Petualanganku Seorang Diri Part 6

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Part 25
Part 26TamaT

Petualanganku Seorang Diri Part 6

Start Petualanganku Seorang Diri Part 6 | Petualanganku Seorang Diri Part 6 Start

Sebelumnya ya gan…

Aryo segera berbaring di satu bed darurat. Dokter Mila segera menyetel alat dan memasang alat di lengan kanan Aryo menarik darah Aryo dan langsung masuk kantung darah.

Total 3 kantung darah diambil dari tubuh Aryo. Segera kemudian dokter Mila mulai menyuntikkan darah Aryo ke lengan si Wanita. Aryo segera bangkit setelah lukanya dia obati sendiri.

Kantung ke satu mulai masuk.. pelan dan pasti.

Tapi nampak, dokter Mila sudah pucat wajah nya. Tapi Aryo berlaga tidak tahu. Dia hanya menunggu dan memperhatikan. Aryo yakin saat ini tangan dokter Kamila pasti sudah dingin, wajah nya pun sudah banjir keringat.

Kantung ke satu habis. Dokter Mila dengan lambat seakan-akan hati-hati mulai menusuk kantung kedua..

Padahal sesungguh nya, ia sudah hampir tidak kuat dan hendak jatuh.

“Dokter.. minggirlah… biar saya lanjutkan.. dokter istirahat saja…”

Lanjutannya…

Aryo mengambil alih. Walau badan masih sempoyongan akibat darah nya di ambil, ia masih mengerjakan menyuntik kan darah di kantung itu ke lengan sang wanita.

Segera tak lama kantung ke dua dan tiga juga kosong sudah. Lalu Aryo mencabut alat itu dan menepikannya. Dokter Kamila merapikan alat itu.

“Dok.. tolong di steril dulu yah jarum nya..”

“Iya mas..”

Pasien wanita itu masih belum sadar tapi sudah mulai tampak rona kemerahan dikulit dan wajah nya.

Aryo memeriksa infus nya agar cairan itu segera juga masuk ke tubuh sang wanita.

Setelah semua beres, Aryo meletakkan pinggul nya pada sebuah kursi tunggal tempat biasa penjaga pasien duduk. Nampak raut lelah dan lemas di wajah nya.

“Mas.. kamu gak apa-apa..?”

tanya dokter Kamila

“Saya gak apa-apa. Paling sebentar lagi juga normal.. ini sudah tertangani. Bu dokter kalau mau menemui wartawan silahkan saja bu.. biar saya disini sebentar..”

“Mas… ini minum dulu..”

Pe’i menyodorkan segelas air putih.

“Eh… makasih ya dik. Dapat dari mana?”

“Tadi di kasih teteh petugas nya. Suruh buat mas Aryo minum. Keliatan lelah sekali..”

“Makasih dik… aku minum yah..”

Lalu Aryo minum dengan segera.

“Dok.. aku gak bisa omong apa lagi ini. Mas dokter udah menyelamatkan saya lagi.. saya.. ah.. merasa tak ada artinya ternyata dengan pengorbananmu, dokter Aryadi Satria Putro, S.Pd.”

“Kamu…?”

“Iya.. aku cari tau tentang dirimu. Di medsos pun kamu masih ada. Ternyata.. kamu tak seperti ini. Kamu dokter yang mempunyai karir bagus, kamu mempunyai klinik sendiri, juga ada perusahaan sendiri. Kamu menyembunyikan semua nya. Entah apa maksud nya. Tapi aku sudah tau kamu mas.. aku juga sudah tanya kakak seniorku di UGM, dia kenal kamu dan datang saat pernikahanmu belum lama ini di cilacap. Kamu alumni UN**** di purwokerto. Saat aku bilang aku menemui kamu, dia seakan tak percaya. Ya sudah kalau tak percaya aku bilang..”

“Hoohh.. kenapa jadi begini… baiklah, aku cerita sedikit.. aku disini dan bisa ada saat ini adalah akibat pertolongan adikku ini.. Pe’i. Kalau bukan karena dia, aku mungkin sudah tak ada.. hanya tinggal nama..”

“Adik..?”

“Ya adik ku.. calon ipar ku.. dia yang menolong aku.. saat aku harus berjuang dari maut akibat.. akibat.. aku.. hendak di lenyapkan dari dunia ini..”

