Petualanganku Part 4

PrologPart 1Part 2Part 3Part 4
Part 5Part 6Part 7Part 8Part 9
Part 10Tamat

Cerita Sex Dewasa Petualanganku Part 4 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya : Cerita Sex Dewasa Petualanganku Part 3

Day 2… Nagarkot

Setelah mengganjal perut dengan sarapan seadanya, kami memulai perjalanan.

Dengan menumpang sebuah mobil, kami memulai perjalanan menuju Nagarkot. Negeri dongeng yang berada di balik awan.

30 km, mungkin merupakan jarak yang dekat jika kita menelusuri jalan-jalan di ibukota Jakarta. Namun, bepergian di Nepal tak akan senyaman itu. sang supir telah memberitahu kami tentang kemungkinan kondisi jalan yang tak bersahabat. Lalu kami harus protes? Apa gunanya.

Nyaris empat jam. Kami harus bersabar menanti tiap detik yang bergulir dalam perjalanan penuh ‘tantangan’. Mobil yang kami naiki berguncang-guncang hebat. Jika saja Evan tidak menjelaskan mengapa kondisi seperti ini ‘mungkin’ bisa terjadi, aku akan mengumpat dengan kesal.

“daerah dengan iklim begini, jarang ada yang bagus jalannya bro. pasti cepet retak karena hawa dingin, pasti cepet rapuh karena cuaca lembab…” terangnya.

Mungkin saja teori yang dipaparkannya salah, namun aku tak mau ambil pusing.
Kunikmati saja ‘goyangan’ mobil ini ketika bersenggama dengan jalan yang meliuk-liuk.

~***~​

Dan…. tadaaa………… Nagarkot.
Desa di negeri dongeng.

Kami telah menginjakkan kaki di desa ini. Tanpa seorang tour-guide, kami harus berusaha sendiri mencari penginapan.

Kami memang memutuskan untuk tidak menyewa jasa tour-guide. Terlebih karena perjalanan kami ini sedikit melenceng dari tujuan normal para turis. Kami tidak ingin mengacaukan misi kami hanya karena ego yang manja dan ingin dilayani.

Membayangkan tentang negeri diatas awan, sebenarnya tidak sulit. Yang sulit adalah mempercayainya.

Dataran tinggi Nagarkot berkontur perbukitan. Rumah dan bangunan-bangunan lain berjajar rapi di lereng bukit yang cukup terjal dengan kemiringan 30 derajat. Sejauh mata memandang, kami menemukan hamparan ladang dengan berbagai sayur mayur ditanam disana. Sepertinya masyarakat sekitar sudah menerapkan sistem pengelolaan pangan lokal untuk menekan cost pengeluaran.

Oke, Nagarkot kini sudah tak bisa lagi kusebut sebagai sebuah desa. Kenapa? Karena di lokasi ini ternyata terdapat beberapa desa yang tersebar. Tadinya kupikir akan menemukan sebuah desa dengan penduduk kurang dari seribu orang. Namun kenyataannya, desa ini terlalu luas untuk dijelajahi. Apalagi medan trackking menuju desa-desa satelit tergolong lumayan menantang.

Berbekal keberanian untuk bertanya, kami akhirnya mendapatkan sebuah penginapan di Nagarkot. Tidak mahal rupanya. Jauh lebih murah dibandingkan dengan Silver Home Hotel.

Dari beberapa ulasan di internet yang kami baca, ada yang berkata ‘jika kamu sampai di Nagarkot, maka kamu tidak usah melakukan apa-apa’. Cukup aneh mencerna frase kalimat tersebut. Biasanya para pelancong dari luar negeri akan menjelajahi tiap pelosok tujuan.

Namun tidak di Nagarkot. Aku bisa mengerti maksud dari perkataan tersebut setelah memandang keluar beranda penginapan. Pandangan mataku segera tertuju pada sebuah puncak yang masih di selimuti kabut. Aura misteri terpancar jelas dari tempat itu. puncak Everest, selisih ketinggian dengan Nagarkot dengan tempat itu kira-kira enam kilometer. Aku kini bisa membayangkan mengapa para pendaki menghabiskan waktu begitu lama untuk sampai di puncaknya.

