Petualanganku Seorang Diri Part 25

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Part 25
Part 26TamaT

“Iya sih. Tapi nggak biasa nya bapak atau ibu bangun siang gini. Kita mau sarapan duluan aja apa…?”

“Wah.. Aku kok ga berani Mil.. Lebih baik kita sarapan diluar saja lah. Kita jalan saja kalau gitu. Kan kita nggak duluan makan, langsung jalan saja. Lagi pula kita tunggu 10 menitan lagi mungkin masih sempat..”

“Ndak sempat mas kalau nunggu lagi sih. Belum sarapan nya, beberes nya, aku tau kalau bapak, pakai baju dan sepatu kerja nya sehabis sarapan. Lha ini bangun saja belum, sarapan dan beberes nya, nda mungkin kita tunggu mas.. Ya kita sarapan di luar saja lah. Biar aku bilang si mbak, kita jalan duluan ya mas…”

“Ya gitu juga baik…”

“Aneh, padahal tadi malam bapak bilang mau ketemu tamu yang dari Cilacap itu yang katanya mau kenal sama kamu mas. Malah tadi malam kan ngotot mau ketemuan. Kok sampai sekarang belum bangun yah.. ayo deh mas.. Kita jalan…”

“Iya…”

Setelah pamit dengan PRT kepercayaan keluarga, Kamila dan Aryo segera keluar menuju mobil. Dua menit kemudian mereka telah meluncur membelah kota Pandeglang.

Lima menit berjalan, Mila menyadari sesuatu..

“Mas… Hp aku ketinggalan di laci kamar.. Aku silent soalnya saking lelah aku gak perhatikan lagi dan tadi kita terlalu serius bicara-bicara..”

“Ya sudah.. Kita balik lagi aja mumpung belum jauh…”

“Maaf ya mas, hp itu sangat penting, takut ada telepon dari RSUD atau Dinkes. Nanti kita mampir ke drivethru aja yah, biar nanti mas aku suapin sambil jalan…”

“Oke sayang…”

Mobil mencari putar arah, dan tak lama telah kembali menuju arah rumah Mila.

Enam menit kemudian, mobil masuk garasi. Mila segera turun dan berjalan cepat. Tapi matanya sempat menangkap sesuatu.. Ia tidak melihat mobil ayah nya di tempat biasa. Sejenak dia terhenti. Tapi segera dia melangkah lagi…

“Assalamualaikum…”

Tak ada jawaban.

Mila segera membuka pintu dan meluncur masuk..

Seseorang keluar dari arah dalam..

“Eh non… Balik lagi…”

Si mbak bertanya…

“Iya mbak, hp saya ketinggalan…”

Mila segera naik menuju kamarnya…

Setengah menit kemudian ia telah kembali turun…

“Mbak… Bapak belum bangun…”

“Udah jalan malah non…:

“Lho kok…”

“Iya non… Tadi kayanya buru-buru sekali. Sarapan saja ndak. Tapi keluar kamar sudah rapih dan lengkap. Ibu juga sama udah lengkap. Dan langsung pergi saja gak ada yang sarapan. Hanya bilang.. Kita jalan ya mbak.. Gitu aja. Saya gak berani tanya-tanya sebab sepertinya bapak dan ibu serius…”

“Oh.. Kok bisa… Ya sudah aku jalan dulu ya mbak. Nanti aku telpon dimobil..”

“Jangan teleponan non sambil bawa mobil. Bahaya non…”

“Kan yang setir mas Aryo…”

“Ohh.. Iya non… Maaf…”

“Nggak apa-apa mbak, aku yang terima kasih udah di ingatkan… Assalamualaikum…”

“Wa’alaikumsalam…”

Mila segera keluar rumah, mobil Pajero sport hitam nya yang di setiri Aryo telah siap di depan.
Mila masuk di depan kiri. Mobil segera meluncur lagi keluar ke arah jalan raya.

Lima menit meluncur, Mila meraih hp nya dan mencoba menghubugi hp ayah nya.

Ada nada sambung….

Tapi tidak diangkat di seberang sana…

Semenit mencoba, Mila memperhatikan hp nya. Lalu memencet nomor lagi.

Ia mencoba menghubungi ibu nya…

Juga masuk nada sambung, tapi beberapa saat tidak diangkat.

