Polwan S2 Part 1

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Tamat

Cerita Sex Dewasa Polwan S2 Part 1 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sex Dewasa Polwan S2 Part 1

SEVEN DAYS TO FIND THE PATH OF LOVE

HARI PERTAMA : THE INVISIBLE HAND

” ….Saya terima nikahnya Tantri Wulandari binti Zulkarnaen, dengan mas kawin emas 10 gram tunai”.

” Bagaimana para saksi sah??”.

” Sah!”.

” Maka dengan ini secara resmi kalian berdua, kami nyatakan, telah resmi sebagaia suami-istri”.

Dipasangkan cincin nikah itu di jari Tantri. Setelah itu mereka menandatangani buku nikah, dan berfoto begitu mesra dihadapan penghulu, menunjukkan pada khalayak bahwa cinta mereka telah berhasil diperjuangkan hingga ke jenjang pernikahan. Begitu cantik sahabatku hari ini. Siapa sangka pria yang berhasil menyuntingnya hanyalah seorang pria biasa.

Tantri adalah salah seorang Polwan tercantik di Polres kami. Sudah menjadi tradisi bila Polwan tercantik, akan menikah dengan Polisi juga, bisa Perwira ataupun Bintara. Namun Tantri berani melawan semua mitos itu. Padahal ada Inspektur Jaka, anak Komandan Hendri, yang khusus mengajukan pindah ke Polres kami sejak 6 bulan yang lalu, hanya demi mengejar Tantri.

Apa mau dikata Tantri menolaknya. Sahabatku itu punya prinsip yang kuat, dan benar-benar teguh memegangnya. Dia tidak akan peduli apa kata dunia ini, yang dia pikirkan hanya kesetiannya pada apa yang diyakininya. Aku tidak bisa seperti dia.

Namaku Sinta. Brigadir Satu Sinta. Aku satu angkatan dengan Tantri. Sejak pertama dinas, dialah yang menjadi teman sekamarku. Sebagai sahabat karib kami telah bersama melalui suka duka pendidikan Kepolisian, kami saling mengerti satu sama lain.

Kami punya satu kesamaan ; kami sama-sama perantauan disini. Bayangkan dua orang gadis, masih berusia awal 20an, terpisah jauh dari orang tua, dipaksa hidup mandiri dan dewasa sebelum waktunya.

Hal itu berat. Buatku khususnya, amat berat. Sejak kecil aku dimanjakan oleh kedua orang tuaku. Semua keinginanku pasti dikabulkan. Banyak teman Polwan seangkatan, yang menjulukiku “anak mami” waktu di Pendidikan. Wajar, karena aku begitu canggung, ketika harus berhadapan dengan disiplin keras selama berada disana. Untung ada Tantri, dialah yang menjadi sahabat sekaligus pembimbingku untuk melalui hari yang keras di asrama.

” Brigadir Sinta”, sebuah suara mengaburkan lamunanku.

” Siap Komandan Burhan”, jawabku.

” Cantik sekali kamu hari ini! kebaya pink yang kamu pake itu, buat kamu jadi tambah sexy he he”, Pak Burhan melirikku dengan pandangan ” nakal” yang menjadi ciri khasnya sehari-hari.

” Siap tidak Komandan, saya biasa saja”, elakku.

Sebenarnya selain Tantri, akulah salah satu Polwan paling cantik di sini. Kulitku berwarna putih khas sebuah daerah indah dari negeri kita. Tubuhku tidak terlalu tinggi, beda dengan Tantri yang seperti peragawati, aku cenderung mungil. Sebagai Polisi wanita, tentu penampilanku terjaga. Tubuh langsing, kencang. dan berbentuk menghiasi tubuhku.

Hari ini aku memang membantu Tantri menjadi “pager ayu” yang menerima kedatangan tamu undangan. Oleh panitia, kami disediakan baju kebaya berwarna pink, yang begitu pas membalut tubuh kami. Mengenakan kebaya seperti sekarang, banyak tamu undangan yang tidak menyadari kalo kami itu adalah Polwan.

