Petualanganku Part 6

PrologPart 1Part 2Part 3Part 4
Part 5Part 6Part 7Part 8Part 9
Part 10Tamat

Cerita Sex Dewasa Petualanganku Part 6 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya : Cerita Sex Dewasa Petualanganku Part 5

Selesai mengepak barang-barang, kami melanjutkan perjalanan. Tas gunung yang berat kini kami sandang di punggung.

Langkah kaki yang menjejak kuat mulai kami tapaki.
Compass digital yang tetap menyala senantiasa membimbing kami agar tak kehilangn arah tujuan.
Terkadang, lantai hutan yang empuk dan lembab sedikit melesak ketika kami melangkah. Dapat engkau bayangkan seperti berjalan di tepi pantai. Bedanya, kami saat ini sedang berjalan di tengah hutan, dengan menopang beban kira-kira 20kg plus berat badan kami sendiri.

Jejak langkah yang kami tinggalkan ditanah, mengarah para dua buah tebing berdekatan yang tergambar pada peta. Menuju sebuah kemungkinan yang belum pasti, menapaki sisa waktu kami yang tinggal sebelas hari lagi untuk tinggal di Nepal.

Adoohh…. gila….. Evan mulai mengeluh.
Kenapa lu? tanyaku.
Istirahat dulu dong, ngilu baget kaki gua..

Aku pun demikian. Tak terbiasa membawa beban berat membuat kedua lututku meronta.
Hhhh…. oke deh, kita istirahat sebentar, kaki gua juga ngilu… ucapku seraya menurunkan tas besar yang kugendong sedari tadi.

Aku menyandarkan diri di sebuah batang pohon tua yang telah kehilangan seluruh daunnya.
Pepohonan rimbun yang sempat kami lalui, perlahan mulai menghilang. Berganti dengan pepohonan mati tak berdaun. Satu-satunya jenis pepohonan yang masih menghijau, mungkin hanya cemara atau pinus.

Glek…glek…
Dua teguk air melewati tenggorokanku yang kering. Dingin sekali, seperti baru dikeluarkan dari dalam lemari es. Atau mungkin, akulah yang kini sedang berada di dalam lemari es itu.

Salju putih yang menutupi tanah, perlahan mulai mencair seiring dengan cahaya matahari yang menyeruak diantara pegunungan. Namun, hembusan angin dingin masih sangat terasa merayu. Membujuk tubuhku untuk kembali meringkuk didalam kantung tidur yang hangat dan menghentikan pencarian.

Aku dan Evan sudah sepakat. Apapun keadaannya, sesulit apapun medannya, kami tidak boleh menyerah. Evan selalu berkata jika edison menyerah sebelum bohlamnya berpijar, maka dunia ini akan selamanya gelap.

Gimana? Siap lanjut lagi? tanyaku seraya memijit lutut.
Yuk… udah mendingan sekarang…

Munafik sekali aku. Bisa berkata seperti itu, sedangkan semangatku langsung kendur seketika saat memandang tas yang harus kugendong.

Hup……….
Tas besar itu kembali kupanggul, lututku kembali meronta. Sabar…. inilah perjuangan batinku.
Kami kembali melangkah.

***

Tak terlalu lama, mungkin hanya butuh lima belas menit hingga celah tebing yang dimaksud terlihat oleh mata kami. Tidak terlalu tinggi, tebing itu mungkin hanya setinggi lima meter, namun cukup berpotensi untuk jadi tempat berlindung kala badai datang. Yang kami sesali adalah, kami tak menemukan apapun di sana.

Aku dan Evan hanya bisa menggelengkan kepala.
Hari mulai siang, waktu kami telah terbuang untuk menuju ke sini.

Aku memandang kearah layar hanphoneku, menandai dalam ingatanku bahwa tempat ini telah kami jelajahi, lalu menulis segala yang terjadi pada catatan perjalanan kami.

Oke… jadi kita kemana lagi? Sekarang udah siang, di pencarian berikutnya kita harus cari tempat bermalam… ucapku.

Evan menggerakkan lehernya sejenak, mengusir rasa pegal yang juga kurasakan.
Harus yang ada airnya… kata Evan seraya menunjukkan botol air kami yang sudah hampir kosong.
Hmm…. masuk akal, jadi intinya kita kemana?

