Polwan Part 9

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10

Cerita Sex Dewasa Polwan Part 9 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

 Cerita Sebelumnya : Cerita Sex Dewasa Polwan Part 8

DANCING FOR YOUR LIFE

Malam itu terasa begitu cepat berlalu. Dengan penuh kemesraan, kami terus berpelukan sambil bergandengan tangan sepanjang perjalanan pulang. Rasanya tidak seorangpun dari kami berdua yang akan melupakan kenangan indah peristiwa sore tadi. Aku sangat ingin mengulang kembali percumbuan panas kami di bibir pantai.

Gadis mana yang tidak terbuai, ketika berada dalam dekapan kekasih sambil ditemani redupnya sinar mentari yang hendak kembali ke peraduannya. Selalu kuceritakan pada teman sekamarku Sinta, betapa Alex selalu membuatku ketagihan.

Malah aku seperti kecanduan romantisme permainan yang dihidangkannya. Buat kaum Adam mungkin, sesi bercinta segera menghilang pesonanya begitu mereka mengeluarkan laharnya. Namun buat kami, kemesraan dan keintiman yang dibangun dalam sebuah foreplay yang panjang dapat bertahan selamanya.

” Mbak Tantri….”.

” Apa Lex?”.

” Makasih banyak ya udah nglindungin Alex. Seharusnya Alex yang nglindungin Mbak, tapi….”.

” Hush kamu gak usah mikir yang macem-macem! sepasang kekasih itu harusnya memang saling mengisi satu sama lain. Gimana kondisi perutmu udah baikan belum?”.

” Sangat baikan Mbak, apalagi udah disembuhin sama Mbak he he, jadi bukannya sakit malah jadi tambah sehat, plong dan nikmat deh. Kapan donk Mbak si Junior dapat jatah lagi???”.

” Dasar kamu masih mesum aja ya Lex”, ujarku memukul lengannya. Ini salah satu momen yang selalu membuatku rindu padanya, candaan-candaan “nakal” yang penuh romantisme.

Alex mungkin tidak pernah menyadari betapa besar efek yang ditimbulkannya pada diriku akibat “joke” nakalnya. Wanita adalah makhluk seksual, hanya dengan berfantasi saja sebenarnya kami mampu memasuki dimensi kenikmatan yang begitu menghanyutkan.

Walaupun kami terus bergandengan seakan tak ingin dipisahkan, toh akhirnya sang waktu pula yang memaksa kami berpisah. Kami telah tiba di hotel. Bagaimanapun letak kamar yang dipisahkan oleh sekat, mengingatkan kami bahwa selayaknya kami mesti banyak bersabar.

Meski begitu cinta atau nafsu selalu gelap mata dalam menuntut kebutuhannya. Tak terkecuali kami berdua yang sedang dimabuk asmara, cinta dan nafsu telah bercampur menyelimuti kami. Dengan balutan kedua unsur itu jualah kami berdua terus berjalan hingga akhirnya tiba di depan pintu kamar Alex,

” Nah akhirnya kita sampe juga Lex! sekarang giliran kamu yang istirahat ya sayang!”, sambil menghiburnya kubantu Alex membuka pintu kamar.

” Sekali lagi maksih banyak ya Mbak! atas pertolongannya hari ini”.

” Iya ganteng itu tugas Mbak. Ingat motto kami itu ; ” melayani dan melindungi masyarakat”, inilah salah satu tugas Mbak untuk melindungi kamu, jadi gak usah dipikir macem-macem ya. sekarang kamu istirahat saja!”, kukatakan hal itu sambil mengecup keningnya.

Setelah Alex masuk ke kamarnya, aku menuju ruanganku. Kubuka gagang pintu kamarku dengan tidak sabar, bagaimanapun aku juga mengalami kelelahan akibat perjalanan ini dan ingin beristirahat. ” Ahhhh udara malam di Pulau Dewata begitu asri”, kataku pada diri sendiri sambil merebahkan diriku di ranjang yang telah tertata rapi. Kupejamkan mataku, sebagai upaya refleksi untuk mereview kembali pengalaman seharian ini.

Perjalanan impianku akhirnya terwujud bersama pria yang sangat kucintai. Masih segar dalam ingatan, bagaimana dulu aku adalah seorang Polwan yang begitu setia dengan tugas sampai tidak pernah berpergian kemanapun, selain di seputaran kabupatenku itu. Semua ini terus berlangsung hingga datangnya Alex.

seorang laki-laki normal, bukan anggota, namun mempunyai keberanian untuk menjalin hubungan denganku. Semua orang yang telah mengenalku sebelumnya mahfum bagaimana caraku memperlakukan laki-laki ; cuek, pasang muka jelek dan jutek.

Namun apa daya semua itu tak berlaku dihadapan Alex. Pria ini seolah memiliki “sex appeal’ yang begitu pas denganku. Aku berani membayangkan, bila kami berdua ditinggal di pulau tak berpenghuni, hanya dalam hitungan detik, pasti, kami sudah saling terkam satu sama lainnya.

Lihatlah bagaimana Alex begitu berani menciumku dengan teramat mesra ditengah keramaian bandara. Alih-alih menolaknya, bukankah aku malah menyambutnya dengan begitu liar?. Alex denganku ibarat dua mahluk yang dijodohkan oleh libido seksual yang sama-sama tinggi.

Terus kuingat kembali momen demi momen peristiwaku dengannya yang seperti kenakalan remaja. Peristiwa pantai tadi sore tentu membuatku sedikit merinding. Betapa nakalnya aku menggodanya dalam balutan bikini sexy.

Bahkan setelah itu, setan mana yang mampu menggerakkanku untuk “mengubek-ubek” kemaluannya sedimikian rupa hingga tumpah ruah isinya di mulutku sendiri. Rasanya bulu kuduk di tengkukku berdiri sendiri mengingat “kebinalanku”., Begitu mudah gairahku bangkit kembali hanya dengan membayangkan hal itu.

Malam ini, merasakan tensi tinggi akibat gairah yang membuncah, aku memutuskan tidur telanjang. Rasanya tidur dalam keadaan bugil dapat membuatku merasakan kembali kenikmatan demi kenikmatan yang telah diberikan Alex pada tubuhku. Akhirnya tanpa berbalut satu helai pakaianpun, aku terlelap.

***

HARI KEDUA

” Brrrrt…..Brrrrtttt…….Brrrrrrrrt”, Bunyi getar handphone yag begitu keras menyadarkanku kembali. rasanya baru sebentar aku memejamkan mata sebelum dibangunkan oleh getarannya.

Kulihat siapa gerangan yang berani mengganggu mimpi indahku sepagi ini.
Agak terkejut diriku ketika melihat ternyata Alex yang menelponku. Ada apa gerangan dengan dirinya??apakah sakitnya kambuh lagi?.

” Halo Lex ada apa???”, kuangkat telponnya.

” Mbbbbakkk toloong Alex…. sakit sekali perut Mbakkk”, raungnya dengan nada suara yang penuh kesakitan.

” Sakit apa kamu Lex??”, aku mulai panik.

” Gggggak tau Mbak, kayaknya bekas pukulannya kambuh…sakit Mbak….ulu hati Alex kayak mau pecah…”.

” Ok kamu tenang baring dulu, gak usah panik!!!! Mbak segera ke kamarmu”, kuputus telponnya, sambil bergegas mencari pakaian apa saja untuk menutupi tubuhku yang masih polos. Kulihat di lemari ada mantel mandi lembut yang berwarna putih segera kukenakan.

” Dug..dug..dugg…”, kugedor pintu kamar Alex.

” Buka Lex!”, kataku sambil membawa hanphone siapa tau diperlukan.

” Ckelllek”, pintu akhirnya dibuka dengan Alex yang menyambutku dengan wajah pucat pasi.

” Mana yang sakit?? Gimana ulu hatimu”, kurangkul dia.

” Aduuh ini Mbak sakit”, ujarnya sambil membuka bajunya di hadapanku.

” Iya yang mananya yang sakit??”, aku semakin panik juga kebingunan.

” Iniii Mbak”, keluhnya sambil tangannya memegang perut, ” dilihat deh Mbak perutku jadi biru begini”, tunjuknya agar aku menengok perutnya.

” Mana sih Lex?”, aku memicingkan mataku mendekati perutnya berupaya melihat tanda biru yang ditunjuknya.

Ketika aku tengah mencari-cari tanda sakit di perutnya Alex membuatku terkejut.

” Hap “, ditangkapnya rambut pendekku, kemudian dijambaknya untuk tertengadah ke arah wajahnya.

“Apa-apaan Alex ini”, batinku dalam hati sambil berusaha memegang tangannya yang menjambak.

Begitu cepat dia menjambakku dan membawa wajahku untuk bertatapan dengan mukanya yang penuh dengan kekuasaan karena berhasil memperdayaku.