” Sin, ikut Bapak yuk!”.

” Ijin ikut kemana Komandan?”, tanyaku penasaran, sekaligus tidak nyaman. Polwan mana yang merasa tenang bila berhadapan dengan Pak Burhan.

” Ada bisnis yang Bapak mau bicarakan sama kamu”.

” Bisnis?? ijin Komandan saya jadi semakin tidak mengerti”.

” Sini deh sebentar”, tangannya mengajakku menepi ke salah satu sudut kosong Hotel,

” Ayo sini, biar kamu tau apa yang Bapak maksudkan”.

Dengan penuh tanda tanya, kuikuti kemauan Pak Burhan untuk berbicara di sudut itu. Sebelumnya aku minta ijin dulu kepada teman pager ayu yang lain.

” Ada apa Komandan?”, tanyaku penuh rasa penasaran.

Pak Burhan mengeluarkan hand phonenya dan menunjukkannya kepadaku, ” ini mengenai pacarmu Tanto, baca sms ini! dia disinyalir telah melakukan penggelapan barang bukti”,

Pak Burhan menatapku dengan pandangan yang sinis, ” Dia menggelapkan mobil mewah yang disita dari seorang pelaku tindak korupsi, sekarang berkasnya ada di meja Bapak”.

Aku mendadak panik mendengar kabar dari Pak Burhan. Bagaimanapun Tanto memang pacarku, dan apapun yang menyangkut dia, baik itu prestasi maupun pelanggaran disiplin, pasti aku tersangkut.

” Siap Komandan”, jawabku masih penuh kebingungan.

” Sekarang yang menentukan nasibnya Tanto kamu Sin!”, Pak Burhan berkata penuh penekanan.

” Lho kenapa tergantung saya Komandan?”, sangat bingung aku sekarang.

” Kamu itu cantik Sin”, tangan Pak Burhan mulai menyentuh pipiku, dan mulai mengelu-elusnya,

” sudah lama Bapak merhatiin kamu, Bapak suka sama Kamu”, Pak Burhan terus mengelus pipiku. Aku hanya berdiri mematung menerima elusannya di pipiku. .

Kucoba melirik ke arah podium utama, tempat Tantri sedang berdiri menerima ucapan selamat dari para undangan, tapi dia sedang sibuk sekali menerima jabat tangan para tamu. Sudah menjadi kebiasaanku, meminta saran ataupun bantuan Tantri dalam setiap persoalan. Kini dia tidak bisa lagi menjadi pelindungku. Harus bagaimana aku sekarang.

” Gak usah mikirin Tantri!”, Pak Burhan menegurku menyadari aku sedang melihat ke podium,

” anak itu gak tau diuntung! mau dilamar Perwira, malah milih cowo jelek kayak gitu”,

Dari nada suaranya Burhan jelas menyimpan kebencian terhadap Tantri.

” Kamu lebih cantik dari dia Sinta, badanmu juga lebih montok dari dia”, tangan Burhan yang semula mengelus pipiku, kini memegang daguku dan diangkatnya pelan agar menatap wajahnya ,

” Kamu mau bantu pacarmu??”.

” Bbbbantu bagaimana Komandan, Ssssinta tidak mengerti”, suaraku mulai terbata karena terpojok seperti ini, keringat dingin perlahan membasahi gaun kebayaku.

” Kamu bisa milih, Bapak akan naikkan kasus ini, biar nanti Tanto dihukum keluar dari Kepolisian atau…..”.

” Aaaaatau apa Komandan??”, aku semakin merinding.

” Atau kamu nemenin Bapak! he he. Bapak udah lama pengen “nyicipin” kehangatan Polwan bening kayak kamu Sinta”, Burhan menjulurkan lidahnya kepadaku seperti hendak melumatku,

” bagaimana??”, Burhan tersenyum mesum tanpa melepakan pegangannya di daguku.

