Petualanganku Seorang Diri Part 5

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Part 25
Part 26TamaT

Petualanganku Seorang Diri Part 5

Start Petualanganku Seorang Diri Part 5 | Petualanganku Seorang Diri Part 5 Start

Sebelumnya…

Aryo segera mengambil alih. Dia minta tolong ke petugas untuk diambilkan alat operasi kecil dan alat jahit luka. Si petugas tua langsung pergi masuk ke dalam. Dan tak lama kembali dengan alat dan perlengkapan yang di minta Aryo.

Aryo mengucapkan terima kasih dan langsung bekerja dengan alat-alat kedokteran itu. Petugas tua, yang muda dan petugas wanita itu memperhatikan Aryo. Seperti mereka di ajari oleh ahli nya dalam menggunakan alat-alat kedokteran itu. Ilmu ini yang sangat langka dan berharga buat mereka.

Aryo segera mengoperasi luka setelah lebih dulu di bius lokal, sampai pada dia menjahit luka itu agar tertutup.

“Ini kalau bius nya habis kasih obat peredam nyeri seperti yang tadii.. dan kasih infus juga yah”

“Ii.. ya dok.. eh tapi dok.. saya gak bisa pasang infus..”

“Ya sudah siapkan saja, nanti saya pasang..”

Aryo beralih ke pasien berikutnya. Terus lagi dan akhirnya semua selesai dia tangani pertolongan awal nya. Sehingga sejauh ini, yang luka 6 orang ini, semua selamat.

Setelah selesai menolong, Aryo keluar ruang IGD dan menjauh menyendiri. Dia duduk di bangku teras samping rumah sakit.

Pikiran nya melayang pada seseorang yang kebetulan tadi ada di hadapan nya. Dan dengan sangat terpaksa akhirnya dia tolong juga.

Jika ikut kata hatinya, amarah nya, kebenciannya, dia sudah akan menghabisi orang itu. Tapi dia tetap di batasi oleh sumpah jabatan nya, oleh kode etik nya. Maka ia pun menolong secara prosedur dan profesional.

Aryo menunduk sambil menutup muka dengan kedua tapak tangan nya. Berusaha dengan sangat menenangkan dirinya.

Beberapa lama berlalu.. hari telah beranjak siang.

