Petualanganku Part 5

PrologPart 1Part 2Part 3Part 4
Part 5Part 6Part 7Part 8Part 9
Part 10Tamat

Cerita Sex Dewasa Petualanganku Part 5 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya : Cerita Sex Dewasa Petualanganku Part 4

Day 3…. Into The Forest

Selly adalah penunggang kuda yang handal. Terlihat jelas dari cara dua ekor kuda yang membawa kami merespon. Seolah-olah Selly memiliki ikatan batin tersendiri dengan ternaknya.

Aku dan Selly menaiki seekor kuda berwarna cokelat bersama-sama. Sedangkan Evan menunggangi seekor kuda berwarna hitam bersama barang bawaan. Kuda yang ditunggangi Evan diikat pada tali yang diikatkan pada kuda kami yang berjalan di depan.

Dari posisiku, aku tidak bisa melihat raut wajah seperti apa yang tergambar di wajah Selly. Hanya pundak dan rambutnya yang kehitaman yang dapat kulihat.

maaf Miss…. sepertinya anda juga bukan orang asli Nepal.. ucapku.

Pernyataan itu bukan tak berdasar. Bentuk wajah Selly sama sekali tidak mirip dengan penduduk-penduduk lain yang kami temui. Begitu juga warna kulitnya, lebih putih seakan Selly adalah keturunan Eropa, begitu juga dengan warna rambutnya yang sedikit pirang kecokelatan.

kau benar…. aku baru pindah ke Nagarkot beberapa tahun lalu… jawabnya.

darimana kau berasal Miss?

Inggris….

whatttt……… jawabku.

jadi selama ini kami bersusah payah berbicara dengan bahasa Nepal, sementara kau bisa berbicara dengan bahasa inggris? ucapku dalam bahasa Inggris yang cukup fasih.

oohh…. kupikir kalian tak bisa berbahasa Inggris…

ngeledek nih orang…. grrrr….. batinku.

well…. sepertinya kita bisa berkomunikasi lebih lancar sekarang… ucapku.

~***~

Hari menjelang siang. Sudah cukup jauh kami meninggalkan desa, menunggang kuda melewati jalan setapak yang sedikit berlumpur, hingga sampai di tepi hutan.

Tempat ini cukup unik, sebuah tebing terlihat di kejauhan dengan air terjun berwarna putih keperakan dan suara deburan air yang khas.

Disanalah kami berhenti sejenak untuk mengistirahatkan kuda-kuda yang kami tunggangi.
Membiarkan mereka memakan rerumputan, sementara aku meneguk sedikit air yang kami bawa untuk persediaan. Saat itu Selly sedang pergi sejenak. Ia bilang ingin buang air kecil.

Setengah jam berlalu, kuda-kuda kami sudah cukup beristirahat.
Sebelum menaiki kuda, Selly membasuh wajahnya dengan air didalam botol.

Kami mulai menyeruak kedalam hutan belantara yang cukup lebat.
Cukup untuk memaksa kami turun dari kuda beberapa kali untuk sekedar menebas dahan-dahan yang menghalangi jalan.

apa yang anda tau tentang hutan ini Miss?
entahlah… aku belum pernah menjelajah sejauh ini… bisanya aku hanya menunggangi kudaku untuk berkeliling desa…
oohh….

Sepertinya Selly merupakan typikal yang tidak suka diajak mengobrol. Ia begitu fokus mengontrol kedua kuda miliknya untuk menyusuri kontor tanah yang tidak rata.

Aku kembali membuka buku catatan perjalanku, dan mencatat segala hal termasuk tentang Selly dan Ted. Mungkin benar kata Evan. Sepulangnya aku dari perjalanan ini, aku mungkin bisa mengisi waktu luang untuk sekedar menyalurkan hobiku menulis.

Setelah satu jam yang sunyi tanpa obrolan. Kami tiba di sebuah tanah terbuka, ada sebuah telaga kecil yang tersembunyi dalam rimbunnya hutan belantara.

lihat kan? Tidak ada apa-apa di hutan ini… kata Selly.
kita belum mencari sampai ke seluruh pelosok Miss… mungkin saja ia tinggal di sisi lain hutan…
Selly menggelengkan kepalanya. Seakan memprotes sikapku yang keras kepala.