Selintas aku teringat perbuatan Burhan setengah tahun yang lalu. Saat itu Tantri sedang menghadapi musibah, pacarnya- kini suaminya- Alex, kala itu kecelakaan motor di Pulau Dewata, aku menelponnya sambil menangis ingin curhat mengenai pelecehan Burhan terhadapku.

Setengah tahun yang lalu, Burhan memanggilku masuk ke ruangannya, dan mengajakku untuk berbuat mesum. Bukan hanya itu, dia juga meraba secara tak senonoh, beberapa titik sensitive tubuhku. Sayang saat itu Tantri tidak punya waktu untuk mendengar curhatanku.

Hingga kini dia tidak tau apa yang sebenarnya terjadi antara aku dan Pak Burhan. Ketika itu aku berhasil menolak kemesuman Burhan dan terbirit-birit lari meninggalkan ruangannya.

Kini aku tidak sanggup berkata apa-apa lagi.

“Tanto kenapa kamu menempatkan aku di posisi seperti ini. Mendengarmu akan dipecat menghancurkan hatiku, dan membuatku lemah dihadapan orang ini”, batinku.

” Bapak tau kamu pasti lebih memilih nemenin Bapak!”, Burhan kembali menantangku untuk menjawab tawarannya.

Aku terbisu tidak sanggup berkata.

” He he ayo ikut Bapak, kita tinggalin si Tantri bodoh itu”, Pak Burhan langsung menggandeng tanganku.

Aku pasrah saja ditariknya menjauh dari ruang resepsi. Untuk terakhir kali aku menoleh ke arah Tantri mengharap perlindungannya, tapi dia tidak menoleh.

” Tantri tolonglah aku!”, jeritku dari dasar hati. Tapi Tantri terus saja tersenyum pada para tamu undangan yang menghampirinya, tanpa mempedulikanku.

Burhan terus menggandengku sepanjang jalan, tanpa menghiraukan pandangan orang lain. Mengenakan kebaya yang demikian ketat, rasanya membuatku berjalan begitu tertatih. Mau dibawa kemana aku ini sebenarnya.

” Ayo naik mobil Bapak, jangan malu-malu Sin!”, tangan Burhan dengan nakal meremas belahan pantatku, setibanya kami di parkiran. Burhan memarkir mobilnya agak jauh dari lokasi sehingga jarang orang yang melintas di tempat ini.

” Ummmm wanginya tubuhmu Sin”, aku dipepet menempel ke body mobil dalam posisi membelakanginya,

” kamu gak boleh nglawan ya! inget nasib Tanto ada di kamu! kalo kamu bisa muasin Bapak, Tanto bisa bebas, tapi, kalo kamu ngecewain Bapak, bukan hanya Tanto yang dipecat, kamu juga bisa Bapak libatiin supaya ikut dipecat, Ngerti kamu Sinta!!”.

” Sssssiap mengerti Komandan”, jawabku dengan air mata yang mulai menetes di pipi.

” He he he pinter kamu cupppp”, Burhan mulai menciumi tengkukku yang terpampang jelas dihadapannya.

Perutnya yang buncit terasa menekan tubuhku hingga semakin menempel di mobilnya. Dengan tetap mendaratkan ciuman di tengkuk, tangannya tak henti meremas-remas pantatku.

Bertepatan saat dia sedang asyik menggerayangiku, kami tiba-tiba dikejutkan dengan suara mobil yang datang dan parkir tak jauh dari parkiran kami.

” Ckkk kenapa sih mobil ini ikut-ikutan parkir disini! ganggu aja”, geram Burhan menahan kesal Karena aksi bejatnya terganggu.

