Petualanganku Seorang Diri Part 4

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Part 25
Part 26TamaT

Petualanganku Seorang Diri Part 4

Start Petualanganku Seorang Diri Part 4 | Petualanganku Seorang Diri Part 4 Start

SEBELUMNYA…

“Aku dan Pe’i hanya menolong mas.. tanpa apapun. Tapi kalau memang mas bisa memberi yang aku butuhkan, aku gak munafik, aku butuh, teteh hauss.. teteh lapar.. aku butuh kamu mas…”

“Saya ada disini sayang.. ini Aryo disini.. setelah aku sembuh.. aku akan menemui RT dan RW, Aryo mau menikahi teteh..”

“Mas.. jangan begitu..”

“Nggak .. aku merasa hanya teteh yang mengerti aku.. bu.. teh… teh….”

Teteh terdiam.. mata nya basah..

Teteh lalu tersenyum.. wajah nya memerah..

“Hmmmhh… kamu suami aing sekarang.. kamu yang memiliki aku saat ini.. aku gak akan membiarkan kamu sedih, kecewa dan marah.. bagikan dengan aku mas.. ayo kejar dan keluarkan semua nya. Tubuhku siap menerima mu mas.. ayoo.. jangan ditahan sayang…”

Tampak anggukan mantap dari Aryo

Sedetik kemudian…

Kedua nya laksana kesetanan

bercumbu…

dengan liar nya..

Lenguhan, erangan dan teriakan kecil di ikuti kata-kata liar terlontar tak tertahan kan sampai menjelang pagi.

Setelah pertempuran gairah itu. Aryo mencuci tubuh nya. Teteh juga melakukan hal yang sama.

Ia hanya memakai kain dan Aryo dengan celana pendek, bergandengan kedua nya kembali ke kamar ibu.

Terlihat wajah puas dan cerah ke dua nya..

“Mas.. kamu udah sembuh? masih ada yang sakit..?”

“Udah gak.. aku udah baik kan jauh. Berkat kamu juga kan..?” (sambil mencolek pipi si teteh)

“Aaahh.. genit ah..”

“Tapi suka kan.. ??”

“E em..”

Angguk teteh cepat..

“Lagi yuk..”

“Jangan.. udah subuh ini.. aku udah capek banget.. bentar lagi juga si Pe’i akan pulang melaut..”

