiiiiiiii”, Tantri mencubit kedua pipiku dengan gemas.

” Auuuuu sakit Tantriiii”, kali ini aku hanya mengelus-elus pipi dan tak membalas kelakuannya.

” Ha ha ha, makanan udah siap tuh di meja Sin. Makan dulu ya habis itu istirahat!. Aku mau kembali ke kantor sebentar ada yang mau diurus”.

” jadi aku ditinggal sendiri Tri???”.

” Iya donk. kenapa, takut???”.

” Enggaklah masak Polwan takuuut!”.

” Bagus! “, jawab Tantri sambil mengacungkan jempolnya ke arahku dan melangkah cepat keluar rumah.

Untuk sesaat aku masih terbengong dalam suasana sunyi rumah Tantri. Aku bukan takut dalam kesendirian. Tapi masih belum percaya dapat meraih kebebasan. Kucubit lenganku keras untuk men-check jangan-jangan aku mimpi. Auuuu sakit kok, berarti aku telah benar-benar bebas. wah senangnya.

” AKUUUU BEBASSSSSSSSSSS”, tak peduli di dengar tetangga aku berteriak sekencang-kencangnya.

Kebebasan ini harus kukabarkan secepatnya pada orang-orang terdekat. Siapa lagi kalo bukan Papa dan Mama di rumah. Mereka pasti cemas sekali dengan keadaan anaknya yang bolak-balik masuk teve dan diberitakan sebagai tahanan. Lagipula pemberitaan jaman sekarang diulang-ulang lebih banyak daripada orang makan obat.

Segera kuberlari keluar rumah untuk mencari counter pulsa. Kala kutemukan, kubeli hape seadanya dengan harga terjangkau, kemudian mengisi pulsa banyak-banyak biar bisa lama menelpon mereka berdua. Setelah semuanya sudah dibeli, barulah aku balik kanan lagi ke rumah Tantri dengan berlari. Rasanya sudah tak tahan untuk menumpahkan semua curahan hati dan gundah gulana yang telah tertimbun kepada Mama dan Papa tercinta.

Sampai rumah aku langsung menghambur masuk kamar dan memencet nomer telpon. ” tuuuutttt……tuuuutttt…..tuuuuutttttt”, bunyi panggilan telpon menunggu diangkat.

” Halo “, suara wanita paruh baya mengangkat telpon.

” Ma ini Sinta!!”.

” SINTAAAAA GIMANA KABARMU NAKKKK…. MAMA SAMA PAPA UDAH MAU BERANGKAT KE SANA. KAMI CEMAS MELIHAT BERITA KAMU DI TV. DIMANA KAMU SEKARANG NAK????? UDAH MAKAN BELUM???????”, mamaku sangat histeris.

” Ma, tenang Ma, Sinta sehat Ma…..”, aku mulai curhat panjang lebar kepada Mamaku tersayang. Persis seperti para anak gadis lain kalo udah curhat lupa waktu, aku pun demikian. Kuhabiskan waktu dari siang hingga menjelang maghrib untuk menelpon tanpa jeda.

Kutenangkan orang tuaku yang begitu panik dan cemas. Mereka sampai hendak membawa keluarga satu kampung ke sini untuk menjenguk. Wah bisa ribet nanti ngurusnya kalo keluarga besarku datang semua. Mau diinapkan dimana mereka?? aku saja masih harus mengungsi di rumah Tantri.

Huh pokoknya lelah meyakinkan papa dan mama untuk tenang dan gak maksain diri datang kesini. Namanya orang tua pasti mencintai anaknya lebih besar daripada anaknya mencintai mereka dan siap berkorban apa saja.

Sepanjang sore itu kegiatanku di rumah Tantri hanya menghabiskan waktu untuk menelpon sampai telinga panas. Setelah itu aku beribadah maghrib sejenak, kemudian karena kelelahan parah, jatuh tertidur dan lupa makan siang.

**********************

Rasanya lama aku tidur, hingga akhirnya terbangun jam sepuluh malam karena perut begitu keroncongan. Biasanya kalo udah tidur aku susah bangun tapi belakangan ini waktu tidurku memang amburadul. Huh lapar sekali, sudah berapa lama kamu tertidur Sinta. Aku berjalan keluar kamar sambil mengucek-ngucek mata.

