Polwan Part 8

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10

Cerita Sex Dewasa Polwan Part 8 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

 Cerita Sebelumnya : Cerita Sex Dewasa Polwan Part 7

THE FIRST DAY : THE LOST PARADISE

Inilah kali pertama aku menginjakkan kaki di Pulau nan indah ini. Begitu populer keindahannya, hingga para wisatawan mancanegara mengatakan , ” jangan mati sebelum menginjakkan kaki di Pulau Dewata”.
Menurutku kecantikan utama pulau ini terletak pada kesatuan dan harmoni yang terbangun dengan teramat indah antara manusia dan alam sekitarnya. Rupanya saat kedua unsur itu dapat berdiri beriringan secara serasi, surga betul-betul dapat hadir di dunia.

Lihatlah “kualitas surgawi” yang hadir dimana-mana. Kecantikan pemandangan alam yang terhampar dapat diibiratkan sebagai alasnya. Nuansa ramah para penduduk lokal menyambut para turis bagaikan alunan irama surgawi. Sedang kebersatuan manusia – dari manapun mereka berasal- dengan alam dan Sang Penciptanya merupakan “jiwa” sekaligus inti terdalam keberadaan surga.

Alex begitu cermat dalam mengatur perjalanan kami. Dia begitu teliti dalam setiap detailnya. Sejak keberangkatan hingga tiba dengan selamat di tanah surga ini. Alex betul-betul berpengalaman.

” Kamu sering kesini ya Lex?”.

” Gak sering-sering amat kali Mbak ! ya kadang-kadang ajalah, itung-itung ngilangin suntuk he he”.

” Pengalaman banget kamu kalo Mbak liat. Perhatikan sekeliling Lex! begitu padatnya bandara ini, Mbak gak nyangka kalo “sumpek” banget kayak gini situasinya. Coba kamu gak nyiapin semuanya dengan baik, bisa gak jadi liburan kita “.

” Kalo gak jadi liburan ngapain donk kita Mbak?”.

” Ya muter-muter aja kita disini gak bisa keluar”.

” Gak seru donk Mbak kalo gitu”.

” Sama sekali nggak Lex. Mending kita di rumah aja biar gak abis ongkos”.

” Itulah sebabnya Alex nyiapin semua ini Mbak Cantik! Disini Alex ingin menikmati “keindahan” dirimu tanpa ada yang bisa mengganggu…”.

Alex mulai memelukku mesra, kemudian tanpa malu-malu dia mencium bibirku. Sangat berani dirinya menciumku, di tengah lalu lalang para penumpang pesawat yang sedang bergegas menuju tempat pengambilan bagasi.

Begitu yakin ciumannya, tanpa rasa malu, penuh gairah yang menggelora. Diciumnya bibirku dengan penuh cinta. Alex sangat memuja ” pesonaku”, tidak dia biarkan momen ciuman ini hanya berlalu begitu saja. Mulai dimainkan lidahnya di mulutku, diawali dari menari menjelajahi bagian atas bibirku, dilanjutkan perlahan dengan menyapu bibir bawahku. Begitu bergairah Alex dalam momen ciuman di tengah keramaian ini.

Gairahnya perlahan mampu membakar gairahku.

Mulanya pikiranku berontak masih memikirkan ” suasana” sekeliling. Pandangan dan penilaian orang pasti berfikir yang “jelek” tentang kami. Namun perlahan.. merasakan gairah bibir Alex yang bermain di bibirku, aku ikut terhanyut. Sejenak kulupakan apa yang terjadi di sekitarku. Semua perhatian dan perasaan kuarahkan ke percumbuan panas ini.

Bibir kami seakan bersatu dalam tarian yang begitu indah. Alex begitu dominan sekarang. Sangat berbeda ketika di asrama maupun stadion – mungkin di sana dia masih takut-takut-, lidahnya begitu lincah menjelajah bibirku. Puas berputar-putar disana, mulai ia memancing lidahku keluar untuk ” bersenggama”. Hanyut dalam suasana, dunia ini seakan lenyap, yang ada hanya momen ini, kusambut undangannya. Kujulurkan lidah untuk bersetubuh dengan lidah Alex.

OOoooouGGh begitu indah rasanya. Kami- kaum wanita- sangat suka dengan momen berciuman. Buat kami ini saat yang sangat “emosional”. Buatku pribadi, seorang yang begitu pintar berciuman di bibir, pasti bisa melakukan hal yang lebih hebat “di bawah sana”.

Alex sangat menikmati momen ini. Dipeluknya diriku mesra sambil terus “menanam” dalam-dalam lidahnya di mulutku. Mungkin orang lain akan melihat ciuman kami ini berlangsung dengan singkat, namun pada kenyataannya ini terasa begitu lama untukku. Perasaan berdebar-debar karena dilihat orang banyak membuatku semakin lepas kontrol. Rasanya sudah becek celana dalamku begitu terangsang dengan serbuan Alex.

Tiba-tiba Alex melepas ciumannya dan mengarahkan bibirnya ke telingaku ingin membisikkan sesuatu.

” Mbak, tiga hari ini lupakan Brigadir Tantri! Yang ada hanya Tantri, dan Tantri milik Alex, akan “kunikmati” Tantri dari ujung rambut sampe ujung kaki”.

Mendapat “bisikan nakal” seperti ini, jantungku langsung bergetar, tak sanggup membayangkan apa yang akan dilakukannya padaku.

Alex kembali menatapku dengan penuh cinta, hasrat dan nafsu yang berpadu menjadi satu.

” Ayo Mbak, kita gak bisa lama-lama disini! Masih jauh perjalanan kita”, ujarnya sambil menggadeng tanganku.

