Petualanganku Part 7

PrologPart 1Part 2Part 3Part 4
Part 5Part 6Part 7Part 8Part 9
Part 10Tamat

Cerita Sex Dewasa Petualanganku Part 7 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya : Cerita Sex Dewasa Petualanganku Part 6

Day 4…. Mysterious

Evan

Tenda dan kantung tidur telah terlipat rapi dan kami ikatkan dibagian belakang tas gunung yang kembali bertengger dibahu kami. Jam tanganku menunjukkan pukul 00:43.
Api unggun yang sempat menyala telah padam. Menyisakan abu berwarna putih diantara arang yang tetap menghitam.

Apa yang aneh dari tempat ini? Mungkin itu pertanyaan kalian, dan akan kuberikan jawabannya.

Desa nagarkot terletak di keringgian lebih dari 2000 meter diatas permukaan laut. Mungkin jika berada di dalam penginapan, kau tidak akan merasakan perbedaan yang signifikan pada suhu yang terus merosot tajam.

Namun, aku sudah pernah merasakan suhu seperti apa yang terjadi pada malam sebelumnya.
Malam dimana Selly menghilang. Meninggalkan aku dan Tomi berdua tanpa arah.
Malam itu, salju turun sedikit demi sedikit, menyisakan lapisan setebal dua sentimeter diatas tenda kami.

Tapi disini….. salju sama sekali tidak turun.
Aku sempat tak menyadarinya, mungkin karena aku terlalu fokus dengan e-book yang kubaca.
Suhu disini juga tidak sedingin di tempat terakhir kali kami mendirikan tenda. Disini, jauh lebih hangat. Mungkin suhu disini hanya berkisar di angka 5 sampai 6 derajat celcius. Jauh diluar ekspektasi kami yang mengira suhu akan merosot hingga dua digit dibawah nol.

Jadi…. menurut lo ada apa disini? tanya Tomi.
Terlalu banyak kemungkinan. Terlalu banyak celah…., bodohnya gua ngak sadar bahwa pepohonan disini terlalu hijau buat lingkungan keras…
Apa aja kemungkinannya?
Magma? Anomali suhu? Atau mata air panas? Gua ngak bisa mastiin, kita cuma bisa nebak-nebak sekarang….

Ini gila… jika benar tempat seperti ini benar-benar ada di nepal. Pastilah sudah menjadi topik pembicaraan hangat di seantero jagat. Tapi ini tidak, aku benar-benar terpana oleh kenyataan yang berada dibawah telapak kakiku.

Masa sih ngak ada orang yang pernah kesini, trus nyeritain kalo ada tanah yang anomali cuacanya aneh… aku mencoba mengutarakan opini.
Mungkin pernah…. atau….

Atau apaan? Mereka ga pernah kembali maksud lo? Hahaha… jangan parno gitu ah, udah gede… malu sama selangkangan…
Yah….segala kemungkinan bisa terjadi kan, lagian, masih lebih masuk akal kemungkinan itu dibanding manusia abadi yang mungkin hidup… Tomi mengucapkan kata mungkin dengan tekanan berbeda.
Ya…. bener sih…. mungkin aja….

Srekk……
Semak-semak di seberang sungai bergerak.
Sepertinya ada sesosok makhluk yang….. ahhh sudahlah. Mungkin saja cuma Kelinci salju, Musang, atau Lynx.

Van…. lo punya berapa biji powerbank kaya kemaren sore? Tomi bertanya dengan nada datar yang dalam tanpa memalingkan pandangan dari semak yang sempat bergoyang.
Cuma satu…. jawabku.
Keluarin….. siap-siap lu pake kalo ada apa-apa…

Glekk…. aku menelan ludah.
Kalau aku mencari saat yang tepat untuk takut, mungkin inilah saatnya.
Tomi selalu memiliki intuisi yang tajam, ia hampir selalu tepat menilai sebuah keadaan.
Dan keadaan seperti inilah yang kuharapkan tak pernah datang.

T-tom…. lu ngak mikir ada sesuatu kan disitu
Sesuatu sih ngak… jawabnya. tapi……

Sreekkkkkkk………….srekk..sreekk..srekk….
Suara di semak-semak itu kembali terdengar, kali ini lebih keras dan dilanjutkan dengan suara gemerisik dedaunan yang terdengar berulang-ulang.