Dan akhirnya…

Hp disana diangkat…

Mila segera menekan loud speaker, agar bisa terdengar tanpa harus di tempelkam di telinga..

“Aasalamualaikum… Mah…”

“Wa’alaikumsalam… Ya Mil… ? Ada apa nak..?”

“Mah… Kok sudah jalan? Sama bapak kan..? Mamah sama Bapak kemana? Kok buru-buru sampai ndak sempat sarapan. Padahal tadi Mila dan mas Aryo lama nunggu mamah dan bapak untuk sarapan bersama.. Keluar rumah juga udah rapih dan buru-buru. Ada hal sangat penting mah…?”

“Eh.. Kamu tau dari mana..?”

“Mila tadi barusan pulang lagi, hp Mila ketinggalan. Tapi kata mbak, bapak sama mamah udah pergi gak lama Mila sama mas jalan. Dan gak sempat sarapan, malah udah rapih penampilannya. Ada tamu penting kah mah..?”

“Eh.. Begini… Iya.. Iya.. Itu si bapak minta diantar mamah ketemu sama relasi nya. Orang dari kabupaten Cilacap. Eh.. Ini lagi ada yang mau diomongin….”

“Ooo… Ya sudah. Mila jalan lagi ya mah.. Assalamualaikum…”

“Wa’alaikumsalam….”

Mila memandang Aryo sambil mematikan hp nya…

“Gak biasanya gini mas. Sepagi-pagi nya bapak mau jalan pasti ngabari. Kalau berangkat sudah rapih, artinya udah lama bangun sebenarnya… ”

“Ya memang sepertinya gitu.. Atau… Atau…”

Aryo melihat Mila, Mila juga sama. Sama-sama sibuk dengan pikiran nya…

“Kaya nya yang Mila pikir, jangan-jangan sama dengan yang mas Aryo pikir…”

“Ya, aku juga baru mau omong…”

“Kalau memang gitu, kita harua gimana mas?”

“Mas gak akan ngelak. Sejak awal aku gak berniat menutupi apapun. Hanya masalah waktu nya saja. Tapi kalau harus dengan cara begini, mas ga mundur.. Tergantung Mila lagi. Mas akan terus maju kok…”

“Mila juga gak akan mundur… Cinta Mila pada Aryo udah fix. Ga bisa di tawar lagi. Semua orang punya masalah, apa itu dikehendaki atau tidak. Mila gak mau lagi coba-coba, udah lewat juga masa nya… Saat ini kita harus bersiap menghadapi ke dua orang tua ku..”

“Ya sayang, aku paham…”

Nampak wajah tegang dan serius di wajah Aryo…

“Mas… Udah jangan terlalu di pikirkan. Kita sarapan dulu yoh…”

“Makasih sayang.. Makasih.. Ayo lah…”

Mereka memasuki sebuah gerai resto cepat saji tapi tanpa turun, memesan melalui drivethru, dan melanjutkan perjalanan menuju puskesmas Labuan.

Saat ini Aryo pun belum memutuskan untuk pindah dari rumah almarhumah Mira. Pakaian, Izasah juga dokumen-dokumen nya masih disana. Tapi untuk dia hendak datang lagi le rumah Mila, juga sedikit terganjal keadaan nya.

Tak terasa, hari itu telah hampir berakhir waktu operasional Puskesmas. Dan sepuluh menit kedepan, waktu operasional harian puskesmas akan selesai.

Setelah satu pasien selesai, Aryo menyempatkan diri untuk keluar ruang praktek nya melihat situasi.

“Selamat sore dok… ”

“Lho Pe’i udah datang…?”

“Udah mas… Datang lebih dulu biar bisa bersiap…:

“Hehehe… Kamu hebat dik… Gimana hari pertama kerja tadi malam…?”

“Aman kok mas, gak ada masalah. Pe’i akan bertugas sebaik mungkin. Mas gak usah khawatir. Percayakan pada kami, pak Asep, Kang Suryana, sama aku.. Kita kan team kerja. Kita akan lakukan terbaik buat puskesmas ini. Kalau bukan kita selaku anak asli sini, siapa lagi kan mas..? kampung ya kampung kita sendiri, buat kepentingan masyarakat sini juga kok…”

“Ya betul dik… Pertahankan semangat nya ya dik… Oh iya, rumah di kunci yah.. Mas bisa minta kunci nya, mas mau tidur di rumah..”