Tadi karena keasyikan menelpon aku lupa tutup pintu dan menyalakan lampu kamar. Untunglah ruang tamu masih menyala sehingga cahaya masih bisa masuk dari cela pintu kamar. Kala hendak kupegang gagang pintu sebuah suara menahan langkahku.

” Sinta udah tidur Ma??”, suara Alex akhirnya terdengar.

” Udah Pa, dia kalo udah tidur biasanya lama, pagi baru bangun”.

” Nih Papa bawain teh diminum dulu!”.

Kuintip dari pintu untuk melihat posisi ngobrol mereka. Berdua mereka sedang duduk di sofa berposisi membelakangiku sambil menonton televisi. Letak kamarku tepat di balakang mereka. Gelapnya kamar membuatku tak khawatir mereka bisa melihatku.

” Hayooo kenapa garuk-garuk hidung terus?? lagi suntuk ya!!!”.

” Iya stress sama kerjaan Pa”, Tantri melendotkan kepalanya pada dada bidang suaminya.

” Berhenti donk garuk-garuk hidungnya! coba ceritan ke Papa apa masalahnya!”.

” Mama capek jadi orang lain Pa”.

” Lho?? maksudnya gimana istriku yang cantik??”.

” Jadi wanita tanpa ekspresi, raja tega, harus menutupi perasaan setiap saat, sangatlah berat dan mengiris hati “, nada suara Tantri terdengar emosional.

” Pasti ada kaitan sama kasus Sinta ya Ma??”.

Dari posisi duduknya kulihat, Tantri mengangguk. Wah tanpa sengaja aku bisa nguping nih orolan mereka. Apalagi topiknya serius terkait diriku. Rasanya sejak lama aku penasaran ingin mengetahui bagaimana sih sebenarnya penilaian Tantri terhadapku. Sekaranglah saatnya!.

” Sahabatku itu baik sekali Pa. Belum pernah aku jumpai Polwan sepolos dia. Coba Papa bayangkan seandainya di posisi mama, di hadapan orang banyak harus menamparnya hingga jatuh pingsan…”.

” Menampar sahabat karib sampai pingsan???”, Alex terkejut.

” Sssst jangan keras-keras nanti Sinta bangun”.

Mereka membalik wajah serempak menatap ke kamarku. Kaget aku berlari ke sprint balik ke kasur dan pura-pura tidur. Eeee bodohku kok gak ilang-ilang ya. Mereka kan hanya ngelirik doank dan tidak berniat menyidak kamar. Huuuh memberanikan diri kembali aku berjalan perlahan lagi ke cela pintu, khusus untuk mencuri dengar obrolan orang dewasa.

” Terus gimana Ma??”.

” Tamparan itu melukai hati Mama. Menggendong tubuh Sinta yang tergoler pingsan di depan mata sendiri sangatlah traumatis”, Tantri menutup matanya berusaha melupakan insiden itu. ” Apalagi sebelumnya Mama sok-sokan memberanikan diri menggendong Inspektur Febi dengan penuh ceceran darah di perutnya”.

” Papa tolong! mama gak bisa ngelupain pemandangan tragis itu”, Tantri gemetar sepertinya mengalami trauma.

” Ssssttt tenang Mama…bersabarlah”, Alex merangkul mesra Tantri dan mengelus-elus rambut pendeknya dengan penuh rasa sayang.

” Mama bersumpah tidak pernah berniat menampar Sinta ataupun berlagak berani untuk meyelamatkan Febi. Mama takut ngelihat darah Pa”, Tantri mengakui ketakutan terbesarnya. ” Semoga Sinta memaafkan Mama, juga Semoga Tuhan menyelamatkan Febi hik..hikkk”, tampak jelas di mataku Tantri menangis.

” Sssst jangan menangis! Kan ada Papa disini”, penuh cinta alex terus mengelus rambut istrinya.

” Hiikk…hhiikkk, saat laporan mama diserang habis-habisan oleh anggota hakim di ruang sidang Pa, rasanya sakit sekali hikk…hiikk…tapi…hikk..hhikk sebagai anggota Polwan, mama tidak boleh terlihat lemah. Menyembunyikan perasaan dari dunia itu berat sekali..hu…huu…hhuuuuu”, tangisnya meledak tak tertahan.

Untuk pertama kalinya aku melihatnya sebagai manusia normal. Tidak hanya seorang Tantri nan jenius, cantik, cemerlang akan tetapi dia juga masih punya sesuatu yang perlu dihargai oleh orang lain. Waktu masih serumah, bila ada masalah dia hanya mengurung diri di kamar.

