Polwan Part 6

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10

Cerita Sex Dewasa Polwan Part 5 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

 Cerita Sebelumnya : Cerita Sex Dewasa Polwan Part 4

TRIBUTE FOR GABY
II

Gaby lanjut bercerita :

“….Sepanjang perjalanan menuju rumah mereka terus melecehkanku. Apabila ada kesempatan, baik Mbah Bejo maupun Dodi selalu menyusupkan tangannya ke bagian sensual tubuhku. Tangan Mbah Bejo sangat suka menyusup ke bagian ketiakku, sementara Dodi sangat menggemari pantatku.
Akhirnya perjalanan yang “seolah” sangat jauh itupun berakhir dengan terlihatnya pekarangan halaman rumahku yang asri.

” Emmm Itu rumahku Mbah….”. Kataku penuh kegugupan.

” Oow itu rumahmu ya Nduk? Bagus. Ayo cepat buka pintunya Mbah sama Dodi udah gak sabar nih!”.
Sambil memerintahku untuk segera membuka pintu mereka kembali menggandengku mesra penuh pandangan cabul.

“….Ckreeeeek….”., dengan gugup aku membuka pintu.

” Hmmmmm bersih dan wangi rumah ini Dod.. bisa betah nih he he”.

” Bener Mbah! Bisa lama nih kita maen sama Neng cantik ini he he”. Sahut Dodi

” Neng dimana kamar mandinya?? Abang Dodi mau mandi dulu nih. Kotor banget badan Abang dari pagi belum mandi”.
Kutunjuk dengan telunjuk tempat kamar mandi kami yang terletak di ujung lorong. Tanpa banyak omong lagi Dodi segera bergegas menuju kamar mandi.

” Nah mumpung Dodi lagi mandi tunjukin kamarmu ya Nduk! Mbah mau liat kamarmu”.
Masih dipenuhi ketakutan kuantar Mbah Bejo masuk ke dalam kamar tidur yang biasa menjadi saksi persetubuhan panas antara diriku dan Mas Cakra.

” Cek…Cek.. luas ya kamar ini Nduk! Apalagi tempat tidurnya bisa muat buat bertiga. Kamu memang udah siap dengan kedatangan kami Nduk”.

Setelah mengatakan itu Mbah Bejo kembali memelukku.
Kutahan badannya sebisaku dengan tenaga yang kalah kuat darinya.

“Mbaah.. Mbaah.. ampun Mbah jangan lagi ya! …..ampuni Gaby! Ambil aja semua uang atau perhiasan Gaby tapi tolonng lepasin Gaby ya..”.

Aku mengucapkan itu dengan badan gemetar diiringi butir air mata yang mulai mengalir dari kedua bola mataku.

” Kamu gak usah nangis Nduk!”, tangan Mbah Bejo menyeka mataku yang mulai berkaca-kaca.

“..Kami datang kesini gak niat nyakitin kamu. Hartamu kami gak butuh!. Dodi sama Mbah udah cukup dalam soal harta…”

“….Jadi apa yang bisa Gaby kasih ke Mbah biar Gaby gak diperkosa??”. Tanyaku memelas.

” Udah kamu NURUT aja sama kami Nduk! Itu aja yang Mbah mau. Memperkosa? Kamu sendirikan yang suka make baju sexy untuk menggoda mata laki-laki?. Kalo sudah jadi begini salah siapa coba Nduk??”.

Aku terdiam menyadari kebodohan kelakuanku sendiri.

Kejadian ini mulai membuatku mengutuk diri sendiri atas “kenakalanku”.

” Kamu sendiri yang ngundang kami Nduk. Sekarang kami datang untuk memenuhi undanganmu”.

Aku mulai menitikkan air mata menangis.

” Udah kamu gak usah nangis! Mbah sama Dodi janji gak akan maen kasar sama kamu!. Tapi kamu harus NURUT sama kami NGERTI!”.

” Iya Mbah tapi..hanya untuk malam ini aja ya Mbah”. Pintaku penuh harap sambil mengangguk pasrah.

Tangan Mbah Bejo yang semula hanya menyeka air mata kini telah memelukku. Setelah itu dia kembali memegang wajahku untuk menatapnya kemudian mengangguk sebagai tanda setuju.

” Mbah janji Nduk “. Jawabnya sambil mencium bibirku.

Mungkin karena pengaruh karismanya , aku menyambut ciuman Mbah Bejo dengan bergelora .
Lama kami saling berciuman mesra sambil saling berbagi keintiman sebelum Mbah Bejo melepaskan ciumannya.

” Kamu bau keringet Nduk..ayo ikut Mbah kita mandi bareng Dodi!.”

” Mbahh jangan Mbah gaby takut. Masak mandi bertiga…”

” Hush kan kamu udah janji mau nurut Nduk!”. Ujar Mbah Bejo penuh ketegasan langsung menghujam jantungku.

“…Iya Mbah Gaby patuh…”.

Aku menunduk lesu untuk memenuhi keinginan dari pria paruh baya ini.

” Sebentar Nduk…nah ini cocok untuk kamu..ayo kita jalani”. Kata Mbah Bejo sambil mengambil sesuatu dari kaca riasku yang tidak kuketahui apa sebenarnya yang diambilnya. Setelah itu dituntun oleh Mbah

Bejo kami melangkah menuju kamar mandi. Sebelum sampai disana terdengar suara nyanyian Dodi.

” la….la…la….Neng Gaby betapa sexynya dirimu”.

Dodi sedang asyik bernyanyi di kamar mandi sambil memanggil-manggil namaku.

” Dod buka pintunya! Mbah sama Neng cantik mau mandi bareng kamu nih…”

” Wah yang bener Mbah?? asyikkkk”. Suara Dodi terdengar sangat bergembira dan bersemangat. Tiba-tiba Dodi membuka pintu.

Pemandangan yang kulihat ketika pintu kamar mandi terbuka sangat mengejutkan.

Dodi berdiri disana telanjang bulat. Bentuk tubuhnya sangat atletis. Sebagai mahasiswa sepertinya dia rajin berolahraga dan merawat tubuhnya. Posturnya menyerupai Mas cakra.

” Dod Neng Gaby barusan udah bikin kesepakatan sama Mbah”.

” Bikin kesepakatan apa nih Mbah??? “.

” Kita gak boleh nyakitin dia selama si Eneng nurut sama kita. Kamu ngerti kesepakatan ini kan Dod?”

