Petualanganku Part 3

PrologPart 1Part 2Part 3Part 4
Part 5Part 6Part 7Part 8Part 9
Part 10Tamat

Cerita Sex Dewasa Petualanganku Part 3 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya : Cerita Sex Dewasa Petualanganku Part 2

Kathmandu…..

Setelah perjalanan panjang yang dibumbui sex-scene singkat.
Aku dan Evan kini menjejakkan kaki di bandara Tribhuvan Nepal. Sebuah bandara internasional yang konon paling tidak disukai.

Aku mengerti alasannya.
Kamar mandi yang jorok, jadwal yang sering tertunda, dan suara gaduh seperti stadion sepak bola mewarnai sisi kelam bandara internasional satu-satunya di dataran tinggi Nepal.

Begitu juga dengan proses ‘tetek bengek’ lainnya. Sumpek, pengap, dan crowded mewarnai proses mengantri di loket imigrasi. Aroma udara dingin diluar sana berubah memuakkan ketika bercampur dengan aroma keringat orang-orang yang berdesakan. Antri mengisi formulir ‘visa on arrival’, antri foto di ‘booth’ mini dengan membayar 300 NPR untuk sekali foto, dan membayar US$ 25 untuk visa selama 15 hari.

Namun semua itu rasanya terbayar, dengan hamparan pegunungan yang menjadi latar belakang pemandangan. Petualangan dimulai, di sini…. di Nepal.

Silver Home Hotel, menjadi tujuan kami selanjutnya.
Hotel yang meraih peringkat 18 terbaik dari 134 hotel yang tersebar di seantero kota Kathmandu adalah pilihan kami untuk menginap.

Jujur, kami belum tau harus kemana untuk mencari keberadaan sang ‘Immortal’ yang dimaksud.

Artikel hanya menyebutkan tentang sebuah desa terpencil bernama Nagarkot yang terletak di ketinggian 2195m dpl. Dikatakan, Nagarkot merupakan negeri di atas awan yang sesungguhnya. Mungkin di sanalah kami akan mulai mendapatkan petunjuk.

Jika Indonesia memiliki Dieng, Mahameru, dan lain-lain. Maka Nepal memiliki Nagarkot sebagai destinasi wisata pilihan.

Sang ‘Immortal’ yang dimaksud berada di desa itu, namun terisolir karena rumahnya yang tak memiliki akses jalan apapun. Sang ‘Immortal’ tinggal ratusan tahun di pegunungan. Di mana udara malam bisa menukik dengan tajam hingga beberapa derajat di bawah nol.

“selamat siang, dapatkah anda mengantar kami ke Silver Home Hotel?” tanyaku pada seorang supir taksi yang kami temui di pelataran bandara.

“silahkan naik, saya akan mengantar anda ke sana” jawabnya.

Ahh…. sejuk sekali udara di sini.

Perjalanan kami ke hotel di hiasi oleh deretan pegunungan bersalju yang tampak di semua penjuru. Teriknya matahari yang bersinar cerah, seakan tak mampu membakar kulit kami yang mulai mengeriput karena dinginnya angin semilir. Suasana di Kathmandu sepertinya bisa di bilang mirip dengan beberapa kota di Indonesia. Kota Malang contohnya.

Selain pemandangan indah yang menawan, ternyata Kathmandu salah satu kota metropolitan di Nepal tak berbeda jauh dengan Jakarta. Hiruk pikuk suara klakson yang saling beradu merdu mewarnai perjalanan kami. Sampah-sampah juga bertebaran di sana sini, tak bedanya dengan sudut-sudut Jakarta yang kumuh. Bedanya, Kathmandu menjanjikan suasana yang lebih simple, tak begitu banyak gedung bertingkat yang akan kau temui di sini. Tak seperti kota metropolitan di Jakarta, di sini semuanya terasa kurang terawat. Maaf ini penilaian objektif.

Mengingat harga bahan bakar yang jauh lebih tinggi, namun dengan kondisi pompa pengisian bahan bakar yang tak terawat. Bisa disimpulkan bahwa Kathmandu belum bisa di sejajarkan dengan ibu kota Indonesia.

Aku membuka lagi catatan perjalananku, dan menemukan bukti reservasi hotel yang telah kami lakukan sejak kami masih berada di Jakarta. Perjalanan ini memang sudah terencana dengan baik.

“bbbbrrrrrrrrrrrrr…………..” Evan tak henti-hentinya bergidik kedinginan.

