Petualanganku Part 9

PrologPart 1Part 2Part 3Part 4
Part 5Part 6Part 7Part 8Part 9
Part 10Tamat

Cerita Sex Dewasa Petualanganku Part 9 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya : Cerita Sex Dewasa Petualanganku Part 8

‘Apa yang akan mereka lakukaaaaannn….’ batinku.

Aku masih menerka-nerka. Mungkinkah mereka akan memotong tubuh kami, atau menghisap jiwa kami hingga kami menjadi zombie.

“Ohhh… ngak kok Tom.. tenang aja, kalian ngak bakalan mati kalo berhasil memenuhi persyaratannya…” ucap Lara setelah membaca pikiranku dengan mudah.

“Hahaha…. itu kan kalau bisa…..” jawab Selly

‘Apa yang mereka mau sebenarnya? Apa??’

“Sederhana…. aku butuh kejantananmu sekarang… selama sekian lama aku hidup, tak ada yang mampu memberikanku kepuasan…. selain budak milik Selly tentunya…” ucap Lara.

‘J-jadi…..jadiiiii…….’

“Kau akan melayaniku Tomi… memuaskan hasratku, sementara Evan akan memuaskan hasrat Selly…. jika kalian berhasil, obat itu akan menjadi milik kalian….. tapi kalau gagal…..”

“Kalian akan menjadi santapan Ted….” Selly melengkapi ucapan Lara.

‘Lepaskan dulu tubuh kamiiii……… bagaimana kami bisa menjawabbbb.. kami harus berunding duluu…’ batinku berteriak.

“Oh iya… Selly… lepaskan mereka. Mereka mau berdiskusi dulu katanya…” ucap Lara.

“Begitu? Oke….”

Selly melepaskan kendalinya pada tubuh kami.
Akhirnya, setelah hampir satu menit kesulitan bernapas, kami mampu menggerakkan tubuh kami.

“Haaaaahh… haaaaahh… haaaahh…,” aku berusaha mengatur napas. Begitupun Evan yang terlihat terengah-engah.

“Kalo kami menolak?” tanyaku.

“Ingatan kalian akan dihapus sejak beberapa hari lalu, dan akan kami tanamkan ingatan baru agar kalian merasa telah gagal mencari tempat ini..” jawab Selly.

Cukup adil bagiku. Mungkin aku akan memilih opsi tersebut jika Evan tak bersedia melayani nafsu Selly yang kelihatannya sudah menggebu.

“Oke…. aku bersedia…” kata Evan tiba-tiba.

“Hoy..hoyyy……… jangan buru-buru.. lu yakin?”

“Udah tenang aja… belom ada sejarahnya gw crot duluan sebelum lawan main….” jawab Evan enteng.

Aku mulai ragu. Selly dan Lara bukanlah manusia biasa. Mungkin saja kemampuan mereka bertahan dalam persenggamaan juga diatas rata-rata.
Terlebih jika kami gagal, kami akan mati disini.

“Jadi…. bagaimana Tomi… r u ready for me?” tanya Lara.

Glek…..

Cetakan payudaranya yang sekal, putingnya yang menonjol keras, pantatnya yang membulat sexy, kulitnya yang mulus tanpa noda, bibirnya yang tipis menggiurkan, aaaaaaaarrrghhhh…. semua itu sangat menggoda imanku.

Bahkan kalau boleh jujur. Aku siap mempertaruhkan nyawa demi bisa tidur dengan Lara.

“Bisa kuanggap itu sebagai jawaban ‘iya’..??” tanya Lara. “Kamu mau ini kan Tom….. mmmhhhh…..”
Lara meremas payudaranya sendiri dari balik kain hijau yang melilit tubuhnya. Wajahnya yang bersahaja kini mulai menunjukkan hasrat birahi yang teramat binal.

“Lihat…. mmhhhh….” Lara memilin putingnya sendiri dengan kedua tangan.
Jika diliat secara fisik, Lara seperti sebaya denganku. Namun secara usia, ahhh aku tak mau menebak-nebak sesuatu yang tak pasti.