“Tapi.. aku masih pengen..”

~~~•°•~~~

SAMBUNGAN NYA…

Si teteh bangkit.. lalu memakai pakaian nya seadanya. Lalu berjalan menuju kamar mandi. Tapi Aryo mengikuti dibelakangnya.

Sambil memeluk pinggang teteh, Aryo dan Mira masuk kamar mandi. Tak berlama-lama keduanya langsung menelanjangi diri.

Aryo mengelus semua tubuh Mira, leher, punggung, dada, pinggul memutar ke depan, ke dada, susu nya itu tak luput dari elusan dan remasan. Mira menggelinjang geli penuh gairah.. setelah puas, Aryo mengambil sabun mandi batangan dan membasahi sabun lalu menyabuni semua tubuh telanjang dari teteh. Teteh yang diperlakukan dengan lembut dan romantis, tersenyum lebar. Sesekali Aryo kepala nya maju dan mencium dan melumat bibir Mira. Mira pun membelas tidak kalah gairah nya. Lalu tangan itu turun ke paha, pinggul dan terakhir kaki nya, sambil jongkok Aryo menyabuni tubuh dari Mira.

Setelah selesai, Aryo mengambil air dengan menciduk dengan gayung lalu perlahan menyiram tubuh telanjang Mira. Semua sabun di siram dan dibilas bersih. Sampai pada ketiak, leher dan selangkangan Mira, di bilas air sampai bersih. Sungguh Aryo melayani Mira selayaknya melayani istri nya sendiri. Setelah selesai dengan sabun, Mira melepas ikatan rambut nya. Aryo segera membasahi rambut sepunggung itu. Setelah basah seluruhnya, Aryo mengambil shampoo. Shampoo sachet an murah. Tapi saat ini sungguh menjadi hal yang penuh arti bagi ke dua nya. Aryo dengan lembut, mencuci rambut Mira. Mungkin kalau ada yang melihat, akan timbul cemburu yang positif.

Bagaimana sang arjuna, melayani sang Shinta dengan lembut dan sepenuh hati nya. Setelah mencuci seluruh nya, kembali Aryo menciduk air dengan gayung dan menyiram kepala Mira. Air sejuk mengalir dikepala, rambut, leher, punggung, terus turun ke pinggul paha dan terus turun ke bawah. Mata kedua saling pandang dengan mesra. Mereka seakan sudah kenal lama, sudah saling mengenal, sudah saling percaya. Padahal baru beberapa saat lalu mereka bertemu langsung. Setelah rambut itu bersih, Mira mengambil alih.

Mira saat ini, menciumi seluruh wajah Aryo. Leher nya habis di ciumi turun ke dada Aryo, menjilat lembut puting Aryo.

aakkhh..

Aryo teriak halus karena sengatan kenikmatan yang dia rasakan. Lalu tangan itu meremas bahu, lengan kiri kanan, mengelus perut Aryo, dan akhirnya mengelus selangkangan Aryo. Aryo melenguh. Tapi tak di teruskan, tangan Mira merembet ke paha, memutar ke belakang dan meremas pinggul Aryo. Semua dilakukan dari depan. Dan saat ini Mira memeluk Aryo dengan hangat. Badan nya merapat penuh ke Aryo. Kepala nya masuk didada Aryo..

“Mas.. aku.. aku.. bahagia.. aku belum pernah mengalami yang seperti ini. Ini bukan mimpi kan mas??”

“Bukan teh.. ini nyata. Aku juga bahagia dan beruntung bisa bertemu dengan kamu. Disaat aku terpuruk hancur, teteh yang membuat aku kuat. Aku akan bangkit, mulai dari awal, dan menghadapi semua nya dari awal. Dari tempat ini, dari sini, dari dirimu.. kamu mau kan teh..?”

“Aku Mira mas.. panggil aku Mira ajah. Biar gimana, aku wanita. Aku tau, aku yang harus tunduk pada lelaki. Aku.. aku.. sayang kamu mas.. “

“Iya sayang.. aku juga sayang sama Mira. Aku juga sudah cinta sama Mira. Aku akan mencoba membahagiakan kamu sayang sekuat tenaga aku. Kamu mau kan sayang..”

“Hu.. hu.. hu.. iyaa.. aku mau mas..”

Lalu Mira memeluk erat Aryo. Lama mereka saling peluk. Aryo kembali mencium tengkuk Mira. Mira menggeliatkan badannya manja.

“Mas.. udah. Biar aku mandiin mas nya yah.. “

“Iya sayang… aku mau..”

Lalu Mira mengambil sabun batangan murah itu, membasahi, mengucek nya sehingga busah nya keluar.