” Ssstt…sssstt…sssstttt”, Alex berusaha meredakan kesedihan Tantri.

” Mama ngundurin diri aja ya Pa!”.

” Hush nanti kalo Mama mundur, Kepolisian kehillangan satu orang Polisi baik donk!”.

” Emang mama baik Pa??”.

” Sangat baik”, Alex tersenyum.

” Sinta Sahabatku yang paling baik saja kutampar sampe pingsan, masak orang baik ngelakuin itu Pa??”.

” Demi kebaikan Mama. Hanya untuk kebaikan tindakan itu terpaksa dilakukan”.

” Bagaimana cara mama biar bisa pulih ya Pa ??”.

” Jangan lupa Mama udah punya suami sekarang ! memang kita baru semingguan menikah. Kata para senior, sedang dalam proses adaptasi dalam hubungan pernikahan. Tapi yang terpenting, kita kan sudah mengikat janji untuk terus bersama dalam segala situasi.Suka, duka, panas, dingin, kaya, miskin, kita sudah komit untuk selalu bersama Istriku tercinta”, Alex mencium kening Tantri.

” Terus bersama ya Pa”.

” Iya! Mama tidak sendiri lagi! lupakan Tantri yang biasa menyelesaikan persoalan seorang diri. Sudah ada suami sekarang yang bisa dijadikan tempat Mama bersandar dan menyerahkan segala beban persoalan”.

” Menyerahkan segala beban???”, Tantri menatap langsung ke wajah Alex.

” Betul! bukankah lebih ringan kalo mama udah curhat tentang masalah yang bikin gundah gulana??. Kalo udah cerita kita berdua bisa cari solusi terbaik”.

“…..”, Tantri mengangguk. ” Terasa lebih ringan sekarang “, akhirnya dia bisa tersenyum. Beban masalahnya tadi sudah bisa dilepaskannya.

” Itulah gunanya kita menikah. Untuk meringankan hidup kita. Biasanya mama sendiri kalo ada masalah, terus ngurung diri di kamar, nangis-nangis sampe ketampung di satu galon air matanya”.

” Hussss lebay amat sih Pa!”, Tantri mencubit pipi Alex.

” Ha..ha sekarang mama gak usah begitu lagi! ada masalah cerita aja ke Papa! mudah-mudahan lebih ringan hidup kita “.

” Hidup ringan yang membawa kita menuju kebahagiaan ya Pa”.

” Akhirnya istriku sang jenius telah kembali he he”.

wajah Tantri terlihat memerah dan menunduk karena tersipu.

” Mama paling cantik kalo lagi tersipu begini”, Alex memegang dagu Tantri dan mencium bibirnya.

Dari pintu tepat di belakang mereka, aku terus menguping dan mengintip . Sempat terlintas niat untuk tidak mengintip, namun rasa ingin tau meniadakan niat itu. Dengan antusiasme tinggi kuintip lagi aksi percumbuan mereka di sofa.

Kepala Tantri terbenam di punggung sofa sedangkan Alex asyik mencumbunya dari atas. Belum pernah kusaksikan sebelumnya sebuah ciuman dapat sedemikian bergelora. Alex begitu menikmati apa yang sedang dilakukannya. Tanpa terburu-buru dia menghisap bibir sexy istrinya. Ciumannya disertai aksi saling hisap yang dalam. Tangannya kulihat juga mulai meraba-raba ke bawah tubuh Tantri. Terhalang sofa membuatku hanya bisa menyaksikan aksi cumbuan mereka saja.

Tak lama, Alex melepas ciumannnya dan mengecup sekeliling wajah Tantri. Pipi, telinga, dagu yang lancip semuanya dicium dengan gairah membara. Tantri baru saja mencurahkan isi hatinya penuh derai air mata, kini dia dapat mengatur emosinya dan bersikap pasif saja menikmati semuanya sambil rebah di punggung sofa.

” Uuuuhhhh Paah”, dia mulai mendesah ketika cumbuan Alex tiba di leher dan menjilati permukaannya. Rambut pendek Tantri ditepikan Alex dengan tangannya dan dia mencumbu tengkuknya dari samping. ” Sssssstt “, Tantri gemetar geli-geli nikmat.