Evan turun dari kuda yang ia tunggangi, lalu berkata.
guys… istirahat sejenak bisa kan? Pinggangku pegal.. ucapnya.

Mendengar ucapan Evan, aku baru menyadari bahwa pinggangku juga terasa pegal.
Mungkin beristirahat sejenak sambil memikirkan langkah selanjutnya bukanlah ide yang buruk.

jika ingin bermalam, ini adalah tempat yang cocok. Ada sumber air, lahan terbuka, dan jarang ada binatang buas, kurasa kata Selly.
Untuk kalimat terakhir, aku merasa kurang setuju. Mungkin saja di sini ada binatang buas yang bersembunyi. Bigfoot, Sasquach, atau Yeti misalnya.

ahh… kayaknya gua kemakan omongannya si Evan… batinku.
Ide tentang mahkluk legenda itu sebenarnya sama tidak masuk akalnya dengan ide manusia abadi.
Herannya, jika aku percaya manusia abadi itu ada, mengapa aku tidak bisa mempercayai bahwa mahkluk Cryptozoid seperti itu hanya khayalan.

dan apa maksudnya dengan….. kurasa
Mungkinkah Selly mengetahui sesuatu tentang tempat ini, jangan-jangan ia sebenarnya tau tentang legenda manusia abadi yang sebenarnya, namun entah dengan alasan apa ia tak menceritakannya kepada kami.

***

Waktu berlalu. Sinar matahari yang sempat menemani kehadiran kami, mulai pergi seiring dengan turunnya kabut tipis yang menyelimuti hutan. Menyiratkan aura mistis seperti yang kurasakan ketika memandang puncak everest.

Siang berganti sore, dan dengan cepat sore berganti malam.
Aku dan Evan mengenakan jaket tebal untuk menjaga kehangatan tubuh. Sementara Selly, mungkin ia sudah terbiasa. Dapat dilihat dengan jelas bahwa ia mengenakan jaket bertudung biasa saat kami duduk melingkari api unggun.

Dua buah tenda telah kami dirikan. Yang satu kami peruntukkan bagi Selly, sementara aku dan Evan akan tidur didalam tenda yang lain.

bagaimana? Mau menyerah? Aku tak ingin berlama-lama disini kau tau? tanya Selly.
tidak…. sebelum kami menemukan kebenaran tentang manusia abadi… jawabku.
sekalipun jika kebenaran itu berarti kalian gagal karena legenda itu palsu?
ya…….
memang kalian datang darimana?
Indonesia Miss…

Sisa percakapan kami menjadi hambar, dengan Selly yang masih bersikukuh bahwa legenda itu bohong adanya. Sementara aku, hanya bisa melawan batu dengan batu… melawan api dengan api…

Aku tau, sama-sama mempertahankan ego bukanlah keputusan yang bijaksana. Namun kebijaksanaan tidak diperlukan untuk menghadapi saat-saat penuh keraguan seperti ini. Bagiku, sedikit berpikir dan banyak bertindak adalah pilihan yang terbaik.

****

Evan

Mendengarkan dua mahkluk ini berdebat hanya membuatku bosan.
Untung saja aku membawa laptop yang sudah terisi penuh baterainya.

Tanpa koneksi internet, laptop ini menjadi tak kalah hambar dengan obrolan mereka. Namun dilain sisi, kehadirannya sedikit menenangkanku yang kini asik membaca beberapa e-book yang sudah kudownload sebelumnya.

Apalagi kalau bukan tentang legenda-legenda yang akan kutelusuri suatu saat nanti.

Jarum jam yang pendek sudah menunjuk angka sepuluh, sementara jarum yang lebih panjang menunjuk angka tiga. Sekarang sudah jam 22:10, cukup malam untuk terus bercengkerama di luar tenda.

Tomi menyeruak masuk dengan jaket super tebal yang ia kenakan.
Dari siluet yang terbias pada kain penutup tenda, aku bisa melihat Selly sedang memadamkan api unggun dengan air yang ia ambil dari telaga.

