Petualanganku Seorang Diri Part 12

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Part 25
Part 26TamaT

Petualanganku Seorang Diri Part 12

Start Petualanganku Seorang Diri Part 12 | Petualanganku Seorang Diri Part 12 Start

Sebelumnya…..

Kedua bersatu, memeluk erat, penis ditanam sejauh-jauhnya dan menambrak telak gerbang rahim Mira..

Rasa, gairah, nafsu dan cinta menyatu sempurna. Tak mau di pisah, tak terpisahkan.

Diam.. terdiam.. sunyi…

Nafas memburu.. keringat mengucur.. rambut, tubuh dan sekujur tubuh basah oleh cairan lambang ke gairahan..

semenit.. diam..

lemas.. melemah… tersungkur…

Aryo melihat Mira, Mira menatap Aryo. Jelas rasa itu, rasa puas yang teramat sangat. Dan ditambah rasa sayang yang mendalam..

Aryo tetap membiarkan batang nya bersarang dengan nyaman nya pada liang hangat dan indah itu

Tak terlihat kelelahan pada Aryo..

Tapi menyisakan keletihan yang sangat pada Mira.. tapi rasa puas menutupi semua keletihan dan kelelahan dari persetubuhan ini..

Mira tersenyum manis.. ia tau.. pijatan nya memang masih terbukti ampuh membuat lelaki nya perkasa. Dia pun sangat menikmati kejantanan itu.

Aryo mengangkat tubuh nya. Mengecup kening Mira, dan membuat Mira nyaman dan aman.

Orgasme tubuh, dan orgasme jiwa di capai nya dengan maksimal..

Aryo membelai kepala Mira, Mira mengusap dada Aryo..

“Mir.. aku sayang kamu.. aku akan mendapat anak dari mu, sayang…”

“Ya mass.. hangat, penuh, mengalir masuk rahim ku mas.. rahim ku terasa berdenyut.. aku tau.. dia telah gembira, disirami benih seorang perkasa milik mu.. aku.. pastii.. jadi.. ibu lagi.. ibu dari anak mu.. sayang..”

Mata kedua nya berbicara..

Dan… Lalu menutup mata… terlelap.. dalam damai…

Lanjutannya…

Pagi itu, Aryo telah siap berangkat ke puskesmas. Dengan masih memakai kaos oblong biasa tapi telah memakai celana kain dan sepatu milik nya yang telah di bersih jam Mira.

“Mas… Aku doa kan urusan mu lancar yah. Aku akan menunggu kamu disini. Aku percaya kamu mas…”

“Iya Mir.. dukungan dan doa kamu membuat aku kuat. Aku akan memberikan yang terbaik buat kita. Juga untuk anak-anak kita nanti. Aku jalan ya Mir… Assalamualaikum..”

“Mas…”

Mira maju dan meminta tangan Aryo. Aryo sempat diam, tapi dia juga menjulurkan tangan kanan nya..

Mira salim ke Aryo.. sambil berucap

“Wa’alaikumsalam…”

Aryo berjalan mantap. Walaupun waktu masih belum genap pukul 7 pagi. Sebab menurut info dari teman nya Yulianto, dia saat ini sudah memasuki wilayah labuan. Mungkin saat tiba di puskesmas nanti, Yulianto pun sudah tiba..

Aryo berjalan kaki. Melewati jejeran rumah sederhana nelayan, dan perkampungan yang cukup padat. Banyak jejeran bambu yang disusun untuk tempat menjemur ikan asin.

15 menit kemudian, dia sudah tiba di puskesmas.

Tampak sebuah mobil Innova hitam dengan plat nomor R sudah terparkir di halaman puskesmas.

Aryo menyadari, bahwa sahabat nya pasti sudah datang.

Saat dia masuk pintu utama..

“Assalamualaikum…”

“Wa’alaikumsalam…”

Aryo melihat Yulianto yang sedang istirahat tapi segera bangkit dan menghampiri Aryo.