Pantas saja. Si ‘bodoh’ itu tidak mengenakan jaket tebal seperti yang kukenakan. Entah kenapa, Evan sang jenius, yang selalu berpikir kritis, justru sering terjebak dalam keadaan yang tak menguntungkan karena kecerobohannya sendiri.

“lagian lu tolol sih…. jaket cuma dibawa-bawa doang… dipake bloon…”

“ohh… i-iya…….”

Dengan tergesa-gesa Evan mengenakan jaket miliknya. Saking tergesa-gesanya, ia sampai memaksakan kepalanya masuk ke dalam lubang yang seharusnya dimasuki oleh tangannya. Aku tak mau komentar untuk yang satu itu.

“itu lobang buat tangan…ah elah…” kataku.

“ohh…i-iya ya….hehe….”

“Slep…..”

Akhirnya kepalanya menemukan jalan yang benar.
Perlahan, keadaan Evan berubah membaik. Tubuhnya tak lagi gemetar, ia mulai menikmati pemandangan di luar jendela.

~***~​

Aku membayar taksi yang kami tumpangi seharga 750 NPR. Atau setara dengan kira-kira Rp.75,000, setelah taksi itu mengantar kami sampai di pintu hotel Silver Home.

Masuk ke dalam hotel, seorang resepsionis wanita menyambut kami dengan senyumnya yang ramah.

“selamat datang di Silver Home, ada yang bisa kami bantu…” ucapnya.

“kami sudah melakukan reservasi….. ini bukti reservasinya…” ucapku seraya menyodorkan selembar kertas pada wanita itu.

“klik..klik…klik……”

Wanita itu mengecek keabsahan bukti reservasi kami dengan mengecek data yang ada di dalam komputernya.

“tingggggg………….”

Sebuah lonceng diatas meja resepsionis ia bunyikan.

“baiklah tuan-tuan… silahkan lewat sini…., bellboy akan mengantar anda berdua sampai ke kamar…” ucapnya.

“terima kasih banyak..”

Ahh…. aku sudah tak sabar ingin mandi dan berbaring.

Permainan singkat dengan seorang pramugari yang kuketahui bernama Manda cukup menguras tenagaku. Gadis manis kelahiran Bandung itu sempat bertukar nomor telepon denganku, mungkin saja kami bisa bertemu lagi jika aku sudah kembali ke Indonesia.

Kami menaiki lift bersama bellboy untuk sampai ke kamar.
Kamar kami terletak di lantai empat, dengan posisi di ujung lorong dan memiliki view pemandangan yang luar biasa memanjakan mata.

Selagi aku memberikan selembar uang sebagai tip untuk sang bellboy, Evan segera menghambur ke dalam kamar dan berdiri di beranda.

“gokiiiiillllllllllll…………………” Evan berteriak.

“norak luh…” aku menimpali seraya mengeluarkan satu setel baju untuk bergegas mandi.

“bawel banget lu… kaya enci-enci kalah judi…”

“apa kata jigong lu aja broo…. apa kata jigong lu aja….”

Aku bergegas meninggalkan bocah ‘norak’ dan masuk ke kamar mandi untuk menikmati air hangat.

“aaaarrrrhhh….. mantep……” gumamku.

Seluruh tubuhku kini telah terendam di bathub yang dipenuhi busa sabun.
Aku menyandarkan tubuhku, mencari posisi yang nyaman untuk menikmati hangatnya air yang mengucur.

“Naya sama ibu lagi ngapain yah disana?” gumamku.

****

Evan.

Oh man….. pemandangan di sini sungguh tak dapat kugambarkan dengan untaian kata.

‘menakjubkan’ satu kata itulah yang terlintas dalam benakku ketika berdiri di beranda kamar hotel seraya melayangkan padang ke arah deretan gunung-gunung tinggi.

“Mt. Everest di mana yah?”gumamku.

Yup, puncak tertinggi dunia, tempat yang konon di huni oleh para dewa.

Tak salah jika aku menanyakan di mana tempat itu. walau ratusan nyawa telah melayang karena berusaha menaklukkannya, Mt. Everest tetap memiliki kharisma tersendiri di mata dunia. Arti sesungguhnya dari puncak kejayaan.

Puas memandangi gunung bersalju, aku kembali masuk ke dalam kamar hotel dan menutup jendelanya. Mencegah agar udara dingin menusuk tak menghampiri kami.

Sesuatu yang berbeda, jika kau datang menginap di hotel ini, kau pasti akan menyadarinya.
Jika hotel-hotel di Indonesia pasti memiliki AC dalam kamarnya, tidak dengan di sini. Alih-alih AC, hotel ini hanya memasang sebuah kipas angin yang berputar pelan ketika kunyalakan.