” So pasti donk Mbah. Lagipula siapa sih yang mau nyakitin kamu Neng? Kami berdua Cuma mau buat kamu puas he he Abang mau buat kamu crot lagi kayak di bus…”.

Demikian kata Dodi sambil maju kearahku langsung memeluk dan mencium bibirku.
Basahnya tubuh Dodi membuat seluruh dasterku bagian depan juga ikut basah karena ulahnya ini.

” Dod kamu bikin basah dasternya Neng tuh.. kasian dia nanti masuk angin”. Kata Mbah Bejo menghentikan aksi ciuman kami.

” O iya ya maafin Abang ya cantik. Sebagai gantinya Abang mau mandiin kamu biar kamu gak masuk angin. Ayo angkat tangannya! Abang mau bantuin Neng lepasin bajunya.”

Bagai seorang anak penurut kupatuhi perintahnya dengan mengangkat tanganku.

Ketika mengangkat tangan mulai kupejamkan mata tak sanggup menantikan apa yang mereka berdua telah persiapkan.

Kesunyian yang begitu lama tentu membuatku penasaran. Sedikit kubuka mataku untuk melihat apa yang sebenarnya mereka tunggu.
Terlihat di hadapanku Dodi masih termangu mungkin terkagum-kagum menyaksikan kemolekan tubuhku.

Dari belakang Mbah Bejo juga tampak sangat terperangah dengan kemolekan tubuhku hingga tak mampu berbuat apa-apa.

” Gleg” . Mbah Bejo menelan ludah.

” Ayo Dod dimulai jangan bengong aja ” . Akhirnya mbah Bejo mampu mengeluarkan suara untuk mengakhiri ketakjubannya.

” iiiiya Mbah “. Dodi mulai sadar dan menyosor diriku.

Permainan merekapun dimulai.

Dodi memulai serangan ini dengan menanggalkan daster satu tali yang sedari pagi tadi telah membalut tubuhku. Lepasnya daster mini ini tentu membuatku langsung telanjang bulat.
Ketelanjanganku tanpa sehelai benangpun semakin membuat mata mereka berbinar ingin segera melumat tubuhku.

Secara bersamaan mereka berdua menghimpitku dari dua arah.

Dodi yang memang telah telanjang bulat dengan rakus langsung memagut bibirku. Tangannya segera menjelajah naik ke arah puting payudaraku yang telah bebas. Mbah Bejo dari arah belakang kurasakan sangat bernafsu dengan kedua pantat telanjangku. Dengan buas dia meremas-remas kedua pantat montok itu.

Dodi yang telanjang tidak mampu menyembunyikan betapa terangsangnya dia terhadap diriku. Dalam waktu singkat “pusakanya” yang semula lunglai langsung teracung tegak. Deras sepertinya aliran darah di alat kelaminnya itu sehingga membuat penisnya tegak mengacung.

Sedikit dikangkangkannya kedua belah kakiku, kemudian diletakkannya senjatanya di celah nikmat itu untuk kemudian digesekkannya ritmis.

Mbah Bejo sepertinya tak mau ketinggalan panasnya permainan kami. Cepat dia melepas baju dan celananya hingga bertelanjang bulat. Kini kami bertiga sama-sama polos.
Aku sendiri mulai menikmati apa yang mereka lakukan padaku.

Ledakan Gairah seksualku yang empat hari ini kurang terpuaskan akibat kepergian Mas cakra seolah terobati dengan kehadiran mereka berdua.

Mbah Bejo kembali berkata pada Dodi, ” Dod, sebelum kita mandiin Neng Gaby gimana kalo kita pangkas dulu “hutan lindung” yang ada di bawah? He he udah rimbun tuh. Mbah juga gak seneng “maen” ama cewe yang ada bulunya lebat begini”.
Dodi melepaskan ciumannya langsung menginspeksi vaginaku.

” Eeiit iya Mbah bener banget. Ini jembut Dodi udah cabutin lho pas di bus waktu itu, gak nyangka udah lebat begini”.

Aku memang tidak pernah mencukur habis rambut yang tumbuh di sekitaran kelaminku. Baik Mas Cakra maupun suamiku lebih menyuakai kalo di “situ” ditumbuhi sejumlah rambut. Kata mereka itu membuatku semakin sexy. Sontak saja keinginan dua pria asing dalam kehidupanku ini membuatku takut. Sebagai bentuk refleks kututupi area genitalku dengan kedua tangan.

” Jangan Mas Dodi….Mbah tolongin Gaby jangan “rambutnya” Gaby dipotong Mbah…..”. kataku memelas berharap belas kasihan dari kedua makhluk yang telah dimabuk birahi ini.
Mbah Bejo memelukku dari belakang menahan gerakanku.

“Nduk kan kita udah sepakat. Kami gak akan kasar sama kamu sepanjang kamu nurut Nduk. Kamu udah lupa ya??”

Aku menggeleng, masih bergidik ketakutan.

” Neng percaya aja ya ama Abang Dodi. Abang yang mau nyukurin Neng kok jadi jangan khawatir ya Neng. Percaya deh ama Abang nanti juga Neng sendiri yang bakal keenakan!”

” Gimana Nduk mau nurut??” . Tanya Mbah Bejo .

Kembali aku mengangguk pasrah patuh dengan segala keinginan “aneh” mereka.

” Bagus!!! Semakin cantik kamu Nduk kalo nurut “. Kata Mbah Bejo sambil memegang daguku dari belakang”.

” ayo kita mulai Mbah!”. Ajak Dodi yang langsung disambut Bejo.

” Gelar handuk di lantai yang masih kering itu Dod! Kasian Gaby bisa kotor nanti kulitnya!”. Perintah Mbah Bejo.

Dengan tangkas Dodi menghamparkan handuk besar untuk menjadi alas diantara lantai kamar mandi. Mereka berduapun mulai menuntunku untuk rebah disana dalam posisi terlentang.
Mbah Bejo sedari tadi telah menyuruh Dodi untuk mencukur vaginaku. Sedangkan dirinya sendiri lebih memilih memangku kepalaku dengan kedua pahanya.

” Ckk..ckk.ckk mulusnya Mbah si neng geulis ini”.

Dodi terdengar sangat mengagumi pemandangan vaginaku.

” Ssst udah gak usah banyak ngomong Dod. Gundulin aja cepetan”. kata Mbah Bejo tidak sabar.

“Mmmm pelan-pelan ya Bang. ” harapku sambil menatap ke arah Dodi yang terlihat sangat bergairah menyaksikan penampilan vaginaku.