Aku merasa lega dapat lolos, meski sesaat, dari perilaku cabul Komandanku sendiri. Dengan penuh kegugupan berusaha kurapikan dandananku yang acak-acakan. Mobil itu berhenti tepat disamping kami. Kulihat pengemudinya turun kemudian melangkah pelan, namun penub percaya diri ke arah kami. Laki-laki itu begitu muda, gagah, percaya diri, dan berwibawa.

” Komandan Burhan sedang apa Komandan disini?”, tanyanya.

” Itu urusanku Jaka, ngapain kamu nanya-nanya segala”, Begitu ketus Burhan memberi jawaban.

Menerima jawaban kasar seperti itu Inspektur Jaka hanya tersenyum dan menoleh ke arahku, ” Brigadir Sinta bukan??”, tanyanya kepadaku.

” Sssssiap betul Komandan”.

” Kebetulan aku ada perlu sama kamu, bisa ikut aku sebentar”, begitu bahagia aku mendengar ajakannya, hingga nyaris berlari untuk menghampirinya.

” Hei Jaka jangan kurang ajar ya kamu! ingat pangkatku lebih tinggi dari kamu! Si Sinta ini ada urusan denganku, kamu jangan ganggu dia!”.

Sangat tenang Jaka menerima hujatan Burhan,

” Siap Komandan, betul pangkat Komandan lebih tinggi dari saya. Tapi, yang ada perlu dengan Brigadir Sinta adalah papaku Komandan Hendri. Kalo saya tidak salah, pangkat Papaku masih lebih tinggi darimu Komandan. Mohon ijin sebelumnya atas kelancangan saya”.

” Ciuh”, mendengar jawaban Jaka, Burhan meludah ke tanah,

” Perwira muda jaman sekarang gak punya sopan santun!”, geramnya,

” awas kamu ya Jaka! ada masalah kamu nanti, kuhabisin kamu!!”, Burhan kembali meludah, dan mendorongku agar minggir dari mobilnya.

Dengan meraungkan gas mobilnya sebagai ekspresi kekesalan, Burhan meninggalkan kami berdua dalam kepulan debu yang begitu menyakitkan mata.

” Uhuuk…uhukkk…uhukkk..”, aku terbatuk karena polusi debu ini.

” Kasian kamu Sinta nih pake sapu tanganku”, Jaka telah berdiri di sampingku sambil menyodorkan sapu tangannya.

Dengan malu-malu kuambil sapu tangannya, langsung kututupi hidungku dengannya. Begitu harum sapu tangan ini, sama seperti orangnya. Hari ini Inspektur Jaka adalah laki-laki paling tampan yang pernah kutemui seumur hidupku. Bukan hanya secara tampilan fisik dia ganteng, tapi dia telah menyelamatkan hidupku. Aku berhutang budi kepadanya.

” Kamu baik-baik saja Sin?”, tanyanya dengan wajah penuh perhatian.

Aku menunduk tersipu, masih tidak percaya diperhatikan oleh seorang Perwira idaman seperti dia, ” Sssssiiaaap baik Komandan”, akhirnya lidahku bisa juga menjawab pertanyaannya.

” Mau ngapain Burhan sama kamu Sin??”, tanyanya.

” Eeeee…eeeeee….”, aku tergagap tidak bisa bicara.

” Udah gak usah dijawab!, aku tau dia itu mesum. Makanya ngeliat kamu sama dia, aku yakin ada yang gak beres. Sekarang, yuk temenin aku masuk kedalam!”, ajaknya ,

” malu aku Sin, masuk ke nikahannya Tantri seorang diri aja gak sama pendamping. Apa kata orang nantinya”.

” Eeeeee Sssssinnta sekarang masihh jadi pagerrrr ayuuuu Komandan”, aku masih saja tergagap.

” Gak apa, pager ayu cantik kayak kamu, pasti bikin orang iri sama aku, yuk ikut”, Jaka hanya menolehkan kepalanya agar aku mengikutinya.