Lalu menyabuni Aryo, mulai leher, dada, tengkuk, turun ke perut. Menggosok disana lalu tangan nya memutar, badan Mira bergeser ke belakang Aryo, menyabuni dengan lembut, punggung, ketiak, pinggang terus ke pinggul. Lalu turun lagi paha belakang, lipatan lutut dan terus ke kaki. Setelah itu, Mira kembali ke depan, dia menyabuni dada, perut, lalu selangkangan Ayro, meremas lembut batang yang setengah keras itu, sehingga menjadi keras lagi. Tak lama, tangan nya turun ke paha, lutut dan terus ke bawah. Mira pun berjongkok menyabuni kaki Aryo.

Aryo yang melihat hal itu, tersenyum penuh haru. Lalu Mira bangkit. Mengambil gayung, menciduk air dingin itu dan menyiramkan ke tubuh Aryo. Dingin nya air tak dirasa Aryo. Hatinya saat ini hangat dan penuh dengan kegembiraan.

Tak disangka oleh nya, ia menerima pelayanan sepenuh hati ini justru bukan dari istri nya. Tapi, dari seseorang wanita yang baru saja di kenal. Tapi hati nya sudah bertekad, wanita inilah yang akan jadi pilihannya. Pelabuhan hatinya. Walau usia mereka terpaut lumayan jauh, tapi tak dipedulikan sama Aryo. Hati nya telah berbunga-bunga.

Setelah dirasa telah bersih, lalu Mira menyeka badan Aryo dengan handuk. Mengeringkan semua air yang ada di tuh Aryo. Setelah kering, Mira mengambil celana dalam Aryo yang telah dia cuci. Tapi Aryo menangkap tangan Mira. Dia mengambil handuk itu dan juga mengambil alih. Mengeringkan tubuh Mira. Sampai kering.. Dan dengan sama telanjang, saling pandang dan tersenyum penuh cinta.

Setelah selesai mandi, kedua nya segera menuju ke ruang depan. Tampak wajah yang berseri di ke dua nya.

Mira memberi kopi panas pada Aryo, Aryo yang sudah memakai baju kaos oblong putih dan memakai sarung. Dilayani layak nya seorang suami oleh Mira.

“Makasih yah teh.. “

“Kok manggil teteh lagi..?”

tanya Mira merajut

“Iya kita tetap aja kaya baru kenal, eh kita kan emang baru kenal yah.. maksud aku gak enak ama adik kamu sayang kalo dia datang gimana?’

“Iya juga.. tapi memang Pe’i gak boleh tau mas..?”

“Nggak lah, dia harus tau. Kan dia juga adik aku juga nanti nya.. tapi pelan-pelan ya sayang, kita belum tau reaksi dia kan..?”

“He em.. bener juga mas.. jadi gimana dong..?”

“Nanti biar mas yang akan jelasin. Kamu tenang aja ya sayang. Aku juga mau menghadap pak RT. Aku ini korban, suami yang di khianati. Aku udah putuskan, biar aku dianggap mati oleh semua, aku mau menjadi seorang yang baru. Benar-benar baru. Dan untuk pak RT biar aku yang jelasin..”

“Sebenarnya kamu siapa sih mas??”

“Baiklah, aku cerita. Aku ini anak dari seorang pengusaha menengah di kampung ku. Di jawa tengah sana. Tapi Romo ku adalah orang terpandang dan sangat di hormati di wilayah nya. Sehingga dia seakan raja kecil di sana. Semua maunya harus dituruti. Sampai aku pun harus ikut mau nya dijodohkan pada wanita yang sangat asing bagiku. Dan herannya, aku pun tak kuasa untuk menolaknya. Hanya perkenalan sekitar satu bulan, aku di nikahkan secara besar-besaran. Tapi apa yang aku dapat, istriku tidak menjalankan kewajiban nya saat malam pertama malah bermain dengan lelaki lain di belakang ku. Saat aku pergoki, aku dikeroyok oleh kelompok kekasih istriku itu. Aku di bius selama satu hari satu malam.

Itu yang aku ingat. Sadar-sadar aku sudah di kampung ini di tolong Pe’i dan temannya itu.. aku kecewa dan marah pada diriku, pada romo dan keluarga ku. Juga tentu pada istriku yang pelacur itu. Aku hancur. Dan sudah aku pikirkan, aku lebih baik begini, dianggap mati oleh mereka. Biarlah aku lepas semua atribut dan kepunyaan ku dulu. Aku akan memulai lagi dari nol dengan diriku yang sekarang. Aku gak butuh harta Romo, aku gak perlu nama besar. Semua hanya palsu dan topeng. Kalau aku diberi kesempatan, biarlah aku memulai semua di sini. Di rumah ini, bersama kamu dan Pe’i. “

“Jalan hidup mu pahit mas. Tapi apa kamu sanggup hidup serba terbatas seperti ini? kami hidup sangat kekurangan. Yang hanya menggantungkan hidup dari hasil laut. Bahkan sering kami kehabisan bahan makanan mas. Apa kamu kuat hidup seperti ini..?”