” Udah kamu gak usah mikir apa-apa Nduk kamu oral punya Mbah saja”. kata bandot tua Bejo sambil mengarahkan penisnya ke mulutku.

Dalam posisi terlentang seperti ini kepalaku memang menindih paha Mbah Bejo. Tanpa kusadari penis Mbah Bejo telah ereksi maksimal akibat menyaksikan ketelanjanganku yang begitu menggiurkan.

” Hush gak adil donk Mbah masak Dodi lagi nyukur Mbah udah dapat jatah”. Dodi memprotes Bejo.

” Kamu tuh masih muda Dod sabar donk ngalah sama yang tua.”

” Gak mau ah. Dodi gak mau nyukurin kalo gtu”. Ambek dodi sambil memasang muka sebal.

” Ya udah deh Mbah ngalah. Dasar anak muda jaman sekarang. Sebentar kamu tunggu disini Mbah ambil bantal dulu buat nyangga kepalanya si Neng. Mbah mau nikmatin bagian tubuhnya yang lain”. Sambil berkata Bejo seger beranjak menuju kamarku untuk mengambil bantal.

” Nah Nduk cantik kepalamu rebahin aja disini. Kakinya dibuka lebar atuh biar gak kepotong kulitnya. Kamu gak mau “itunya” luka kan?”. Tanya Mbah Bejo.

Aku menggeleng penuh ketakutan segera membuka lebar kedua kakiku.

” Dod mulai gundulin si Neng!”. perintah Mbah Bejo pada Dodi.

Mendapat instruksi darinya Dodi mulai mencukur kemaluanku.

Dodi sangat sangat telaten. Dia mengambil rambut kewanitaanku yang panjang kemudian diguntingnya dengan gunting pendek yang ada di lemari riasku. Setelahnya diambilnya “shaving cream” yang telah Mbah bejo siapkan kemudian dioleskannya merata keseluruh area genitalku.

Selain telaten Dodi juga sangat nakal. Sambil mengusap cream tidak henti dia berusaha merangsangku dengan gerakan tangannya yang menggoda.

Setelah rambut panjang yang tumbuh disana terpangkas, Dodi mulai menggunakan pisau cukur khusus wanita untuk melakukan “pembersihan” untuk menjadikan vaginaku semakin licin, botak dan bersih.

Sebaliknya Mbah Bejo yang mendapat jatah ” menikmati ” bagian atas tubuhku juga melakukan tugasnya dengan penuh nafsu dan gairah.

Pria tua ini memulainya dengan menyangga kepalaku menggunakan bantal yang diambilnya tadi dari kamar tidurku. Setelah kepalaku tersangga dan tubuhku telah terlentang dengan nyaman Mbah Bejo memulai aksinya. Mula-mula dia mencium bibirku dengan ganas sepeti tidak ada hari esok.

Kemudian kedua tanganya mengambil kedua tanganku dan membawanya ke atas kepalaku. Bandot tua ini sangat mengidolakan ketiakku, bahkan ketika asyik berpagut matanya kuperhatikan selalu mencuri-curi pandang kearah ketiakku yang telah terpampang jelas akibat ulah tangannya . aku sendiri mulai pasrah menyerahkan diriku menjadi bulan-bulanan kedua pria ini.

” Mbah udah kebabat semua nih hutannya”. Seru Dodi dari bawah sana.

” Dodi harus ngapain lagi nih Mbah”.

Mbah Bejo melepas ciumannya dibibirku.

” Udah kamu rasain aja tuh “pepeknya” si Neng geulis, pasti rasanya manis kayak orangnya”.

Sebelum aku sempat memprotesnya Bejo kembali menciumku dengan ganas. Kurasakan dari bawah kedua kakiku telah dikangkangkan maksimal oleh Dodi. Terasa getaran nafasnya yang mulai berputar-putar di area itu.

Mas Cakra ataupun suamiku telah menyetubuhikau berulang kali, namun aku belum pernah merasakan daerah sensitifku itu begitu “semriwing” ketika ditiup oleh nafas Dodi. Apa mungkin ini karena rambut yang semula melindungi organ intim itu telah digunduli oleh Dodi??.

” He he Neng siap-siap ya punya Neng yang udah licin ini mau Abang “poles” rasain ya ada bedanya atau nggak sama waktu ada rambutnya..”, Dodi mulai menjilati vaginaku .

“Uuuuuuuuugggghhh”. Aku tersontak mendesah dengan serangannya dari bawah tubuhku.

Begitu nikmat kurasakan seperti cetar membahana. Permukaan lidah Dodi bersentuhan langsung dengan permukaan sensitive liang vaginaku tanpa penghalang apapun. Sensasinya yang ditimbulkannya sangat luar biasa. Rasanya aliran darah yang semula mengalir ke seluruh bagian tubuh tiba-tiba beralih untuk terpusat mengaliri zona nikmatku.

” ooooouuuughhhhhhh”. Aku mulai mendesah sambil memejamkan mata mulai tidak kuat menahan desakan nikmat dari arah sana.

” He he Dod si Neng udah keenakan banget tuh kayaknya wajahnya udah merah padam”. ujar Bejo sambil melepas ciumannya dari bibirku.

” Aaggghh..oooohhh…masssss…”. Aku mulai bisa berdesah lepas setelah Bejo melepas kulumannya dari bibirku.

” Tetekmu ini Nduk udah “ngaceng” kenceng banget”. Mbah Bejo dengan nakal mulai menjamah payudaraku yang memang telah ereksi akibat seni oral tingkat tinggi yang diberikan Dodi kepadaku.

Sambil meremas tetekku Mbah Bejo mulai memijat susuku itu seperti seorang peternak yang ingin memerah susu sapi. Dari pinggir dia urut permukaan montok payudaraku, kemudian dengan penuh imaginasi dia arahkan urutan itu perlahan seperti ingin mengeluarkan air susu.

Sensasi yang timbul akibat ulah Pria tua ini semakin membuatku lupa daratan.

Serangan dari dua arah yang dilakukan oleh dua pria dengan kemampuan tinggi ini membuatku semakin pasrah kehilangan kesadaran. Kuremas bantal yang menyangga kepalaku. Desakan kenikmatan yang mulai menuntut dilepaskan membuatku semakin lepas mendesah untuk menyalurkan kenikmatan syahwat.

” Aaaaaaaah Masss……Uhhhhhhhh Mbahhhh…Aaaaah”. Berulang-ulang aku mendesah hebat untuk mengeluarkan kenikmatan yang masih tertahan.