” Gak ada yang sakit cantik he he! aku hanya ingin menipumu”, bisik Alex sambil menendang daun pintu agar tertutup. Begitu cekatan tangannya menjepitku dan mencium bibirku dengan ganas.

” Llleexx uugggghhhh”, tersumpal bibirku dengan mulutnya.

Awalnya ingin kuhentikan serangannya dengan teknik membuka kuncian yang kukuasai, namun merasakan begitu besar gairahnya membuatku memutuskan pasrah saja menerima ” permainannya. Handphone yang kubawa juga ikut terlempar ke lantai akibat ulahnya.

” Mmmmmm”, kami berciuman dengan ganas. Alex terus menyerbuku tanpa memberi waktu untuk bernafas. Kini dia menyudutkan tubuhku pada tembok dekat ranjangnya. Jambakan pada rambutku tidak juga dilepaskannya.

” Oouuugghhh”, sedikit aku melenguh kesakitan, saat dengan sengaja Alex semakin menjambak rambutku membuat wajahku jadi terdangak memandang langit-langit.
Dalam posisi mendangak ini bibirku jadi terbuka akibat daguku yang tertarik.

Kulirik wajah Alex yang kini tampak begitu berkuasa. Sangat jauh dari gambaran seorang pria “limbung” yang habis di KO oleh tiga orang asing, lalu kupaksa ejakulasi menggunakan mulutku sore sebelumnya.

Cukup lama kami saling bepandangan dalam posisi tubuhku yang tersandar di tembok dengan rambut terjambak. Lebih tepatnya berpandangan penuh nafsu dan gairah. Bukankah kami berdua memang mempunyai ” sex appea”l yang begitu panas. Saling bertatapan saja telah membuat kami berdua saling “membakar”.

” Sekarang kamu milikku Tantri! akan kunikmati kamu dari ujung rambut sampai ujung kaki”, bisik Alex sambil hidungnya mulai menghirup roma tubuhku.

” sniffff…sniff…sniffff”, dengan nafas yang begitu dalam Alex menghirup wangi tubuhku. Dia seolah begitu terangsang hanya dengan mencium aroma tubuhku.

” Ouuugh kamu begitu wangi Tantri, aromamu langsung membuatku “ngaceng”, katanya sambil langsung menjulurkan lidah dan mulutnya masuk begitu dalam ke mulutku.

Mmmmm Begitu dominan ciumannya, persis seperi saat di bandara. Jambakan di rambutku membuatku tak berdaya, begitu pasrah menerima pagutannya. Begitu pula saat tangannya memegang daguku untuk semakin tertengadah, membuat leher jenjangku tersaji indah dihadapannya siap dinikmati. Tersengat oleh pesona leherku, lidahnya segera meluncur untuk menjamah pori-porinya. Garis- garis tipis yang membentang berputar di leherku, dihisapnya tanpa ampun.

” Ahhhhhh….ahhhhhhh……ahhhh..”, aku mulai terangsang.

Bagai adegan dalam film vampire, Alex berperan sebagai Dracula yang menancapkan gigi taringnya untuk menghisap darah yang mengalir di leherku. Dicium, jilat dan gigit leher jenjangku dengan begitu kelaparan. Ya Alex seperti orang yang telah lama tidak menikmati makanan, dan hanya bisa terpuaskan oleh nutrisi yang ada di balik permukaan tubuhku.

Mendapat perlakuan kasar seperti ini, ditambah “ketidak berdayaan” yang tiba-tiba menyelimutiku, aku mulai mengerang hebat.

” Ooouhh….ouuuhhhh”.

” Aggggghhhhhhhhh”, aku semaikin gila menerima gigitannya di leherku. Entah kenapa kekasarannya malah membuatku semakin lupa daratan.

Kupejamkan mata untuk menambah kenikmatan. Ketika ciuman dan gigitannya tiba-tiba berhenti, langsung kubuka mataku untuk melihat apa yang terjadi. Saat membuka mata, aku bertatapan langsung dengan mata Alex yang kulihat telah terasuki nafsu birahi yang begitu hewani dan berkuasa.

” Ouuugggh”, tetap rambutku dijambak olehnya sehingga terus tertengadah. Lama dia hanya menatapku dengan tatapan hewani seperti ini, tanpa berkata apa-apa ataupun melakukan apapun.

Mulutnya tiba-tiba maju seakan hendak menciumku. Kubuka mulutku lebar untuk menerima cumbuannya, tapi..dia berhenti. Ditariknya kembali kepalaku agar menjauh, rupanya dia hanya ingin menggodaku. Rasanya lebih dari tiga kali dia bersikap hendak mencumbuku namun ditariknya kembali. Godaannya ini membuatku semakin penasaran.

” Biasanya kamu yang berkuasa Tantri! sekarang giliranku yang berkuasa! jadi kamu nurut aja Polwanku yang manis”, ujarnya sambil menempelkan hidungnya di wajahku.

Digeseknya seluruh wajahku dengan hidungnya, digodanya terus bibirku dengan menggeseknya berputar di celah luar bibir atas dan bawah. Ketika dirasa cukup godaannya kepada bagian luar bibirku, seketika itu juga dicumbunya dengan ganas mulutku yang terbuka.

” Ummmmmmm”, aku mendesah tertahan saat lidahnya mulai menusuk ke dalam rongga mulut.

Sambil mencium, dilepas jambakan tangannya di rambutku. Tangannya kemudian beralih untuk bergerak ke bawah berusaha membuka ikatan mantelku. Dicarinya dengan tidak sabar simpu-simpul yang menutup mantel itu, kemudian berusaha dikoyaknya dengan gairah yang menyala-nyala.

Mantelku tak mampu bertahan lama, dalam waktu singkat Alex telah berhasil mengoyaknya lepas dari tubuhku. Tentu saja segera dia temukan bahwa aku tidak mengenakan apapun di balik mantel itu, tampak dia sedikit terkejut, namun segera menyeringai penuh kemenangan. Wanita berbikini merah yang begitu lama menggodanya kemarin, kini telah telanjang bulat dihadapannya.

” Cantik, kamu nakal sekali masuk ke kamarku udah dalam keadaan telanjang begini”, bisiknya,” hmmmm semua sudut tubuhmu ini adalah impianku Tantri,pelampiasan “coliku” di sudut kontrakan, mimpi apa aku semalam, akhirnya dapat menikmatinya”, terus dielusnya seluruh perutku yang rata dan bebas lemak itu.

Berputar tangannya dari perut bawahku, menyamping menuju pinggang dan panggulku, kemudian naik ke perut atas yang berbatasan dengan payudara. Dari sana tangannya naik menuju perbatasan bahuku kemudian memija-mijat kecil permukaan luarnya.

” Angkat tanganmu ke atas Tantri!!”.

” Mbak belum mandi Lex…malu”, mendengar itu langsung dijambaknya rambutku lagi dengan kasar.

” Gak ada “Mbak lagi disini!!! yang ada hanya Tantri! dan Tantri harus nurut sama Alex!! ngerti!!!”.

” Iiiiiyyaaa…”.

” Iya Komandan! panggil aku Komandan Brigadir Tantri!”, bentak Alex dengan penekanan suara yang sangat tegas.

” Ayo panggil aku Komandan!!!”.

” Iiya siap Komandan Alex, Tantri nurut’, jawabku sambil mengangkat kedua tangan ke atas.

” Bagus! kamu makin cantik kalo nurut begini! gak usah cemaskan aromamu yang belum mandi! Kamu selalu cantik dan harum dimataku meski baru bangun tidur!”, bisiknya di telingaku sambil tangannya mengunci tanganku yang telah terangkat tinggi ke atas.

” Ummm harumnya ketiakmu Tantri..mmmm”, diendusinya ketiakku tanpa malu-malu, sebelum akhirnya dia jilati dengan brutal kedua ketiak itu bergantian.

Diawali dari yang kanan, dia telusuri celah nikmat ketiakku dari sisi luar atas, berputar hingga perbatasan lengan dan bagian samping tubuhku. Lanjut kebawah, tanpa melewatkan satu sentipun bagian itu tersiram oleh cairan ludahnya.

Saat dirasanya semua celah luar ketiakku sukses ditaklukkan, langsung diserbunya inti tengah ketiakku dengan jilatan yang dahsyat.

” Ouuuuuughhhh Komandannnnn ammmmpuuun…ahhhhh”.

” Ssslrrrrg……slllrrrgggg…..slllrrrggggg”, bunyi lidah Alex yang menggesek kulit ketiakku menjadi irama yang sangat merangsang.