Lara mendekat. Berjalan gemulai sambil melenggak-lenggokkan pantatnya yang bulat berisi.

“Jangan banyak berpikir Tom….. lubang di bawah sana sudah tak sabar ingin mencicipi milikmu…” Lara mendekatkan bibirnya di telingaku, dari suara yang terdengar setelah ucapanya, aku dapat menerka bawa ia baru saja menjilat bibirnya sendiri.

“Lihat Tom…. punyamu juga sudah siap……” Lara mencengkeram penisku dari balik celana.

‘WHAAAAATTTTTTTTTTTT…………… SEJAK KAPAN BERDIRIIIIIIIIIIIIIII……………’ batinku.

“O-okayyyy……….okayyyy…….. aku lakukan…..” kataku.

Entah benar atau tidak, aku dapat mendengar sekilas Evan berbisik “Yess….”

Evan kini berdiri di sisi kananku, bersama dengn Selly yang mendekatkan tubuhnya merapat ketubuh Evan. “Kau milikku sekarang…..” ucap Selly.

“As you wish babe….” balas Evan.

Lara mundur beberapa langkah menjauh dariku.
Ia memejamkan mata sejenak, lalu mengayunkan tangan beberapa kali.

‘AAAKKKUU TELANJAAAAANG??’ mataku terbelalak ketika menyadari seluruh pakaian tebal yang melekat di tubuhku menghilang.

“Woooww… besar juga punyamu Tom. Lumayan lah,” Lara berkomentar melihat penisku yang tegak menantang. Aku tak menoleh, namun dapat kudengar Evan dan Selly berjalan menjauh ke sisi kanan goa.

“Ayo Tomi….. kemarilah…….” ucap Lara seraya berjalan kesisi kiri.

Aku mengikutinya. Disana ada sebuah pembaringan yang terbuat dari batu besar yang sudah diratakan bagian atasnya. Lara menghadap pembaringan itu lalu melepaskan kain yang membalut tubuhnya. Dari arah belakang, dapat kulihat belahan pantatnya yang bulat sempurna, lekuk tubuhnya yang langsing bak seorang model.

Lara berbalik, lalu membaringkan tubuhny di atas batu itu.

Payudaranya kini membusung setinggi-tingginya. Ukurannya cukup besar, walau tak mampu kuprediksi secara rinci. Putingnya mencuat keangkasa, seakan menantang lidahku untuk bercengkerama.
Lipatan vaginanya berwarna kemerahan, layaknya vagina seorang perawan. Memandangnya saja sudah membuat penisku mulai berkedut.

‘okeee…tenanggg…tenang….. kalo ga bisa jaga nafsu gua bakal MATI….’ batinku.

“Ayo…… kemari Tomi…. puaskan aku, lalu kamu dapat apa yang kamu mau……..”

***

Evan

‘Yihaaaaaaaaa……………..hahahaha…. ngak nyangka bisa dapet hot mom…’ batinku.

Selly memang berperawakan tak seperti remaja. Namun dengan body sintal, dada besar, dan wajah yang menggoda, aku tak akan segan-segan menidurinya hingga ia memohon agar aku berenti.
Selly memintaku merebahkan diri di sebuah pembaringan yang terbut dari batu besar.

Ia mulai melepaskan pakaiannya satu persatu hingga tak sehelai benang pun menutupi tubuhnya.

“Kita lihat… apa kau mampu memuaskanku…. Evan” ucapnya.

“Haha… kita lihat… siapa yang akan memohon untuk berhenti… Selly”

Selly hanya tersenyum mendengar kata-kataku.

“Semangat yang bagus anak muda… teruslah seperti itu dan kau akan tetap hidup…”

“Ancaman yang bagus nona… teruslah seperti itu dan kau akan memohon agar aku tak melepaskan penisku dari vaginamu…”

Tanpa basa-basi lagi, aku segera menarik tubuh Selly.