Sekarang…… saatnya makan siang.

~***~​

“jadi…. kita mulai darimana?” tanyaku seraya menyendok makanan.

Hidangan di Nagarkot cukup sederhana, mungkin citarasanya mirip-mirip dengan india. Nasi dengan bumbu kari berikut irisan daging menjadi menu siang itu. Dal Bhat Tarkari sebutannya.

“ga tau,,,, tanya-tanya aja sama orang yang cukup berumur, menurut gua kemungkinan dapat jawabannya lebih besar…” dengan enggan Evan menyendok makanan dalam piringnya.

Makanan khas di Nepal memang jauh berbeda dengan selera lidah Indonesia.

Ehem….. baunya itu lho. Agak gimana gitu….

Aku kembali menyantap makananku, tanpa mempedulikan citarasa yang berbeda. Bagiku, esensi sesungguhnya dari acara makan adalah mengumpulkan energi. Apapun makanan yang kamu makan, seenak apapun makanan itu, hasilnya akan sama setelah keluar dari lubang di ujung sana.

“hmm…. betul juga” aku membenarkan teori Evan, kemudian teringat pada seorang pria tua pemilik penginapan kami. Mungkin setelah makan, kami akan mampir sejenak dan bertanya padanya.

~***~​

“tok…tok…tok…”

Aku mengetuk pintu rumah tempat pemilik penginapan tinggal.
Tak butuh waktu lama hingga pintu itu dibukakan oleh sang empunya rumah.

“ohhh kalian, ada apa?” ia bertanya.

Aku sedikit gugup mendengarnya.

“sebentar”jawabku seraya membuka-buka halaman kamus kecil.

“hehe…. maaf, saya kurang fasih berbahasa Nepal”,”boleh kami bertanya sesuatu?”

“boleh… tentu boleh… silahkan masuk…” pria tua itu bergerak mundur dari ambang pintu untuk mempersilahkan kami masuk kedalam rumahnya.

Interiornya sangat sederhana, mungkin terkesan kuno. Menyiratkan kepribadian pria tua ini dengan jelas.

“jadi…. apa yang bisa pria tua ini bantu nak…?”

“begini sir, kami datang ke Nepal dengan sebuah tujuan, yaitu mencari keberadaan seseorang yang menurut sebuah tulisan, dikatakan ia berusia lebih dari 200 tahun…” kata-kata itu sudah kucatat dalam selembar kertas kecil sebelumnya agar tak terbata-bata lagi ketika bertanya.

“ohhh…..” jawabnya singkat “kalian mencari ‘dia’…”

Beberapa detik setelah aku mencerna ucapannya aku menyahut.

“yah…. apakah anda tau dimana kami bisa bertemu dengan ‘dia’?” aku segera menyalakan perekam suara handphoneku untuk mencatat percakapan kami.

“aku tidak tau pasti nak… tak ada yang mengenalnya secara personal, yang kutahu ia adalah seorang perempuan yang tinggal di tengah hutan, itu saja…”

“nnggggg……” gumamku.

“dimana….. hutan tempat tinggalnya berada?”

“cukup jauh, daerahya berbahaya mungkin satu hari berjalan kaki kearah utara…”

“begini sir, ada yang bilang bahwa sesekali ‘dia’ datang kesini… benarkah?”

“yah…. itu dulu, ketika kakekku masih hidup” jawabnya. “waktu itu aku masih bocah, tak ingat betul kejadiannya…”

“jadi belakangan ini dia tak pernah kembali?”

“ya… ia tak pernah terlihat lagi, mungkin sudah tiada….”

Setelah membalik-balik kamus kecil itu lagi, aku mulai mencerna ucapan sang kakek.
Ucapannya membuat semangatku mengendur.