Baru saja Burhan berusaha mencabuliku. Sekarang tiba-tiba ada perwira muda tampan, idola seluruh Polwan, ingin ditemani masuk olehku, dan memujiku dengan mengatakan aku cantik. Rasanya aku melayang tinggi.

” Tolong ya Sin!”, Jaka berbicara kepadaku yang masih saja tertunduk salah tingkah.

” Aaaaaapaa Kooommandan yyyang dapat Sinnnta bantu?”.

” Gak usah gugup begitu”, dia tersenyum , ” kamu udah punya pacarkan si Tanto?”, aku mengangguk,

” Sebentar saja lupakan Tanto ya Sin! temenin aku! bersikaplah sebagai pendampingku ya! sebentar saja paling cuma 15 menitan”, dia menatapku dengan pandangan yang begitu dalam.

Tantri pernah bercerita padaku, bagaimana besarnya daya tarik Inspektur jaka terhadap wanita. Semula aku tidak mempercayainya, tapi sekarang…aku telah bertekuk lutut di telapak kakinya.

” Siiiap Koomandan”, jawabku. Dalam hatiku bahkan aku menjawab, “silakan Komandan jadikanlah aku sebagai pacarmu. Kalo sekarag engkau “menembakku”, Tanto pasti segera kuputusin.

” Terima kasih Sinta”, Jaka kembali tersenyum dan menggandeng tanganku.

Berbeda dengan Burhan yang menyeretku bagai binatang. Jaka membawaku dengan lembut dan penuh kehangatan. Dia memang betul-betul berkharisma. Baru saja kami memasuki gedung, sedah banyak mata yang menatap kami berdua dengan rasa ingin tahu. Terlihat di setiap bangku, beberapa ibu-ibu undangan, mulai kasak-kusuk berbisik. Pasti mereka sedang bergosip mengenai Jaka yang hadir bersamaku.

” Wah ini pendampingmu Jack?? cantik sekali”, tanya seorang pejabat tinggi di Kepolisian Daerah.

” Siap betul Komandan, ini Sinta”, jawab Jaka memperkenalakanku.

Begitu fasih Jaka memperkenalkanku kepada setiap tamu yang bertemu dengan kami. Dia betul-betul memperlakukanku seperti pendampingnya. Begitu bangga dia, meskipun hanya pura-pura, memperkenalkanku kepada orang-orang.

Banyak orang yang memang telah mengenalku, menjadi penasaran dan mendatangi kami. Beberapa diantara mereka, pejabat dari Provinsi belum mengenalku, tapi memuji kecantikanku. Tiba-tiba Sinta si pager ayu menjadi terkenal di ruangan ini.

Digandeng terus aku oleh Jaka, sampai kami naik ke tangga yang menuju podium utama tempat Tantri berada.

” Selamat ya Mbak Tantri! Sudah menikah dengan pria yang sangat kamu cintai”, Jaka menjabat tangan Tantri dan menatap wajahnya.

” Terima kasih banyak Mas sudah mau datang ke nikahan kami. Lho?? Mas bareng Sinta??”, Tantri tampak terkejut dengan kehadiranku tepat dibelakang Jaka. Tangan Jaka tetap tidak lepas memegang tangan Tantri.

” Iya, Mbak belum tau ya kami berduakan pacaran sekarang”, Jaka menatapku dengan senyum yang begitu indah, wajahku betul-betul merah padam dibuatnya.

” Gak nyangka! selamat ya Mas”, Tantri tetap tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya.

Akhirnya dengan sebuah anggukan Jaka melepas tangan Tantri, ” Mas Alex selamat ya!”, Jaka kini menyalami Alex, ” jaga Mbak Tantri baik-baik ya! Mas laki-laki yang berntung”, kata Jaka.

” Sin!”, suara Tantri mengejutkanku,

” Beneran kamu jadian sama Jaka??”, belum sempat aku menjawab, tangan Jaka sudah menggandeng tanganku ,

” bener donk Mbak, masa gak percaya, ayo sayang kita turun!”, ajaknya sambil memanggilku dengan panggilan “sayang”.

