Petualanganku Part 8

PrologPart 1Part 2Part 3Part 4
Part 5Part 6Part 7Part 8Part 9
Part 10Tamat

Cerita Sex Dewasa Petualanganku Part 8 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya : Cerita Sex Dewasa Petualanganku Part 7

Deg….Deg….Deg….

Jantungku berdebar kian cepat. Jika bertahan dalam kondisi mental tertekan seperti ini hingga beberapa jam kedepan, mungkin aku akan terkena serangan jantung.

‘Huff……. tenang Evan…. tenang…. lu bawa senjata,’ batinku berusaha menenangkan diri.

Mungkin ketakutanku terlalu berlebihan. Jika ada cahaya di dalam sana, pastilah itu manusia. Belum pernah sekalipun bahkan dalam legenda aku mendengar adanya makhluk buas yang mampu menyalakan api. Oke, kecuali naga dan phoenix tentunya.

“Apa sih yang lu takutin…?” Tomi menyingkirkan tanganku yang mencengkeram erat lengannya.

“Hehehe…..,” aku hanya membalas ucapan sebalnya dengan senyum yang memperlihatkan barisan gigiku.

Kami berjalan mendekati pintu gubuk yang hampir seluruhnya tersusun dari kayu-kayu yang ditata dengan cermat hingga berdiri tanpa menggunakan paku. Seperti sebuah candi.

Tok…tok…tok…

Tomi mengetuk pintu gubuk itu.
Aku tak yakin bahwa cara kami mengetuk pintu relevan dengan kebiasaan ‘makhluk’ yang ada di dalam. Kami hanya mengikuti kebiasaan dan norma yang berlaku di Indonesia agar tetap sopan, atau setidaknya menunjukkan bahwa kami ada di luar dan berniat untuk masuk.

“Halooo…..,” Tomi mengucapkan sepatah kata pertama.

“…………………………………..,” hening, tak ada jawaban.

Yang kami lihat hanyalah cahaya temaram yang bergerak di dalam sana. Seperti sebuah lampion yang dibawa oleh seseorang mendekat ke arah pintu.
kriiieeekkkkkk…………..

Aku menahan napas ketika pintu itu mulai terbuka pelan, membuat tali akar yang menyangga pintu kayu itu berderit. Kami mundur beberapa langkah kebelakang untuk berjaga-jaga jika saja ada sebuah pentungan kayu yang tiba-tiba melesat ke kepala kami karena sang empunya gubuk salah mengira bahwa kami adalah pencuri atau semacamnya. Pencuri mana yang akan mengetuk pintu? Dasar bodoh.

“Ha-halooo…..,” suara Tomi mulai terdengar gugup.

Kendati pintu itu telah terbuka lebar. Namun tak terlihat sosok yang membukakan pintu untuk kami.
Glek…

Dapat kudengar sayup-sayup. Tomi menelan ludahnya sendiri sebelum kembali melangkah mendekati gubuk itu.

Aku mengikutinya dari arah belakang, sambil sesekali aku menoleh ke kanan dan ke kiri. Mengamati lingkungan sekitar, berjaga-jaga jika makhluk yang kami kejar bersembunyi dalam gelapnya malam.
Tomi melongokkan kepalanya ke dalam gubuk, tanpa melangkahkan kakinya ke dalam.

Aku berhenti dan membelakangi Tomi. Mataku masih terpicing, berusaha menangkap bayangan sekecil apapun yang bergerak, namun aku tak menemukan apa-apa.

“Nggak ada orang di dalem… aneh….”

“Hah?,” sahutku, “jelas-jelas tadi cahayanya gerak…,” aku menoleh, lalu menghampiri Tomi yang sudah berada di dalam gubuk.

Sebuah lilin menyala redup di atas nampan kecil yang tergeletak di atas sebuah meja. Apinya bergerak ke kanan dan ke kiri, membuat bayangan tubuh kami yang tercetak di dinding ikut bergerak.

“Aneh…,” Tomi menggumam.