KEJAAARRR…….. Tomi meraih tas gunung kami, lalu menceburkan kakinya melewati sungai yang tak seberapa dalam.
Aku menyambar tas yang satunya lalu bergegas mengikutin Tomi yang sudah berada di tengah sungai.

Deg…deg…deg…
Jantungku berdebar. Adrenalin dalam diriku membuat aliran darah semakin deras.
Hawa dingin air sungai yang menusuk tak mampu menghentikan langkahku sekarang. Custom powerbank sudah tergenggam erat di tanganku. Dua buah kawat tembaga yang disusun seperti tangga yakub kembali kusematkan pada powerbank itu. benda kecil namun mengerikan ini terinspirasi dari sebuah senjata pada film MIB berjuluk noisy cricket.

Crazz….crasssss….
Langkah kaki kami membelah aliran sungai yang beriak.
Tomi telah sampai lebih dulu di daratan seberang, sementara aku masih berkutat dengan bebatuan licin yang menghambat.

Tooomm… tungguin guaa.. aku berteriak, berharap Tomi menghentikan langkahnya sejenak.
Entah bodoh atau kelewat idiot. Tomi tetap menerobos semak-semak yang entah ada apa di dalamnya.

Cahaya bulan yang temaram sedikit melawan kegelapan malam. Namun sepertinya tak akan banyak membantu bila kami telah masuk kedalam hutan di seberang sana.

Sreeekkk…sreeekk….sreeekk…
Suara semak-semak yang terbelah itu semakin menjauh. Seakan bergerak dengan kecepatan diluar kemampuan manusia.

Woy cepetaaaannnn… Tomi menoleh sejenak. Mungkin ia juga menyadari bahwa sesuatu disana bergerak jauh lebih cepat dari kami, terlebih karena beban tas gunung yang cukup berat.

Dengan susah payah, aku berhasil mencapai tepi daratan seberang.
Aku segera melangkahkan kakiku, menghiraukan pundakku yang mulai ngilu, menghiraukan mataku yang belum terbebas dari kantuk sepenuhnya.

Tomi mengulurkan tangan membantuku bangkit.
Lama banget sih… kabur kan… ia mendengus kesal.
Heh tolol….. lu ga liat dia gerakannya cepet banget… jangan gegabah deh, instinglu kadang-kadang bawa perkara… iya kalo itu manusia, kalo bukan?

Aku menerima uluran tangan Tomi yang menarikku untuk segera bangkit.
Tomi tak menyanggah opiniku tentang makhluk itu. semoga saja ia berpikiran sama.

Yah…. seenggaknya kita tau ada sesuatu disini… ucapnya.
Tomi memalingkan wajah dariku. Matanya menerawang kedalam lebatnya pepohonan di depan sana.

Kita ikutin jejaknya… tapi inget, lu jangan jauh-jauh… cuma gua yang pegang senjata ucapku yang dijawab tomi dengan dua kali anggukan kepala.

***

Perlahan tapi pasti. Kami menyusuri jejak makhluk misterius yang bahkan tak menampakkan dirinya.
Ranting-ranting yang membengkok dan patah menuntun jalan kami. Menyusuri pepohonan, semak belukar, dan lantai hutan yang sedikit berlumpur karena udara yang lembab.

‚Äč

Gelap……
Yang dapat kulihat hanyalah siluet pepohonan yang menghitam tanpa cahaya.

Sosok makhluk misterius itu tak terlihat lagi.
Ahh… mengapa aku jadi takut, seakan makhluk itu adalah Yeti dalam legenda.

Yeti, yang banyak disamakan dengan kemunculan sosok Bigfoot adalah legenda pegunungan himalaya. Sesosok makhluk yang berjalan dengan dua kaki, perawakan tinggi besar seperti beruang, namun dengan bulu berwarna putih pucat. Mengapa aku harus takut dengan makhluk seperti itu? padahal kan aku punya senjata.

Yahh…. yang membuatku sangat takut saat ini, adalah kenyataan yang tertulis pada legenda Yeti, yang mengatakan bahwa makhluk itu memangsa manusia.

Deg…..Deg…..Deg…..
Detak jantungku semakin menguat seiring dengan langkah kaki kami yang semakin jauh menerobos kedalam hutan. Semakin dekat kepada makhluk itu, semakin dekat dengan kemungkinan kami terbunuh.