Dan sebuah tangan terasa menepuk bahu nya..

~~~○●○~~~

Lanjutannya…

Aryo mengangkat wajah nya..

Seorang petugas puskesmas menepuk Aryo.

“Mas.. di panggil sama ibu dokter.”

“Oh.. sudah datang yah.. saya gak lihat pak..”

“Ya baru saja. Itu mobilnya di depan. Si mas nya seperti kelelahan, jadi gak tau mobil bu dokter sudah datang..”

“Ah.. saya eh.. gak berani ketemu pak. Saya malu.. saya ini cuma orang biasa yang kebetulan saja ngerti..”

“Pak… jangan merendah pak..”

Seorang wanita muda berhijab muncul dari belakang ke dua lelaki ini. Memakai baju dress putih lengan panjang, dan celana bahan juga biru muda dan bersepatu kulit mahal. Bajunya yang cukup ketat, mencetak lekuk tubuh nya yang sangat proporsional. Kulit putih bersih, dan memakai kacamata bening. Umur sekitar pertengahan 20 an.

Aryo terkejut dan cepat berdiri menghadap si dokter muda.

“Anda yang menolong semua korban kan? pak Amin kang Surpan juga si Amih bilang, anda yang menangani korban.. betul yah..?”

“Betul dok. Hanya kebetulan saya ada di saat dan waktu yang tepat saja..”

“Saya Kamila, panggil aja Mila.. saya mengucapkan terima kasih atas tindakan dokter yang menyelamatkan saya. Maafkan saya yang alpha dalam tugas.. jika berkenan, boleh saya tau saya berbicara dengan dokter siapa?”

“Saya Aryo.. saya hanya tamu di kampung nelayan sini bu dokter. Saya juga.. gak sengaja ada di sini..”

“Ah.. dokter Aryo.. “

“Tidak.. tidak.. bukan dokter..”

“Dok.. anda tidak bisa lagi berbohong. Semua yang dokter lakukan, itu hanya bisa dilakukan seorang dokter berpengalaman. Saya jujur, saya pun tidak bisa bertindak seperti yang dokter perbuat itu.. walau dokter menyangkal, saya tetap yakin se yakin yakinnya, mas Aryo itu dokter dan berpengalaman di atas saya..”

“Iya saya juga yakin bu dokter, mas nya saya lihat sendiri, sangat cepat dan yakin menyelamatkan pasien. Makanya kami bertiga tadi hanya di belakang memperhatikan dan bersiap jika di perlukan..”

Surpan juga ikut menjelaskan

“Sebagai ucapan terima kasih Mila, kalau gak keberatan, Mila mau ajak mas Aryo sekadar minum kopi dan bincang di ruangan Mila. Di desa gini gak ada cafe.. hihihi.. kalau di kota serang atau kota cilegon ada, tempat biasa Mila nongkrong hilangin penat dan jenuh..”

Dokter Kamila mulai merubah sebutan pada dirinya, dari “saya” menjadi “Mila”

“Eeh.. gimana yah, tapi saya harus segera pulang, saya khawatir di cari-cari nanti.”

“Plisss.. sebentar saja. Mila harap jangan ada kata penolakan.. yah…”

Dokter Kamila segera duduk di samping kanan Aryo, dan memegang lengan kanan nya.

Seketika Aryo sedikit jengah, tapi ia tetap mencoba menghargai ajakan dokter cantik ini, yah.. sesama kolega nya..

Aryo menjaga juga perasaan kang Surpan yang masih ada di sana. Tampak memang wajah nya tersenyum.

Aryo merasa gak ada jalan lain. Akhirnya ia mengangguk kecil.

“Makasih ya mas Dokter..”

Segera tak lama Aryo dan Kamila telah memasuki ruangan kerja dokter, yang juga ada di sisi dalam ruang IGD

“Eee.. bu dokter, apa dokter gak praktek..?”

tanya Aryo mencoba mengalihkan situasi

“Belom ada pasien kan, seperti yang dokter lihat. Disini memang belom terlalu banyak orang mau ke puskesmas. Kata mereka takut ketemu dokter, serem.. hihihi… ada-ada aja padahal Mila gak galak ama orang-orang kok. Mungkin pandangan mereka saja seperti nya.. tapi Mila gak ambil pusing. Mau berobat Mila layanin, nggak ya udah Mila tinggal pulang.