” Selamat ya!”, bisik Tantri kepadaku sebelum turun tangga.

Aku jadi bingung sendiri. Selamat apa?. Apa sebenarnya yang terjadi??. Semua terjadi begitu cepat, aku tidak sanggup mengikutinya.

Tanpa berkata apa-apa Jaka, terus menggandengku begitu mesra. Dia tidak ingin berlama-lama berada di ruang resepsi, perlahan namun pasti, ia menggandengku untuk melangkah bersamanya menuju parkiran mobil.

Aku betul-betul hanya bisa terpesona, melihat semua gerakannya yang begitu cepat, namun memancarkan pesona. Sambil terus tertunduk dengan berjuta pikiran dan perasaan, aku mengikuti saja kemana aku ingin dibawa olehnya. Ketika Jaka membukakan pintu mobilnya agar aku naik, aku menuruti tanpa mampu mengatakan apapun. Diciumunya tanganku lembut dengan begitu gentel, kemudian ditutupnya pintu mobil.

Jaka masuk tanpa berkata apapun, kemudian menghidupkannya dan menjalankannya. Aku tidak tau hendak dibawa kemana. Jakapun hanya diam membisu sepanjang perjalanan. Dia terus mengemudi dalam kebisuan, sampai kami tiba di sebuah rumah yang cukup besar. Tampaknya ini adalah rumahnya sendiri.

Dengan tangkas, diajaknya aku turun, kemudian dibukanya kunci rumahnya. Tampaknya tidak ada orang yang menunggui rumahnya, karena begitu sunyi rumah ini. Cepat dia menutupnya kembali. Kemudian, apa yang berikutnya terjadi betul-betul di luar kuasaku.

Jaka menciumku di bibir hingga tubuhku tersandar di pintu. Begitu bergelora dia mencumbuku. Aku sebagai wanita, seakan tak berdaya, menerima ciuman ini. Sebagai anak manja, dibekap kemudian dicium oleh pria dengan wibawa demikian besar, bagaikan impian yang menjadi nyata.

Kubalas cimuannya dengan gelora yang sama. Tanto sebagai pacarku, tidak pernah kurasakan memberikan ciuman yang begitu penuh hasrat seperti yang dilakukan Jaka sekarang.

Bibir kami bertemu begitu erat. Saling bertukar rasa dalam keindahan hasrat birahi. Jaka begitu menikmati keintiman yang hadir dengan pertemuan bibir kami. Tanpa melepas ciumannya dibawanya aku menuju kamarnya yang terletak tak jauh dari sana.

Ditendangnya pintu kamar dengan tetap mendekapku. Tubuhku yang mungil, membuat Jaka begitu mudah menyeretku. Sampai di ujung tempat tidur. Jaka melepas ciumannya. Nafasnya begitu memburu dirasuki oleh nafsu. Jaka kemudian mengangkat tubuhku, dan melemparnya ke atas ranjang.

Terlempar seperti itu, membuat pikiranku ikut melayang. Aku betul-betul tak kuasa menolak perzinahan yang begitu indah seperti yang akan dilakukan Jaka kepadaku. Masih tanpa mengucap satu patah katapun, Jaka dengan otot tangannya yang kuat berusaha melepas kebayaku. Tak sabar dia dengan begitu banyaknya lipatan di kebaya ini hingga merobeknya dengan ganas.

Dirobek rok kebayaku dari sisi samping. kemudian kancing baju kebayaku dikoyaknya. Kedua tangannya menyingkap kebaya itu. Kini tubuhku hanya tinggal mengenakan Bh dan CD saja. Kembali diciuminya aku yang tengah “melayang”, tak sadarkan diri, menerima kejutan terbesar dalam hidupku ini.

Geriliya ciumannya telah dimulai berawal dari pagutannya di leherku. Warna putih kulit leherku mulai berubah menjadi kemerahan akibat cupangannya.