“Aku akan cari kerja. Setelah aku menghadap pak RT, meminta persetujuannya. Lalu aku akan bicara sama Pe’i. Biar gimana pun, tangan ku masih kuat, otak ku masih normal, dan keahlian ku masih ada.”

“Ya mas.. kalau itu keputusan kamu. Aku ikut saja. Aku ya seperti ini keadaannya..”

Hari sudah terang. Tapi Pe’i belum juga kembali..

“Tumben si Pe’i belum pulang. Kemana dia ya mas..?”

tanya Mira. Walaupun dia tau Aryo tidak mungkin bisa jawab. Tapi karena kegalauan hati nya maka ia melontarkan pertanyaan itu..

Tapi tiba-tiba..

“Assalamualaikum..”

“Wa’alaikum salam..” jawab Mira dan Aryo

“Eh.. kang udah sadar..? teh.. “

Pe’i menegur teteh nya dan salim, juga ia menyalami Aryo..

“Pe’i.. iih.. salim atuh ama mas Aryo. Bagaimana juga lebih tua dari kamu..”

“Eh.. mas.. “

Pe’i kembali menyalim Aryo. Aryo juga agak kikuk sebenarnya. Tapi tetap diberi juga tangan nya..

“Teh.. alhadullilah… “

“Apa ? kok lama kamu..?”

“Pe’i dapat banyak teh hari ini. Aku lama tadi dari pelelangan di palabuhan. Jual ikan nya rame teh.. ini.. buat teteh beli beras..”

sambil menyerahkan beberapa lembar uang sepuluh dan dua puluh ribuan. Di hitung ada 86.000

“Iihh.. alhamdulilah iyeu mah.. rejeki kamu lagi banyak I..”

Aryo yang melihat, bahwa kakak beradik ini sangat mensyukuri hasil yang mereka dapat hari ini walau bagi Aryo, uang itu sangat sedikit sebenarnya. Aryo terharu, dia termenung.. bahwa kebahagiaan itu sangat tidak di ukur dengan uang. Tidak.. bukan uang. Tapi rasa bersyukur.. itu..

“Sudah.. kamu istirahat ya I.. mandi, makan trus tidur. Nanti teteh belanja ke pasar, kita beli ayam ya dik..”

“Mantap.. eh.. teh.. mas nya..?”

“Ya kamu kenalan lah..”

“Saya Aryo dik.. aku mau ucapin terima kasih atas pertolongan adik dan teman nya. Aku minta maaf belum bisa membantu kalian. Malah mungkin jadi beban buat Pe’i dan Mira..?”

“Eeeeh.. nggak atuh mas.. aku gak mikir gitu.. udah mas nya istirahat dulu di sini. Nanti baru kalau mau pulang udah sehat..”

“Eh.. begini dik.. mas sebenarnya.. eh.. udah gak mau pulang.. mas mau izin ama kamu, untuk tinggal di sini. Tapi.. ah.. gimana yah.. aku merasa jadi beban buat kamu..”

“Udah gak usah begitu mas.. kalau mas mau hidup kaya kita, gak apa-apa. Tapi kenapa atuh gak mau pulang..? masih ada keluarga kan..?”

“Iya ada.. baik aku akan cerita in ya dik..”

Lalu Aryo ceritakan semua yang di alami nya..

Pe’i yang mendengarkan, tercengang.

Buat Pe’i, yang hidup nya polos dan apa adanya, hal ini sungguh membuat hati nya ikut sedih.

Satu sisi dia terkejut akan hal yang baru di sisi lain, ia pun kagum ternyata orang yang ada di hadapan nya sebenarnya bukan orang biasa seperti kebanyakan penduduk di desa nelayan ini.

Walau Aryo belum menceritakan profesi nya sebelum ini. Aryo hanya cerita bahwa ia adalah juga bekerja disamping adalah seorang anak dari saudagar kampung.

Pe’i menatap teteh nya, seakan mau tau reaksi dari sang teteh. Si teteh pun melihat ke Pe’i. Setelah beberapa saat, teteh mengangguk kecil. Muncul seutas senyum di bibir Pe’i.

“Jadi hari ini mas mau kemana..?”

“Aku mau menghadap pak RT..”

“Oh.. ya sudah ayuk saya antar aja.. biar tau alamat nya..”

“Makasih ya dik.. kalau gak keberatan ya dik..”

“Enggak mas.. ayuk… teh… Pe’i pamit dikit yah..”

“Sama aku juga yah…”

“Hati-hati Pe’i… mas..”

“Assalamualikum… “

salam Aryo sambil hendak putar badan

“Wa’alaikumsalam..”

jawab Mira

Tapi Pe’i tidak mengucap. Tapi ia memperhatikan Aryo dan Mira.

“Kamu gak ucap salam dek?”

tanya Mira

“A..asalamualaikum…”

salam Pe’i

“Wa’alaikumsalam…”

jawab Mira

Pe’i balik badan dan melangkah keluar rumah. Disusul Aryo…

Setelah melalui penjelasan yang cukup alot, akhir nya pak RT mengijinkan Aryo tinggal sementara di rumah Mira dan Pe’i sampai kondisi phikis dan mental Aryo pulih. Disamping Aryo saat ini dalam posisi tak berdaya, tidak punya apapun hanya pakaian nya yang di pakai saat ia di culik dan dibuang ke laut.