“Ar… Apa kabar mu mas… Aku sangat gak percaya kamu bisa mengalami ini…”

“Ya mas.. ini aku udah disini. Kamu pasti lelah sekali ya mas.. aku pasti sudah menyusahkan kamu…”

“Sssttt… Jangan omong gitu.. apa lah ini mas… Yang dulu kamu perbuat jauh lebih dari ini mas.. kalau bukan kamu yang ajak aku kerja, aku pasti belum seperti ini mas.. aku.. sangat sedih tapi senang mendapati kamu lagi. Aku sungguh kehilangan kamu mas.. “

“Kamu sendiri an mas..??”

“Eh.. kamu gak tanya kondisi klinik mu..?”

“Aku percayakan padamu mas.. kamu yang punya saat ini dan seterusnya. Aku udah gak mungkin lagi mas…”

“Gak gitu lho mas.. lek kamu sudah gak ikut urus gak apa, tapi kalau kepemilikan ini aku tetap gak sanggup memiliki nya seorang diri. Kalau mau jujur, itu seharusnya murni milik mu, aku hanya membantu. Kalau saat ini kamu serahkan ke aku, aku gak bisa. Mungkin orang lain yang serakah menganggap ini adalah rezeki mereka, tapi buat aku.. aku gak bisa mas.. pokok nya tetap kamu akan dapat bagian mu. Masalah kamu ambil nya kapan, aku akan tetap menyisihkan bagian mu. Itu bukan lah hak ku…”

“Mas.. aku bangga punya sahabat seperti kamu.. aku masih belum tau mas.. aku hanya gak ingin kembali ke masa lalu ku. Aku mungkin pengecut, mungkin bodoh, mungkin aneh, tapi aku tetap tak ingin di ketahui keberadaan ku, dan aku mohon dengan sangat, jangan ada yang mengetahui nya walau itu hanya teman kita. Apalagi keluarga besar ku. Biar mereka tau nya aku mati.. ya memang aku mati buat mereka. Aku akan menghilang selamanya.”

“Mas.. aku gak akan ikut campur urusan keluarga mu karena aku gak paham secara detil. Hanya aku pun masih kepikiran, apa yang dirasakan keluarga mu saat kamu gak ada. Karena ternyata, ada yang sempat melihat mu masuk ke hotel itu, dan itu tetangga seberang kampung mu. Yang cerita itu si Lastri, orang front office klinik yang rumah asli nya itu tetangga RW mu. Setelah tersiar kabar kamu menghilang, Lastri sedang pulang ke Cilacap. Dan tak sengaja, dia bicara sama orang yang melihat kamu terakhir. Dia itu wanita front office di hotel SINGA****.

Dia malah bilang kamu sempat mau menerobos masuk saat orang yang kamu cari ada di kamar di hotel itu bersama seorang lelaki. Kamu sempat pesan kamar di sebelah kamar orang yang kamu sasar. Tapi kamu gak pernah masuk kamar itu sekalipun. Sampai kamu di nyatakan hilang. Saat itu wanita itu mengancam kamu agar tidak bikin keributan atau dia laporkan ke polisi. Wanita itu setelah mengetahui kamu gak pernah keluar lagi, dia pun terlihat takut. Jangan-jangan kamu di culik dan di bunuh seperti trend yang terjadi hangat saat ini di luar negri sana. Wartawan yang vocal di bungkam dengan cara dibunuh dan mayat nya pun tak diketemukan lagi.”

“Keluarga mu kata Lastri sudah tau hal ini.. tapi Lastri tak tau lagi bagaimana reaksi keluarga mu, sebab dia harus kembali ke Purwokerto dan kembali bertugas..”

“Hmmmhh.. biar lah kalau mereka tau. Ini adalah keinginan Romo. Dia ingin aku nikah sama wanita yang ternyata binal dan nakal. Walau… Mungkin dia dipaksa…”

“Maksud mu mas…??”

“Ayo aku mau cerita tapi jangan disini…. Kita jalan-jalan saja sebentar ke dermaga..”

