Polwan S2 Part 12

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Tamat

Cerita Sex Dewasa Polwan S2 Part 12 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya : Cerita Sex Dewasa Polwan S2 Part 11

HARI KEENAM BAGIAN DUA

” THE 12TH MAN”.

” KITA SETIAP ANGGOTA POLISI WAJIB MENEGAKKAN HUKUM NAMUN HARUS TETAP MENJAGA HUBUNGAN BAIK DENGAN MASYARAKAT DENGAN DASAR KERENDAHAN HATI”.

Hakim Ketua

Tantri menungguiku bersiap di dalam sel dengan sabar. Dia tidak buru-buru. Sekilas dia hanya memberi gambaran situasi ruang sidang dengar pendapat yang akan kuhadapi. Dijelaskannya bahwa yang akan kuhadapi adalah bos-bos besar di Polda.

” Tapi gak usah khawatir Sinta! Sidang dilaksanakan tertutup kok, jadi kamu gak usah khawatir ada masyarakat yang nonton ataupun sorotan wartawan. Yang boleh nonton hanya anggota Polisi”.

” Tetep aja aku tegang banget nih Tri”.

” Wajar! tapi percayalah padaku dan cobalah untuk membuang rasa takutmu ya!”.

” Emang kamu udah siap Tri???”.

” Ini”, dia mengangkat setumpuk berkas berukuran tebal. ” semalam aku lembur nyiapin semua berkas yang kita butuhkan”.

” Tebel banget Tri. Apa aja isinya???”.

” Semua laporan dan berkas yang kita perlukan untuk menghadapi persidangan Sinta”.

” Boleh tau gak??”.

” Mmmm mmm enggakk”, dia menggeleng-geleng. Wanita cantik itu hanya menggeleng-gelengkan kepala aja anggun ya.

” Haaaaggggggggggggggggggggggghhhh”, sebal dengan sifatnya yang tertutup banget, kutinggal Tantri untuk mandi. Percuma menanyakan detail bukti-bukti persidangan kepadanya. Gak bakal dijawab.

Kutinggal dia ke kamar mandi dan kuguyur cepat tubuhku dengan air. Menungguiku mandi, Tantri tidak ongkang-ongkang kaki. Kuperhatikan dari jauh Tantri asyik membaca sejumlah file dengan begitu serius.

” Lagi baca apa Tri??”, tanyaku, masih berbalut handuk.

” Kemungkinan demi kemungkinan Sinta”, jawabnya tanpa melepas pandangan dari berkas.

” Kok ngomongin kemungkinan sih Tri???”.

” Iya Polres sudah mengirim semua bukti ke Polda dan mereka menutup rapat akses untuk membuka kembali bukti itu”.

” Hahhhhh apa kantor menganggap aku pembawa sial juga Tri??? hingga bukti-bukti juga mereka sembunyikan”.

” Entahlah Sinta, aku belum dapat membaca apa yang sebenarnya terjadi”.

” Siapa sih sebenarnya yang sedang kita hadapi Tri??”.

Tantri melirik tajam seakan tak percaya aku mengajukan pertanyaan itu. ” Resminya Dewan hakim pertimbangan Polda Sinta. Tapi siapa sebenarnya yang kita hadapi aku juga belum tau. Minimal sebagai awal yang baik, para bos berkenan mendengarkan bukti yang akan kita berikan. Siapa tau sehabis mendengar ini mereka berkenan melepaskanmu”.

” Amin Tantri Amin”.

Mata Tantri tetap melirik tajam ke arahku yang masih santai tanpa busana. ” Kamu kapan mau pake bajunya Sinta. Udah jam berapa ini??? jadi berangkat gak kita ke Polda??”, kata Tantri mulai hilang kesabaran.

” Siapp Tri tinggal pake baju doank kok”.

” CEPETAN!!! pake baju yang rapih! kesankan pada para Hakim meskipun mendekam ditahanan kamu tetap menjaga kerapihan!”.

” Aku tidak bawa baju apa-apa Tantri, hanya beberapa baju yang dibawakan junior kemarin. Satu-satunya baju resmi hanya safarinya Komandan Febi”.

” Tuh baju PDH-mu udah aku bawain!”, mata Tantri melirik ke sebuah bungkus baju yang tergantung di tembok sel. ” Tinggal digosok aja, sebentar aku cariin setrika biar kamu rapiin bajunya”.

Tantri keluar ruang tahanan. Dia meminjam sebuah setrika dari petugas yang berjaga.

” Nih setrikanya, cepet kamu gosok baju PDH itu!! 5 menit aku tunggu. Semua lencana dan tanda pangkat sudah kupasangkan!”.

” Ahhhh kamu jangan ngitung-ngitung aku kayak senior donk Tri”.

” Ha ha ya udah yang penting cepet. Soalnya kalo terlambat bisa-bisa gak jadi bebas kamu”.

” Iya-iya kan setrikanya juga nunggu panas dulu keles”.

Kuambil baju yang dibawakan Tantri untuk disetrika. Aku memperlakukan baju ini penuh penghormatan. Inilah simbol baju yang memiiki tugas melindungi masyarakat dan untuk meraihnya memerlukan perjuangan berat nan berceceran tetesan darah dan air mata.

Siapa sangka aku yang hanya memiliki kemampuan pas-pasan, diberikan amanat oleh Negara untuk bisa mengenakan baju ini. Pada sidang dengar pendapat, baju yang memiliki nilai historis dan membanggakan inilah yang akan mendampingiku.

Bagi seorang anggota Polwan yang telah terlatih hidup mendiri, menyetrika adalah makanan sehari-hari. Kami dituntut untuk berpenampilan serapi mungkin bila berada di luar ruangan. Untuk urusan setrika baju saja kami tidak boleh sembarangan. Hasil lipatan baju harus licin dan memiliki ” list ” garis yang tajam. Kerapihan dalam dan luar diri, kata kantor, dimaksudkan untuk memberi tauladan baik kepada masyarakat. Bagaimana kami mau memberi contoh bila bajunya saja tak rapih dan acak-acakan??. Jadi momen menyetrika menjadi begitu penting untuk kami sekaligus menuntut kesempurnaan yang tinggi.

Nah akhirnya setelah disetrika, baju ini siap membalut tubuhku dengan gagah dan rapih. Tanda pangkat yang menempel di bahu dan lencana di atas kantung baju mengembalikan statusku sebagai aparat Kepolisian. Selalu terharu aku bila memandang diri di depan cermin dengan mengenakan baju ini. Bukan hanya pengorbanan diri, tapi yang lebih besar adalah pengorbanan dan doa kedua orang tua yang selalu hadir menyertai setiap detik pengabdianku demi membela Negara dari gangguan keamanan dan ketertiban.

Setelah aku siap. Tantri memanggil Provost untuk membawa kami menuju Polda.

” Nguiiiinggg….ngguuuiiingg..nguuiiinggg”, sirine mobil Polisi yang meraung-raung menjadi awal perjuangan yang akan selalu dikenang dalam perjalanan hidupku dan Tantri.

Dia tidak semobil denganku. Tantri mengikuti di belakang menggunakan mobil kantor. Perjalanan kali ini begitu hambar karena gak ada yang mengajakku ngobrol. Kedua Polwan Provost tetap menghindariku dan memilih duduk di depan. Rasanya perasaan gemetar menjelang sidang semakin menjadi-jadi akibat kesendirian yang menyiksa ini.

” Nguiiingg….ngguiiingg….ngguuinngg”, mobil terus berjalan hingga 15 menit kemudian Pintu gerbang Polda mulai kurasakan akan segera kami masuki. Aku tak bisa melihat karena mobil ini tertutup , tapi aku bisa merasakan aura medan pertempuran telah tersaji.

” Siap Grak! Hormat Grak”, Petugas yang berjaga di pos depan terdengar memberikan penghormatan ketika mobil kami masuk.

Pemandangan ataupun irama yang penuh dengan kedisiplinan menjadi sebuah harapan akan lahirnya kebebasan. Mudah-mudahan saja kami berdua berhasil meyakinkan para Dewan Hakim di dalam sehingga aku bisa bebas.