Pe’i dan Aryo tak lama, pamit dan berjalan pulang. Disamping Pe’i juga belum sempat istirahat setelah melaut semalaman.

Tak perlu waktu lama, 10 menitan ke duanya telah sampai lagi di rumah sederhana itu. Mereka disambut oleh Mira, yang sangat terasa antusias ingin tahu hasil pembicaraan dengan pak RT.

“Pe’i jadi gimana tadi bicara nya sama pak RT? mas Aryo boleh nggak tinggal di sini..?”

“Udah beres teh.. udah.. aku ngantuk banget mau tidur teh..”

“Iiiihhh.. di tanya gak dijawab.. ayo cerita ama teteh gimana jadinya…?”

Pe’i berhenti dan melihat ke teteh nya..

“Teteh kenapa penasaran amat..? kaya pengen tau banget. Ada apa ini ama teteh?”

“Eehh.. bukan gitu. Tapi kan kasihan mas Aryo. Dia.. dia.. kan belom sehat bener, lagian dia mau kemana, dia bilang gak mau pulang. Juga itu perasaannya kan masih sedih. Kasian atuh kalau harus pergi… ya kan I..?”

“Memang yang bilang sekarang mas Aryo itu harus pergi siapa? pak RT aja bolehin tinggal di sini kok..”

jawab Pe’i

“Eh.. bener kaya gitu.. sungguhann..?”

Pe’i menatap mata teteh nya, sebelah alis kirinya di angkat ke atas. Sehingga mempertegas maksud dari pandangan Pe’i ke Mira yaitu meminta konfirmasi atas keanehan.yang di lakukan Mira.

Mira yang melihat yang dilakukan Pe’i, segera paham maksud adik nya.

Mira menunduk, muka nya merah.

“Teh… ada apa?? gak biasanya. Kok jadi main rahasia an ama aku..?”

Aryo yang memperhatikan pembicaraan adik-kakak ini hanya terdiam memperhatikan.. sebab juga yang dibahas masalah tentang dirinya. Tapi dia menahan diri untuk ikut nimbrung bicara sebab masih urusan internal keluarga, pikirnya.

Ditunggu beberapa saat, Mira tetap membisu dan menunduk. Tampak ada rasa galau juga di hati nya.

Tak bisa dipungkiri, Mira sangat senang Aryo tetap tinggal, sebab Mira sudah suka dan sayang dengan Aryo. Tapi.. bagaimana tanggapan adik nya? itu yang membuat Mira galau. Bagaimana kalau Pe’i menolak Aryo.. bagaimana kalau Pe’i meminta Aryo pergi setelah dia tau Aryo menyukai kakak nya sedang Pe’i tidak kenal Aryo.. atau Pe’i jengah bila tau kakak nya tinggal satu rumah dengan lelaki asing yang bukan siapa-siapa nya? Sedang Pe’i adalah bisa dibilang yang menghidupi ia selama ini..

Banyak pemikiran yang datang silih berganti di kepala Mira.

“Teh.. kalau belum mau bilang gak apa-apa. Pe’i tunggu aja. Aku ngantuk banget teh.. aku tidur dulu ya teh..”

Mira menganggukan wajahnya pelan memandang wajah Pe’i. Muka Pe’i tetap datar. Lalu dia masuk ke rumah dan terus masuk kamar hendak istirahat.

Suasana tetap sunyi. Mira tetap diam di tempat nya. Aryo maju, di belakang Mira.

“Teh.. maaf ya sayang. Ini mungkin karena aku. Kamu jadi ditagih penjelasan oleh Pe’i. Nanti biar saya yang jelaskan. Tapi apapun kemungkinan nya kita harus siap ya sayang. Ada hal yang memang kita terabas soal kewajaran nilai yang ada di masyarakat. Tapi ini kan darurat. Aku pun diizinkan pak RT tinggal disini sampai aku sembuh secara fisik dan mental.”

kata Aryo meyakinkan Mira sambil memeluk pundak kiri dengan tangan kiri.

“Tapi aku takut Pe’i tidak merestui kita. Apalagi kita baru saja kenal, walaupun aku udah sangat nyaman sama kamu mas.. tapi, aku sangat sayang pada adikku”

Mira lalu terdiam, kepalanya masuk dan menempel di dada Aryo. Aryo mencium ubun-ubun Mira dan terdiam beberapa lama.

Tapi tanpa mereka sadari, sepasang mata mengawasi mereka ber dua. Tanpa berkedip memperhatikan dan juga mendengarkan pembicaraan di ruang tengah itu.

Waktu terus bergulir.

Mira kembali aktivitas di dapur, saat ini Aryo mencoba keluar rumah melihat sekeliling. Dan beberapa ibu-ibu melihat ke Aryo. Tapi mereka senyum saja dan menunduk hormat. Suatu keramahan khas negeri ini.

Lalu datang seorang ibu sudah cukup sepuh mencoba menegur Aryo..