Oy…. ngomong-ngomong kenapa kita ngikutin makhluk itu sih? tanyaku. bisa aja kan kalo makhluk itu ternyata……
Yeti? Yah…. gua paham betul apa yang bakal nyangkut di otak lu.. jawab Tomi.

Terus? tanyaku.

Terus kita mau nyari ke tempat yang ngak jelas lagi? Tomi balik bertanya. oke ini dugaan ngak berdasar. Lu boleh ketawa sesuka lu, tapi mungkin aja kan? Makhluk yang lo sangka Yeti itu adalah piaraan si Immortal atau bahkan si Immortal sendiri

Hell… yeah. Mungkin dia benar.
Setelah aku mengingat-ingat kembali cerita tentang Count St. Germain, aku maklum kenapa Tomi berpikir seperti itu.

Secara empiris dan sains, semakin kau melatih tubuhmu, maka kemampuannya akan semakin meningkat. Jadi? Seperti apa kira-kira kemampuan fisik seseorang yang tidak bertambah tua, yang seluruh organnya masih bertahan muda, dan telah hidup selama lebih dari 200 tahun untuk menempa kemampuan fisik? Aku tidak mau membayangkannya.
:groa:

Yah…. lu bener…. jawabku. Wajahku masih tertunduk. Mengamati tanah berlumpur yang kupijak dibawah sol sepatuku saat aku melangkah dan tiba-tiba, langkahku terhenti ketika lengan Tomi membentur dadaku.

Sssssttt……………. nunduk… ucap Tomi berbisik.

Refleks, mungkin itulah yang terjadi pada tubuhku yang serta merta menuruti perkataan Tomi.

Aku berjongkok, berlindung di balik bayang-bayang sebuah pohon pinus yang tingginya kurang lebih 20 meter. Menjulang dilangit hutan bersama puluhan pohon pinus berukuran serupa.

Aku hanya terdiam, tak mau berkomentar ketika Tomi mengamati sesuatu di depan sana dengan kepalanya yang menyembul diantara semak-semak.
Tomi terdiam cukup lama. Yang terdengar hanya hembusan napas kami dalam hutan yang sunyi tanpa suara serangga.

Sstt…….. liat disana Tomi berbisik.
Aku menanggapi ucapannya dengan melongokkan kepala di balik batang pohon.

Disana….
Ada sebuah gubuk tua yang bertengger dibawah tebing batu yang sangat curam. Ukurannya sekitar 5×2 meter.
Tak ada siapapun atau apapun disana. Namun jelas, bahwa makhluk yang kami kejar berlari ke arah sini.

Ayo kesana…. Tomi kini bangkit.
Sementara Tomi mengucapkan kata-kata itu dengan wajah yang percaya diri. Aku yang memegang sebuah senjata justru menatapnya dengan pandangan penuh keraguan. Jika ada cermin, mungkin aku akan dapat melihat raut wajahku sendiri yang memberikan kesan pengecut.

Ohh… come on scoob, i have scooby snack for you…
Taeeekk…. ngeledek aja luh jing… aku membalas perkataan Tomi yang seakan merendahkan martabatku sebagai lelaki sejati. Walaupun memang ku akui aku sangat takut saat ini.

Hahaha…. udah si, kan lu pegang senjata…
Iye-iyee…. bawel banget..

Aku mengikutinya berdiri.
Dengan senjata yang kugenggam erat, aku masih tak berani melangkahkan kaki lebih dahulu.
Tomi mulai berjalan di depan, aku mengikutinya setengah meter di belakang sambil mengawasi jika ada makhluk mengerikan yang tiba-tiba melompat keluar dari balik semak-semak. Mengawasi bila….

Dugggg………
Yah tololnya aku tidak mengawasi bila seandainya Tomi berhenti berjalan.

Monyong…. ngapain lu berenti tiba-tiba aku mendengus kesal.
Tomi tidak menjawab. Pandangannya kini terpaku lurus kearah gubug tua, reot, lapuk, dan berjamur yang ada di hadapannya.

Ada seseorang didalam…. ucapnya.
T-t-tau d-dari mana l-lu….

Aku mencoba melongok melewati bahu Tomi. Dan kini aku mengerti, mengapa Tomi memiliki asumsi seperti itu. Sebuah cahaya temaram terlihat dari dalam pondok.

Bersambung