Turun dari mobil. Terjadi serah terima petugas yang akan mengawalku. aku tetap dikawal tapi tidak lagi oleh Polwan wanita , kali ini oleh dua orang Polisi Provost laki-laki yang berbadan tinggi kekar. Bersama mereka aku dikawal ke ruangan sidang dengar pendapat.

Tantri setia mengikuti dari belakang sambil terus membolak-balik halaman berkas yang dia pegang. Sepertinya dia mulai pusing sendiri dengan berkas yang dipegangnya hingga menggaruk-garuk hidungnya tiada henti. Sebagai seorang teman yang hapal kebiasaannya aku tau Tantri hanya menggaruk hidung saat sedang suntuk dan berfikir keras.

Setibanya di ruang sidang kami diminta menunggu. Para Perwira Menengah yang akan bertindak selaku hakim persidangan belum tiba. Suasana ruang sidang begitu sunyi. Tapi beberapa kali kulihat anggota kepolisian yang bertugas di Polda, melongok ke dalam untuk melihat sosokku.

Tantri bilang masyarakat tidak boleh melihat, tapi para Polisi lain tetap boleh. Jadi aku tetap punya penonton. Apalagi statusku yang bolak-balik tampil di televisi menaikkan ratingku sehingga penonton pasti banyak. Membayangkan itu semua semakin membuatku grogi.

Ruang sidang ini relative tidak terlalu luas tapi menyimpan nilai kesakralan yang tinggi. Letak meja para Hakim berada di atas podium kecil dengan tiga kursi besar. Kursi yang berada di tengah berposisi lebih tinggi karena di sanalah Hakim Ketua beserta Asisten Hakim akan duduk. Lambang Negara yang menempel di atas dinding dilengkapi oleh foto pemimpin tertinggi Negara dan Kepolisian. Selain itu Bendera Lambang Negara dan Lambang Kepolisian yang terletak mengapit meja hakim menambah nuansa angker dan tidak main-main.

Aku dan Tantri duduk di bangku yang bila dijumlahkan cukup untuk lima orang. Kami duduk di tengah. Tantri tidak henti menggaruk hidung atau mengernyitkan dahi. Sedangkan aku terbengong-bengong melihat segala kemegahan ruang sidang ini. Sebagai pegawai dengan pangkat rendah mendapat kesempatan disidang disini adalah hal yang luar biasa.

Sebelah kanan dan kiri kami juga terdapat meja panjang yang memiliki tiga bangku. Disana tertulis sebuah papan nama yang menerangkan akan duduk para Dewan Hakim persidangan. Pada kedua meja itu telah diletakkan sejumlah berkas yang hampir pasti terkait dengan kasusku.

Dalam ruangan megah dan sakral ini, rupanya kamilah pasien yang pertama. Belum ada pergerakan apapun yang mengisyaratkan sebuah aktivitas. Provost Polisi berdiri di luar dengan sikap istirahat sempurna menunggui Para Perwira senior yang sebentar lagi akan tiba di lokasi.

” Gimana Bulan madumu Tri??”, aku bertanya berusaha meredakan ketegangan sekaligus mengalihkan perhatian Tantri dari kebingungannya.

Akhirnya diletakkannya juga berkas ditangan.

” Luar biasa Sinta”, jawabnya dengan senyum. Jelas dia tegang tapi pandai menyembunyikannya.

” Ceritain donk pengalaman bulan madunya! gimana malam pertamamu Tri??”.

” Hush kamu masih belum cukup umur he he”.

” Eeeeee awas ya nanti kalo gak mau cerita, kuintip kamu kalo lagi main sama Alex!”.

” Ha ha ha belum ilang hobi ngintipmu???”.

” Hiiiiiii Tantriiiiiiiiii “, gemas kurangkul dia dan kukelikitik lagi pinggangnya. Tantri tertawa lepas karena kukerjai. Yah mendengar tawanya setidaknya membangkitkan sepercik optimism di hati. Bicara soal keintiman antar sahabat, kami merupakan sebuah saksi hidup tentang nilai persahabatan sejati yang tak dapat dibeli dengan uang. Sebuah persahabatan yang begitu intim antara aku dan Tantri bersumber dari dalam hati, dan tidak bisa dijual kembali dengan harta seberapa banyak pun. Persahabatan hanyalah dapat dibangun dengan hati yang tulus.

Memiliki teman akan menentukan jati dirimu. Bergaul dengan orang baik akan menjadi baiklah kita. Sebaliknya Bergaul dengan teman yang kurang baik akan menjadikan kita jahat. Aku memiliki cita-cita menjadi orang pintar. Maka meskipun otak pas-pasan aku selalu berusaha mencari teman yang pintar. Siapa bilang tak ada gunanya bergaul sama orang pandai??. Kata Tantri aku makin cerdaas kok sekarang.

” Berapa orang Hakim yang akan kita hadapi Tri??”, kali ini pertanyaanku mengarah ke masalah serius.

” Biasanya Cuma tiga Sin”.

Tanganku menunjuk ke atas menghitung kursi. Tantri mengangguk.

” Brigadir Tantri”, Provost penjaga datang.

” Siap “, jawab Tantri.

” Anda diminta masuk ke dalam untuk menyerahkan berkas pembelaan”, perintahnya.

” Siap senior”.

” Tri” kupegang tangan Tantri sebelum dia beranjak.

” Apa???”.

” bisakah aku bebas???”.

” Hmmm aku tak tau. Sidang ini bagai pertandingan bola…….”, deg-degan aku mendengarnya karena komentar itu jadi mengingatkanku akan mimpi semalam saat Tantri menjadi pelatih bola.

” …………..Pasti banyak trik, kecurangan maupun kontroversi yang terjadi Sinta, tapi aku telah menyiapkan pemain ke dua belas dan ketiga belas…”, jawabannya semakin membuat deg-degan. ” Siapa tau mereka dapat mempengaruhi para hakim”, sambungnya.

” Apaaaa pemain kedua belas dan ketiga belassss???”.

” Kenapa kok syok begitu?????”, Tantri heran.

” Eeeeeee gakk kenapa-napa aku cuma terkejut kamu ngomong pake istilah sepak bola. Kamu jadi kayak pelatih bola jadinya Tri”.

” Iya aku kan pelatihmu sekarang “, jawabnya asal.

” APA PELATIHKU???”.

” SINTAAAAA apaan sih”, dicubitnya kedua pipiku gemas.

” Ssssooooryyy maaaf…maaaff. Kalo boleh tau apa pemain kedua belas dan ketiga belasmu Tri???”.

” BRIGADIR TANTRI “, Provost memanggil tak sabar. Tantri rupanya kelamaan bergerak karena meladeniku hingga harus ditegur oleh petugas.

” SIAP SENIOR”, Tantri mengedipkan matanya kemudian berlari pergi.

Sendirian lagi deh ujungnya. Kutunggu Tantri dalam kesunyian ruangan. Cukup lama Tantri pergi. Aku menyaksikan dari pintu yang terbuka , Para Perwira Menengah senior yang akan bertindak sebagai hakim persidangan telah datang, lengkap dengan segala gemerlapan pangkat, tanda jasa, dan penghormatan dari para Provost. Melihatnya makin membuatku gusar. Bagaimana caraku mengahadapi pertanyaan orang-orang besar dengan jabatan yang menjulang??. Merekalah penentu kebijakan yang menentukan nasib seorang anak buah.

Jangankan ditanya oleh mereka. Dalam keseharian kerja, kami yang berpangkat lebih rendah lebih memilih menghindar daripada bersua. Dunia kami, kata orang-orang, terlalu berbeda. Mereka pejabat top, orang-orang yang ditakdirkan pintar dan berkarier cemerlang. Sedangkan kami digariskan menjadi bawahan yang tugas intinya adalah disuruh-suruh dan mematuhi segala perintah.

Tantri mengajarkan sebuah pandangan yang berbeda. Dia selalu mengatakan bahwa pangkat itu hanya titipan. Jangan pandang seseorang dari pangkat tapi dari budi pekertinya. Tantri sangat hormat pada seorang atasan selama yang bersangkutan mematuhi kode etik berperilaku. Apabila sebaliknya yang terjadi, Dia tak segan untuk menghadapinya dengan keberanian.

” Takutlah hanya kepada Tuhan dan jangan gentar pada manusia sekuat apa pun dia”, itulah pesan Tantri yang selalu diulanginya saat menasihatiku.