“………….”. Aku masih terkejut dengan bisikannya.

” Hoii Mbak jangan bengong, ayo jalan!”, Alex menggoyang-goyang bahuku.

Sejenak aku masih terbuai dalam fantasi liar akibat bisikannya barusan. Demikian dahsyat efek bisikan singkatnya tadi hingga bisa membuat bulu-bulu halus di vaginaku merinding. Begitu terangsang.

” Aaayoo Lex…. Maafin Mbak…Ayo jalan”.

Akhirnya dapat kusadarkan diriku untuk merangkai kata, walaupun masih terbata-bata.

” Gitu donk jangan bengong! Nanti kesambit lho”, goda Alex sambil mencubit lenganku.

” Dasar kamu! nanti kamu yang Mbak sambit baru tau rasa”, jawabku sambil member pukulan pelan di lengannya.

” Ha ha mau tau gimana rasanya Mbak sambit…”.

” Nanti kamu pasti ketagihan Lex!…”

Kami asyik bercanda sambil terus menyelusuri lorong bandara itu. Kondisi bandara ini memang betul-betul ramai , bahkan cenderung sumpek. Begitu banyak warga Negara Asing yang kulihat. Mereka pasti datang ingin menikmati keindahan Pulau Dewata.

Sekali lagi Alex menunjukan betapa siapnya ia dalam perjalanan ini. Kali ini rupanya dia telah membooking sebuah mobil, melalui pihak travel, untuk kami gunakan berdua. Alex sepertinya betul-betul merancang “tamasya” kami ini ibarat “bulan madu”, yang hanya melibatkan kami berdua dan jauh dari orang lain. Kesan bulan madu ini memang terus dia tampilkan kepadaku. Digenggamnya tanganku begitu mesra menyusuri bandara ini sampai ke parkiran kendaraan.

Sampai di parkiran, dibantu oleh beberapa kurir kami segera memasukkan seluruh barang bawaan kami ke dalam mobil yang telah disiapkan. Alex yang melihatku masih berbalut jaket datang menegurku, ” Mbak gak panas tuh jaketan terus? Disini panas banget”.

Ups betul juga dia. Mungkin saking terbawa romantisme perjalanan ini aku jadi lupa masih mengenakan jaket di tempat yang udaranya memang terasa cukup panas.

” Iya Mbak lupa lex, kamu sih gak ngingetin”, aku mengelak.

Segera kubuka jaket yang menyelimuti tubuhku dan langsung memamerkan penampilan sexyku kepadanya. Kemeja putih ketat berpadu celana bahan nan pas badan membungkus kakiku, secara jelas “memamerkan” keindahan tubuhku pada khalayak ramai dan khususnya pada Alex.

Alex begitu terpesona melihat tampilanku. Dipelototinya tubuhku dari atas hingga bawah tak ada yang terlewat.

” Mbak you’re so beautiful and so sexy, Alex gak punya kata-kata lagi untuk menggambarkan “kemolekanmu”.

” Kamu suka Lex??”.

” Suka banget Mbak, boleh kan nanti Alex nyusup ke balik itu he he”, godanya sambil menunjuk ke arahan belahan dadaku.

” boleh tapi harus sopan kalo nggak Mbak tilang nanti”.

” Siap Mbak Tantri Alex akan sopan banget supaya diijinkan bertamasya ke gunung kembar punya Mbak, yang begitu “ranum” ini”, katanya sambil tangannya bergerak mengarah ke dadaku.

” Hup”, kutangkap tangannya dan kupelintir ke punggungnya,” hayoo kita jalan sekarang ya “anak nakal” supaya pikiranmu gak semakin jorok aja”, sambil kupelintir kubawa dia masuk ke mobil.

” Aduuh sakitt Mbakk…iya iya siappp kita jalan deh..ampun ampun ampun”.

Akhirnya setelah banyak “obrolan nakal” kami berdua naik ke atas mobil. Alex memastikan dahulu bahwa tidak ada barang kami yang tertinggal, setelah itu barulah ia mulai mengendarai mobil dengan hati-hati. Itu memang perintahku kepadanya, untuk selalu waspada dan mematuhi marka lalu lintas. Rasanya sangat tidak lucu bila kami sampai ditilang Polisi disini. Itu seperti “jeruk makan jeruk”.

Sepanjang perjalanan keriuhan Pulau Dewata sangat kurasakan. Kata orang, bandaranya saja merupakan salah satu yang “terpadat” di Negara kami. Tak heran di beberapa sudut bandara kulihat banyak renovasi yang tengah dilakukan, mungkin untuk semakin memperluas daya tampung wisatawan. Selain riuh rendahnya kerumunan manusia, semilir angin pantai berpadu dengan terik matahari mulai menerpa kulit kami. Cuaca panas yang kurasakan segera membuatku kegerahan.

Dengan penuh romantisme kami memulai perjalanan di pulau nan indah ini.

Seandainya Alex tidak “fasih” dengan tempat ini, pasti kami hanya mendapat stress dan lelah berada di dalamnya. Pembangunan disini begitu cepat dalam skala besar. Dimana-mana kulihat berdiri hotel, café-café, maupun pusat-pusat perbelanjaan.

Alex mengajakku sejenak untuk menyusuri jalanan yang menjadi salah satu pusat belanja,pada salah satu pantai paling terkenal di pulau ini. Bergerak dia dengan lincah untuk memarkir mobil kemudian “blusukan” masuk ke area belanja sambil berjalan kaki. Aku digandengnya begitu erat seakan dia tidak mau kehilanganku. Bagai belut dia menyibak keramaian menuju sebuah “outlet” baju.