“Yah… Ayo lah… Tapi sebentar.. aku kesini berdua dengan… Lastri.. sebab saat itu dia kebetulan dengar telp kamu. Dan.. dan.. dia meminta ikut. Aku pun perlu teman agar tidak bosan di perjalanan. Maaf kan aku mas.. aku jamin Lastri tidak akan membocorkan rahasia ini. Aku hanya bilang ingin memberikan izasah dan dokument mu. Lastri saat ini sudah menjadi calon istriku mas… Maaf kalo aku gak profesional mencari jodoh di kantor, tapi jujur aku memang sudah mencintai dia. Tapi gak lama lagi dia juga sudah mau mundur, sebab gak mungkin dia terus kerja disana kalau kami menikah.. “

“Aku senang dengar nya. Jadi Lastri tau kondisi aku ini..?”

“Iya mas.. terpaksa aku cerita sebab dari awal dia pun mengetahui nya. Tapi dia pun mendukung keputusanmu, setidak nya sampai saat ini. Dia pun sebenarnya geram atas perjodohan mu. Tapi.. bagaimana tanggapan keluarga mu, Lastri pun sempat bimbang, bagaimana jika ternyata orang tua mu menyesali perbuatannya, dan terpukul dengan kenyataan nya. Lastri pun masih juga belum sampai hati jika misalnya tau orang tua mu ternyata sangat menyesali..”

“Gak mungkin mas kalau Romo. Aku kenal luar dalam. Romo pantang menjilat ludah sendiri dan sangat berat meminta apalagi memohon maaf. Kesombongan masih penuh dalam hatinya…”

“Ibu dan adik mu tho mas.. setidak nya kamu cari tau dulu secara sembunyi. Mungkin selama ini sebenarnya ibu dan adik mu tidak setuju sebenarnya tapi tak berdaya pada Romo mu selayaknya dirimu. Masa kamu tega mas menyakiti mereka juga. Mungkin mereka pun sangat kehilangan kamu. Apalagi… kamu itu anak lanang tunggal, dan kebanggan keluarga. Dan misal nya suatu saat mereka tau yang telah kamu capai dan miliki selama ini, apa itu tidak membuat mereka makin menangisi kamu dan membenci Romo mu. Aku kok yakin, Romo mu itu sudah menyesali semua yang dia lakukan padamu. Untuk minta maaf, mungkin… ya mungkin lho yah, masih enggan, tapi jika disuruh memilih dan ada kesempatan ke dua, pasti Romo mu akan menolak perjodohan itu.”

Aryo terdiam.

Omongan Yulianto ia pikirkan juga akhirnya.

“Mas.. ayo kita jalan, aku mau cerita sesuatu. Tidak mungkin cerita disini, sebentar lagi dokter datang. Aku gak mau di tau yang sebenarnya atau siapapun disini tau…

“Iya.. ayo…”

Kedua sahabat itu berjalan kaki di dermaga pelabuhan labuhan. Terik mentari pagi dan tenangnya laut, membuat siapapun yang melihat membuat hati tenang dan nyaman.

“Mas… Sebenarnya aku sudah mempunyai calon istri di desa ini. Walau baru beberapa hari, tapi hati dan perasaan ku sudah aku tambatkan padanya. Dia lah yang menyelamatkan hidup ku setelah di temukan mengambang di bawah dermaga ini oleh adik lelaki tunggal nya. Aku dirawat dan dilayani sebagai seorang lelaki. Sampai… Hal yang paling dasar suami istri kami sudah lakukan dan kami sangat menikmati nya. Hanya, saat yang sama, dokter puskesmas ini adalah anak bupati Pandeglang sini, dan setelah tau aku pun seorang dokter, ia ingin aku kerja disini atau di rumah sakit yang telah dibangun ayahnya untuk nya.

Tinggal menunggu keputusan dirinya. Hanya… Dia baru diberikan rumah sakit itu jika, dia mau menikah dengan lelaki pilihan ayahnya. Sudah berumur dan dokter itu tak menyukai lelaki itu. Dia dijodohkan… Sama kaya aku. Aku dimintain nya tolong agar perjodohan ini dibatalkan atau setidaknya ditunda. Aku yang mengalami juga perjodohan, merasa wajib membantu dokter itu. Tapi masalah nya, dokter itu pun udah ngomong… Kalau dia suka sama aku. Padahal aku bilang, aku udah ada pilihan.”