” Huuuuaaaaaammm”, ada masalah gawat lain yang datang sekarang. Selain mental menciut, kesadaranku juga mulai terbang ditiup kantuk.

Dalam posisi duduk, kepalaku mulai jatuh bangun berusaha mempertahankan kesadaran. Mata mulai berat sekali untuk dibuka. Pikiran juga enggan untuk membantuku terjaga. Wah setengah mati deh rasanya berusaha untuk tetep sadar tapi tubuh menolak.

” HEEEEIIII ngantuk lagi!!”, Tantri menepuk bahuku. Untunglah dia muncul ngantukku jadi hilang.

” Yuk kita keluar dulu para Hakim akan segera masuk! kamu udah siap??”, tanyanya.

” Aku tegang Tri”, jawabku galau.

” Gak apa aku juga sama! kita lakukakan kayak jaman dulu di pendidikan aja oke!”, kata Tantri.

Kami berjalan keluar ruangan. Sesuai aturan keprotokoleran, yang harus masuk duluan adalah para Hakim, baru pihak yang melapor. Dengan langkah tegap, dan baju dinas bertebaran tanda jasa mereka memasuki ruangan. Setelah mereka menempati tempat duduk yang telah disediakan, barulah kami boleh masuk. Dua orang Provost mengapit kami dan membacakan aturan persidangan.

Akhirnya momen yang kami tunggu-tunggu itu pun datang, anggota Provost membawa kami masuk.

” MAJUU JALAN!!”, aba-aba langkah kami yang diatur dalam barisan.

” Draap…draaap….draaaapp…draaapp”, bunyi sepatu yang dilangkahkan dengan langkah tegap oleh kami berempat menjadi irama merdu yang menemani perjalanan.

Berjalan masuk menuju ruang sidang, langkah kakiku menjadi demikian berat. Tantri juga sama-sama mengeluarkan keringat dingin. Ternyata orang pintar bisa tegang juga ya. Perjalanan yang tak sampai 20 meter ini jadi begitu mendebarkan begini.

” Tri bagaimana caraku bertahan menghadapi serangan para Hakim di dalam??”, tanyaku dengan gemetar dan berbisik berusaha meredakan grogi.

” …………………..”.

” Tri jangan ngelamun”.

” Ehhh iya maaf. Mmm caranya; jangan biarkan sesuatu dari luar mempengaruhi kondisi hatimu! mungkin hanya itu satu-satunya cara”.

” APAAAA???? JANGAN BIARKAN APAAA????”, aku tidak tahan mengekspresikan keterkejutanku. Tantri di dalam mimpi mengucapkan hal yang sama dengan yang diucapkannya sekarang.

Pintu masuk sudah sejengkal lagi.

” BRIGADIR SIIIINNTTAAAAA”, Provost berhenti melangkah. ” SEKALI LAGI BERTERIAK SEPERTI ITU ANDA AKAN KAMI BAWA LAGI KE TAHANAN”.

” SIAP SENIOR”, berdua kami menjawab. ” TIDAK AKAN KAMI LAKUKAN LAGI”.

Tantri mencubit lenganku. ” Aku juga gugup kita sama-sama saling menenangkan ya !”, bisiknya.

” Pemain kedua belasmu apa Tri???”, tanyaku lirih. Pintu sudah kami lewati.

” Itu rahasia”, ujarnya tersenyum. Petugas Provost mengawal kami berbaris langkah tegap hingga tiba di depan kursi Dewan Hakim Polda.

Provost di samping kanan bertindak sebagai pimpinan barisan. Meskipun tertutup untuk umum jalannya persidangan, banyak anggota Polisi yang hadir di belakang untuk menonton. Bangku belakang penuh dengan aparat yang penasaran, sedangkan kursi di samping kanan dan kiri juga terisi penuh oleh dewan Hakim dari pejabat Polda. Rupanya karena kasus ini ramai di media memancing antusiasme mereka terhadap jalannya persidangan.

” HENTI GRAK…LURUSKAN!!!”, mengikuti aba-aba, kami berempat menghentikan langkah serempak kemudian melakukan gerakan setengah lengan lencang kanan. ” LURUS”, kami kembali ke sikap sempurna dengan kedua tangan lurus sejajar paha. Hakim ketua telah berdiri dari kursinya untuk menerima laporan. ” KEPADA HAKIM KETUA HORMAT GRAK!”, kami serempak hormat. penghormatan dibalas. ” TEGAK GRAKK”.

” LAPOR, BRIGADIR SINTA RACHMAWATI DAN BRIGADIR TANTRI WULANDARI SIAP MENGIKUTI SIDANG DENGAR PENDAPAT..”.

” LANJUTKAN”.

” LANJUTKAN”.

Kedua orang Provost balik kanan meninggalkan kami. Sekarang hanya tinggal kami berdua yang masih berdiri dengan sikap sempurna.

” SILAKAN DUDUK BRIGADIR SINTA DAN BRIGADIR TANTRI”, hakim ketua mempersilahkan. Di samping kanan dan kirinya asisten hakim mulai membuka berkas tebal yang telah terpampang di meja. Mereka telah siap sekarang.

” YANG SAYA HORMATI DEWAN HAKIM PERSIDANGAN DENGAR PENDAPAT , PARA HADIRIN YANG TURUT HADIR SERTA BRIGADIR SINTA DAN TANTRI SELAKU PEMOHON. SAYA KOMISARIS BESAR POLISI HARUN BERTINDAK SELAKU HAKIM KETUA PADA SIDANG KALI INI. DI SAMPING KANAN DAN KIRI SAYA AJUN KOMISARIS BESAR POLISI YAHYA DAN AKBP JOKO BERTINDAK SEBAGAI ASISTEN HAKIM…..

…….DI MEJA SEBELAH KANAN JUGA TURUT HADIR KOMISARIS POLISI EDUARD, KOMPOL JUAN, KOMPOL ERIK. SEDANGKAN DI MEJA KIRI TURUT HADIR KOMPOL NURSEHA, KOMPOL INDRI DAN KOMPOL ABIDIN SELAKU ANGGOTA DEWAN PERTIMBANGAN DAN PENEGAKAN KODE ETIK KEPOLISIAN…..

….PAGI INI KITA SAMA-SAMA HADIR DALAM KESEMPATAN BERBAHAGIA INI, UNTUK MENDENGARKAN PAPARAN DARI BRIGADIR TANTRI WULANDARI SELAKU PEMOHON YANG AKAN MENGAJUKAN PERMOHONAN PENINJAUAN KEMBALI TERHADAP PENAHANAN BRIGADIR SINTA RACHMAWAT SELAKU TERSANGKA. SAYA PERLU MENGINGATKAN MESKI BERNAMA SIDANG DENGAR PENDAPAT, PERSIDANGAN INI DAPAT MEMUTUSKAN SEBUAH PERKARA APABILA DIANGGAP CUKUP BUKTI DAN SAKSI. KEPUTUSAN HUKUM YANG DIKELUARKAN OLEH SIDANG INI ADALAH BERSIFAT MENGIKAT, TERTULIS DAN WAJIB DIIKUTI. UNTUK MEMPERSINGKAT WAKTU DENGAN INI SIDANG SAYA NYATAKAN RESMI DIBUKA BRAGG”, bunyi palu yang dipukul menjadi penanda mulainya sidang.

” KESEMPATAN PERTAMA KAMI BERIKAN KEPADA BRIGADIR TANTRI WULANDARI UNTUK MEMAPARKAN PERMOHONANNYA. WAKTU DAN TEMPAT KAMI PERSILAKAN!!”.

Tantri berdiri dan membuka berkas yang telah disiapkannya. Mik pengeras suara yang telah disiapkkan digenggamnya dan dia mulai berbicara;

” YANG MULIA PEMIMPIN SIDANG YANG TERHORMAT, PARA ASISTEN HAKIM, DEWAN PERTIMBANGAN, DAN HADIRIN YANG SAYA HORMATI. PERTAMA-TAMA SAYA MENGUCAPKAN TERIMA KASIH YANG SEBESAR-BESARNYA KARENA MAJELIS HAKIM YANG TERHORMAT TELAH MEMBERIKAN KESEMPATAN KEPADA KAMI UNTUK MENYAMPAIKAN KEBERATAN TERHADAP PENAHANAN BRIGADIR SINTA RACHMAWATI DAN MENGAJUKAN PENINJAUAN KEMBALI TERHADAP HUKUMAN PENAHANAN YANG TELAH DIBERIKAN….