Kepala Alex yang nyungsep menjelajahi leher dan tengkuk mulai dijambak rambutnya oleh sahabatku. Jambakan itu bukan dimaksudkan untuk mengusir lidah suaminya, namun untuk memberi semangat agar aksi penjilatan itu diteruskan dengan lebih liar. Mendapat sinyal, Alex semakin mengintensifkan serbuannya. ” aaahhh ssshhiiitt…..aaaahhhhh”, sepertinya tangan Alex dibawah sedang memompa payudara Tantri hingga memicu reaksi demikian heboh.

” Sssssttttt”, Alex menghentikan aksinya, menutup mulut sang istri dengan tangan, kemudian menatap pintu kamarku. Aku sangat kaget, dengan reflek responsive aku tiarap di lantai kamar.

” Ooo..ooo…Sinta ketauan ngintip lagi..”, lucunya dalam keadaan begini pikiranku justru menggubah lagu dangdut terkenal disesuaikan dengan kondisi terkini dan membuatku tertawa terpingkal sendiri.

” Jangan keras-keras nanti Sinta bangun!”, bisik Alex.

” Gak usah khawatir, dia kalo udah tidur susah bangun. Udah mama siapin tadi makanan di meja. Kalo dia udah makan bisa tambah lama tidurnya”.

” Yakin Ma??”, Alex masih memandang kamarku. Pasti dia tak dapat melihatku karena aku sudah menempel ke lantai dan kamar gelap.

” Yakin baget!! ayo donk terusin Pah, tanggung nih”, Tantri merajuk.

” He he tanggung gimana Mama??”.

” Mmmm enaknya tanggung papah”.

” Mama pengen enak???”.

” Mmm.mmmm”, Tantri mengangguk manja.

” Bilang donk!”.

” Pah mama pengen….”.

” pengen apa hayoooo”.

” Pengen basah”.

” Mmm basah dimana??”.

” Di itu tuh”, Tantri melirik ke area bawah tubuhnya.

” Hi hi hi papa seneng kalo mama ngomong nakal siap-siap ya”.

Tubuh Tantri sekarang dibaringkan Alex agar rebah dengan kepala tersangga bahu sofa. Alex turun ke ” bawah” untuk mengolah organ nikmat rahasia para wanita. Posisi mengintipku sekarang sudah tidak tiarap lagi, aku bisa duduk bersila dan menonton dengan tenang. Tapi pemandangan yang bisa kuliat hanya kepala Tantri dan kaki Alex saja.

” Uuuuuhhh…”, kepala Tantri mulai terlihat gelisah. Desahan lebih sering keluar dari bibirnya. dari tanda-tandanya sepertinya permainan oral sex udah dimulai nih. Sayang aku hanya bisa melihat sebagian dari adegan ” live show” ini. Maunya sih liat full, tapi gini juga gak apalah, toh sama-sama nikmatnya.

Tangan Alex melempar celana training panjang yang Tantri kenakan berikut celana dalamnya. Kini Tantri telah telanjang bulat di bawah sana. Kakinya satu dinaikkan ke punggung sofa. Jelas kulihat kaki jenjang Tantri begitu mulus tanpa bulu sama sekali. ” Ooooohhhh”, desahan nyaring terdengar, dengan kaki terbuka selebar itu, Alex pasti lebih bebas mengeksplore lubang sempit nan nikmat miliknya.

Sejenak aku berfantasi sendiri tentang apa yang terjadi di balik sofa. Pikir-pikir kalo perawatan kaki aja bisa semulus itu, vagina Tantri ada jembutnya gak ya??. Hmm pasti dia babat habis rambut dibawah sana untuk memberi palayanan maksimal buat sang suami.

” Aaaahhhhhhh”, desahan nikmat terus-terusan terdengar. Sebagai wanita Tantri tipe yang menurutku amat percaya diri. Jalannya ” permainan” mereka di ruangan utama rumah lho. Tapi tidak menghalangi Tantri meraung-raung mengekspresikan dirinya. ” Uuhhhhhh”, wajah Tantri kini menghadap ke arah kamarku. Tampak jelas kulihat dia mengigit kaos yang masih dikenakan untuk menyalurkan rasa ” nano-nano” di vaginanya.

Kulit wajahnya nampak bersemu merah dan dia sudah begitu kesulitan membuka matanya. terpejam dia menggigit kaos dengan satu tangan terangkat meremas rambutnya sendiri.

