Polwan Part 10

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10

Cerita Sex Dewasa Polwan Part 10 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

 Cerita Sebelumnya : Cerita Sex Dewasa Polwan Part 9

THE ART OF SURRENDER

Kedua telapak tanganku hanya bisa menutup wajah hina ini yang basah oleh linangan air mata. Dalam gelap malam yang tersembunyi oleh gemerlapnya lampu hotel, aku terbenam dalam kesedihan. Tanpa henti, kugelengkan kepala berusaha meyakinkan diri bahwa semua ini hanya mimpi buruk.

Tiap detik yang terlintas bagai di neraka. Bagiamana tidak? setiap sang waktu berdetak, ia selalu mengembalikan kesadaranku ; ini nyata dan sama sekali bukan mimpi. Alex tengah sekarat dan penyebabnya adalah diriku sendiri.

Pernahkah engkau mendengar istilah ; “cantik itu adalah kutukan” ?. Aku semula tidak mempercayai omong kosong itu, tapi sekitar 7 menit 42 detik lalu, aku mulai menyadari kata itu “bisa jadi” benar. Saat ini, bila ada orang menyebutku cantik, pasti aku akan menyodok hidungnya hingga patah.

Tolong hentikan bualan itu!. Karena perkataan itu telah merampas kebahagiaan hidupku. Dulu, kala tak ada yang menyebutku cantik, rasanya tidak ada orang yang harus kusakiti. Tidak ada perasaan anak manusia yang harus kulukai.

” Oooh Tuhan tolonglah hamba-Mu ini. Selamatkanlah Alex!. Ambil nyawaku saja Ya Tuhan , tapi…kumohon jangan ambil Alex”, demikian ratapan doaku dalam hati yang penuh dengan penyesalan diri..

Aku terus menangis menyesali diri. Tak puas hanya menangis, sebagai ekspresi putus asa yang mendalam kujambaki rambutku. Rasanya hidup ini tak ada artinya lagi. Buat apa aku hidup??. Tantri yang begitu disanjung sebagai Polwan yang jelita, rupanya hanya bisa melakukan “kejahatan” seperti ini. Bila rambut ini dapat kukorbankan untuk menghidupkan Alex kembali, maka akan kupangkas habis semuanya, demi membeli kembali kehidupan dan kebahagiaan Alex.

Dalam kekalutan aku merasa tertolong dengan kehadiran Jaka. Keberadaannya, setidaknya membantuku tetap “sadar “. Sulit untuk bertindak layaknya “manusia” ditengah ujian yang demikian berat. Ketika ditimpa musibah, manusia hanya bisa berkeluh kesah. Semakin aku berdiam diri berusaha menyelesaiakan musibah ini , pikiranku semakin ganas berusaha membunuhku.

Berulang kali terngiang di telinga ajakan pikiran yang menyuruhku untuk bunuh diri saja. ” Kamu tidak berguna Tantri. Kamu jahat. Kamu tidak berguna”, demikian rangkaian penghakiman tiada henti yang dilontarkan pikiranku sendiri. Penghakiman diri itu benar-benar membunuhku perlahan-lahan.

Beruntung ada Inspektur Jaka. Melihatku begitu sedih dan menyesali diri, dipeluknya tubuhku dengan kehangatan seorang pria dewasa. Kami sebagai wanita, sering merasa diri mampu menyelesaikan segala persoalan lebih baik dari kaum Adam. Apalagi di era emansipasi seperti sekarang ini, banyak diantara kami yang mulai melupakan “Fitrah” kami sebagai “wanita”. Makhluk yang memerlukan bimbingan kepemimpinan seorang Pria.

Bimbingan itulah yang kini kurasakan sangat berarti. Jaka yang begitu bijaksana mampu menjadi tempat curahan hati perasaanku yang bimbang. Tanpa ragu dipeluknya diriku erat. Dibelai rambutku dengan penuh rasa sayang. Dalam momen duka ini, aku mulai dapat merasakan cinta Jaka yang begitu besar terhadapku. Rasa kasihnya terasa demikian tulus, hingga sanggup melumerkan kekerasan hatiku.

Dengan begitu gagah serta penuh jiwa ksatria dia memelukku. Lewat pelukannya, Jaka seolah ingin menyatakan kesanggupannya untuk menjadi sebilah tameng yang siap melindungiku kapan saja. Apapun halangan dan rintangan yang menghadang, rasanya Jaka sanggup mengorbankan segalanya demi menyelamatkanku. Wanita mana yang tidak takluk dipelukan pria jantan seperti Inspektur Jaka?.

Dadanya yang bidang melenyapkan kegalauanku. Tubuhnya mampu menyerap ekspresi dukaku yang sangat tak terkendali. Dibelainya bahuku untuk mengatakan, ” Tantri kamu tidak sendirian menghadapi ini, ada aku yang setia menemanimu”. Dia tidak beranjak sedetikpun mendampingiku di ruang lobby hotel itu. Ia sangat sadar kelemahan jiwa dan ragaku.

” Mas, aku mau ke Rumah sakit. Biar aku berangkat sendiri saja”.
” Tidak akan kuijinkan kamu berangkat sendiri dalam kondisi seperti ini Mbak!”.
” Tolonglah Mas!, tinggalkan saja aku sendiri, sudah cukup banyak bantuan yang telah kauberikan padaku”.
” Mbak Tantri, sebagai atasanmu aku memerintahkanmu untuk nurut!. Aku akan mengantarmu kesana. Kamu tinggal naik mobilku dan aku akan membawamu kesana. Kamu mengerti Brigadir Tantri??”.

Aku termangu menyadari sedang berhadapan dengan siapa. Pria ini begitu berkuasa. Berbeda dengan Jack yang dulu. Kini dia telah memiliki wibawa dan karisma yang demikian besar, ” Sssiap Komandan, maafkan aku”.
” Ayo pegang tanganku! kalo Mbak mau berangkat, Jaka akan menemanimu”. Dipapahnya aku untuk bangkit. Sangat berat rasanya untuk bangkit kembali setelah terpuruk demikian dalam. Namun apa yang dapat kulakukan selain berusaha bangkit dan menghadapi persoalan ini. Duduk di lobby ini sambil menangis dan menarik-narik rambut jelas bukan solusi.

Inspektur Jaka menggandeng tubuhku yang gontai hingga masuk ke dalam mobil. Saat aku sudah duduk di jok mobilnya, diciumnya bibirku. Aku terkejut. Sejuta pikiran yang tengah menggelayutiku membuatku pasrah saja menerima cumbuannya. Jaka begitu bersemangat menciumku.

Bibirnya berusaha membangkitkan kembali gairahku yang terkubur. Aku menyambut ciumannya dengan mata terpejam. Tidak berdaya diriku untuk melakukan apapun. Tidak sanggup lagi mencegah atau melarangnya.

” Jangan sedih Cantik!”, katanya setelah melepas ciumannya dibibirku.

Diusap mataku yang masih sembab dengan air mata. ” Aku mencintaimu, jangan sedih!”.

Mendengar ucapannya aku hanya bisa terdiam pasrah. Baru sebentar lalu aku ingin mematahkan hidung orang yang memanggilku cantik. Tapi mana mungkin aku mematahkan hidung orang yang begitu baik menolongku. Panggilan cantiknya tidak menyakitiku. Malah sebaliknya panggilan itu membuatku senang. Dalam kondisi seperti ini, mendengar seorang pria tampan, meyakinkanmu bahwa dirimu cantik, menjadi penguat hati tersendiri. Pelan-pelan aku kembali tenang.

Jaka yang melihatku telah tenang mulai menghidupkan mesin mobilnya. Mulai dipijaknya pedal gas untuk mengantarku menuju Rumah Sakit. Dalam mobil aku hanya bisa diam. Sebagian pikiranku memikirkan Alex. Sebagiannya lagi terhanyut dalam kehangatan ciuman Jaka. Inilah ketakutan terbesarku, bahwa di tengah kesedihan yang mendalam, aku mulai jatuh cinta kepada Jaka. Seorang laki-laki yang sanggup menggendongku bangkit dari lumpur penderitaaan. “.

” Cantik!”. Panggilnya untuk menarik perhatianku.

Kuarahkan seluruh wajahku kepadanya, ” Mas jangan panggil aku cantik”.

” Aku mau memanggilmu demikian. Karena kamu memang benar-benar cantik”.

” Mas…”.

” Sejak kapan kamu mulai mengenalnya??”.

” Mengenal siapa Mas? Alex??”

” Iya”.

” Baru beberapa bulan ini”.

” Kamu cinta sama dia Cantik??”.

Aku terdiam. Tiba-tiba saja lidah ini kelu tidak sanggup mengatakan apa-apa.

” Kamu masih ragu Cantik. Gak apa mungkin dia hanya cinta monyet berikutnya buatmu. Tidak usah khawatirkan biaya Rumah Sakit. Aku yang akan membereskannya semuanya. Tapi setelah itu, putuskan dia ya cantik! jadilah milikku!. Jadilah pendamping Jaka”.

” Mas aaaaaa…”. Kembali aku gagap. Tidak sanggup mengatakan apapun.

” Gak usah dijawab sekarang. Dia hanya anak muda tanggung yang mendamba cintamu. Tapi dia tak sanggup menawarkan apapun untuk kebahagiaanmu”.

“…………..”.

” Dia hanya bocah kemarin sore Cantik. Aku bahkan berani bertaruh dia tidak pernah tau apa suka dukanya menjadi Polwan. Sudahlah nanti kalo dia sudah sembuh, tinggalkan dia. Kasian dia yang tidak mengerti kehidupan Polisi Wanita, harus terus disakiti. Bukan olehmu cantik. Tapi oleh tuntutan pekerjaanmu sendiri”.

Aku hanya bisa terdiam. Sedkit ucapan Jaka benar. Teringat peristiwa di kamar mandi tadi pagi. Bagaimana Alex mempertanyakan waktuku untuknya ditengah pengabdianku pada Negara. Sebuah pertanyaan yang aku tak sanggup jawab.

” Kamu hanya cocok untukku cantik”, katannya sambil tersenyum begitu indah kepadaku, ” Aku mengerti kamu dan kamupun mengerti aku. Kita cocok”. Dipegangnya pipiku lembut.
Aku menunduk tidak sanggup mengatakan apapun. Hidup dalam dua pilihan benar-benar membuatku limbung.

Jaka terus meyakinkaku untuk menjadi miliknya sepanjang perjalanan. Aku tetap tidak sanggup menjawab apa-apa. Aku merasa beruntung saat melihat gerbang Rumah Sakit. “Hufff”, sejenak aku bisa terbebas untuk mendengarkan ucapan Jaka. Yang sangat aku takutkan bila tidak segera terbebas dari Jaka adalah ; aku mulai mempercayainya. Pelan-pelan aku seperti digiring untuk yakin bahwa pendamping hidupku yang pas hanya Jaka. Sebagai wanita, makhluk yang labil, gawatnya aku mulai percaya akan hal itu.

Ketika mobil telah berhenti diparkir. Jaka mengandengku untuk masuk ke dalam RS. Aku berusaha meyakinkannya kalo aku sanggup melangkah sendiri. tapi Jaka tidak percaya hal itu dan memilih menggandengku saja. Rumah Sakit ini yang terbaik di Pulau Dewata. fasilitasnya katanya adalah yang terbaik dengan dokter-dokter terbaik. Namun Rumah sakit tetaplah Rumah Sakit. Sebagus apapun, setiap orang pasti tidak ada yang mau masuk kedalamnya. Aku yang baru saja masuk dan mencium aroma obat yang demikian pekat saja, sudah tidak betah berada di dalamnya.