Selly dengan tubuhnya yang sintal kini menindihku.

Tak butuh sebuah komando dari siapapun. Bibirnya segera kulahap dengan rakus.

“Mmmmpphhh….mmh….”racaunya disela pagutan kami.

Payudaranya yang mulai kencang kini menghimpit dadaku. Putingnya mengeras, tanda bahwa Selly telah dalam keadaan siap untuk segera ‘kuhabisi’

“Mmmmhhhh….aaahhhhhh,…………..” Selly mendesah saat aku melepaskan ciuman dari bibirnya.

Lehernya kini menjadi sasaran empuk bagi lidahku yang bergerak liar menyusuri kulitnya yang agak pucat. Sempat aku teringat bahwa Selly adalah seorang vampir. Namun setelah merasakan kehangatan nyata dari tiap jengkal tubuhnya, anggapan itu sirna.

Perlahan, dalam jilatanku yang menyusuri lehernya, aku berusaha bangkit.

Selly merangkulkan tangannya erat-erat pada leherku, sementara penisku kini berhimpitan dengan belahan pantatnya. Tubuh Selly kini kudekap erat diatas pangkuanku.
Jilatan dan ciuman yang mengeksplorasi lehernya, kini kuarahkan pada payudaranya yang membusung.

Sluuurppp…sluuurrppp…..
Aahh.. payudara yang besar memang sungguh nikmat. Aku tak kuasa menahan nafsuku untuk menghisap putingnya kuat-kuat.

“Aaaakkkhhhhh……aaakkkhhhh………” Selly melenguh.

Cairan-cairan hangat dari vaginanya mulai menempel pada penis dan selanganganku.

‘Saatnya kalian maju ke medan perang’ ucapku pada kedua tangan.

Dalam sebuah remasan kuat pada kedua bongkahan pantatnya, Selly kembali melenguh.

“Uuuuuooohhh…….. iiiyaaaahhhh……..” Jemari Selly dengan kasar menjambak rambutku.

‘Permainan yang mudah…..’ batinku.

***

Tomi

Aku mulai mendekati Lara yang telah membaringkan tubuhnya.
Tanpa sadar air liurku menetes. Lara hanya tersenyum melihatnya.
Aku sudah tak sabar lagi ingin melumat vaginanya dengan mulutku.

“Aaaaaaaaakkkhhhhhhhhhhhhhhh………….” Lara memekik saat aku mencengkeram kedua pahanya lalu membenamkan wajahku pada vaginanya. Jilatan-jilatan liar mulai menerobos pertahanan Lara.

Tak butuh waktu lama hingga vaginanya mengeluarkan aroma yang berbau khas.

Lidahku menyeruak kedalam lubang mungil itu. sempit sekali, aku tak bisa membayangkan betapa nikmatnya jika penisku dijepit oleh lubang ini.
Sluurppp…sluuurrppp…

Lidahku mulai memainkan perannya, sementara kedua telapak tanganku sudah merengkuh payudara Lara yang membusung sambil memilin putingnya yang mengeras.

“Aaaakkkhh….aaaakkhh…..” ia meracau.

Ini mudah. Tak sesulit apa yang dikatakannya. Benarkah selama ratusan tahun ini belum ada satupun yang mampu memuaskanya? Aku ragu. Tapi, kita lihat saja nanti. Bisa saja Lara hanya berpura-pura.

“Kkkyaaaaahhhhhhhh…….aaaaaaaaaaaaahhhhhhhhh……….” Lara memekik.

Klitorisnya yang kemerahan kini menjadi santapanku. Ia menggeliang, berusaha menahan gejolak yang menguasainya.
Klitorisnya kini kuhisap dengan kuat, kulumat, kugigit, dan kumainkan kasar dengan lidahku.