“Siapa yang melakukan itu mas..?”

“Istriku dan kekasih nya..”

“Aku menangkap basah dirinya sedang berselingkuh dengan kekasih nya dan teman-teman nya, aku gak tau. Tapi aku dipukul pingsan dan dibius. Entah berapa lama. Sampai aku tersadar telah di rumah adikkku ini. Di desa nelayan sana.”

“Kang Pe’i nemuin mas Aryo dimana?”

tanya Kamila ke Pe’i

“Tersangkut di dermaga pelabuhan..”

“Aiihh.. masya Allah. Kejam sekali istri itu. Sungguh tak punya hati.. perempuan iblis..”

“Saya di rawat di rumah adik ini bersama dengan teteh nya sudah masuk hari ke tiga.. hari ini pertama kali saya keluar rumah dan kaki ini membawa saya ke puskesmas ini..”

“Oh.. begitu.. mas harus kembali mas.. kapan mas akan kembali ke jawa..?”

Aryo menggeleng

“Aku tidak akan kembali.. tidak akan. Aku mohon dokter mengerti dan dokter menjaga privasi saya ini. Mau kan dok..?”

“Baik lah.. walau Mila masih belum bisa paham pikiran mas Aryo. Mila hormati.. mas nya disini aja kalau gitu.. nanti Mila bilang ayah ajah biar mas nya bisa kerja disini kalau memang mau..”

“Eh.. Makasih banyak ya dok..”

Aryo tersenyum lebar. Dia melihat ke Pe’i, juga tersenyum. Tanda kabahagiaan di wajah kedua nya.

“Mas nya dan adik bisa istirahat di ruangan Mila.. Mila gak apa-apa yah nemui wartawan dulu..?”

“Ya dok silahkan. Tapi aku mohon pesan ku tadi ke dokter yah.. ?”

“Mengenai jati diri mas Aryo..?”

Aryo mengangguk..

“Baik.. percaya deh…. ayo istirahat di dalam aja mas, dik..”

“Makasih dok..”

“Makasih bu dokter..”

Lalu mereka berpisah.

Tak ada yang menyadari ada seseorang yang berlinang air mata setelah mendengar obrolan tiga orang itu.

Tak terasa hari mulai gelap.

Tapi Aryo dan Pe’i masih di puskesmas itu. Kadang mereka memeriksa pasien, petugas pun sudah di instruksikan dokter Mila agar bergilir menjaga pasien. Ini pun permintaan Aryo, tidak mungkin meninggalkan pasien dalam keadaan darurat seperti ini. Mau dipindah pun ke RS lain sudah tanggung.

Yang jadi masalah adalah keterbatasan obat yang tersedia saat ini di sana. Mila meminta pendapat Aryo. Aryo segera memberikan daftar obat darurat yang di perlukan dalam keadaan darurat. Mila segera menelpon seseorang.

Tak lama Pe’i sedikit kelihatan gelisah. Hal ini ditangkap oleh Aryo.

“Dik.. kamu kelihatan gelisah..”

“Eh.. ini.. eh.. iya mas.. boleh gak kalo aku pulang dulu. Sebab aku harus melaut..”

“Ya Allah.. aku lupa.. tapi ini sudah gelap.. adik pasti terlambat..”

“Hampir sih mas.. jam 7 an biasanya berangkat..”

“Aah.. tapi aku masih belum bisa tinggal kan mereka dik..”

“Nggak.. nggak.. mas disini ajah bantu mereka. Kalau boleh biar aku aja pulang sendiri. Tapi mas nya..?”

“Aku baru bisa tinggalkan mereka setelah obat yang di pesan dokter Mila ada dan di berikan pada mereka dik. Kalau belum aku khawatir. Apalagi ini malam hari..”

“Ah.. gak apa-apa mas nya..?”

“Gak apa-apa dik. Aku bisa pulang kok. Tolong bilang Mira yah aku masih disini..”

“Ya mas.. pasti.. tapi kalo teteh tanya mas nya ngapain gimana?”

“Yah ceritakan saja apa ada nya. Aku memang begini.”

“Nggak mas.. soal siapa sebenarnya mas ini, mas aja yang langsung bicara sama teteh. Itu lebih pas. Pe’i gak berhak bicara. Pasti teteh lebih suka mas langsung yang omong..”