….SELANJUTNYA PERKENANKANLAH SAYA BRIGADIR TANTRI WULANDARI, UNTUK MENYAMPAIKAN NOTA PEMBELAAN YANG MEMOHONKAN PEMBEBASAN KEPADA MAJELIS HAKIM YANG TEHORMAT TERHADAP TERSANGKA SINTA RACHMAWATI DENGAN ALASAN SEBAGAI BERIKUT ….

” …..PERTAMA…” , Tantri Memulai pembelaannya. ” ….PADA TANGGAL 3 JULI 2014 PUKUL 19.00 TERJADI PENEMBAKAN TERHADAP KOMISARIS POLISI BURHAN DI POLRES. FAKTA DI LAPANGAN MENUNJUKKAN ADALAH BENAR BRIGADIR SINTA MASIH BERADA DI LOKASI SAAT KEJADIAN. TAPI ALASAN PENANGKAPANNYA YANG TERTUANG DALAM SURAT PENANGKAPAN BAHWA ; BRIGADIR SINTA ” DIDUGA KUAT “, SENGAJA BERLAMA-LAMA BERADA DI KANTOR, UNTUK MENUNGGU KOSONGNYA RUANGAN KOMISARIS BURHAN, KEMUDIAN BERKONSPIRASI DENGAN TERSANGKA BRIGADIR TANTO, UNTUK MENYELUDUPKANNYA MASUK KE DALAM KANTOR HINGGA BERUJUNG TRAGEDI PENEMBAKAN ADALAH TIDAK BENAR……

……..KENAPA KAMI MENYANGKAL ALASAN PENANGKAPAN TERSEBUT, IALAH BERDASARKAN KESAKSIAN DARI ATASAN LANGSUNG BRIGADIR SINTA YAITU INSPEKTUR FEBI INDAH, YANG SAYANGNYA TIDAK DAPAT HADIR UNTUK MEMPERKUAT KETERANGAN KAMI DIKARENAKAN SEDANG TERTIMPA MUSIBAH, YANG MENYATAKAN DENGAN TEGAS BAHWA BRIGADIR SINTA TERLAMBAT DATANG KE KANTOR KARENA HARUS MENGANTARKAN PARA KORBAN DEMONSTRASI KE RUMAH SAKIT UMUM DAERAH. SURAT BUKTI TERTULIS YANG DI CAP DAN DITANDA TANGANI OLEH PIHAK RUMAH SAKIT TELAH DISERAHKAN OLEH INSPEKTUR FEBI PADA KESATUAN KAMI….”.

Mendengar paparan Tantri, membuatku tertunduk dengan sejuta pikiran. Sampai sejauh itukah pelaku sebenarnya dari kejahatan ini memfitnahku. Berkonspirasi menyelundupkan Tanto??? Menunggu ruangan Pak Burhan kosong, apa yang sebenarnya ada di benak para tukang fitnah itu???.

” ……..KEDUA TERKAIT MOTIF YANG JUGA DIKEMUKAKAN UNTUK MENANGKAP BRIGADIR SINTA RACHMAWATI ADALAH TIDAK BENAR. DI SURAT PENANGKAPAN DISEBUTKAN SOAL KEKERASAN YANG DILAKUKAN KOMISARIS BURHAN TERHADAP TERSANGKA DI RUMAH DINASNYA YANG MELATAR BELAKANGI TERJADINYA PENEMBAKAN. BERLATAR PERISTIWA TERSEBUT PACAR SINTA, YAITU BRIGADIR TANTO KEMUDIAN MENDATANGI KORBAN UNTUK MENUNTUT BALAS…..

……..DALAM WAWANCARA YANG DILAKUKAN INSPEKTUR FEBI KEPADA TETANGGA SEBELAH RUMAH TERSANGKA, YAITU BAPAK DIDIN SAPARUDIN, MENEGASKAN BAHWA YANG BELIAU DENGAR ADALAH BRIGADIR TANTO YANG MELAKUKAN KEKERASAN TERHADAP SINTA DAN BUKANNYA KOMISARIS BURHAN. SAYANGNYA SEJAK APEL PAGI KEESOKAN HARINYA TANGGAL 4 JULI 2014, INSPEKTUR FEBI TELAH BERUPAYA MENEMUKAN KEBERADAAN BAPAK DIDIN SAPARUDIN DAN TIDAK BERHASIL MENEMUKANNYA HINGGA HARI INI….

….MERUJUK PADA KESAKSIAN BAPAK DIDIN SAPARUDIN, ADALAH TIDAK MUNGKIN TERSANGKA MEMBANTU BRIGADIR TANTO SEDANGKAN DIRINYA SENDIRI YANG MENDAPAT KEKERASAN…

…KETIGA ; KAMI SEDIKIT BERKEBERATAN TERHADAP TERTUTUPNYA PENYIDIKAN YANG DILAKUKAN SELAMA INI . SAMPAI DENGAN KEMARIN SORE, INSPEKTUR FEBI BERUPAYA KERAS UNTUK MELIHAT BUKTI YANG DIAJUKAN KEPADA KEPOLISIAN DAERAH NAMUN SELALU MENEMUI KESULITAN UNTUK MENEMBUS BIROKRASI INTERNAL. PADAHAL UPAYA CEK AND RE-CHECK SANGATLAH DIPERLUKAN DEMI MELENGKAPI SEMUA ALAT BUKTI DAN MENGHINDARI SALAH TANGKAP SEPERTI YANG KAMI ANGGAP SEKARANG MENIMPA BRIGADRI SINTA RACHMAWATI……

…..DEMIKIANLAH NOTA PEMBELAAN YANG DAPAT KAMI SAMPAIKAN SEMOGA DEWAN HAKIM DAPAT MEMBERI KEPUTUSAN DENGAN SEADIL-ADILNYA. TERIMA KASIH”.

Tantri mengakhiri ” pledoinya ” dengan menghormat kepada Dewan pertimbangan dan kembali duduk di sampingku. Meski terlihat tegang sekali, pemaparannya tadi sangat bagus dan meyakinkan.

” Mereka menuduhku seperti itu Tri????”, aku berbisik kepadanya tetap syok dengan semua tuduhan yang dipaparkan Tantri tadi. Kok bisa semuanya diputar balikkan seperti ini. Siapa dia yang begitu tega membolak-balik laporan hingga masalah ini jadi menghantamku balik.

” ………………………”, Tantri hanya mengangguk.

” Triii….”, aku menuntut penjelasan lebih panjang.

” SSsssssstttt”, Tantri menutupkan jari di depan mulutnya sebagai isyarat memintaku agar diam.

” TERIMA KASIH BRIGADIR TANTRI. DEWAN HAKIM YANG TERHORMAT…….”.

” INTRUPSI PAK HAKIM!”, dari meja sebelah kanan anggota majelis hakim, Komisaris Eduard berdiri menyela”.

” PAK EDUARD DITAHAN DULU INTRUPSINYA HINGGA SAYA SELESAI”, Pak Hakim menegor sikap buru-burunya. ” SAYA ULANGI, DEWAN HAKIM YANG TERHORMAT TELAH KITA SAMA-SAMA SIMAK PEMAPARAN DARI BRIGADIR TANTRI WULANDARI. SEKARANG GILIRAN MAJELIS HAKIM UNTUK MENANGGAPINYA, DIMULAI DARI ASISTEN HAKIM, ADA YANG MAU BERTANYA KEPADA BRIGADIR TANTRI ATAUPUN BRIGADIR SINTA???”.

Para Asisten hakim tampak menggeleng.

” KALO BEGITU SAYA DULU YANG BERTANYA”, kata pimpinan sidang.

” BRIGADIR TANTRI BAGAIMANA KONDISI INSPEKTUR FEBI INDAH???”.

” SIAP KONDISI BELIAU SEMALAM MEMBAIK YANG MULIA, TIM DOKTER BERHASIL MENYELAMATKANNYA”.

” SYUKURLAH”.

” SELANJUTNYA PERTANYAAN UNTUK BRIGADIR SINTA RACHMAWATI. SAUDARI SEHAT HARI INI??”, tanyanya ramah.