Kami melangkah semakin ke dalam dan mengamati tiap sudut ruangan itu.
Gubuk itu tak seberapa besar. Mungkin ukurannya sekitar 5 x 8 meter menurutku. Membentuk sebuah persegi panjang yang…..

“Ahh…,” aku tiba-tiba teringat sesuatu.

“Kenapa lu?”

“Gua ngerti sekarang. Gubuk ini masuk ke dalem tebing..” ucapku.

“Masuk? Masuk gimana si?”

“Lu ga inget ukurannya? Dari luar gubuk ini keliatan kecil banget…”

Tomi terdiam sesaat. Berusaha mengingat sesuatu tentang pemandangan gubuk dari arah luar.

“Yah…, panjangnya beda.”

“See?” ucapku meyakinkan, “dari luar kita kira lima meter panjangnya, tapi ternyata lebarnya yang lima meter, artinya…”

“Ada sesuatu di ujung sana….”

Di ujung ruangan, kami menemukan sebuah tangga batu yang mengarah ke bawah.
Lilin kecil yang kami temukan di pintu masuk tergenggam di tangan Tomi, sementara aku menyalakan senter dari powerbank yang lain.

Licin…. kami harus hati-hati menuruni anak tangga ini jika tak ingin terpeleset dan jatuh berguling-guling ke bawah sana, ke lorong gelap yang tidak kami ketahui di mana ujungnya.

“Tom…, Toomii…, ada apa di sana broo…. heloooo…..” aku berusaha berbicara dengan nada biasa, menyamarkan ketakutanku karena ujung anak tangga ini sudah terlihat. Di ujung sana, kami dapat melihat dengan jelas ada cahaya.

Namun bukan cahaya temaram seperti lilin. Cahaya itu nampak sangat berbeda, nyaris sama dengan terangnya cahaya matahari menyilaukan yang akan kau dapati ketika berdiri di tengah padang rumput pada sore hari.

Tiba-tiba, sebuah suara terdengar ketika kami menapaki anak tangga keempat paling bawah.

“Selamat datang….”

D-dia….. bicara…. bahasa Indonesiaaaaa???????????

Aku berani bersumpah, baru kali ini aku mengerti perkataan orang lain selain Tomi dan Selly tentunya. Bahasa Nepal sungguh membuatku seperti orang tuli dan bisu.
Suara itu, wanita. Merdu dan bersahaja. Aku dan Tomi masih terdiam tanpa menjawab panggilan itu.

“Kenapa diam di sana? Ayo cepat, errrr… ke sini.” kata suara itu lagi.

“S-siapa disana…..” hardikku.

Powerbank khusus dengan dua buah kawat tembaga kuacungkan ke depan seraya mundur selangkah menaiki anak tangga.

“Jangan bertindak bodoh, singkirkan benda itu….”

Kali ini, sebuah suara dari atas anak tangga terdengar. Suara seorang wanita.

Refleks, aku mengarahkan powerbank yang menyala sebagai senter ke arah atas.
Selly berdiri di sana dengan raut wajah santai namun disertai sorot mata tajam.

“S-Selly, kau…,” Tomi terbata-bata.

“Yah…, aku bisa bicara bahasa Indonesia, sempat tinggal beberapa lama di sana untuk melarikan diri…” jawabnya. “Turunlah…, apa yang kau cari ada di bawah…,” ucapnya lagi.

“Apa maksud dari semua ini…, kenapa kau menggiring kami ke sini? Jelaskan…,” Tomi mulai kesal. Nada bicaranya mulai meninggi. Sementara aku, hanya terdiam tanpa suara di tengah kebingungan yang melanda.

“Menjelaskan? Di tangga? Kau bercanda? Cepat turun, jangan sampai aku memanggil Cerberus untuk memaksamu.”

“Cerberus? Makanan apa itu?” ucap Tomi.

Mungkin Tomi dapat bertanya seenteng itu jika belum pernah mendengar apa itu Cerberus. Namun aku, bahkan tak bisa berbicara apa-apa.