Jelas saja. Untuk apa mereka memasang AC? Udara di sini bahkan jauh lebih dingin dibandingkan AC 1PK yang di setel pada suhu terendah, menurutku.

Menunggu Tomi yang sedang mandi air hangat membuatku bosan.
Akhirnya aku meraih laptop yang masih berada di dalam koper. Menyalakannya, dan memanfaatkan koneksi Wifi yang disediakan pihak hotel untuk mencari informasi terkait dengan pencarian kami akan sang ‘Immortal’

Nagarkot sendiri merupakan sebuah desa yang terletak di distrik Bhaktapur. 30 km dari bandara internasional Tribhuvan. Terletak di kawasan dengan kontur perbukitan, di mana awan akan berada di bawah kakimu jika telah mencapainya. Konon, dari desa ini kita akan bisa melihat puncak Mt. Everest dengan jelas jika berkunjung pada bulan Oktober hingga Januari. Tepat sekali dengan perkiraan waktu itu, saat ini adalah bulan Oktober. Mungkin saja kami akan memiliki kesempatan untuk sekedar ‘melihat’ puncak Mt. Everest yang legendaris tanpa bermimpi untuk menaklukkannya.

Aku kembali membuka artikel yang menyebutkan tentang sang ‘Immortal’ yang tinggal di pedalaman desa Nagarkot.

Lagi-lagi tak ada jejak. Mungkin kami memang diharuskan untuk menelusuri jejak-jejak samar untuk menemukan keberadaanya.

“hufff……….” aku menghela napas.

Jemariku kembali melompat-lompat di antara tuts keyboard laptopku. Mencoba berselancar lebih jauh untuk menemukan sedikit petunjuk.

Pencarianku membuahkan sedikit hasil. Namun bukan tentang sang ‘Immortal’ yang kami cari.
Melainkan tentang legenda ‘Immortal’lain, yang ditulis pada sebuah blog.

Dia adalah Count St.Germain.
Manusia yang konon berusia lebih dari 2000 tahun, dan di perkirakan mengenal sosok kristus secara pribadi.

Count St.Germain, dikenal fasih dalam berbagai profesi. Petualang, alkimia, penemu, herbalis, hingga pemain Biola yang handal. Figurnya yang misterius membuatnya mendapat tempat yang begitu mulia di antara para penganut okultisme seperti Teosofi yang menjulukinya Master Rakoczi atau Master R yang merupakan salah satu dari para Master kebijakan kuno yang hidup abadi dan dipercaya memiliki kekuatan seperti dewa.

Sebuah kenyataan yang aneh tertulis di sana.
Dikatakan bahwa Count St.Germain tidak pernah makan apapun. Hal itu diutarakan di sebuah dialog ketika Count St.Germain sedang duduk di meja makan bersama kawan-kawannya.

“pernahkah kalian menyaksikan aku makan?” tanya Count.

Saat itu tak ada yang menjawab. Mereka memang sering berkumpul bersama Count di meja makan, namun mereka mengakui bahwa Count tak pernah menyentuh makanan apapun. Kenyataan itu semakin memperkuat keyakinan kawan-kawan Count bahwa, Count pastilah telah menemukan rahasia dari ‘Elixir of Life’

Kemudian, Count St.Germain mulai bercerita tentang sejarah beratus-ratus tahun yang lalu. Tentang rahasia yang dimiliki para Master dari Mesir. Count lalu terdiam sesaat, lalu bertanya pada pelayan pribadinya. “apakah ada yang terlewat olehku?”

Jawaban yang diberikan sangat mengejutkan.

“tuan, anda lupa bahwa saya baru tinggal bersama dengan anda selama 500 tahun, sehingga saya tidak hadir dalam peristiwa itu. mungkin para pendahulu saya yang lebih mengetahuinya..”

***

“ahh…. satu petunjuk lagi rupanya…” gumamku.
Jika artikel ini benar dan bukan sebuah karangan, maka kemungkinan untuk menemukan sang ‘Immortal’ semakin dekat.

Sesungguhnya, aku kurang tertarik membahas sains tentang manusia abadi.

Aku hanya melakukan perjalanan ini untuk merangsang minat Tomi untuk berpetualang lebih jauh lagi. Menemukan rahasia-rahasia yang lebih mencengangkan dibanding seseorang yang mungkin sudah bosan karena hidup terlalu lama. Bagiku, kehidupan abadi merupakan siksaan, atau lebih tepatnya kutukan. Hanya orang-orang yang terlalu takut pada kematianlah yang mengidam-idamkan rahasia hidup abadi.