” SIAP SEHAT YANG MULIA”.

” KAMI MENGUCAPKAN TERIMA KASIH SEBELUMNYA KEPADA SAUDARI YANG TELAH MEMBANGGAKAN KEPOLISIAN DENGAN MEMBEKUK KAWANAN PERAMPOK MOBIL DUA HARI YANG LALU. TINDAKAN SAUDARI MEMBANGGAKAN INSTITUSI KITA”.

” SIAP YANG MULIA”, aku jadi terharu dengan ucapan Pak Hakim.

” PERTANYAAN SAYA ADALAH SIAPA SEBENARNYA YANG MENGANIYAYA SAUDARI??BRIGADIR TANTO ATAU KOMISARIS BURHAN?”, tanyanya.

” EEEEEEEEEEEEEE”, aku gugup.

Tantri mencubit pahaku.

” Auuuuu sakitt Tri”, bisikku.

” Jawab tegas, benar dan jangan gugup!!”.

” iya..iyaaa”, bisikku.

” SIAP BRIGADIR TANTO YANG MULIA”.

” Haahhhhhhhhhh”, suara para hadirin yang duduk dibelakang.

” SAUDARI MELAKUKAN VISUM SETELAH KEJADIAN??”.

” SIAP TIDAK YANG MULIA”, jawabku tertunduk.

” ADA SAKSI YANG PERNAH MELIHAT BEKAS LUKA SAUDARI???”.

” SIAP ADA YANG MULIA”.

” SIAPA??”.

” KOMANDAN FEBI YANG MULIA”.

” LAIN KALI KALO SAUDARI MENGALAMI KEKERASAN SEGERA LAPORKAN KEPADA ATASAN SAUDARI YA JANGAN RAGU-RAGU!”, Pak Harun memerintahkan. ” DAN YANG TERPENTING, JANGAN MENUNDA-NUNDA VISUM!!”, tegasnya.

” SIAP YANG MULIA”.

” BAIKLAH KARENA BUKTI DAN SAKSI DARI SAUDARI MASIH BELUM ADA, SAYA BERIKAN DULU KESEMPATAN PADA KOMISARIS EDUARD UNTUK MENYAMPAIKAN INTRUPSINYA. SAYA HARUS INGATKAN KEPADA SAUDARA EDUARD UNTUK MENJAGA SOPAN SANTUN SELAMA MENYAMPAIKAN INTRUPSI!!”, liriknya pada Pak Eduard.

” Siap Yang Mulia”, Pak Eduard terlihat malu.

” SILAKAN KOMISARIS MENYAMPAIKAN INTRUPSINYA!”.

Sekarang para peserta dan dewan hakim mengarahkan perhatiannya pada Komisaris Eduard.

” Terima kasih Yang Mulia”, karena habis ditegor hakim suaranya pelan saja dan tidak lantang.

” Setelah saya pelajari dan dengarkan paparan Brigadir Tantri tadi maka saya dapat mengusulkan kepada Sidang Yang terhormat agar ; MENGABAIKAN SAJA KETERANGAN MEREKA. Paparan tadi TAK BERDASAR….

…. Brigadir Tantri baru saja pulang bulan madu Yang Mulia!. Dia BELUM MEMBACA laporan dari kesatuannya bertugas. Laporannya terlalu subyektif, hanya membela teman satu rumahnya saja. Kita buang-buang waktu mengadakan sidang dengar pendapat ini Yang Mulia. Sebagai seorang Polisi, Brigadir Tantri harusnya MALU , berani-beraninya maju ke sini TANPA MEMBACA laporan tertulis”, serangan dari Pak Eduard sangat menohok kami. Kulirik Tantri dia pun tampak terpukul.

” SAUDARA EDUARD SAYA MINTA ANDA UNTUK TETAP MENGHORMATI KEDUA ANAK KITA INI”, Pak hakim mengingatkan lagi. ” NADA KETERANGAN SAUDARA TERLALU TENDENSIUS. COBA PAPARKAN BUKTI YANG SAUDARA MAKSUDKAN!”, Yang Mulia Hakim pemimpin sidang berusaha menjaga asas keadilan.

” Baiklah Yang Mulia saya akan paparkan!” Pejabat Polisi yang bernama Eduard itu kamudian berdiri sambil membacakan bantahannya. ” Yang Mulia, alasan pertama adalah ; gak ada itu yang namanya Sinta ke rumah sakit sehabis dari mengawal demonstrasi. Brigadir Tantri sangat NGAWUR ketika mengatakan ada bukti surat keterangan dari rumah sakit. Faktanya sama sekali TIDAK ADA surat apapun yang tercantum dalam laporan Polres yang menyebut soal itu Yang Mulia….

….KEDUA, kesaksian saudara Didin Saparudin yang tertulis di laporan adalah yang bersangkutan melihat Komisaris Burhan masuk ke dalam rumah dinas Sinta. Selanjutnya, tertulis di laporan yang dicap dan ditandatangan, Saudara Didin mendengar raungan Brigadir Sinta dari dalam rumah . Artinya Tantri kembali TIDAK AKURAT ketika menjelaskan hal yang sebaliknya. Saya perlu ingatkan kepada Yang Mulia pemimpin sidang bahwa Brigadir Tantri baru saja pulang dari bulan madu. JELAS DIA TIDAK MEMBACA LAPORAN APAPUN yang ditulis oleh Polres tempatnya bertugas”.

” KETIGA, Kekerasan yang dilakukan oleh Komisaris Burhan terhadap Sinta di rumah dinasnya itulah yang menjadi motif utama dia MEMBANTU TANTO PACARNYA UNTUK MENUNTUT BALAS!!”, keras ucapan Beliau membuatku rasanya tercekik. penonton juga tampak terkejut mendengar paparan fakta yang dipaparkan. Dia menelanjangiku dan Tantri dihadapan orang banyak.

Bergetar seluruh badanku dalam emosi.

” Yang Mulia saya minta SEGERA HENTIKAN SIDANG INI!!! Kedua orang ini jelas-jelas mempermalukan kita”, teriak Eduard yang disambut gemuruh penonton.

” HARAP TENANG PARA HADIRIN”, Yang Mulia mengambil alih. ” SAUDARA EDUARD JAGA TATA BAHASA YANG ANDA GUNAKAN DI PERSIDANGAN INI”.

” SIAP YANG MULIA”.

” BRIGADIR TANTRI, MENANGGAPI PAK EDUARD TADI, BENARKAH ANDA SUBJEKTIF DALAM MEMBELA SAUDARI SINTA???”, yang mulia bertanya pada Tantri.

” SIAP TIDAK YANG MULIA”.

” BUKTIKAN!”.

” SIAP DIBELAKANG KAMI ADA BAPAK JOKO ANGGOTA ANTI HURU HARA YANG BERJASA MEREDAKAN KERUSUHAN NAPI SEMALAM”, Tantri menunjukkan tangannya pada Pak Joko anggota PHH yang turut hadir. Ditunjuk oleh Tantri ,Pak Joko seketika berdiri dengan sikap sempurna. ” SIAP YANG MULIA”, ujarnya berdiri.

” YANG MULIA DAPAT MENANYAKAN PADA BELIAU APA YANG SAYA LAKUKAN SEMALAM DI SEL TAHANAN PADA BRIGADIR SINTA”, pinta Tantri pada Hakim ketua.

” CERITAKAN PADA KAMI PAK JOKO!”.

” SIAP, BRIGADIR TANTRI, MANAMPAR SAHABATNYA SENDIRI DEMIKIAN KERAS YANG MULIA”.

Penonton tampak tak percaya. Para hakim juga tampak susah mempercayai hal itu.

” BERAPA KALI PAK JOKO??”, yang mulia kembali bertanya. ” SEBENTAR SEBELUM DIJAWAB!!”, beliau mengalihkan pandangan pada perwira yang paling keras mengkritik kami. ” KOMISARIS EDUARD TAMPAKNYA TUDINGAN ANDA TENTANG SUBJEKTIFITAS BRIGADIR TANTRI TIDAK BERALASAN”, Pak Harun menatap pak Eduard. Yang ditatap mengalihkan pandangannya tidak berani menatap atasannya.

