Polwan S2 Part 10

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Tamat

Cerita Sex Dewasa Polwan S2 Part 10 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya : Cerita Sex Dewasa Polwan S2 Part 9

” Grup C, kalian semua menyebar ke sektor barat! Ambil alih objek vital penjara yang telah direbut napi!. Pak Joko dan Lukman, pimpin Grup D untuk menyisir bagian belakang lapas, tutup semua akses keluar! dan jangan biarkan ada napi yang kabur!! “, suara khas Brigadir Tantri menggema memberikan Komando.

Rupanya dialah orang kedua dalam rantai komando kedatangan pasukan huru hara malam ini di lapas. Orang pertamanya sedang merenggang nyawa di pelukanku. Tertikamnya Febi membuat Tantri segera mengambil langkah taktis menggantikannya mengambil tongkat kepemimpinan.

Dibawah pimpinan Tantri, pasukan anti huru hara bertindak lugas. Mereka memblokade semua akses keluar-masuk dan melakukan tindakan keras terhadap napi yang melawan. Situasi “chaos” berangsur pulih. Banjir darah akibat kerusuhan masal akihirnya berhenti. Mun dan para teman baruku di lapas tampak tergelak di lantai. Sebagian dari mereka benar-benar terluka parah, sebagiannya lagi sengaja merebahkan diri seakan tak percaya dengan apa yang baru saja terjadi.

” HHhHHHAAAAHHHHHHHHHH”, aku histeris. Rasa sedih kehilangan Febi menusuk sampai ke sanubari.

” KOMANNDANN FEEEBBIIIII TIDDDDAAAKKK…OOOOO TTIIIIDDAAAAKKKKKKK”, inilah raungan seorang Polwan yang penuh dengan kepiluan hati. Rasanya baru saja mendapatkan rasa kasih sayang dari Febi. Kemudian rasa itu akan direnggut paksa oleh tindakan keji para tahanan yang tidak punya rasa kasihan. Febi kugendong dan tak akan kulepas lagi.

” TIDAAAAAKKKKKKKKKKKK”.

” PLAAAAKKKKKK”, sebuah tamparan keras mendarat di pipi kanan membuat teriakanku terbungkam.

” ccuuuuhhhh”, sangat keras tamparan yang datang, sampai-sampai membuat air ludahku ikut muncrat. Berusaha segera kuputar muka untuk melihat siapa yang berani-beraninya mengganggu kenikmatan tangisan orang yang dirundung duka.

Ternyata seorang Polwan yang lebih cocok menjadi peragawati, dengan tubuhnya yang tinggi semampai dan wajah cantik jelita dengan sebuah papan nama bertuliskan ” TANTRI”, berdiri tegak di depanku dengan wajah tegas tanpa kompromi. Raut mukanya yang ” lempeng ” tanpa rasa bersalah menjadi pemandangan mengejutkan yang membuat hatiku mengkerut.

Sudah enam hari kami tidak bertemu. Aku berharap awal pertemuan yang baik diantara kami berdua, penuh dengan keakraban , akan tetapi yang kudapat adalah sebuah tamparan. Dari semua Polwan yang bisa membuatku ” Skak-mat”, hingga tak bisa membantah satu patah kata pun hanya Tantri orangnya.

” PLAAAAAAKKKKK”, tamparan kedua terasa lagi di pipi.

Rasanya semua orang yang menyaksikan hal ini akan kehilangan kepercayaan kepada kedua matanya. Sekali tamparan mungkin masih wajar, tapi untuk kali kedua, Tantri menampar sahabat karibnya dengan sekencang-kencangnya, kali ini yang kiri. Lebih keras kali ini Tantri mendaratkan telapak tangan, hingga hampir saja Febi terlepas dari gendonganku.

” Triiiii….!!!”, aku menggeleng tak percaya, memintanya agar menghentikan aksi tampar-tamparan di depan orang banyak. Mendapat dua tamparan telak dihadapan khalayak ramai bukan hanya membuat pipiku merah tapi hatiku jadi ikut sakit. Ajaibnya air mata yang semula berhamburan kini hilang. Ditampar demikian keras, bukan hanya mampu menghapus air mata, sesegukan di hidung juga sirna.