” Hoooggghh ampuuuunnn Komandannnn”, bisikku dengan lenguhan dan jeritan yang begitu lepas, takk sanggup menahan birahiku yang sudah diujung tanduk. tak kupedulikan lagi apakah jeritanku dapat terdengar sampai ke kamar sebelah atau tidak.

” Slllrrgggg…..slllrggg….slllrrrgggg”, bagai tak kenal lelah, Alex terus menjilatiku dengan hebat hingga membuatku mendapat orgasme pertama, hanya melalui jilatan di ketiakku.

” Ouuuuhhhhhh…hhhhgggggggghhhhh’, aku orgasme hebat, dengan Alex yang terus menjilati ketiak sexyku.
Seakan memang berniat tidak memberiku kesempatan istirahat, dari ketiak bibirnya langsung menyosor ke payudara montokku.

” Komanndaaann ouuuuggghh suuuudahhh ammmm….puuunnn’, aku kembali histeris dalam posisi tangan tetap terangkat, saat Alex tak kenal ampun mengenyot pentil susuku.

” Cuuupp….hheeehhg…mmmmmmmm”, bunyi suaranya yang penuh nafsu ketika berhasil menikmati payudaraku dengan bebasnya. Tangannya terus mendukung bibirnya dalam mempermainkan tetekku. diremasnya payudara itu dengan kasar sambil lidahnya menyetrum putingku.

” auuuuuuugggggghhhhhh”, aku hanya bisa menjerit untuk menyalurkan kenikmatan yang membuncah.

Ibarat bayi yang menyusu pada ibunya, Alex menyusu padaku dengan begitu rakus. Saat asyik menyusu ini berkali-kali aku bergetar hebat karena derasnya orgasme yang datang berturut-turut Bagaimana aku tidak dibuatnya orgasme?, Dia bukan hanya menyedot atau mengenyot namun juga menggigit kecil serta memelintir susuku, menghadirkan rasa “nano-nano”, sakit, geli, nikmat dan cetar membahana.

” Leeex akuuuu basahhhh lagiiiii…..Ouuuuuugghhhh….myyy Goooddd……….”, terus aku mengalami orgasme akibat ulahnya .

” UUUugggghhh hahhh….hahhh….ahhhhhh…ouuuggghhh” deras rasanya cairan yang menyembur dalam rahimku akibat multi orgasme ini.

Selain menjadi begitu basah, akupun mulai bergoyang hebat, sambil berdiri, bagai orang yang bergoyang ngebor dalam kenikmatan. Alex hanya memandangku sambil tersenyum bangga ketika melihat aku tersetrum kenikmatan akibat tindakannya. Laki-laki pasti merasa begitu bangga saat berhasil membawa pasangannya terbang tinggi ke langit ketujuh.

” He he he nikmat Tantri??”

” Ahhhh sssssangat nikmat Komandan”.

” Mau lagi???”.

” Siiap Mauu Komandannnnn”.

” Hanya untukmu Tantri Hupppp”, Alex kembali menyerbuku dengan ciuman ganasnya kini dia mulai menjamah wilayah selangkanganku. Sepertinya dia mau menjelajah daerah baru.

” Trrrreeeett…treeeetttt..treeeet”, tiba-tiba kami berdua dikejutkan oleh bunyi getaran telepon yang berasal dari hand phoneku yang tadi terjatuh di lantai.

” Udah biarin aja siapa sih yang nelpon pagi-pagi begini ganggu orang aja!”, kata Alex sedikit kesal.

” Hushi siapa tau itu atasan Mbak, sebentar ya Mbak angkat dulu”,

” Huuuuh..”, dengus Alex tampak penuh kekesalan,

” inikan waktu cutimu Mbak! kok masih ada aja sih yang ganggu?? dasar!”.

” Alex!!! ini tugas Mbak! meski cuti juga harus tetap stand by! kamu harus sanggup menerimanya!”.

” Iiiya Mbak Tantri siap!!dah angkat aja tuh telponnya!Dasar gak bisa liat orang seneng!”.

” terima kasih banyak Sayang atas pengertiannya!”.

Kulihat ini panggilan dari Komandan yang memberiku cuti ini Pak Hendri, ada apa Beliau menelponku Subuh begini?.Apakah ada kondisi genting di Kantor? Semoga tidak. Penasaran langsung kuangkat telponnya;

” Halo, siap Komandan Hendri, perintah??”.

” Halo Tri mohon maaf Bapak mengganggumu pagi-pagi begini”.

” Siap tidak Komandan, mohon ijin ada apa Komandan?apa ada yang genting di kantor?”.

” Nggak Tri semua aman, gak ada apa-apa, kemarin bapak dengar dari Sinta kamu pergi ke Pulau Dewata ya??”.

” Betul Komandan mohon maaf belum sempat mengabari”, sambil menelpon dari kejauhan kulihat Alex merebahkan diri di ranjang, tak bisa menyembunyikan kekesalannya pada gangguan ini, ” Ada yang bisa Tantri bantu Komandan?”, aku melanjutkan percakapan dengan Komandan Hendri.

” Iya, kamu masih ingat gak Tri sama anakku Jaka?”.

” Siap masih ingat Komandan, Tantri gak bisa lupa sama dia si Jaka Jack”.

” Makasih kamu masih ingat sama putraku Tri. Hanya kamu lho yang berani manggil dia jack. Sekarang dia baru saja lulus dari Akademi Kepolisian”.

” Wah hebat banget, berarti Komandan sudah punya penerusnya sekarang. Selamat komandan!”, sambil bicara, aku mulai berjalan sambil memakai mantelku kembali, berusaha melangkah menjauh dari Alex. Bagaimanapun aku masih merasa bersalah karena pekerjaanku mengganggu keintiman kami yang sudah diubun-ubun.

” Iya kamu pasti tau Tri, sejak di Akademi Jaka naksir berat sama kamu??”.

” Siap???masa sih Komandan?”.

” Betul Tri, Jaka selalu curhat ke Bapak soal ketertarikannya kepadamu. Sekarang dia sedang ada tugas di Polda Pulau Dewata, dan kalo kamu mengijinkan, serta tidak berkeberatan, pagi ini jam 9 dia mau jemput kamu. Gimana Tri bersediakah kamu??”.

“………….”,

Hening aku terdiam sesaat. Bagaimana ini??? Yang sekarang menelponku adalah Komandan Hendri yang begitu kukagumi. Sepanjang sejarah dinas di Kepolisian tidak pernah sekalipun aku menolak perintahnya. Gaby sebagai contoh, ketika diminta mengorek keterangan darinya, dengan berbagai cara aku berusaha manjalankannya. Tapi sekarang masalahnya, dari nada telponnya, Komandan Hendri terdengar sangat ingin menjodohkanku dengan putranya Jaka. Bila aku menyanggupinya bagaimana dengan Alex??.

” Tri??”.

” Siap Komandan, mohon ijin”.

” Kalo gak bisa gak apa kok Tri, nanti Bapak bilang ke Jaka kalo kamunya lagi sibuk”.

” Eeee bisa Komandan, nanti jam 9 Tantri siap”.

” Wah bener kamu bisa Tri?? Jaka pasti seneng banget. Malah Bapak ikut seneng kalo kamu sanggup”.

” Iya benar Komandan, mmm ijin Jaka gak usah jemput ke tempat Tantri Komandan! nanti biar Tantri yang berkunjung ke Polda untuk menemui dia. Bagaimanapun sekarang beliau adalah Inspektur Jaka, bukan Jack yang dulu. Sebagai Inspektur tentunya Tantri adalah anak buahnya dan harus menghormati pimpinan”.

” Tri dia tetep Jaka yang dulu, gak berubah. Kamu gak usah mandang pangkatnya ya!”.

” Siap Komandan”.

” Kalo dia kurang ajar sama kamu jangan ragu lapor ke bapak!”.

” Siap terima kasih atas perhatiannya Komandan”.

” Bapak yang ngucapin terima kasih banyak Tri, atas segala bantuan dan kasih sayang yang telah kamu berikan selama ini ke keluarga Bapak. Nanti Bapak ijin kasih nomermu ke Jaka ya! biar nanti dia yang menghubungi kamu langsung”.

” Siap Komandan Tantri jadi gak enak sama Komandan, kalo Komandan sampe minta ijin begitu”.

” Inikan bukan lagi masalah kedinasan Tri, tapi masalah hati, jadi Bapak yang harus minta ijin. Ok kalo begitu Tri nanti Jaka akan menghubungi kamu. Terima kasih banyak ya!”.

” Siap Komandan terima kasih”.

Kututup sambungan telpon dengan berjuta pikiran yang menari di benakku.

“Tri bagaimana ini, bukankah kamu mau liburan disini bersama Alex? kenapa kamu terima begitu saja permohonan Komandan Hendri??? Namun disisi lain bukankah kamu adalah bawahan sekaligus anak kesayangannya yang selalu patuh terhadap perintahnya ? lantas harus bagaimana Tantri???”, kicauku pada diriku sendiri.