“Yang penting Mila mengabdi, sebagai syarat sebagai dokter. Mila udah ajuin dan bilang Ayah Mila, biar Mila di pindah ke kota. Mila udah lama disini, walau kurang-kurang dikit dari syarat nya sih, gampang lah. Ayah pasti bisa atur itu.”

“Oh.. tapi kalau gitu dokter terpaksa dong tugas disini..?”

“Iya lah.. Mila udah mau di buatkan Rumah Sakit ama Ayah selepas ikatan dinas ini. Mila dah gak sabar nih. Pengen pimpin rumah sakit sendiri.. mas Aryo mau yah joint di rumah sakit Mila. Pasti mas Aryo Mila angkat jadi wakil Mila yah, yang pimpin dokter dan perawat.”

Aryo menggeleng..

“Baiklah.. mas Aryo asli mana sih?”

“Jawa, jawa tengah, bagian selatan…”

“Boleh tau nama lengkap mas Aryo?”

“Untuk apa..?”

“Ya kenalan aja, aku Kamila Purnama Giman… “

Aryo langsung paham. Dia sedikit banyak tau juga soal informasi yang beredar mengenai, siapa itu “Giman”

Yah.. itu adalah suatu nama yang sangat terkenal di daerah sana. Nama yang menjamin suatu pertanda dan terkenal akan politik dinasty nya. Nama itu menandakan bahwa yang menyandang nama “Giman” di belakang artinya adalah kekuasaan.

“Hmmh.. ternyata aku berhadapan dari salah satu penerus keluarga Giman..”

“Hahaha.. mas Aryo paham ternyata. Iya, Mila putri tunggal nya, dari 3 bersaudara. Mila paling kecil… sekarang kalo mas Aryo..?”

“Aryadi Satrio Putro.. hanya itu yang aku bisa kasih tau. Selebih nya aku gak tau.”

“Aneh juga kamu ya mas..”

“Yah aku gak ingin kasih tau dokter sebenarnya, tapi dokter udah lebih dulu membuka diri, saya merasa tidak menghormati jadinya jika aku gak kasih tau sekedar nama saja.”

Aryo terpaksa membuka nama asli nya. Itu pun sangat terpaksa, karena yang bicara dengan nya saat ini ternyata seorang putri kesayangan nya seorang Kepala Daerah di sana, bupati di sana. Tepatnya di kota tempat Mila tinggal.

Pantas saja pikir Aryo, Mila bisa seenak nya. Datang siang, pasien diterima juga seenak nya..

Tapi… justru ini yang akan bisa merubah jalan dan tujuan Aryo di kemudian hari..

“Bu dokter… aku pamit ya bu.. aku harus pulang…”

“Ya oke deh.. senang berkenalan dengan dokter…”

“Aku bukan dokter..”

“Terserah lah…”

jawab Kamila dengan senyum manis nya..

“Permisi bu.. assalamualaikum..”

“Wa’alaikumsalam…”

“Aryo bangkit dan keluar ruangan itu, yang memang sejak awal sudah terbuka pintu nya..

Selepas Aryo keluar, Mila memutar kursi duduk praktek nya, yang memang bisa memutar laksana kursi seorang boss besar. Seraya menggumam..

“Aryo.. aku harus tau kamu, aku harus dapatkan dia.. harus.. atau Ayah akan memaksa aku nikah ama bandot itu..”

Lalu segera ia ambil gadget nya dan memainkan nya. Ketak ketik sana sini.. beberapa menit kemudian… matanya terbelalak, suatu senyum lebar timbul di wajah cantik nya. Lalu Kamila hanyut dalam keasyikan memainkan hp canggihnya..

Pasien…??

Mana dia peduli…

Aryo yang keluar dari ruangan dokter Mila, harus melewati para pasien IGD terbaring. Nampak para korban yang tadi dia tangani, masih pada terpejam matanya. Pasti karena bius yang dia berikan. Matanya tertumbuk pada bed yang ada di tengah, pada korban yang satu-satunya wanita. Tapi segera Aryo membuang muka nya dan terus berjalan menuju pintu keluar.

Tapi saat Aryo lewat, mata sang wanita terbuka. Mata itu melihat Aryo, dan terus melihat tanpa berkedip.

Sesaat mulut nya membuka, tapi..

Tak ada suara yang keluar..

Sampai Aryo keluar dari pintu IGD.

Mata itu terus memandang ke pintu, walau sosok Aryo telah hilang, telah keluar dari ruang itu..

Aryo melangkahkan kaki nya kembali menuju perkampungan nelayan setelah pamit dengan para petugas puskesmas. Kepada para petugas itu, Aryo hanya bilang tinggal di rumah keluarga nya di kampung itu.