Suasana disini begitu ramai. Aku harus berteriak-teriak kepadanya agar suaraku terdengar. Lautan manusia yang asyik bicara satu sama lain menghadirkan suara seperti lebah yang membuat kami sulit bicara dan mendengar.

Alex sepertinya hafal dengan kondisi ini, sedari tadi dia hanya diam -paling-paling mengangguk atau menggeleng- kemudian masuk kedalam toko, memilih cepat 4 potong pakaian- yang aku tidak tau- membayarnya ke kasir, kemudian kembali membawaku pergi.

Dalam waktu singkat kami segera naik mobil kembali meninggalkan pantai yang begitu bising ini.

” Huuuuf Mbak akhirnya kita bisa keluar juga dari sini”.

” Rame bener sih Lex, Mbak aja harus teriak-teriak kalo mau manggil kamu”.

” Iya Mbak wajar donk namanya aja Pulau Dewata”.

” Ngomong-ngomong kamu beli apa tadi Lex bikini ya??”.

” Sesuai janji Alex dipesawat Mbak, diliat donk!”.

Langsung kuambil salah satu paper back yang dibelinya, kubuka.

” Wahhh Lex kamu nyuruh Mbak pake ini???”.

Sedikit terkejut aku melihat dua bikini yang dibelikannya. Satunya berwarna merah “bikini two pieces” yang hanya menggunakan tali untuk mengikatnya. Satunya berwarna ungu, bikini “backless” dengan tali yang menempel di pundak, memamerkan punggungku. Belahan bikini ungu ini juga cukup lebar di dada menampilkan belahan dalam dadaku.

” Iya donk Mbak Tantri, bikini itu membuat semua ” khayalanku” kepada Mbak akan segera terwujud”.

” gimana kalo orang pada ngeliatin Mbak Lex???banyak bule lho disini”.

” Gak usah khawatir “Mbakku yang sexy”, mereka hanya bisa liat doank gak bisa menikmati. Tantri hanya milikku gak boleh ada yang lain”.

Sambil mengatakan itu, dia menatapku lekat begitu sungguh-sungguh. Aku sendiri masih belum bisa membayangkan mengenakan dua potong bikini ini. Tubuhku memang kencang, sexy, montok dan menggiurkan. Namun belum pernah sekalipun aku pernah memamerkan “kemolekanku” di hadapan orang banyak.

Hmmm membayangkan apa yang akan terjadi membuatku semakin bergairah.

Kami kembali berjalan. Kata Alex kami mengarah ke selatan. Ketika kutanyakan mengapa tidak di pantai dekat sini saja, katanya terlalu bising dan bikin stress.

” Mbak untuk menikmati Pulau Dewata, kita harus nyari tempat yang sunyi dan masih asri. Disana baru kita bisa merasakan “bersatu”.

” Bersatu?”

” Iya kan tubuh kita sebentar lagi akan “bersatu” Mbak he he”.

” dasar kamu “porno”.

Kembali senda gurau penuh “hal-hal yang menjurus” menemani perjalanan kami menuju tujuan kami. Alex mengatakan bahwa kami akan terus berjalan hingga di pulau ” Ujung Batu”. Sebuah surga tersembunyi lain di ujung selatan Pulau Dewata. Semakin ke Selatan memang terlihat betapa bagusnya infrastruktur setempat. Meski pembangunan terlihat tidak sebanyak di ibu kota Propinsi, namun kualitas jalannya begitu baik. Aspal jalan dengan kualitas jempolan menjadi teman perjalanan kami sampai di selatan.

Memasuki wilayah selatan mulai terlihat tebing-tebing dengan hamparan pasir putih yang memanjakan mata. Di kejauhan pemandangan birunya pantai mulai terbayang. Suasana disini memang tidak seramai sebelumnya. Selain itu ekosistemnya lebih asri, seperti masih murni dan belum terjamah.

Walaupun asri beberapa hotel, villa, ataupun café-café telah berdiri disini. Alex rupanya telah membooking sebuah hotel untuk kami berdua. Sangat berkelas hotel yang dia pesan, lengkap dengan “view” yang menghadap langsung ke arah pantai.

” Mbak gak usah khawatir ya kamar kita disini misah kok”.

” Sebenarnya Mbak gak khawatir, tapi hotel kayak gini kan mahal Lex. Kamu bisa bayarnya?? Mbak ada uang nih di amplop siapa tau kamu perlu”.

” Gak usah Mbak ini semua udah di korting kok sama temen Alex yang di travel jadi gak usah khawatir ya Mbak”.

” Makasih banyak ya Lex, udah membuat perjalanan impian ini terwujud”.

” Sama-sama Sayang. Ayo kita masuk sekarang ke hotel”.

Dengan bergandengan tangan kami memasuki resepsionis hotel dengan dibantu petugas yang membawa koper kami. Alex segera menyelesaikan urusan resepsionis hotel, setelah itu kami diantar menuju kamar kami masing-masing. Letak kamar kami bersebelahan. Aku mendapat kamar 225 sedang Alex 227.

” Nih Mbak Tantri barang yang Alex beliin tadi di pantai”, katanya sambil menyerahkan empat kantong belanjaan, ” nanti dipake ya! Tapi sekarang Mbak istirahat kan abis perjalanan jauh. Agak sorean kok kita ke pantainya”.

“Sekali lagi makasih banyak ya Lex”.

” Udah Mbak gak usah makasih terus”, katanya sambil memeluk dan kembali menciumku. Kembali kami berpagut demikian intim.

” Nanti kalo malam Alex boeh main kesini ya Mbak he he??”.

” Hmmmmm”.

” kok Hmm doank”.

” Nanti Mbak pikir dulu. Kalo Mbak ijinin baru kamu boleh masuk”.