Kulirik lagi Tantri, rupanya ini alasan dia menamparku demikian keras. Dia tidak melakukan itu tanpa alasan. Untuk melindungi sahabatnya sendiri dia rela melakukan suatu hal yang menyakitkan tapi punya dampak ke depan yang baik. Eh sedang melihat apa sih Tantri?? dari tadi dia bengong dan hanya melihat ke arah meja sebelah kanan yang diduduki dua orang perwira wanita. Tampaknya dia menatap ke arah Komisarsis Nurseha yang duduk di ujung kanan.

Kenapa dia melihat ke Ibu Nurseha. Diantara semuanya dia yang paling tenang. Dari gerak geriknya saja sama sekali tidak terlihat dia akan menyerangku dengan pertanyaan.

” Tri ssstt!”, aku memanggilnya.

” …………………………………”, Tantri masih bengong.

” Triii”, kucubit pahanya.

” aauauuuu”, dia mendelik. ” saakkkiiiittt Sinnntaaaa”, dia mencubit balik.

” Ngeliatin apa sih??”.

” gak ngeliat apa-apa”, tantri mencueki aku lagi dan melanjutkan melihat peristiwa yang terjadi di depannya.

” SILAKAN DIJAWAB PAK JOKO!”.

” SAYA TIDAK HAPAL PERSISNYA, TAPI BRIGADIR SINTA DITAMPAR HINGGA JATUH PINGSAN YANG MULIA”. Pak Hakim bengong mendengarnya. ” SILAKAN DUDUK PAK JOKO!”.

” PARA DEWAN HAKIM, ADA YANG MAU MENANGGAPI LEBIH LANJUT PERKEMBANGAN KASUS INI SETELAH MENDENGAR KESAKSIAN PAK JOKO??”, yang mulia melempar kesempatan.

” Mohon ijin Yang Mulia, Komisaris Nurseha ijin menanggapi”, akhirnya perwira yang sedari tadi dilirik Tantri unjuk gigi. Apa ya peran Polwan senior ini sehingga Tantri begitu serius menatapnya.

” Menurut Hemat kami, pandangan Komisaris Eduard perihal kedekatan personal antara kedua anggota kita ini tidak terbukti. Apabila kita mau meng-cross check keterangan dengan setiap personel yang hadir di malam kemarin, pasti kita akan temui pandangan yang sama dengan keterangan Pak Joko…..

…..Permasalahannya adalah; kita sekarang berada pada JALAN BUNTU. Pendapat Pak EDUARD mengenai bukti tertulis adalah benar, yaitu bukti mengatakan hal yang sebaliknya dengan keterangan Brigadir Tantri. Kita dapat baca bersama bahwa laporan dari Polres telah lengkap dan jelas. Dilain pihak atas nama keadilan, kita pun wajib mempertimbangkan kesaksian Brigadir Tantri, apalagi beliau menyebut saksi yang dapat memberikan kesaksian berlawanan dengan bunyi laporan….

….Masalahnya keberadaan saksi yang disebutkan tadi tidak memungkinkan menghadiri persidangan ini. Inspektur Febi Indah tertimpa musibah, sedangkan Pak Didin saparudin dalam status pencarian orang. Selama persidangan ini tak mampu menghadirkan mereka, kita tidak mampu mengambil keputusan apa pun yang mulia. Sekian pendapat saya terima kasih atas kesempatan yang diberikan”.

Itu doank komentar beliau?? lantas apa hebatnya kesaksian Bu Nurseha??. Sebagai saksi kukira dia akan meringankanku. Rupanya dia malah menyampaikan pendapat yang tanpa solusi . Kuperhatikan Tantri dia masih memandang Bu Nurseha dengan begitu lekat.

” PENDAPAT BU NURSEHA TEPAT”, yang mulia kembali mengambil pengeras suara. ” TANTRI DAN SINTA TANPA SAKSI, PERSIDANGAN INI TAK MAMPU MEMBERIKAN KEPUTUSAN. APAKAH ADA YANG HENDAK KALIAN SAMPAIKAN LAGI?? BILA TIDAK ADA PERSIDANGAN AKAN DI PENDING HINGGA SAKSI DAPAT DIHADIRKAN DI PERSIDANGAN”.

Saat aku telah pasrah untuk masuk penjara lagi akibat sidang akan dipending, sayup-sayup terdengar suara pengeras suara yang bersahut-sahutan dari arah halaman kantor Polda.

. ” KAMI PARA PEDAGANG KECIL MEMINTA BRIGADIR SINTA DIBEBASKAN DARI SEGALA TUDUHAN. APABILA ASPIRASI KAMI TIDAK DITANGGAPI KAMI SIAP BERMALAM DAN MOGOK MAKAN DI DEPAN KANTOR POLDA”, sebuah suara terdengar.

” BEBASKAN IBU SINTA!!!”.

” BELIAU PAHLAWAN KAMI TAK MUNGKIN MELAKUKAN APA YANG DITUDUHKAN”.

” KAMI AKAN MEMBANGUN TENDA DISINI SAMPAI PEJABAT YANG BERWENANG DISINI MENERIMA KAMI UNTUK MENYAMPAIKAN ASPIRASI”.

” KAMI SIAP MATI UNTUK IBU SINTA….HIDUP IBU SINTAA…..HIDUP IBU SINTAA”.

” TEMAN-TEMAN SIAP BERJUANG UNTUK IBU SINTA????? SIAAAAAPPPPPPPPP”, teriakan bersahut-sahutan terus terdengar menghebohkan ruang sidang. Para Polisi yang semula menonton sidag beranjak sigap untuk melihat apa yang terjadi.

Para hakim tampak ingin tau dengan apa yang terjadi di luar.

” PROVOST KESINI!!”, yang mulia memanggil anggota provost yang menjaga di pintu. Anggota yang dipanggil berlari sigap. ” Cek demo apa itu diluar!”, perintahnya. ” Segera laporkan kembali “, lanjutnya. ” Siap Komandan”, anggota Provost berlari keluar ruangan.

Di dalam ruangan majelis hakim masih saling bertukar pendapat. Tampaknya mereka sama sekali tidak menyangka akan terjadi demo dalam kasus yang sekecil ini.. Mendengar namaku disebut-sebut mereka seakan tidak percaya demo tersebut ditujukan untuk seorang anggota Polisi. Tantri tampak tenang menghadapi perubahan situasi. Kejeniusannya kembali hadir, dengan kemampuan analisis dan pemahamannya yang cepat, dia dapat mencari solusi, yang meskipun ” nyentrik ” tapi tepat sasaran.

Provost yang disuruh tadi telah kembali. Dia berlari ke arah yang mulia sambil membawa secarik kertas. Diserahkannya selembar kertas itu kemudian mereka berdua berbisik sesaat. Provost mengarahkan telunjuknya ke arahku sambil berbisik. Yang mulia mengangguk-angguk mencerna berita yang diterima.

” Baiklah”, yang mulia memerintahkan Provost kembali ke tempat. ” AKBP Yahya”, beliau berbicara kepada asisten hakim. ” Tolong diterima dengan baik para pendemo di depan dengarkan aspirasinya”, perintah beliau. ” Siap Yang Mulia”, jawab Pak Yahya.

” Sinta”, Pak Harun menutup pengeras suaranya dengan tangan. ” Kamu kesayangan para pedagang kecil lho! mereka siap mati buat kamu”, ujarnya ramah dengan pandangan mata yang begitu dewasa.

” Siiaapp Yang Muliaa”, aku malu sendiri jadinya.

” KITA MULAI LAGI PARA DEWAN HAKIM”, beliau melepas tangannya dari mik, dan sidang pun dimulai kembali. ” DI LUAR SEDANG BERLANGSUNG UNJUK RASA DARI PARA PEDAGANG YANG MERUPAKAN MASA YANG SIMPATIK PADA DEDIKASI KINERJA BRIGADIR SINTA SELAMA INI”. Dipuji di depan para Bos besar aku semakin malu dan hanya bisa tertunduk. ” KINERJA BELIAU LAYAK KITA APRESIASI BERSAMA. BEGINILAH SEHARUSNYA KINERJA SETIAP ANGGOTA KEPOLISIAN YANG MEMILIKI TUGAS SEBAGAI PELINDUNG MASYARAKAT. KITA SETIAP ANGGOTA POLISI WAJIB MENEGAKKAN HUKUM NAMUN HARUS TETAP MENJAGA HUBUNGAN BAIK DENGAN MASYARAKAT DENGAN DASAR KERENDAHAN HATI. KEDEKATAN ANGGOTA POLISI DENGAN MASYARAKATLAH YANG AKAN MEMBUAT HUKUM TEGAK BERDIRI DI NEGARA KITA TERCINTA…..