Ciumannya terus turun hingga turun menuju ke BHku. Kembali dia hilang kesabaran dan membetot tali BH serta Cd yang menghalanginya menikmati kemolekan tubuhku secara keseluruhan. Setelah pakaian dalamku tanggal, tampak dari tatapan matanya begitu terpesona Jaka melihat tubuhku.

Ukuran tubuhku memang mungil, namun payudaraku cukup montok dengan puting yang menggoda. Perutku cukup ramping, karena disiplin makan yang kulakukan selama ini. Turun ke bawah organ intimku ditumbuhi rambut kemaluan halus yang terawatt.

Tanpa menunggu waktu lama Jaka mengenyot puting payudaraku.

” Aaaaaaggggghhhhhh”, aku menjerit.

Jaka semakin bersemangat mendengarku menjerit. Ditangkapnya kedua payudaraku yang padat berisi, kemudia diremasnya begitu kencang.

” Uuuuuuuuuhhhhhhh”, kugelengkan kepalaku ke kiri dan kanan, bersamaan dengan jambakanku di rambutnya. Sangat tidak sopan, seorang anak buah menjambak rambut atasannya, hanya saja kami berdua kini sedang birahi, aturan apa yang dapat mengatur manusia yang tengah birahi?.

” hufffff….huffffff”, ditiupnya putting susuku yang sudah mengacung karena terangsang, kemudian dilahapnya.

” Aaaaaaaaaaaaaahhhhhhhhhh”, aku terpejam, dengan rahang kaku, menerima sedotan keras di payudaraku. Begitu nikmat rasanya mendapat “kejutan” yang menghantam setiap pori kulit tubuhku.

Bergantian Jaka menyusu di teteku. Kadang dia gigit puting susu itu, sampai membuat tubuhku terangkat saking tak sanggup menanggung sensasinya. Sambil menyusu, tangannya mulai meraba ke area selangkanganku.

Dirabanya sejenak celah diantara rambut kemaluan itu. Kemudian berusaha ditusuknya celah itu dengan jarinya. Saat merasakan jarinya dapat masuk dengan mudah ke lubang sempit itu, Jaka menganggukkan kepalanya, sambil melihat wajahku. Anggukannya seolah ingin menyatakan ; bahwa aku sudah tidak perawan lagi, dan dia sangat senang mengetahui hal itu.

Baju batik yang dari tadi dikenakannya dilepasnya berikut celana panjangnya. Inspektur Jaka yang biasa kulihat berpakaian seragam lengkap, kini polos bugil dihadapanku. Tubuhnya begitu perkasa, lengkap dengan penis yang telah mengacung tegak. Tanpa basa basi, kedua tangannya mengangkangkan kedua pahaku, dan mengarahkan senjatanya yang telah siap tempur ke gerbang pintunya.

Kedua tanganku menyentuh pinggang dan perutnya bersiap untuk menerima penetrasi laki-laki impianku ini. Wajah kami kini berhadapan. Kini tak ada lagi Jaka dengan wibawanya, yang ada hanya laki-laki yang tengah dimabuk hasrat seksual. Nafasnya memburu. Matanya terpejam, saat dia mulai mendorong penisnya masuk ke dalam liang senggamaku.

” UUuuuuuuuuuuuuuuuuuuuu”, aku mengikutinya memejamkan mata, dibarengi desahan pelan.

Penisnya kurasakan mulai masuk sempurna di dalam vaginaku. Jaka mulai menggeram tertahan, tak sanggup merasakan kehangatan serta kerapatan vaginaku.

Penisnya yang tertanam, mulai diangkatnya perlahan sampai seperampatnya terangkat, kemudian disodoknya lagi masuk ke dalam.

” Oooooooohhhhh Siiiiintaaaaa”.

” Uhhhhhhhhhhh ahhhhhhhh Masssssss”, kubalas racauannya.