Sambil berjalan, pikiran Aryo menganalisa kejadian yang baru saja di lalui nya. Ada sedih, marah, benci, tapi satu sisi dia juga menyesal membuka jati diri nama asli nya pada dokter Kamila. Dia bisa saja tadi memberi tau dengan nama palsu..

Tapi pikirnya lagi, nggak mungkin Mila akan menyelidiki tentang dia. Memang dia siapa sampai harus di cari tau. Sedang itu Mila itu putri bupati. Tante nya Mila istri om nya seorang Walikota, dan uak nya mantan gubernur. Yah, memang sudah jadi dynasty kekuasaan di lingkungan keluarga Mila.

Sedang dirinya cuma orang kampung. Habis pertemuan tadi, Mila pasti udah lupa, pikir Aryo.

Hari sudah lewat tengah hari, manjelang sore. Tak terasa, perut nya belum di isi. Aryo melangkah sampai depan rumah. Terlihat, Mira sedang menjemur ikan di halaman dan sedang membalikkan ikan itu, posisi nya membelakangi Aryo.

Aryo diam memperhatikan Mira yang rela berpanas-panasan menjemur ikan jenis tertentu yang tidak terjual di pelelangan. Pikiran nya berputar, sekeras ini hidup yang harus di alami, mereka masih mempunyai rumah walau sangat sederhana, itu masih lebih baik di bandingkan dengan sebagian lagi yang tidak mempunyai tempat berteduh.

Teteh Mira yang merasa ada yang memperhatikan, sejenak berhenti dan menoleh ke belakang..

“Mass.. ah.. dari mana ?”

“Maaf teh, tadi habis muter-muter trus sampe di puskesmas. Lama disana, eeh.. ngobrol sama orang sana tadi. Sekalian liat daerah sini, mau pelajarin aja.. biar biasa gitu…”

“Aduh.. aku ama Pe’i tadi sibuk cari in mas nya. Takut mas nya kenapa-kenapa, kan.. Mira khawatir mas.. “

“Aduh maaf yah teh.. aku jadi repotin. Maaf banget.. tapi aku udah baikan jauh kok.. cuma mau tau ajah. Pe’i kemana? aku mau ketemu an..”

“Masih istirahat mas, tadi Mira suruh dia istirahat. Tadi tidurnya ke ganggu. Paling gak lama lagi bangun. Jam 4 an biasanya bangun kok..”

“Oh.. ya deh. Kasihan kalo di bangunin lagi. Biar bangun sendiri aja deh.. Mira.. aku bantuin yah..”

Aryo segera ikut jongkok, memilah-milah ikan, memisahkan sesuai arahan Mira. Mengangkat yang kering, menjemur lagi yang baru. Panas terik dia tahankan, tak pedulikan lagi. Perut nya yang kosong pun dia hiraukan, karena hatinya senang bisa membantu Mira. Yang mulai bisa masuk dalam hati nya.

Mira tersenyum lebar, hati nya gembira. Sampai satu saat, ikan sudah hampir semua yang terjemur. Mira bagai tersengat listrik…

“Mas… belum makan yah..?”

Aryo tersenyum..

“Masya Allah.. “

Segera Mira berdiri dan hendak pergi..

Tapi…

Sebuah tangan menangkap tangan nya…

“Sudah.. nanti lagi.. ini tanggung. Di selesaikan dulu…”

“Maaf ya mas… aduuhh… kok Mira bisa lupa.. gimana sih aku yah.. maaf banget mas.. jangan marah yah..”

“Marah kenapa? iiiih.. tenang aja atuh.. karena kamu udah biasa sendiri. Jadi begitu sibuk, lupa.. ya wajar ajah.. ayuk di kebut.. dikit lagi…”

“Iiihh baru 1 hari sehat udah bisa niru gaya omong sinih..”

“Iya atuh belajar, kan mau jadi orang sinih..”

“Bisaaann bae… ini udah beres.. ayuk masuk. Sebentar, Mira ke air dulu mau cuci muka. Mas nya masuk aja..”

“Sama.. aku juga mau cuci dulu.. “

“Ya sok ayo..”

Aryo dan Mira masuk kamar mandi lewat samping rumah. Keduanya bebersih, tangan, kaki, juga cuci muka agar segar lagi setelah habis berjemur.

Mira yang memakai kaos lengan panjang, dengan celana training panjang plus topi lebar. Sehingga kulit tubuh nya tidak terbakar matahari. Beda dengan Aryo yang kulitnya langsung terkena panas. Langsung berubah memerah..