“Makasih ya dik.. kamu sungguh bijak..”

“Ya udah ya mas.. aku pergi dulu. Aku titip teteh ku sama mas nya malam ini yah..”

kata Pe’i dengan senyum

“Baik dik.. baik..”

Pe’i dan Aryo menuju lobby. Disana mereka menemukan dokter Mila sedang terkantuk-kantuk. Dia belum pernah sekalipun bertugas sampai lama begini. Biasa jam 11 tiba, jam 2 atau jam 3 ia sudah menghilang lagi. Tapi hari ini entah kenapa ia sungkan meninggalkan puskesmas ini. Apalagi ada seorang dokter yang jelas di atas dirinya dari segi ilmu dan pengalamannya ada juga di sana.

Saat ini dia juga lagi menunggu seseorang yang ia telepon tadi dimana ia meminta di sediakan obat dan alat perawatan darurat.

“Dokter.. Pe’i pamit duluan. Harus pulang sebab mau melaut dok. Tapi.. ini mas Aryo masih di sini kok katanya masih nunggu obat para pasien itu..”

“Oo iya.. eh.. ya gak apa-apa dik. Aku berterimakasih atas bantuan dik Pe’i yah.. tapi besok datang lagi yah. Temenin aku juga. Kadang dan sering aku sepi sendiri di sini..”

“Iya bu dokter.. besok habis melaut aku kesini..”

“Eh jangan. Istirahat dulu, nanti sakit. Kondisi tubuh akan drop kalau kita kurang tidur. Oksigen akan berkurang di dalam darah, nanti kalau sakit jadi ikut jadi pasien deh…”

“Hehehe.. iya dokter.. makasih. “

“Ah ini mah hanya saran umum. Yang lebih rinci akibat yang di timbulkan kurang tidur itu, tanya ama sebelah kamu tuh.. dia jauh lebih paham dari aku…”

“Hah.. ibu dokter ini.. saya mah apa atuh..??”

“Anda itu dokter spesialis penyakit dalam. Jauh lebih paham dari saya, pak dokter Aryo….”

Mila menjelaskan sambil tertawa..

Aryo tersenyum dan menggelengkan kepala.

Ketiga nya tertawa. Sedikit mengobati rasa sepi akibat telah malam hari. Malam ini yang bertugas jaga ada kang Surpan. Amih dan pak Amin bisa pulang. Tapi mereka tak nampak disana. Kata Mila, Surpan pulang sebentar hendak mandi dan membawa perlengkapan begadang nya. Nanti dia kembali lagi..

Pe’i pulang meninggalkan rumah sakit itu.

“Mas.. mau kan mas nya bantu aku disini..? Plisss… aku hari ini seakan mendapat kuliah praktek langsung dari kamu mas. Malah tadi aku merasa sangat senang bisa bantu kamu saat kamu menangani pasien. Aku selama ini merasa telah hebat, ternyata belum ada apa-apa nya. Aku yang biasa di layani, tadi menjadi melayani kamu. Tapi aku senang. Aku juga heran. Sungguh..”

Kamila menyatakan isi hati nya.

“Aku belum tau dokter.. aku hanya merasa wajib membantu mereka..”

“Bisa gak sih panggil aku Mila aja tanpa embel-embel gelar. Aku malu tau mas ama kamu..”

Mila memasang wajah cemberut

“Tapi kan memang Mila dokter nya. Aku kan bukan..”

“Iya.. tapi kamu itu guru nya dokter. Udah jangan bantah…”

“Iya lah.. terserah dok.. eh Mila aja. Tapi kalo gak ada orang kaya gini aja yah.. kalau lagi dinas… tetap panggil dengan gelar lah. Itu tanda ke profesionalan dan ambil nya gak mudah. Kita dokter ini memang khusus, sebab tanggung jawab kita pada hidup orang lho..”

“Betul mas.. haahhh… tanggung jawab kita memang menyangkut nyawa. Mila lagi-lagi di sadarkan kamu mas. Makasih yah.. aku.. aku.. makin kagum sama kamu…”

“Sudah lah.. yang penting Mila sudah kembali tau tugas dan tanggung jawab seorang dokter. Besar dan berat sekali. Sekali kita menangani pasien, kita akan pusing tujuh keliling menganalisa langkah pengobatan yang harus diambil.”