” HENTIKAN TANGISANMU SINTA!!!”, lantang Tantri berteriak.

” SERAHKAN INSPEKTUR FEBI KEPADAKU!!!”, diserobotnya tubuh Febi dan dibopongnya untuk diserahkan pada tim medis. Sebagai wanita, tenaga Tantri cukup kuat. Dia atlet karate jangan lupa.

Hanya mampu terdiam aku menuruti perintahnya. Rasa malu, sedikit banyak mulai hinggap di hati akibat aksi tangisan yang terlalu telenovela barusan. Rupanya ratapan kesedihan yang kelewatan memang kurang baik. Tak ada untungnya memuaskan hawa nafsu untuk menangis meraung-raung , apa yang kudapatkan hanyalah rasa malu dan nyeri ” nyut-nyutan” di pipi.

” Bu dokter tolong segera bawa Ibu Febi ke rumah sakit terdekat! lakukan yang terbaik untuk menyelamatkan nyawanya!”, Tantri meminta dengan halus kepada seorang anggota medis.

Kesopanan Tantri dalam bersikap, membuat tim medis melaksanakan tugas dengan begitu tangkas. Febi dibopong dengan tandu dan alat bantu pernafasan meninggalkan lapas. Kondisinya sangat memprihatinkan dengan ceceran darah di seluruh tubuh.

Selesai membereskan urusan Febi, Tantri melangkah kembali kepadaku.

” ANGKAT DAGUMU SINTA! JANGAN TUNDUK-TUNDUK KAYAK ORANG BLO’ON BEGITU!!”, Tantri menghardikku sambil menuding-nuding. Salah makan apa dia ngamuk-ngamuk terus dari tadi??.

” Ssssiiiaaappp”.

” SIKAP SEMPURNA!!!”, bentaknya.

Masih kurang rela hati ini harus dibentak oleh sahabat sendiri. Sampe sekarang aku gak paham kenapa dia tiba-tiba kesetanan dan main hajar saja. Tapi mau bilang apa?? bagaimanapun statusku adalah tahanan. Akhirnya dengan berat hati, dalam satu gerakan, kulakukan apa yang diperintahnya.

Dalam jarak sekian centi dia berhenti dan menatapku dingin. takut dengan tatapannya kualihkan pandangan dari mukanya dan memilih menatap papan namanya saja. Tidak pernah ada senior yang bisa membuatku merasa segan sekaligus ketakutan begini. Dinginnya sikap Tantri membuat kakiku gemetar.

” PLAAAAKKKKKKKKKKKKKK”, tamparan ” simbal ” begitu tiba-tiba menghantam pipiku bebarengan.

Baru saja mengambil sikap sempurna dengan pandangan lurus ke depan, kedua tangan Tantri kembali datang menampar pipiku kiri dan kanan bersamaan. Tamparan itu mulanya membuat kedua gendang telingaku berdenging hebat. Kemudian efek tamparan ” simbal ” itu merembet ke indra penglihatan. Mataku jadi bisa melihat kunang-kunang beterbangan ke sana kemari. Pemandangan di film kartun dimana banyak burung berputar-putar di sekeliling kepala benar-benar terjadi.

Kemudian kurasakan terjadi gempa bumi menjalar di kaki. Bumi bergoncang dan membuatku berjoget acak tanpa mampu menemukan pijakan.

” Bruuuuuuugg”.

“……………………………………”.

***************************

” Sssssiiiinnngggg”, aroma minyak gosok yang dioleskan di dahi dan indra penciuman membuatku sadar..

” Nguuuuiiiinggg…..ngguuuiiiiiiingggg…..ngguuuuiiiingggg”, raungan sirine mobil polisi menjadi irama pertama yang terdengar.

” Udah sadar Sinta??”, suara Tantri yang sedang duduk disebelah dan mengoleskan minyak kayu putih membuatku kaget. Trauma melihatnya lagi , aku refleks mengatupkan kedua tangan ke pipi, saking takutnya mendapat kejutan yang tak menyenangkan.