” Ouuughh Mbbbaahhh apa yang Mbahh laku….Ouuughhh”. Aku kembali histeris setelah Bejo mulai menghisap putingku dengan penuh penghayatan.

Selepas memijat payudaraku seolah ingin mendapatkan susunya, kini Mbah Bejo memperlakukan payudara sexyku dengan begitu menggoda. Dihisapnya dalam-dalam putingku kemudian dibiarkan lidahnya menari-nari dipermukaannya yang telah tegang untuk kemudian diakhiri dengan gigitan yang langsung membuatku menjerit.

“Auuuuuuuuggghhh……Ouuuugggghhhh”. Aku memekik kencang.

Segala perlakuan nakal kedua pria ini benar-benar membawaku ke awang-awang. Sangat nikmat.
Sambil bergantian menyedot payudaraku yang kiri maupun kanan tangan Bejo kini bergeriliya menjarah ketiak putih sexyku yang merupakan kebanggaan Mas cakra. Diolesnya ketiak itu dengan kedua tanggannya untuk semakin menambah titik rangsang ditubuhku.

Bagaimana dengan Dodi??.

Ough jangan tanyakan lagi bagaimana lihainya dia bermain di bawah sana. Bibir vaginaku terus dihisap maupun dijilatinya dengan bersemangat. Dodi seperti sangat mengetahui mana bagian paling sensitive di harta karun kenikmatanku itu. Tangannya terus menjepit area intimku untuk memunculkan klitoris yang tersembunyi. Digunakannya telunjuk dan jari tengahnya untuk menekan pelan area intimku secara intens.

Dodi sudah berpengalaman “mengerjai” wanita.

Dia nantikan munculnya titik kecil yang akan memicu ledakan orgasmeku itu dengan sabar. Terus dia berikan stimulasi-stimulasi rangsangan yang luar biasa dengan telaten. Tangannya yang lain ikut membantu dengan mempermainkan paha putihku bahkan bongkaha pantat hingga lubang analku.

Derasnya serangan yang dilakukan secara intens ke arah dua titik tubuhku ini memang segera memunculkan si kecil mungil klitoris yang ditunggu-tunggu. Titik kecil itu mulai terlihat menonjol dari celah atas vaginaku menegaskan betapa aku telah terangsang hebat. Dodi yang telah melihatnya muncul menatapnya berbinar.

” He..He Neng cantik siap-siaap terbang ya…”. Ujarnya singkat langsung menyerbu klitoris yang telah memerah itu.

“OUuugggggghhhh…..”. Aku mulai sulit bernafas menandakan detik-detik orgasmeku semakin dekat. Mbah Bejo sangat menyadari hal ini.

Hisapannya di payudaraku mulai berpindah kea rah ketiakku. Kejadian di bus kota tadi sore seolah menyadarkannnya bagaimana rangsangan di ketiakku dapat membuatku orgasme dalam waktu singkat. Mulai dijilatinya dengan ganas lembah-lembah ketiakku bersamaan dengan jilatan liar Dodi terhadap klitorisku.

“Mbaaaah……..Doddii……Gaby mau nyampe………”.

Demikian racauku sebelum orgasme itu meledak membuatku mengalami “ekstase” luar biasa.

Aku kembali merasakan Orgasme hebat semua berawal dari rasa “fly” dalam pikiranku. Seluruh beban kehidupan seolah terangkat hilang sama sekali. Rasa fly yang timbul kemudian berpadu dengan kepasrahan tubuhku dalam menyambut nyanyian kenikmatan.

“OOOuuuggghhh”. Pantatku terangkat tinggi untuk melepaskan ledakan yang timbul dari bawah.

“Huuuggggghhhh”. Tubuh atasku melenting tak beraturan akibat setruman orgasme hebat yang berturut-turut datang,

Ledakan kenikmatan yang datang membuat tubuhku terbujur kaku berusaha menyalurkan semua gelombang orgasme yang datang.

Tidak ada suara yang dapat kukeluarkan. Lidahku seperti tercekat kelu tidak mampu mendesahkan suara apapun. Yang ada hanya gerakan penuh kenikmatan yang dapat kupertontonkan kepada kedua orang asing ini. Entah karena pelajaran yang telah kuterima dari Mas Cakra sebelumnya, atau karena libido seksualku yang memang tinggi aku menyerah pasrah kepada mereka.

Mereka baru mengenalku beberapa jam yang lalu. Namun dosa yang telah kulakukan sebelumya dengan memamerkan tubuhku di tempat umum telah membuatku demikian pasrah kepada mereka.
Kubiarkan mereka menyaksikanku tenggelam dalam nikmatnya hysteria kenikmatan. Mbah Bejo ataupun Dodi pasti sangat menikmati wajahku yang semula cantik meraung-raung binal.

” Haggggh Ahhhhhhhhhh”.

Raungku keras setelah mampu mendapatkan nafasku kembali. Kegelian teramat sangat mulai kurasakan dari arah vagina. Keberadaan Mbah Bejo yang mengunci kedua tanganku keatas membuatku hanya mampu berusaha menyilangkan kakiku sebagai bentuk permintaan kepada Dodi untuk menghentikan jilatannya.

Namun janji Dodi ketika turun dari bus memang mulai terbukti. Mereka berdua ingin mengeluarkan seluruh cairan kenikmatanku sampai habis. Dodi dengan tenaganya yang kuat kembali menjepit kedua pahaku dan membawanya untuk kembali mengangkang lebar. Dijilatinya kembali bagian itu dengan kecepatan yang semakin bertambah cepat.

” Amppuuuun…ammppppuuun….Ouuuugggghh”

Aku kembali orgasme hebat dengan serangan mereka yang luar biasa. Nikmat sekali rasanya mendapat semua perlakuan ini. Mereka membawaku dengan begitu mahir sampai ke ambang tertinggi kenikmatan seksual.

Mereka terus memperlakukanku dengan begitu mahir hingga aku mengalami rangkaian orgasme berkelanjutan.
mereka baru berhenti saat menyadari aku sudah benar-benar tidak berdaya kehabisan nafas dan cairan.

” Hahhh….hahhhh…hahhh…Amm..punnnn”.

Kataku sambil memejamkan mata akibat badai orgasme yang baru saja mereka sajikan kepadaku dengan permainan oral mereka yang luar biasa.

Mbah Bejo dan Dodi betul-betul menjadi pakar seksual bagiku. Mereka tidak serta merta meninggalkanku pasca momen “special” ini.