Aryo masuk ke rumah langsung ke ruang tengah, Mira ke dapur menyiapkan makanan.

Tak lama, Pe’i keluar dari kamar dan mendapati Aryo sedang duduk di kursi di meja yang biasa di gunakan untuk makan. Di sisi nya ada sebuag buffet tua, dan ada TV 14″ di sana.

Melihat Pe’i keluar kamar, Aryo segera berdiri..

“Udah bangun dik..? maaf yah tadi bikin kamu repot juga ganggu istirahat nya. Aku tadi jalan-jalan seputaran kampung. Trus sampe ke puskesmas. Lama di sana, ngobrol sama petugas sana, karena kebetulan ada masuk 6 orang yang pada luka katanya dari kawasan PLTU. Yah, aku jadi ikut bantuin bapak para petugas puskesmas, masih pagi dokter nya belum datang.. jadi aku disana tadi sampe lewat tengah hari..”

“Ooh.. ya mas. Pe’i kira mas nya nyasar. Iya memang di kulon sana ada PLTU. Tapi ada apa yah, apa ada kecelakaan kok banyak yang luka yah??”

“Kayanya bukan kecelakaan biasa dik.. justru aku mau tanya, disana emang bebas keluar masuk area situ? keliatannya di pagar rapat sih..”

“Kalau dari darat emang mas, gak bisa sembarangan masuk. Kalau dari laut gak di.pagar. Soalnya disana juga ada pelabuhan tempat kapal tongkang batubara sandar bongkar muat batubara buat PLTU. Tadi malam juga ada yang merapat. Udah dari kemaren malam sih di tengah, tapi seharian gak nyandar, baru tadi malam kayanya nyandar nya. Aku melaut ke arah utara tadi malam, gak lewati PLTU. Biasa nya seminggu satu kali tongkang itu merapat.”

“Kalo bongkar gitu, semua isi nya di turunin habis?”

“Kaya nya enggak mas, aku beberapa kali sisihan sama tongkang yang habis bongkar gitu, ya dia jalan lagi kayanya muatannya segitu aja. Gak terlalu beda. Kan aku kalau melaut ke selatan lewati tongkang yang mau bongkar malam, pas balik nya aku suka sisihan ama tongkang yang sudah selesai bongkar dan jalan lagi ke utara. Tetap aja penuh..”

“Hmmh, aneh. Padalah PLTU sebesar ini pakai batubara dalam seminggu udah pasti puluhan ton. Kok gak kurang..?”

“Udah.. makan dulu.. ini udah jadi.. I.. makan juga atuh temenin mas Aryo..”

“Iya deh teh boleh.. “

Mira kembali ke dapur mengambil sebuah piring kosong, dan lalu menyendok nasi dari wadah nasi, bakul.

Tak lama ke dua lelaki itu sudah makan dengan lahap nya. Mira kemudian bangkit dan menghidukan TV kecil itu. Dan terdapat siaran laporan kejadian.

Suatu kejadian yang berlangsung tadi di PLTU Banten 2. Dimana dilaporkan terjadi perkelahian dua kelompok. Disinyalir memperebutkan daerah kekuasaan. Saling menguasai area bongkar muat batu bara. Dan tongkang batubara yang di perebutkan itu berhasil di tahan untuk tidak berangkat. Dilaporkan juga ada yang tewas dan luka-luka akibat peristiwa ini. Si reporter saat ini terlihat sedang berada di puskesmas labuhan, mengambil gambar yang luka-luka. Dan terakhir mewawancarai dokter puskesmas itu.

dr. Kamila Purmana Giman, mengatakan bahwa korban datang dengan kondisi yang parah. Dan harus segera di tangani. Ia dan tim nya bekerja keras menolong para korban. Tidak ada keterangan atas campur tangan Aryo di sana. Nampak raut kelegaan di wajah Aryo.

Tapi tidak di jelaskan disana, apa sebab tongkang itu pun ditahan tak di lepas. Siapa yang menahan pun tak di laporkan. Seakan bahwa hanya memperebutkan wilayah untuk bongkar muat.

“Teh.. kok Pe’i gak tau yah ada kejadian itu yah? serem amat. Untung Pe’i melaut arah berlawanan.”

“Iya yah.. tapi dokter Kamila memang bisa? ah kok teteh ragu. Kemarin dulu waktu teteh jatuh dari motor luka di kaki perlu jahit ajah, dokter Kamila nya lambat pisan. Kaya orang gagap gitu. Ini katanya 6 orang, luka parah semua kok bisa? teteh kaya kurang percaya…”