” Gak usah takut Sinta! ini Tantri sahabatmu lho”, dia tersenyum begitu renyah. ” Maafkan yang tadi ya karena menamparmu sampe pingsan!”, Tantri memelukku. ” Tanya semua orang kalo gak percaya, betapa paniknya aku waktu ngeliat kamu pingsan!”.

” Habiss sakiitttt banget tau Trri tamparanmu!”, rengekku sambil ngambek.

” Iya Sinta maafin aku”, dielus-elusnya rambutku sambil memeluk begitu erat , ” Yang tadi itu hanya sandiwara buat nyelamatin kamu!”, bisiknya.

” Sandiwara gimana Triii?”.

” SSsssssttt pelankan suaramu nanti kedengaran supir! “.

” Kedengaran bagaimana?? kita cuma duduk berdua dibelakang sini Tantri”

” Walau Cuma berdua kita harus tetap waspada”, suara Tantri lirih.

” Oke deh tapi jawab dulu sandiwara apa yang kamu maksud???”, aku bersuara sepelan mungkin.

” Nanti aku jelasin, takut mobil ini ada penyadapnya”.

” Ahhhhh Tantri gak seru nih”.

” He he ntar juga seru Sinta”.

” Kebiasaan dari dulu.. yeeee kesell”, aku merengut sambil menjulurkan lidah.

Gini nih kalo jadi orang pintar, bisanya main rahasia-rahasiaan terus. Tantri dalam kesehariannya selalu terbuka kepadaku. Masalah hubungannya dulu dengan Alex juga hanya aku yang tau. Hanya saja jika sudah bicara masalah kerjaan, Tantri berubah menyebalkan. Dia jadi tertutup dan gak bakalan ngasih bocoran apapun terkait kasus yang ditangani.

” Sssstt”, godanya.

” Huhhh’, aku buang muka.

” Nggossip yuk”, rayunya.

” Huhhhh”, aku tetap ” melengos ” sambil pasang muka jaim.

” Gimana hubunganmu dengan Jaka?? orang kantor udah pada tau belum??”.

” …………………….”, aku hanya menggeleng tak tau harus menjawab apa. mendengar nama Jaka disebut saja sudah cukup membuatku mual.

” Tau gak kamu dianggap wanita pembawa sial lho sama orang kantor!”.

” Apaaaaa???? yang bener sih Tri!!”, jaimku langsung sirna mendengar julukan itu.

” Iya kata mereka, semua orang yang deket sama kamu kena musibah! Bahkan gak perlu deket, rumahnya sebelahan sama kamu aja kena sial. Semua orang kantor ngingetin aku buat ngejauhin kamu kalo gak mau ketularan”.

” Tri, sedih banget sih nasibku “, aku meratap.

” Ha ha kamu tambah cantik kalo suntuk begitu ! tenanglah Sinta ! sejak di asrama kamu memang suka buat masalah yang aneh-aneh, tapi kalo ada aku aman kan??. Sebagai sahabat kita selalu hadir untuk saling mengisi”.

” Itulah masalahnya Tri, sejak kamu cuti masalah datang kayak tsunami. Nih aku ceritain ya! Mulai dari nikahanmu aku dipanggil sama……”.

” Ssssst…..” Tantri memelukku lagi dari samping. Kali ini dengan penuh rasa kangen. Hilang sudah figur wanita tukang ” tabok ” tadi berganti sosok yang lembut. Dielusnya hidungku lembut dengan jarinya. ” Aku sudah dengar semuanya. Kamu banyak melakukan hal hebat yang tak pernah kamu perbuat sebelumnya. Sinta sahabatku ternyata wanita yang kuat dan tangguh!!”.

” Betulkah itu Tri?”.

” Bener banget, Cuma ada satu cerita yang sampe sekarang aku gak percaya”.

” Apa itu Tri??”.

” Kata orang, kamu Polisi ” jenius ” yang bisa menangkap lusinan penjahat dalam waktu dibawah satu menit. Untuk prestasi itu aku aja gak bisa ngelakuin. Bener gak itu Sin???”.

” Tri kamu godain aku ya”, kucubit pinggangnya.