Aku melirik Evan sejenak yang sedaritadi hanya melongo karena tidak mengerti satupun yang kami bicarakan.

“baiklah sir, mungkin cukup itu saja… kami sangat berterima kasih atas bantuan anda..”
Aku bangkit berdiri dan menjabat tangan sang kakek untuk berpamitan. Evan mengikutiku, kami kini akan kembali ke kamar sebelum mempersiapkan rencana B.

~***~​

“jadi….. kata si kakek itu, manusia abadi itu seorang perempuan…. tinggal di hutan… terakhir kali terlihat saat si kakek masih bocah…” aku mencoba menjelaskan percakapanku dengan sang kakek pada Evan.

“trus?”

“ada kemungkinan dia udah meningal…”

Evan pastilah dapat melihat perubahan raut wajahku yang kini tak bersemangat.

“hhhhhhhh……. tenang aja bro…” Evan menghela napas.

“jangan dulu menyimpulkan sebelum kita paham kondisi sebenarnya…”

“maksud lo?” tanyaku

“gini ya, mungkin aja si ‘Immortal’ itu pergi kesini karena ada seseorang yang dia kenal…. masi inget cerita tentang si Count?”

“Count? Ohhh iya… kenapa?”

“Count ngak pernah makan, jadi gua rasa, kalo bener seperti itu, si ‘Immortal’ yang kita cari ngak akan susah-susah nyari makan…. maka dari itu dia bisa hidup menyendiri selama lebih dari 200 tahun… paham?”

Aku mengangguk sejenak, benar juga teori yang dipaparkannya.
Mungkin jiwa melankolisku saja yang terlalu pesimis.

“jadi……?” tanyaku.

“kita tetep pada rencana awal… ngak ada perubahan, besok pagi-pagi kita berangkat….”

Waktu senggang sore itu kami manfaatkan untuk mencari peralatan guna memudahkan tracking esok.
Untungnya, pak tua pemilik penginapan kami dengan senang hati menyewakan peralatan miliknya.

Dua buah tenda dan kantung tidur, sebuah tongkat, beberapa gulung tali, paku, bla…bla…bla…
Semua itu tersusun rapi dalam tas gunung yang tingginya hampir setara denganku.

Pria tua itu ternyata begitu baik pada kami. Ia bahkan menunjukkan pada kami tempat untuk menyewa kuda. Tapi…. aku dan Evan tidak ada yang bisa menunggang kuda.

“maaf sir, kami belum pernah naik kuda…” ucapku.

“wah…wah… lalu bagaimana? Apa kalian tetap mau berjalan kaki?”

“sepertinya kami tak punya pilihan….”

Pria tua itu mengelus jenggotnya sejenak.

“masih ada pilihan…” ucapnya “tapi kalian harus membayar biaya ekstra untuk itu…” lanjutnya.

Pria tua itu mengantarkan kami menuju sebuah rumah mungil yang jauh lebih kecil dibandingkan dengan bangunan peternakan yang berdiri kokoh di belakangnya.

Disanalah tinggal seorang yang menurut ucapannya, bersedia menyewakan kuda sekaligus mengawasi kami selama dalam perjalanan.

“tok…tok…” pria tua itu mengetuk pintu.

Aku dan Evan berdiri di balik punggungnya.

“Selly…… kau didalam?” ucap pria tua itu.

Tak ada jawaban. Mungkin sang empunya rumah sedang pergi keluar.

“mungkin dia ada di bangunan belakang… ayo kalian ikut aku…”

Pak tua itu mengajak kami berjalan kaki menuju bangunan peternakan yang berada di belakang rumah. Sebuah bangunan besar dengan beberapa ekor sapi berada di dalamnya.

Sempat kudengar suara kuda. Mungkin kuda itulah yang akan kami tunggangi dalam perjalanan nanti.