“Yah biar lah teh.. mumpung diwawancara TV, omong aja lah dia yang nolong. Siapapun yg nolong mah, gak ada yang tau. Halah.. pencitraan bae.. anak pejabat.. gak jauh dari bapak nya.. huh.. udah ngejabat lama, apa yang dibangun ? janji doang..”

kata Pe’i berargumen

“Udah jangan nuduh.. gak baik atuh.. “

Mira menjawab

Aryo yang mendengarkan pembicaraan kakak-adik ini cuma senyum-senyum saja.

Setelah selesai makan, kedua lelaki itu pergi ke depan rumah dan duduk di bale yang memang ada di situ. Sedang Mira membereskan piring dan meja yang telah di gunakan makan oleh ke dua lelaki itu.

“Dik.. mas minta maaf telah merepotkan kamu dan teh Mira. Aku jujur memang saat ini ada pada posisi terendah dalam hidup ku. Aku gak ada keluarga, aku gak punya uang, aku nganggur, juga aku gak ada dan punya dokumen apapun yang bisa aku pakai untuk menunjukkan jatidiri ku. Tapi… aku sudah bertekad, untuk memulai semua dari awal sekali. Aku mengosongkan diri ku saat ini. Biarlah, Aryo yang dulu mati, ini adalah Aryo yang baru. Adik tau, aku merasa sangat diterima disini. Aku tidak lagi jadi boneka, dan perhatian adik juga Mira, sungguh membuat hati ku mulai bergairahlagi.

Aku ini hijau soal wanita, sangat tak berpengalaman. Tapi, dari dalam lubuk hati ku… (diam sejenak).. aku menyukai Mira, teteh mu dik. Aku mau serius ama Mira, aku tidak lagi melihat siapa dan bagaimana. Perbedaan umur, atau apapun itu, saat ini aku tidak peduli. Tapi, untuk membuktikan nya, aku perlu waktu dik. Biarkan aku menata hidup ku dulu sedikit demi sedikit, setelah ada hasil yang aku dapat, aku segera akan menikahi Mira. Aku saat ini… meminta.. ahh.. persetujuan mu… dik..”

Pe’i sedikit melotot kan mata, seakan tidak percaya. Memang ia baru tau, teteh nya ternyata ada hubungan tadi pagi, tapi tak pernah terpikirkan akan secepat ini Aryo bicara pada nya.

“Mas.. Pe’i sebenarnya kaget mas.. secepat ini proses nya. Pe’i belum bisa jawab sekarang mas. Aku mau mikir dulu, soalnya teh Mira satu-satunya keluarga nya aing. Aku gak mau dia nanti kecewa. Pe’i hanya berpesan, mas kalau serius ama teh Mira, mas buktikan aja..”

“Makasih ya dik. Mas lega. Memang belum di setujui, tapi juga tidak di tolak. Mas buktikan ya dik, kasih mas waktu.”

“Iya mas.. Pe’i tau kok, mas itu orang baik. Kami merasa tidak ada perasaan gak enak selama mas disini. Hanya memang keadaan mas nya saat ini yang masih jadi kendala buat mas bangkit. Pe’i dukung kok mas nya buat bangkit lagi. Dan perasaan aku, mas itu ada yang di sembunyikan mengenai jati diri dan kebisaan mas nya. Maaf ya mas, aku hanya utarakan perasaan saja.”

Aryo terdiam. Dia menimbang-nimbang apakah akan terus terang atau tetap mengubur jati diri nya..

Tiba-tiba…

Seseorang datang dengan tergopoh.

“Mas.. oh.. akhirnya ketemu.. aku muter-muter nyari nya.. “

Seorang petugas puskesmas yang muncul..

“Mas Dokter, dipanggil bu dokter Kamila mas. Penting, ada yang kritis mas. Korban wanita nya meraung-raung dan terus pingsan. Lukanya berdarah lagi. Eee… minta tolong mas nya yah.. soalnya lagi ada wartawan. Bu dokter bingung mas. Eh.. tapi maksudnya, ah.. gimana yah.. mas tolong yah.. bu dokter nya, ah.. udah lah.. gak bisa apa-apa. Biarin deh, dimarahin dimarahin deh, kasian korban di diemin doang.. kasian mas.. tolong mas dokter…”

“Kang Surpan kesini bu dokter tau?”

“Tau mas, justru saya di suruh bu dokter susulin mas dokter nya..”