“Buka referensi, tanya sana sini, dan memikirkan segala hal yang mungkin bisa terjadi pada pasien. Kita berhasil dan pasien sembuh, kepuasan yang tak terhingga kita dapat kan. Pujian..? Bisa iya bisa tidak.. tapi jika gagal apalagi salah tindakan.. wah.. reputasi dan nama hancur bahkan bisa di pidana. Ya itu lah resiko nya. Kita tidak ada kata berhenti belajar kan..? Terus ikut seminar, workshop, training sampai kembali ke bangku kuliah pun harus kita kerjakan..”

Mila memperhatikan Aryo bicara pada nya dari bangku panjang ruang tunggu itu. Aryo berdiri di depannya sambil bicara.

Nampak Mila terdiam dan tak komentar apapun sampai Aryo selesai.

“Kamu hebat mas.. Mila… ah.. gak tau lah..”

Mila memalingkan mukanya. Nampak rona merah di wajah nya.

Tiba-tiba sebuah mobil masuk halaman puskesmas. Terlihat dari sinar lampu nya yang sampai masuk ke dalam puskesmas.

Aryo dan Mila memalingkan wajahnya melihat ke arah luar. Seketika wajah Mila berubah senang.

Sebuah Jeep Robicon hitam masuk halaman. Dan langsung berhenti di depan pintu masuk. Tampak seorang lelaki muda keluar dari pintu tengah kiri. Langsung menuju pintu belakang. Disusul seorang lelaki setengah baya berkaos kerah biru turun dari pintu kiri depan dan juga supir mobil itu seorang lelaki berkemeja garis merah yang umur nya tak jauh dari lelaki yang dari pintu kiri tadi.

Melihat siapa yang datang, Mila tersenyum tapi kemudian cemberut.

Lelaki berkaos biru dan jeans biru segera masuk ke puskesmas. Mila membukakan pintu

“Assalamualaikum.. “

“Wa’alaikumsalam.. ayah…”

Mila salim ke lelaki itu. Aryo juga segera menyalami si lelaki dengan menundukkan kepala nya.

“Mikum…”

salam dari lelaki ke dua

“Wa’alaikumsalam wr.wb…”

yang menjawab Aryo.

Si lelaki ke dua menatap Aryo dari atas sampai bawah. Yang dilihat oleh nya seorang lelaki muda, kulit gosong, dengan pakai kaos oblong abu-abu, celana jeans kucel dan sendal jepit. Senyum sinis muncul di bibir nya.

Mira hanya diam. Dan tak ambil pusing pada lelaki ke dua, yang berkemeja garis merah itu.

“Kamu baik aja kan neng..?”

“Mila baik, alhamdulillah ayah… kok ayah ikut kesini. Mila hanya minta tolong Arifin buat beli barang buat pasien sini kok yah. Eh.. ayah sampai datang sih..?”

“Ayah kebetulan tau waktu si Neng telpon Arifin. Dia lagi ama Ayah.. ayah tanya, dia cerita kata nya Neng masih tugas di sini. Ayah aja hampir gak percaya kalo gak liat sendiri. Kamu kan mana pernah mau sampe malam gini. Jam 4 juga udah kabur..”

“Iya ayah.. kan ada korban disini. Ada 6 orang luka parah. Obat udah habis malah udah malam. Paling besok Mila minta antar lagi dari pandeglang. Mila harus tanggung jawab kan yah.. Mila dokter disini. Mila gak bisa ninggalin mereka. Kasihan mereka Ayah…”

“Hmmmh.. ada apa ini putri ayah. Tapi ayah senang dan bangga. Ini yang ayah tunggu-tunggu. Putri ayah yang punya sedikit rasa tanggung jawab pada tugasnya..”

“Iya ini tugas dan pengabdian Mila yah. Mila sudah terlalu lama lalai akan itu. Saat Mila melihat langsung derita korban dan… kerelaan juga kebesaran hati dari seseorang, Mila malu yah.. ahh.. udah ah.. mana obat nya.. kasihan itu pasien nya udah kesakitan.”

“Itu Arifin udah taruh di meja lobby.. coba liat bener gak? Cukup atau gimana?”