………..KREDIT POIN LAYAK KITA BERIKAN PADA BRIGADIR SINTA. TAPI TENTU KITA SAMA-SAMA PAHAM BAHWA APA YANG TERJADI DI LUAR TAK DAPAT MEMPENGARUHI JALANNYA PERSIDANGAN. KITA MEMERLUKAN BUKTI DAN SAKSI YANG KEDUANYA TIDAK KITA MILIKI SEKARANG. SEKALI LAGI SAYA AKAN BERIKAN KESEMPATAN KEPADA DUA ANAK KITA DI DEPAN, APAKAH MASIH ADA YANG HENDAK DISAMPAIKAN? BILA TIDAK PERSIDANGAN AKAN KITA PENDING”, yang mulia melempar kesempatan terakhir.

Tantri yang sedari tadi tak henti melirik Ibu Nurseha akhirnya bangkit dari duduknya. ” Terima kasih banyak Yang Mulia, kalo diijinkan, kami memiliki satu surat yang akan diajukan ke hadapan dewan persidangan yang terhormat”.

” Silakan bawa suratnya ke depan Brigadir”, jawab yang mulia kembali menutup pengeras suara.

Tantri maju memberikan secarik kertas kehadapan yang mulia. Agak samar gerakan Tantri, tapi aku bisa membacanya, dia memberi tanda pada yang mulia tentang posisi duduk Bu Nurseha.

Setelah menerima surat yang mulia tampak kaget, mengernyitkan dahi, sekaligus terlihat gembira. Dia berbisik seru dengan Tantri di mejanya. ” Asisten Hakim silakan dilihat surat ini”, pintanya kepada asisten hakim disebelahnya. ” Hahhh…”, asisten hakim mengernyitkan dahi. Surat apa sebenarnya yang dibawa Tantri aku juga tidak tau.

” BRIGADIR TANTRI SILAKAN DUDUK! IBU KOMISARIS NURSEHA SILAKAN MAJU KE DEPAN”, yang mulia memerintahkan.

” Siap Yang Mulia”, ibu Nurseha tampak terkejut dan maju ke depan.

Akhirnya teka teki terakhir akan segera terkuak. Apa sebenarnya peran ibu ini untuk Tantri.

” Ibu Nurseha coba liat surat ini!”, perintah ketua sidang pada beliau. Diperiksanga surat itu secara seksama, kemudian beliau memeriksa lagi, setelah itu mengangguk dan mengembalikan surat tersebut di meja hakim. ” Betul ini tulisan beliau??”, tanya yang mulia. ” Betul yang mulia”, jawabnya. ” SAUDARA YAKIN”, tekan yang mulia. ” SIAP YAKIN”.

” PARA ANGGOTA SIDANG, TERJADI PERKEMBANGAN YANG CUKUP MENARIK. KOMISARIS NURSEHA AKAN MEMBACAKAN SECARIK KERTAS YANG TADI DIBAWA OLEH BRIGADIR TANTRI. SILAKAN BU NURSEHA UNTUK MEMBACAKAN”.

” Baik Pak Hakim ketua, asisten hakim, para anggota dewan hakim dan hadirin persidangan yang saya hormati. Seijin pimpinan sidang saya akan membacakan surat ini.

KEPADA YTH, DEWAN PERTIMBANGAN KEPOLISIAN DAERAH

SAYA YANG BERTANDA TANGAN DI BAWAH INI, MEMOHON PADA MAJELIS HAKIM YANG TERHORMAT UNTUK MEMBEBASKAN BRIGADIR SINTA DARI SEGALA TUDUHAN.

ALASAN AKAN SAYA SAMPAIKAN SEGERA.

HORMAT KAMI,

KOMISARIS POLISI BURHAN.

Para anggota sidang tampak sangat terkejut bahkan ada yang syok ketika mendengar surat itu dibacakan. Mereka nyaris tak percaya Pak Burhan masih hidup dan bisa menulis sebuah surat.

” Kapan anda bertemu Komisaris Burhan Brigadir Tantri???”, pemimpin sidang bertanya.

” Siap kemarin sore yang mulia”.

” Beliau sudah sehat???”, tanyanya penasaran.

” Belum sepenuhnya yang mulia. Akan tetapi ketika kami menceritakan masalah yang menimpa Brigadir Sinta, beliau segera minta untuk dibikinkan surat ini yang merupakan surat pertama beliau pasca tertembak”.

” Dalam surat ini Komisaris Burhan meminta membebaskan…….”, yang mulia bicara.

” INTERUPSI YANG MULIA, PERSIDANGAN INI TIDAK MUNGKIN MEMPERCAYAI SELEMBAR SURAT”, Pak Eduard meledak, nada bicaranya tinggi. ” TAU DARI MANA KITA KALO SURAT ITU OTENTIK??? JANGAN-JANGAN BIKINANNYA TANTRI SAJA”, dia menuding kami.

” KOMISARIS EDUARD”, ibu Nurseha memotong interupsinya dan mendahului hakim ketua. ” SAYA TEMAN SATU ANGKATAN KOMISARIS BURHAN, SEKALIGUS TEMAN DEKATNYA. SUDAH PULUHAN TAHUN SAYA BERGAUL DENGANNYA, DAN HAPAL PERSIS TULISANNYA. SURAT INI”, diangkatnya surat kepada Pak Eduard. ” OTENTIK! SAYA SAKSINYA”.

” TAPI APAKAH…..”, Pak Eduard belum legowo.

” KOMISARIS EDUARD SEKALI LAGI ANDA BERSIKAP MENGHINA PERSIDANGAN, SAYA AKAN PERINTAHKAN PROVOST MENGUSIR SAUDARA!”, yang mulia hakim memotong interupsinya.

” SIDANG INI PUNYA KODE ETIK DAN SAYA WAJIBKAN SEMUA ANGGOTA HAKIM MEMATUHINYA! ASAS PRADUGA TAK BERSALAH HARUS TETAP MENJADI YANG UTAMA. TUDINGAN KEPADA SESEORANG ATAS DASAR PRASANGKA TIDAK BOLEH ADA DI RUANGAN INI!!!, pak Hakim lantang bersuara. Pak Eduard tertunduk malu.

” TANTRI APA LAGI YANG DIKATAKAN KOMISARIS BURHAN??”, pak hakim bertanya pada sahabatku.

” Mohon ijin yang mulia, Beliau memohon agar Brigadir Sinta dibebaskan dari segala tuduhan karena tidak bersalah. Selanjutnya Komisarsi Burhan siap bertatap muka dengan para dewan penasihat, untuk menjelaskan pelaku sebenarnya”.

Pak Harun mengangguk sejenak, kemudian menutup pengeras suara dengan tangannya, berdiskusi dengan asisten hakim, kemudian kembali berbicara di pengeras suara.

” ANGGOTA DEWAN HAKIM YANG TERHORMAT. BURHAN ADALAH ANAK BUAH SAYA SEJAK PERTAMA KALI BERTUGAS. UNTUK URUSAN KERJA DIA TIDAK PERNAH BOHONG. BILA DIA BERANI BERBOHONG SAYA YANG TANGGUNG JAWAB. UNTUK MENDISKUSIKAN SURAT INI, SIDANG AKAN DI SKORS TIGA PULUH MENIT. ANGGOTA DEWAN HAKIM HARAP SEGERA BERKUMPUL DI AULA. SIDANG DI SKORS!!! BRAGGG”, bunyi palu diketuk.

Kedua Provost di pintu kembali masuk ke ruangan untuk memberi aba-aba sikap sempurna sebelum para Dewan hakim meninggalkan ruang sidang.

” SIAP GRAK!”

” HORMAT GRAK”, Pimpinan sidang memberi penghormatan kemudian meninggalkan ruangan.