“Bisa.. Bisa mas.. Mas gak tidur di Pandeglang…?”

“Nda lah, kan mas masih tinggal di rumah…”

“Ya siap.. Ini kuncinya mas…”

Tak lama muncul Mila dari dalam ruangan praktek nya

“Mas… Kamu mau tidur di desa malam ini..?”

“Ia Mil, aku perlu merenung sendiri malam ini. Kamu ga papa kan..?”

“Ga apa-apa mas. Aku paham kok… Biar aku pulang sendiri saja… Tapi kamu jangan tidur kelewat malam yah.. Apapun yang terjadi, aku akan tetap bersama kamu mas. Aku tidak akan mundur… ”

“Iya sayang.. Aku juga gak akan mundur. Aku mau menata lagi hati aku, karena gak bisa kita terus menerus seperti ini… Aku harus bisa membereskan masalah aku dan Romo.. Aku akan menjadi kepala keluarga, jadi bagaimana pun aku akan menjadi pemimpin. Gak bisa aku membawa sifat buruk ku nanti kepada keluarga aku kelak. Ga bisa…”

“Makasih mas.. Aku bangga padamu… Ya sudah kalau begitu, aku pamit pulang ya mas… Ya dik, teteh pulang dulu…
Assalamualaikum….”

“Wa’alaikumsalam…” jawab Aryo

“Wa’alaikumsalam….” jawab Pe’i

Mila bergerak keluar dengan menenteng tas nya. Aryo dan Pe’i mengantar sampai halaman.

Sebelum masuk mobil, Mila menghampiri Aryo… Dan menyalim tangan kanan Aryo. Pe’i pun maju dan menyalim pada Mila..

Semenit kemudian, Pajero Sport hitam itu telah meluncur meninggalkan Puskesmas.

Aryo dan Pe’i kembali ke arah Puskesmas.

Nampak Pe’i sedikit agak gugup. Hendak mengatakan sesuatu tapi tampak ragu.

“Dik… Kamu masih ada waktu luang. Bisa mas bicara sama kamu sebentar…?”

“Eh.. Iya mas.. Masih ada sekitar 1 jam an lagi kok sebelum waktu absen di catat…”

“Kalau gitu.. Ayo ke ruangan ku saja…”

“Baik mas…”

Aryo bergerak menuju lobby, disana masih ada Amih…

“Mih…”

“Ya dok…”

“Tolong bilang pak Asep, kalau saya masih di ruangan yah, mau bicara dulu sama Pe’i.”

“Ya dok.. Amih bilang ke pak Asep…”

“Makasih yah… Eh.. Tolong tahan siapapun yah.. Sampe saya yang keluar nanti..”

“Ya dok.. Baik… Saya juga masih disini nunggu kiriman obat dari kurir RSUD.”

“Makasih yah…”

“Sama-sama dok…”

Aryo dan Pe’i masuk ruangan Aryo dan segera di kunci dari dalam.

Nyata ini ada hal penting yang akan di bicarakan…

“Dik… Aku mau bicara serius sama kamu. Kita belum pernah bicara secara khusus seperti ini kan..?”

“Iya mas.. Ada apa mas? Seperti nya hal yang sangat penting..?”

“Iya dik.. Dan sangat mengganggu. Sebenarnya, aku punya masa lalu yang gelap dan menyedihkan. Dan terjadi sampai saat ini. Aku adalah orang yang hidup di kuasai oleh orang lain, yaitu ayah ku yang aku panggil Romo. Sedari kecil aku sudah di bentuk untuk tunduk dan patuh 100% pada beliau, tanpa kecuali. Aku diatur harus begini, aturan ini, aturan itu, larangan ini, larangan itu, semua diatur sampai hal-hal sepele. Aku laksana di cuci otak, paham yah cuci otak..?”

“Iya mas, paham. Di doktrin dan di paksa untuk ikut mau nya yang kuasa kan..?”