Sambil memendam sejuta pikiran, kembali kumasuki kamar Alex.

” Bagaimana ya caraku memberitahukan kepadanya??. Bahwa di hari kedua liburan kami ini, aku akan membuat semua rencanana perjalanan yang telah disiapkannya untukku menjadi berantakan.”. Aku betul-betul bingung.

” Siapa yang nelpon Mbak??”

” Komandan Hendri Lex??”.

” Ada apa??”, tanyanya dengan sangat ingin tau,

” Mbak disuruh pulang??”.

Kutatap wajahnya yang penuh kekecewaan.

” Hush gak usah pikirin kerjaan mbak Lex, sampe mana kita tadi he he”, godaku padanya sambil melepas kembali mantel mandiku, dan langsung telanjang bulat di hadapannya.

Meski awalnya terlihat sangat kecewa, ketika melihat kemolekanku Alex mendadak bangkit sambil tersenyum nakal. Cekatan dia kembali memegang tengkukku dengan keras, mengulang kembali pertunjukan permainan kekuasaannya yang belum tuntas.

” Sampe mana?? hmmm sampe kamu orgasme sampai basah kuyup Tantri”, katanya sambil menatap lekat mataku.

” Aku bahkan belum basah Le…x”.

” Komandan! panggil aku Komandan Tantri!”

” Mmaaf, aku bahkan belum basah Komandan”, godaku sedikit sambil menantangnya.

” Mmmmuuuuumm”, dia langsung menciumku dengan brutal.

” Kalo gitu aku akan mandiin kamu sayang!”, ujar Alex sambil menggiringku masuk ke kamar mandi.

Ruangan kamar mandi hotel ini sederhana, tapi cukup bersih. Didalamnya tidak ada bath tube, hanya ada shower lengkap dengan handuk dan peralatan mandi.

Alex memelintir tanganku kebelakang. pagi ini aku menjadi tawanan baginya. Sambil memegang tanganku yang terlipat kebelakang, dihadapkannya tubuhku ke hadapan cermin kamar mandi dengan sorotan lampunya yang terang.

” Lihat tubuhmu sayang, sexy sekali bukan??”, katanya padaku.

Rupanya sensasi melihat pantulan diriku sendiri di hadapan cermin, ditambah adanya seorang pria yang asyik memegangi tanganku, menghadirkan rangsangan tersendiri.

” Apa yang kamu mau lakukan padaku Komandan??”, bisikku kepadanya dengan nada yang menggoda.

” Aku akan masukkan senjataku ini ke dalam sini Tantri”, jawabnya sambil tangannya mengolesi area vaginaku.

” Ummmmm”, aku mendesah tertahan, menerima rangsangannya di vaginaku yang telah gundul sempurna.

” tapi sebelumnya….mari kita mandi dulu..”.

Tergesa-gesa dia mendorongkku ke arah shower. Tanpa melepas kuncian tangannya, dengan satu tangan dia nyalakan semprotan shower dan airnya segera menyembur ke arahku.

” Brrruusssssssshhhhh”.

” Ouuuggghhhh”, aku sedikit gelagapan karena dihantam semburan air, dengan posisi Alex yang berada di punggungku untuk menahan tubuhku agar tak kemana-mana sekaligus mengatur bagian tubuhku yang harus mendapat semprotan air.

” Ahhhhhh Komandannnn Alex,,, oouuuggghh”, aku mulai gelagapan, ketika Alex mendorong tubuhku di suatu posisi yang membuat payudaraku deras tersiram air.

” Angkat tanganmu Brigadir! biar semua air memancar ke payudara montokmu”, Kini dia mengangkat kedua tanganku ke atas, kemudian melipat pergelangan tanganku ke belakang kepala dan menguncinya kembali.

kini aku seperti diborgol oleh tangannya, dengan air shower yang tak henti menyembur membasahi payudara, ketiak, perut, rambut, dan seluruh tubuhku.

” Kamu sexy basah-basahan begini sayang!! Ouuugghhhhh”, katanya sambil mendaratkan ciuman di bahuku.

Puas melihatku basah kuyup, dia melangkah ke hadapanku.

” Kamu sudah basah kuyup sekarang! Sekarang ayo kita ke kaca lagi”. ujarnya sambil kembali membawa tubuhku yang basah kuyup ke arah kaca rias.

” Tetap lipat tangamu ke atas sayang!, kamu nakal hari ini, jadi Komandan akan mengikat tanganmu”, diambilnya handuk kecil yang ada di atas jemuran, ,kemudian diikatnya ke kedua tanganku yang masih terlipat kebelakang kepala.

Setelah yakin ikatannya cukup kuat Alex berbisik kepadaku.

” Siapa Komandannya sekarang Tantri?? Dia yang tadi nelpon kamu ATAU AKU???”.

” Kamu komandannya Alex. Hanya kamu Komandannya”.

” Jangan kamu berani menurunkan tanganmu ya!!! Kamu nakal sudah mengangkat telpon tadi. Aku kecewa! sebagai hukumannya kamu jangan bergerak! apapun rangsangan yang akan kamu terima JANGAN KAMU BERANI BERGERAK! . Dan pastikan matamu tetap melihat ke cermin! Kamu akan lihat sendiri bagaimana ekspresi wajahmu yang dimabuk birahi!”.

” Sssiiap Komandan Alex, maafkan kesalahan Tantri tadi”.

Alex turun ke bagian bawahku. agak kasar dia paksa kakiku mengangkang. Dalam posisi kaki terangkat, dan tangan terangkat terikat kuat, aku menjadi begitu tak berdaya.

” OOuuugghhh ahhhhhhh…akkkkhhhh”.

Aku langsung mendesah hebat saat Alex dari bawah sana mulai mengoralku. Lidahnya dengan begitu lincah masuk menusuk, dan bermain-main di vaginaku yang terkangkang lebar.

” Oooooooouu Myyy Goooooodddd”, jeritku ketika Alex dengan tangannya membuka celah vaginaku, yang masih terlindung selaput keperawanan, dan mulai berusaha menyeruak masuk ke dalamnya. ada perasaaan enak sekali, sekaligus sakit yang mengiris ketika dia melakukan itu.

Ekspresi wajahku di cermin benar-benar terlihat binal. Setelah awalnya wajah itu begitu normal, kini warna merah di seluruh pori-pori wajahku mulai terhampar. Hal ini masih ditambah dengan ekspresi campur-campur yang mewarnai eksotisme wajahku. Perintah Alex sudah jelas, pandanganku tidak boleh beralih dari cermin. pantulan kaca yang tiap detik kulihat menampilkan sosok wanita yang histeris menahan ledakan dalam kemaluannya yang bia saja meledak kapanpun.

rasanya tak lama ketika Alex tadi memulai serangannya, aku langsung merintih mendapat orgasme ketiga hari ini. Kenapa terlalu cepat?? tampaknya melihat kebinalan wajahku sendiri membuatku segera meledak.

” aggghhhhh ahhhhhh ahhhhh uuuuu………”.

Aku orgasme hebat dengan kepala yang tertengadah ke langit-langit. tak sanggup kupandang lagi wajahku di cermin dan kupejamkan mataku. Rasanya begitu hebat rasa orgasme yang ketiga ini, hingga aku harus beringsut mundur merapatkan punggungku ke dinding agar tidak terjatuh.

” He he he enak Tantri!”

” Huhh…huhhh…huhhhh enak banget Kkoomandan Alex..huh..huhhh..”.

Merasakan telah berhasil membuatku orgasme Alex melepas ikatan di tanganku, hingga tanganku kini bebas.

” huhhh…huhhh…huhhhhh”, aku masih terengah-engah akibat orgasme yang diberikannya.

” He he he nikmati sampai tuntas sayang”, goda Alex sambil memegang punggungku.

Kami berdua dipersatukan dalam daya tarik seksual yang sama- sama besar. Bersama kami ingin berpetualang menikmati setiap lekuk tubuh pasangan dan begitu ketagihan untuk membuat puas pasangan kami. Saat Alex berhasil berkali-kali membuatku orgasme, apakah akan kudiamkan dia begitu saja?? tentu saja tidak.

Ketika Alex sedikit lengah, kulancarkan serangan balik kejutan dengan memelintir tangannya untuk menjatuhkannya ke lantai.

” ouuugghhh”, lenguhnya agak kesakitan. Begitu dia roboh, tanpa menyia-nyiakan waktu kuikat tangannya ke tiang dekat wastafel kaca rias menggunakan handuk yang tadi digunakannya untuk mengikatku.

” Sekarang giliranku Komandan Alex!”. kataku sambil mulai memberikan hand job kepadanya.