Jaka memintaku duduk di sebuah bangku kosong. Dia sendiri yang akan menanyakan ke pihak RS diamanakah keberadaan Alex. Dia segera kembali setelah bertanya di resepsionis.

” Dia ada di ICU Mbak. ayo kita kesana!”.

Kami berdua mulai melangkah menuju ruang ICU. Demikian berat langkah yang harus kutapakkan. Bagaikan langkah seorang narapidana terhukum mati menuju tempat eksekusinya. Hamparan orang sakit yang menunggu panggilan di bangku panjang, ditambah suasana kelam disekitarnya membuat suasana semakin tidak enak. Aku melihat seorang pasien tengah melihat siaran komedi di sebuah televisi yang menempel di dinding. Bagaimana ekspresi orang itu? begitu datar malahan menjurus sedih. Orang mana yang melihat tayangan komedi bukannya tertawa malahan bersedih??.

Perjalanan berat itu akhirnya berakhir. Kami telah tiba di depan ruangan ICU. Pemandangan miris yang kulihat di ruangan sebelumnya ternyata tidak seberapa dibanding yang kulihat disini. Pengunjung yang menunggu disini benar-benar tampak gelisah, depresi dan putus asa. Mereka seperti menjadi korban permainan hidup dan mati yang dimainkan dengan sempurna oleh malaikat maut. Sayap malaikat pencabut nyawa benar-benar terasa menaungi keberadaan ruangan ini.

Kulihat dihadapanku satu rombongan keluarga yang tengah berdoa bersama. Mereka memejamkan mata sambil menengadahkan tangan mengharap pertolongan Sang Maha Pencipta. Begitu kompak mereka sebagai sebuah keluarga untuk menghadapi ujian yang tengah menimpa mereka.

“Bapak mohon maaf tapi ruangan ICU saat ini tidak boleh dimasuki!”. Sebuah ucapan menyadarkanku kembali.

” Kamu tidak tau ya saya ini Aparat Kepolisian. Saya cuma mau mengantar pacar saya masuk kedalam untuk menemui kenalannya!”. Kata Jaka pada satpam yang bertugas menjaga di depan ruangan ICU.

” Mohon maaf Pak. saya hanya menjalankan tugas”.

” Siapa pimpinanmu disini??saya mau bicara dengan pimpinanmu!”.

Kutarik lengan Jaka. ” Sudahlah Mas! tidak usah ribut begini. Malu dilihat pengunjung lain”.
Jaka yang semula tampak begitu emosional, jadi menahan diri.

” Mbak,susah sekali mereka. Mau masuk saja kok dipersulit”.

” Sudahlah Mas. Ikut aku yuk kita duduk saja dulu disini!”. Ajakku kepadanya.

Baru saja kami duduk pintu ICU tiba-tiba terbuka. Seorang pria agak tua, mengenakan baju hijau bertuliskan ruang ICU, tampak menghampiri keluarga itu dengan ditemani satpam yang tadi ribut dengan Jaka.
Ingin aku berlari menghampiri pria itu, namun kutahan diriku, keluarga itu tampaknya sangat menantikan kabar darinya.

Pria itu mulai bicara dengan seseorang yang tampaknya merupakan kepala keluarga. Seluruh anggota keluarga tampak nimbrung menyimak pembicaraan, diseputaran pria itu. Baru beberapa menit pria itu berbicara, beberapa anggota keluarga tiba-tiba menangis histeris.

” TIDAKKKKK OMAAA JANGAN TINGGALKAN KAMIIIII….”.

Anak gadis mereka yang masih ABG tampak bereaksi paling dramatis. Dia langsung menjerit-jerit. Terus dia menjerit sambil menjambak-jambak rambutnya sendiri. Mirip sekali dengan tingkah lakuku selama di lobby hotel tadi.

Ibunya segera memeluk anaknya yang meraung-raung kesetanan. Anggota keluarga itu saling membantu satu sama lainnya. Mereka yang tegar memeluk anggota lainnya yang berteriak atau menangis getir.

Mereka pasti baru saja kehilangan seseorang yang sangat mereka cintai. Melihat mereka menangis, akupun jadi ikut menangis. Aku jadi bisa merasakan keperihan yang mereka alami. Membayangkan peristiwa yang sama akan menimpa Alex membuatku drop.

Jaka memelukku. ” Jangan terpengaruh mereka Cantik!”.
Aku mengangguk.

” Ayo kita datangi Pria itu tampaknya dia dokternya”.

Pria berbaju hijau tadi memang tampak beringsut ke sudut ruangan setelah menyampaikan berita tadi.

” Selamat malam Pak Dokter”, kataku mendahului Jaka.

” Malam Bu. Ibu masih keluarganya Pak Agung? maaf ya Bu kami sudah berusaha sekuat tenaga kami”, jawabnya sambil matanya melirik ke arah keluarga yang masih sangat bersedih.

” Bukan Dok kami bukan keluarga mereka”. Jaka menyela.

” Lho lantas kalian siapa??”.

” Kami keluarga pasien bernama Alex yang mengalami kecelakaan tunggal Dok”, ujarku dengan getir.

” Ooo anak muda itu ya yang mengalami kecelakaan motor??”.

” Iiiiya betul sekali Pak Dokter. Bagaimana keadaannya sekarang Dok??”. aku bertanya penuh harap

” Hmmm tidak terlalu baik Ibu….”.

” Tantri. Panggi saja Tantri Dok”.

” Belum terlalu baik Bu Tantri. Head Injury selalu rumit. Pasien bisa mengalami koma, geger otak, sampai…..”.

” Sampai apa Dok???”, tanyaku penasaran.

” Kematian Bu”.

Aku tak sanggup mendengar jawaban itu. Kucengkram lengan Jaka. Rasanya aku mau pingsan.

” TANTRI!!”, Jaka menggoncang tubuhku kuat untuk mencegahku jatuh pingsan.

” JANGAN PINGSAN TANTRI!!”, dia terus menggoyang tubuhku.

” Pak satpam bantu ibu ini duduk di bangku itu!”, perintah Pria berbaju hijau tadi pada satpam rumah sakit.

Dibantu dua orang aku didudukkan di bangku.

” Ibu”, Pria itu kembali bicara saat melihat kondisiku mulai membaik, ” tabahlah! kami janji akan berusaha yang terbaik untuk menyelamatkan keluarga ibu! tabahlah”, dia menepuk bahuku.

” Dok kami tidak boleh masuk kedalam untuku melihat keadaannya?”, Jaka bertanya dengan tak sabar.

” Maaf pak, tapi dalam kondisi seperti ini, keluarga pasien belum diperkenankan masuk. Tunggulah disini, kami janji akan memberikan perkembangannya”.

” lakukakanlah yang terbaik Dok!”, kata Jaka, ” berikanlah pengobatan yang terbaik! jangan khawatirkan biayanya. kami akan membayarnya”, sambungnya.

” Iya Pak masalahnya sekarang bukan lagi tergantung pada uang. Tapi tergantung pada pertolongan Tuhan”, jawab dokter itu pada Jaka, sambil meninggalkan kami untuk masuk kembali ke ruangan ICU.

Sepeninggal Dokter itu kusandarkan diriku ke bangku. Sejenak aku memikirkan Alex dan musibah yang menimpanya. Betapa malang nasibnya. Aku yang mengajaknya kesini. Diriku pula yang membawanya ke perbatasan antara hidup dan mati diruangan ICU itu. Kupejamkan mataku sejenak untuk menenangkan diri.

Dari dekat terdengar raungan dari keluarga itu yang semakin keras. Kubuka kembali mataku untuk melihat kembali keadaan mereka.

Tampak anak gadisnya yang sedari tadi berteriak histeris kini mulai mengalami kejang-kejang. Timbul rasa kasian yang mendalam di hatiku. Apalagi saat melihat ibu mereka berusaha menenangkan anak gadisnya seorang diri. Kuberanjak untuk membantu ibu itu.

” Mbak gak usah ikut campur urusan mereka”, Jaka menahan tanganku.

” Lepaskan aku Mas. Aku Cuma ingin membantu mereka”, kutepis tangan Jaka. Dengan cepat kumenuju kearah ibu itu. Kubantu dia dengan langsung memegang anak gadisnya yang terus mengalami kejang.

Ibu itu awalnya terkejut karena tek menyangka masih ada orang asing yang mau menolongnya.

” Terima kasih ya nak. Tolong bantu ibu untuk membawa anakku agar rebahan disini”, tangan ibu itu menunjuk tikar yang telah terhampar lengkap dengan bantalnya.

Berdua kami memapah anak gadisnya yang kini telah jatuh pingsan. Kubaringkan tubuhnya dengan terlebih dahulu menempatkan bantal untuk menyangga kepalanya. Terus kudampingi ibu itu sampai anaknya tenang kembali.

” Terima kasih banyak sekali ya Nak!”, ibu itu menggenggam tanganku sambil tersenyum. Masih sempat-sempatnya dia bersikap ramah kepadaku.Padahal baru saja dia dihantam musibah. Kubalas senyumannya

” Nak baik sekali kamu. Siapa namamu Nak?”.

” Nama saya Tantri Bu”.

” Namamu cantik sekali Tantri. Cantik dirimu nak, cantik pula hatimu”.

” aku gak cantik bu”, jawabku sambil tertunduk.

” Apa yang kamu katakan nak, kamu cantik sekali tapi penuh dengan duka dan kesedihan. apa yang tengah menimpamu nak??”.
Kutundukkan kepalaku, tidak mau menampilkan kesedihanku di hadapan Ibu yang baru saja kutemui ini.

” Ibu baru saja tertimpa musibah tidak pantas aku menceritakan masalahku padamu bu”.

” Gak apa nak, ibu memang baru saja kehilangan orang yang sangat ibu cintai. Tapi ibu pasrah dengan itu. karena semuanya telah diatur oleh Sang Maha Pencipta”, dipeluknya diriku erat, ” hidupmu masih panjang nak, masih banyak hal yang harus kau lalui, kamu harus tegar ya!”.
Aku mengangguk.

” Pacarmu ya yang masuk ICU??”, ibu itu menebak pikiranku.

” Betul Bu. Kok ibu bisa tau???”

” Aku sudah banyak makan asam garam kehidupan ini nak. Kenapa dia??”.

” Kecelakaan motor Bu”.

” Ya ampun anak muda jaman sekarang memang tidak hati-hati dalam berkendara. Semoga Tuhan Yang Maha Penyayang melindungi pacarmu ya nak”, dipeluknya aku dengan lembut. Aku seperti menemukan figure ibuku sendiri dalam dirinya.

Dipeluk begitu hangat oleh sosok keibuan tangisanku tak tertahan meledak, ” Hu..huu…hu….Ibu”, Kehangatan pelukannya segera saja membuat tangisanku tumpah tak tertahankan.

” Yang Sabar ya Nak. yang sabar”, dibelainya tubuhku dengan penuh kasih sayang. Begitu luasnya hati Ibu ini. Ujian baru saja datang bertubi menimpanya, tapi masih sempat-sempatnya beliau memeluk dan menghiburku, seorang wanita asing dalam kehidupannya.

” Hu hu huh…Mmmmmafkan Tantri ya Bu karena menangis dipelukanmu”.

” Gak apa Nak, anggap saja aku Ibumu sendiri ya Nak. Kasian kamu masih muda sudah mengalami ujian yang demikian berat”.

Berdua kami saling berpelukan, seperti Ibu dan anaknya yang terlah terpisahkan ribuan tahun dan baru dipertemukan malam ini. Melihat pemandangan ini keluarga pak Agung yang lain tidak mau mengganggu, mereka memilih mengurus anak gadis mereka yang kini telah aman terbaring di tikar.

” Nak kamu percaya kepada Tuhan??”, Tanya Ibu Agung tiba-tiba.