Peta digital dalam handphoneku kembali kami pandangi. Mencari segala kemungkinan tepat yang ada, dan tiba-tiba Evan berseru.

Anjrittt…. bodoh banget gua.. ucapnya.
Emang…. aku menimpali.
Ohh sempak lo… ada yang kelewat dari teori kita..

Kelewat? aku mengerutkan dahi.
Ya… gua sempet bilang, kalo si Immortal gak butuh makan atau minum…
Ya trus?
Emangnya dia gak butuh mandi atau cuci baju….?

Tringgg….
Seakan sebuah bohlam baru saja berpijar di samping kepalaku. Aku mengerti betul apa maksud dari perkataan Evan.

Pencarian kami menuju celah tebing memang sia-sia. Seharusnya kami tetap menuruti intuisi awal dengan mencarinya dekat sumber air.

Aahhh…… iya, gua juga gak kepikiran sape kesitu… asu aku mengumpat.
Yaudahlah… yang penting kita udah selangkah lebih maju… berani kotor itu baik
Lu kayak SPG deterjen tau nggak?
Sempak.. Evan mendengus kesal mendengar ejekanku.

Peta digital dan compass sekarang menuntun kami kembali berjalan. Kali ini kearah timur, disanalah kami melihat sebuah aliran sungai yang tidak terlalu besar. Mungkin kami bisa mendapatkan air untuk minum, atau malah menemukan apa yang kami cari.

***

Dua jam….
Cukup lama kami berjalan tanpa mempedulikan kaki ngilu dan perut keroncongan yang terus meronta.
Namun itu semua membuahkan hasil. Kami kini telah sampai di tepi sungai. Disinilah pendirian kami kembali goyah.

Woke….. sekarang, cari kearah hulu atau muara? tanya Evan.
Kali ini, intuisiku harus berperan. Evan tak memiliki sebuah teori yang mendukungnya untuk memutuskan pilihan.

Ke hulu…jawabku.
Kenapa? tanya Evan.
Kalau gua jadi dia…. dan gua mau sembunyi sejauh-jauhnya, hulu adalah pilihan gua… ucapku.

Sebuah analogi sederhana terlintas dalam pikiranku beberapa detik yang lalu.
Jika memang ia cukup berani mengambil resiko untuk menjauh dari hulu, pastilah ia akan sekalian tinggal di desa. Untuk apa ia tinggal di tengah hutan kalau tempatnya tidak cukup terpencil untuk bersembunyi.

Oke… kita coba, kalau gua dalam posisi dia gua juga pasti milih tempat yang lebih jauh Evan sudah setuju. Sekarang, yang kami hadapi adalah mental kami sendiri.

Ya… mental kami seakan diuji ketika memandang ke arah datangnya air.
Tanjakan-tanjakan curam, jalan berbatu, mungkin juga udara yang semakin dingin, entahlah apalagi tantangan yang akan kami hadapi.

Huffffff……………….. aku menarik napas panjang. semangatku tak boleh redup sekarang. Ibu dan Naya sudah menunggu dengan obat yang akan kubawa. Aku tidak boleh gagal.
Ayo berangkat…. ucapku.

***

Tiga jam berlalu…

Jarum jam pada arlojiku kini menunjukkan pukul 14:00. Saatnya kami beristirahat kembali, mendirikan tenda, dan menyantap sesuatu untuk membungkam perut kami yang terus berkoar-koar. Aku mencoba menyalakan api dengan pematik, namun hasilnya nihil. Selalu gagal karena ranting-ranting itu terlalu basah dan lembab.

Sini gua coba…. kata Evan.
Ia mengambil alih posisiku. Aku tak mau komentar apa-apa untuk ini, karena aku bisa menduga. Evan pastilah akan melakukan sesuatu yang menarik.

Wuurrrrr……..
Api menjalar dengan cepat, membakar ranting-ranting kecil yang menumpuk, menyisakan asap putih tebal yang membumbung di udara.

Done…. kata Evan.

Seperti biasa, aku hanya bisa terpukau. Evan baru saja menyalakan api. Bukan dengan pematik, apalagi dengan dua buah batang kayu yang diputar-putar dengan tangan. Evan menggunakan sebuah alat khusus yang ia buat sendiri.

Kapan lu bikin begituan? Gua kira powerbank betulan… tanyaku.
Udah lama ini mah, gua tadinya ragu alat ini bisa lolos dari bandara, tp ternyata lolos juga kan? jawabnya seraya menunjukkan sebuah alat yang bentuknya persis dengan sebuah powerbank yang biasa dijual di pasaran.