“Aaaagghhhh shiiiittttt fuccckkkkk, Tantri kenapa??? Ahhhh aku Komandannya Tantri ahhhhhh”, Alex terus menjerit-jerit seakan tidak terima perannya kuambil alih.

Rasanya begitu berkuasa diriku, melihat Alex terlentang sambil terikat meronta-ronta , dan tanganku begitu asyik mengocok-ngocok kemaluannya yang telah ereksi maksimal. Ekspresi wajahnya yang histeris menjadi hiburan tersendiri buatku. Yang paling membuatku senang adalah ejakulasinya sepenuhnya berada dalam kendaliku.

Kukocok begitu kencang penisnya seolah ingin membuatnya ejakulasi namun kemudian kuhentikan. Bagaimana ekspresi wajahnya ketika menerima perlakuan itu??oow dia kesetanan. Bayangkan peristiwa itu kuulang sepuluh kali, kemudian kutambah sepuluh kali lagi, bukankah weajahnya menjadi merah padam kehitaman karena ejakulasinya tak kunjung sampe?.

” Tantrii ampuuun jangan dipermainkan begini anuku, buat aku nyemprot Tantri!”.

” Bawa kamu ngapain Komandan?? Tantri gak dengar”.

” BAWA AKU NYEMPROT TANTRI OOO FUCKKK KENAPA KAMU BERHENTI LAGI….AHHH”.

” Ooow Komandan Alex mau nyemprot??”.

” Iya Tantri please!”.

” Yang keras donk Komandan ngomongnya!”.

” Ahhh shiit TANTRI PLEASE BAWA AKU NYEMPROT SAYANG!!!”

” Siap As Your wish Komandan hup”, kukocok sekencang-kencangnya penisnya agar segera lepas beban di ubun-ubuunnya.

” crrrrotttt…crooottt…crooot..”, tak lama kukocok, lahar putih yang tertahan lama itupun akhirnya kembali tumpah ruah ditanganku.

” Aggggghhhh Tantriiiiii…..KAMU NAKAL AHHHHHHHH”, jerit Alex tak tertahankan saat akhirnya kuantar menuju ejakulasi yang super.

Kubiarkan seluruh denyut dan getaran di tubuhnya yang begitu histeris berhenti dengan sendirinya, kemudian kupeluk dengan mesra tubuhnya yang masih terikat. Tak lama ikatan itupun kubuka dan kami untuk pertama kalinya dapat mandi bersama. Dengan penuh kemesraan kami saling menyabuni dan bergantian tersiram air yang memancar deras dari atas shower.

Akhirnya ritual mandi kamipun selesai. kembali kukenakan mantelku, sedang Alex hanya mengenakan handuk membelit pinggangnya.

” Lex”.

” Iya Mbak?”.
” Mbak mau minta maaf banget”.

” kenapa Mbak??”.

” Pagi ini Mbak harus ke Polda ada tugas dari atasan yang menelpon tadi”.

Wajah Alex seketika berubah kecewa dan emosional.

” Kok gitu sih Mbak???Liburan inikan aku rancang buat Mbak, karena Mbak sedang dapet cuti. Kenapa??Kenapa ditengah cuti juga Mbak masih harus diganggu sama kerjaan??Lagipula inikan di Pulau Dewata, jauh dari kabupaten kita. Kenapa Mbak????”. Alex memberondongku dengan rentetan pertanyaan yang begitu banyak.

” Lex, dengerin Mbak dulu”.

” Alex kira hanya di daerah kita aja Mbak harus kerja siang malam, Di pulau ini yang jaraknya ribuan kilometer dari tempat kita, kenapa masih juga Mbak harus kerja????”.

” ALEX DENGERIN MBAK DULU!!!”. Bentakku kepadanya agar sejenak berhenti bicara, dan mendengar alasanku.

” Mbak itu Polisi Lex kamu jangan lupa! wilayah kerja kami ya di seluruh penjuru negeri ini. Inilah resiko yang kamu harus tanggung bila berani pacaran sama Mbak. Harus sanggup setiap saat merelakan Mbak berangkat tugas ketika dibutuhkan. TUGAS KEPADA NEGARA ADALAH YANG UTAMA DIATAS SEGALANYA Lex “.

Kulihat wajahnya mulai dapat menerima penjelasanku.

” Masih cinta gak kamu sama Mbak, bila melihat tuntuntan kerja Mbak yang seperti ini???”.

” Alex tetap cinta mati sama Mbak. tapi….”.

” Tapi apa Lex??”

” kapan waktumu bisa full buatku Mbak??”.

Aku terdiam. ini pertanyaan yang tak dapat kucari jawabannya. selama aku masih mengabdi pada Negara, entah kapan waktuku dapat total kucurahkan untuknya.

” Mbak gak tau Lex”.

” Ya udah Mbak, Alex rela pagi ini Mbak pergi ke Polda, hati-hatilah dijalan ya Mbak!”, katanya sambil masih memendam kekecewaan.

” Maafin Mbak ya sayang..Mbba…….”.

” Udah gak usah bicara apa-apa lagi Mbak, Tugas untuk Negara adalah yang utama. Alex ngerti”.

Itulah percakapan dialog terakhirku dengan Alex pagi itu. Mungkin karena saking kecewanya, atau mungkin ngambek terhadapku, dia tidak menemaniku sarapan pagi. Alex tidak keluar dari kamar sepanjang pagi itu.

” Lex Mbak berangkat dulu ya! kamu jangan lupa makan!”.

Kembali tidak ada jawaban dari dalam kamar. Aku memutuskan harus meninggalkan Alex pagi ini, meskipun dia masih ngambek, karena jadwal pertemuanku dengan Inspektur Dua Jaka jam 9 tepat pagi ini. Bergegas aku membooking taxi kepada pihak hotel. Sebenarnya aku masih sangat merasa bersalah terhadap Alex tapi harus bagaimana lagi.

Ketika akhirnya taxi yang kutunggu datang, segera kunaiki untuk membawaku menuju Polda tempat pertemuan dengan Inspektur Jaka.

” MBAK TANTRI KETEMU DI KANTIN DEPAN POLDA AJA YA, GAK USAH MASUK KE DALAM MARKAS”.

Itulah salah satu sms yang dikirimkan Jaka kepadaku. Kuturuti kemauannya saat melihat posisi kantin yang dimaksudkan, dan meminta Pak Sopir berhenti tepat di depannya. Ketika hendak membayar, tiba-tiba muncul sosok seorang pria tinggi tegap yang langsung mengetuk pintu mobil.

” Udah Mbak Biar Aku saja yang bayar!”, ujarnya dengan senyum menawan tersungging di bibirnya.
Dengan sigap dia segera menyelesaikan pembayaran dengan pengendara taxi.

” Selamat siang Mbak Tantri, apa kabar? masih ingat sama Jaka?”.

” Siap masih ingat Komandan”, jawabku dengan posisi sikap sempurna penuh penghormatan terhadapnya.

Meskipun usia Jaka lebih muda dua tahun dariku, namun kini dia adalah seorang Inspektur Polisi dengan pangkat yang jauh diatasku. Secara hirarkis maupun peraturan korps aku harus menghormat kepadanya.

” Gak usah begitu Mbak Tantri! biasa aja Jaka masih seperti yang dulu kok! ayo naik mobilku saja biar kita gak kelamaan disini!”.
Kuturuti kemauannya dan naik ke mobil sedan warna hitamnya yang diparkir tak jauh dari kantin.

” Lama tak jumpa Mbak semakin cantik saja!”, ujar Jaka sambil memperhatikan penampilanku. Hari ini aku memilih menenakan kemeja ketat pendek berbahan dingin, dibalut celana jeans ketat. Kuanggap penampilanku tidak istimewa, seperti Polwan pada umumnya saja. Tentu tak bisa disamakan pakaian yang kukenakan sekarang dengan yang biasa kupentaskan ketika berhadapan dengan Alex.

” Biasa aja, Komandan Jaka, penampilan saya begini saja dari dulu”.

” Udahlah Mbak gak usah panggil Komandan, dulu juga Mbak biasa godain aku pakai nama jack segala kan ha ha?”.

Aku sedikit tersipu. bagaimanapun hubunganku dengan Jaka memang telah berlangsung lama. Sebenarnya kami bukan berpacaran, justru lebih tepatnya saling menghargai. Sejak aku lulus pendidikan Bintara Polwan dan langsung ditempatkan di Kabupaten tempat tugasku sekarang, aku memang hidup jauh dari keluarga. Saat itu Komandan Hendri yang begitu baik terhadapku sering menganggapku sebagai anaknya sendiri, dan menyuruhku sering main ke rumahnya bila tidak ada tugas.