” Sangat percaya Bu, tapi Tantri sendiri selalu merasa orang yang kotor dan banyak berbuat dosa”.

” Cukup”, ditutupnya mulutku dengan jarinya, ” Cukup percaya saja nak! yang lain bukan urusanmu lagi!”, dielusnya rambutku dengan penuh kasih sayang, sambil menyeka air mataku yang terserak di pipi , ” mintalah pertolongan-Nya saja. Mudah-mudahan Tuhan Yang Maha Esa menyelematkan kekasihmu”.

” Terima kasih banyak ya Bu”.

Teduh rasanya berada dipelukan seorang ibu yang memiliki tingkat keimanan demikian tinggi. Pelukannya tak ingin kulepas karena memberi kedamaian yang tak terlupakan.

Saat Beliau harus pulang untuk mengantar jenazah keluarganya, aku merasa sangat kehilangan.

” Jangan lupa berdoa ya Tantri! yang lalu biarlah berlalu tidak usah dijadikan beban pikiran, pasrahkan saja dirimu pada kehendak Yang Maha Kuasa!”. Itulah nasihat terakhirnya sebelum kami berpisah.

Kini di depan ruangan ICU hanya tersisa aku berdua dengan Jaka.

” Sudah Mbak tidurlah dulu kasian kamu”, Jaka kembali memelukku agar tidur di pelukannya.
Aku memang sudah terlalu lelah. Peristiwa di hari kedua di Pulau Dewata ini begitu panjang dan menguras tenagaku lahir dan batin. Baru sejenak berada dipelukannya aku segera teridur.

HARI KETIGA

” Begitu indah disini ya Mbak!”, Alex berujar penuh kebahagiaan.

” Alex ini benar kamu sayang?? kamu sudah sadar?? Mbak khawatir banget. Gimana keadaanmu Lex??”, kuberondong dia dengan pertanyaan.

” Hanya ada kedamaian di tempat ini. Alex ingin berada disini selamanya Mbak. Aku mau membangun rumah untuk kita disini”, diangkatnya tangannya menunjuk padang rumput yang begitu luas disekitaran kami.

Ada dimana sebenarnya kami ini?. sejauh mata memandang yang terlihat hanya padang rumput hijau yang begitu luas tanpa batas.

” Lex kamu gak dengar pertanyaan Mbak?? kamu sudah sadar sayang?? maafkan kesalahan Mbak ya Lex!”.

” Alex ingin berada disini Mbak. Begitu tenang disini”, tiba-tiba dia melangkah begitu cepat.

” Lex sayang mau kemana kamu?? tunggu Mbak Lex!”.
Aku berusaha mengikutinya tapi dia begitu cepat. Dari berjalan aku mulai berlari karena Alex mulai hilang dari pandanganku.

” Mbak Tantri aku ingin disini saja”, Alex akhirnya berhenti berlari.

” Hah…hah…hah….”, aku ngos-ngosan berusaha mengejarnya, ” Apa yang kamu maksud sayang?? Oh tidak….awas sayang kamu berada di tepi jurang…”, aku terkejut, pemandangan tiba-tiba berubah. Sebelumnya kami di padang rumput, tapi kini mendadak berada di bibir jurang.

” Wuuuuuuf…..wuuuuuuuf……wuuuuf….”, deru angin begitu kencang disini. udarapun mendadak begitu dingin.

” Sayang lihat muka Mbak! raih tangan Mbak Alex! Menjauh dari sana!. Kamu ada di bibir jurang sayang”.
Tanpa merespon ajakanku, Alex hanya menatap kearahku. Tersungging senyum di wajahnya yang begitu indah, ” Aku cinta padamu Tantri”.

” Biarkan dia Tantri! Ada aku yang selalu disisimu”, Jaka tiba-tiba muncul, dan berdiri di sisi yang berlawanan dengan Alex.

” Mas?? kenapa kamu ada disini?? awas Mas kamu juga ada di pinggir jurang”.

” Aku cinta padamu Tantri!”, mereka berdua secara bersamaan mengucapkan perkataan itu.

” Selamat tinggal Mbak!”, Alex menghormat kepadaku.

” LLLEX AWAS SAYANG!! ITU JURANG..JURANG LEXX..”, aku berlari kencang berusaha meraih tangan Alex yang hendak menjatuhkan dirinya ke dalam jurang. tapi terlambat gerakanku tidak cukup cepat, tanganku gagal menangkap pergelangan tangannya. Dia jatuh. semakin dalam-semakin dalam, ” ALEEEEEXXXXXXX”, aku berteriak histeris.

” TANTRI BANGUN KAMU MENGIGAU!”.

” HAHH…HAHHHH”, seperti orang yang hendak tenggelam ke dasar lautan aku gelagapan. Kucengkram tangan Jaka, ” Alex!. Mas…gimana keadannya??”.

” Belum ada kabar cantik. Dia masih di dalam”.

” Maaasih hidup Mas?”.

” Masih Mbak”.

” Syukurlah huuufff”.

” Kamu habis mimpi buruk! Minumlah ini dulu untuk menyegarkan tubuhmu!”, ditawarkannya aku teh hangat untuk kuminum.

Perlahan kuminum teh yang disiapkannya. Rasanya kehangatan rasa teh ini mampu mengguyur semua mimpi buruk yang barusan kualami. Mimpi apa aku tadi??. Pertanda apakah??. Apa kira-kira yang bakal terjadi??.

Sejak kemarin inilah cairan pertama yang masuk ke dalam tubuhku. Pasca kepergok oleh Alex di Puncaknya Pulau Dewata, aku belum mengkonsumsi apapun. Kecemasan yang begitu dalam membunuh rasa lapar dan haus dalam tubuhku.

” Kusuapi bubur ya Mbak, kasian dari kemarin Mbak belum makan”, tanpa menunggu jawabanku Jaka mulai menyuapiku. Rupanya selain teh, Jaka juga telah menyiapkanku bubur. Begitu mengerti Jaka akan kebutuhanku. Bahkan tanpa kuminta dia responsive sekali untuk memenuhi keperluanku.

Dengan begitu romantis Jaka menyuapiku bubur ayam yang telah dibelikannya. Sesendok demi sesendok dia membantuku untuk makan. Aku menjadi seperti anak kecil dihadapannya sekarang.

” Makasih banyak ya Mas”, ujarku dengan penuh rasa malu.

Jaka tidak menjawab dan hanya mengangguk. Begitu telaten dia menyendokkan makanan ke mulutku. Penuh perasaan dan cinta kasih yang tulus.

” Mbak menikahlah denganku!”, dihentikannya suapannya, berganti dengan dipandanginya kedua mataku begitu lekat, ” Aku sungguh-sungguh!”,

” Mas sekarang bukan waktu yang tepat..”, jawabku.

” Nanti bila semua ini selesai, menikahlah denganku!”, begitu berkuasanya karakter Jaka. Berkali-kali aku hanya bisa terkesima ketika berhadapan dengan wibawanya. Respon terbaik yang bisa aku berikan hanya menuruti kehendaknya.

“…………..”, tidak sanggup aku merespon ucapannya.

” Lihat aku Mbak! kamu hanya tinggal menganggukkan kepalamu, dan aku akan melamarmu pekan depan!”.

Aku begitu terhanyut dengan keyakinan dirinya. hampir saja aku menganggukkan kepalaku sebagai isyarat menyetujui tawarnnya, sebelum pintu ICU tiba-tiba terbuka.

” Klek”, dokter yang semalam kutemui keluar dari ruangan. Meskipun berbau kebetulan tapi dokter ini telah menyelamatkanku dari agitasi Jaka. Kutinggalkan Jaka yang tampak begitu kecewa dengan kemunculan dokter ini. Setengah berlari, kuhampiri dia

” Pak Dokter bagaimana kondisinya??”.

” Hmmm”.

” Tolonglah saya pak Dokter. bagaimana kondisi Alex??”.

Dia menggelengkan kepalanya, ” Semakin memburuk Bu. Perlu saya jelaskan bahwa pasien Alex mengalami kondisi tidak sadar akibat benturan keras di kepalanya. Kami telah melakukan scanning MRI pada kepalanya untuk melihat tingkat kerusakan otaknya. Namun dalam dunia kedokteran benturan di kepala sifatnya sangat fatal. Pasien bisa koma dalam jangka waktu lama, lupa ingatan, hingga meninggal dunia….”.

” BISA TIDAK ALEX SELAMAT DOK???”, Aku lepas kontrol tidak sabar menunggu penjelasannya, hingga berteriak kepadanya. Menyadari hal ini Jaka merapat kesisiku.

” Kami telah berusaha semampu kami Bu”.

” Aku sudah bilang akan membayar semua pengobatannya Dok”, Jaka menyela, ” Tolonglah berikan pengobatan yang terbaik”.

” PAK!Sekarang bukan lagi uang masalahnya”, jawab Dokter itu.

“Breeet…breet…breeeet”. Dalam keadaan panik getar telpon mengejutkanku. Segera kuangkat untuk mengetahui siapa yang menelpon. Ternyata dari Brigadir Sinta. Ada apa Sinta menghubungiku sedang dia tau aku sedang liburan?. Pasti ada yang genting dari kantor, aku harus mengangkat panggilannya. ” Permisi sebentar ya Dok..Maafkan kelancangnku tadi. Mas aku ijin angkat telpon dulu!”, aku mohon ijin untuk menerima telpon pada mereka berdua.

” Jadi bagaimana selanjutnya Dok??” tanya Jaka setelah aku beringsut meninggalkannya.

” Begini Pak….”, dokter itu mulai menjelaskan jawabannya.
Mereka berdua mulai asyik terlibat diskusi.

Sejenak kutinggalkan mereka untuk menerima panggilan Sinta.

” Halo Sin ada apa??”.

“….snif..sniff..sniif.. maaf Tri, masih pagi udah ganggu”.

” Kamu nangis Sinta? ada masalah apa??”.

” Enggak Tri…gak ada apa-apa..snif..sniff..”.

” Yang jujur Sin, ngapain kamu nelpon kalo gak ada apa-apa”.

” Iya bener gak ada apa-papa Tri. Cuma masalah dengan Pak Burhan..”.

” Burhan? ngapain kamu berurusan sama bandot itu??”.

” Panjang ceritanya Tri..aku..”

” Sin nanti kita bicarakan setelah aku pulang dari Pulau Dewata ya! Maaf sekali, tapi sekarang aku sedang tertimpa musibah..”.

” Iya Tri maaf ya jadi mengganggu!”.

” Gak apa Sin! tapi, ingat pesanku baik-baik ; JANGAN SEKALI-KALI KAMU BERURUSAN SAMA BURHAN! Dia pria yang tidak baik”.

” Iya Tri siap makasih ya”. Kututup telponnya

” Hmm ada urusan apa Komandan Burhan dengan kawanku Sinta?? sangat mencurigakan sekali”, aku membatin.

Aku kembali mendekat untuk bergabung dalam diskusi antara Jaka dan Dokter ICU.

” Maafkan saya tadi Dok…”, ujarku sambil menyela percakapan mereka.

” Mbak, dokter ini justru kebingungan apa yang harus dilakukan terhadap si Alex bagaimana ini??”, kata Jaka tidak sabar, ” ANDAKAN SEORANG DOKTER, HARUSNYA ANDA DONK YANG TAU APA YANG HARUS DILAKUKAN. KALO ANDA BINGUNG BEGINI BAGAIMANA KAMI??”, Teriak Jaka dengan emosional.

Kutarik lengan Jaka agar menjauh. Tindakan arogansi seperti ini dapat menyinggung perasaan dokter itu.

” Maafkan kami ya Dok. Apa yang sebenarnya terjadi dengan Alex Dok??”.