Mereka memelukku dan memberikan ciuman-ciuman menenangkan pada sejumlah bagian tubuhku. Mbah Bejo yang berada diatasku memelekku erat sambil mencium bibirku. Sedang si anak muda Dodi dengan penuh kasih sayang merapatkan kedua celah kakiku yang masih sangat sensitive itu dan memberikan ciuman penenang diantara area perbatasan vagina yang telah gundul dan pusar.

Mereka terus memeluku seperti mereka berdua sangat sayang kepadaku. Tidak ada tanda-tanda bahwa mereka berdua berniat jahat akan memperkosaku.

Perilaku baik dan santun mereka ini, semakin membuatku pasrah keteka mereka mulai membantuku berdiri dari lantai dan mulai memandikanku. Bagai permaisuri aku dimandikan oleh mereka berdua. Mereka betul-betul menyadari kelelahanku pasca orgasme dan mengambil inisiatif untuk memberiku siraman dan usapan hangat pada seluruh bagian tubuhku.

Semua ritual mandi mereka lakukan sampai menghanduki tubuhku yang basah kuyup karena air. Dengan handuk yang terbalut Bejo menyuruh Dodi untuk menggendongku dan membawaku ke ruang utama.
Di ruang utama itu rupanya mereka telah menyiapkan kejutan lain yang lebih nikmat untukku….

Seperti pengantin baru Dodi menggendongku menuju ke ruang utama rumahku.

Pengalaman orgasme “sejati” yang baru saja kualami benar-benar membuatku kelelahan. Kenikmatan yang berujung pelepasan sejumlah cairan ini ibarat berlari marathon 10 km jauhnya. Aku bahkan sangat kesulitan untuk berdiri tegak karena lututku yang begitu gemetar.

” Mbah, Si Neng paling hobi mempertontonkan kesexyan tubuhnya ya, gimana kalo ronde berikutnya kita main di halaman belakang saja? Neng Gaby pasti suka”

” jangan….jangan Mas……Aku malu mas..”. Segera aku menggeleng untuk menghentikan niatan dari Dodi untuk mengajak kami main “out door” di halaman belakang rumahku..

” Boleh Dod, tapi kasian si Neng udah mandi gitu masa main kotor-kotoran lagi. Udah kita main di ruang utama ini saja. Tapi….”.

” Tapi apa Mbah?”.

” Pintu ama jendela rumah ini kita buka semua saja biar tambah “semriwing” permainan kita he he”.

” Lho jangan donk Mbahh gimana kalo ada yang ngeliat nantinya??”. Kataku memelas mengharapkan Mbah Bejo mengurungkan niatnya.

” Ha ha gak apa Neng itung-itung Neng kasih “hiburan gratis” untuk mereka”.

Dengan lemas aku kembali merinding membayangkan skenario yang telah mereka siapkan.

” Memang Mbah ini bener-bener tinggi ilmunya. Iya Dodi sepakat sama Mbah kita main dengan “pintu terbuka” saja he he”.

Sehabis mengatakan itu Dodi segera membaringkanku di kursi dan beranjak membuka pintu dan dua jendela di ruang tamu itu.

Aku masih sangat lemas. Namun membayangkan sensasi yang akan timbul ketika berhubungan badan dengan “kemungkinan” dilihat oleh orang lain membangkitkan gairahku. Sifat Ekshibisionis dalam diriku tampaknya betul-betul parah.

Setelah semua pintu dan jendela terbuka, angin malam mulai berhembus masuk menerpa kulit kami bertiga yang masih bertelanjang bulat.

Mungkin hanya diriku yang masih cukup merasa hangat karena berbalut handuk.

” Mbah kayaknya lebih seru mainnya kalo kita “dandanin” dulu nih Neng Gaby. Jangan polos gini aja.”

” Iya Dod di kamar tadi Mbah liat si Neng banyak ngoleksi baju-baju sexy. Coba kamu cari ke dalem ambil yang kamu suka. Biar si Neng istirahat aja dulu disini sama Mbah!”.

Dodi terlihat sangat bersemangat memasuki kamarku untuk mengambil pakaian sexy. Hubungan gelapku sama Mas Cakra telah merubahku menjadi seorang kolektor pakaian-pakaian sexy. Dodi pasti bingung memilih baju mana yang harus kukenakan.

” Ayo Neng mumpung si Dodi lagi di kamar, Mbah minta jatah duluan ya he he he”.

Mbah Bejo benar-benar tidak mau melewatkan kesempatan untuk menikmati tubuhku. Kepergian Dodi yang sebentar rupanya masih saja berusaha dimanfaatkan olehnya.

” Mbah belum kebagian liat “punya” Neng yang bawah. Sekarang giliran Mbah ya”

Bejo mendorongku perlahan untuk segera terlentang dan menyingkirkan handuk yang membelit tubuhku.

” Ck…ck…ck… Neng cantik memang indah bener punya Neng. Warnanya merah merona Neng ini nunjukkin kalo Neng lagi horny he he. Apalagi kalo udah “bersih” gini wahhh Mbah tambah “ngaceng”.
Bejo tersenyum nakal. Aku malu melihat tatapan mesumnya dan memutuskan untuk mengangkat tanganku ke atas untuk menutup mataku.
Kurasakan dari “bawah” Bejo mulai menggosok-gosok organ intimku dengan kedua tangannya.

” ini buat pemanasan aja Neng. Mbah mau mijitin bagian Neng yang udah “gundul” ini!”.

Dengan perlahan Bejo mulai memijit area itu. Sepertinya profesi bapak tua ini memang tukang urut atau tukang pijit. Dia begitu mahir. Proses memijatnya begitu lembut dan perlahan.
Sebagai ahli pijit dia tidak langsung “menyosor” vaginaku” tapi perlahan-lahan dijamahnya mulai dari area pusar dan perut bawah, kemudian menyisir seluruh permukaan pahaku..

” Dah relax aja Neng. Ada banya aliran darah yang kurang lancar nih”. Suruh Mbah Bejo kepadaku.

” Mbah…Mbah aku udah dapet baju yang sexy nih..hee …Lho Mbah lagi ngapaian? kok Dodi gak diajak….”. Ujar Dodi dengan nada kecewa.

” Hussh udah kamu tunggu aja duduk disana liatin nih kemampuan Mbah mijet mumpung “anunya” si Neng udah bersih gampang dipijetnya. Nanti juga kamu crot duluan. Coba kamu bantu cariin di kamarnya si  Neng ada minyak gosok yang wangi gak!”