Aryo terdiam. Dia kaget tidak menyangka sama sekali akan di datangi sampai ke rumah Mira. Dan yang harus dia tolong justru, Ayu.. wanita yang paling dia benci.

Pe’i menatap Aryo. Aryo memandang ke langit. Tampak raut wajah yang mengeras di wajah nya.

“Kang.. ini apakah yang ada di tv tadi? Yang ada banyak korban akibat perang preman..?”

“Wah.. emang masuk tv yah? Iya kang, kata nya ada perang preman di pelabuhan PLTU. Banyak yang luka kata teman aing, sebagian di bawa ke RSUD pandeglang kang. Cuma sebagian kecil bae yang di puskesmas.”

“Mas.. kok diam aja? Mas mau nolong gak? Saya aja nolong gak lihat siapa yang saya tolong.. “

“Ya ayoh…”

“Teh… “

“Siapa I.. eh… “

“Pe’i sama mas Aryo mau pergi dulu ya teh. Ke puskesmas, itu yang di berita di tv tadi..”

“Mau bantu korban luka itu teh.. kasian teh.. ini akang ini susulin biar kita bantu in disana..”

“Lah kok bisa? Memang yang lain gak ada? Maksud teteh.. kok jauh kesini buat minta bantuan gitu..?”

“Itu sih.. akang ini perlunya ke mas Aryo.. mas Aryo yang tadi pagi ternyata yang nolong korban juga di puskesmas. Ini yang manggil lagi dokter Mila.”

“Dokter Mila? Dokter yang di puskesmas? Dokter sombong mentang-mentang anak bupati itu? Hebat juga bisa minta bantu ama orang miskin? Kaya gak percaya. Dokter sih gitu.. kalau bukan anak orang penggede mah udah di usir orang sini dari dulu..”

“Udah teh… nanti aja di bahas. Kasian korban yang perlu di bantu..”

“Iya sih.. ya wes atuh. Kamu mah emang teteh tau, kamu paling gak bisa lihat orang dalam kesulitan. Pasti mau tolong.. teteh bangga ama kamu.. ya udah.. jalan deh..”

“Assalamualaikum…”

“Assalamualaikum…”

“Wa’alaikumsalam…”

Ketiga lelaki itu bergegas ke puskesmas dengan berjalan kaki.

Lima belas menit kemudian, ketiga lelaki telah sampai di halaman puskesmas.

Petugas perempuan yang melihat kedatangan tiga lelaki itu segera menghampiri.

“Mas Aryo.. segera ditunggu bu Dokter di ruangan nya..”

“Gak ada waktu.. aku kesini buat nolong pasien, bukan mau ngobrol. Aku mau keruang IGD sekarang.. “

“Ehh.. tapi tadi bu dokter bilang penting. Karena masih ada wartawan mas. Tadi sih lebih banyak, ini udah tinggal beberapa orang. Bu Dokter.. ehh.. takut ketemu wartawan. Soalnya… kumaha yah… ??”

“Ya sudah.. bilang bu dokter temuin wartawan nya, saya yang urus pasien nya. Saya minta teteh jangan bilang apa-apa soal saya, saya hanya asisten saja disini gitu yah..”

“Baik mas.. makasih mas…”

Aryo, kang Surpan dan Pe’i segera menuju IGD. Para wartawan masih menunggu di lobby puskesmas. Hendak bertemu dengan dokter Kamila. Tapi di tunggu sekian lama, dokter Kamila tak keluar. Wartawan yang ingin mengabadikan keadaan korban pun tak di izinkan masuk oleh satpam alasan nya belum ada izin dari dokter dan sedang ada tindakan.

Itu sebab nya kehadiran Aryo sangat di tunggu. Dokter Kamila sangat berharap kedatangan dan pertolongan Aryo saat ini.

Aryo melewati para kuli tinta itu dan langsung menuju bangsal perawatan. Ada wartawan yang protes dan menanyakan hal itu, tapi kang Surpan segera menemui para wartawan itu dan mengatakan sesuai permintaan Aryo tadi.

Terlihat deretan bed berisi korban yang masih tergeletak. Tapi ada juga yang merintih menahan sakit.

Aryo segera menyambar baju putih yang tergantung di sudut ruangan, memakai masker, juga tutup kepala. Jelas Aryo sebisa mungkin hendak menyamarkan dirinya.

Iya, dia berencana tidak ingin di kenali oleh Ayu. Dia ingin menutup jati dirinya..