” Uuuuhhhh Papaa jarinya kenapaaa ikuut dimasssuukkiinnn ssiiihh aaaaahhhhhh”, Tantri menggila.

Kaos putih berikut BHnya dilepas dengan tak sabar dan dilemparnya sendiri ke lantai. Tangan yang semula kulihat naik ke atas kepala menghilang di balik sofa.

” HHhaaaahhhh”, kepala Tantri tampak tertengadah maksimal dengan kaki diatas permukaan sofa berkontraksi tegang.

” Huuuhh…huuuhhh….hhuuuhhh”, kepala Tantri menggigil hebat, nafasnya tak terkendali.

” Aaaaahhhh Ccuuukkuupp pappahh”, kaki Tantri mendorong tubuh Alex agar menjauh.

Akhirnya aku lihat kepala Alex lagi setelah tadi terbenam di balik sofa . Melihat pemandangan di depan matanya ,wajah Alex juga ikut berubah penuh birahi. Dia melepas bajunya begitu tangkas. Wow, bagus sekali badan Alex ketika polos tanpa busana. Kata orang kantor dia hoby fitness, pantas saja badannya begitu padat berotot. Lemak di tubuhnya tak terlihat diganti otot-otot simetris. Melihatnya aku bisa melihat definisi dari postur tubuh seorang pria perkasa.

Saat dia menurunkan celana kuperhatikan dahulu wajah Tantri, dia begitu terkesima. Ganti aku melihat ke arah Alex dan gentian terpukau. Penis Alex kulihat, dari segi ukuran normal dengan rata-rata laki-laki, akan tetapi penis itu begitu tegak dan bisa tegang maksimal.

Aku merupakan praktisi sex bebas, sudah pernah merasakan tiga penis selama ini ; Ilham, Tanto dan Jaka, tapi belum pernah melihat penis bisa tegak demikian kencang. Aliran darahnya pasti demikian lancar dan sanggup memompa darah dengan kuat sehingga penis itu bisa ereksi bagai tombak.

Tantri sebagai istri dari pemilik penis yang akan memuaskannya sebentar lagi itu saja kagum dengan kesehatan suaminya. “Papa perkasa banget deh”, pujinya. ” Mama juga uuuu sexy abissss, sini Ma nungging, kita maen belakang”.

Tubuh Tantri dibangunkan agar duduk dengan tangan bertumpu punggung sofa dan wajah mengarah ke kamarku. Ups aku jadi tiarap lagi. Padahal udah enak-enak duduk kayak nonton layar tancep, sekarang ngeliat sambil tiarap lagi.

Lagi seru-serunya nih permainan mereka, aku gak pengen keganggu ngintipnya. ” Oooooohhh”, Tantri menungging bertumpu sofa, Tanto hilang lagi dari radarku. Pasti dia melakukan oral lagi pada sahabatku dalam posisi itu.

” Ahhhhhhh”, Tantri menelungkupkan wajah pada tangannya. ” Masih gelii papahhh”,Dia menggeleng-geleng terlihat kegelian.

” Tenang ma kan ada lobang satunya, sama-sama enak kok he he he”.

Aku tak dapat melihat apa yang terjadi tapi terlihat Tantri kembali tenggelam dalam kenikmatan. tangannya sendiri digigitnya untuk meredakan rasa apa pun yang lahir akibat permainan oral di lubang satunnya. Apa ya lubang dimaksud??. Kumasukkan tanganku ke dalam celana, kuraba lubang vagina. Kalo yang ini kayaknya bukan. Tangan kumasukkan lebih dalam hingga tiba di daerah dubur. Apa lubang ini ya?? wah gimana rasanya kalo ini dirangsang?? apa enak juga??. Alex total banget menservice Tantri.

Rasanya lama Alex mengolah lubang itu sebelum akhirnya Tantri menjerit, ” ahhhh…aaahhhh…ahhhhhhh”, dia mendangak tinggi. Untuk kedua kalinya dia mengalami orgasme dahsyat. Tubuh Tantri melenting ke belakang sehingga payudaranya terlihat.

Meski teman satu rumah, aku tak pernah melihat Tantri telanjang sebelumnya. Baru kali ini aku melihat bentuk payudaranya yang montok dan demikian kencang. Payudara itu berubah berwarna kemerahan akibat terhantam orgasme. Puting susunya ikut-ikutan jadi merah dan kehilangan warna aslinya. Alex bangkit dari bawah sofa dengan sigap menggenggam leher Tantri yang sedang naik posisinya, kemudian melihat kebawah sebentar dan mengarahkan penisnya untuk menerobos lubang vagina.