Dodi segera beranjak ke kamar dan kembali dengan minyak gosok milikku yang cukup harum di tangannya. Diserahkannya minyak gosok itu kepada laki-laki tua yang tengah bersiap memijatku. Dengan sikap seperti layaknya pemijat professional Mbah Bejo mulai memijatku.

Beliau benar-benar mahir. Dengan kedua tangannya dia seolah mampu merasakan seluruh aliran darah, urat, atau persendian yang ada di tubuhku. Dipijatnya dengan tekanan yang berubah-ubah.
Setelah melumuri seluruh betis dan tulang keringku dibawanya kedua kakiu ke atas hingga kini tubuhku membentuk sudut 90 derajat.

Kemudian mulai ditekuknya kakiku hingga bibir lututku menempel di perutku. Dipjatnya bagian paha belakang sambil mengurut-urut pelan. Setelahnya kakiku kembali diturunkan dan ia beranjak ke bagian atas tubuhku. Dipijatnya bahuku dengan kekuatan yang pas. Kemudian diangkatnya kedua tanganku dilanjutkan memijat otot-otot tangan.

Sangat sabar dia mengurut-urut lenganku sampai ke ketiak.

Pada area ketiakku dia cukup lama memberikan pijatan. Mungkin sebagai pemijat piawai Mbah Bejo dapat mengetahui bahwa ketiak adalah zona erotisku. Dengan diurut sedemikian rupa aku sendiri merasakan kemunculan kembali syahwatku yang semula telah habis terkuras di kamar mandi.

Dari ketiak dia kembali mengurut payudarakau seperti yang dilakukannya sebelumnya. Dia urut bukit kembarku itu seakan hendak mengeluarkan air susu dari dalam kulitnya. Lama juga dia memelintir-mlintir payudaraku dengan teknik yang sangat lihai.

Diperlakukan seperti ini “gairahku” kembali bangkit dan nafasku mulai tak beraturan.

“Huuuff….huuuuuuff”.

Demikian bunyi nafasku sambil berusaha menahan gejolak syahwat yang mulai bangkit.

Saat jari tengah dan telunjuknya mulai menjepit putingku aku langsung mengalami “orgasme kecil” yang untungnya masih dapat kusembunyikan.
Sedikit kubuka kakiku untuk menyalurkan energy orgasme kecil tadi.

Mungkin hanya Mbah Bejolah yang menyadari hal ini. Aku mengetahuinya sebab pijatannya langsung beralih ke bagian bawah pusarku dan menekan wilayah itu seperti membantu proses “pengeluaran cairan”.
Menyadari orgasmeku sudah lewat kembali dia pijat zona itu kali ini dengan lebih “berani”. Tangannya secara rutin kini telah “mengobok-obok” vaginaku.

” NIhhh…Neng kuranng lancar dikit darahnya di daerah sini. Neng pasti kebanyakan makan yang berlemak akhir-akhir ini”. Katanya sambil memijat perbatasan vagina dan pusarku.

Aku meresponnya dengan mengangkat tanganku yang menghalangi mata dan mulai kulihat Mbah Bejo yang sedang asyik memijat.
Mbah bejo kembali memijat dengan intens daerah itu.

” Nah udah mulai lancar. Neng bentar lagi kalo daerah ini udah “plong” Neng bisa “ngecrit” lho….”.

Bejo mengatakan sesuatu yang mengingatkanku pada peristiwa di sawah.

” Masak cewe bisa ngecrot sih Mbah??”. Tanya Dodi tiba-tiba nimbrung dengan penasaran.

” Kamu anak muda taunya “ngentot” doank sih. Masuk cabut ngecrot gitu doank gak ada seninya. Nih liat ilmunya Mbah bisa buat Neng cantik ini Ngecrit kayak kencing. Untung kamu “nyukurnya” bersih tadi Dod Mbah jadi gampang mijitnya”.

Tangan kanan Mbah Bejo mulai berusaha menyeruak masuk ke liang vaginaku, sementara tangan kirinya menekan area atas vaginaku. Diambilnya lotion gosokku lebih banyak dari sebelumnya kemudian dilumurinya vaginaku sampe becek dengan cairan lotion.

Sampai titik ini aku tidak tau apa yang akan diperbuatnya lebih jauh.

Kemudian secara perlahan tangan kanannya mulai membuka celah sempit yang menutupi liang senggamaku. Lama dibukanya kemudian dikatupkannya lagi sambil kadang-kadang memainkan jarinya di jalur lurus area itu sambil menyibakkan kulit luar itilku.

Dengan sangat perlahan sekali dengan jari tangan yang sudah sangat licin, dibantu cairan sisa orgasme kecilku, Bejo memasukkan jari tengah dan kelingkingnya masuk ke dalam liang kenikmatanku.

” Uuuugghh Mbahhh”. Aku mulai mendesah.

Dimasukkannya sedikit saja dalam liang itilku kedua jari itu.

Lama dia memasukkannya dalam posisi lurus, sebelum jarinya mulai ditekuk ke atas menggesek-gesek dinding atas vagina seolah mencari-cari sesuatu.

” Mmmm….uuuh….mmmmmm”.

Aku mulai tak sanggup menahan gejolak syahwat..

Tangan kiri Mbah Bejo yang sedari tadi membantu menekan perutku rupanya sangat membantu memunculkan “sesuatu” yang terletak di atas dinding vagina. Dengan “feeling” yang sangat tajam Mbah Bejo dapat merasakan timbulnya gundukan daging berukuran sebiji kacang merah itu dari atas dinding vaginaku.

Setelah mampu “merasakannya” Mbah Bejo menyerang secara terfokus khusus ke bagian itu.

Kedua jemarinya bergerak naik turun untuk memberi rangsangan pijatan.

Tangan kiri Mbah Bejo tidak beranjak tetap kokoh menekan perut bawahku. Jepitan serbuan tangan Mbah Bejo dari atas dan bawah menghadirkan “sensasi” yang berbeda pada diriku.

” Dod kamu jangan bengong! Cepat pegangin tangannya Neng Gaby biar gak berontak. Sebentar lagi si Neng pasti ngecrit..”

Dodi yang mendengar perintah itu segera bergerak cepat untuk menangkap tanganku ke atas untuk kemudian ditahannya dengan kekuatan ototnya.
Aku sendiri suudah seperti cacing kepanasan terus bergerak liar penuh gejolak kenikmatan yang siap meletup kapan saja.