” Iya Bu, semoga Ibu tidak emosional seperti Bapak ini ya!”, ujarnya tidak sanggup menyembunyikan kekesalannya, ” Dia sekarat Bu. Angka kehidupannya semakin melemah. bahkan sekarang suster kesulitan menemukan aliran darahnya untuk memberikan infus”.

” Kenapa bisa demikian Dok??”, sesungguhnya aku yang paling emosional saat ini, hanya saja melihat perilaku Jaka yang terus menerus lepas kontrol, membuatku harus tetap tenang.

” Dia seperti tidak mau hidup lagi Bu. maaf saya harus mengutarakan pendapat saya pribadi, dalam dunia medis sebenarnya ini tidak boleh, tapi saya berusaha menyelamatkan pasien. Dalam hal ini penjelasan terbaik mungkin ada di keluarga terdekatnya sehingga kami dapat menemukan alternative lain untuk menyelamatkannya. Oleh karena itu saya keluar untuk mendiskusikan masalah psikologis si pasien sebelum kejadian dengan orang terdekatnya, apa yang memicunya sehingga dia seperti “enggan” untuk memiliki gairah hidup. tapi Bapak ini malah mengata-ngatai saya seperti ini”, ujar dokter itu sambil menuding ka arah Jaka.

” Maafkanlah Mas Jaka Dok! Dia kelelahan”, berusaha kulindungi Jaka, ” kalo boleh saya bercerita sedikit Dok”.

” Boleh Bu silakan. Apa sebenarnya yang dialami pasien beberapa hari terakhir ini?”.

Segera kuceritakan secara menditail hubunganku dengan Alex. Meskipun Jaka mendengar aku harus jujur menceritakan apa yang sesungguhnya terjadi. Kuceritakan bagaimana aku mengajak Alex berlibur. Kemudian bagaimana aku juga menerima ajakan Jaka untuk bertemu.

” Disanalah Alex melihat Jaka dan aku berciuman Dok. Maafkan aku yang begitu hina ini. Tapi setelah melihatku berciuman, dia langsung tancap gas mengemudikan motornya dengan begitu kencang, hingga terjadi musibah ini. Tragedi ini erat kaitannya denganku Dok, kalo Dokter mengijinkan aku ingin masuk kedalam dan berbicara dengannya”.

” Tapi dia dalam kondisi koma sekarang Bu. Dia tidak akan sanggup merespon ucapanmu”.

” Tidak apa Dok. Meski tubuhnya tidak sadar. aku yakin hatinya masih mau mendengar ucapanku”.

” Mbak gak usah ikut-ikutan aneh deh! Orang koma kok diajak ngomong”, Jaka menyelaku.

” Aku gak aneh Mas. Aku sangat yakin, meskipun Alex Koma dia masih bisa mendengarku”, aku menatap Pak Dokter dan Jaka dengan begitu yakin.

Sesungguhnya aku berbohong. Aku ragu dan tak yakin. Lintasan mimpiku berkelebat. Dalam mimpi itu, aku berusaha melompat mencegah Alex masuk ke dalam jurang. Tapi gagal.

” Ijinkanlah aku masuk Pak Dokter! Walaupun hanya 1 menit ijinkanlah aku masuk dan bicara dengannya”.

” Baik, ini memang belum pernah dilakukan sebelumnya di Rumah Sakit ini. tapi khusus untuk Ibu, aku ijinkan masuk untuk berbicara dengannya. Tapi hanya tiga menit. BAPAK INI TUNGGU DI LUAR SAJA!”, Tegasnya kepada Jaka. Rupanya dia benar-bernar tersinggung dengan sikap Jaka yang tidak menaruh respek sedikitpun kepadanya.

” Terima kasih banyak Pak Dokter”, kuambil tangannya dan menciumnya sebagai bentuk terima kasihku yang mendalam kepadanya, ” Mas kamu tunggu disini saja ya!”, pintaku pada Jaka.

” Kamu yakin Mbak?? Gila tindakan yang mau kamu lakukan itu. Buat apa kamu melakukan itu, sedangkan pengobatan modernpun gagal menyembuhkannya??”, terus dia berusaha menyegahku masuk kedalam.

” MAS MAAFKAN AKU. TAPI INI ADALAH HIDUPKU! AKU YANG BERHAK MEMUTUSKANNYA BUKAN KAMU!”, bentakku terhadapnya, ” Sekali lagi maafkanlah aku, tapi SUNGGUH AKU HARUS MASUK KE DALAM”, Aku segera membalik badan untuk mengikuti dokter itu masuk ke dalam ruang ICU. Jaka betul-betul syok dengan ucapanku barusan. Sepanjang hidupnya mungkin belum pernah ada wanita yang menolak permintaannya dengan begitu keras.

Aku tidak peduli lagi dengan konsekuensi yang timbul dari tindakanku kepadanya. yang kupikirkan hanya menyelamatkan Alex..

KONDISI DALAM RUANGAN ICU

” Bu masuklah dulu ke ruangan ganti untuk mengenakan pakaian khusus ruangan ini. Lepas sepatumu. Disini kuman begitu disterilkan dan kami sangat menjaga agar pengunjung dari luar tidak membawa kuman atau bakteri masuk ke dalam sini. Suster Ana akan mengantarmu dan membantumu melakukan apa yang harus dilakukan”.

” Siap Dok terima kasih”.

Suster Ane begitu baik untuk membantuku mempersiapkan diri. Dipakaikannya aku baju ICU, kemudian setelah semanya beres. Dia mengantarku kembali ke ruang utama ICU itu. Suasana ruangan itu memang mengerikan. Terdapat beberapa bilik di ruangan itu. Di sebuah ruangan ada suara laki-laki yang mengerang hebat menahan rasa sakit.

” Eggggh…eeegggh…egggghhhh”, Erang laki-laki itu terus menerus.

Apakah itu Alex?? begitu kesakitan suara itu terdengar.

” Tenang Bu, suara itu bukan saudara Alex”, suara Dokter itu mengagetkanku.

” Huuuf syukurlah Dok. Tantri pikir itu Alex”.

” Bu Tantri panggil saja saya Dokter Gede. Dokter spesialis ICU”.

” Siap Dokter Gede. Maafkan Tantri begitu panik, sampe lupa menayakan nama Dokter”.

” Gak apa Bu. Tapi dengan berat hati harus kami sampaikan, bahwa kondisi saudara Alex lebih parah dari pasien yang ibu dengar suaranya barusan”.

” Sebegitu parahnyakah Pak Dokter??”.

” Benar Bu, “head injury” termasuk “silent killer”, penyakit yang dapat membunuh tanpa membuat pasiennya merintih-rintih”.

” Adakah harapan untuknya Pak Dokter??”.

” Kecil Bu, tapi kita tidak boleh berhenti berharap. Silakan suster Ana untuk mengantar Ibu Tantri ke bilik saudara Alex”.

” Baik Dok, mari Bu saya antar”, kata sustar Ana dengan ramah, sambil menggandeng tanganku.

Ditemani suster yang baik hati aku melangkah maju ke bilik Alex. ” Bu jangan tegang ya!”, suster Ana menghiburku. ” Bagaimana kondisi pacarku sus??”, tanyaku masih berharap jawaban yang terbaik darinya. ” Dokter Gede mungkin mengatakan kondisi pacarmu tidak baik Bu. Tapi itukan hanya dari sisi medis. Ada kekuatan lain yang dapat membolak-balikkan keadaan Bu. Jangan lupakan itu!”, suster Ana tersenyum kepadaku, ” majulah dia ada disana”, didorongnya aku untuk maju seorang diri menemui Alex.

Kini aku melangkah sendirian. Tidak ada yang menemaniku lagi. Sempai di bilik, jantungku langsung berhenti berdetak. Melihat kondisi Alex yang begitu parah secara otomatis merontokkan seluruh sendi dalam tubuhku.

Tampak dimataku, selang oksigen pembantu pernafasan, masih menempel di hidungnya. Balutan perban tebal membelit kepalanya lengkap dengan ceceran darah kering yang masih jelas terlihat. Bekas biru lebam di seputaran wajahnya terhampar tanpa sensor.

Aku tak sanggup melupakan ekspresi wajahnya. Dengan selang di hidungnya, Alex terpejam tanpa ada tanda-tanda semangat hidup. Cahaya kehidupannya seolah redup dimakan kesedihannya kala terakhir bertemu denganku. Bibirnya terbuka mengeluarkan deru nafas yang tak enak didengar. Kekasihku ini bahkan telah sulit bernafas. Infus sudah dilepas karena kesulitan menemukan aliran darahnya. “Kasian sekali kamu sayang”.

Kembali berkelebat mimpiku bertemu dengan Alex dan Jaka di jurang. Aku melompat ingin menyelamatkannya, tapi aku kalah cepat dan Alexpun terjatuh. Aku tidak akan biarkan mimpi itu menjadi kenyataan. Sekarang juga aku akan melompat untuk menyelematkannya. Meski lidah ini kelu melihat keadaannya. Tidak ada pilihan lain untukku. Lambat bergerak Alex bisa….

” Aaaaallex…..”, kaku lidahku untuk memulai pembicaraan. Untuk pertama kali seumur hidupku, aku bicara dengan seseorang yang tidak bisa menjawab omonganku. harus bagaimana aku??.

” Alex sayang…ini Mbak Tantri. Mbak ada disini sayangku yang paling tampan”, kulap air mata yang mulai menggenang di pipiku. Aku sangat sedih tapi harus menyembunyikan kesedihanku, bahkan dari nada suaraku. aku tidak boleh terdengar sedih ditelinga Alex. bagaimana aku dapat menolongnya kalo tidak sanggup mengatasi kesedihanku sendiri.

” Mbak kangen banget sama kamu Lex!. Sedang dimana kamu lex??. Apa sedang jalan-jalan??”, aku berpura-pura mendengar suaranya, ” Jalan kemana sayang?. kenapa Mbak gak diajak?. Tega deh kamu Lex!. Kita udah janji padahal kesini mau jalan-jalan berdua”, air mata kembali tumpah dimataku. Nada suaraku serperti tercekat, hingga kuhentikan sejenak “monologku”.

Setelah kurasa dadaku cukup tenang kulanjutkan lagi bicara, ” Katamu kita akan menikmati Pulau Dewata sambil bergandengan tangan selalu Lex. Aku disini sekarang sayang. Genggam tanganku sayang kita susuri kembali pasir itu berdua. Tidak akann ada lagi tiga begundal yang memukulmu itu Lex! Mbak janji akan melindungimu selalu”.

” Pak Dokter Gede lihat alis pasien Alex mulai bergerak-gerak. Lihatlah Dok ini mukjizat”, aku kaget ketika Suster Ana menjerit dari belakangku begitu lantang.

” Sssst Ana jaga kelakuanmu!!kamu jangan lupa ini ICU! kamu gak boleh teriak-teriak begitu!” kulirik, dari kejauhan Dokter Gede juga maju dari posisinya untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi.

Suster Ana hanya cemberut sebentar mendapat omelan Dokter Gede. Tapi dia terus menyemangatiku. Hanya dengan isyarat tangan dia menyemangatiku untuk melanjutkan.

Mendapat dukungan dari belakang kulanjutkan usahaku menyelamatkannya ;

” Tau gak Lex Mbak sangat mencintaimu lho. Apa?? kamu gak percaya??. Mana buktinya?? nih Mbak udah buat puisi kusus buat kamu. Dengerin ya! meskipun jelek puisi ini Mbak buat khusus buat Alex. Kekasih Mbak tersayang ;

Apa artinya hidup ini tanpa senyummu
Mau dibawa kemana hidupku tanpa tawamu
Harta dan tahta tak berarti tanpa kehadiranmu
Sepi hidup ini tanpa dirimu

Alex engkau telah menawan cintaku
Kau rampas jiwaku dengan memborgol hatiku
Satu hari tak bertemu
Bagai seribu tahun duhai kekasihku

Pulanglah sayang jemput aku
Bawa aku berjalan bersamamu
Cium aku dengan hasrat di bibirmu
Hangatkan aku dengan gairah yang bersatu

” Hmmm…hmmm….hmmmm….”, tubuh Alex mulai mengeluarkan suara mendehem. Aku terkejut bukan kepalang.