” Tuh tegasnya gak ilang-ilang padahal udah jauh ke sini lho”.

” Gak suka kamu??”.

” Suka deh ampun!! Ya udah Mbak istirahat aja dulu ya. Nanti Alex jemput kalo udah siap ke pantainya!”.

Kembali dia mencium keningku sebelum masuk ke kamarnya di sebelah.

Setelah kepergian Alex, aku langsung merebahkan diri ke ranjang untuk mengistirahatkan diri. Bagaimanpun perjalan jarak jauh ini cukup melelahkan. Kamar ini sangat nyaman dan wangi. Pemandangan pantai yang dapat kulihat dari jauh memberi efek relaksasi. Sejenak kelelahanku dapat sirna ditelan lautan keindahan alam yang terhampar. Manusia adalah makhluk visual. Kita sangat menantikan pemandangan yag memuaskan mata untuk menghilangkan kepenatan kita.

Karena kelelahan jugalah aku cepat diserang kantuk dan mulai tertidur.

Rasanya cukup lama aku terpejam sebelum akhirnya terjaga dengan nuansa surgawi. Deru ombak dan birunya lautan kini terasa akrab di seluruh panca indera . Kesadaranku perlahan kembali mengisi tubuhku.
Dengan bersemangat kubuka bingkisan yang Alex berikan tadi. Rupanya selain bikini berwarna merah dan ungu Alex juga membelikan kemeja transparan dan sarung sulam indah sebagai aksesori luarnya.

” Lex untung badanku udah sexy dan kecang karena rutin olahraga. Kalo gak, gimana diriku bisa make ini?”. Ujarku dalam hati.

Langsung kukenakan bikini yang dibelikan Alex dan kupantaskan diriku di cermin.

” Ooouw Tantri kamu harus banyak bersyukur dikaruniai tubuh yang begitu sexy”. Ujarku pada diri sendiri.

Setelah bikini terpasang tentu aku harus mengenakan kemeja transparan untuk menutupi kesxyan tubuhku. Kain sarung wanita pemberian Alex sangat pas membalut bagian bawah tubuhku. Kain ini kuselempangkan di pinggang dan menutupi sedikit saja kaki jenjangku.

” Mbak Tantri ayo bangun jadi gak kita ke pantai??”, panggil Alex dari luar kamar sambil menekan bel kamar.

Kubuka pintu sambil bergaya sensual di di hadapannya.

” Gimana penampilan Mbak?”.

Alex terperangah. Tampak jelaserkejutannya melihat keindahan tubuhku dalam balutan kemeja dan bikini warna merah. Kelu sepertinya lidahnya tak mampu memberi jawaban.

” ALEX BAGAIMAN PENAMPILAN MBAK??”.

” Eeeeh maaaf Mbak Alex ngelamun. Sangat sangat sangat sexy sekali Mbak. Bagai bidadari kahyangan yang turun ke bumi”.

” Stop gombalnya kamu Lex! Kapan kita jalan??”.

” Sssekarang aja ya Mbak!”.

” Ayoooo jangan bengong aja kamunya!”

Dengan penuh ketakjuban akhirnya Alex dapat kembali melangkah sambil menggandengku menuju elevator. Tampak dari kaca yang berada di dalam lift berkali-kali dia menelan ludah untu mengendalikan libidonya yang terus naik akibat tampilanku.

Sampai di lobi kami langsung menuju parkiran untuk mengambil mobil.

“Padahal di depan ini sudah pantai Lex, bagian mananya sih yang sebenarnya kamu ingin singgahi?”, tanyaku kepadanya.

” Pantai tersembunyi di Pulau Dewata Mbak, itu tujuan kita”.

Deru mobil yang distarter menjadi penanda mulainya perjalanan kami. Dari hotel kami mengarah ke selatan menuju Pulau Ujung Batu. Deretan pohon kelapa yang tesusun rapi mulai terlihat di sekitaran kami. sampai di permpatan menuju Ujung Batu kami ambil kanan menuju pantai Eksotis pilhan Alex. Suasana mulai sunyi. Hiruk pikuk wisatawan dan keramaian Pulau dewata berangsur menghilang. Sampai di ujung aspal jalan kami berhenti dan memarkir mobil.

” Ayoo Mbak kita turun, dari sini kita jalan kaki gak terlalu jauh kok!”, ajaknya.

Kami mulai berjalan kaki untuk mencapai bibir pantai. Kata Alex pantai ini tersembunyi di antara dua bukit karang terjal. Untuk mencapai bibir pantai, kami harus menurui jalan setapak yang sedikit curam. Terdapat juga tangga berundak-undak sedikit curam menuju ke bawah. Aku yang terbiasa berolah raga sangat senang menghadapi tantangan ini. Jalanan yang alami- tanpa aspal- menjadikan perjalanan singkat ini terasa sangat dekat dengan alam.

” Ayo balapan lari Lex! Masa kamu laki-laki kalah sama perempuan”, ajakku untuk lomba lari.

” Huuuf huuuff huuufff ayo Mbak hoof hoof”.

Dia menyambutku sambil terengah-engah.

Aku tentu menang telak meninggalkan Alex yang jauh terengah-engah di belakang. Sampai di bawah aku terkesima dengan panorama surgawi yang tersaji disana. Terlihat di depan mata kami hamparan pantai dengan balutan pasir putih yang sangat cemerlang. Atmosfer disini begitu indah dan alami. Gugusan pohon kelapa yang dimeriahkan gemuruh ombak sangat memanjakan kami.