“Dik.. kamu udah makan..?”

Tanya lelaki berkemeja garis merah.. sambil mencoba mendatangi Mila yang sedang bangkit menuju meja. Mila mengelak sedikit.

“Udah.. udah kenyang…”

jawab Mila dengan senyum kecil.

Padahal, sejak siang belum sekalipun Mila atau Aryo makan.

Aryo yang memperhatikan gerak gerik Mila, sedikit banyak bisa membaca situasi yang dialami Mila.

Mila memeriksa barang yang dibawa Mila. Aryo yang sejak tadi diam saja karena tidak di sapa dan dianggap kehadirannya.

“Mas.. coba liat mas.. ini udah semua belum..?”

tanya Mila

Ia tidak mau terjebak situasi dengan di ketahui keberadaan nya. Aryo paham yang dia hadapi saat ini orang berkuasa. Bupati pandeglang.

“Waduh bu dokter… saya gak paham bu. Bu dokter lah yang tau…”

elak Aryo.

Kedua lelaki, ayah Mila dan seorang lagi berpaling ke Aryo.

“Oh.. ya udah bener juga.. makasih yah kang Arifin..”

kata Mila sama lelaki yang dipanggil Arifin yang tadi membawa masuk bungkusan obat itu yang saat itu sedang berdiri di pintu luar, tidak berani masuk ikuti pembicaraan tersebut.

Mila juga langsung paham.. kalo Aryo tidak ingin di kenali oleh ayah dan lelaki pilihan ayah nya itu.

“Eh.. ii.. ya.. sama-sama bu..”

jawab Arifin terbata-bata.

Tampak wajah Arifin terkejut dan tercengang. Ia tak menyangka akan dapat ucapan terima kasih dari majikan nya itu.

“Mas.. ini bawa masuk ke dalam ya mas..”

“Baik bu.. permisi bapak..”

Aryo lewat sambil menunduk di depan kedua lelaki itu. Nampak ayah Mila memperhatikan Aryo, sedang lelaki satunya terus memandangi Mila.

“Ayah.. Mila ke dalam UGD dulu urus korban ya yah.. nanti Mila ke sini lagi. Atau ayah masih mau nunggu Mila sampai selesai ngobatin pasien? Habis kasih obat Mila pulang kok.”

“Nggak Neng, biar ayah disini mau liat-liat puskesmas ini…”

“Sebentar ya yah..”

Mila masuk ruang UGD menyusul Aryo. Pintu ruangan itu otomatis tertutup kembali.

Tiba-tiba hp si lelaki satu nya berbunyi..

“Pak.. sebentar saya terima telepon dulu ya pak..”

kata si lelaki berkemeja meminta izin pada ayah Mila.

Ayah Mila hanya mengangguk. Si lelaki keluar lobby itu dan menghilang di halaman.

Sang Bupati, ayah Mila, Muhammad Sutardi Giman, melihat-lihat pelataran dan ruang tunggu. Nampak deretan bangku besi berjejer, poster-poster tentang kesehatan. Ada photo presiden dan wakil presiden. Juga di bawah nya photo dirinya dan wakil nya juga di pasang di sana.

Dia berputar-putar sepanjang lorong itu dan akhir nya mata nya kembali tertuju pada pintu ruang UGD. Dengan pelan sang bupati mendekati pintu dan tangan nya mendorong pelan pintu itu. Melihat ke dalam tanpa bersuara.

Terlihat oleh nya deretan tempat tidur yang di tiduri pasien yang luka-luka. Matanya menangkap dua sosok tubuh yang sedang membelakangi nya. Seorang lelaki muda dengan memakai jas putih, bermasker bersarung tangan karet, sedang membalut kaki pasien. Mila membantu memegangi kaki itu agar tidak bergerak. Dengan cepat kaki itu telah terbungkus. Lalu dia lihat kemudian si lelaki memberi suntikan ke pasien sedikit di atas balutan itu dengan alat suntik yang di berikan Mila pada nya. Setelah selesai, suntikan itu di masukkan dalam wadah mangkuk alumunium yang di sodorkan Mila. Mila langsung membersihkan alat itu dan mensterilkan. Sedang si lelaki memeriksa infus si pasien sambil berbicara ke pasien itu.