Vaginanya mulai mengeluarkan cairan dengan rasa yang khas. Sedikit berlemak dengan rasa gurih yang sulit disamakan dengan rasa pada umumnya. Lidahku kembali kumasukkan ke liang vaginanya. Ia melenguh pelan, mungkin sensasinya tak sedahsyat permainan dengan klitorisnya, namun semua itu berubah setelah negara… ups.. setelah kugerakkan wajahku kekiri dan kekanan.

Hidungku menyundul-nyundul ujung klitorisnya yang semakin memerah. Ia kembali menggeliat, punggung tanganku yang mendekap payudaranya dalam diam kini menerima remasan tangan Lara. Seakan ia memohon agar aku memainkan payudaranya di sela hujan birahi pada selangkangannya.

“Aaakkkhhh….akkkhhh….akkkhhhhhhhhhhhh………” Lara meracau hebat.

Namun kendati ia terlihat sangat menikmati permainan ini, belum ada tanda-tanda ia akan orgasme.

‘Hebat juga kamu Lara….. bagaimana kalau ini……..’

Aku melepaskan cengkeraman tangan kananku pada payudaranya, lalu dengan dua jari yang kudekatkan satu sama lain, aku mulai mengocok vagina Lara seraya memainkan klitorisnya dengan mulutku.

“Kyaaaaaaaaaaaaaaahhhhhhhhhhhhhhhhhhhh” Lara memekik cukup nyaring hingga membuat Evan dan Selly yang berada di sisi kanan ruangan menoleh.

***

Evan

‘Waduh…… mereka mulai menggila’ batinku.

Aku tidak boleh kalah, terlebih setelah Selly memandangku dengan senyum licik tersungging dibibirnya.

“Kau mau posisi seperti apa Selly?” tanyaku.

“Sudahlah…, jangan basa-basi Evan… cepat kau masukkan, aku sudah tidak sabar”

Kini giliranku yang tersenyum lebar.

Dengan posisi Selly yang masih dalam pangkuanku, kini kuarahkan penisku pada vaginanya. Selly menaikan posisinya sedikit.

‘Mmhhh….. hangaaaatt…’ batinku saat kepala penis ini mulai menyeruak masuk.

“Mmmmmhhhhhhhhhhhhhhhh………” Selly menggumam ketika menjatuhkan tubuhnya. Penisku kini sudah resmi berada didalam liang persenggamaan Selly.

Selly mulai bergerak.
Aku menumpukan tubuh pada kedua tanganku, dan membiarkan Selly mengambil alih permainan.

Sleppp…..sleeppp….sleppp….sleppp…..

Selly sungguh liar. Gerakan bersetubuhnya sama sekali tidak bisa dibilang amatir.
Jika aku sampai terbawa nafsu, bukan mustahil aku akan kalah dalam pertarungan ini.

“Aaakkhh…akkhh…akkkhhhh” Selly meracau.

Ia menyodorkan payudaranya mendekat kearah wajahku.

Yah… ini dia. Saat ini Selly sedang tenggelam dalam kenikmatan.

“Mmhh… kau mau aku bagaimana Selly….?” tanyaku.

“Hisaaaapppp..aaaakkkkhh…..hisap pentilku….aaakh…” ia meracau dalam tiap gerakkannya menggenjot tubuh kami.

“Seperti ini?” aku menggigit pelan putingnya.

“Aaakkhhhhh…..hisaaaaappp yang kuaatt….. seperti tadi…..”

“Ayolah Selly…. say the magic word….” kataku seraya menyeringai lebar.

‚Äč

“Aaakkhh…akkhh…akkhh…akkhhh…pleaseee……akkhh… PLEASEEE..”

“Yeah… thats what im talking about…”

Slurppp…slurrrrpp…slurrppp….
Ahhhh…. nikmatnya. Inilah yang namanya surga.

Bersetubuh dengan wanita cantik yang berusaha menggapai orgasme tanpa aku perlu bersusah payah mengeluarkan keringat untuk itu.