“cekrek…..” pintu kamar mandi terbuka.

Tomi melangkah keluar dengan mengenakan pakaian lengkap dan sebuah jaket tebal.

“jadi…. info apalagi yang lu dapet?” tanya Tomi.

“ngak ada kalo tentang yang kita cari…. tapi di cerita lain, ada orang yang namanya Count Saint Germain. Katanya sih umurnya malah sampai 2000 tahun….” jawabku.

“semakin fantastis, semakin terlihat kebohongannya bro…. jangan buru-buru percaya…”

“yah…namanya juga usaha….”

***

Tomi

Aku mengeluarkan laptopku sendiri. Mengesampingkan cerita tentang manusia yang hidup selama 2000 tahun itu. pencarianku kini berfokus untuk mencari peta, atau apapun yang bisa membimbing langkah kami semakin dekat menuju sang ‘immortal’

Beberapa gambar peta yang cukup detail telah ku-unduh dari internet, lalu kumasukkan dalam satu folder pada memory smartphoneku. Kita akan lihat nanti apakah peta ini akan berguna.

Sementara aku terus berselancar. Evan bangkit dari duduknya, mengambil tiga buah powerbank sebesar batu bata, dan mengisinya untuk dipakai esok hari.

‘who are you actualy…’ batinku sambil terus menatap layar laptop.

Pikiranku masih tertuju pada sosok ‘immortal’ yang misterius. Mungkinkah kami akan menemukannya dengan mudah. Jika ya, maka kita berlanjut pada pertanyaan kedua. Mungkinkah ia akan membeberkan rahasia ‘elixir’ semudah merebut permen dari anak kecil.

Kami bahkan tidak tahu menahu tentang kemungkinan perangai seseorang yang sudah hidup selama lebih dari 200 tahun. Mungkinkah ia adalah seorang yang teramat arif dan bijaksana karena telah hidup cukup lama untuk merasakan pahitnya dunia? Atau justru seorang psikopat yang terobsesi dengan hal-hal berbau kekerasan.

Oke, kesampingkan hal itu sejenak. Kami bahkan belum mengetahui apakah sang ‘Immortal’ itu adalah laki-laki atau perempuan.

Aku memangkukan dagu pada tanganku, meredakan pegal yang mulai terasa di tengkuk dan bahuku.
Sesekali aku melirik kepada Evan yang kembali berfokus pada layar laptopnya.

“oyy…. menurut lu, kita musti cari darimana? Nagarkot itu pasti luas lho…” ucapku membuyarkan lamunannya.
Evan melirik sedikit kearahku, lalu kembali menambatkan pandangannya di layar laptop.

“yah… apa mau dikata, kita harus cari informasi sendiri lah… 15 hari ini harus kita manfaatin sebaik-baiknya. Ngak lucu kan, kita udah jauh-jauh kesini tapi pulang dengan tangan kosong.

“yeah…. kayaknya kita memang ngak punya pilihan…”

~***~​

Esok pagi……

“huuuuuaaarrghhh…..” aku merenggangkan tiap jengkal tubuhku. Mencoba mengusir kantuk yang menggelayut mesra di kelopak mataku yang terasa begitu berat.
Gemetar sejenak, baru kali ini aku tidur dalam cuaca dingin seperti ini. Aku segera mengenakan jaket tebal untuk menghangatkan diri.

Aku melirik ke ranjang yang ditempati Evan. Selimut tebal masih terlihat menonjol.
Rupanya pemalas itu belum bangun juga.

“hoy….. bangun…..” aku melemparkan bantalku ke arahnya.

“mmmm………”

“buruan bangun nyet… ini udah jam berapa? Kalo kita ngebuang waktu di sini, bisa-bisa kita kesorean sebelum dapet informasi apa-apa.

“nnngghhhh…… ganggu aja lo ahh….”

Akhirnya kukang pemalas itu bangkit.
Ia menurunkan kakinya dari ranjang, seraya mengucek matanya. Rambut hitamnya terlihat mencuat ke mana-mana, membuat kepala Evan terlihat seperti nanas.

Lampu indikator pada laptop kami telah berubah hijau. Tanda bahwa baterainya sudah terisi penuh.
Aku bangkit dari ranjang, lalu mencabut chargernya.

Hari ini kami akan melakukan check-out. Dan berangkat menuju Nagarkot
Kami tak ingin mengharuskan diri bolak-balik Kathmandu – Nagarkot hanya untuk bermalam. Kudengar, di sana juga banyak tersedia penginapan yang nyaman.

Bersambung