Saat itu Jaka masih kelas 3 smu. Dia anak pertama dari tiga bersaudara. adiknya masih kecil-kecil. Saat pertama kali mengenalnya, kata pak Hendri, dia anak yang sangat nakal. Kerjaannya balapan motor, berantem dan gonta-ganti pacar. Kata Pak Hendri, sudah habis kesabarannya membujuk Jaka agar mau mengikuti jejaknya menjadi Polisi. ” Anak itu sudah susah sekali diatur”, demikan kata Komandan Hendri kepadaku dalam sebuah kesempatan.

Namun kabar yang kudengar dari keluarganya, Jaka mulai berubah berkat melihat kedatanganku pada suatu sore. Saat itu masih berbusana Pakaian seragam Lantas, aku berkunjung ke rumah Komandran Hendri. Pada waktu yang sama Jaka baru pulang sekolah dan melihat penampilanku. Dalam pandangan pertama ini Jaka terlihat sangat terpesona pada kecantikanku. Kata Pak Hendri kemudian dia jatuh cinta padaku, pada pandangan pertama.

Aku sendiri tidak pernah salah tingkah dihadapannya. Malah aku sering meledeknya bila kudapati dia masih asyik bermain motor sampai malam hari. Dalam sebuah kesempatan kutegur dia, ” Woi Jack, kamu kapan belajarnya main motor terus! kasian tuh Ibu sama Bapakmu khawatir terus sama masa depanmu. Ayo masak kalah sama Mbak, gini-gini walau banyak kerjaan, belajar tetap yang utama buat Mbak. Masak tukang balapan kalah sama perempuan soal belajar?? malulah Jack”.

Mungkin karena ledekanku itulah dia jadi semangat belajar, dan tak lama berselang kudengar dia berhasil di terima masuk ke Akademi. Sejak Jaka masuk Akademi, hingga detik ini, aku tidak pernah lagi mendengar kabar darinya.

” Iya Mas Jaka. Kupanggil Mas saja ya. bagaimanapun kamu sekarang atasanku dan harus kuhormati”.

” Mas Jaka boleh deh Mbak, enak juga didengernya nama itu”.

” Apa kabarmu Mas?? gimana kehidupan di Akademi? rasanya udah lima tahunan kita tidak ketemu??”.

” Baru tiga setengah tahun kali Mbak, jangan dilama-lamain donk. Kehidupan di Akademi sangat displin Mbak. Awalnya sangat berat, sering rasanya aku ingin kabur saja dari sana, untungnya…”

” Apa untungnya Mas??”.

” Ada dirimu yang selalu menemaniku Mbak dalam tiap relung kesedihanku di sudut Akademi”.

” Becanda kamu Mas! aku bahkan belum pernah menginjakkan kakiku disana, gimana caraku membantu Mas??”.

” Iya bener! emang Papa belum pernah cerita ya, perihal foto Mbak yang selalu nyelamatin Aku selama pendidikan?”.

” Nyelamatin kamu Mas?? belum tuh Komandan gak pernah cerita. Gimana ceritanya sih Mas? kamu buat aku penasaran saja”.

” Jadi gini ceritanya Mbak ; waktu pendidikan di Akademi, setiap Junior diharuskan membawa foto pacarnya oleh para Senior. Sering ajang ini menjadi momen untuk saling pamer kecantikan pacar masing-masing. Seorang Taruna dengan pacar yang cantik akan dipuji-puji, sedang yang belum punya foto pacar akan diledek abis-abisan. Tau gak Mbak, berkat fotomu aku selalu menang dalam kontes itu, bahkan semua seniorku sepakat memuja kecantikanmu sewaktu kutunjukan fotomu kepada mereka. Kata mereka, “hebat banget kamu, belum juga lulus udah dapet pacar Polwan cantik banget kayak bintang film begini, minta nomer hapenya donk”, tapi kamu gak usah khawatir Mbak tentunya tidak ada diantara mereka yang memujamu itu berhasil memperoleh nomer ponselmu”.

” Fotoku Mas? perasaan aku gak pernah kasih fotoku ke kamu”.

” Iya Papa yang kasih”.

” Ahh pantas. waktu itu Komandan memang pernah minta fotoku, perintah Beliau katanya harus make baju dinas tapi bergaya yang cantik, kuturuti saja keinginan Beliau waktu itu karena memang gak tau mau diapakan foto tersebut. Gak nyangka ternyata foto itu akan dikasihin buat kamu Mas. O ya ngomong-ngomong, dulu kamu kan banyak banget pacarnya. Kenapa di Akademi yang dibawa malah fotoku??, pacarmu dulukan cantik-cantik semua, ada yang cheerleaders, model sampul, anak pejabat…”.

” Tapi gak ada diantara mereka semua yang menandingi kecantikanmu Mbak. Sejak aku pertama melihatmu aku langsung jatuh cinta kepadamu. Kamu bagaikan bidadari yang turun ke bumi. Begitu kusesali hidupku, kenapa sepanjang perjalanan hiduku tidak pernah menyadari adanya kecantikan yang begitu indah seperti dirimu. Kehadiranmu membuatku memutuskan hubungan dengan semua pacarku. Dan secara otomatis di dompetku yang ada hanya fotomu”.

Ujarnya sambil mencabut dompet, dan membuktikan ucapannya dengan memperlihatkan fotoku empat tahun yang lalu masih menempel lekat di dompetnya.

” Untuk Mbak ketahui , di angkatanku Mbak itu adalah wanita paling cantik yang sangat ingin dilihat oleh sesama Taruna. Mereka selalu bertanya kapan Mbak akan di bawa ke asrama. Sayang keadaan membuat hingga lulus mereka belum pernah melihat secantik apa Mbak yang sebenarnya”.

” Aku ini gak cantik Mas. Hentikan nyebut-nyebut seolah aku itu begitu cantik, sebab itu dusta. Mungkin Itu karena pengaruh fotoku aja Mas, jaman sekarangkan foto itu gampang diedit.

” Mbak denger aku ya, MBAK ITU CANTIK ALAMI TITIK. Banyak wanita sekarang memoles penampilan luarnya begitu rupa agar cantik, tapi lupa memoles hatinya. Apa hasilnya?? kecantikannya luntur seketika dimakan oleh sifat buruknya sendiri. Tapi kamu berbeda Mbak. Hatimu yang begitu indah, dipadu dengan tubuhmu yang cantik mempesona, menjadi kombinasi yang begitu manis. Orang yang hanya cantik itu cepat ngebosenin. Tapi orang cantik dan manis itu kekal cantiknya. Gak percaya?? foto Mbak sendiri saksi bisunya.

Bayangkan baru fotonya aja sudah bikin gempar seluruh asrama Akademi, apalagi aslinya. Dulu juga pada saat kami boleh mengajak pasangan masing-masing ke Akademi untuk pesta dansa, sebenarnya aku minta Papa untuk ngundang Mbak datang ke sana, tapi Papa gak berani, katanya Mbak lagi sibuk. Aku ingin menunjukkan kepada mata teman-temanku bahwa inilah “kecantikan yang sejati”. Kecantikan yang tidak perlu dipoles dengan make up yang tebal, tapi memancar secara alami sampai ke bintang”.

Mendengar itu aku tersipu malu karena sanjungannya yang terlalu berlebihan. Setelah Alex mungkin Jaka adalah pria kedua yang terang-terangan memuja kecantikanku.

Pertanyaanku di pantai kemarin belum tuntas terjawab ; ” APAKAH KECANTIKAN ALAM AKAN MENELAN KECANTIKANKU, ATAU SEBALIKNYA KECANTIKANKULAH YANG AKAN MENELAN KECANTIKAN ALAM?”.

Mendengar pujaan Jaka barusan aku mulai bertanya-tanya ; “jangan-jangan bila manusia mengetahui betapa cantiknya sebenarnya dia, alam semesta ini akan bersujud di bawah kakinya”.

Kucoba untuk mendengarkan dengan lebih baik curahan hatinya. Bagaimana ungkapan perasaannya terhadap diriku. Jujur aku sama sekali tidak menyangka ada seorang Pria yang telah dan sanggup memendam cintanya begitu lama kepadaku, TANPA PERNAH BERINTERAKSI DENGANKU.

Ditambah pria ini berasal dari keluarga terpandang yang bukan orang sembarangan. Kok bisa dia menghidupkan diriku dalam kehidupannya bahkan tanpa melibatkan sosok tubuhku yang sebenarnya?. Hanya dimilikinya satu fotoku sudah cukup untuk menghadirkanku tiap detik ke dalam hatinya.

Bandingkan dengan para Pria jaman sekarang, yang telah memiliki beribu-ribu foto selfie kekasihnya, namun hanya mendatangkan rasa “konak” di kemaluannya tanpa sedetikpun kekasihnya mampu singgah di hati mereka.