“Nak.. “

“I.. iya Nek…”

“Anak ini yang tiga hari lalu terdampar di dermaga pelabuhan kan..?”

“Iya nek.. saya Nek. Saya di selamatkan oleh Pe’i dan teman nya Mahdi..”

“Oooh.. kamu udah sehat nak?. Nama kamu siapa?”

Aryo terdiam. Dia berpikir, harus omong apa ada nya atau tetap menutup dulu jatidirinya pada orang luar..

“Nek, maaf saya masih belum sembuh betul. Ee.. ingatan saya masih belum kembali semua.. saya tau nya nama saya Aryo. Lebih dari itu aku masih bingung..”

Aryo terpaksa berbohong. Dia tak ingin di usir dari rumah itu. Dengan berpura-pura sakit, dia ingin memperlambat masyarakat sekitar untuk menyuruhnya pulang atau pergi dari rumah Mira, seorang janda yang masih cantik. Walau ada adik lelaki nya tinggal juga di rumah, tapi tetap mendapat kan situasi yang saru. Sebab, Pe’i justru tidak ada di rumah pada sepanjang malam karena melaut.

Tapi dengan alasan belum pulih, terpaksa masyarakat memberi pengecualian. Walau pun tidak pantas. Yah, pertimbangan nya masalah kemanusiaan. Dengan catatan, jika sudah pulih harus segera tinggalkan rumah ini.

“Oh.. nak jangan jauh-jauh kalau begitu. Nanti gak bisa pulang, atau nyasar. Memang nak Aryo asli mana?”

“Saya asli jawa tengah nek. Tapi kenapa saya di sini, aku juga bingung. Ini daerah mana ya nek..?”

tanya Aryo. Memang dia pun belum tau persis saat ini dia dimana, itu yang membuat ia keluar berputar di sekeliling kampung.

“Ini desa Sugih Anyar. Kecamatan Labuhan, Pandeglang..”

jelas si Nenek..

“Pandeglang… pandeglang… eee.. “

“Banten.. provinsi Banten…”

jawab si Nenek

“Oohh… jauh sekali.. aduhh.. kepala saya sakit…”

“Oh.. ya sudah, nak istirahat dulu.. biar benar sembuh. Nenek jalan dulu yah..”

“Ii.. iya Nek..”

jawab Aryo sambil memijit kepala nya

Sang Nenek pergi, Aryo terdiam sesaat. Memang untuk sakit kepala nya ini sungguhan. Saat ia mencoba berpikir agak keras, kepala nya berdenyut sehingga agak nyeri..

Aryo melanjutkan perjalanan ke arah selatan. Terdapat jalan agak besar diujung jalan perkampungan, tapi sudah di corr bagus halus. Ini jalan utama ke kiri menuju jalan utama Provinsi. Di sisi jalan tak jauh dari simpang perkampungan nelayan itu ada sebuah jalan lagi ke selatan yang menuju ke arah sebuah area terbatas, PLTU Banten 2.

Aryo membelok ke kiri di simpang itu arah ke jalan utama. 100m dari simpang itu terdapat puskesmas. Hari masih pagi, sekitar jam 8 lewat sedikit.

Aryo tanpa sadar, melangkahkan kaki ke halaman puskesmas. Tampak kegiatan belum terlihat ramai.

Tapi tiba-tiba..

Sebuah mobil pajero hitam masuk halaman puskesmas. Seorang lelaki turun sambil menggendong seorang wanita yang terluka parah. Darah mengucur deras dari perutnya. Lukanya cukup besar. Entah masih sadar atau tidak sang wanita, kepala nya sudah terkulai..

Si lelaki berlari masuk ke dalam puskesmas, melewati Aryo yang ikut tertarik melihat situasi ini. Si lelaki melewati Aryo tanpa sempat melihat kiri-kanan lagi.

“Perawat… dokter… tolong.. tolong.. darurat.. tolongg… “

Si lelaki menaiki tangga dan masuk. Dari dalam datang seorang lelaki petugas puskesmas itu.. melihat yang datang dalam keadaan kritis.. si petugas meneriaki lagi temannya sambil mengambil bed beroda. Dua teman petugas, satu lelaki satu perempuan ikut membantu si lelaki dalam menggotong korban. Membaringkan di bed. Lalu seorang lagi berlari masuk. Tak lama keluar membawa oksigen dan alat bantu nafas juga peralatan infus yang di seret oleh si petugas.

Si petugas segera memasang alat nafas ke hidung korban. Tapi alat infus nya masih tergantung.

Beberapa saat, tampak kepala si wanita bergerak.

Sang lelaki melihat si wanita sadar segera mendatangi..

“Kamu aman disini. Saya cuma bisa antar kamu sampai sini. Aku harus pergi. Mereka mengejar aku. Maaf ya Yu… aku pergi dulu. Mudah-mudahan segera kita ketemu lagi..”