“Oh.. bisa begitu… Sampeyan punya sifat itu yang bikin mereka jadi bisa tertarik dan simpati. Sampeyan itu lebih mementingkan orang lain dari diri sendiri…”

“Entah lah mas.. dan satu lagi.. pasien wanita yang aku tolong saat pertama aku ke puskesmas ini sehingga status ku sebagai dokter di ketahui oleh dokter Mila itu…. dia.. Ayu.. istriku…”

“Haaahhh… Edan.. edan.. kok bisa..?”

“Aku pun belum tau persis kejadian nya. Hanya memang 3 hari lalu terjadi perang antar gank memperebutkan lahan di PLTU Banten 2 sana. Kalau aku lihat di tv, rebutan lahan bongkar muat batu bara…”

“Ohh.. yang ramai di media tiga hari lalu itu yah… Itu kan sebenarnya penyelundupan barang illegal mau dibawa ke luar negeri. Perang antara aparat dan penyelundup kok itu. Nah, Ayu di posisi mana dia kok sampai terluka..?”

“Itu aku kurang paham juga. Tapi kalau dilihat dari lelaki yang membawa dia dan yang juga menyekap aku itu, hampir pasti mereka di kelompok penyelundup. Tapi dari pengakuan Ayu, dia di peralat oleh pacar nya itu dan dipaksa ikut. Baru kemarin Ayu cerita yang sebenarnya, dia di perkosa awalnya, lalu diancam agar mau jadi budak nya si lelaki itu, namanya Yudhi Pratomo. Sampai ia setuju dinikahkan ayahnya dengan aku untuk bisa lepas dari si Yudhi itu. Tapi 2 Minggu sebelum kami nikah, Yudhi itu muncul lagi. Dan mengancam akan mempermalukan dia di depan aku dan keluarga ku. Dia panik dan berusaha mengikuti mau nya lelaki itu..”

“Wah.. kacau… Kamu posisi nya bingung. Jangan bilang kamu jadi kasian juga ama Ayu..”

“Aku udah bilang ke Ayu. Dia tetap aku lepas setelah dia pulih dan keluar dari puskesmas. Terserah dia mau kemana. Yang pasti, dia tidak boleh bilang aku ada disini. Atau dia aku laporkan ke polisi atas keterlibatan dia berusaha membunuh ku. Dia paham sih omongan ku itu…”

“Apa kah para wanita itu udah tau kondisi ini..?”

“Sudah… Aku sudah cerita. Hanya mereka belum tau orang nya. Yang sama tau itu dokter Mila dan Ayu. Kalau dengan Mira, calon aku itu mereka gak kenal. Karena Mira kan dirumah.”

“Secara hukum kamu masih terikat pernikahan lho sana Ayu. Mungkin secara agama kamu bisa menceraikan tapi secara sipil kan belum. Kecuali kamu dianggap mati. Kalau itu yang di pilih, bagaimana kamu akan menikah resmi lagi…?”

“Entah lah.. dokter Mila bilang dia bisa meminta ayah nya menguruskan hal itu buat ku, tapi… aku harus meyakinkan ayah nya dan menikah dengan dia. Kalau sama yang lain, dia gak mau…”

“Wah.. abot nemen mas… Rencana mu priben..?”

“Nanti malam aku mau menghadap pak Bupati, aku mau melamar jadi dokter di puskesmas ini, makanya aku perlu dokumen yang kamu bawa itu.. sekalian mau bantu omong soal dokter Mila.”

“Terus kalau tak di terima bagaimana..?”

“Aku tau ada kemungkinan itu mas. Aku tetap akan bekerja di puskesmas bantu-bantu sampai ada peluang kerja yang lain, jika hal itu yang terjadi..”