” Maafin Jaka kalo lancang udah mengungkapkan perasaan Jaka ya Mbak. Tapi baru sekarang momen yang pas ini datang, untuk mengungkap kejujuran hatiku kepadamu. Sejak pandangan pertama Aku jatuh cinta kepadamu, dan sejak hari itu hanya namamu yang terpahat dalam relung hatiku.”.

” Mas Jaka terima kasih sudah berani jujur padaku..aku tidak menganggap Mas lancang kok.Setauku Cinta memang tak pernah dapat diterka. Sedetik ini kita bisa mencintai sesuatu yang ternyata berupa ilusi saja, detik berikutnya cinta sejati kita bisa saja datang tanpa diundang”. Kataku dengan hati yang bimbang. Sekilas bayangan Alex melintas di kepalaku.

” Mbak mungkin nganggep aku gombal. Tapi sejak Mbak menyuruh si Jack untuk giat belajar, sejak saat itu pula aku merubah total hidupku. Kurubah pola hidupku yang tak karuan menjadi lebih baik. Dan seperti kata Mbak tadi, yang terpenting adalah telah kumusnahkan semua sosok wanita “ilusi” yang telah menyaru sebagai pacarku selama ini, digantikan oleh figur cinta sejati dalam hatiku yaitu Mbak Tantri seorang.

” Sampe segitunya kamu memujaku Mas. Kamu belum mengenalku dengan baik. Nanti kamu bisa kecewa berat lho kalo mengetahui seperti apa sifat dasarku??”.

” Gak mungkin kecewa Mbak, cinta sejati itu hanya menangkap keindahan kekasih, dan tidak ada waktu dengan kelebihan atau kekurangannya”.

” Sungguh beruntung nanti istrimu Mas, mendapat suami yang sebijaksana dirimu”.

” Semoga istriku nanti dirimu Mbak”.

” …………”.

Begitu panjang lebar Jaka menjelaskan betapa besarnya pengaruh kehadiranku dalam kehidupannya. sampe dia secara terang-terangan menyatakan keinginannya untuk memperistriku. Jujur bahkan sebagai seorang wanita, yang hingga hari ini belum mengenal dengan terang hakikatnya CINTA, aku tak menyangka begitu besar kekuatan CINTA.

Pada masa hidupku sekarang, dimana dunia dinilai semata-mata hanya dari logis atau tidaknya sebuah persoalan, elemen cinta yang tak masuk akal menjadi ilmu baru yang harus kupelajari. Jaka tak perlu mengenalku, hanya cukup melihat fotoku, untuk menetapkan hatinya untuk mau meminangku. Aneh sekali bukan?.

Dari ceritanya tadi Jaka juga menceritakan , betapa gambaran wajahku di kepalanya telah menemani tiap detik kehidupannya dalam menghadapi kerasnya kehidupan asrama. Aku yang sebenarnya baru “kembali” mengenalnya, jadi langsung cepat terhubung akibat kalimat itu. .

Apalagi pekerjaan kami yang sama, membuat bahasa kami lebih cepat nyambung. Berbeda dengan Alex yang begitu awam soal duniaku, Jaka terlihat sangat menguasai dunia Kepolisian. Ungkapannya soal ; tiap detik memikirkanku tadi, belum pernah terucap dari bibir Alex.

Dalam dunia kami para Brigadir wanita di Kepolisian, mendapat pacar apalagi suami seorang Perwira merupakan impian terbesar. Aku tak terkecuali masuk ke dalam kelompok wanita yang berfantasi tentang hal itu.

Sudah lama aku memimpikan memiliki pacar seorang Perwira, namun impian itu tak kunjung terwujud. Disinalah mungkin keterbatasan pikiran. Ia tidak mampu melihat jauh sebuah persoalan. Seandainya saja aku mengetahui sebelumnya, bahwa seorang Perwira Polisi, naksir berat padaku, jauh sebelum munculnya Alex dalam kehidupanku, mungkin dilema persoalanku tidak mungkin berpotensi serumit sekarang.

Awalnya hanya ada Alex sekarang muncul Jaka. Mereka berdua terasa amat sangat mencintaiku.

” Mau kemana kita Mas??”

” Ke tempat dinginnya Pulau Dewata Mbak. Menurutku dua insan manusia yang sedang dibakar cinta harus “diademin” agar lebih waras he he. Meski dalam hal ini yang dibakar cinta tampaknya hanya diriku seorang saja”, katanya sambil melirik kepadaku.

Aku sendiri tidak sanggup menanggapi godaannya. Kehadiran Alex tetap membuatku berfikir untuk menahan diri untuk memberikan tanggapan.

” Ah Tantri rasanya baru kemarin kamu merasa tidak ada seorang Priapun yang tertarik padamu, sekarang ada dua pangeran yang menghamba cintamu. Bagaimana keputusanmu Tantri??”, bisikku pada diri sendiri.

Perjalanan yang kami tempuh menuju “kawasan puncaknya” Pulau Dewata sedikit berkelok-kelok. Setelah melewati beberapa daerah yang merupakan lumbung padinya Pulau Dewata, perjalanan kami mulai menanjak dan berkelok-kelok seperti hendak mendaki gunung.

Di kiri kanan kulihat kabut mulai turun menyelimuti kawasan ini dengan indahnya. aku tidak menyangka ada kawasan sedingin dan sesejuk ini di Pulau Dewata. Rasanya baju yang kukenakan tak sanggup menahan hembusan angin yang menembus tulangku.

Sepanjang jalan banyak bus pariwisata maupun kendaraan pribadi yang menuju kesana. Kami saling bertukar tawa dan canda, ketika di sebuah tikungan ada patung Polisi dengan sikap istirahat sempurna menjaga para pengendara.

Setelah rangkaian jalan berkelak-kelok akhirnya kami tiba di lokasi.

Dari jarak tiga kilometer sebelum lokasi parkir saja kami dapat merasakan indahnya hamparan danau yang terbentang indah di kaki gunung dengan ditemani kabut tipis. Setelah Jaka memarkir mobil kami menyelusuri keindahan kawasan wisata ini, yang seperti kawasan lain, juga memiliki bangunan tempat ibadah indah di tengahnya.

Jaka mengajakku berkeliling sambil terus memotetku dengan kamera poselnya yang canggih. Katanya fotoku sangat berharga.

Menghargai apresiasinya pada fotoku sebelumnya kubantu dia untuk mendapat poseku yang paling cantik. Dengan fasih aku belenggak-lenggok bagai foto model profesional dihadapannya, tentu tidak dengan gaya binal, seperti yang kupamerkan dihadapan Alex. Rasanya sekarang aku menjadi seorang wanita yang berperan berbeda ketika berinteraksi dengan Jaka. Lebih tepatnya wanita baik-baik. Tidak ada potensi kebinalan yang tiap saat dapat meledak.

Lelah berputar-putar berfoto sambil menikmati keindahan alam, aku mengajak Jaka untuk duduk di samping taman yang memiliki banyak minatur-miniatur hewan. Lelah juga rasanya kakiku untuk berjalan-jalan tiada henti sejak kemarin. Hawa dingin yang mulai menusuk tulangku juga menjadi penyebab kuhentikan aktifitasku sejenak untuk beristirahat.

” Huuuff dinginnya udara disini…..”, kataku sambil menggemeretakkan gigi .

” Pleekk”, tanpa disuruh Jaka memberi pelukan mesra kepadaku. Mendapat kehangatan jiwa dan raga seperti ini tentu aku jadi terdiam. Sebagian diriku sangat bahagia, sebagian yang lain mulai gelisah terhadap

“perselingkuhan” ini.

” Mbak kedinginan ya?”, tanyanya begitu lembut sambil memelukku hangat, kuanggukkan kepalaku sebagai jawaban.

” Gimana tawaranku tadi Mbak. Mau gak Mbak jadi istriku??”

” Istri?? kita baru ketemu sekarang Mas”.

” Enggak buatku tiap detik hidupku sudah kulalui bersamamu Mbak”.

” Mas kamu masih belum mengenal siapa aku sebenarnya”.

” Aku gak peduli siapa kamu, anaknya siapa, atau gimana keluargamu Mbak! yang kupedulikan hanya CINTAKU padamu”.

“……….”, aku hanya dapat terdiam menanggapi tawarannya.

” Kalo kamu bersedia jadi istriku, aku akan membawamu bertugas menemaniku Mbak. Posisimu akan lebih enak karena Papa pejabat, semua kebutuhanmu sudah tersedia”.
Memang bila aku hanya berfikir ke arah sana begitu mudah dan indahnya hidupkuku bila bersuamikan Inspektur Jaka. Namun Alex?? bagaimana dengannya.