“Mas.. mas.. Yudhi.. jang.. an.. pergi.. aku.. ama siapa.. ? aku takuttt… mas..”

si wanita memcoba memegangi lengan si lelaki. Tapi di lelaki yang badannya bertatto itu, segera melepas tangan sang wanita dari lengan nya. Dan.. berputar segera keluar dari lobby puskesmas itu.

Aryo yang melihat semua kejadian itu dari tempat agak tersembunyi, di balik sebuah pilar, terbelalak. Dia terkejut.. dia tau betul.. siapa ke dua nya..

Mata nya seketika memerah, tangan mengepal sangat keras sehingga terdengar gemerutuk buku tulang tangan nya.

Hendak ia keluar dan menerkam ke dua orang ini..

Tapi ada kebimbangan di hati nya. Hatinya bergemuruh, emosinya memuncak. Dan dia putus kan untuk keluar.

Tapi…

Terlambat..

Si Lelaki telah berlari ke luar, masuk kemobil dan memacu mobil nya dengan cepat.

Langkah Aryo tertahan.. dia putar badannya..

Para petugas puskesmas masih mencoba menenangkan si wanita yang menangis histeris. Lukanya makin berdarah.

Si wanita dibawa masuk ruang IGD puskesmas.

Aryo diam terpaku melihat hal itu. Dia mematung. Hatinya marah.. luar biasa marah.

Tak lama.. ada mobil kijang pick up pun masuk halaman puskesmas. Tiga orang turun dan memanggil para petugas lagi.

Aryo melihat ke luar. Tampak ada beberapa korban yang tergeletak di bak terbuka mobil itu. Semua nya dalam keadaan terluka. Ada yang masih merintih, ada yang sudah terkulai.

Segera suasana puskesmas menjadi panik. Belum pernah terjadi dan mendapat pasien sedemikian banyak semenjak puskesmas baru dan cukup lengkap ini berdiri dua tahun lalu. Puskesmas ini juga memang di peruntukkan untuk mendukung sarana kesehatan untuk para pekerja PLTU.

Bergantian para petugas lelaki menarik bed lainnya. Ada seorang satpam pun ikut membantu. Meng-evakuasi korban ke ruang IGD.

Di sisi lain, sang Wanita yang datang pertama, terpaksa di tinggal oleh si petugas, karena si wanita telah pingsan dan telah menerima oksigen dalam membantu pernapasannya.

Aryo maju pelan, mendatangi bed si wanita yang sudah tak sadarkan diri itu. Matanya merah, nafas nya memburu.

Tapi, dia tiba-tiba menggelengkan kepala nya kuat.

“Pak.. dokter jaga nya mana..? kok gak ada..?”

“Belom datang mas.. dokter yang malam udah pulang tadi subuh..?”

“Haaahh.. coba telponin dokternya pak..”

“Percuma pak, dokternya paling datang jam 11 an. Rumahnya di serang.. “

“Wah.. kok bisa..? Jadi ini korban bagaimana..?”

“Yah kita tolong aja sebisa kita.. ?”

“Perawat nya mana? kepala perawat nya mana..?”

“Cuti.. pulang kampung.. bapak siapa sih kok nanya-nanya mulu. Gak liat kita lagi sibuk..?”

“Saya masyarakat.. sangat perlu tau dong pelayanan disini.. ini gak bener..”

“Kamu bukan orang sini yah? emang kaya gini disini… perawat cuma dua, dokter umum juga cuma dua gantian. Dokter spesialis gak ada. Ya udah sisanya petugas rawat aja.. kalau kamu bisa bantu, ya bantu aja..”

jawab seorang petugas yang sudah cukup umur

“Bener boleh..?”

“Ya boleh.. kita juga kewalahan..”

Aryo segera menghampiri bed si wanita. Alat infus masih teronggok diatas bed itu.

Segera ia ambil, jarum infus nya dia persiapkan dengan cepat, dia buka dari segel nya, tangan sang wanita yang kanan dengan cekatan dia periksa, pembuh darah nya dia temukan, dengan yakin di tusukkan jarum infus itu, dan dipasang dengan cepat dan rapih. Segera dia atur cairan infus nya agar mengalir dengan baik. Segera ia menghampiri si petugas, dan menanyakan obat yang ada. Si petugas menunjuk pada sebuah lemari es di dalam ruangan obat.

Aryo masuk, tak lama keluar dengan beberapa botol kaca kecil yang berisi cairan. Dan sebungkus alat suntik. Dengan cepat ia membuka segel suntik, menusukkan ke botol obat itu setelah lebih dulu diangkat terbalik setinggi muka, suntik itu terisi cairan. Setelah itu, ia segera membuka jarum, dan meletakkan di wadah kaleng. Lalu memasang moncong alat suntik itu ke sambungan infus, setelah terkunci dia tekan masuk cairan itu ke dalam infus. Setelah habis di dalam alat suntik itu, dia copot dan simpan alat suntik nya.