Gelap…..

Saat ini, penerangan yang kumiliki hanya berasal dari monitor laptopku sendiri.
Tomi segera meringkuk didalam kantung tidur yang hangat dan memejamkan mata. Sementara aku masih asyik membaca, mengejar kantuk yang tak kunjung datang.

Aku mulai tertarik dengan pembahasan tentang legenda Unicorn.
Sesosok kuda mistis berwarna perak dengan sebuah tanduk yang bertengger di ujung kepalanya.
Bukan karena keindahan sosoknya, bukan karena kegagahannya. Namun karena mengingat sebuah film fiksi bergenre magis yang menggambarkan penyihir hitam meminum darah Unicorn untuk berusaha hidup.

Harry Potter and The Philosoper Stone.
Sebuah film yang tayang di era tahun 2000 jika aku tak salah ingat.

Pembahasan tentang Unicorn berlanjut.
Mahkluk ini memiliki beberapa nama berbeda. Unicorn sendiri diartikan sebagai tanduk satu. Sebuah legenda yang berasal dari Eropa. Sedangkan di asia, Unicorn lebih di kenal dalam sebutan berbeda.

Di cina misalnya, Unicorn di kenal dengan nama Qillin sesosok mahkluk mistis yang konon menemani kelahiran Nabi Khongcu dalam kepercayaan Khong Hu Cu. Sedangkan di jepang, Unicorn dikenal dengan nama Kirin yang merupakan dewa petir dalam mitologi Shinto.

Ketiga nama berbeda itu mengusung pencirian berbeda untuk sosok kuda bertanduk satu.
Jika di cina, Qillin dikatakan memiliki sisik seperti naga, lain halnya dengan Jepang. Di jepang Kirin dikatakan memiliki bentuk lebih menyerupai rusa, dan berwarna hijau.

Namun, yang lebih menarik.
Muncul fakta bahwa Unicorn pertama kali muncul dalam peradaban India kuno. Semua itu berawal dari stempel berusia 2500 tahun yang ditemukan di Mohenjo Daro dan Harappa. Dalam stempel itu, kita dapat meliha bentuk kuno dari Unicorn beserta enkripsi yang belum dapat terpecahkan hingga kini.

Mungkinkah itu benar? Sekali lagi pertanyaan itu muncul dalam benakku.
Jika benar, maka bukan hal aneh jika akhirnya pencarian kami tertuju pada negara Nepal, dimana kebudayaannya mirip dengan India. Mungkin saja sosok Unicorn ada hubungannya dengan sang Immortal yang kami cari.

Bulu kudukku kini berdiri.
Bukan karena hawa dingin yang merebak, namun karena membayangkan sosok sang Immortal yang tega membunuh seekor Unicorn untuk mendapatkan darahnya guna hidup abadi.

ahhh…. ini udah terlalu jauh spekulasinya batinku.
Aku sadar, perangaiku mulai berubah sejak obrolanku dengan Prof. Michael setahun yang lalu.

***

Setahun yang lalu…

benarkah itu Prof? apa anda tidak bercanda? tanyaku. Aku menggunakan bahasa yang sedikit baku ketika berbicara dengan Prof. Michael.

Ia bukanlah orang Indonesia. Beliau lahir di Amerika. Tepatnya di daerah Arizona, dan pernah sekali berkenalan dengan seorang pria yang bekerja pada Institusi pemerintah sana, yang terletak di gurun Arizona. Menurutmu apa tempatnya?

Yup… jika AREA 51 adalah tebakanmu. Maka kau tepat.

aku tidak bercanda Evan… mungkin sebagai seorang yang berpola pikir sebagai peneliti kau akan menganggapku gila. Tapi begitulah kenyataan yang terjadi disana… kata Prof. Michael.

Prof. Michael bercerita padaku, tentang apa yang sering dilihatnya semasa tinggal disana.
Penampakan cahaya-cahaya aneh, objek terbang tak dikenal. Mungkin lebih populer dengan sebutan Unidentified Flying Object (UFO).

aku tau betul bentuk pesawat siluman yang sering melintas…. tapi tak satupun yang berbentuk seperti piring dengan cahaya menyilaukan, dan melayang dengan kecepatan rendah tanpa suara… bisakah kau membayangka seperti apa objek yang kulihat….