***

Tomi

Puas membuat Lara menggeliang dengan jemariku, aku mulai beranjak menaiki tubuh telanjang yang terbaring pasrah. Memandang raut wajahnya yang tenggelam dalam kenikmatan dengan jariku membuatku semakin penasaran. Bagaimana reaksinya jika vagina mungil ini di masuki oleh penisku yang berukuran diatas rata-rata.

Kurengkuh tubuhnya dengan kedua tanganku hingga payudaranya yang besar saling berhimpitan. Membentuk dua buah gundukan senada dengan ukuran yang sama.
Sluurppp…sluurrppp…..

Aku mulai menghisap puting Lara perlahan. Membuatnya terbuai cukup lama sebelum menuntaskan misiku membuatnya melenguh panjang.

“Aaakkkhhhh…mmmhhhh…..iyyyyaaahhhh,…..” Lara mendesah pelan.

Tangan kirinya merangkul bahuku, sementara tangan kanannya kini membelai rambutku perlahan, seperti seorang ibu menyusui anaknya.

“Lara….. ohhh……..”
Aku mencoba sedikit berkata-kata untuk membangkitkan nafsunya.

Dan berhasil. Lara kini merangkulkan kedua kakinya di pinggangku, kedua kakinya mendorong pantatku maju agar penisku segera masuk kedalam liang vaginanya.

‘No…. sabar dulu Lara…. sabar ya sayang….’ aku tau, Lara dapat membaca isi hatiku dengan jelas.

Lara hanya tersenyum, menikmati tiap kuluman pada kedua putingnya yang kuhisap bergantian.

“Mmmhh…. ayo Tom…. aku udah ngak tahan…” ucapnya.

‘Oke sayang….. terserah maumu saja….’ batinku.

Vaginanya yang telah licin sama sekali tak menjadi penjamin penisku dapat masuk dengan mudah.

Butuh perjuangan ekstra untuk itu. jika saja penisku tak cukup keras, mungkin penisku akan membengkok kesana kemari.

Sreeeettt…..

“Kyyaaaaaaaaahhhhhhhh……….” penisku yang menerobos vaginanya membuat Lara menjerit.

‘lhooo…. ada apa ini? J-jangan-jangan?’

Batinku bertanya-tanya. Munginkah Lara masih perawan. Ahh tidak mungkin, bukankah ia berkata sudah banyak orang yang mencoba membuatnya orgasme?

Aku tak ambil pusing untuk itu.

Yang jelas, aku dapat melihat ekspresi wajah Lara yang kini tenggelam dalam lautan asmara.

Sleepp…sleeppp..sleeepp…

“Ooooooohhh…. memek kamu sempit banget Laraaaa….” aku mulai meracau.

Hadeeehh…. jika aku terus tenggelam dalam tiap detik kenikmatan yang terasa di batang penisku, aku akan kalah. Aku harus mencoba bersikap biasa saja agar nafsuku tidak membeludak.

Namun harus kuakui. Vagina milik Lara adalah vagina paling nikmat yang pernah kucicipi. Jauh lebih nikmat dibanding keempat perawan yang kunodai di villa saat menggelar pesta sex bersama dengan Evan.

“Aaaaakkkkkkhhhh………akkkkkhhh…………” lenguhan dan desahan yang keluar dari bibir Lara terdengar seperti senandung kenikmatan. Menurut pengalamanku sebagai seorang expert dibidang ini, tak lama lagi Lara akan orgasme. Setidaknya begitu kuharap…

***

Evan

‘Gila ni cewe…… ngak dapet-dapet daritadi?? Lama-lama gua bisa kalah kalo begini..’ batinku.

Sepertnya Tomi mengalami problem serupa diujung sana. Desahan dan lenguhan yang keluar dari bibir Lara telah menandakan ia akan segera orgasme. Namun sepertinya Lara bertahan dengan segenap kemampuannya.

“Selly sayang….. udah bosan sama posisinya ya?” tanyaku.

“Hu-uh… ganti posisi yuk….”

Ahh…. rupanya masalah posisi. Kuharap Tomi segera menyadari problem ini.