Ayah Mila terpaku. Sekitar 2 – 3 menit ia memperhatikan semua.

Lalu dengan pelan tanpa suara, si bapak mundur dan menutup lagi pintu UGD itu. Ia memutar tubuh nya dan melangkah pelan menuju pintu lobby. Tapi matanya memandang ke atas. Ke langit-langit lobby itu. Jelas mata itu bukan hendak mencari sesuatu di plafon, tapi si empunya mata sedang berpikir.

Cukup lama sang ayah hanya menatap langit-langit lobby dalam posisi tetap berdiri di depan pintu lobby. Ke dua tangan di masukkan dalam saku celana nya kiri dan kanan.

Sesaat mata nya merendah kan pandangan dan menatap keluar. Kaki nya melangkah pelan dan melewati pintu lobby. Telinga nya menangkap pembicaraan sayup-sayup. Si bapak melihat ke asal suara. Terlihat si lelaki berkemeja masih bertelepon dibalik mobil Rubicon nya dan membelakangi si bapak itu.

Sesaat kemudian.. si bapak kembali memutar tubuh nya dan masuk ke lobby dan lalu duduk di salah satu kursi ruang tunggu. Nampak wajah tetap dengan mimik rata dan berwibawa.

Sudah setengah jam lebih ia menunggu sejak Mila masuk ruang UGD. Lalu pintu ruang UGD terbuka. Muncul wajah cantik sang putri dengan senyum lebar tapi tetap tak bisa menyembunyikan raut kelelahan di sana.

“Ayah.. maaf yah nunggu lama yah. Mila baru selesai. Baru Mila bisa tenang. Eh.. kang Surpan kemana yah..?”

Mila melangkah ke luar lobby, bersamaan Aryo keluar dari UGD. Menunduk hormat pada sang bupati.

Mila celingukan di teras lobby.

“Cari siapa dik.. akang ada kok di sini..”

celetuk sang lelaki berkemeja

“Cari kang Surpan..”

jawab Mila ketus

“Iyyaa bu dokter.. saya bu..”

Nampak sesosok lelaki kurus usia pertengahan 30 an muncul dari sisi puskesmas yang gelap dan berlari mendatangi Mila.

“Oh.. kirain belum datang..”

“Udah kok bu, tapi saya di luar. Eh.. di dalam ada pak bupati jadi saya di situ dari tadi..”

sambil menunjuk suatu arah yang terlihat hanya gelap..

“Sini kang.. aku mau omong..”

Lalu nampak Mila memberi arahan ke Surpan. Semenit kemudian, keduanya masuk ke lobby. Surpan langsung ke dalam dengan menunduk saat melewati sang bupati, Mila duduk di sisi ayah nya. Aryo nampak bergerak menjauh agak ke belakang.

“Ayah tadi bicara sama mas itu..?”

selidik Mila dan matanya melihat ke Aryo

“Ah.. cuma tanya-tanya aja sedikit..”

“Itu mas Aryo. Eee… ee… yang juga bantu-bantu Mila disini..”

kata Mila sedikit ragu

“Ooh.. iya ya.. Neng betah dinas disini..?

“Kok nanya gitu yah.. bukan nya Mila udah pernah bilang ayah kali sering.. “

“Yah.. ayah hanya mastiin aja kok..”

tampak raut ragu di wajah Mila.

“Ayo nak, sudah? kita bisa pulang..?”

“Mila bawa mobil kan yah.. Ayah kan tadi ama Arman…”

“Hemmm gini ajah.. ayah gak mau kamu setir sendiri hampir tengah malam gini..

Arman.. (panggil ayah Mila ke lelaki berkemeja garis merah)…”

“Iya pak.. saya..”

si lelaki berkemeja yang bernama Arman segera mendekat ke sang Bupati dan Mila

“Man.. kamu pulang sama Arifin. Biar Arifin yang setir kamu duduk aja istirahat. Saya biar temenin Neng, saya gak sampai hati lepas dia jalan sendiri tengah malam gini…”

“Gimana kalau Boy aja ama Mila pak.. biar kami lebih deket lagi.. “

balas Arman yang sering menyebut dirinya sendiri dengan “Boy”

“Tapi yah…”

Mila memotong..