” Ha ha ha, Serius ini Sin. mereka benar kok , orang selalu salah menilai tentang kamu. Bolehlah orang menyebutku pintar. Tapi kamu Sinta sangat CERDAS. Diantara semua teman yang pernah aku kenal, kamulah yang peling cerdas “, Dia mengucek ucek lagi rambutku.

” TANTRRRIII NGELEDEEEK TERUSSS AHHHHH”, kucubitin dia sambil ” menggelikitik ” sebagai pembalasan aksi tamparan sebelumnya.

” Hiii…hiiii…hiii…haaa..haaa ammmpunnn ampuuunnn Sintaaa”, Tantri tertawa sejadinya tak mampu menahan geli.

Kami berdua memang sangat akrab. Dengan latar belakang sama-sama orang perantauan yang tinggal jauh dari keluarga kami selalu berbagi suka duka kehidupan. Semua masalah tidak ada yang gak selesai kalo kami udah bertemu.

Buatku yang baru saja tertimpa rentetan masalah tak berkesudahan, kedatangan Tantri sangat membantu. Kehadirannya saja sudah cukup untuk membuat kabur semua problema. Masalah apa yang gak lari terbirit-birit kalo ngeliat dia??. Tantri begitu jenius, dalam waktu singkat saja dia selalu dapat mambaca beragam masalah dan mencarikan solusi yang terbaik.

Ketika kusinggung mengenai statusku sebagai tahanan, Tantri bilang akan mengusahakan mengeluarkanku dari balik jeruji besi. Bagaimana caranya?? tanyaku. Jawabannya melalui jalur hukum dan demokrasi. Apa tuh maksudnya Tri?? kejarku dengan penuh penasaran. Katanya besok pagi dia telah berhasil meminta jajaran pimpinan Kepolisiaan Daerah untuk mau mengadakan rapat dengar pendapat. Rapat itu merupakan pintu gerbang kebebasanku.

” Apa sih Rapat dengar pendapat itu Tri??”.

” Ssssssstttttt nanti kedengarannnnn”, Tantri mengatupkan jarinya di bibir.

” Grrrrrrrrrrrrrrrrrrr”, kugemeratakkan gigi sebagai ekspresi kekesalan.

Tantri hanya tersenyum melihatku yang salah tingkah. Satu sifat yang paling membuatku kagum dari sahabatku ini adalah kesabarannya. Dia selalu tekun menunggu saat terbaik tiba kemudian baru mengemukakan semua penjelasan. Andai saja sifat itu dimiliki oleh kaum pria mungkin bisa dikatakan wajar. Tapi kerena kaum wanita yang memilikinya, sifat itu jadi tergolong luar biasa.

” Terima kasih banyak ya Tri”, aku sadar sedari tadi belum mengucapkan kata ini kepadanya. Begitu besar bantuannya, bahkan mungkin tak akan bisa kubayar sepanjang hidupku. Tapi semoga sebuah untaian rasa terima kasih dapat menggambarkan rasa tulus di hatiku kepadanya.

” Hush, terima kasih diterima, tapi ngapain pake nangis segala Sinta??”, dielusnya air mataku. ” Inget perjanjian kita! Kamu gak boleh nangis! kalo kamu nangis nanti aku yang susah…”.

” Susah buat ngusir setannya ya Tri”, candaku.

” Ha…ha…haaaa”, kami tertawa gembira bersama.

Tantri mengantarku sampai masuk kembali ke tahanan Polres dari pintu belakang . Dia menyadari sorotan wartawan kepadaku begitu besar sehingga memilih menghindarinya.

” Sampai deh kita Sinta”, Tantri menggandeng tanganku hingga keluar mobil. ” Nanti di pintu belakang ada dua ibu Polwan Provost senior yang akan ngantar kamu masuk ke dalam ruang tahanan”.

” Ibu Nila dan Leli ya Tri, baik sekali lho mereka”.