“Kamu bikin apa?”

“Pasang infus dan kasih obat untuk pendarahannya..”

Si petugas mendatangi si wanita memeriksa tangan si wanita, dan melihat pada obat yang disuntikkan ke selang infus itu. Lalu ia melihat alat suntik yang sudah dipakai, tersusun rapih kembali. Terakhir, ia memalingkan wajah dan melihat ke Aryo.

“Kamu perawat atau dokter?”

“Saya hanya tamu dikampung ini..”

“Jangan bohong.. cara kerja kamu diatas perawat biasa, dan obat yang kamu kasih itu, hanya dokter yang tau guna lain dari obat itu..”

“Saat ini gak penting pak, yang penting menyelamatkan mereka dulu..”

Aryo menghampiri pasien lain yang terluka berat. Ia melihat ada yang patah kaki, ada yang tertusuk senjat tajam. Segera ia menanyakan pada petugas disana. Tapi petugas muda itu hanya memandang saja ke Aryo.

“Hei Asep.. maneh denger gak si bapak minta apa. Ayo di kasih.. “

kata petugas tua tadi

“Tapi pak.. apa bener ini kita ikutin dia?”

“Udah ikutin aja.. percaya ama abah.. nanti kalau udah di tangani semua, abah kasih tau. Lagian sekarang gak ada dokter yang bisa ngerti nanganin ini. Kamu mau nunggu bu dokter dateng? bisa mati semua ini orang.. ngerti gak..?”

“Iya bah…”

“Ya udah kerjakan. Abah aja kalau disuruh abah kerjakan juga. Ini demi pasien dulu.. “

“Ii.. ya abah.. aku ambil ke dalam..”

Si petugas tadi diminta Aryo untuk mengambil kan bebat dan kain untuk Aryo.. juga dia datang membawa dua potong kayu papan.

Aryo yang menerima itu segera membebat kaki yang patah setelah lebih dulu di beri obat luar pada lukanya. Teriak kesakitan memang terdengar, tapi harua tetap dilakukan penanganan, oleh Aryo.

Lalu ia minta di beri obat pengurang rasa sakit dan pendarahan. Lalu Aryo berpindah lagi menangani pasien yang lain. Luka orang ini sangat besar. Tak ada yang bisa para petugas lakukan untuk membantu korban.

Aryo segera mengambil alih. Dia minta tolong ke petugas untuk diambilkan alat operasi kecil dan alat jahit luka. Si petugas tua langsung pergi masuk ke dalam. Dan tak lama kembali dengan alat dan perlengkapan yang di minta Aryo.

Aryo mengucapkan terima kasih dan langsung bekerja dengan alat-alat kedokteran itu. Petugas tua, yang muda dan petugas wanita itu memperhatikan Aryo. Seperti mereka di ajari oleh ahli nya dalam menggunakan alat-alat kedokteran itu. Ilmu ini yang sangat langka dan berharga buat mereka.

Aryo segera mengoperasi luka setelah lebih dulu di bius lokal, sampai pada dia menjahit luka itu agar tertutup.

“Ini kalau bius nya habis kasih obat peredam nyeri seperti yang tadi yah.. dan kasih infus yah”

“Ii.. ya dok.. eh tapi dok.. saya gak bisa pasang infus..”

“Ya sudah siapkan saja, nanti saya pasang..”

Aryo beralih ke pasien berikutnya. Terus lagi dan akhirnya semua selesai dia tangani pertolongan awal nya. Sehingga sejauh ini, yang luka 6 orang ini, semua selamat.

Setelah selesai menolong, Aryo keluar ruang IGD dan menjauh menyendiri. Dia duduk di bangku teras samping rumah sakit.

Pikiran nya melayang pada seseorang yang kebetulan tadi ada di hadapan nya. Dan dengan sangat terpaksa akhirnya dia tolong juga.

Jika ikut kata hatinya, amarah nya, kebenciannya, dia sudah akan menghabisi orang itu. Tapi dia tetap di batasi oleh sumpah jabatan nya, oleh kode etik nya. Maka ia pun menolong secara prosedur dan profesional.

Aryo menunduk sambil menutup muka dengan kedua tapak tangan nya. Berusaha dengan sangat menenangkan dirinya.

Dan sebuah tangan terasa menepuk bahu nya..

BERSAMBUNG

END – Petualanganku Seorang Diri Part 4 | Petualanganku Seorang Diri Part 4 – END

(Petualanganku Seorang Diri Part 3)Sebelumnya | Selanjutnya(Petualanganku Seorang Diri Part 5)