Kata Alex disini sangat nyaman karena tidak ada pedagang asongan atau tukang pijat yang suka hilir mudik mengganggu. Juga disekitarnya tidak café gemerlapan yang merusak ketenangan. Hanya ada beberapa café tradisional yang berderet di antara pohon kelapa. Mungkin karena waktunya memang bukan musim liburan, hanya ada beberapa turis asing laki-laki yang asik minum-minum di café itu.

Sebenarnya keistimewaan pantai ini karena letaknya tesembunyi dan rahasia. Sangat cocok bila kita mencari tempat yang sepi untuk refreshing. Sinar matahari yang cukup silau membuatku segera mengenakan kaca mata hitam untuk melindungi mata.

Alex segera mencari lokasi yang “tepat” untuk kami berdua. Dipilihnya tempat yang relative sepi dan jauh dari kehadiran orang lain. Sebuah pojok pantai yang tersembunyi dilindungi dua batu karang menjadi pilhannya. Segera dibentangkannya alas terpal yang telah disiapkan agar kami dapat rebahan sambil melihat keindahan pantai.

” Mbak ayo foto-foto! Alex bawa kamera nih buat mengabadikan kecantikan wajah Mbak”, ujar Alex sambil mengambil kamera yang memang dibawanya sedari tadi, ” Jepret..jepret..jepret”, tanpa basa-basi dia langsung memoto wajahku.

” Appan sih Lex Mbak belum siap nih”.

” Orang cantik mah siap gak siap tetap cantik Mbak! Ayo senyum donk”. Alex terus memotretku.

” Berdiri donk Mbak menghadap ke pantai! dipake aja kaca matanya biar makin sexy”.

Bagai pengarah gaya model professional, dia menyuruhku berpose dalam berbagai posisi.

” Mbak dilepas aja kemejanya biar kena cahaya matahari. Tambah bagus lho Mbak hasil fotonya kalo kulit Mbak terpantul sinar matahari!”.

Sebenarnya dari tadi aku tau bahwa Alex pasti segera memintaku melepas kemeja ini. Bukankah itu tujuannya membelikanku bikini?. Secara pribadi aku tidak berkeberatan memamerkan diriku dihadapannya. Apalagi kondisi pantai yang sepi menghilangkan kekhawatiranku sebelumnya. Hal ini masih ditambah “naluri kewanitaanku” sendiri yang ingin memamerkan betapa sexynya tubuhku dihadapannya. Juga sekaligus sebagai ungkapan “terima kasih” atas perjalanan impian ini.

Tanpa komentar mulai kulepaskan kemeja atasku perlahan-lahan. Satu persatu kancing kemeja merah muda ini kulepaskan dengan gerakan yang erotis. Teringat “solo striptease” yang kulakukan dahulu di asrama. Kugoda dia dengan gerakan yang mengundang dan wajah yang sensual.

Wajah Alex mulai merah padam. Dia terlihat mulai terangsang.

” Jepret..Jepret…jepret..”.

Terlepas semua kemeja itu kemudian kulepas dan kutaruh di alas tepral.

” Wow perutmu begitu indah sayangku. Turunin lagi donk sarungnya Sexy!. Aku ingin mengagumi indahnya kakimu”.

” Kakiku Lex?? mau apa kamu sama kami Mbak?”

” jepret….jepret….”, dia terus memfotoku, ” Mau kuciumi pahamu yang mulus itu sayang, jari kakimu yang lentik itu ingin kujilati satu persatu”.

” Terus??”, aku menggodanya sambil membuka kain sarung itu lebar memamerkan kemaluanku yang tersembunyi bikini merah, ” apa yang mau kamu ingin lakukan ke Mbak Lex?, aku berbisik setengah mendesah sambil kembali menutup sarung itu.

Aku begitu senang menggodanya.

” Uuuh aku akan masuk ke “dalam” sana sayang, akan kujilati habis celah nikmat nan sempit itu sampai dirimu meraung-raung “, jawabnya sambil terus memfoto.

Kubalikkan tubuhku. Kuangkat ke atas sarung ini sampai menampakkan celah pantatku. Kepalaku kuarahkan ke arahnya sambil menggodanya.

” Sexy gak pantatku Lex??”.

” Ouuuughhh sangat Mbak”, Alex mulai maju tidak tahan dengan godaan yang aku berikan.

” Tetap ditempatmu Lex! Teruskan memfoto TAPI jangan maju lagi!”, perintahku kepadanya yang langsung dipatuhinya.

” Mbak sexy gak Lex??”, kuulang petanyaanku,” sangat Mbak you”re so sexy”, jawabnya sambil menelan ludah.

Kutanggalkan sarung itu ke tengah hamparan pasir putih.

Kini aku berdiri di pantai nan sunyi ini hanya berbalut dua potong mini bikini yang sangat sexy.

Seorang wanita berambut pendek dengan kalung sexy pemberian kekasihnya, asyik memamerkan sensualitas tubuhnya di tengah eksotisme pantai.
Siapa yang akan menang?? Apakah kecantikan alam akan menelan sensualitasku, atau sebaliknya sensualitasku akan melenyapkan kecantikan alam. Ah aku mulai befikir yang nggak-nggak.

” Terus apalagi Lex?”, godaku kembali kepadanya.

“Mmm Alex ingin kamu mengangkat tanganmu Sayang!”, jawabnya dengan nada suara yang bergetar, ” angkat yang tinggi”.

Kuangkat tanganku tinggi sambil menutup mataku. Sangat sensual rasanya tubuhku dalam posisi seperti ini. Hembusan angin sepoi-sepoi yang meniup bagian ketiakku membangkitkan gairah tersendiri. Aku merasa sangat sexy bila memamerkan ketiakku.

” Mbakk ketiakmu begituu sexyy…Payudaramu juga Mbak sangat padat dan montok”

” Mau apa kamu dengan Ketiak dan payudaraku Lex?’.