Ya…. casing pembungkusnya memang diambil dari powerbank asli. Fungsinya juga sama persis, menyimpan arus listrik untuk digunakan suatu saat. Yang membedakan hanyalah arus listrik yang dihasilkannya.

50.000 volt/24 ampere, dengan jenis arus AC…. cukup kuat buat bikin beruang besar terkapar…hahaha…. ucapnya seraya tertawa lebar.

Itulah kemampuan sejati dari diri Evan. Pemuda jenius dengan skor IQ 158, dua angka lebih rendah dibanding Einstein yang termahsyur dengan teori relatifitasnya.
Alat sederhana yang mampu menyamarkan diri dengan baik itu memiliki struktur yang sama persis dengan sebuah powerbank, hanya saja sel baterainya memakai bahan berbeda. Evan berkata, Lithium Polymer yang diisikan dalam alat itu adalah Polymer khusus dengan beberapa unsur kimia yang tidak lazim digunakan. Entah kamar mana lagi dalam rumah besarnya yang telah hangus terbakar karena percobaannya, aku sama sekali tak berminat untuk mengetahuinya. Namun ku akui, Evan adalah pemuda dengan otak paling brilian yang kukenal secara langsung.

Evan membereskan dua buah kawat tembaga yang ia gunakan untuk membuat arus pendek dari powerbank itu. sementara itu, aku sedang mengeluarkan dua buah kaleng berisi ransum untuk kami makan.

Bekal standar militer dan pendakian. Masing-masing kaleng itu berukuran tak begitu besar, berbentuk persegi dengan dimensi 15x15x3 cm. didalamnya kami akan menemukan makanan yang dibuat khusus untuk mengganti energi sekaligus mengenyangkan perut kami.

Dua buah kaleng berlabelkan nasi goreng ayam berada di genggamanku.
Sebelum api menjalar lebih besar, aku meletakkan dua kaleng itu di tepian api unggun.

Sementara itu, Evan membuka ikatan tenda yang menambatkannya di tas gunung kami.
Tenda-tenda itu tak tergulung dengan rapi, cukup berantakan menurutku.

Tapi apa kami punya pilihan?
Tentu punya. Pilihannya adalah mendirikan tenda atau mati kedinginan.

***

Kaleng berisi nasi goreng ayam telah tergeletak kosong di sebelah api unggun yang mulai meredup.
Aku dan Evan kini menjejalkan kaki kedalam kantung tidur yang hangat didalam tenda. Evan kembali sibuk dengan laptopnya, sementara aku menyibukkan diri dengan sesuatu yang lebih traisional. Buku catatan dan pena.

Aaarrghhh….. ini bolpen lama-lama kok gak nyata… umpatku kesal.

Lu goblog apa idiot…. tintanya beku kali…. Evan menimpali.

Ahh mungkin saja. Aku tak ingin menyahut.

Jika aku menjegal opini barusan, mungkin Evan akan mulai nyerocos tentang titik didih dan titik beku tinta yang sekian sekian, faktor-faktor penyebab seperti pena yang tidak di tutup rapat, dan bla, bla, bla.

Puk…… ku tutup buku dalam genggamanku tanpa berhasil menulis cukup banyak.

Tadi masih bisa soalnya…. kataku.

Cobalah pake akal sedikit… kalo lu mau tau, di jaman sekarang udah ada alat yang bisa meminimalisir keadaan itu… Evan menimpali.
Apaan?

Pensil jawabnya santai

Gggggrrrrrrrrrrrrrrrr…………… aku menggeram.

Apa sih susahnya mengatakan hal itu tanpa berbelit-belit. Inilah yang aku benci dari Evan. Selalu menggunakan kosakata berlebih untuk mengungkapkan maksud yang sebenarnya sederhana. Bahasa umumnya pemborosan kata.

Lagian sih…. salah lu sendiri. Kalo kata Cak-Lontong tuh MIKIR…
Sempak….

Aku tak ingin mengubris opininya lagi.
Menyebalkan.

***

Evan

Sekali lagi aku berhasil memperdayanya. Hahaha.
Ternyata Tomi yang pandai berbahasa itu dapat pula dikecoh dengan sedikit untaian kata.