~***~

Dari ucapannyalah aku menjiplak analogi peneliti yang menguak tabir misteri, yang sempat kukatakan pada Tomi ketika ia bertandang kerumahku.

Jika UFO, atau yang kita kenal dengan sebutan piring terbang adalah nyata.
Maka apa yang bisa menyangkal bahwa Unicorn, Phoenix, atau Naga adalah khayalan.

UFO sudah sering terlihat…… tapi naga, unicorn, dan phoenix belum pernah…
Jika itu pendapatmu, maka aku dengan senang hati akan membantah.

Pernahkan kau berpikir, tentang apa yang sebenarnya terjadi dimasa-masa lalu. Ketika jaman belum tersentuh sejarah. Atau jaman itu masih menganut tulisan dengan simbol aneh yang kita kenal dengan enkripsi Hieroglif?

Mereka memiliki kebudayaan sendiri-sendiri, namun yang membuatnya sedikit aneh adalah, kebudayaan mereka begitu mirip dengan kebudayaan-kebudayaan lain yang letaknya saling berjauhan.

Misalnya Unicorn.
Legendanya menyebar dari Eropa, Cina, hingga jepang. Atau bahkan menyebar ke tempat lain yang belum aku temukan namanya.

Atau Phoenix, burung api dalam legenda Eropa.
Sosok Phoenix dikaitkan dengan ukiran yang terlihat pada dinding salah satu piramida mesir kuno. Dan bagaimana bisa sosok Phoenix digambarkan sebagai Suzaku sang penjaga pintu selatan dalam mitologi jepang. Dapatkah kau menjawab.

Jika jawabanmu adalah adanya para penjelajah yang menceritakan semua itu, maka aku akan bertanya lebih lanjut. apakah mereka kurang kerjaan dengan menceritakan omong kosong yang mereka tau bahwa semua itu hanyalah kebohongan?

Menurut opiniku pribadi.
Mungkin saja para penjelajah yang menceritakannya. Namun mengingat tujuan prioritas para penjelajah adalah menemukan tanah baru untuk ditinggali, mungkinkah mereka menceritakan sebuah omong kosong belaka.

Kemungkinannya hanya dua.
Sosok legenda itu memang benar-benar ada, dan disebarkan oleh para penjelajah.
Atau sosok legenda itu memang sudah ada di tanah yang mereka singgahi.

intresting huh? batinku.
Oke… cukup pembahasannya tentang Unicorn dan lain-lain.
Ku akui aku sedikit terhanyut.

Aku beralih pada e-book lain, dengan cerita lain tentunya.
Tomi sudah mulai tertidur. Ahh sudahlah, biarkan saja dia.

‚Äč

Day 3… Missing

Tomi

Aku terbangun, dan menemukan Evan masih tertidur seperti biasa. Entah karena jam tidurnya yang seperti kalong, atau memang perangainya yang selalu pemalas.
Seseorang pernah berkata, bahwa para jenius cenderung menjadi malas. Sebelumnya aku tak menanggapi kalimat itu, namun setelah mendapat bukti dan subjek hidup, akhirnya mau tak mau aku percaya.

Kulirik arlojiku, sudah pukul lima rupanya.
bangun……. woy….. ucapku.
………………. tak ada jawaban.
Hanya dengkuran halus berirama stabil yang kudengar. Tampaknya Evan masih tertidur pulas.

Udara pagi masih dingin sekali.
Jika saja kami ada di hotel atau penginapan, pastilah aku sudah menceburkan diri di air hangat.
Bahkan, keadaan diluar yang sedikit berkabut membuat niatku membuka resleting penutup tenda menjadi kuurungkan kembali.

Diluar, lapisan permukaan tanah telah ditutupi oleh salju tipis, sepertinya udara dingin semalam telah membuat embun dan kabut menjelma sebagai kepingan kristal yang berjatuhan dari langit.