Aroma rerumputan lembab yang terselimut embun begitu harum. Memanjakan hidung kami yang merasa asing. Sapi dan kuda yang kulihat, mereka sedang menyantap rumput yang diletakkan di hadapan mereka. Masih terlihat basah, mungkin saja sang empunya memang berada di sini sedang memberi makan mereka.

“Selly……” pria tua itu berseru, memanggil seorang perempuan yang terlihat sepintas membawa keranjang penuh rumput.

“hei Ted….. ada apa mencariku?” balas sang perempuan.

Perempuan itu ternyata tidak begitu tua seperti yang kubayangkan. Mungkin usianya sekitar 30 tahun, paling tua 35 tahun menurut taksiranku. Kulitnya putih bersih, memancarkan aura ketenangan ketika ditimpa cahaya matahari yang menyeruak diantara gunung tinggi menjulang.

“oh bukan…. urusanmu adalah dengan mereka…” Pria tua dengan panggilan ‘Ted’ itu mengarahkan tangannya pada kami. “mereka mau menyewa kuda…. dan karena mereka tidak bisa menunggang kuda, mereka butuh jasamu mengantar mereka…” lanjut Ted.

“ohh… kemana Ted?” tanya Selly.

“ohh biar mereka saja yang menjelaskan… aku takut salah bicara” Ted memandang pada kami “baiklah, mulai dari sini, kalian harus berusaha sendiri…. maaf bukan aku tidak mau membantu, tapi ada hal yang harus kukerjakan saat ini”

“baik sir, terima kasih banyak atas bantuan anda” ucapku.

Evan mulai memiliki minat untuk membolak-balik halaman buku kamus, hanya agar ia mengerti sedikit demi sedikit tentang apa yang kami katakan.

“baiklah Selly…. aku pergi dulu..” kata Ted.

“ok Ted… terima kasih banyak”

Selly, wanita itu berjalan menghampiri kami.

“jadi….. kalian mau kuantar kemana?” tanyanya.

“sebentar miss… saya kurang fasih berbahasa Nepal….” ucapku. Kalimat itu sudah kuhapalkan berulang kali, sehingga dapat kukatakan dengan mudah setiap kali bertemu dengan seseorang.

“ohhh…. ya… wisatawan rupanya…”

“yeah…. kami baru kali ini singgah di Nepal…”

“mari masuk…. kita bicarakan di dalam rumahku….” ajaknya.

Aku mengangguk. hampir saja Evan tertinggal di peternakan karena sibuk dengan kamus yang di bacanya. Kami bertiga kini berjalan menuju rumah mungil yang sempat kami lewati tadi.

Selly begitu ramah. Ia menyuguhkan dua cangkir teh hangat untuk kami.

“jadi….?” Selly bertanya.

“begini miss…. namaku Tomi, dan ini Evan….kami datang ke Nepal dalam sebuah misi….” ucapku membuka pembicaraan “…. misi untuk menemukan seseorang yang konon sudah berusia lebih dari 200 tahun….”

Selly diam sejenak.

“aku belum pernah mendengar tentang dia?” Selly mengerutkan dahi seraya menyandarkan punggung pada sofa

“yah… kami hanya mendengar dari Ted… beliau berkata orang itu tinggal di tengah hutan, satu hari berjalan kaki kearah utara…”

“tempat itu berbahaya… kau tau…” Selly berkata seraya mencondongkan tubuh kearah kami.

“Ted sudah menceritakannya miss..”

“lagipula…….” lanjutnya

“itu hanya legenda….”

“betul sekali miss…. legenda itulah yang membawa kami ke Nepal…” ucapku

“lalu? Untuk apa kalian mencarinya….? itu pun jika ‘dia’ benar-benar ada. Kalian datang dari negeri yang jauh.. untuk apa susah-susah datang ke pegunungan himalaya hanya untuk mengejar legenda?”

“ini keinginanku Miss… aku ingin mencari obat guna menyembuhkan ibuku…. beliau mengidap kanker stadium awal…”

Selly memandang wajah kami satu persatu dengan tatapan tajam.
Seakan menerka-nerka kesungguhan ucapanku.