“Nggak Man.. kita konvoi aja kalau gitu. Tapi saya ama Mila, kamu ama Arifin..”

“Baik lah pak..”

jawab Arman dengan mimik kurang puas.

Mila yang sekarang nampak lega.

“Bentar yah..”

Mila kembali masuk puskesmas dan mencari seseorang di sana, Aryo..

“Dok.. eh.. mas.. aku pulang duluan yah.. mas nya gak apa-apa kan bisa pulang sendiri atau.. ah.. aku mau antar tapi..”

“Udah dok.. aku bisa pulang sendiri. Bu dokter gak usah khawatir disini, besok pagi aku akan kesini lagi. Kasian pasien nya..”

“Ii.. ya mas.. malam mas.. assalamulaikum..”

“Wa’alaikumsalam..”

Mila putar tubuh dan melangkah keluar, tapi sesaat tertahan.. tanpa berpaling dia keluar dengan pelan..

Tak lama dua buah mobil sudah meluncur keluar halaman puskesmas.

Honda CRV putih di depan dan Jeep Rubicon hitam mengekor tepat di belakang nya.

Sementara itu, Aryo juga bersiap untuk meninggalkan puskesmas..

Surpan muncul dari dalam dan menemui nya.

“Dok.. udah mau pulang yah..?”

“Panggil nama aja kang.. cuma kita berdua ini.. iya kang mau pulang.. capek juga.. hehehe…”

“Mas.. iii.. ni.. tadi bu dokter nitip buat mas nya. Katanya tolong diterima.. buat.. eh.. apa yah tadi kok lupa.. oh iya.. buat keperluan mas nya. Bu dokter bilang tadi titip buat bantu kang Pe’i juga gitu..”

kata Surpan sambil menyodorkan sebuah amplop.

Aryo menerima dan membuka. Tampak beberapa lembar uang ratusa ribu di dalam nya.

Aryo menutup amplop itu dan menyerahkan kembali ke Surpan.

“Jangan kang, saya gak bisa terima. Saya bantu ikhlas gak ada imbalan apa pun..”

“Tapi mas.. nanti saya yang dimarahin bu dokter..”

“Nggak lah.. percaya ama saya kang.. Aryo bilang aja gak mau gitu yah..”

“Hah.. hebat nemen kamu mas. Kamu itu butuh tapi tetap gak mau.. kenapa sih mas dokter?”

“Nggak.. aku hanya apa lah.. aku juga gak mau hutang budi sama bu dokter. “

“Tapi memang kamu punya uang maksud saya… maaf, saya hanya menebak saja..”

“Memang gak punya kang, biar seperak juga.. “

“Hah.. ?? ya udah ini dari saya pribadi.. jangan tolak.. ambil mas.. aku suka dengan sikap kamu mas.. gak tau kenapa, sejak kamu datang tadi siang, suasana puskesmas ini jadi beda banget. Kamu yang bawa perbedaan nya..”

jawab Surpan sambil menyodorkan selembar uang 20rb.

“Eh.. ini..??”

“Udah.. dari saya.. ambil..”

“Makasih ya kang…nanti secepat nya saya ganti..”

“Gak usah di pikirin mas.. aku rela kok.. mas nya bisa bikin hati kita semua juga bu dokter jadi senang terus hari ini. Kalau sebelum-sebelumnya.. wah.. kalau banyak pasien gini udah banyak ngomel nya. Tapi saya sih berharap, kalo mas nya memang mau tinggal di labuan sini, mas nye terima aja tawaran bu dokter buat bantuin di sini ya mas..”

“Insya Allah kang..”

“Mas udah makan belum?”

“Belum sih kang..”

“Ya Allah kasian. Eh.. ini sebentar..”

“Udah kang gak usah.. saya mau pamit aja kang, mau pulang kasian yang di rumah pasti tungguin saya. Ini udah cukup buat saya isi perut kang..”

“Aduh.. mas ini sampe segitu nya bantu para pasien. Mas harus jaga kesehatan juga kan…”

“Ya kang.. makasih. Sama bu Dokter juga belum makan dia tadi seingat saya mah..”

“Wah… saya gak kepikiran. Iiihh.. bu dokter juga sampe rela laper sih buat urus pasien.. hebat.. “

“Ya deh kang.. saya titip para pasien dulunya kang. Besok pagi saya balik lagi ya kang..’