Seingatku, Cerberus adalah nama anjing penjaga neraka dalam mitos. Binatang peliharaan hades yang akan menggigit siapapun yang berusaha lari dari neraka hingga mati.
Jika reputasi nama Cerberus begitu mengerikan, maka aku kini benar-benar gugup. Mahkluk seperti apa yang kira-kira akan kami temui di bawah sana.

“Ggrrrrrrr….”

Sementara kami berdebat, sebuah geraman terdengar dari arah ruangan bercahaya di ujung anak tangga.

“Cerberus stop…, jangan kasar sama tamu…,” suara wanita di ujung sana kembali terdengar.

“Lihat? Tidak ada gunanya kalian berdebat denganku. Cepat turun, dan kita mulai berbincang-bincang.”

***

Tomi

Aku mulai tak mengerti arah pembicaraan ini. Mungkinkah Selly punya keterlibatan dengan sang ‘Immortal yang kami cari-cari? Atau mungkinkah ia sang ‘Immortal’

“Ya…, akulah yang kalian cari, sekarang cepat turun. Aku tidak ingin memperingatkan kalian berulang-ulang. Jika kalian tidak menurut, maka Cerberus akan dengan senang hati menyantap kalian sebagai sarapan,” Selly berkata dengan nada dingin yang sama dari atas sana.

“Tom…, jangan keras kepala, kita ikutin aja mau dia…,” kata Evan.

“Oke….”

Ragu… yah, itulah yang kini menggelayut mesra pada hatiku.
Sebuah perasaan was-was tentang apa yang mungkin kami lihat di bawah sana.

Cahaya yang memancar dari ujung lorong, kini jatuh di betisku, naik perlahan ke paha, perut, dada, dan akhirnya mendarat di wajahku. Aku terpaksa memicingkan mata, berusaha menyesuaikan pandangan dari keadaan cahaya yang kontras.

Hangat…. hanya itu kata pertama yang kupikirkan begitu memasukinya.

Ruangan itu seperti gua yang sangat besar, dengan puluhan bunga teratai putih yang bersinar menerangi ruangan dengan cahayanya. Bunga teratai putih itulah yang memancarkan kehangatan.
Perlahan-lahan, dibalik cahaya menyilaukan, aku dapat melihat sosok wanita yang sempat berbicara.

Di sampingnya berdiri sesosok, ehem…, anjing, tapi ukurannya seperti beruang kutub. Warna bulunya putih pucat dengan ekor yang cukup panjang, moncongnya panjang dengan telinga runcing yang mengarah ke atas. Jika kau melihat makhluk seperti ini berkeliaran di hutan, mungkin kau akan menyangka makhluk ini adalah serigala jadi-jadian.

“Ggrrrr…….” Cerberus kembali menggeram. Memamerkan deretan gigi-giginya yang runcing dengan liur yang menetes-netes.

“Cerberus stop. Aku nggak suka kalo kamu mulai seperti itu..” sesosok wanita cantik dengan kain hijau membalut tubuhnya kembali berkata pada anjing besar itu.

Seakan mengerti, anjing itu berhenti menggeram. Ia merebahkan diri di lantai gua lalu menutup matanya.

“Anak pintar…,” wanita itu mengusap bulu halus yang tumbuh di kepala anjing itu.

“Jadi…?” wanita itu bertanya.

“Mereka yang kuceritakan, datang untuk mencariku” Selly berkata seraya berjalan melewati aku dan Evan yang masih berdiri canggung, “yang itu namanya Tomi…, yang itu namanya Evan….”

“Oke stop….. giliranku bertanya. Siapa kalian sebenarnya?” ucapku.

“Kan sudah kubilang namaku Selly, dan ini… ehem… susah dijelaskan.”

“Jadi… kalian benar dari Indonesia?” tanya wanita itu.

Wanita itu benar-benar… uhhhh, bagaimana yah aku menggambarkannya.