“Iya tepat.. . Dan aku di hadapan Romo laksana mayat hidup yang di hipnotis tanpa berdaya melawan. Dan itu sudah di tanamkan pada otak ku, kakak dan adikku tidak terlalu, itu dari sejak balita. Seingat aku begitu. Aku punya cita-cita dan keinginan, kandas di mentahkan oleh perintah Romo. Aku ingin kuliah ekonomi dan bisnis, di tolak dan dipaksa masuk kedokteran. Aku tak berani melawan, aku hanya pasrah, dan lagi-lagi alam bawah sadar ku mengeras untuk menuruti keinginan itu. ”

“Bukan menolak, tapi alam bawah sadarku malah mengeras untuk menuruti perintah itu mati-matian. Dan memang, aku jadi mati-matian untuk belajar menjadi seorang dokter dan disambung menjadi spesialis. Laksana orang gila aku belajar, belajar dan belajar. Apa aku bahagia, aku gak bisa menilai nya. Tapi sebelum perintah itu tuntas aku laksanakan, aku gak bisa berdiam. Sampai tuntas. Dan saat sudah tuntas, baru aku akan merasa lega, tapi diikuti rasa penyesalan dan rasa kesal yang membuncah. Aku membenci Romo..”

“Oh… Mas…”

“Bentar dik.. Ini belum habis ..”

“Aku pun pernah berontak akibat rasa frustasi yang sudah memuncak. Aku pun menghilang dari rumah, dan nyaris gila, Romo.. Tetap tak peduli. Padahal dia tau sebab nya. Aku di kuatkan teman-teman ku dan di ajak merintis mendirikan klinik. Akhirmya jalan dan aku ada pekerjaan tetap. Tapi Romo tetap tak peduli

Saat test CPNS ku gagal, aku dianggap anak tak berguna. Walau itu tanpa aku sengaja. Aku benar-benar di titik terendah. Tapi aku perlahan bisa bangkit. Dan puncak nya, aku di jodohkan dengan seseorang yang aku gak kenal sama sekali. Hanya diberi waktu 2 minggu untuk kenal, dan 1 bulan kemudian aku nikah. Tapi pernikahan ku hanya 1 hari, wanita itu ternyata masih mempunyai hubungan dengan lelaki lain. Yang belakangan aku tau dia terpaksa melalukannya. Aku di culik, di habisi dan dibunuh dengan di buang ke laut di labuan sini. Dimana tepat nya aku ga tau, aku masih dalam keadaan tidak sadar. Tapi Allah baik, aku belum waktunya meninggal. Dan, seperti kamu tau kejadian selanjutnya.”

“Aah… Eee… Pe’i ikut prihatin ya mas. Tapi.. Aku malah mengalami yang sebalik nya mas.. Hahh… Aku.. Aku ini adalah anak dari produk broken home. Ayah ku sejak aku kecil tak peduli sama istri dan anak nya. Aku anak paling kecil, teh Mira nomor 2, kami 5 orang bersaudara. Tapi kami semua terpisah tak terurus. Bapak orang nya keras, ibu juga keras. Sejak kecil aku sudah kehilangan kasih sayang dan figur bapak. Bapak seorang pemabuk, penjudi dan suka main perempuan. Ga ada waktu buat kami anak-anak nya. Tapi sejahat apapun beliau, aku tetap mencoba menghormati nya. Aku anggap beliau khilaf dan salah pergaulan dan tindakan. Ibu berkali-kali meneriaki bapak agar sadar, tapi yang di dapat juga dampratan dan makian.”

“Memang bapak tak sekalipun menggunakan kekerasan fisik, semarah-marah nya bapak, paling maksimal dia akan menyabet kan kayu pada pohon untuk melampiaskan kekesalan nya lalu pergi berhari-hari. Teteh ku paling tua tak tahan dan pergi ke kota, sampai saat ini ga ada kabar nya. Bapak dan ibu pisah. Bapak tak tau kabarnya. Sampai akhir nya bapak kami mendapat kabar dari rekan bapak telah meninggal saat melaut. Dan di kuburkan di pulau tempat dia di temukan. Perjalanan 3 hari dari sini. Aku pun sendiri tak mengetahui persis lokasi nya. Saudara ku yang lain terpencar entah kemana. Sisa teh Mira dan aku yang mendiami rumah mendiang bapak dan ibu. Anak teh Mira pun dibawa teteh no 3, merantau ke Fhilipina denger nya..”