” Ketiakmu akan kulumat setiap centinya Tantri!, dan tetekmu?Hmmmm Akan kukenyot pentil susu itu sampai mengeluarkan susu. Aku ingin menyusu di tetekmu sayang”.

Terus aku menggodanya dengan gerakan yang mengundang dan memancing birahinya. Kacamata hitam tetap kukenakan untuk sedikit menyamarkan wajahku. Aku sangat takut insiden foto bugil Polwan yang tersebar beberapa waktu lalu, dapat menimpaku bila tidak hati hati.

Ketika tengah asyik-asyiknya berpose sensual di hadapan kekasihku tersayang, tanpa kusadari ada tiga orang asing yang rupanya juga ikut terbuai dengan “pesona” kecantikanku.
Kehadiran mereka rupanya menjawab pertanyaanku barusan, rupanya pesona kecantikanku dapat menelan eksotisme alam.

Dari jauh mereka mulai mendekat ke arah kami. awalnya aku tidak terlalu mempedulikan mereka. Buatku mereka hanya turis biasa yang sedang asyik menikmati keindahan alam. Nantinya baru kutau rupanya mereka sedang menikmati keindahan tubuhku.

Kini posisiku menyamping, sambil mengangkat tanganku sedang memamerkan kesintalan tubuhku.

Ketika asyik berekspresi, tiba-tiba kami dikejutkan dengan kehadiran ketiga orang ini yang langsung memepet Alex.

Sangat yakin aku, bahwa pemandangan yang mereka lihat, yaitu seorang wanita dengan ukuran tubuh tinggi semampai, Cantik berambut pendek dengan mengnakan kaca mata hitam, lengkap dengan kulit eksotis negeri ini, berbalut bikini merah menyala sexy pasti mengundang mereka.

Berada di tengah kami, mereka mulai mereka mengeluarkan kata-kata jorok yang jelas dialamatkan kepadaku. Menggunakan bahasa inggris mereka mengatakan betapa sexynya tubuhku, montoknya pantatku, luar biasanya keindahan dadaku dan betapa mereka ingin memasukkan “senjata” mereka segera kedalam CD bikiniku.

Alex tentu “panas” mendengar ini dan langsung menghardik mereka.

Ketiga pria bule berbadan besar ini sepertinya mabuk. Tercium dari aroma alkohol pekat yang tercium setiap mereka bicara. Aku tentu hafal yang namanya aroma miras. Pandangan mata ketiga pria ini begitu cabul menatapku. Satu diantara mereka malah menjulurkan lidahnya kepadaku dengan begitu mesum.

Aku tenang saja menghadapi tingkah mereka. Alex malah terlihat sangat emosional dan berusaha mengusir mereka. Menyadari gelagat yang kurang baik aku berusaha mencegah Alex untuk melakukan tindakan apapun. Namun terlambat Alex yang sangat emosional mulai mendorong mereka. Salah satu diantara mereka yang berbadan gempal langsung saja membalas dorongannya dengan memukul Alex tepat di ulu hatinya. Mendapat pukulan telak Alex terlihat sangat kesakitan dan langsung roboh diantara kaki mereka.

” Leave my boyfriend alone! Cam’on guys grown up don’t distrupt my boyfriend”.

Kataku dengan bahasa inggris yang tidak terlalu bagus, sambil melepas kaca mata hitamku. Mulai kutatap mata mereka satu persatu sambil berusaha mengalihkan perhatian mereka dari Alex. Bagaimanapun sangat berbahaya kalo mereka trus memukuli Alex.

” You have a nice boobs “bitch” we love it. And we really love your nasty face “.

Mereka mulai datang menghampiriku dengan pandangan yang sangat mabuk, juga mesum.

” Cam’on what do you want from me?”

Tanyaku semakin terpepet dengan tubuh mereka yang besar , berlemak, dan berbau badan tak sedap ini. Alex kulirik masih merintih kesakitan memegang perutnya.

” Babe I have a long dick and I want to stick it in your tight pussy”.

Kata pria yang paling besar sambil memegang daguku.

” Mmmm what a nice ass”, tambah pria dibelakangku hendak memegang bongkahan pantat montokku.

Kutunggu dengan sabar. Tepat ketika mereka sudah menjepit dan hendak menjamah tubuhku, langsung kuberi pukulan lurus menusuk “JODAN TSUKI” khas karate pada pria besar gemuk yang ada di depanku, tepat di rahangnya. Menerima pukulan lurus menusuk mematikan itu pria itu langsung roboh sambil bergulung gulung di atas pasir putih .

Menyadari- dari arah belakang- ada tangan yang mau menjamah pantatku, langsung kutangkap tangan itu kemudian kupelintir keras sambil lututku memberi sodoka tepat ke kemaluannya.

” Dugggg”. Pria itu langsung tertunduk meringis getir sambil mengeluarkan air mata saking sakitnya menerima sodokan yang menghancurkan kejantanannya.

Pria yang satu lagi melihat kedua kawannya ambruk di tanganku langsung sadar dan bergidik ketakutan. Kutatap matanya langsung.

” YOU WANT TO FIND A MESS WITH ME?? ”

” Nnnnoooo im sorrryyy mammm”

” GET YOUR ALL ASS OUT OF HERE!”.

Perintahku dengan nada tegas yang langsung membuat mereka lari kocar kacir. Kedua pria tambun yang kutonjokdi dagu dan kemaluannya meskipun tertatih-tatih berusaha kabur menjauh dari kami.Setelah mereka kabur semua kuhampiri Alex. kasian dia pasti sakit sekali perutnya.

” Sayang kamu gak kenapa-kenapa?”, tanyaku penuh belas kasih kepadanya.