Tak..tik…tak…
Jemariku masih bercengkerama dengan laptop. Mengetikkan beberapa baris info penting dari beberapa e-book terkait dengan pencarian kali ini.

Hoaaaaammmm….. hawa dingin ini membuatku mulai mengantuk.
Tomi telah mendengkur dibalik kantung tidur yang kini menutupi ¾ tubuhnya. Nafasnya teratur, tanda ia telah terlelap dalam buai mimpi yang entah indah atau buruk.

Sementara aku, dengan sorot mata temaram bagai cahaya lilin kecil redup, aku masih saja menelusuri tiap baris kalimat dalam e-book tentang pendapat bahwa legenda manusia abadi adalah hoax.

***

Count St. Germain?

aduh, terkadang saya ingin tertawa mendengar cerita konyol macam ini.
Ada juga beberapa orang yang mengaitkan Count dengan Count the Vampire.

Sampai kapan mereka akan larut dalam imajinasi dan fantasi mereka, tentang seseorang yang berumur 2000 tahun. Sampai kapan mereka akan menerima kenyataan bahwa dewa, vampir, werewolf, dan semacamnya hanyalah cerita untuk menakuti anak kecil agar tak keluar malam.
Okay… saya akan menjabarkan perlahan tentang pendapat saya.

Count tidak pernah makan atau minum….
Lalu? Apakah ia tak dapat bergerak? Tak mampu berjalan? Atau bahkan tak mampu berpikir?

Sejenak saya ingin kita renungkan.
Mungkinkah otot-otot bisa bergerak tanpa ada energi yang menyokong kehidupannya?
Dapatkah otak mengalirkan impulse syaraf? Atau dapatkah sel-sel tubuh beregenerasi untuk mengganti sel yang telah rusak dimakan usia?

Jawabanya : TIDAK

Hal ini tak mungkin dibantah dengan teori yang masuk akal. Lain halnya jika anda adalah penganut teori gila yang berusaha mengemukaan pendapat tanpa dasar.

Count hidup 2000 tahun?
Untuk yang satu ini, saya punya sedikit teori berdasar.

Oke, percayakah anda jika saya mengaku sebagai orang yang berusia 2000 tahun. Hanya karena saya mampu menceritakan sejarah-sejarah yang tidak penting?

Jika saja jadi anda, maka jawaban saya adalah
SEKALI LAGI TIDAK…

Bisa saja saya membaca sebuah buku lalu menceritakannya kepada anda. Atau saya mengarang cerita-cerita dengan jalan cerita seperti saya. Perlu diketahui, jika mungkin memang benar seseorang bernama Count St. Germain berkumpul dengan kawan-kawannya, lalu mulai bercerita. Mungkin masa itu dunia ini sudah dipenuhi oleh omong kosong, hoax, kebohongan, sehingga dengan mudah para kawan-kawannya akan mempercayai Count tanpa bukti yang pasti, bahkan tanpa mereka perlu bersusah payah membuktikan omongannya.

***

Yup… skeptis berdasar… gumamku.
Aku tak menyalahkan opininya sama sekali. Justru terkadang, aku berharap ada opini negatif untuk mengontrol hasrat yang menggebu.

Itulah gunanya Tuhan menciptakan emosi ragu, khawatir, dan perhitungan.
Untuk membimbing kita, manusia, agar senantiasa berjalan tanpa kehilangan arah oleh bisikan iblis.

Namun untuk legenda manusia abadi, aku punya gambaranku sendiri walaupun belum terbukti benar.
Semuanya mengarah pada virus, dan bakteri. Dan apa hubungannya? Ohh.. great question, and this is the anwer…

Virus, dikenal sebagai organisme yang tidak bisa mati secara harfiah. Kenapa? Karena virus tidak digolongkan sebagai mahkluk hidup. Virus mampu berkembang, bermutasi, bereproduksi dengan menggunakan tumbal sebuah sel bakteri. Untuk itu mereka tidak memerlukan makanan atau asupan untuk menjaga mereka tetap ada atau dalam arti sederhana hidup.

Virus, mampu beradaptasi dalam lingkungan tanpa udara. Tidak dapat mati walau membeku, namun hanya mati karena paparan sinar ultraviolet dengan intensitas tinggi (inilah sebabnya kita dianjurkan menjemur kasur pada pagi hingga siang hari) dan mati karena suhu panas yang ekstrim. Yah, sampai saat ini belum ditemukan virus yang mampu bertahan dalam suhu panas yang ekstrim, mungkin suatu saat nanti akan ada.