Aku segera menarik tubuh Selly untuk berbaring diatas batu besar ini. Tanpa banyak bicara, penisku segera kumasukkan kembali dalam lubang hangat milik Selly.

“Aaaaaakkkkkkkhhhh…uuuuuuh,…… ahhh…ahhh….ahhh…ahhh”

Selly kembali meracau. Tubuhnya kini berguncang-guncang karena gerakanku.
Aku tak boleh kalah dari wanita ini. Reputasiku sebagai ahli pemuas wanita dapat tercoreng.

Apa yang akan dikatakan Tomi nanti jika aku tidak bisa membuktikan keperkasaanku. Dan yang lebih penting, apa yang akan terjadi jika aku tak bisa memuaskan Selly.

‘AKU BELOM MAU MATIIIIII………..AAARRGGHHHH………..’

Kukerahkan seluruh tenagaku untuk menghujam vaginanya.

“AAAAaaaaakkkkhh……………AAAAAAAaaaakkkkhhh………YEEEeeeessss……..AAAAAaaaaaahhhhhhh…..”

Berhasil. Selly meracau semakin liar. Yang kubutuhkan sekarang ini hanyalah ketahanan mental. Walaupun tanpa viagra, aku masih bisa tetap bertahan hingga satu atau dua jam. Yang menjadi masalah hanya mental. Aku semakin bernafsu saat melihat kedua payudara Selly yang berguncang-guncang hebat.

***

Tomi

Sudah lewat setengah jam, aku dan Evan melayani nafsu kedua wanita yang ternyata tidak kunjung menyerah. Butir-butir keringat mulai bermunculan, bagaimana ini. Penisku masih tegak berdiri, namun pinggangku seakan mau lepas.

“Lara….. boleh ganti posisi?” tanyaku.

Lara yang sedaritadi terpejam, kini membuka matanya.

“Pinggangmu sakit yah? Yaudah kita rubah posisi… aku yang diatas…” ucapnya.

Syukurlah ia mengerti. Sepertinya ia juga tak ingin menyudahi permainan hanya karena pinggangku mulai ngilu. Aku merebahkan diri diatas batu besar itu, lalu Lara menindihkan tubuhnya diatasku.
Payudaranya kini menggantung bebas. Lara meraih penisku lalu mengarahkannya kedalam liang kenikmatan itu.

Sleeepp…..

“OOOooohhhh……..” Lara melenguh.

Posisi seperti ini sangat memudahkanku untuk melakukan penetrasi maksimal.

“Mmmhhh…” tanpa sadar aku menggumam.

Lara pasti mendengar suara batinku. Saat ini, sebuah sensasi tersendiri menyelimuti anganku saat kepala penis yang menyeruak kedalam liang vagina Lara menyundul mulut rahimnya.
‘Nikmaaatt……’

Kedua payudara Lara yang berguncang kuraih dengan kedua tangan.

Remasan-remasan lembut ini mulai menghantarkan Lara menuju fantasi tak terbatas.

Lara kini menjatuhkan tubuhnya dalam pelukanku. Bibirnya yang lembut tepat berada didalam jangkauan lidahku.

Sluurpppp…..
Kujilat lembut belahan bibir Lara, dan ia balas dengan mengulum lidahku.

“Mmmhhh…mmmhhh….mmhhhh….mhhh….” racauan Lara semakin riuh terdengar. Bersahutan dengan lenguhan pelan yang keluar dari bibir Selly di ujung sana.

“Aaaaaaakkkkkhhhhh……. aku ngak kuat lagi…………aaaaahhhhhhhhhhhhh…………”

Lara tiba-tiba melepaskan kulumannya. Ia menjerit, kemudian bergerak dengan liar…. sangat liar…. bahkan penari erotis tak akan mampu menahan pesona Lara saat ini.

***

Evan

Selly yang mendengar jeritan Lara tiba-tiba berubah ganas.