Aku mengintip sejenak, melalui celah pintu masuk tenda yang kubuka sedikit.
Selly sudah tidak ada ditempatnya.

Evan…………. bangun woy…. kita sendirian sekarang… woyyy… aku setengah berteriak seraya mengguncang-guncang tubuh Evan.
mmmmhhh….. gila lu ya….
Selly hilang……..

Mendengar kalimat terakhir yang kuucapkan, kesadaran Evan pulih seketika. Matanya terbelalak dan mulutnya menganga.
haaaa??? Jangan bercanda deh lo…. ucapnya seraya melongok di celah resleting yang tadi kubuka.

ayo kita cari… siapa tau belum jauh….
Aku segera memakai jaket tambahan yang berada di dalam tas gunung besar. Begitu juga Evan.

Kali ini, tak ada lagi hawa dingin maupun hujan salju yang mampu menyurutkan niat kami untuk mencari. Kami begitu khawatir dengan Selly, mungkin sesuatu telah terjadi pada tour-guide kami.

Atau mungkin kami hanya takut, karena ditinggal sendiri ditengah hutan belantara, ditanah antah berantah, tanpa tau dimana posisi kami sebenarnya.

Diluar, titik salju tak lagi berjatuhan.
Tenda yang seharusnya di gunakan oleh Selly juga telah rubuh. Dua ekor kuda yang membawa kami ketempat ini juga menghilang. Untuk yang satu ini, kami berasumsi bahwa kedua ekor kuda itu mencari tempat berlindung dari hujan salju yang bisa membuat mereka mati kedinginan.

oke…. jadi kemana wanita kita pergi? tanyaku.
mana gua tau…. dia ngak bilang apa-apa… tadi malem juga ngak ada apa-apa kok….

tunggu….. tadi malem?
yeah…. gua tidur sekitar jam dua malem… gua juga sempet ngintip keluar, dan dua ekor kuda itu masih ada. Tenda Selly juga baik-baik aja….

Berarti, peristiwa hilangnya Selly terjadi antara pukul dua malam, hingga saat aku terbangun pukul lima. Ada jeda waktu tiga jam. Cukup lebar bagi apapun untuk menyerang Selly dan menyeretnya ketengah hutan. Tapi kenapa kami tidak di serang?

Oke, teori tentang mahkluk buas yang menyerang sepertinya kurang mendasar.
Hipotesaku kini jatuh pada kemungkinan bahwa Selly sengaja meninggalkan kami disini. Tapi untuk apa? Lagipula mengapa Selly harus merobohkan tendanya.

Peristiwa hilangnya Selly semakin misterius.
mungkin Selly pulang ke desa dengan menunggang kuda… Evan memberi opininya.
yah… itu mungkin juga…, trus sekarang kita harus apa? tanyaku.
ya usaha sendiri lah… lagian kan dari awal kita gak punya niat ngelibatin dia…

Aku diam sejenak. Rencana kami memang sudah tersusun rapi tanpa Selly berperan didalamnya.
Aku membuka buku catatanku, dan mencatat tentang hilangnya Selly secara tiba-tiba.

puk…..
Buku itu kututup, pena yang kugunakan kini terselip dibagian tengah buku itu sebagai penanda.
oke… kita lanjut…. ucapku.

Salju yang turun dini hari tadi, membuat jejak yang mungkin ditinggalkn Selly beserta kudanya menghilang. Kami tak punya arah untuk melacak keberadaanya. Yang bisa kami lakukan hanya fokus pada tujuan awal, yaitu menemukan sang Immortal

Tapi dimana?

Pilihan kami hanya satu. Mencari ke seluruh pelosok hutan untuk menemukan tempat-tempat yang mungkin dihuni oleh sang Immortal.

Perjalanan tanpa arah dimulai.
Berbekal beberapa peta digital dan compass digital pada layar smartphone yang baterainya terisi penuh. Kami mulai menentukan tujuan.

Perlahan, mata kami menelusuri tiap milimeter tempat yang ada di peta, berusaha mencocokkan lokasi tempat kami berada dengan peta itu. namun, sesuatu yang aneh sadari.
Telaga kecil dihadapan kami, sama sekali tak ada di peta.

salah kali petanya…. ucapku.
yaudah si… coba liat peta yang lain… kata Evan.