“Ah.. Jadi apa keluarga yang lain sudah ada yang tau kejadian ini..”

Pe’i menggeleng… Mata nya menerawang ke langit-langit ruangan.

“Pe’i gak punya kontak mereka… Biar waktu yang menjawab. Yang penting aku tinggal disini sambil menunggu kalau-kalau ada yang kembali. Sampai kapan..? Pe’i pun gak tau, Pe’i tunggu aja… Untuk ninggalin rumah almarhum bapak dan ibu, Pe’i gak mau mas…”

“Aku jadi malu sama kamu dik.. Sungguh…. Disaat ini aku kabur dari kenyataan, tapi kamu.. walau pedih, tapi kamu tetap hadapin sebagai tanda bakti mu. Sedang aku… Aku lari dari kenyataan. Padahal… Ah.. Yang aku alami belum seberapa. Aku cukup segala nya, aku gak pernah kehilangan orang tua, aku masih bisa sekolah… Mungkin Allah memang belum mengizinkan aku mati.. Untuk aku… Menyadari kekeliruan ku… Ke kerdilan sikap ku… Aku.. Aku… Ah… ”

Aryo tertunduk….

“Sudah mas… Jalan hidup pasti beda mas. Aku sadar, sampai detik ini aku ada, aku sehat, aku kuat, karena aku melalui semua proses itu. Aku di ajarkan ibu menolong tanpa pamrih, tanpa mengeluh, tanpa merengek. Aku adalah anak yang kuat.. Itu yang selalu di tanamkan ibu pada ku…”

“Dik… Aku sangat beruntung bisa bicara dengan mu.. Aku mau menemukan saudara-saudara mu dik. Boleh yah… Aku sudah menganggap kamu adik ku sendiri. Saudara mu adalah juga saudaraku.. Boleh yah…”

“Sungguh mas…?”

“Iya dik.. Sungguhan… Aku janji akan berusaha sebisa ku mencari mereka. Ada Foto atau nama nya dik…?

“Ada… Aku masih menyimpan foto dan nama mereka. Semua… Juga mendiang bapak dan ibu.”

Pe’i mengambil tas nya dan mengeluarkan sebuah buku catatan harian.

Di dalam nya terdapat nama dan foto-foto. Kakak diatas nya adalah juga lelaki. Mereka bersaudara tiga perempuan dan dua lelaki.

“Dik, aku ga akan bawa foto dan data ini. Biar aku foto saja di hp ku yah…”

“Ya mas.. Boleh…”

Aryo memfoto semua data dan foto-foto itu. Di pikirannya saat ini telah ada sebuah rencana..

Tak lama kemudian, mereka menyudahi pembicaraan itu.

Suatu pencerahan telah sampai pada Aryo. Suatu kesadaran telah masuk pada hati dan pikirannya. Mereka berpisah.

Aryo melangkah mantap menuju desa nelayan, Pe’i dengan ceria dan semangat berlipat memulai tugas malam nya saat ini.

Ada sesuatu yang baru, ada paradigma yang telah di perbaharui.

Aryo dengan mantap, besok akan memulai semua yang telah di pikirkannya, dan sudah di tekatkan oleh nya.

Pagi menyapa hangat Puskesmas Labuan. Belum genap jam 8 pagi. Aryo telah masuk pelataran Puskesmas. Disambut Pe’i yang nampak sudah cuci muka, tapi wajah lelah akibat tak tidur semalaman tetap tergurat cukup jelas.

“Assalamualaikum…”

“Wa’alaikumsalam… Pagi mas… Wah udah sampe nih…”

“Iya dik… Mas sengaja datang agak awal. Soalnya mas mau ketemu kamu dik…”

“Ketemu Pe’i..? Boleh mas.. ”

“Yuk kita ke warung itu sambil sarapan.. Mas masuk jam 08.30. Kamu tukar shift jam berapa.. ?”

“Tadi jam 07.30.. Itu kang Mahfuds udah tugas, pak Asep juga lagi beberes di Lobby dan ruang tunggu…”

“Ayo kalau gitu… ”

Pe’i mengangguk setuju..