” hagggghhh”, Tantri mendelik ketika vaginanya ditembus penis tegak.

Sexy sekali melihat dia mendapat penetrasi sambil dicekik ringan lehernya. Seakan tak percaya dengan serangan kilat Alex, kedua tangannya menggapai-gapai ke belakang untuk menemukan kepala suaminya. Kala ditemukan, dia jambak-jambak rambut Alex untuk menumpahkan rasa frustasi syahwati. Kami sebagai wanita gampang frustasi dalam hal seksual, gimana gak stress baru sebentar orgasme, tubuh sudah memberi sinyal lanjutan akan siap meledak kembali. Multi orgasme adalah anugerah dari Sang Pencipta kepada para wanita.

” Uuuugghhh…uuuggghh…uuggghhh”.

” Slleep..sllleppp..sleeeepppp”.

Bunyi tumbukan penis dengan vagina dan desahan mereka berdua menjadi irama tunggal di rumah ini. bagaimana ya rasanya mendapat penetrasi penis setegang punya Alex??. Membayangkannya saja sudah membuat vaginaku semakin banjir.

Sedari tadi entah sudah berapa kali aku ikut-ikutan mendapat orgasme akibat melihat tontonan nikmat gratis dengan pemain utama kedua pengantin baru sahabatku sendiri. Jangan salah, meskipun sekarang tengkurap, tanganku nyungsep ke balik celana sedari tadi mengecek ” lubang ” dan melakukan mastrubasi. Rupanya mengintip persetubuhan secara langsung lebih enak daripada nonton film porno.

” Aaaaagghhh…aaaagghhh”, jeritan Tantri semakin menjadi akibat tangan Alex yang satu hinggap di putting payudaranya dan memilin milinnya nakal.

” Sssssttt nanti Sinta bangun”, bisik Alex, tangannya yang sedari tadi memegang leher beralih untuk memasukkan jari ke mulut Tantri. Mendapat jari masuk mulutnya Tantri menghisapnya rakus untuk membungkam raungannya sendiri.

” Mmmm..mmmm…mmmm”, Tantri terbungkam.

” Sleeeepppp….slleeepp…sleeeeppp”,penetrasi ritmis terus Alex lakukan. Bukan hanya penisnya tegak perkasa, daya tahan staminanya untuk bersetebuh juga diatas rata-rata. Tantri begitu terhanyut dalam genjotan Alex. Matanya sulit terbuka dengan sadar. Aku bisa merasakan , apa yang dirasakan Tantri. Apalagi dengan penis dan stamina sebagus Alex wanita mana sih yang tidak kehilangan kewarasannya??.

Jari Alex dilepas dari mulut Tantri. Sedikit kasar Alex mendorong kepala Tantri agar rebah di penggung sofa. Dia tempel wajah Tantri dengan lengannya agar tak bisa kemana-mana, kemudian dia hujamkan penisnya dengan tusukan bertubi-tubi.

” Slleeepp…slleeppp…slllepepp”, lebih dari lima puluh tusukan menghujam membuat tantri kehilangan jeritan saking nikmatnya. Tangan Alex sekarang menarik rambut pendek Tantri kemudian dijambaknya sehingga sahabatku menjadi seperti kuda binal yang tengah ditunggangi oleh seorang joki perkasa.

” Hhhaaaaaa”, Tantri hanya bisa merem dengan mulut terbuka di begitukan. Alex terdengar berbisik-bisik di telinga Tantri tanpa melepas jambakannya. ” Pssstt…pssstt…mama mau dientot….”, kayaknya dia berkata jorok di telinga Tantri, langsung diabalas dengan anggukan dan penetrasi semakin tajam dan dalam.

” Uuuuuhhhh”, Tantri mendapat orgasme karena pengaruh bisikan kata-kata jorok di telingannya dan penetrasi tiada henti. Jambakan Alex luput karena rambut pendek memang sebenarnya susah buat dijambak. Tantri menggigit kulit sofa. Tak membiarkan Tantri istirahat, Alex kembali mencekik ringan lehernya dan membawanya kembali bangkit menjauhi sofa.