“Wah.. kasihan kamu mas. Jadi seperti ini. Kenapa kamu gak keluar aja dan memulai semua dari awal sih… Masalah Romo mu, kamu bisa ambil sikap untuk sementara menjauhi Romo mu. Kamu udah dewasa gak perlu tergantung sama orang tua kan…”

“Entah lah mas.. aku masih terlalu sakit atas tindakan Romo. Aku sementara ini akan tetap mati buat masa lalu ku. Aku mohon kamu mengerti mas…”

“Baiklah jika itu keputusan mu. Aku sebagai sahabat mendukung dan mendoakan yang terbaik untuk mu mas…”

“Makasih mas… Aku mau memulai dulu semua dari sini. Ayo mas.. kita kembali.. udah siang. Bu dokter pasti udah nunggu. Aku gak enak…”

“Oke lah…”

Dua sahabat itu kembali ke puskesmas. Dihalaman memang telah terparkir sebuah Honda CRV putih. Aryo segera masuk puskesmas…

“Assalamualikum..”

“Wa’alaikumsalam… Eh.. dokter Aryo..”

“Teh Amih.. maaf telat.. Bu dokter ada..?”

“Ada dok di ruangan nya, tadi lagi periksa pasien rawat.. silahkan dok..”

“Ini teman aku dari Jawa.. dia gak apa disini yah…?”

“Silahkan aja.. silahkan pak…”

“Mas… Aku masuk dulu yah…”

“Ya mas.. silahkan.. aku nunggu disini aja…”

Aryo masuk ruangan IGD. Dia melihat persis saat dokter Mila selesai mengurus pasien paling ujung, yaitu Ayu..

Aryo masuk, di lihat oleh Mila..

“Eh.. mas… “

Mila mendekat cepat..

“Assalamualaikum…”

sapa Aryo

“Wa’alaikumsalam…”

jawab Mila.

Mila menyorongkan tangan kanan nya, Aryo juga memberi seakan salaman biasa. Tapi Mila mengambil tangan itu dan menyalim nya ke kening nya..

“Eh…”

tampak grogi di wajah Aryo.

Aryo dan Mila berdiri tak jauh dari Ayu

“Kata kang Surpan tadi udah datang terus pergi lagi ama orang tamu yang datang itu yah…?”

“Ii.. iya dok.. itu Yulianto teman saya yang bawa dokument ku.. datang tadi pagi, aku temui dulu dan ajak jalan sebentar sambil bicara-bicara..”

“Soal planning kamu disini kan mas..?”

“Iya.. aku bilang aku mau disini. Kerja jadi dokter sini…”

“Juga soal kalau kamu mau bilang sama ayah ku agar aku gak jadi di jodohkan..?”

“Iya itu juga..”

“Dan kamu cerita tentang aku mas? Kalau.. eee… Kalau kamu mau menikah pakai identitas baru harus sama aku..?”

“Ehh… Itu.. hmmmhh… Iya.. iya aku bisa menikah itu resmi hanya dengan kamu.. “

Aryo melirik Ayu… Mila seakan cuek. Tapi jelas dia ingin menyatakan pada Ayu kalau dia punya kuasa atas Aryo…

Ayu melihat dan mendengar semua pembicaraan Mila dan Aryo. Mila seakan acuh dan tak peduli dan bersikap sangat gembira atas semua jawaban Aryo…

“Makasih sayang…”

Mila ingin memeluk Aryo. Tapi Aryo segera mengangkat tangan tanda menolak.

“Eh.. jangan… Gak boleh…”

“Ya baik lah… Ayo kita keluar mas… Aku udah selesai disini…”

Aryo dan Mila keluar IGD.

Ayu melihat semua dengan mata basah dan terpejam…

“Mas… Ini kenalkan.. dokter Kamila.. dokter puskesmas sini…”

“Eh.. Yulianto…”

“Kamila..”

“Eh.. Lastri mana mas.. ?? Ayo kesini aja kok malu..?”

“Sebentar…”

Yulianto keluar dan tak berapa lama, seorang wanita muda mengikuti dia.

“Pak Aryo.. apa kabar pak? Bapak sehat-sehat aja kan..?”

“Seperti yang kamu lihat Lastri… Eh, kapan kalian rame-rame nya nih..?”

“Eh.. mas..?”

“Insya Allah akhir tahun ini mas..”

jawab Yulianto.

“Wah… Aku ketinggalan kereta ternyata. Kalian udah jadian berapa lama..?”