Anggun, menawan, sexy, wajahnya ramah, tutur katanya sopan, dan…, dan…, putingnya tercetak menonjol dibalik kain hijau yang membalut tubuhnya.

‘Aaarrrgggggggghhhhhhhh……………….’

Stop, cukup, jangan berpikir yang aneh-aneh. Sekarang ini situasi kami sedang dalam keadaan yang tidak biasa.

“Yah… kami datang dari Indonesia,” jawabku singkat.

“Berarti, kalian pasti pernah mendengar namaku walau hanya sekali,” ucapnya lagi.

“Oke stop…,” Evan angkat bicara, “tolong jangan basa-basi lagi Miss. Kami sedang dalam fase kebingungan yang tak berdasar namun sangat beralasan. Di depan kami sekarang berdiri dua orang wanita asing dan seekor anjing yang….”

Belum sempat Evan menyelesaikan kata-katanya pertanyaan itu sudah dijawab.

“Dan…, siapa yang kau sebut anjing?” Cerberus berbicara.

“Kyaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa………………..” aku memekik.

“An-anjingnya…, anjingnya ngomong….” Evan menimpalinya.

“Anak muda tak tau sopan santun…” ucap Cerberus lagi.

Aku tak bisa lagi berkata-kata. Semua ini sungguh diluar nalar dan logika. Tak dapat dipercaya.

“Hus…, sudah kamu diam saja Cerberus…,” wanita itu kembali berbicara, “perkenalkan namaku, ehem… mungkin lebih baik di panggil Lara…,” ucapnya.

“Lara? Aku belum pernah dengar?” jawabku.

“Yang kalian kenal pastilah namaku yang satu lagi….” ucapnya “Nyi… Roro… Kidul….” Aku dan Evan terdiam. entah harus berkata apa.

Kami saling berpandangan sejenak, lalu kembali menoleh ke arah wanita bernama ‘Lara’ yang berdiri di sisi Selly dan Cerberus.

“Hahahahaha…. pasti bercanda kan? Iya kan?” Evan tiba-tiba tertawa.

“Dia tidak bercanda…, dasar anak muda tak tau sopan santun…, Namanya Lara Kadita” Oke…. aku mulai gugup sekarang.

Jika saja wanita ini benar-benar sang Nyi Roro Kidul dalam legenda, maka bisa saja ia menyihir kami menjadi kodok, atau mencincang kami menjadi potongan daging kecil-kecil untuk diumpankan pada Cerberus.

“Jangan takut begitu…,” ucap Lara, “tak ada gunanya kalian menyembunyikan pikiran dariku. Aku bisa membaca semua yang kalian pikirkan…, termasuk bagian mesum tadi…,” lanjutnya.

‘Ups……. sorry, ini karena aku pria normal’ batinku.

“Jadi…, kamu mau cari obat untuk ibumu?” tanya Lara.

“Ya…,” jawabku tegas.

“Apa dia tidak berbohong Nyai?” tanya Selly.

‘Nyai??? Apakah itu sebutannya di sini?’ batinku

“Ya, dia nggak bohong kok…. Oh iya, jangan panggil aku nyai. Seolah-olah aku ini tua sekali ya.” ucap Lara.

“Huh… kukira dia seperti mereka,” Selly melayangkan pandangannya ke salah satu sudut gua.

‚Äč

Di sana mataku menemukan puluhan tengkorak manusia yang dijajarkan rapi.

“I-itu….” Evan terbata-bata.

“Mereka makananku, dan kalian akan menemukan nasib serupa jika tak bersikap dengan sopan….”

“Sudahlah Ted, kau bisa pulang sekarang… ada yang harus kami lakukan,” kata Selly.

“Lakukan? Maksudmu itu? hahahaha jangan bercanda Selly….”

‘Ted???? Ted yang itu???????’ batinku kembali bertanya-tanya. Sungguh sebuah kenyataan yang membingungkan dan serba kebetulan. Namun seseorang pernah berkata.