Kedua tangan Alex masuk ke sela lengan Tantri, kemudian mengangkatnya tinggi, setelah itu memiringkannya agar menghadap ke wajahnya.

” Aaaaaahhh ammmpuunnn papppaaaahhh”, Tantri menjerit tak tertahan kala lidah alex mnghantam ketiaknya nan begitu mulus sekali. Alex sepertinya hafal betul kesukaan Tantri, dia menggenjot penisnya untuk melakukan penetrasi kecepatan tinggi. ” pplleepp..pleeppp..plleepp..plleeeppp”. Mendapat bombardir di ketiak dan vagina Tantri lagi-lagi meledak.

” Hh………………aaahhhhhhhhh…..aaaahhhhhh”, dia lepaskan dirinya pada badai kenikmatan dengan pasrah tanpa perlawanan. Alex mempercepat jilatannya pada ketiak tantri. ” Uuuhhhhhh…uuhhhh….uuuhhhh”, tantri seperti mengeden membantu mengeluarkan cairan kenikmatan.

” Huuuhhhhhh”, tak lama kemudian, dia rebah bagai petinju KO di punggung sofa. Alex masih menancapkan penisnya tapi hanya ditusukkan saja tanpa penetrasi. ” Papa….uuuuuhhhh”, Tantri masih berusaha meredakan syarafnya.

” kamu binal sekali mama cuuupp”, dicumbu bahu Tantri sejenak dan dibantu untuk mendinginkan temperatur tubuhnya.

” papah perkasa banget deh…”.

” He he demi mama papa olahraga terus supaya bisa perkasa”.

” Pindah mainnya ke dalem yuk Pah, biar mama bebas berekspresinya”.

” Ayooo”, Alex mencabut penisnya dan menggendong Tantri dengan kedua tangannya masuk ke dalam kamar.

Ketika menggendong aku tak lepas menatap penis yang tetap mengacung meski sudah dibanjiri lender kemaluan Tantri. Aku jadi tergila-gila dengan penis laki-laki sehat macam dia.

Sekarang ruang utama kosong, mereka telah masuk kamar. Kukejar mereka ke kamar sambil mengendap-ngendap berharap pintu lupa ditutup. Harapanku terkabul. Keasyikan menggendong, Alex lupa menutup pintu.

Sejenak saja aku meninggalkan aksi panas mereka, posisi sudah berubah. Tantri kini sudah berada di atas suaminya ganti memberi sex oral. Tantri tak kalah total menservice sang suami. Meski masih belepotan lender vagina, penis Alex di hisapnya dengan antusias. Tak terlihat rasa jijik atau enggan dalam diri Tantri. Untuk menghargai sebuah seni persetubuhan mereka berdua membuang kata jijik jauh-jauh dan diganti dengan kata ” menginginkan”. Pasangan mana yang tak merasa dihargai bila bagian tubuhnya begitu diinginkan oleh suami atau istrinya.

Tantri mengkaraoke penis suaminya dengan buas. Lidahnya membasahi permukaan tombak mini itu dengan lidahnya sampai begitu basah, tanpa terlewat satu senti pun. Sehabis itu dicelupkan penis itu ke mulut dan mulai dihisap dalam-dalam. Pemandangan naik turunnya kepala Tantri dan berganti histerisnya Alex menjadi pemandangan erotis berikutnya.

Ada satu hal menarik yang kulihat dari celah pintu, yaitu teknik Tantri membasahi lubang anal suaminya dengan ludah dan mencoba memasukkan satu jarinya masuk ke dalam sambil tetap menghisap. Dia memberi double rangsangan sekaligus dengan menyerang alat kelamin sekaligus anal. Alex tadi begitu perkasa, sekarang rebah tak berdaya dipermainkan oleh istrinya.

Kepandaian Tantri rupanya tidak hanya dalam soal kerjaan. Untuk urusan ranjang dia tak kalah lihai. sebagai sesama wanita, kutangkap ketajaman feelingnya untuk memprediksi tingkat rangsangan yang diberikan. Berkali-kali Alex sudah membuka mulutnya mengatakan siap ejakulasi tapi tak keluar, karena Tantri menghentikan stimulasinya.

Tampaknya Tantri ingin bermain lama. Kaum laki-laki nafsunya doank kadang yang besar, tapi sekali croot beres. kami para wanita nafsu memang lambat naiknya, tapi kalo udah naik, susah turunnya.