“Mau setahun mas.. yah gak perlu lama-lama lah, kalo cocok udah langsung maju aja. Tapi aku merasa berdosa sama kamu mas, nggak cerita hal ini. Aku pikir sih cari waktu yang tepat dan saat kami udah mantap. Eh… Ada kejadian ini.. yah, aku sekalian omong ama kamu mas…”

“Ya wes.. aku ikut senang kok. Jadi, aku titip klinik sama kalian berdua yah…”

“Eh.. pak Aryo gak balik Purwokerto lagi?”

“Nggak Las.. aku disini aja. Dan seperti yang kamu tahu, aku harap kamu bisa jaga hal ini yah…”

“Iya pak.. padahal… Pak Aryo dan mas Yuli itu sepasang dokter yang di andalkan klinik lho. Spesialis Internist dan Spesialist THT. Itu penyakit yang umum di masyarakat..”

“Ah.. masih ada kok spesialist Internist lain yang lebih baik dari aku…”

“Oh.. jadi mas Yulianto ini juga dokter yah… Wah.. Mila senang kalau ketemu rekan sejawat…”

“Iya Bu dokter.. kami sahabat an udah sejak awal kuliah. Lulus sama an, ambil spesialist juga di kampus yang sama hanya lulus nya duluan mas Aryo 4 bulanan.. habis itu ya kita kerja barengan di klinik..”

“Ohh..”

“Mas.. tugas ku beres yah. Aku mau langsung pamit aja mas.. yang penting aku udah ketemu sama kamu mas, aku udah lega luar biasa. Kasian juga klinik aku tinggal lama.”

“Lho.. sampeyan baru datang mas, gak kesel awak tah…?”

“Iya mas, ga papa kita jalan pelan-pelan, lelah ya kita mampir istirahat..”

“Hehehe… Iya lah paham. Tugas udah selesai tinggal enjoy aja lah ama yayang nya. Paham kok… Hehehe… Udah gede ini udah paham lah…”

Lastri muka nya memerah, Yulianto pun salah tingkah.

“So sweet… Mas… Aku juga mau mas nanti kita jalan berdua ya mas… Aku ama kamu aja yah… Ke klinik mu gak apa-apa mas.. aku jadi pengen juga kaya dokter Yuli ini ama mbak nya..”

“Eh… Kan aku gak bisa muncul dok..”

“Ah, gampang itu. Orang yang berwajah mirip kan banyak. Yang tau kan cuma kita ber empat..”

“Boleh-boleh kok. Kita seneng kok kalian datang. Lebih seneng lagi kalo terang-terangan. Tapi itu tergantung mas Aryo…”

jawab Yulianto..

“Wah.. gak tau mas.. setahap-setahap lah.. tugas ku masih menunggu. Nanti malam..”

“Iya lah.. aku doain yang terbaik buat kamu dan kamu Bu dokter.. semoga yang di rencanakan lancar…”

“Amin.. aminnn…”

“Kita pamit ya mas.. Bu dokter…”

“Ya mas, Las.. terima kasih banyak kunjungan nya… Hati-hati di jalan. Keep contact yah…”

Selang 5 menit kemudian, mobil Innova hitam meluncur meninggalkan halaman puskesmas.

“Ayo mas.. masuk…”

“Ayo…”

Mereka mulai melakukan aktivitas lagi. Menerima pasien rawat jalan, kiriman obat dan alat, juga sampai ada utusan dari RSUD Pandeglang juga datang ke sana.

Dokter Mila menerima dan melayani dengan baik. Walau para utusan RSUD itu tau dokter Mila adalah anak bupati dan mereka segan, tapi dokter Mila bisa membuat suasana cair dengan cepat. Para dokter utusan itu pun mengatakan langsung kalau dokter Mila jadi berbeda. Tapi dokter Mila mengelak dan mengatakan biasa saja. Dan selama menerima para utusan itu, Aryo juga diajak untuk mendampingi walau posisi nya dibelakang dan mengikuti pembicaraan. Tak sekalipun Aryo muncul atau nimbrung di pembicaraan ini.

Tak terasa hari sudah sore. Dokter Mila yang biasa nya sudah izin pulang, tapi kali ini dia masih tenang di puskesmas.