“obat macam apa?” Selly bertanya.

“yah…. kudengar, rahasia hidup abadinya adalah karena sebuah obat yang konon mampu menyembuhkan segala penyakit, memperpanjang umur….”

“bahkan membuat yang mati hidup kembali? ‘Elixir’ maksudmu?” Selly memotong ucapanku.

“i-iya… bagaimana anda tau?” aku mengerutkan dahi.

“hahahaha…… ternyata masih ada yang percaya legenda itu” Selly tertawa.

Sungguh aku sama sekali tak mengerti arti tawanya. Bagiku, tawa seperti itu bisa berkonotasi mengejek. Tapi aku seakan menangkap kesan berbeda saat ini. “begini tuan-tuan…. pertama saya harus meluruskan pendapat…”

“itu semua hanya legenda yang hidup dalam angan para penduduk…. tidak ada bukti apa-apa” lanjut Selly dengan santai, ia berbicara dengan nada hangat, namun berkesan menceramahi. “kalian percaya bahwa obat seperti itu benar-benar ada?”lanjutnya.

“entahlah…” jawabku.

“tapi bagi kami, tak ada salahnya mencoba…”

“kalian sudah siap jika pencarian kalian tidak menemui hasil?”

“itu sudah bagian dari rencana dan resiko….”

Evan yang sejak tadi memperhatikan, mulai angkat bicara.

“itu-siapa-foto?” ucapnya. Mata Evan kini memandang sebuah pigura dengan foto hitam putih terpampang di balik kacanya.

Selly mengerutkan dahinya sejenak. Struktur kalimat yang diucapkan Evan memang terdengar aneh.

“ohh itu… nenekku…” ucap Selly.

“wow…. mirip sekali dengan anda Miss….”

“yah… banyak yang bilang begitu.. bahkan ibuku saja tidak mirip dengannya.” Selly kembali menyandarkan tubuhnya, sepertinya ia mulai enggan melanjutkan pembicaraan dengan kami, karena saat ini ia menyilangkan kedua tangannya di dada.”jadi….. kalian mau tetap kesana?”

Evan kini kembali sibuk membolak-balik halaman kamus yang digenggamnya. Mungkin ia ingin mengucapkan sesuatu namun belum tau caranya.

“ya…. kami tetap ingin pergi Miss.. jadi apakah anda bersedia mengantar kami sampai kesana?” tanyaku.

“50.000 NPR…..” jawabnya

“tidak masalah…. bisa kita berangkat besok pagi-pagi sekali?”

“perhari…..” lanjut Selly

‘whatt……… memangnya kita akan pergi kesana berapa hari?’ batinku.

“anda punya rekening Miss?” tanyaku.

“tentu saja…..” ucap Selly. Ia beranjak bangkit dan berjalan ke belakang rumah, kemudian kembali seraya membawa secarik kertas yang diberikan kepadaku.

“okay….. kalau begitu aku akan mempersiapkan kuda dan mencari seseorang untuk menjaga peternakanku selama kita pergi..”

“baiklah Miss…. kalau begitu kami permisi, kami juga harus mempersiapkan barang bawaan untuk besok…”

Aku bangkit, diikuti oleh Evan.

Aku menjabat tangan Selly tanda sepakat, lalu bergegas meninggalkan tempat itu.

Opini-opini yang sampai di telingaku memiliki porsi sendiri dalam pertimbanganku. Keraguan orang-orang, kemungkinan legenda itu bohong, dan kemungkinan bahwa sang ‘Immortal’ telah tiada. Hampir saja semangatku merosot. Namun ketika aku mengingat tentang Ibu, semangatku kembali bangkit.

Sesampainya di penginapan, kami segera mempersiapkan segala hal. Tidak boleh ada kesalahan, tidak boleh gagal.
Esok kami akan memulai perjalanan kami menuju sang ‘Immortal’

Bersambung