Sodokannya perlahan, mulai sliding dengan lancar. berulang-ulang ditumbuknya liang senggamaku. Jaka menindihku dengan konsentrasi yang begitu terfokus. Diciumnya kini bibirku , sambil penisnya berusaha terus menyodok. Membalas gerakannya, mulai kupuntir pantatku, untuk membuat gerakan memutar pada vaginaku, ini kulakukan agar penisnya merasakan terpelintir oleh otot vaginaku.

” ooooooooooooooooohhhhh”, Jaka makin gila menggeram.

Terus kuputar pantatku. jaka menghentikan gerakan putaranku dengan tangannya. Wajahnya tampak merah padam membiru tak sanggup menghadapi puntiranku.

Diciumnya bibirku. Sambil membalas ciumannya, kueratkan kuncian kakiku dipinggangnya, untuk semakin memperdalam penetrasinya.

” mmmmmmmmmmmm”, Jaka semakin tak kuat.

Sambil mengunci kaki, mulai kukocok penisnya di dalam vaginaku, dengan menggerakkan pantat turun naik secara mandiri.

” Sintaaaaa kamuuuuuuu…………………”, melotot Jaka dengan ekspresi campur-campur.

Terus, kunaik turunkan tubuhku dengan gerakan yang makin cepat, tanpa memberinya kesempatan untuk menunda ejakulasinya.

Dari dalam liang cintaku sendiri, rasa gatal nikmat memang sudah tak sanggup kutahan lagi. Desakan untuk meletupkan kegatalan ini, membuatku semakin memacu pinggulku agar gesekan penis di vaginaku makin terasa.

Ketika gesekan itu telah terpusat di titik yang tepat, bersamaan dengan itu seluruh aliran darahku berkumpul di titik itu. dalam gerak lambat penis Jaka terasa menggesek dan menumbuk titik itu dengan penis kerasnya, hingga akhirnya tanpa dapat kutahan, membuatku meledak tak terkendali.

” Ahhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhh”, kucakar punggung Jaka, sambil terus mengangkang memompa vaginaku agar semakin cepat menggesek penis Jaka.

Rasa orgasme itu begitu nikmat. Bukan orgasme biasa. tapi sebuah ledakan akibat rasa gugup, binal, terkejut, bingung menjadi satu. Terus kucakar bahu jaka. Puntiranku tidak kuperlambat justru kupercepat.

” Sintaaaaa akuuu mau keluarrrrrrrrr”, Jaka mencabut penisnya, dan mengarahkannya ke payudaraku, ” Sintaaaaaa…….croooot….crooot…croooooot”, deras penis itu memancarkan air mani yang begitu kental. Tubuh Jaka mengejang hebat diatas tubuhku.

Setelah semuanya tertumpah rebahlah dia diatas tubuhku. Nafas kami sama-sama tak beraturan.

” Terima kasih Sinta, kamu cantik sekali”, Jaka berbisik dengan nafas tersengal.

” Komanndan…..”.

” Panggil saja Mas Jaka”.

” Harusnya aku yang mengucapkan terima kasih Mas”, balasku. Kami kembali berpelukan mesra.

Jaka segera terlelap dipelukanku. Meninggalkan aku yang begitu kebingungan. Sekarang begitu aneh kisah cintaku. Aku sudah memiliki pacar, namun kini pacarku itu terbelit kasus yang mengancam karirnya dan juga karirku. Burhan sebagai atasanku malah ingin memancing di air keruh terhadap kasus itu. Sekarang ada yang lebih parah, aku tengah dibekap oleh seorang perwira tampan, yang tanpa basa-basi menggunakan wibawanya untuk meniduriku dan tanpa rasa bersalah, aku justru menyambut nafsunya.

” Wahai cahaya mentari, apakah esok engkau masih bersinar untuk menghangatkan hidupku yang tak dapat ditebak ini??”, gumamku dalam hati

Bersambung