“Mas.. kamu ikut sama aku aja yah.. kan memang ayah yang minta kamu datang malam ini. Lagi pula kamu kan belum paham daerah sini kan..?”

“Iya.. aku memang gak paham…”

“Yok kita siap-siap. Kita makan dulu baru ke rumah yah…”

“Terserah dokter saja.. saya izin membersihkan badan dan ganti baju yah..”

“Eh.. aku juga deh. Aku bawa pakaian ganti kok…”

“Tapi kan kamar mandi sini sangat sederhana. Mana cocok buat kamu..?”

“Ah.. cocok aja lah.. pak Amin pasti rawat juga kok. Aku gini-gini kan pernah KOAS juga mas. Yah hidup di lingkungan sederhana juga lah…”

“Ya oke lah.. hebat kamu dok…”

“Udah lewat jam kantor.. panggil nama aja ya sayang…”

“Tapi gak enak ah ama yang lain.. nanti jadi contoh gak baik..”

“Oke deh mas dokter ku yang ganteng…”

Selepas Aryo dan Mila berganti pakaian dan pamit, Mila menyerahkan kunci mobil ke Aryo. Kedua nya meluncur dari labuhan menuju kota Pandeglang. Jalan provinsi yang mempunyai kuntur tanah perbukitan, tapi hampir tidak ada antrian kemacetan layaknya kota metropolitan. 1.5 jam perjalanan dilalui dengan tak terasa.

Menjelang waktu Isya, kedua nya masuk wilayah suatu rumah makan besar nan megah di jantung kota Pandeglang. Cuaca gerimis tipis.

Aryo dan Mila mengambil tempat di sudut ruangan. Dan mulai memesan makanan.

“Mas… Ini kota ku mas.. kota kabupaten di tengah Provinsi Banten. Di dataran lebih tinggi karena udah masuk kawasan perbukitan sebelah selatan sana..”

“Sama kok.. kota ku juga di tengah pulau Jawa. Dekat dengan daerah wisata dingin.. Baturaden.. yah tempat aku dulu praktek lapangan pertama..”

“Mas.. aku mau tanya.. kalau nanti ayah tanya, mas udah siap jawaban nya..?”

“Insyaallah”

Aryo dan Mila duduk berhadapan, di pisahkan meja kecil yang memang hanya untuk dua orang.

Saat sudah selesai memesan makanan, dari depan masuk seorang lelaki dan seorang wanita. Di susul juga dua orang lelaki.

Aryo dan Mila yang duduk di sudut dan agak temaram. Posisi kedua nya menyamping dari pintu masuk.

Lelaki memeluk seorang wanita cantik pertengahan 20 an dengan tubuh montok, mulus. Wajah laksana artis dan berpenampilan sangat menarik mata pria. Memakai baju tanpa lengan dan berbelahan rendah, juga rok span ketat 10cm diatas lutut, kaki jenjang putih mulus nya makin menonjol. Dengan sepatu high heels makin menambah keseksian wanita ini.

Sedang dua lelaki lain, seorang berpangkas cepak, atletis dan kulit gelap, sedang satu nya berperawakan sedang rambut di biarkan panjang se bahu.

Mereka ambil posisi juga meja pinggir tembok dan agak tersembunyi.

Si lelaki memeluk sang wanita sambil sesekali mencumbu dan mencium pipi si wanita. Sang wanita hanya tertawa genit.

Sedang dua lelaki lain seperti hormat pada lelaki itu. Tak lama mereka terlibat pembicaraan.

Mila yang telah melihat rombongan kecil ini sejak di dalam restoran, menatap tajam.

Aryo menyadari Mila sedang memperhatikan sesuatu, akhirnya juga ikut melihat ke rombongan kecil itu…

“Eh.. itu…”

Tampak kegeraman di wajah Aryo, juga kegusaran sangat nampak di wajah Mila.

“Kurang ajar, jadi gini kelakuan nya..?”

Bersambung

END – Petualanganku Seorang Diri Part 12 | Petualanganku Seorang Diri Part 12 – END

(Petualanganku Seorang Diri Part 11)Sebelumnya | Selanjutnya(Petualanganku Seorang Diri Part 13)