” Suster lihat dia bersuara begitu keras. Ini keajaiban Sus. Benar-benar keajaiban”, sekarang giliran Dokter Gede yang lepas kontrol.

” Sssst Dok, ini ruang ICU”, goda suster Ana sambil tersenyum nakal.
Dokter Gede hanya bisa tersipu sambil menyikut lengan suster Ana.

Kulanjutkan puisiku;

Kemarin kau tanya padaku.
Kapan waktuku dapat kuserahkan untukmu?.
Jawabanku membuatmu kesal karena aku membisu.
Kini aku yakin sekali pengeranku.
Waktuku hanya milikmu.
Pergunakanlah sesukamu.
Karena aku merindu.
Untuk menjadi milikmu.

Mendengar puisiku. Wajah Alex yang semula tanpa niat untuk hidup, kini bergerak-gerak perlahan. Wajah itu mulai menggeleng-gelang ke kiri dan kanan. Semuanya terjadi bagai “slow motion” di mataku. Dari belakang aku menoleh pada suster Ana dan dokter Gede. Mereka berdua sudah bersujud di lantai. Mereka tampak sedang memanjatkan puja kepada Yang Maha Esa. Tampak jelas dari ekspresi wajahnya, mereka berdua sangat bersyukur telah mendapat kesempatan melihat sebuah mujizat dengan mata kepala sendiri.

Ketika kualihkan kembali wajahku ke arah Alex. Perlahan sekali wajah penuh bekas luka itu menggeleng, dari sisi kiri kemudian ke sisi kanan menuju tempatku berada. Begitu indah wajahnya kini. Sangat memiliki semanagat hidup.

Masih dalam gerakan lambat di kepalaku. Wajah itu kemudian terpaku mengahadap ke arahku. Mata yang terpejam itu kemudian berdenyut-denyut. Urat matanya terlihat mulai tegang. Kontraksi di bagian itu begitu keras. Terlihat dari kedut-kedut yang sangat sering.

Setelah terus menegang tiba-tiba urat-urat di matanya berhenti berkontraksi. Mata itu kini tenang dalam posisi terpejam. Apakah aku gagal??. tadi dia terlihat sangat hidup untuk sesaat. Kenapa kini semua itu hilang. Mata itu kenapa berhenti berusaha?. Apakah lompatanku kembali gagal seperti di mimpi??. Apakah harus begini akhirnya?? Alex terjatuh ke jurang??”.

Kututup mataku tak sanggup membayangkan apa yang terjadi. Kupaksakan untuk membuka kembali mataku, penasaran dengan kegagalan ini. Saat kubuka kembali mataku, Alex telah membuka matanya. Pandangan kami bertemu dan menyatu dalam sebuah cinta yang tak kasat mata.

Akulah yang pertama dia lihat kala membuka mata. Lama rasanya kami saling bertatapan.
Tersungging senyum dibibirnya. Sebuah senyum paling indah yang pernah kulihat seumur hidupku.

” PASIEN BANGUN DOK!! INI MUKJIZAT!”, Suster Ana kembali berteriak, ” seorang pasien koma yang biasanya perlu waktu bulanan hingga tahunan untuk sadar, dapat kembali hidup ke dunia ini. Ini mukjizat Dokter Gede”, jeritnya.

Melihat Alex tersenyum, akupun tersenyum, untuk kemudian secara tak terkendali jatuh tertuduk. lututku lunglai menyentuh lantai. Kuarahkan dahiku untuk bersujud. Sambil menangis aku bersujud sambil terisak. tak ada kata yang pantas untuk kuucapkan selain ; “Terima kasih Ya Tuhan”.

***

6 Bulan kemudian ;

Begitu ramai undangan yang datang hari ini di pernikahan kami. Lihatlah mempelai wanita yang berdiri disampingku. Ditebarnya senyum tiada henti sedari pagi, namun tidak mengurangi sedikitpun keindahan senyumnya.

Saksikanlah dia demikian cantik dan mempesona. Kulitnya yang telah terpoles oleh riasan pengantin semakin memancarkan kecantikannya.

Gaun pengantin yang kupesan khusus untuknya berwarna keemasan. Sangat cocok untuk menampilkan “aura emas” yang memang dimilikinya. Kebaya itu begitu pas terpasang di tubuhnya. Memamerkan keanggunan sekaligus kesexyan tubuhnya yang memang begitu terkenal.

Mimpi apa aku bisa menikahi Polwan tercantik seperti dia. Begitu beruntungnya aku. Lihatlah ke seluruh sudut aula gedung ini, walaupun disinari begitu banyak lampu namun semuanya redup dibawah kaki keanggunannya.

Para tamu undangan yang hadir tak henti berdecak kagum pada kecantikan Polisi Wanita yang telah resmi menjadi istriku ini.
Dia yang sehari-hari hanya mengenakan pakaian seragam Polisi, lengkap dengan atribut kepangkatan, rambut pendek sebahu, wajah tegas, tubuh yang selalu berdiri tegap, kini begitu anggun dalam balutan busana pengantin.

Berulang-ulang aku mencuri pandang ke arah wajahnya. Setiap aku memandangnya, berjuta kali pulalah aku mensyukuri telah dikaruniai istri sempurna sepertinya.

Briptu Tantri merupakan sosok Seorang Polwan sejati. Sifat dan penampilannya sangat ideal ; Displin , jujur, berani, tegas, cerdas, dan memiliki wajah begitu cantik . Bukan hanya cantik wajahnya tapi yang terutama cantik hatinya.

Pandangilah mereka yang menyempatkan hadir dalam undangan kami. Seluruh lapisan tampak hadir untuk berbahagia dalam pernikahan kami. Dari para pejabat daerah hingga anak-anak sekolah yang pernah dibimbing oleh istriku dalam pelatihan lalu lintas. Semuanya hadir untuk sama-sama berbahagia di hari istimewa kami.

Semua lapisan berbahagia. Kecuali mungkin Pak Burhan mantan atasan istriku. Sedari tadi kulihat dia begitu asyik menggoda Sinta teman satu asrama istriku. Ada dimana dia sekarang??. Lho itu dia, tapi mau kemana dia dengan Sinta?? Bukankah Sinta sedang bertugas menjadi pager ayu?. Nah sekarang mau kemana dia, kenapa Sinta malah meninggalkan kewajibannya sebagai pager ayu??.

Ingin rasanya kuberi tau istriku tentang hal itu, namun kuurungkan karena kulihat dia masih begitu asyik menerima tamu undangan yang ingin menyalaminya atau ingin berfoto bersama. Sudahlah apa yang dilakukan oleh Pak Burhan bukan urusanku.

Kualihkan pandangnku pada foto pre-wedding pernikahan kami yang berdiri gagah menyambut tamu undangan. Bagiamana kami harus berpose kuserahkan semua pada istriku tercinta. Dia menginginkan sebuah foto sederhana namun menampilkan aura kasih. Entah bagaimana ceritanya jadilah foto itu, dengan pose kami berdua yang saling memandang dan tersenyum begitu indah. Semoga semua undangan yang hadir mampu menangkap pesan yang tersirat dibalik foto itu.

Beranjak sedikit dari foto, terdapat janur kuning yang melengkung. Janur kuning menjadi simbol penegasan bahwa Tantri kini resmi menjadi istriku. Tidak ada lagi para pria petualang yang boleh mendekatinya sembarangan. Terletak tak jauh dari janur terdapat rangkaian bunga ucapan selamat yang tertata begitu indah.

Bunga yang tertata rapih membentuk nama kami disana sangat menarik perhatian pengunjung. Rangkaian bunga itu terdiri dari bunga yang berwarna putih, hijau, merah , dan biru. Kombinasi warna ini merupakan symbol empat elemen pembentuk alam semesta, yaitu air, tanah, udara, dan api. Semua unsur itu terjalin menjadi satu dan tunduk dihadapan dua insan manusia yang telah mendeklarasikan cintanya dalam keadaan suka maupun duka.

Keabadian cinta telah menaklukan empat unsur alam semesta. Baik elemen tanah- udara- air- maupun api menjadi saksi kekuatan cinta kami yang telah dipersatukan dalam mahligai pernikahan. Dalam satu janji pernikahan, seluruh alam semesta saling bergandengan tangan menjadi saksi keabadian dua nama yang terjalin indah. Dari kejauhan tergambar jelas nama dua insan yang beruntung hari ini ; “TANTRI & ALEX”.

TAMAT !?

MALAM BULAN MADU HARI KEDUA.

Setelah hari pertama pernikahan berlalu dengan segala gemerlap dan kelelahannya. Kini giliran kami untuk saling memadu cinta. Malam pertama ialah malam dimana istriku Tantri akan melepas keperawanannya. Sebuah malam yang indah untuk kaum Pria. Namun bisa saja sangat traumatik bagi kaum Wanita.

Aku tidak ingin Tantri mengalami trauma akibat malam pertama yang menyakitkan. Maka aku akan berusaha sekuat tenaga untuk menghadirkan malam pertama yang tidak menyakitkan untuknya. Aku memutuskan melewatkan malam pertama di hari pertama pernikahan kami. Alasan kelelahan menjadi faktor utama.

Setelah semua hiruk pikuk pernikahan berakhir dan para keluarga besar kembali pulang ke rumah masing-masing. Aku “menculik” Tantri untuk menikmati bulan madu di sebuah daerah dingin yang indah di puncak gunung. Udara yang demikian sejuk terasa sangat pas untuk pengantin baru.

Siang hari kami berangkat dan tiba 3 jam kemudian. Kami sempat berjalan-jalan sebentar. Hitung-hitung sebagai “napak tilas” gita cinta kami yang begitu romantis. Setelah cukup berjalan-jalan dan kenyang menyantap hidangan pembangkit gairah seksual, he he ya aku memang nakal, sebelum betempur kuajak istriku makan makanan yang mampu mendongkrak libidonya. Hitung-hitung pemanasan.

Begitu “private” villa ini. Semua pelayan kuminta pulang saja pada malam hari, untuk memberi kesempatan pada kami berdua untuk bebas menggeksplore kenikmatan seksual di malam pertama.

Aku bertekad dalam hatiku sendiri untuk memberi sebuah “foreplay” panjang tak terlupakan untuknya. Begitu cantik istriku. Tubuhnya tinggi semampai seperti peragawati. Rambutnya pendek namun begitu cantik. Hidungnya mancung dan wajahnya begitu proporsional. Tantri sangat disiplin merawat tubuhnya. Sebagai wanita, lemak-lemak yang membuat tubuh tidak sedap dipandang telah dikikisnya. Kulit tubuhnya eksostis sangat khas dengan Negara kita.

Sesampainya di dalam kamar, kami mulai berciuman begitu panas. Tampaknya sate kambing yang baru saja kami makan telah bekerja dalam mendongkrak libido kami. Tantri begitu bergairah. Dia adalah tipe wanita yang akan membuat seorang pria betah diranjang. Dia bukan wanita yang menampilkan kebinalannya secara vulgar ketika bergaul, sebaliknya dia lebih memilih menjaga imagenya. Bukankah wanita yang terlihat pendiam dari luar bisa begitu buas di ranjang ketika kita mengenalnya?. Ya seperti itulah Tantri.

” Kamu tidak boleh menyentuhku menggunakan tanganmu Mbak Tantri!”, kulepas ciumanku dibibirnya. Dia terlihat kecewa.