“Ya mas.. hati-hati ya mas. Aku gak bisa anter. Paling sampe depan ajah..”

Lalu Aryo pergi meninggalkan puskesmas itu dan berjalan di kegelapan malam.

Sementara itu di sebuah CRV putih yang membelah aspal… seorang wanita yang duduk di belakang setir dan seorang lelaki setengah baya di samping nya.

“Neng.. kamu tinggal 3 bulan lagi yah tugas di puskesmas labuan.. nanti habis ikatan dinas, Neng udah bisa langsung pimpin rumah sakit sendiri.. bulan depan insya Allah udah rapih semua udah rumah sakit nya. Kalau Neng mau, ya di percepat aja jadi sebulan lagi yah. Tapi ada syarat nya.. masih ingat kan?”

Dokter Kamila diam sejenak, dan menarik nafas panjang.

“Iya ayah.. Mila paham.. Mila harus jadi istri Arman dulu..”

“Nah.. pinter.. si Neng kan emang udah sering bilang ke ayah kalau gak betah di sana kan..?”

“Iya ayah.. “

“Rencana Neng kalau udah punya rumah sakit sendiri..?”

“Belum tau ayah.. Neng masih belum tau lagi..”

“Hmmmh.. ayah kok liat si Neng jadi gak sesemangat kemarin..?”

“Nggak kok yah.. nggak.. Mila tetap semangat.. ah ayah bisa aja. Mila lagi setir kali jadi agak keliatan diem…”

“Atau.. si Neng juga mau ajak seseorang ikut ke rumah sakit nya Neng..?”

“Mmmak.. sud.. ayah..?”

“Apa Neng mau ajak mas yang tadi juga, yang kata nya Neng yang bantuin Neng di puskesmas..?”

“Emang boleh yah..?”

Si Ayah, melihat ke raut wajah Kamila yang sedang menyetir. Tampak perubahan yang sangat terlihat saat sang Ayah mencoba membuka omongan kesempatan untuk mengajak Aryo juga masuk ke rumah sakit milik sang Ayah.

“Boleh aja kalau dia itu dokter..”

“Mila gak tau yah.. hanya memang mas Aryo itu… dia.. eehh.. bisa juga bantu Mila tadi..”

“Dia yang bantu kamu..? atau.. sebaliknya..?”

“Aaa.. itu.. nggak kok yah.. Mila yang di bantu kok.. kan Mila yang dokter nya.. “

tampak wajah grogi di wajah Mila.. dan itu di perhatikan oleh si Ayah.

“Ya sudah, besok ayah mau ketemu dia di rumah yah..”

“Aduh ayah… kok.. dadakan.. itu.. itu…”

“Itu apa..? memang gak boleh yah ayah ketemu..?”

“Boleh yahh… boleh kok… cuma.. jangan besok.. kan.. kan.. besok musti rawat dulu pasien nya…”

“Hmmmh.. ya sudah lusa aja. Soalnya ayah harus ada kunker ke makassar setelah lusa. Ayah mau tau, siapa sih lelaki yang bikin putri ayah kok bisa grogi gini..?”

“Grogi… ah.. nggak kok.. ayah ada-ada aja.. mas Aryo cuma orang biasa kok..”

“Yah justru itu.. sampe Arman saja gak di perhatiin. Sampe di berikan pesan khusus segala melalui anak buah kamu. Sampe pulang pun tadi di perhatiin.. “

Mila terdiam.. matanya membulat sesaat lalu mata itu tertutup sejenak.

Mila sadar, tingkah laku nya telah di perhatikan oleh sang Ayah. Mila juga bingung, bagaimana mungkin dia bisa peduli pada seseorang yang baru ketemu dalam setengah hari..?

Mila tau, ini bisa menjadi sesuatu yang berbahaya buat dirinya, juga buat Aryo. Mila tau siapa ayahnya dan apa yang bisa beliau lakukan pada orang lain sesuai kuasa yang beliau punya.

Bersambung

END – Petualanganku Seorang Diri Part 6 | Petualanganku Seorang Diri Part 6 – END

(Petualanganku Seorang Diri Part 5)Sebelumnya | Selanjutnya(Petualanganku Seorang Diri Part 7)