Aryo dan Pe’i menuju sebuah kedai nasi uduk di seberang Puskesmas.

Hp Aryo notif WA nya berbunyi. Aryo membaca dan segera menjawab nya. Lalu kembali mengantongi hp nya…

“Ibu.. Nasi uduk dua yah. Makan disini..”

“Eh.. eh.. Pak Dokter… Mau.. Makan disini.. Ini kan warung sederhana dok.. Kok bisa..?”

“Lho.. Kenapa ibu… Saya kan tau kalau nasi uduk ibu itu enak, ada yang bilang. Pak Asep aja sering kok makan disini… Iya kan…?”

“Iya pak Asep sih… Tapi ini dokter… Emang doyan apa..?”

“Ibu… Iiih… Aing mah orang kampung ibu.. Aing lahir dan besar di kampung. Dan lidah aing teh lidah kampung.. Udah atuh jangan di pandang aneh.. Saya juga sama dengan ibu, sama-sama orang, orang Indonesia, orang yang suka nasi uduk… ”

“Iiihh si dokter mah.. Omong nya pake gaya orang Labuan sagala. Hihihi…”

“Iihhh… Aing kan mau jadi orang Labuan keneh ibu. Jadi aing mau belajar bahasa sini..”

“Iiih si dokter mah bisaan. Sok atuh masuk… Biar ibu bikin yah…”

Aryo dan Pe’i masuk.

Dua gelas teh hangat di sajikan seorang gadis anak si ibu warung.

Aryo duduk menghadap pada Pe’i.

Mereka duduk di sisi dalam, tak terlihat dari luar, terhalang dinding papan, membelakangi pintu masuk, dan Aryo duduk membelakangi ruangan makan.

Aryo menyeruput teh hangat itu. Terdengar ada kendaraan datang. Mungkin Mila pikir Aryo. Biarlah…

Tapi ada 2 mobil yang datang. Siapa yah.. Aryo gak ambil pusing. Buatnya apa yang akan dia bicarakan ini sangat penting.

Apapun yang bakal dia hadapi, dia siap. Apapun kemungkinan terburuk nya, walau pun mungkin Romo akan menolak mentah-mentah dan mengusirnya, dia sudah siap. Yang penting, dia mau memperbaiki dulu sikap hati dan meminta maaf atas apa yang sudah dilakukan nya. Kalau pun Romo menolak, itu adalah resiko yang dia harus terima.

Masa menghadapi pak Sutardi dalam membela Mila dia bisa, ini menghadapi ayah nya sendiri dia mundur.

Tidak…

Saya harus bisa…

Demi aku dan Mila dan keluarga ku kelak.
Itu yang telah ditekadkan Aryo semalaman ini..

Aryo memandangi gelas itu.

Menarik nafas panjang sesaat…

“Mas sudah pikirkan tadi malam di rumah. Mas sudah tekadkan… mau ketemu sama keluarga mas, terutama sama bapak. Mas mau minta maaf sama Romo. Se Keras dan Galak apapun Romo, mas sadar sekarang, mas gak berhak membenci nya dan meninggalkannya. Romo sudah semakin tua, siapa nanti yang akan bertanggung jawab sama beliau dan ibu kalau bukan aku. Adik kandungku perempuan, dia akan ditanggungjawabi oleh suami nya kelak. Dan dia wajib menuruti suaminya. Jadi, aku mau memperbaiki hubungan ku sama Bapak dan Ibu ku dik…”

“Pe’i seneng banget denger nya mas.. Pe’i bangga sama mas. Sungguh. Andai Pe’i mendapat kesempatan yang sama, Pe’i akan sangat bahagia sekali. Tapi dengan berita ini pun, Pe’i seneng mas. Pe’i setuju banget. Segera lah mas jalankan rencana itu, biar Pe’i disini menjaga Puskesmas ini.. Mas gak usah khawatir… Pe’i akan jaga terus kok.. Walau mas ga ada disini…”

“Hei… Aku gak akan meninggalkan tempat ini. Nggak lah. Hati ku di desa ini, masa depan ku disini. Aku akan berusaha sekuat aku untuk meyakinkan Romo kalau aku akan disini. ”

“Kalau Romo nya mas gak mau mas nya di sini..?”

 BERSAMBUNG