” Kenapa Lex??”, berusaha dia memagut bibirku, tapi kuhindari ciumannya, ” Lex…”.
Kupegang bahunya agar tenang, ” karena malam ini dan seterusnya, Alex yang berkuasa Mbak. Kamu mengerti??”.

” Iya”, sambil memendam nafsunya dia mengangguk.

Kutelentangkan tubuhnya kemudian mulai kutelenjangi dia. Dengan gerakan pasti kulepas semua kancing baju kemeja ketatnya. Setelah itu berusaha kutarik lepas resleting celana jeans pendeknya. Tak lama Tantri terbaring hanya tinggal mengenakan BH dan CD berwarna merah saja. Dia memang tipe wanita yang panas dan suka memamerkan kesintalan tubuhnya, tapi special hanya untuk orang yang dia cintai saja. Warna merah adalah favoritenya. Wanita dengan kesukaaan merah dapat dibaca sebagai wanita dengan nafsu seksual yang meledak-ledak.

Mulai kupijat tubuhnya bagai pemijat profesional. Lebih tepatnya memberi pijatan seksual untuk memancing gairahnya. Dengan tanganku mulai kujamah selurut tubuhnya. Dimulai dari kepala, kedua jari tengahku beranjak mengurut dahinya agar menumbuhkan suasana relax. Selanjutnya tanganku turun kelehernya.

Dari leher kumulai penjelajahan pijatanku ke seluruh bagian tubuhnya. Mulai dari bahu, lengan, perut, pusar, paha depan, paha belakang, tumit, betis, hingga jari kaki. Semua kusentuh kecuali payudara dan vaginanya. Merasakan bahwa kedua titik sensitifnya tidak tersentuh Tantri berkali-kali mendesah keras. Desahannya sebagai isyarat agar tanganku mampir ke titik sensitifnya. tapi aku tidak menghiraukan kemauannya.

” Ayo kita mandi dulu dibawah pancuran Mbak!”, kutarik dia agar bangun dan melangkah ke kamar mandi. Kamar mandi villa ini begitu mewah memilik fasilitas shower dan bathtube air panas.

Sampai di kamar mandi, bath tube sudah terisi penuh dengan air hangat. Aku memintanya untuk masuk kedalamnya. Posisiku duduk memangku Tantri yang bersender di dadaku.. Sambil mermangku, mulai kubelai tubuh mulusnya dari arah belakang. Bulir-bulir sabun yang begitu banyak dan harum menambah romantisme suasana.

Dari belakang kusabuni tengkuknya kemudian beranjak menyusuri punggungnya.. Kuciumi punggung itu sambil tanganku dengan nakal menyentuh sisi luar payudaranya. Tantri telah begitu horny sekarang. Dirasakan olehnya penisku juga telah ereksi maksimal. Tangannya berusaha mencari batang tegak itu untuk menyentuhnya.

” Tidak boleh pakai tangan!!”, bisikku kepadanya.
Diurungkan niatnya untuk menyentuh ereksiku yang telah maksimal.

Mulai kuciumi tengkuknya sambil kedua tanganku terus menyabuni seluruh tubuhnya.

” Hmmm memek sempit ini udah becek Mbak. he he disabunin dulu ya biar wangi”, aku berbisik nakal di telinganya sambil menjilati daun telinga Tantri.

” Aaaaahhhhhhhh”, Tantri mendesah saaat vaginanya mulai kusabuni dari luar.

” Mmmm tumben ada jembutnya. Potongannya mini lagi. Cuma segitiga doank diatas memekmu. Sengaja ya sayang?”, Aku sendiri terkejut karena Tantri memelihara jembut. Biasanya dia selalu membabat habis seluruhnya.

” IIiiya AAAAH sengaja LLlllleex”, terus kusabuni vaginanya.

” Biar apa Mbak???”.

” AAAAH”, kembali dia menjerit ketika tanganku nakal memelintir kulit vaginanya, ” Biar sexyyy”.

” He he nakal kamu Tantri!”.

Kehadiran jembut ini membuatku penasaran untuk memainkan vaginanya. CD dan BH tantri tidak kulepas. Tapi kubiarkan tanganku bermain dari balik celah-celahnya saja.

” Jembutmu lembut cantik! begitu indah begitu sexy”, kekucek vaginanya dengan cepat.

” UUUUUH UUUUUUH SHIIIIIIT”, Tantri bergetar hebat. rasanya dia mengalami orgasme kecil.

” Enak??”

” Ennnak Lex….”.

” Mau lagi???”.

Tantri mengangguk

” Ayo kita bilas dulu di shower.

Keluar dari bathtube kami menuju shower. Segera saja kuset suhu air yang keluar agar hangat untuk membuatnya nyaman. posisi Tantri masih membelakangiku. Sengaja penisku yang sudah ” tegang” kugesek-gesekkan ke dinding vaginanya. Semakin keras aku menggesek , semakin keras pula desahannya terdengar. Dari arah belakang kubuka kaitan BH dan kuturunkan CDnya. Laki-laki mana yang mampu bertahan tidak melahap segera hidangan indah tubuh wanita seperti Tantri.

Kini dalam kondisi telanjang, dapat kubilas seluruh tubuhnya hingga bersih. Kini jelas kulihat jembut kejutannya tadi. Betul kata Tantri jembut ini sengaja dibiarkannya tumbuh kemudian dirawatnya dengan memotongnya pendek dan hanya berbentuk segitiga.

Kumatikan shower kemudian kuhanduki dia untuk mengeringkan tubuhnya. Tantri hanya bisa diam dengan nafas yang begitu memburu. Pelan kukeringkan seluruh tubuhnya agar dia tidak masuk angin. Aktifitas mengeringkan tubuh Tantri juga sangat sensual. Sambil mengelap kukecup titik-titik sensitive tubuhnya.

Setelah semuanya kering kubawa dia ke hadapan depan kaca rias.

” Ini hadiahku untukmu cantik”.

” Apa ini Lex??”.

” Terima kasih telah menyelamatkanku. Terima kasih telah memilihku sebagai suamimu. Ini kalung emas untukmu. Sini kupakaikan”, dalam kondisi masih sama-sama telanjang kukalungkan kalung emas di leher Tantri.

” makasih banyak ya Lex”.

” Aku yang terima kasih banyak Mbakku cantik”.
Kami kembali berciuman mesra.

” Jangan senang dulu! ini kusiapkan juga “seragammu” malam ini”, kuperlihatkan satu set lingerie baby doll warna merah muda sexy lengkap dengan G stringnya.

” Sexy sekali Lex”, bisiknya.

” Kamu suka?”

” Suka banget”.

” Sini Alex pakaikan untukmu”.

Untuk pertama kalinya selama hidup aku memakaikan baju untuk Tantri. Biasanya aku hanya bisa menanggalkan bajunya.

Pertama kupasangkan G-String mini untuknya. Aroma vagina yang telah terangsang sampai juga di hidungku. Aromanya begitu khas.

” Angkat tanganmu biar Baby doll ini masuk ketubuhmu!”

Tantri menurut dan lingerie itupun dengan sempurna menempel ditubuhnya..

Babydoll warna pink yang dikenakannya sangat sexy. Dengan hanya dibatasi dua tali yang menyangga tubuhnya dari samping bahu, lingerie itu seolah gagal menyangga payudara montoknya. Model baju yang kubelikan ini memang tidak membutuhkan BH, karena sengaja mengekspose sacara maksimal kesintalan payudara penggunanya.

Selain begitu sexy menutup tubuh atas. Lingerie ini juga memamerkan pesona keindahan kakinya.. model babydoll ini begitu mini dan hanya menutup bagian bawah tubuh Tantri sampai tepat di pantatnya. Lebih tepatnya setengah pantat semoknya. Tubuhnya yang jangkung bak peragawati, membuat lingerie pink ini jadi kekecilan. Dengan mudahnya aku dapat mengintip G-String yang baru saja kupasangkan. G String itu hanya berupa tali di pantatnya, sedangkan dibagian depan, g-stringnya begitu pelit hanya menutup seperempat vaginanya.

“Nah kamu sexy sekali, sekarang sebagai hadiah terakhir adalah ini”,.

” Apa itu Lex??”, tanyanya ingin tau.

” Ini kain Mbak untuk menutup matamu”, ditanganku telah siap satu potong kain lembut warna hitam untuk menutup matanya.

” Kenapa mataku harus diitutup Lex??”

” Aku sudah janji Mbak Tantri, di malam pertama aku akan membuatmu merasakan kenikmatan yang sejati”, jawabku sambil berbisik di telinganya, ” kenikmatan itu hanya dapat diraih bila Mbak sanggup pasrah sama kemauan Alex”.

Kini dalam kondisi mata tertutup, Tantri tidak akan bisa menduga bagian mana dari tubuhnya yang akan kucumbu.

” Uuuuuuhhh”, dia mulai mendesah saat tiba-tiba aku mencium bibirnya.

Aku sangat menikmati ekspresinya yang begitu horni namun kebingungan.

” OOOOuuhhh LEXXXXX…”, dia menjerit ketika tanganku menyusup kepayudaranya dari balik baby doll.

” UUUUhhhh…uuuhhhh…”, kuolesi dengan telunjukku bagian luar payudaranya. Tantri mulai gelisah sambil menggigit bibir bawahnya, itu tandanya dia mulai terangsang.

Sambil mengoles sisi luar payudaranya dari belakang, kucium lehernya yang begitu bebas tersaji karena rambutnya yang pendek.

” Ahhhhhhhh”, Tantri semakin keras menjerit, saat aku mulai memilin payudaranya dengan keras tanpa menyentuh putingnya, ” hahhh…hah…hahhhh…aaaahhhh”, kadang kusentuh payudara itu dari dalam, kemudian kuarahkan tanganku untuk memelintirnya dari luar.

Meskipun terhalang baju, sensasi gesekan yang ditimbulkan oleh remasan tanganku dan kain pink babydoll ini semakin membuatnya lupa daratan.

” SAYANGGG Ahhhhhhh”, tanpa takut dia menjerit. Tantri memang wanita yang tidak malu-malu ketika ingin dipuaskan. Sejak pacaran desahan maupun teriakannya begitu bebas terekspresikan ketika kami bercinta.

Tidak tahan dengan permainan tanganku diangkatnya kedua tangannya tinggi untuk mencari rambutku yang berdiri dibelakangnya. Dia sering menjambakku ketika menjelang tiba di kenikmatan tertinggi.

Inilah posisi favoritlku, maka kuarahkan tubuhnya kembali menghadap cermin besar yang ada disana untuk melihat pantulan ekspresi dan keindahan tubuhnya. Lihatlah dia, dalam kondisi mata tertutup, payudaranya begitu mudah kugerayangi dengan bebas.

Tantri pasti tidak tahan dengan sensasi nikmat dan geli yang datang bersamaan hingga mengangkat tinggi tangannya. Inilah momen terindah, saat kedua ketiaknya terlihat begitu jelas. Tantri memiliki ketiak yang sangat sexy dan dia sangat senang memamerkannya. Sikap tubuhnya kepadaku selama ini, seolah ingin mengatakan kalo itulah bagian sensitive tubuhnya yang harus dibelai.

Kusentuh ketiak yang terbuka itu dengan kedua tanganku, lantas kuelus dengan lembut. Uuh begitu licin tanpa sehelai rambutpun. Kuputar tanganku disitu seperti ingin mengelikitiknya. Tantri segera terlonjak dan tersengat kegelian.

Begitu terangsang dia menerima permainanku. Semakin tinggi diangkat kedua tangannya. Aku tau pasti apa yang diinginkannya. Pasti dia ingin aku segera menjilati bagian sexy itu. Tantri paling senang bila ketiaknya kujilati. Katanya itulah bentuk ekspresi pengagunagnku terhadap tubuhnya, yaitu mau menikmati seluruh sudut tubuhnya dengan gairah yang membara.