” Mbak padahal Alex bisa ngusir mereka lho, Alex udah mau bangun tadi dan memberi mereka pelajaran”, katanya sok berani dan sok kuat.

” Hushh udah”, kelus rambutnya penuh kasih sayang, ” udah pada kabur mereka kena Jodan Tsuki Mbak, perutmu gak kenapa-napa??kasian kamu”, kuelus perutnya dengan lembut. Ada tanda biru disekitar ulu hatinya. Keterlaluan betul mereka.

” Gak kenapa-napa Alex kuat kok Mbak…”.

Langsung kucium mesra bibirnya, ” gak usah sok kuat di hadapan Mbak Lex!”, kucium kembali bibirnya, ” udah rebahan aja, lepas kaosmu Mbak mau kasih kamu hadiah”.

Alex menuruti printahku. Segera dia berbaring sambil melepas bajunya. Segera kutindih dia. Posisiku kini diatas tubuhnya. Mulai kucium bibirnya dengan sangat bergelora. Suasana matahari yang sebentar lagi terbenam, ditambah deru ombak dan kecantikan alam menambah gelora cumbuan kami.

Kuulangi “panasnya” gairah ciuman kami sejak dari bandara tadi. Kuhisap bisir Alex dan kembali mengundang lidahnya untuk keluar untuk bersenggama. Langsung disambutnya undanganku dan kamipun langsung begumul dalam birahi. Rasanya sangat lama kami berciuman. Sebelum kulepaskan bibirku. Kini giliranku untuk berbisik nakal kepadanya.

” ini hadiahku buat kamu Sayang! Semoga cepat sembuh ya!”, bisikku sambil membuka celah bikini atasku. Dengan membuka celah ini tentu payudaraku jelas terlihat oleh Alex.

” kamu suka dengan susu Mbak sayang??”, godaku.

Alex mengangguk.

” Nih susu Mbak sayang! Nikmati sepuasmu”.

Tanpa dikomando lagi Alex langsung menyosor ke putting susuku. Disedotnya dengan rakus susu kananku, kemudian beralih ke yang kiri. Lidahnya tak lupa menggesek-gesek terus permukaan putingku, menambah getaran rangsangan yang kuterima.

” Ouuuugghh sayang..”, aku mendesah hebat.

Kuremas kepalanya sambil menjambak rambutnya. Hisapannya di dadaku begitu kuat dan merontokkan pertahananku.
Dia terus menghisapku dengan liar. Membuatku mengalami orgasme kecil yang cukup nikmat. Kulepas kepalanya dari dadaku.

” Udahan ya neteknya sayang! Mbak mau main sama si “dede” , godaku sambil tersenyum nakal dan melirik ke bagian bawahnya.

Alex tampak sangat terangsang dan begitu “hadir” menikmati setiap godaan dan rangsangan yang kuberikan. Sakit di perutnya akibat pukulan tadi tampaknya sudah lenyap.

Aku mulai beranjak turun ke bagian bawahnya. Sebelum menyantap “hidangan utama”, kujilati dulu dadanya sampai menyentuh putingnya. Kemudian perutnya yang rata dan kencang kuciumi dengan buas. Sangat kukagumi postur badannya, yang merupakan buah disiplin mengatur makan dan berolahraga keras.

Tak tahan rasanya aku melihat lubang pusarnya yang begitu menggoda, langsung saja kusosor pusar itu dengan permainan lidah mengubek-ngubek bagian itu..

” Ouuughhh Mbakkkkk”, Alex mulai mendesah hebat.

Sambil bermain di pusar tanganku kuarahkan ke celana pendeknya. Perlahan kuturunkan celana itu berikut celana dalamnya. Mulai kupegang batang kejantanan Alex yang telah tegang sempurna. Dia sangat sehat. Batang ini begitu tegak seperti kayu yang kokoh tak tergoyahkan. Sakitnya pasti telah hilang.

Mulai kuturunkan ciumanku menuju kemaluannya, sambil terus memngocok tanganku di batang tegak itu. Kuperhatikan baik-baik kini kejantanannya. Begitu banyak urat-urat yang telah menegang. Pasti dia begitu terangsang. Tanganku kuarahkan ke kantung zakarnya yang juga telah mengeras. Kuelus perlahan dan mulai kukocok pelan.

Secara cepat langsung kuhisap dalam-dalam kantung zakarnya yang kanan.

” Ouuuuuughhhhhhh Mbakkkkk ampuuuuuuuunnnn”.

Alex setengah menjerit. Kulanjutkan seranganku dengan menyedot zakarnya yang kiri.

” Aggggghhhh shiiiittttt….ouuuugggghhhh fucckkkkk”.

Alex mulai meracau tak karuan menerima perlakuanku.

Mulai kujilati pelan batangnya penisnya. Kutegakkan dengan tanganku agar berdiri tegak kemudian kujilati setiap sentinya. Yakin sensasi geli-geli nimat tengah menyerbu Alex saat ini.

” Mbakkkk….Mbakkkk…ooouugghh fuckk”.

Dia semakin tidak tahan. Kubayangkan batang ini bagai es krim yang begitu nikmat. Perlakuan khusus kuberikan kepada helmnya yang telah berwarna kemerahan. Kujilati berputar-putar disekitar helm kemaluannya. Sengaja kuhindari lubang kencingnya untuk semakin membuatnya penasaran.

” Ooouughhh Agggghhhh Ouuuuggggh”.

Alex semakin histeris meneima perlakuanku. Mulai dijambaknya rambutku sebagai penyaluran syahwatnya. Mungkin karena penasaran, disibakkan rambut pendekku yang menghalangi pandangannya untuk melihat apa yang terjadi di bawah sana.