Jepitan Mbah Bejo di sekitaran titik kecil yang nantinya kuketahui benama “G-Spot” ini bukan hanya membawaku ke langit ketujuh namun juga menghadirkan perasaan ingin kencing di dalam rahimku.
Sebenarnya ini bukanlah pengalaman baru, peristiwa di sawah yang lalu ketika aku asyik bermastrubasi di alam terbuka juga mengeluarkan cairan yang keluar dari alat kelaminku. Namun pijatan “professional” Mbah Bejo benar-benar mendesak cairan itu untuk keluar dengan lebih hebat lagi.

” Mbahh..uughh…Mbahh..Gaby gak kuat ingin pipis Mbah…..tolong hentikan Mbah…”. Rengekku kepada Mbah Bejo.

” Udah Neng lepasin aja. Mbah seneng kok “dikencingin” ama Neng ayo keluarin. Apalagi memeknya udah licin gini Mbah bisa lebih jelas lagi ngeliat Neng kencing!!”.

Mbah Bejo terus mengocokku dengan kecepatan yang semakin bertambah. Desakan orgasme membuatku semakin histeris dan liar namun jepitan tangan Dodi yang memegang tanganku menahanku.
Aku terus bergerak sensual tak terkendali. Kepalaku menggeleng histeris seperti baru saja menenggak obat gedek.

” Mbahhh…Mbahhh…Gaby mauu……pipis.”

” Ayo Neng moncrotin aja ..ayo moncrotin….”

Dengan gerakan jari tangan kanan yang begitu cepat diiring tekanan dari tangan kirinya Mbah Bejo secara tiba-tiba mencabut jarinya tepat ketika vaginaku mengempot begitu kencang.

” Plooop”. Bunyi jari yang dicabut dari vagina

Kaget diriku mendapati Mbah Bejo tiba-tiba melepaskan jarinya.

Kutengadahkan kepalaku untuk melihat apa yang terjadi “dibawah” sana.

Pemandangan air yang memancar dari lubang kencingku menjadi pemandangan terakhir yang kulihat. Air itu tidak terlalu banyak. mungin itulah yang membuat Mbah Bejo menyebutnya “ngecrit”.
Warnanya bening agak mirip air seni namun tidak berbau dan yang paling membedakan.. rasanya. Ketika aku mengeluarkan air seni tidak pernah melibatkan ledakan kenikmatan yang seperti ini. Namun yang sekarang kualami begitu..”cetar membahana”.

Dalam waktu sepersekian detik setelah melihat “ngecritnya” air dari vaginaku hantaman orgasme dan ejakulasi langsung menerjangku dengan “brutal”.
Kepalaku langsung sontak tegang dengan mata nanar tidak mampu menahan sensasi ejakulasi yang timbul. Badanku melonjak-lonjak histeris kehilangan kesadaran. Ya aku tidak sadar. Untuk sesaat aku seperti

“fly” terbang mengawang-awang di tengah hamburan bintang-bintang.

Rasanya yang kulihat hanya kunang-kunang berbentuk hamburan cairan syahwat nikmat.

” Critt….Critttt….Criiit…Crittt…Criit…”

” ouuugghhh.. ouugghhhhhh…….aggghhhhh…aggghhhhh”.

Aku terus mengerang tidak tahan dengan luncuran cairan yang datang bertubi-tubi.
Mbah Bejo begitu lihai menguras habis seluruh cairan ini.

Dalam keadaan terus mengeluarkan cairan aku tidak sanggup menahan desakan getaran seluruh badanku yang meminta terus bergetar. Getaran ini benar-benar menghilangkan kesadaranku.

” Wuuiiiih Mbah hebat benerrr si Neng jadi kelejotan merem melek gini..liat geter trus nih Mbah badannya..”. ujar Dodi penuh ketakjuban

” Iya Dod..si Neng ini wanita sehat yang “hypersex”. Kamu liat betapa banyaknya cairannya yang keluar. Hanya wanita yang “hyper” yang bisa begini. Nih Mbah bantu lagi biar keluar semua cairannya. Ayo Neng kencing lagi..kencingin Mbah Neng..ayooo lagii”

” Ooouugh Mbahhh janggannn…Aaaahhhhhhh”.

Kembali Bejo mencelupkan kedua jarinya masuk ke vaginaku yang masih begitu sempit seperti punyanya para gadis remaja.
Diulanginya lagi ritual sebelumnya dengan mengocok jarinya ke atas dinding dalam itilku.

Déjà vu.

Setelah dirasakannya rongga rahimku seperti hendak meledak dicabutnya keluar jari itu untuk meninggalkanku dalam raungan histeris.

“Ouuuuugghhh…Oooo myyyy Goooooddd…Ahhhhhh…”.

” Ouuuggghhhh Gaby pipiiissss lagiii Mbahhhhh………”

” Crit….crit…..criiit…….”.

Cairan ejakulasiku kembali tumpah ruah bersamaan dengan tersetrumnya badanku melonjak-lonjak dalam pegangan Dodi. Pandangan mataku sudah buram bahkan aku sudah tidak mampu melihat dunia ini lagi.

“ougggghhh…ahhhhhhh……..ammmmpuuuuun”

Aku terus berteriak memuntahkan cairan secara berturut-turut selama 3 menitan.

Tubuhku bergetar demikian hebat mendapatkan rasa nikmat seperti ini.

Mbah Bejo yang tau benar apa yang “sebenarnya” menimpaku kemudian berusaha menekuk kakiku menuju perut untuk membantu ” meredakan” badai yang terus bergelombang datang menghantamku.

” Ayo Neng ambil nafas lewat hidung buang lewat mulut..ayo ikutin Mbah biar “reda” ejakulasi Neng”

Kuikuti nasihatnya dan terasa sangat membantu.

Lambat namun pasti ledakan itu mulai surut meninggalkan tubuhku yang betul-betul kelelahan dengan nafas yang sangat terengah-engah.

” Peluk si Neng Dod kasian!”. Kembali Bejo member perintah kepada Dodi.

Seperti anak yang patuh Dodi melaksanakan perintahnya dan mulai memeluk tubuhku.

Pelukan hangat dari Dodi ditambah pegangan tangan Bejo yang membantu kakiku menekuk benar-benar membuatku nyaman.
Rasanya badai orgasme plus ejakulasi yang baru saja menghantamku berangsur reda dinetralkan oleh bantuan mereka.

“hhoshhh…hhosssh…hhoshhhh..uuuh.uuuhh”. Desahku sedikit ngilu

Nafasku tak beraturan cukup lama mungkin inilah pengalaman “orgasme yang sejat”i.
Rasanya begitu “Cetar membahana” tak terlukiskan.