“di dunia ini tak ada kebetulan, yang ada hanyalah keharusan yang tak terelakkan” (Cristian D Ambaraksa / Silent Rose).

“Oke…, oke…, aku pergi, lakukan apa yang ingin kalian lakukan. Jika mereka macam-macam, akan kuhabisi mereka di hutan,” ucap Cerberus.

Sosok Ted yang sebagai anjing raksasa berjalan melewati kami, menuju lorong dengan anak tangga yang kami lalui, dan menghilang di sana. Dugaanku ia menunggu kami di luar gubuk, seraya berjaga-jaga jika ada yang datang.

“Mereka semua adalah para pencari keabadian,” kata Selly, “Lara sudah muak dengan ini semua, betul kan?”

“Itu betul,” ucap Lara,

“jika kalian mencari kehidupan abadi di sini, maka kalian tidak akan mendapatkan apa-apa,” pandangan matanya yang teduh berubah tajam. Seolah berusaha membaca jalan pikiran kami yang sebenarnya.

“Mereka memaksa dengan cara yang kasar, hingga kami terpaksa mempersilahkan Cerberus untuk makan,” ucap Lara lagi,

“tapi kalau obat yang kalian cari, aku bisa berikan,” Lara kini mengambil posisi duduk di sebuah batu besar.

“Benarkah?” tanyaku.

“Tentu saja, tidak sulit. Penyakit apapun akan sembuh. Bahkan tangan yang sudah putus akan tumbuh kembali.”

“Persis, sama seperti yang tertulis di buku,” Evan menimpali

“Hah? Buku? Di mana buku itu? Berikan!” Selly bergerak mendekati kami.

“Ehh…, ehh…, ada apa ini? Buku itu dibawa Tomi,” Evan menunjuk kearahku.

Lara menggelengkan kepala, “itulah penyebabnya. Buku itulah yang membawa mereka semua kemari, haduh….”

“Berikan cepaaaaaaaatt…,” Selly meraung lalu mengulurkan tangannya.

“I-iya-iya… tapi ini ada apa sih?” aku meletakkan tas di lantai, merogohkan tangan ke dalamnya, lalu mengeluarkan buku lusuh yang dimaksud.

Srett….
Selly mengambil buku itu dari tanganku dengan cepat.

“Aaaahhh, akhirnya…. Masalah selesai…. Muach-muach,” wajah Selly kembali riang, diciumnya buku lusuh itu beberapa kali seakan buku itu sangat berharga baginya,

“nahh sekarang….”

Brekk..brekk….breeeeeeeekk……….

Kertas-kertas lapuk yang menyusun buku itu di robek dengan mudahnya oleh Selly. Potongan kertas berwarna kuning kini berjatuhan di lantai gua.

“Ehhh…, jangan seenaknya dong,” ucapku.

“Seenaknya apa? Aku punya hak untuk melakukan apapun terhadap buku itu….” Selly membalas ucapanku dengan berapi-api.

“Sudahlah Tom…. biarkan, lagi pula buku itu memang milik Selly,” kata Lara.

“Ap-apa?” pandanganku yang sempat teralih pada Lara, kini kembali tertuju pada Selly yang masih bersungut kesal karena perkataanku.

“Aku yang menulisnya…. Aku tak pernah menjualnya, buku itu dicuri, jadi aku masih seorang pemilik yang sah,” ucapnya, “akulah sang manusia abadi yang kalian cari, tapi keabadian itu bukan berkat ramuan milik Lara.”

“L-lalu ted?” tanyaku

“Ted adalah budakku…, dia begitu bodoh jika sedang berubah menjadi manusia, mungkin seperti kepribadian ganda”

“Selly… sudah-sudah….” Lara berusaha menengahi perdebatan ini.

“Dan kalau kalian masih penasaran, akulah Count St.Germain, Ted sudah ikut bersamaku selama hampir 800 tahun sampai saat ini….”

“Selly cukup….”

“Apa pernah aku minum teh bersama kalian di pondok milikku? Atau kalian pernah melihat aku minum selama dalam perjalanan?”