Jaka terus memelukku dengan penuh cinta dan kehangatan. Rasanya ingin lama aku bersandar di pelukannya untuk menghapus semua kegalauan masalah yang tiba-tiba hadir akibat kemunculannya yang tiba-tiba. Ketika aku tengah asyik termenung dalam lamunanku sendiri, tiba-tiba Jaka menengadahkan wajahku dan mencium bibirku. Ciumannya singkat tidak seperti Alex yang penuh nafsu. Jaka hanya menciumku sebagai ekspresi kerinduannya pada cintaku.

Ketika aku masih tersenyum simpul karena terkejut menerima ciumannya, dari kejauhan kulihat sekilas sesosok Pria yang melangkah terburu-buru sampai menabrak tong sampah yang berdiri diam di tempatnya. Sangat mencurigakan gerak-gerik pria ini.

Bunyi tong sampah yang jatuh, tentu mengalihkan perhatianku kepada sosok laki-laki mencurigakan ini. Dari belakang sosok ini kulihat mirip Alex, atau apakah dia memang Alex yang menguntit kepergianku sejauh ini???. Penasaran kulepaskan pelukan Jaka, ” Sebentar ya Mas”, kataku sambil bergegas menyusul sosok misterius yang berjalan terburu-buru itu, ” Mbak mau kemana kamu??” , tanya Jaka penuh kebingungan.

Dengan kemampuan lariku yang memang cepat, kuberlari untuk mengejar laki-laki itu. Rupanya dia mengarah ke parkiran sepeda motor. Makin kudekati semakin mirip dia dengan Alex. Betapa terkejutnya ketika kami telah berdekatan ternyata memang dia adalah Alex. Rupanya sedari pagi dia menguntitku.

” Lex….kenapa kamu ada disini?? kamu ngikutin Mbak sampe kesini??”, berusaha kupulihkan nafasku sambil melihat wajah Alex yang terlihat berlinang air mata.

” Mmmmbak Ttttuugasss apa harus jauhhh jauuh kesini??”, katanya dengan nada suara bergetar penuh emosi.

” Lex kamu salah paham”.

” Itttttu ppppacarmu ya Mbak hah???? Alex rela Mbbbak sama ddddiiia perwira Polisikan?? tinggi pangkatnya beda ama Alex yang rakyat jelata. Tttapii kenapa haruuus ngajak aku sejauh ini Mbakk?? hanya unntukk DISELINGKUHIN begini??? sakit tau Mbak hati ini”, ujarnya tanpa bisa lagi menahan tangisannya

” Lex sayang denger dulu penjelasan Mbak…”.

” Teruusin aja Mbakk kencannya! malam ini juga Alex pulang!. SSAKIT TAU MBAKK DIGINIIN “, Alex terus emosi sambil menangis dengan hebat.

” Bruumm brruummm bruuummm”, Alex menstarter motornya dengan meraung-raung dan mengabaikan segala penjelasan yang kuberikan. Langsung dipacunya sepeda motor itu dengan kecepatan tinggi.

” LEX DENGAR DULU….DENGAR DULU PENJELASAN MBAK”.

Aku sangat cemas, malu dan sedih kepergok seperti ini oleh sosok laki-laki yang sebenarnya telah berkorban begitu banyak untukku.

” Siapa laki-laki itu Mbak??”, dari arah belakang suara Jaka sedikit mengejutkanku, rupanya dia telah berhasil menyusulku.

” Dddiia pacarku Mas Jaka…ya dia pacarku. Maafkan Aku Mas. Aku benar-benar tidak seperti dugaanmu”, aku mulai menangis di hadapan Jaka. Sebagai wanita hatiku begitu hancur mendapat perkataan Alex barusan. harga diriku hancur berkeping-keping.

” Gak apa Mbak, maafin Jaka juga ya, telah membuat kalian berdua berkelahi. Bukan maksud Jaka Mbak, Jaka gak tau”.

” hu..hu..huu”,.

” Gak usah nangis Mbak. Ayo Mbak Jaka anter pulang ke hotel biar bisa cepet ketemu sama pacarnya”.

Sepanjang perjalanan aku terdiam dalam kesedihaan. Rasanya harus dimana kutaruh mukaku ini di hadapan Alex maupun Jaka.

Jaka sangat bijaksana dan tenang menghadapi kenyataan ini. Kuyakin hatinyapun baru saja hancur. Sosok wanita yang dipujanya setiap hari, selama bertahun-tahun, rupanya telah memiliki kekasih. tapi dia tetap berbesar hati dengan keadaan itu. Dihiburnya aku berkali-kali sambil menungkapkan betapa senangnya dia akan perjalanan hari ini.

Begitu bersyukur dirinya telah dapat memboyongku untuk bertukar canda meskipun hanya beberapa jam saja. Dia juga berkali-kali meminta maaf menjadi penyebab pertengkaran kami sore ini, secara Jantan katanya dia siap menjelaskan duduk persoalan sebenarnya kepada Alex, namun secara manusia biasa tegasnya, selama janur kuning belum melengkung dia masih berharap pada cintaku akan berakhir di pelukannya.

Dengan penuh tanggung jawab, Jaka mengantarku sampai ke hotel. Menyadari diriku masih limbung ditemaninya aku sampai di loby hotel. Dibantunya aku untuk mengecek keberadaan Alex. dari resepsionis rupanya aku mendapat informasi kalo Alex telah meninggalkan kamar sedari pagi dan belum pulang sampai saat ini.

Aku duduk di loby hotel sambil gelisah, dengan ditemani Jaka yang selalu menguatkan kesedihanku. Walaupun kehadiran Jaka begitu berarti meredakan kecemasanku memikirkan keberadaan Alex membuatku begitu khawatir. Bagaimanapun perjalanan dari lokasi wisata ke hotel ini cukup jauh dan medannya cukup berbahaya.

” Ibu Tantri mohon maaf ada telpon buat ibu”, kata resepsionis padaku.

” Dari siapa Pak ??, kataku penuh kecemasan,” katanya dari Rumah sakit Bu”.
Rasanya jantung ini begitu kencang berdetak seperti ingin copot. Alex sayang ada apa denganmu sayang.

” Gak apa Mbak Tantri, ayo Jaka temani nerima telponnya!”, Jaka menggandengku menuju resepsionis.

” Maksih Mas”, bisikku dengan suara sedih menuju ke tempat telpon.

” Halo Tantri disini, dengan siapa saya bicara??”.

” Mohon maaf Bu Tantri kami dari Rumah Sakit S, apakah betul ibu penghuni kamar nomer 225? dari hotel xxxx??”

” Betul sekali Pak. ada apa ya??”, tanyaku sangat penasaran sambil kuremas tangan Jaka.

” Ibu kenal dengan penghuni kamar 227?soalnya kunci Ibu ada sama dia, dan kami kesulitan menemukan identitasnya”.

” Iiiiiya kenal Pak dia pacar saya namanya Alex”, kuberdoa dalam dadaku ; ” Ya Tuhan Yang Maha Pelindung tolong lindungilah Alex”.

” Ada apa ddeeengann Alex Pak??”.

” Ooh Ibu pacarnya , Puji Dewa akhirnya kami berhasil menemukan kerabatnya. Mohon maaf kami harus menginformasikan berita kurang enak Bu…..”, jantungku langsung berhenti berdetak, kembali kerapatkan badanku ke arah Jaka, sebagai tindakan jaga-jaga bila tubuhku tak kuasa menghadapi berita yang akan segera kudengar. Doa tak henti kuucapkan ; ” Ya Tuhan kuatkanlah aku agar kuat menghadapi berita ini”

“.. Maaf sebelumnya Bu, tunangan Ibu mengalami kecelakaan tunggal di jalan raya..dia mengalami “head injury” dan sekarang sedang koma di ICU rumah sakit S”.

” huuuuh”, aku langsung limbung sejenak hampir roboh, untung ada Jaka disisiku.

” Ibu Tantri ibu masih disana…Ibu Tantrii..”.

” Iiya saya masih disini Pak….”.

” Ibu beserta keluarga kami tunggu sekarang di ruang ICU ya Bu, Bapak Alex sepertinya sangat memerlukan keluarganya disisinya! sebab kemungkinan hidupnya semakin melemah”.

” Ssssiap pak,…siaap..saya akan segera meluncur ke Rumah Sakit”.

” Klek” bunyi telpon ditutup bersamaan dengan tumpahnya air mata dalam diriku. Kupeluk Jaka yang begitu dewasa merespon tragedy ini.

Dibantu oleh Jaka aku dibantu duduk di kursi Loby, sambil dibawakannya segelas teh hangat untuk membantuku tenang.

Kedua tanganku langsung menutupi wajahku yang berhamburan kesedihan dan air mata. Kuberdoa lirih dalam hati, ” Ya Tuhan lindungilah Alex, kumohon Ya Tuhan lindungilah Alex hu hu huu”

Bersambung