Ledakannya membuat semua saraf dari ujung rambut hingga ujung kaki bergetar begitu cetar. Mungkin hanya pengalaman seksualku dengan Mas Cakra yang dapat mendatangkan kenikmatan yang sama.

Mbah Bejo dan Dodi begitu telaten menunggu badai nikmatku berlalu.

Setelah mereka yakin bahwa orgasmeku telah reda barulah Mbah Bejo melepaskan genggamannya di pahaku.
Diluruskannya kembali kakiku menyentuh kursi.

” Wanita hyper si Neng. Suamimu pasti puas banget sama kamu Neng. Tipe wanita yang mudah meraih orgasme lagi lagi dan lagi….”. Sedikit analisa Bejo terhadapku.

” sekarang giliranmu Dod masukin barangmu yang udah “ngaceng” berat itu ke “memeknya” si Neng yang udah becek banget itu..”. tiba-tiba Mbah Bejo memberi perintah pada Dodi

” Wah yakin Mbah Dodi yang dapet kesemapatan pertama???”

” Iya Mbah udah tua harus ngalah sama yang muda. Tuh Mbah udah buat Si Neng siap. Ejakulasi tadi bikin “itilnya” siap dimasukin. Nanti kamu rasain sendiri betapa nikmatnya “diempot-empot” sama itil yang abis ejakulasi”. mendengar itu aku berusaha berontak

” Mbah jangan dulu Gaby masih cape. Kasih kesempatan Gaby istirahat dulu..masih geli banget “itunya” Gaby Mbah..”

” ha ha Neng harus patuh ya percaya ama Mbah Neng nanti pasti ngerasa lebiiih nikmat. Mumpung masih”ngempot” Neng”

” jangan Mbah Gaby masih cape …masih geli bangettt.”.

Ketika Dodi memaksa membuka kakiku, dengan sisa tenaga yang tersisa berusaha kulawan dia.

Sisa-sisa orgasme yang masih tersisa memang membuat bagian “itu” jadi terlalu sensitive, masih belun siap untuk di penetrasi.
Aku kembali melawan.

” Mbah si Neng berontak nih bantu pegangin donk!”.

Kata Dodi sambil memaksa membuka kakiku.

Perasaan sensitive dan geli yang berasal dari vagina membuatku wajib melawan mereka. Belum siap liang vagina ini untuk ditembus batang tegak milik Dodi. Berusaha aku berontak dengan menendang-nendang dan memukul-mukul ke arah mereka.

” jangan Mbah…jangan Mas…”

” Udah Nduk kamu jangann……”

( Tiba-tiba)

DOR………. DOR……… DOR (suara tembakan peluru)

Terkejut aku dengan apa yang terjadi.

Tiba-tiba saja Dodi sudah roboh sambil bersimbah darah mengerang-ngerang memegang kakinya.

Dia tertembak.

Mbah Bejo juga langsung menjerit-jerit sambil terkapar di lantai. Sepertinya dia juga terserempet peluru yang dilepaskan.
Dari pintu dan jendela yang tak tertutup tadi samar kulihat beberapa pria berbadan tegap berhamburan untuk menyerbu kedua pria ini.

” Tangkap kedua bandit pemerkosa ini! Ambilkan selimut untuk menutupi Nona ini!”.

Itulah samar-samar perintah yang kudengar dari seseorang yang sepertinya merupakan Komandan dari para pria “penyerbu” ini.
Dalam waktu singkat mereka berhasil meringkus untuk kemudian menggelandang kedua pria itu.

“Para laki-laki yang baru muncul ini pasti Polisi”. batinku.

Terbit rasa kasian di hatiku melihat Mbah Bejo dan Dodi harus tertembus peluru seperti itu. Namun apa dayaku mereka memang berniat memperkosa.
Setelah kedua pria itu dimasukkan ke mobil tahanan . Para aparat ini kemudian menyelimutiku dan segera melarikanku ke rumah sakit.

***

” Jadi begitulah yang terjadi Tri. Selepas kejadian itu para Polisi mulai menanyaiku perihal hubungan kedua pria tadi dengan Cakra. Tentu saja aku terus menyangkal keterkaitan mereka karena faktanya mereka memang bahkan tidak saling kenal.”

( Tantri mulai mengerti dengan keseluhan jalinan kisah ini dan berusaha memberikan pendapatnya)

” Dua orang itu memang tidak ada kaitannya dengan Cakra Mbak. Tapi menurut Tantri mereka memang harus ditangkap. Kalo saja Anggota Polisi tidak segera menghentikannya Mbak bisa saja benar-benar diperkosa.”

” Kamu bener Tri. Andai saja mereka tidak membawaku ke puncak-puncak kenikmatan yang begitu hebat aku pasti mengutuk mereka”. Kata Gaby seolah masih bimbang dengan penilaiannya terhadap mereka.

” Udah Mbak cantik Jangan sesali nasib mereka yang tertembak itu. Biarkan mereka merasakan akibat perbuatan bejatnya.”. Tantri bangkit untuk memberikan pelukan hangat ke arah Gaby.

” iya Tri makasih banyak ya udah mau mendengar cerita Mbak”.

Lama Tantri masih menghibur Gaby dan menguatkannya terhadap peristiwa yang baru saja dialaminya. Sebagai anggota Polisi Wanita penilaiannya terhadap kedua bandit itu sudah jelas. Mereka pemerkosa titik.
Terlepas dari Gaby menikmati apa yang menimpanya itu hanyalah efek samping dari tindakan pemerkosaan yang harus diteliti lebih jauh.

Waktu yang semakin beranjak malam menjadi alasan Tantri untuk berpamitan kepada Gaby.

Seorang wanita cantik yang ceritanya banyak memberinya pelajaran. Figure yang cantik ,sexy, cerdas, awalnya alim namun mempunyai sejuta “keliaran” dalam dirinya.
Masih terngiang dalam ingatan pesannya di dalam rumah sakit tadi :

” Tantri tolong Mbak ya kasih pesen kepada Polisi yang ada diluar ucapan terima kasih Mbak karena telah menyelamatkan jiwa Mbak. MINTA MEREKA UNTUK SELALU MENGHORMATI DAN MELINDUNGI WANITA DIMANAPUN MEREKA BERADA.”

“Gaby..Gaby.. Tantri pasti tidak akan melupakan ceritamu.”

( Tantri mulai bersiap memacu motornya untuk menuju ke markas besar)

Bersambung