Petualanganku Part 10

PrologPart 1Part 2Part 3Part 4
Part 5Part 6Part 7Part 8Part 9
Part 10Tamat

Cerita Sex Dewasa Petualanganku Part 10 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya : Cerita Sex Dewasa Petualanganku Part 9

“Nnggg…. kamu gak bercanda kan?” tanyaku.

Di tanganku kini tergenggam sebuah pil berwarna merah jambu yang diberikan Lara.

“Ya nggak lah…. buat apa bercanda,” jawabnya.

Evan masih melongo, seakan tak percaya dengan apa yang diberitahukan matanya.

“Eeehh…Selly, benar itu obatnya?” tanya Evan pada Selly yang masih berdiri tanpa busana.

“Benar kok… kalian tidak percaya pada Lara?”

“Ohhh bukan-bukan… bukan nggak percaya, tapi masa sih?” ucapku.

Kupandangi lagi raut wajah Lara yang seakan masih menikmati sisa-sisa orgasmenya.

***

Beberapa menit yang lalu…

“AAAAAKH….” Lara masih melenguh panjang, bahkan saat penisku sudah kukeluarkan.

Dari celah di selangkangannya, aku dapat melihat lelehan spermaku, bercampur darah perawan Lara, keluar bersama cairan orgasmenya.

“Ugh, Sel-Selly….” Lara meracau. Tubuhnya menegang, ia kini berbaring di atas batu besar tempat kami melakukan persetubuhan dengan raut wajah nampak kesakitan. Oke, aku mulai takut saat ini.

Aku berdiri mematung, memandangi Lara yang masih menggeliat di atas batu besar itu.
Evan dan Selly berjalan ke arahku. Ekspresi yang ditunjukkan Evan sama bingungnya, namun tidak dengan Selly. Ekspresi wanita itu datar, biasa saja. Seakan tak ada yang aneh dengan semua ini.

“Selly… ada apa ini, kenapa Lara begitu….” tanyaku.

“Tidak apa-apa, sabar sedikit… biarkan Lara menyelesaikannya,” ucap Selly.

“HHNNNGGGGGGGGGGG….” Lara mengejan keras.

Aku memandang raut wajahnya yang mulai dipenuhi keringat. Selly mendekati Lara, lalu mulai mengusap vagina Lara yang terpampang karena kedua pahanya terbuka lebar.

“Ayo sedikit lagi….” ucapnya.

“Aaaakh… AAAAHH….” Lara berteriak hebat, seakan sebuah belati baru saja menyayat perutnya.

Aku masih memandang mereka dengan perasaan takut, was-was, dan khawatir.

Evan mengerutkan dahinya, ekpresi tercengang pada raut wajahnya bercampur rasa ingin tahu.
Beberapa lama setelah itu, vagina Lara mulai bercahaya. Sesuatu telah keluar dari dalam rahimnya.
Sesuatu yang berkilau, ukurannya mungkin sebesar kelereng.

“Aaaaaaaaakkhh…..” Lara melenguh panjang untuk terakhir kali.

Tubuhnya terkulai lemas di atas batu besar itu. Selly dengan cekatan meraih benda berkilau itu dengan kedua tangannya. Selly mengangkat benda itu dengan sangat hati-hati, seakan benda itu adalah sebuah bayi rapuh yang butuh perhatian ekstra.

Lara bangkit perlahan, lalu mendudukkan tubuhnya. Napasnya sudah mulai normal kendati masih terengah-engah. Selly mendekatkan benda berkilau itu ke tubuh Lara, yang diikuti oleh Lara membungkukkan tubuhnya.

Jemari Lara dengan perlahan meremas payudaranya sendiri, membuat air susu yang agak bening mulai menetes pelan. Lara mendekatkan putingnya pada benda berkilau itu, lalu meneteskan air susu itu di sana.

Tetesan air susu itu menitik perlahan, membasahi benda bulat berkilau di tangan Selly yang perlahan cahayanya memudar. Kini, obat itu telah siap. Berwujud seperti kelereng berwarna pink, yang mengingatkanku pada Si-Kon-No-Tama.

“Selesai….” ucap Selly.

~***~​

“Jadi obatnya ada di dalam rahim kamu??” tanyaku.

“Yah… memang begitu” jawab Lara.

“Jangan bilang kalau kamu bukan manusia….” itu adalah opini yang mendasar. Bukankah aneh jika ada seorang wanita yang hidup abadi, dan menyimpan obat di dalam rahimnya.

“Enng…, secara teknis, aku tetap manusia kok. Hanya saja punya keistimewaan, selaput daraku akan tumbuh kembali tujuh hari setelah melakukan hubungan sex. Dan di dalam rahimku, aku mengandung sebuah pil yang akan menjadi obat bagi segala jenis penyakit. Bisa dikatakan pil itu adalah esensi kekuatan magis yang memadat sekian lama.”

“Maksudnya gimana sih? Aku kok gagal paham?” Evan menyahut.

Aku hanya bersabar, menunggu Lara melanjutkan ceritanya.

“Sebenarnya sih aku dan Selly ‘dulunya’ manusia” jawab Lara.

“Jadi kamu juga Vampir?” tanyaku.

“Ohh bukan,” Selly menyela,

“jangan samakan Lara dengan makhluk rendahan sepertiku,” ucap Selly.