“SELLYYYYYYY….”

“……………………………………….”

Karisma seorang Lara sungguh mampu membuat Selly menghentikan racauannya. Sungguh wanita yang sempurna.

“T-tapi….. Count St.Germain itu pria….. k-kalau begitu? Kau transgender???” tanyaku

“Dasar bodoh, memangnya kalian tidak pernah mendengar yang namanya penyamaran?”

“Tom…, cukup,” kali ini Evan yang berbicara. “kita fokus aja sama tujuan kita.”

“…………………” aku terdiam sejenak. Mencoba merangkai semua kejadian ini menjadi satu.

“Okay,” jawabku singkat, “jika kau mendapatkan kehidupan abadi bukan dari Lara, lantas kenapa semua legenda mengatakan tentang obat untuk hidup abadi,” tanyaku.

“Bukan obatnya yang salah, akulah yang bersalah,” ucap Selly. Kali ini Lara tak lagi menghentikan Selly untuk bercerita.

“Aku adalah Vampir, jadi hidup abadi sudah merupakan takdirku,” lanjut Selly,

“tapi aku pernah terluka parah, sangat parah hingga aku mempertanyakan keabadianku sendiri.”

“Lalu aku datang kepada Lara, memohon padanya untuk mengobati luka di tubuhku,” Shelly melanjutkan, “belum pernah ada obat yang bisa mengobati vampir, karena struktur sel kami berbeda dengan manusia. Hanya obat milik Lara yang berlaku universal, dan obat itulah yang mengembalikan keabadianku.”

Jadi begitu rupanya.

Semua orang salah mengira tentang obat abadi, karena peminumnya memang sudah abadi sejak awal.

“jadi, kalian masih mau obatnya?” ucapan Lara membuyarkan kesunyianku.

“I-iya Nyai…,” jawabku.

“Gggrrrrrrrrrrr, jangan PANGGIL aku NYAAAIII………..” Lara bangkit, dari tubuhnya dapat kurasakan sebuah aura memancar kuat, suaranya melengking tinggi dan menggema di seluruh gua.

“Ehh…,i-iya deh…, Ra… Lara… iya…, Lara…,” ucapku terbata-bata. Bukan main aku dibuat gugup oleh apa yang barusan ia lakukan.

“Nah, begitu lebih baik…. jadi….” Lara kembali duduk di atas sebuah batu besar. “kalian siap dengan syaratnya?” tanya Lara.

“S-syarat??” kali ini Evan yang terbata-bata,

“bukan menyerahkan salah satu dari kami sebagai tumbal kan?”

Hahaha…. pikiran bodoh.
Untuk apa mereka membutuhkan tumbal.

“Ohhh tentu tidak…,” ucap Lara.

Tuh… benar kan?

“Tidak salah satu…. Melainkan kalian berdua…,” Selly menyahut.

Ehh??????????

Warna kulit wajahku berubah pucat, seolah darah telah pergi meninggalkan pembuluh-pembuluh di sana. Rasa ngeri mendadak menjalari sekujur tubuhku akibat ucapan Selly barusan. Ini tidak bagus, apa gunanya obat itu jika kami harus mati di sini.

“A-apa…, maksudnya ini?” tanyaku. Saat ini Evan hanya terdiam, berharap kata-kata Lara hanyalah sebuah guyonan.

“Selly…, kau tau harus apa kan?”

“Baik…,” Selly membungkukkan badan sejenak, lalu berjalan santai ke arah kami berdua.
Mata Selly berubah menjadi merah seperti darah. Saat mata kami bertemu, tubuhku benar-benar kaku. Tak dapat bergerak, apalagi berusaha memberontak dan kabur.

“Kamu mau yang mana Selly?” tanya Lara.

“Hmmm…, yang ini saja…, sepertinya lebih menarik…,” saat Selly berbicara, aku dapat melihat sorot matanya yang seakan kelaparan. Ia berdiri di hadapan Evan.

Bersambung