Bagaimana virus bisa tercipta? Pertanyaan yang satu itu tak perlu kujawab.
Biarlah semua itu menjadi rahasia yang maha kuasa.

Bakteri, dikenal sebagai mikroorganisme bersel tunggal. Kadang hidup solitaire, namun kebanyakan hidup secara berkelompok membentuk untaian rantai memanjang, atau berkerumun seperti buah anggur.

Berbeda dengan virus. Bakteri dapat mempengaruhi sel-sel hidup yang berada di dekatnya dengan mengekskresikan berbagai macam zat dan substansi untuk mendukung kehidupannya sendiri.

Namun, bakteri tetap membutuhkan makan. Walaupun ada sebagian genus bakteri yang mencari makan dari bahan anorganik. Atau dalam bahasa awamnya adalah membuat makanan sendiri, seperti sebuah pohon yang makan dari tanah.

Lantas? Apa hubungannya dengan legenda manusia abadi.

Yah inilah jawaban sederhanaku.
Mungkin saja, elixir of life yg dimaksud adalah sebuah zat khusus untuk menggabungkan DNA manusia dengan RNA virus. Mengambil sebagian sifat unggul milik virus yang mampu menjaga sel tetap hidup, mampu beregenerasi menggantikan sel yang rusak. Atau dalam kata lain, membuat tubuhmu menjadi abadi.

Penjelasan tentang bakteri masih sedikit berhubungan.
Mungkin saja, elixir of life sesungguhnya berisi bakteri hidup yang menguntungkan manusia. Bukan Yakult ya… ingat bukan. Ingat tentang bakteri yang mampu membuat makananya sendiri?

Mudahnya seperti pohon.
Pohon membutuhkan CO2, sedangkan manusia membutuhkan O2.
Manusia membutuhkan O2, lalu akan mengeluarkan CO2 sebagai sisa pembakaran metabolisme.

Dengan analogi singkat tersebut, kita bisa melihat bahwa ada simbiosis mutualisme yang mungkin saja terjadi. Mungkin saja, bakteri itu memakan sisa metabolisme dalam tubuh manusia, lalu mengeluarkan zat-zat sisa yang sesungguhnya adalah makanan untuk sel hidup.

Ingat, hukum kekekalan energi. Energi yang di keluarkan akan sebanding dengan yang diterima dan tidak akan pernah berkurang.

Ahh…. ya, ini termasuk teori gila yang lagi-lagi tak mendasar gumamku.
Aku sendiri hampir dibuat percaya dengan analogi itu. namun teoriku barusan, tak lebih dari rekaan atau dugaan tentang sesuatu yang serba kebetulan. Serba saling berkaitan.

Sedangkan kenyataan dalam dunia nyata tidak akan semanis itu. tak akan semudah itu menemukan bakteri dengan simbiosis sempurna walaupun dengan teknologi maju seperti sekarang, terlebih untuk teknologi 2000 tahun yang lalu.

Alt + S
Kedua tombol pada papan ketik itu kutekan bersamaan untuk menyimpan hasil karyaku.
Mataku semakin redup. Kesadaranku mulai memudar sering dengan malam yang semakin larut.
Hah??? Malam? mataku yang sayu tiba-tiba terbelalak.
ada yang aneh disini…. aku segera meletakkan laptopku, dan membangunkan Tomi.

Wooyyy….bangun woy…..!!!
Tubuhnya kuguncang-guncang. Tak lama ia terbangun.
Haaahh????? ia memekik. Tubuhnya seketika bangkit dan duduk dihadapanku. Ada apa? Ada tanda-tanda….???

Bukan….. tapi ada yang aneh disini..
Aneh? Tomi mengusap matanya dengan sebelah tangan, sementara tangan yang lain ia gunakan untuk menyangga badannya.
Ya….. ingat kita dimana? tanyaku.
Di Nepal….
Inget ketinggian disini berapa?
Sekitar…………….. Tomi tiba-tiba terdiam.

Ia termenung sejenak sebelum menatapku dengan tajam.
Ya…. gua ngerti sekarang…. ucapnya.
Aku menganggukan kepala dua kali sebelum berpaling dan membereskan tasku.