Aku belum mau mengekspolere ketiaknya.

Nanti saja kusantap itu, saat Tantri tengah bimbang menuju orgasmenya. Lebih baik kutelusuri saja bagian bawah tubuhnya. Kakinya yang jenjang begitu merangsang.

Tantri terkejut menerima serangan ” bawah” itu. Saat dia mengharap ketiaknya kujilat, malahan kakinya yang kuserang. Dia tampak kaget dan hampir terjatuh ketika kaki kananya mulai kuciumi dan kuhisap. Melihat hal itu, kubantu dulu dia untuk duduk di sofa. Sangat merusak mood rasanya kalo Tantri sampai terjatuh akibat ulahku.

Setelah Tantri duduk dengan nyaman. Permainanku dimulai kembali. Sekarang kuangkat kaki kanannya kemudian kuciumi jari-jari lentik kakinya.

” Ahhhhh Mass”, Tantri kembali mendesah hebat sambil mengangkat tangannya tinggi untuk memegang sandaran sofa.

Dia memang benar-benar “Bom sex”. Ya wanita bom sex ialah wanita yang hanya dengan kerlingan mata atau desahannya dapat mengantar kaum pria segera bernafsu dan ingin menyetubuhinya.

” Auuuuuuhhh”, semakin histeris dia, ketika secara bergantian kusedot jari-jari kakinya. Dimulai dari ibu jari hingga jari manis.

Banyak pria yang mengidamkan kaki Tantri karena bentuknya yang begitu jenjang, kencang dan . semok. Perhatikanlah baik-baik disekitaran pahanya banyak ditumbuhi bulu-bulu yang begitu halus. Itu menjadi penanda Tantri bisa segera orgasme hanya dengan mempermainkan bagian itu.

Setelah puas mencium dan menyedot jari kaki kanan beserta bagian-bagian kakinya, kuberalih ke kaki kirinya dan melakukan ritual yang sama. “Ahhhhh ooooohhhhh”, desahan Tantri semakin menjadi-jadi.

Kuangkat kedua kakinya tinggi, membuat Tantri terjerembab terlentang di sofa. ” Ouuuugghhh apa yang kau lakukan Lex, ahhhhhhhh”, kuciumi tumit kaki dan mata kakinya lalu terus turun menuju kedua betisnya yang mulus tanpa bulu. perawatannya begitu maksimal, bahkan diantara betis kakinya, tidak ada satupun bulu yang tertinggal.

“Ooooh….ahhhhh…..ahhhhhh”, Tantri terus mendesah inilah yang kuinginkan. Istriku mulai pasrah dibawa kemanapun dalam permaianan ini. Bukankah ini malam pertama untuknya?? sebuah malam yang kadang terasa mengerikan bagi para wanita. Untuknya aku ingin ini menjadi malam yang tak terlupakan.

Dari betis aku berhenti cukup lama untuk menjilati bagian belakang persimpangan antara betis dan pahanya. Bagian itu memang tersembunyi, tapi lihatlah ekspresi Tantri saat bagian itu kujilati lembut, dia mengerang-ngerang keenakan. ” Uuuuuh….uuuuh…uuuh….”. Matanya mulai merem melek. Dia mulai mabuk syahwat.

Puas menjilati celah itu mulai kuciumi perlahan paha dalamnya yang terlihat begitu ranum.

Kujilati dari arah kulit luar, naik perlahan kemudian turun lagi, demikian terus menerus membuatnya semakin terangsang.

” Balik badanmu sayang! rebahkan tubuh atasmu di sofa ini, pantat dan kakimu biarkan menungging. Buka lebar kakimu Tantri!”, kusuruh dia agar menungging dengan tubuh bagian atas yang terbaring di sofa.

“Uuf”, lihatlah betapa indahnya pemandangan yang kulihat. Sebuah tali G-string merah muda tersaji indah, karena lingerinya telah membukanya begitu lebar. Kuelus pantatnya yang begitu semok. Tantri kembali salah tingkah. Kepalanya terus dia palingkan kiri-kanan seperti orang mabuk.

“Plakkk…plakkk…plakkkk…”, kutampar keras pantatnya, ” ahhhh..ahhh ….ahhhhh”, Tantri menjerit terangsang setelah pantatnya kutepuk keras.

Puas menghukum pantatnya yang montok dengan tamparan. Mulai kubelai celah vaginanya dari luar. Keberadaan tali G-Stringnya semakin membuatku mudah mempermainkannya.

Kadang kutarik keras tali itu hingga membuat vaginanya tergesek hebat, ” Uuuuhhh sakkkkiit Lexxxxx”, erangnya.

Lain waktu kugunakan tiga jariku untuk menggesek intens vaginanya. jari telunjuk, tengah, dan jari manis, kegerakkan seperti hendak menghitung uang, tapi di permukaan vaginanya yang kini dihiasi jembut. ” Kkkkommmannnndan Alexxx uuuggggghhhh”, Tantri mulai menggigit permukaan sofa. Kuperhatikan permukaan memeknya sudah dibasahi lendir kenikmatan.

Tanpa menghentikan “gocekanku’ di vaginanya, kulihat lubang anusnya mulai kembang kempis tak beraturan. Pasti lubang inipun mulai terangsang hebat akibat sentuhanku. Kujilati lubang itu di permukaannya searah jarum jam, tanpa menyentuh lubangnya.

Tantri semakin histeris, kini dijambaki apapun benda yang ada di dekatnya. rambut,bibir sofa ataupun kulit tubuhku yang berada dalam jangkauannya semua dijambaknya. Syahwatnya kini telah siap meledak kapan saja.

” Hhahhh…ahhhhh… uuuggghhh Lexxxxx….”, Tantri mulai hilang kesadaran.

” Ayooo nikmati sayang jangan ditahan-tahan!!”, seruku untuk menyemangatinya agar tak ragu menumpahkan seluruh hasrat.

Setelah rangakaian “godaaan” di bibir anusnya. Tiba saat untuk menyerang lubang anusnya. Tanpa ragu kujilati lubang anusnya dengan begitu cepat.

” AAuuuuhhh…uuuuhhhh…AKHHHHHHH….Shiiiiit”, Tantri mengalami orgasme “sejati” pertamanya dengan lidahku di lubang anusnya. Ketiga jari tanganku yang ikut membantu menggocek vaginanya semakin membuat pelepasan cairan orgasmenya meletup tak terkendali.

Ibaratkan sebuah letupan gunung saat memuntahkan laharnya. Hal yang sama terjadi ketika Tantri mengalami orgasme. Ledakan hebat disertai gemuruh desahan dan getaran permukaan tubuh, menyajikan panasnya erupsi tubuh yang meledak-ledak dalam irama yang tersaji begitu indah.

Tantri bergetar hebat sambil terungkit-ungkit, sebelum kemudian roboh tak beraturan ke lantai dengan nafas yang tak beraturan.

” Hahhh…hahhh…hahhh….”, dia masih ngos-ngosan.

” Alex jahat…..”, walaupun nafasnya belum kembali dia berusaha bicara mengungkapkan jerit kenikmatannya, ” Mbak dibuat hah…hah……”kelejotan” begini….hah..hahh…”.

” Enak Mbakku sayang??”.

” Eeenak suamiku …..eeenak banget…”.

” Ini belum apa-apa sayang”, kubuka penutup matanya. Sekarang saatnya matanya terbuka untuk menangkap “momen special” dalam hidupnya.

” Kita main di ranjang sekarang Mbak”, bisikku sambil mengggendongnya seperti layaknya pengantin baru yang menggendong kekasih tercintanyanya, menuju ranjang yang akan segera menjadi saksi tertumpahnya darah keperawanan segar.

Sampai di ranjang bulan madu yang begitu lebar, kulempar tubuh Tantri.

” ahhhhh”, Tantri menjerit. Sebelum dia sanggup bergerak kemana-mana sudah kutindih dia dalam posisi terlentang.

Dengan cepat kuangkat kedua tangannya tinggi kearah bibir ranjang. Tantri kebingungan dengan gerakanku. Sebelum dia sempat berfikir lebih jauh, sudah kukunci kedua tangannya dengan borgol yang telah kusiapkan sebelumnya.

” Nah kamu sekarang udah diborgol sayang!, gak bisa kemana-mana”, mata kami saling bertatapan.

” Hah…hhahhh..hahh..”. nafas Tantri semakin memburu, hormone adrenalinnya tampaknya begitu terpacu. ” Mmmmmmmm”, kusumpal mulutnya dengan ciumanku yang panas. Lidahku langsung masuk ke dalam bibirnya. “mmmmmmmmm”, dia tampak begitu beranafsu untuk menciumku.

” Ahhhhh..Mmmmm”, dengan cepat kujambak rambutnya, kemudian kuciumi kembali tanpa memberinya kesempatan apapun untuk memikirkan kelanjutan aksiku.

Borgol ditangannya membuat Tantri tak bisa kemana-mana. ” Ahhhh….uuuuuh…”, desahan tidak henti keluar dari bibir Tantri. Setelah menciumi bibirnya, serbuan mulai kuarahkan teratur kearah lehernya. Permukaan leher yang mulai dibasahi keringat itu tidak terlewat satu sentipun untuk kuhisap. Dari arah leher samping, jilatanku terus naik, hingga ke arah daun telinganya.

” Akkkkkhhhhh”, Tantri menjeris saat telinganya kujilati kembali dan kuhisap tanpa belas kasihan. Sambil menghisap telinganya, tanganku turun untuk membuka lingerinya dari bawah. Posisi Tantri yang sudah terikat, membuatku sulit untuk menelanjanginya. Namun baju mininya ini mudah kuangkat sampai keatas payudaranya hingga mampu membuatnya bugil, dengan hanya menyisakan G-string.

Dari telinga kuberalih ke payudaranya. Tantri semakin tidak sabar. Diangkatnya kepalanya untuk melihat wajahku yang tengah meniup pentilnya.

” Hhisssap Lex..”, ujarnya dengan wajah merah merona penuh syahwat. ” tolongg hisap!”.

” Hush siapa Komandannya sekarang Tri??”.

” Uuuhh mmmaf Komandan….”.

” siapa Komandannya Tri??”.

” Kamu Komandannya Lex. Komandan Alex”.

” kamu mau minta apa Tri??”.

” Tolong hisap pppentilku Kommmandan”.

” Yang tegas Tantri!”.

” Tolong hisap putingku komandan, aku tidak tahan”.

” Itu baru tegas he he”.

” AAAAAAAAAKKKKKKHHHHHH”, begitu keras raungannya terlontar ketika putting susunya kuhisap dengan sekencang-kencangnya. ” AMMMPUUUUUNNNN”, Tantri semakin histeris saat tanganku ikut-ikutan memelintir payudaranya. Rasanya inilah fantasiku selama ini tethadap sebuah payudara nan indah milik Tantri.

Tak kenal bosan, aku terus menghisap, menjilati, bahkan mengigit susu itu. Tidak akan kuhentikan aksiku ini sebelum Tantri kembali meledak hebat. Momen special orgasme yang kunantikan itu rupanya segera terjadi. Hanya berjarak beberapa menit dari orgasme pertamanya tadi, Brigadir Tantri kembali menjerit mendapat orgasme hebat.

” ………………………….”, tidak ada suara yang terdengar, yang ada hanya gerakan histeris, diiringi lonjakan-lonjakan hebat yang sangat menguras tenaganya.

Sekitar dua menit dia mengalami ketidaksadaran seperti itu. Sebelum akhirnya mampu kembali “hadir ke dunia” dengan mata yang begitu nanar.