” Uuhhhh mama”, Alex geleng-geleng kepala saat mengira Tantri menyudahi siksaannya dengan menghentikan oral. Tapi siksaan nikmat rupanya berlanjut lagi. Tantri mengangkangi suaminya dan memasukkan penis sexy itu ke dalam liang vagina. Sekarang kendali ada di pihak wanita. Woman on top yang dilakukan Tantri sangat berbeda dari yang biasa ditampilkan di film-fim blue.

Dia tidak main naik turun tapi menggunakan hatinya untuk merasakan daging hidup yang ada di vaginanya. Tantri dapat merasakan titik mana kelemahan suaminya yang akan memicu ejakulasi. Dia juga tau titik kuatnya dimana Alex akan dapat bertahan meski diulek sedemikian hebat.

Diserangnya Alex hanya di titik kuat sehingga dia dapat mempertahankan diri. Meskipun demikian Tantri tidak melupakan kenikmatannya sendiri. Sedari tadi tangannya sudah memegang kepalanya sendiri dan mengucek-uceknya sebagai penanda dia tengah menikmati momen ini.

Menyadari tidak diserang di titik lemah, Alex bangkit percaya dirinya dan berani melakukan rangsangan teratur di seluruh penjuru tubuh Tantri.

Payudara Tantri dikulum sesekali dan diremas berkali-kali membuat Tantri lupa diri. Tak sampai lima belas menit kuhitung sudah tiga kali lagi tantri orgasme dengan ekspresi tubuh yang indah. Bila meraih orgasme paha Tantri selalu merapat ke perut Alex dan dia menjerit-jerit.

” AHhhhhhhhhhh”, akhirnya orgasme keempat dalam 15 menit, juga berhasil diraih Tantri dan dia merebahkan diri di dada Alex. Mereka berdua banjir keringat dan nafas tersengal-sengal.

” Huhhh….hhuuhhhh…enak banget papah”.

” Huuhh huuh huuhh iya Ma, istirahat dulu ya! papah cape!”.

” eits papa hanya boleh istirahat kalo mama bilang boleh”.

” waaahh ampun mamaaaa”.

” Mmm mmm mmm”, tantri hendak turun lagi untuk memberikan oral. Bagaimanapun Alex belum ejakulasi dari tadi. Sepertinya Tantri sengaja supaya momen ejakulasi itu tak akan terlupakan.

” Bentar…benntar …bentar Mama…”.

” MMm…mmmm”, Tantri memiting suaminya dengan kuncian karate.

” Papa Cuma mau nutup pintu doank mama!”.

” Awas ya kabur!!”.

Waduuuhh gawat mendengar pintu disebut-sebut aku panik. Terlalu panik malah aku terpeleset jatuh hanya beberapa senti dari pintu. ” Duugg….duuuggg….dduuugggg”, jantung berdegup kencang, Alex melirik pintu sedetik saja , aku pasti ketahuan. kakiku tak sangup dibangkitkan karena kram saking tegangnya.

” Ayyyooo papa jangan kabur!! mama borgol nanti!!”.

” Iya-iya Ma..brreeggg”, terganggu dengan panggilan tantri, alex menutup pintu sekenanya tanpa memperhatikannya sehingga kehadiranku tak terlihat.

Pintu sudah ditutup, masih kucoba mengintip dari lubang kunci tapi tak ada pemandangan apapun yang terlihat.

” Ahhhh…papppaaahh…aaaahhhhhhh”. Bunyi desahan tantri dan raungan Alex masih bisa terdengar. Huhhhh, meski kecewa aku lega karena tak ketauan tadi. kakiku begitu mudah digerakkan kalo gak tegang. Rupanya orang kalo panik itu bisa buat gak bisa jalan ya??

Karena sudah tidak ada lagi yang bisa dilihat, aku tingggalkan pintu kamar dan melangkah ke meja makan. Daripada hanya dengerin desahan yang bikin pening, lebih baik aku makan saja.

Suara desahan pengantin baru di balik pintu membuat makanku jadi gak khusyuk. Biasanya aku makan lama dan menikmati, sekarang hanya sekenanya saja tanpa mempedulikan rasa. aku memutuskan untuk meminjam motor Tantri dan meng-smsnya bahwa motornya kubawa. aku ingin mencari angin sejenak. melihat persetubuhan mereka membuat darahku ikut panas dan harus didinginkan dengan hembusan angin malam.

Bersambung