Pe’i juga mendampingi Aryo. Dia hanya melihat dan terbengong melihat bagaimana Aryo langsung sibuk mengatur dan menyetel alat-alat. Semua alat ini asing baginya.

Aryo melihat bahwa kondisi pasien sama seperti ia tinggal tadi. Sungguh suatu hal yang membingungkan untuk Aryo. Bagaimana bisa seperti ini.

Perawat yang harus nya masuk pun, hari ini harus libur dengan alasan sakit, pak Amin yang memberitahu saat Aryo menanyakan status perawat disana.

Seorang yang tadi telah di operasi oleh Aryo telah sadar. Dan sudah seperti yang diperkirakan Aryo, tentu ia akan merasa sangat kesakitan. Aryo segera memberi suntikan peredam sakit juga obat dalam. Lalu memperbaiki infus juga yang telah berdarah sebab darah sudah membalik naik.

Setelah selesai ia lanjut ke pasien lain yang patah kaki. Ia menambahkan juga obat. Untuk yang sudah baikan, Aryo minta diberikan makanan. Terus seperti itu satu per satu. Sampai pada giliran Ayu.

Dia melihat Ayu yang tak sadarkan diri. Di cek denyut nadi nya. Ya memang lemah tapi mulai stabil. Seperti yang dikira oleh Aryo, lebih pada masalah phikis yang dialami oleh wanita itu.

Aryo melihat wajah Ayu yang pucat dan seperti dehidrasi. Aryo segera ingin memberi transfusi pada nya. Tapi golongan darah nya pun ia tak tahu. Terpaksa ia mengetest dulu golongan darah nya Ayu. Ia ambil sample sedikit dari jari Ayu.

Tak terlalu lama, Aryo telah tahu golongan darah nya melalui data di alat tester nya. Lalu ia menanyakan ketersediaan darah golongan itu pada pak Amin. Tapi di jawab, kosong. Tak ada sedia golongan apapun disana. Hal ini kembali membuat Aryo harus menarik nafas panjang.

Saat Aryo sedang berpikir keras..

“Mas Aryo.. ahh.. syukur lah.. selamet aku.. udah lama mas?? Kok aku gak tau mas nya udah disini…?

Aryo diam tak menjawab. Tapi raut muka marah jelas nampak jelas di wajah Aryo..

“Mas.. kamu marah ama aku mas..??”

“Bu dokter, bisa kan klo ambil darah orang. Saya perlu transfusi untuk wanita ini. Golongan darah nya AB. Dokter golongan darah apa?”

“Saya O mas..”

“Oke, bersedia jadi donor..? Ini kritis..”

“Saya… saya… hik.. hik.. hik.. takut sama darah mas…?”

“Apaaa..? Seorang dokter takut dengan darah. Pantas semua pasien ini tak satu pun mendapat perawatan susulan. Ibu keterlaluan. Ibu bisa minta bantuan ke RSUD..”

“Dokter atau tenaga medis akan dikirim ke sini.. tapi ibu biarkan.. udah.. nanti kita bahas lagi… ibu tolong ambil darah saya sekarang segera dan berikan ke wanita ini. Jangan terlambat, wanita ini kurang darah dan cairan.. ayo dokter…”

Aryo segera berbaring di satu bed darurat. Dokter Mila segera menyetel alat dan memasang alat di lengan kanan Aryo menarik darah Aryo dan langsung masuk kantung darah.

Total 3 kantung darah diambil dari tubuh Aryo. Segera kemudian dokter Mila mulai menyuntikkan darah Aryo ke lengan si Wanita. Aryo segera bangkit setelah lukanya dia obati sendiri.

Kantung ke satu mulai masuk.. pelan dan pasti.

Tapi nampak, dokter Mila sudah pucat wajah nya. Tapi Aryo berlaga tidak tahu. Dia hanya menunggu dan memperhatikan. Aryo yakin saat ini tangan dokter Kamila pasti sudah dingin, wajah nya pun sudah banjir keringat.

Kantung ke satu habis. Dokter Mila dengan lambat seakan-akan hati-hati mulai menusuk kantung kedua..

Padahal sesungguh nya, ia sudah hampir tidak kuat dan hendak jatuh.

“Dokter.. minggirlah… biar saya lanjutkan.. dokter istirahat saja…”

Bersambung

END – Petualanganku Seorang Diri Part 5 | Petualanganku Seorang Diri Part 5 – END

(Petualanganku Seorang Diri Part 4)Sebelumnya | Selanjutnya(Petualanganku Seorang Diri Part 6)