Citra satelit tidak seharusnya salah.
Jika kesalahan ada pada peletakan jalan yang tidak presisi, mungkin masih terlihat wajar. Tapi sebuah tempat tiba-tiba menghilang, maka ada yang harus dipertanyakan.

Kami mulai mencari-cari di file bergambar peta yang lain, namun hasilnya pun nihil.
oke…. lu masi inget gak arah perjalanan kita dari Nagarkot kesini? tanyaku.

Salah satu kelebihanku yang tidak dimiliki Evan, adalah insting dan imajinasi. Mungkin karena aku telah menghabiskan waktu ribuan jam dengan membaca novel, buku sejarah, dan filsafat yang akhirnya membentuk intuisiku semakin tajam.

Disisi lain, Evan lebih suka memenuhi otaknya dengan teori dan logika. Yah… walaupun logika yang sempat kusinggung kini kupertanyakan.

inget sih… sedikit…. jawab Evan.
yaudah, kita masih ada peta Nagarkot… kita telusurin jalan yang tadi kita lewatin…

Perlahan, dua pasang mata kami menelusuri lekuk-lekuk jalan dengan seksama. Lokasi-lokasi yang tidak umum seperti peternakan, jembatan, dan lahan kosong, kini membimbing penelusuran kami. Cukup sulit memang mengingat kemana kami berbelok, namun berbekal ingatan tentang lokasi-lokasi unik tadi, kami bisa menerka lebih mudah.

nahh…. disini…. disini kita terakhir kali istirahat sebelum masuk hutan….
Evan menunjuk sebuah titik dengan ujung jari telunjuknya.

Ya… titik itu.
Aku tak meragukannya sama sekali. Detail citra satelitnya benar-benar mirip dengan gambaran alam yang pernah kuingat. Sebuah tebing dengan air terjun. Saat itu kami memasuki hutan, dan berjalan kira-kira satu jam menembus hutan. Disinilah jejak kami tersamarkan.

satu jam yah…. hmm…. gumamku.
ya kira-kira satu jam… berarti sekitar tujuh sampe sepuluh kilometer jaraknya dari titik ini… kata Evan.

Untung perhitungan semacam itu. Evan adalah orang yang bisa diandalkan. Ia cukup cermat, tak sepertiku yang cenderung mengesampingkan petunjuk-petunjuk kecil.

berarti, kita ada di sekitar……. sini… aku memperluas jangkauan gambar pada peta lalu menggerakkan jariku melingkar pada sebuah tempat yang kurasa merupakan tempat kami.
yup… gua rasa juga begitu…. cuma tempat ini yang punya kemungkinan

Mengapa aku bisa memperkirakan dengan spontan?
Pertama, di seluruh tempat yang menjadi perkiraan lokasi kami, tak ditemukan adanya sebuah telaga. Telaga dengan diameter seratus meter ini tidak mungkin hilang begitu saja.
Kedua, tempat yang kutunjuk pada peta adalah tempat yang di halangi pemandangannya oleh awan putih. Sebuah pemandangan yang cukup sering terlihat pada peta digital.

oke fix… kita ada disini… sekarang kita harus cari tujuan…. ucapku.
tengah hutan, celah antara tebing, apapun bisa…. seenggaknya harus ada potensi menghindar dari badai… kata Evan.
kalo sumber air? aku mencoba memberi pendapat.
gua masih yakin sama opini gua sebelumnya kalo si Immortal ngak butuh makan atau minum… jadi apa gunanya dia tinggal di dekat sumber air…

Gagasan yang cukup bagus. Sangat masuk akal dan dapat di terima akal sehat.

gua setuju…. ehem…. kalo gitu kita mulai dari celah tebing… apa ada?
sebentar….. Evan kembali memusatkan perhatian pada layar smartphoneku.

ini ada satu…. ngak begitu jauh, mungkin satu kilometer…… kearah…… barat gumamnya seraya mengecek compass digital.
oke…. kita beresin barang-barang trus jalan…..

Bersambung