Maksudku benar-benar ganas, hingga dapat diartikan seperti broetals. Kedua kakinya dilingkarkan pada pinggangku, lalu menekan pantatku untuk memasukkan penis lebih dalam. Kepalaku ditarik hingga terbenam dibelahan payudaranya. Aku nyaris tak mampu menghirup napas saat bongkahan daging kenyal itu menghimpit wajahku.

“AAAAAKKHHH….AAAAAAKKKHH…..AAAAAKKKKHHHH….”

Sedikit lagi aku akan menang. Racauan yang keluar dari bibir Selly semakin menjadi-jadi. Aku menarik wajahku untuk bernapas. Setelah itu sasaranku tertuju pada puting Selly yang mengeras kemerahan.

Ssssssluuurppp…sluuuurrpppp…..

Kuhisap puting payudaranya dengan kuat. Aku tau, dari sikapnya memohon agar aku mengulum putingnya, dapat aku simpulkan bahwa puting payudara adalah salah satu bagian paiing sensitif pada tubuh Selly.

“KKYAAAHHHH….AAAAAAHHHHHHH….AHHHHHHHH……”

Selly menjambak rambutku dengan liar. Tubuhnya bergerak seirama dengan gerakanku. Membuat penisku menyeruak semakin dalam, dan semakin dalam ke rahimnya. Penisku mulai berkedut, tak mampu menahan remasan-remasa lembut yang dilancarkan vagina milik Selly.

‘AAAAARRRGGHHH……. TAHAAAAANNNN…..’

***

Tomi

Pesona Lara dalam geliat tubuhnya membuatku melayang.

“TAHAN TOOMM…..” ucapnya.

Tak salah lagi, ia berusaha menahanku agar tak ejakulasi lebih dulu.
Kali ini bukan hanya nyawaku yang di pertaruhkan, tapi harga diriku.

‘Lara…. cepatlhh…. aku sudah ngak tahaann…’

“Aaaaakkhh…akkh…aaaakkkhhh….akkkhhhh…..” kuhujamkan tubuhku keatas dengan cepat.

Batang kejantananku kini menyeruak dalam, benar-benar dalam. Aku sudah sampai pada titik kritis dimana aku hanya dapat berdoa agar spermaku tidak lebih dulu menyembur kedalam rahimnya.

“AAAAAAAAAAAAAAAKKKKKHHHHHH………..” sebuah lenguhan panjang terdengar dari ujung ruangan.

Rupanya Evan telah memenangkan pertarungan. Dia berhasil, sementara aku masih larut dalam pergumulan yang entah dimana ujungnya. Payudara Lara yang bergelayutan, kini menampar-nampar wajahku.

‘Lembuuuutttt….ooohh…..’ batinku.

“AAAKKHH…..AAAAAAKKKKKKHHH…..” Lara kembali meracau.

Ohhhh tuhan, surgamu sungguh indah. Aku memejamkan mata. Berusaha menahan tiap gelolak yang bermuara di ujung penisku. Tinggal sedikit lagi, sebentar saja aku bertahan dan permainan ini akan berakhir dengan kemenangan di pihak kami.

“Aaaaaaakkhh……..AAAAAAAAAAAAAAAAAAAHHHHHHH………”

Lara menjerit. Lenguhan panjang telah meluncur dari sela bibir tipisnya.
Remasan kuat dinding vaginanya begitu terasa saat penisku merasakan cairan hangat tercurah.

“Hhhhaaaahh…AAAAAAHHH……AAAAHHHHHHH” penantianku berakhir.

Beberapa juta sel sperma telah memenuhi rahim Lara dalam beberapa semprotan.
Belum pernah aku merasakan ejakulasi yang begitu kuat. Seluruh tubuhku menegang tanpa kecuali. Lutut dan pinggangku sudah hampir lepas dari persediannya, namun semua itu terbayar. Dengan kepuasan, dan janji Lara memberikan obat untuk menyembuhkan ibuku.

~Bersambung~