” ahhhh….ahhhh….ahhhhh”, kuciumi dulu lehernya sejenak, untuk membantunya mendapat nafasnya kembali.

Saat kurasakan nafasnya telah kembali, langsung kukangkangi wajahnya, sambil membawa penisku yang telah mengacung tegak ke depan bibirnya. Kutempar-tampar permukaan bibirnya dengan helm penisku, sebagai isyarat bahwa aku menginginkan oral darinya.

Tantri memang buas dalam hal oral sex. Ketika di pantai Pulau Dewata, begitu dahsyat dia mengoralku hingga ejakulasiku terjadi begitu cepat.

Dibukanya mulutnya kemudian mulai dihisapnya penisku, dengan hisapn yang begitu kuat. “AAaaaahhh Tantriiii fuccckkkkk”, aku selalu histeris menerima permainan bibirnya. Ditahan oleh tangan yang terikat, Tantri berusaha memuaskanku dengan menaik turunkan kepalanya untuk semakin memaksimalkan hisapannya.

Pemandangan kepalanya yang turun naik dengan mulut yang dijejali penis membuatku hampir saja ejakulasi. Beruntung aku dapat menahannya. Kupaksa mencabut penisku dari mulutnya.

” jangan dihisap sampe keluar dulu Mbak. hah..hah…hahh…permaianan masih panjang”, bisikku merasa beruntung karena mampu menunda ejakulasi.

Kemudian aku meluncur menuju bagian bawah tubuhnya. Kini giliranku untuk memberi oral tak terlupakan pada vaginanya yang telah kembang kempis itu.

Bagian ini adalah yang paling sensitive dari tubuh Tantri. Kata orang kunci orgasme wanita ada di G-spotnya. Menurutku sebaliknya kunci utama orgasme wanita adalah di C-spot atau clitorisnya. Ada wanita dengan clitoris yang begitu jelas terlihat.namun banyak juga yang tersembunyi. Untuk mereka dengan clitoris tersembunyi tentu usaha untuk meraih orgasme akan lebih lama.

Tapi Tantri?? dia adalah tipe wanita dengan clitoris yang begitu jelas terlihat. Mulailah menghisap bagian itu dan lihatlah ekspresinya. Dia pasti terhanyut dalam ekspresi yang “cetar membahana”.

Ketika mulai kujilati vaginanya pandanganku tak sanggup lepas dari jembutnya yang begitu sexy. Ingin rasanya kucabuti satu persatu jembut itu dengan gigiku., Tantri betul-betul seorang BOM SEX.

Jilatanku dimulai dari sisi luar tanpa menyentuh lubang nikmatnya. Kuulang-ulangi terus pancingan ini tanpa melepas mataku dari jembutnya. Rambut kemaluan itu benar-benar membuatku gila. Niatku untuk mempermainkan memeknya lama-lama jadi berantakan karenanya.

Dengan tidak sabar kulahap jembut itu.

” ALEXXXXXXXX FFFFUUUUCCCKKKK”, Tantri menjerit.

Rasa jembut itu begitu lembut, wangi dan terawat. Lama aku hisap rambut itu sebelum lidahku turun menuju menu utama yaitu vagina Tantri yang merah merekah.

Kubuka pelan celah sempit itu. Kepala Tantri menengadah ke arahku.

” Rebah sayang. akan kubawa kamu ke surga!”.
Tantri mengangguk kemudian meraung, ” UUUUUUUUUUUUhhhhhhh”.

Tanpa menunggu lama kujilati celah itu dengan gerakan naik turun dan berputar tiada henti. bagai gasing lidahku menjelajahi setiap pori-pori vaginanya..

Sambil menghisap vaginanya, jari-jariku kembali memetik dawai memeknya berulang-ulang. Kurasakan baik-baik cairan lendirnya, untuk menilai kesiapannya untuk menerima penetrasi pertama kalinya seumur hidupnya.

Betapa beruntungnya aku sebagai suami memiliki seorang isrti yang mampu menghasilkan cairan lubrikasi alami yang sedimikan berlimpah. Tantri telah becek sempurna. bahkan dia kini sudah diambang orgasme. rasanya hanya tinggal 3 jilatan lagi dia akan meledak

Saat nikmatnya telah tiba diubun-ubun itulah kuhentikan jilatanku.

Tantri terkejut frustasi karena menjelang ledakan orgasmenya jilatanku malah berhenti.

Langsung kunaikkan tubuhku. Penisku yang tegak langsung kutempatkan di liang bibir vaginanya yang masih penasaran karena kenikmatan yang tak tuntas.

Penisku siap untuk membelah duren.

Semua gerakanku begitu cepat, hingga Tantri gagal untuk berpikir. Dari raut wajahnya yang linglung, aku tau apa yang ada di kepalanya, ” Orgasmeku sudah diubun-ubun Lex. kenapa kamu berhenti??”. Sebaliknya aku menginginkan Tantri tetap dalam kondisi linglung seperti itu agar prosesi belah duren ini berlangsung lembut, tanpa meninggalkan pengalaman menyakitkan untuknya.

Saat dia masih “kosong” kerena kenikmatan yang tertahan, kusambit dia dengan setan yang akan segera membuatnya kesurupan.

Dengan kemahiran lidahku dengan tangkas kujilati ketiaknya. Bagian ini merupakan daerah sensitive berikutnya.

” UUuUUUUhhhh AAAahhhhhh Ahhhhhhh”, betul saja Tantri langsung mendangakkan kepalanya ketika ketiaknya kulahap. dalam kondisi ini penisku yang telah ereksi maksimal, mulai kutekan masuk ke celah vaginanya secara perlahan, tanpa melepas jilatanku di ketiaknya.

Tantri yang telah diambang orgasme, tak sanggup lagi merasakan bahwa vaginanya telah kemasukan benda asing. ” Terusss…terussss…terssssuuuuusss ooohhhh” racaunya saat mulai kerasukan setan kenikmatan.

Bertepatan saat Tantri mengalami orgasme. Cairan lendir orgasmenya tertumpah deras. Bertepatan dengan momen itulah penisku mulai kutekan maksimal agar sliding masuk menembus selaput keperawanannya, dengan dibantu oleh cairan lubrikasi alaminya yang telah tumpah ruah.

” AAAAAAAAAAAKKKKKKKHHHHHH”, Tantri menjerit ketika penisku berhasil sliding masuk begitu dalam ke celah vaginanya. Dia tersungkur tak berdaya, bergetar dramatis, akibat sensasi orgasme beruntun yang terus mendera.

Tidak kuhentikan jilatanku di ketiaknya untuk memastikan orgasme itu datang bertubi-tubi, semakin banyak orgasme yang muncrat semakin baik.

Badan Tantri terus bergetar hebat seperti orang kesetrum, bersamaan dengan penisku yang berhasil menembus vaginanya. Sensasi yang kurasakan di penisku ketika memerawani vaginanya begitu hebat. Penisku seperti dijepit kuat dalam sebuah kehangatan yang begitu basah. Rasanya penis ini juga akan segera meledak dalam vaginanya.

Bila tidak pintar-pintar mengatur pernafasan. malam pertama ini bisa berakhir disini.

” Hahhh..hahhhh…haahhhhh”, ketika badai orgasmenya akhirnya reda, kutatap matanya. Dia masih seperti orang kesurupan. Matanya masih begitu hampa.

“Ada dimana dia sekarang?? apakan di kahyangan??”, batinku

” Sakit Mbak??”, biskku

” Sakit kenapa Lex??”, tanyanya bingung.

” kamu ngerasa sakit tidak sayang??”.

” Nggak Lex, malahan Mbak merasa nikmat sekali”.

” Kepearwananmu sudah kurenggut Mbak”, kataku sambil mengambil sedikit cairan darahnya yang telah tertumpah disekeliling vaginanya, ” ini darahmu, symbol mahkota kesucian yang telah kau jaga selama ini. Terima kasih ya Mbak telah menjaga mahkota ini sekian lama dan hanya memberikannya hanya kepada suamimu”.

” Kok Mbak tidak merasa apa-apa Lex??”.

” Aku cinta padamu Mbak, tidak akan kubiarkan malam pertamamu jadi menyakitkan.”

” Makasih banyak ya sayang!”.

” Enak gak Mbak??”, mulai kumaju mundurkan penisku di vaginanya yang masih demikian basah”.

” Ahhhh…ahhhh..pelan-pelannn sayang..ahhhh..ahhh enakkk”.

” Ayo kita lanjut lagi”.

” Ahhhhh.aaahhhhh ahhhhh pelan-pelan sayang ahhhhhhhhhhh….shhiiiiiit”.

Kembali kuhisap payudaranya agar dia kembali mengeluarkan pelumas alaminya dan tidak kesakitan menerima sodokanku.

” UUh..uhhh…uhhhh”, terus kusodok dia sambil menghisap pentil susunya. tanganku berusaha mencari clitorisnya dan mulai kupetik dengan cepat.

” Ahhhhh Lexxx….ahhhh…ahhhhhh”.
Aku terus menyodoknya dengan kecepatan yang berubah-ubah.

” Mbak mau nyammmmpe lagiiii Lexxxxx”.

” Lepaskan Mbak. Kasih Alex orgasmemu Mbak ayooo. Alex juga hampir sampe Mbak ayo kita ke “puncak” bersama”.

Jepitan liang vaginya semakin kencang dan . ” AAAHHHHHH LEXXXXXXXXX”, Tantri orgasme, bersamaan dengan itu akupun meraih ejakulasi terindah seumur hidupku, ” UuuuuuuuuuuuuuHHHH TANTRIIII FUCKKKKKK”.

Bersamaan kami berhasil mencapai ejakulasi hebat dan orgasme super. Kupeluk Tantri begitu erat, saat kami berdua bergetar begitu hebat, saling kehilangan diri kami sendiri dalam sebuah seni persetubuhan yang begitu indah. Seluruh cairan ejakulasiku tertumpah ruah dalam vagina Tantri. Demikian pula air bening cinta Tantri membasahi penisku.

Setelah badai itu reda. Aku tetap memeluknya erat. Sebuah malam pertama yang tak terlupakan.

” Terima kasih banyak ya Mbak, nikmat sekali “.

” Kamu hebat Lex, puluhan kali kamu buat Mbak sempoyongan kayak orang kerasukan setan”.

Kulepas kuncian borgolnya dan kamipun saling memeluk dan berciuman begitu mesra. Tantri dan Aku tidak akan pernah mau terpisahkan.

EPILOG

Mungkin kalian bertanya kapan aku melamar Tantri. Sebenarnya itu terjadi 4 bulan yang lalu. Bukankah Tantri pernah menceritakan pada kalian diawal cerita ini bahwa aku mengirimnya sms agar dia menemuiku di kontrakan. Tantri pikir aku akan memberi kejutan seksual lagi baginya saat itu. Hmmm dia salah besar, pada hari itu aku telah menyiapkan “kejutan besar” untuknya. aku telah mengundang orang tuaku bersama orang tua Tantri.

Begitu dia datang betapa terkejutnya dia saat melihat kedua orang tua kami telah berkumpul. Disaat itulah aku melamarnya dihadapan kedua orang tua kami. Betapa bahagianya wajahnya ketika itu. Tanpa berpikir lama dia langsung menerima pinanganku.

Tak lama setelah itu kamipun menikah. Memang perjalanan cinta kami masih baru saja dimulai. Kata penasihat perkawinan ; sebuah pernikahan itu bagaikan mengemudikan sebuah kapal yang rentan dihantam badai gelombang. Tapi, SAAT KEKUATAN CINTA DAPAT MENGHIDUPKAN KEMBALI TUBUH YANG SUDAH MATI, APALAGI YANG HARUS KAMI TAKUTKAN.

END.