” ISTIRAHAT DI TEMPAT GRAK. Silakan kalian duduk disini saja Brigadir!”, arahan dari anggota Provost.

” SIAP”, jawab kami berdua bersamaan.

” Hufffffffffffff”, kami berdua sama-sama mengambil nafas panjang. Sidang hari ini rasanya begitu mendebarkan. Kukejar Tantri untuk menjelaskan segalanya. Sesuai janji diapun bercerita. Selama berbulan madu dia mulai mendapat laporan mengenai kejadian yang menimpaku. Hal terbesar yang sampai di telinganya adalah tertembaknya Komisaris Burhan.

Setelah mendengar kabar tersebut, Tantri mengontak informan dalam untuk mendengar perkembangan situasi. Beberapa kali Inspektur Febi mengontaknya yang menjelaskan kecurigaannya terhadap perkembangan kasus ini. Keanehan pengumpulan bukti-bukti, serta mulai menghilangnya saksi kunci, membuat Febi sangat khawatir.

Dari beliau pulalah Tantri mendengar perihal para pedagang sangat menyayangiku. Sejak tiba di kota pagi hari, Tantri menghubungi pak Tukang bubur langganan dan memberi kabar kondisiku. Tantri tak perlu menyuruh mereka berdemo. rasa sayang mereka yang besar kepadaku membuat mereka bergerak cepat untuk mengumpulkan para pedagang kecil dan merencanakan aksi masa hari ini.

Demo mereka, katanya adalah murni dan bukan demo abal-abal yang marak sekarang. Para pedagang itu sangat mengagumiku sehingga siap mengorbankan apa pun untuk menyelamatkanku.

” Kalo Komandan Burhan bagaimana Tri?? Beliau sudah sehat sekarang???”, tanyaku.

” Beliau semakin membaik Sinta. Febi segera menemui Beliau untuk mohon petunjuk setelah dia diserang oleh Tanto di rumah dinas. Kondisinya belum kuat pada waktu itu. tapi Febi berusaha untuk menuliskan secarik kertas dan meminta pada perawat untuk membacakannya pada Komandan apabila beliau bangun.

Tuhan memang menyayangi kamu Sinta, sore hari sebelum Febi tertusuk, Pak Burhan sadar dan memanggil kami berdua. Disanalah dia menulis surat, serta memerintah kami untuk mengingat-ingat sebuah nama”.

” Komisaris Nuseha??”.

” Pintar kamu Sinta. Beliau sangat akrab dengan Pak Burhan sejak lama, dan pasti bisa membaca tulisannya. Selain itu Bu Nurseha juga pemberani sehingga tidak mudah digertak”.

” Kalo Kombes Harun Tri?”, tanyaku.

” Secara kebetulan beliau juga memiliki hubungan baik dengan komandan kita Sin. Pak Burhan dulunya anak kesayangannya yang dia latih untuk menjadi polisi yang hebat. Mendengar bahwa Beliaulah yang akan memimpin sidang, Komisaris Burhan optimis akan sanggup membebaskanmu hanya dengan secarik kertas”.

” Kamu hebat Tantri”, pujiku.

” he he he. aku gak pintar Sinta, semua karena kamu”.

” Karena aku Tri??”.

” Perilaku baikmu kepada semua orang membuat kasusmu jadi ringan”.

” Emang ngaruh perilaku baik itu Tri dalam kehidupan ini???”.

” Sangat Sinta. Perilaku baik akan dibalas kebaikan dan perilaku jahat akan dibalas dengan hal serupa”.

Aku menatap Tantri penuh kekaguman. Begitu hebat sahabatku ini. Untung saja dia baik, seandainya saja kepintarannya ini digunakan untuk kejahatan siapa yang gak takut coba.

” Brigadir silakan berdiri, Dewan hakim akan memasuki ruangan”, Provost meminta kami untuk kembali berdiri, rupanya dipake ngobrol waktu berlalu begitu cepat. 30 menit tak terasa telah berlalu dan dewan haki kembali memasuki ruang sidang.

Kami melakukan ritual penghormatan seperti biasa kemudian tetap bersikap sempurna siap menerima arahan. Dua orang anggota provost tak bergeming tetap mengawal kami.

” PIHAK YANG MELAPOR HARAP TETAP BERDIRI! KAMI AKAN LANGSUNG DENGAN PEMBACAAN KEPUTUSAN” ,yang mulia memerintahkan.

Kami tetap berdiri dalam keadaan tegang.

” HADIRIN, SIDANG KAMI BUKA KEMBALI. BREEGGG”, bunyi palu diketuk.

” SETELAH BERDISKUSI DENGAN ANGGOTA DEWAN HAKIM YANG LAIN. PERSIDANGAN MEMPERTIMBANGKAN HAL SEBAGAI BERIKUT ;…………

…………..PERTAMA ; TERDAPAT KETIDAK KONSISTENAN BUKTI DAN SAKSI YANG MEMERLUKAN PENELAAHAN MENDALAM TEHADAP STATUS BRIGADIR SINTA RACHMAWATI.

KEDUA ; SURAT KETERANGAN DARI KOMISARIS POLISI BURHAN MEMBERIKAN ARAH BERBEDA DALAM CARA KAMI MEMANDANG KASUS INI. DEWAN HAKIM TELAH SEPAKAT BESOK AKAN MENGUNJUNGI RUMAH SAKIT TEMPAT BELIAU DIRAWAT UNTUK MEMINTA KETERANGAN LEBIH LANJUT…….

…..KETIGA ; DEDIKASI KINERJA BRIGADIR SINTA RACHMAWATI SELAMA BERDINAS SEBAGAI ANGGOTA POLISI MENJADI POIN PLUS YANG MERINGANKAN….

…..BERDASARKAN TIGA HAL DIATAS. PERSIDANGAN MEMUTUSKAN ; UNTUK MENGABULKAN PERMOHONAN BRIGADIR TANTRI WULANDARI UNTUK MEMBEBASKAN BRIGADIR SINTA RACHMAWATI DARI STATUSNYA SEBAGAI TAHANAN…

…NAMUN KARENA MASIH TERDAPAT HAL YANG MEMERLUKAN PEMERIKSAAN LEBIH LANJUT. BRIGADIR SINTA TETAP KAMI KENAKAN WAJIB LAPAR SELAMA 30 HARI KE DEPAN, DAN WAJIB MEMENUHI PANGGILAN PENYIDIKAN KAPAN PUN DIPERLUKAN. DEMIKIAN KEPUTUSAN INI KAMI BUAT. APABILA DIKEMUDIAN HARI TERDAPAT KEKELIRUAN AKAN DIADAKAN PERBAIKAN SEBAGAIMANA MESTINYA. SIDANG DITUTUP. BREGGGGG”.

Bunyi palu yang ditutup serta merta membuatku yang sedari tadi berada dalam posisi siap, langsung gontai. Haaaaaahhhh kakiku kenapa lunglai begini. Aku nyaris terjatuh seandainya Tantri tidak memegang lenganku dan memastikanku tetap berdiri tegak selama para hakim beranjak pergi keluar sidang.

Ya Tuhan terima kasih. Kuangkat tanganku dan kututupkan di wajah sebagai bentuk rasa syukur yang mendalam. Saat kubuka katupan tangaku kulihat Tantri tersenyum. ” Selamat ya sohibku yang cantik. kamu bebas!!”, katanya dengan nada suara paling indah yang pernah kudengar.

” Bebas Tri???”, ujarku dengan air mata yang mulai meleleh.

” kamu bebas”.

” Trrriiiii”, langsung kupeluk dia begitu erat. Persahabatan inilah yang membuatku bisa bebas. kasih sayang dari sahabatku yang begitu mencintaiku dengan tulus mampu mengalahkan kekuatan apapun yang hendak merampas sebuah kebebasan. Tantri benar ketika memintaku tidak takut dengan kekuatan apapun selain Tuhan. Seorang manusia seberapa pun kuatnya tidak akan mampu menghadapi keuatan Sang Maha Kuasa.

Lama kami saling berpelukan di ruangan ini. Pelukan kami menumpahkan segala rasa yang menyelimuti. Aku sebagai pesakitan merasakan segala beban dan rasa sedih bertubi-tubi yang menghantam sejak enam hari terakhir ini, larut dalam suka cita dalam pelukan Tantri.

BERSAMBUNG