” Betul benget kalo mereka berdua sangat baik Sinta. Tapi, menyambung apa yang kubilang soal gossip di mobil, kedua senior kita itu juga ketiban sial kerena pernah deket-deket sama kamu. Sekarang, Ibu Nila dan Leli sedang menjalani pemeriksaan intensif oleh Propam karena dianggap melakukan kelalaian dalam prosedur pemindahan tahanan”.

” Apa???? Tri mereka hanya melaksanakan tugas. Yang sial itu harusnya aku saja, jangan bawa-bawa mereka. Gimana sih kantor”, aku kesal sendiri.

” Sabar ya Sinta jangan emosi!” Tantri menepuk bahuku menenangkan, ” Semuanya seperti benang kusut sekarang. Mudah-mudahan, bila Tuhan mengijinkan benang kusut ini akan menjadi terurai sebentar lagi. Yang harus kamu yakini ialah bahwa KAMU BUKAN WANITA PEMBAWA SIAL”, Tantri memegan wajahku dengan kedua tangannya.

” Triii…. “.

” Ikuti aku Sinta! AKU WANITA CERDAS”.

” Aaaaku waanita cerdass”.

” BUKAN WANITA PEMBAWA SIAL”.

“Bukan wanita pembawa sial”.

Tantri memelukku. Wangi tubuhnya begitu harum. Aura badannya juga sangat menenangkan. Kesialan yang melekat di badanku semoga ikut tersapu karena mencum keharuman tubuh Tantri.

” Kamu yang sabar ya! Pintu masuk sudah di depan masuklah ke dalam dengan yakin. Kedua orang Polwan yang ditugaskan sudah menunggu di balik pintu”.

Aku melangkah perlahan menuju pintu yang ditunjuk.

” Jangan lupa berdoa ya Sinta!”.

” Siap Tantri”, balasku dengan senyum sambil menghormat kepadanya. Kebaikan dan kebesaran hati membuatmu pantas untuk dihormati Tantri.

” O ya satu lagi Tri”.

” Apa Sin??”.

” Tolong tengok Febi ya! kasiiaaann diaa”, mengingat sosok Febi aku hampir menangis lagi.

“………………”, Tantri mengangguk. ” Aku akan tunggui dia di RS kamu jangan khawatir.

Kesediaan Tantri untuk menunggui Febi di saat sekaratnya membuatku sedikit tenang. Akhirnya dengan memberanikan diri aku melangkahkan kaki kembali untuk masuk dalam kurungan penjara.

” Ckleeeekkk”, bunyi pintu dibuka.

” Brigadir Sinta anda ikut kami”, dua orang Polwan kembali mengapitku untuk diantar masuk ke dalam sel. Betul kata Tantri, dari sikapnya mereka begitu takut berdekatan denganku. Rupanya cap sebagai wanita pembawa sial sudah mulai identik dengan namaku. Saking identiknya para Polisi saja takut berdekatan apalagi berjabat tangan denganku.

Diantar tapi dengan para pengawal yang begitu risih dengan yang dikawalnya lucu juga. Tidak ada obrolan ataupun gerakan apapun yang menyiratkan timbulnya sebuah komunikasi. Yang ada hanya gerakan otomatis bagai robot.

Tak selang beberapa lama, tibalah kami di dalam sel. Mereka tergesa-gesa meninggalkanku sampai aku tak tau siapa nama ataupun identitas dua orang polwan tadi.

Dalam sel gelap yang kosong aku langsung duduk melamun. Kali ini aku tidak banyak protes lagi dan hanya bisa pasrah terhadap segala yang terjadi.

Pikiran tentang kondisi Febi tetap menggelayuti. Tantri sempat bilang di dalam mobil bahwa Febi masih ada peluang untuk hidup meskipun kecil sekali. Dia selalu memintaku untuk banyak berdoa meminta pada Sang Pencipta akan segala situasi yang kita hadapi dalam hidup.

Mengikuti nasihat Tantri, aku berdoa sepanjang malam agar Tuhan memberi Febi mukjizat sehingga kembali dapat merasakan anugerah kehidupan. Betapa hidup ini adalah anugerah terbesar dari Tuhan yang kurang kita hargai. Ketika anugerah itu dicabut, barulah kita sadar akan waktu yang telah kita sia-siakan

Bersambung