Ketika rambutku telah tersibak, jelas dilihatnya “kenakalanku” yang tengah asyik menjilati seputaran bonggol kemaluannya. Kuarahkan mataku-tanpa menghentikan jilatanku-ke arah wajahnya, jelas terlihat ekspresi histeris kenikmatan Alex yang begitu indah. Tanpa mengeluarkan satu patah katapun, aura wajahnya seolah ingin mengatakan, “Mbak cepatlah bawa Aku ke puncak”.

Pandangan mata kami bertemu. Rasanya ingin lama kunikmati ekspresi wajah penuh kenikmatan Alex seperti ini. Untuk semakin membuatnya histeris, mulai kuarahkan jilatanku tepat di lubang kencingnya berkali-kali sambil mengurut-urut penisnya. Gerakan mengurut ini kulakukan dari pangkal penisnya, perlahan dengan tekanan yang pas, kubawa naik tanganku menuju ujung pensinya. Sampai di atas kuulangi lagi urutanku dari bawah, demikian secara berulang-ulang. Sampai aku yakin kalo “lahar spermanya” sudah mengalir sempurna menuju liang “pelepasan” siap untuk diluncurkan.

” ouuughhhh Ampunnn ampuuunnn Mbakk…….Ampuuunnn”.

Meskipun Alex memohon-mohon ampun tidak akan kuberikan dia ampunan. Dia harus mencapai klimaksnya secara maksimal.

Betapa indahnya menyaksikan hysteria syahwat seorang laki-laki, yang tubuhnya tidak henti menggeliat, diiringi tangannya yang terus meremas-remas alas disekitarnya, dipadu dengan ketenangan matahai saat sedang kembali menuju peraduannya. Bukankah di dunia ini dua hal yang bertentangan selalu hidup berdampingan? Jahat-baik, hitam-putih. Tenang-histeris. Menurutku puncak keindahan adalah ketika kedua hal yang terpisah itu mulai “bersatu” dalam suatu perpaduan yang tidak bisa digambarkan lagi melalui kata-kata

Merasakan penis Alex mulai menggelembung karena mengalami “overload” sperma, langsung kuoral batang itu ke dalam mulutku. Ini pengalaman pertama kali buatku, tapi di zaman dimana konten pornografi dapat diakses dengan mudah oleh semua orang, informasi yang kudapat sudah cukup untuk membawa pengalama oral yang tak terlupakan baginya.

Pertama-tama kumasukkan batang itu ke dalam mulutku, kemudian kupastikan gigiku tidak menggesek kulit penisnya karena pasti sakit, yang terakhir kuhadirkan sensasi vagina yang hangat, sempit, dan basah melalui mulutku. Bagaimana caranya menghadirkan sensasi vagina kepadanya? Tentu dengan menggesek naik-turun penisnya dengan rongga mulutku.

Kepalaku mulai bergerak naik turun memberikan oral yang “unforgatable” kepadanya. Kadang ritmenya cepat kadang lambat. Pada momen tertentu kecelupkan penisnya hingga mentok ke kerongkonganku untuk memberikan yang namanya “deep throat”. Tak lupa tanganku ikut membalai perutnya yang tadi ditonjok begundal mabuk.

” Ooouuhhh fuck….ooo myyy goddddd…Mbakkk Alex udah mau muncrat awas…..awas Mbakkk… kepalanya….nanti kenaaaaaaa…………”

Tak kuperhatikan ocehan Alex justru semakin menggila aku mengoralnya.
Tiba-tiba batang penis itu rasanya begitu membesar dimulutku.

” Heeeeegggggghhhhhhh……”.

Alex mulai kehilangan nafas sambil bergetar naik turun bagai orang tersengat listrik ribuan volt.
Akhirnya penisnya meledak dengan hebat di dalam mulutku.

Kurasakan begitu dahsyat rangkaian semburan lahar spermanya. Ini seperti selang yang menyembur keras. Berkali-kali rasanya lendir kental itu meloncat bebas menyemprot ke dalam rongga mulutku. Alih-alih merasakan rasanya, aku lebih focus untuk terus menghisap penisnya agar puncak kenikmatannya tuntas di dalam mulutku.

Alex tak mampu lagi bersuara. Dia terus melonjak-lonjak histeris dengan kemaluannya yang terus berada dalam mulutku.

Crooot…crooot crooot lahar itu terus menyembu dengan hebat. Ketika akhirnya penis itu mulai menciut, Alex mulai mendapatkan jiwanya kembali. Selama sepersekian detik mengalami ejakulasi tadi, rohnya seakan pergi ke langit ketujuh.sekarang badan dan jiwanya telah kembali ke pasir putih yang terhampar di sekitar kami.

” Ouuuughhh Mbaakkkkk cukup Mbakkkkk ha hah hah ” , kata Alex terengah-engah sambil memegang kepalakku.

Dibawanya aku untuk sejajar dengannya dalam kondisi menyamping. Ketika aku telah berada dismpingnya langsung diciuminya bibirku dengan penuh rasa terima kasih. Tidak dipedulikannya ceceran spermanya sendiri yang masih banyak tercecer di sekitar bibirku. Memang benar kata orang, nafsu dan gairah bisa menghilangkan perasaan jijik di pikiran kita.

Lama kami saling bepelukan mesra sambil menikmati akhir perjalanan sinar matahari di sore itu.

Ahh betapa intimnya kami berdua berbaring berdua di kesunyian pantai yang terus bergemuruh dengan hantaman ombaknya.
Bukankah ini baru hari pertama?? Aku tidak dapat membayangkan petualangan apa lagi yang akan aku alami dalam sisa liburanku di Pulau Dewata….

Bersambung…..