Petualanganku Prolog

PrologPart 1Part 2Part 3Part 4
Part 5Part 6Part 7Part 8Part 9
Part 10Tamat

Cerita Sex Dewasa Petualanganku Prolog – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sex Dewasa Petualanganku Prolog

Dunia ini berputar.
Kadang ia bergulir kearah yang sama sekali tidak kita inginkan.
Begitu pula hidupku.

Sama sekali tak terbesit dalam cita-cita yang pernah dikatakan seorang anak berusia tujuh tahun, ketika orang tuanya bertanya kau mau jadi apa jika besar nanti?, bahwa aku akan menghabiskan seumur hidupku sebagai petualang.

Sebuah misteri, tahayul, cerita rakyat, mitos, dan legenda. Itulah yang banyak kudengar dalam cerita seorang ayah ketika aku masih seorang bocah lugu nan polos.

Benar apa yang dikatakan seorang pepatah lama, bahwa pengalaman adalah guru yang terbaik.
Sebuah buku tebal dengan lembaran-lembaran lusuh sedang tergenggam erat di tanganku.

Aku membetulkan letak kacamata tebal yang bertengger di hidungku yang mulai keriput. Mengerling sejenak kearah sebuah lempengan kaca yang dikenal sebagai S.I.D (syntetic intelegent device) dalam masaku, dan melihat angka menunjukkan pukul 23:01 disana.

Diusiaku yang sekarang yang menginjak 80 tahun, aku sudah tak bisa dikatakan muda. Lebih tepatnya mustahil dikatakan muda. Jejak-jejak petualangan panjang telah menorehkan raut wajah yang kini terbilang senja.

Aku tersenyum sejenak.
Meresapi masa muda yang pernah kulalui, mengenang kejadian-kejadian aneh saat aku berpetualang.
Semua itu kutuangkan dalam bentuk tulisan yang terukir pada tiap lembar kertas.

Setelah puluhan tahun berkelana, mencicipi asam garam kehidupan, merasakan manis legitnya sebuah pengalaman. Akhirnya seluruh catatan perjalanan itu kutuangkan dalam sebuah buku tebal yang kugenggam erat.

Dalam kamar bergaya klasik yang tetap terjaga.
Kuusap perlahan cover buku dengan gambar compass di bagian depannya. Dibawah gambar itu, aku menuliskan namaku dengan sebuah tinta hitam. Tomi James Aldric.

Kamar ini adalah salah satu ruangan dalam rumah besar yang sudah puluhan tahun kutinggali. Terletak di sebuah kawasan yang dulu dikenal elit, rumah ini tetap kupertahankan berdiri dengan menganut gaya yang saat ini dikenal dengan sebutan klasik.

Ada alasan tersendiri mengapa rumah ini tak kuubah mengikuti struktur gaya baru yang dianut berdasarkan metode pembangunan para arsitek jaman sekarang. Jika saat ini struktur bangunan sudah beralih mulai menggunakan bahan plastik polymer, maka rumahku masih setia menggunakan semen dan kayu sebagai bahan penyusunnya.

Ayahku keturunan Jerman, namun ia lahir di Indonesia. Sedangkan ibuku, adalah orang sunda asli pribumi. Nama Aldric yang kusandang, adalah nama kakek leluhurku yang merupakan orang Jerman asli.

Buku ini, mungkin suatu saat akan kuserahkan pada seseorang untuk dibaca.
Mungkin orang itu akan menganggap aku gila, sinting, mengalami gangguan jiwa, atau hanya seorang penggila hoax, sungguh aku tak mengada-ada. Mungkin jika kau adalah orang itu, kau akan berpikiran sama, entahlah.

Berbagai perjalanan panjang, mengarungi tiap lekuk dunia telah kujalani. Menyisakan luka yang menyayat hati, isak tangis, duka, dan kehilangan. Menciptakan kenangan indah yang tetap abadi, gembira, bahagia, dan cinta.

Hari ini, 17 Oktober 2070. Aku akan menceritakan kisah itu, satu per satu. Beberapa kisah yang katanya tak terungkap dan tetap terkubur sebagai legenda.

Tapi ketahuilah, kebenaran sesungguhnya hanyalah matamu sendiri, hanya tubuhmu sendiri. Jika engkau tidak merasakan apa yang kurasa, tidak melihat apa yang kulihat, janganlah sekalipun engkau mempercayai ucapanku. Lihatlah, dan kau akan tahu. Alamilah, dan kau akan percaya.

Sesungguhnya sebuah kebohongan tak akan membuatku menjadi kaya.
Hanya kebenaran yang akan menjawab segala pertanyaan dalam kehidupan.

Inilah kisahku……
Inilah pengalamanku……
Inilah petualanganku…..