“Selly… stop, aku gak suka dengar bagian itu lagi,” Lara menimpali.

“………………….” Selly kembali menundukkan kepala. Ia tak ingin berdebat dengan Lara.

“Eng, begini…, kalau Selly abadi karena ia berubah menjadi Vampir, maka aku berubah menjadi manusia yang lain,” lanjut Lara,

“dulu aku hidup di sebuah daratan, aku adalah puteri seorang raja. Karena sebuah guna-guna, aku dan ibuku diusir karena terjangkit penyakit kulit yang mengerikan. Ibuku tewas dalam perjalanan kami, sementara aku berhasil mencapai pantai selatan. Di sanalah aku mendapatkan sebuah mimpi yang berkata, bahwa aku akan mendapati kesembuhan dengan menceburkan diri ke laut. Namun selain kesembuhan, aku mendapatkan kehidupan abadi serta kemampuan magis.”

“Jadi itu alasan kamu bisa baca pikiran orang?” tanyaku

“Yah… seperti itu. setelah semua itu, aku tinggal di sana, di dasar laut selatan. Membangun sebuah kerajaan yang dihuni oleh makhluk astral, di sanalah aku mulai belajar membaca pikiran untuk berkomunikasi. Kami tidak perlu bersusah payah untuk berkomunikasi. Bahkan tanpa bertemu, kami bisa saling bercakap-cakap. Kemampuan itu saat ini di kenal sebagai telepati,” lanjut Lara.

“Jadi kesimpulannya…?” Evan sepertinya sudah tak sabar untuk mendegar akhir ceritanya.

“Aku tidak bisa memberikan kehidupan abadi kepada siapapun.”

“…………..” Evan sepertinya cukup kecewa dengan jawaban Lara. Mungkin, ia sempat berpikir, bahwa jika ia mendengar rahasia sesungguhnya maka ia akan bisa meneliti lebih lanjut tentang keabadian. Namun mau apa lagi, sejak awal memang bukan hal itu yang kami cari.

“Jangan bersedih Evan…, aku bisa memberikan bonus kehidupan abadi jika kau mau?” Selly memandang Evan dengan senyum tulus, namun melihat dua buah taring tiba-tiba mencuat dari sela senyum Selly, Evan berteriak.

“TIIIIIIDAAAAAAAAAKKKKKKKKKK…………”

Dua bulan setelahnya…

Aku kini berdiri, mengenakan setelan hitam-hitam, berdiri di sisi Naya yang bersimpuh di makam ibu.
Wajah Naya begitu sayu. Matanya sembab dengan lingkaran hitam di sekelilingnya.

Sebenarnya, ibuku memang berhasil disembuhkan.

Prosesnya begitu ajaib. Begitu meminum obat yang diberikan Lara, dada ibu bersinar tepat di mana kankernya diduga berada. Rasa hangat mulai ia rasakan, namun dari raut wajahnya aku bisa menilai bahwa Ibu sama sekali tidak merasakan sakit.

Setelah itu, kami memeriksakan kesehatan ibu ke rumah sakit.
Dokter yang memeriksanya begitu terkejut saat membaca medical record milik ibu.

“Ini ajaib…, ini harus di catat,” ucapnya. Kanker di paru-paru ibu benar-benar menghilang. Dan mulai saat itu, Ibu hidup normal kembali.

Kami merayakannya dengan berlibur seperti keinginan Naya.

Satu minggu penuh, kami berpaling dari kesibukan dunia, dan berkunjung ke tempat-tempat eksotis. Bali, Raja Ampat, Paris, dan Tokyo kami jelajahi. Aku menuai senyum dari keputusan yang kutabur.
Perjalanan berat ke Nepal tak sia-sia. Namun, dua hari yang lalu Ibu mengalami kecelakaan lalu lintas.

Mobil sedan yang ia kendarai ditabrak oleh sebuah kontainer hingga Ibu terlempar keluar menerobos jendela depan. Beberapa tulang rusuknya patah, Ibu mengalami pendarahan hebat.
Ibu sempat dirawat selama 2 hari di ICU sebelum menghembuskan napasnya yang terakhir di pelukan Naya.

~***~​

Aku menyandarkan diri di jok mobil, mengenakan seatbelt, lalu memutar kunci untuk menyalakan mobil yang kami kendarai. Naya duduk di sampingku.

“Sudah Nay… biar Ibu tenang di sana” ucapku.

Naya tetap tak menyahut. Ia masih memandang ke makam ibu dari jendela dengan tatapan kosong.
Aku menunggu hingga Naya siap untuk meninggalkan kompleks pemakaman ini.

“Apa memang harus begini kak?” tanya Naya.

“Aku nggak tau Nay, semua ini kehendak Tuhan. Aku udah berusaha, kamu juga udah memberikan kenangan indah buat Ibu di akhir usianya” jawabku.

“Iyah…,” Naya menundukkan wajah, “aku harap Ibu tenang disamping ayah….”

Lantunan doa telah meluncur dari hati kami yang terdalam. Mendoakan perlindungan bagi orang terkasih yang telah pergi meninggalkan kami. Kumajukan persneling mobil, lalu kuinjak pedal gas perlahan. Mesin mobil yang kami kendarai menderu halus. Aku tak ingin meninggalkan suara memekakkan di tempat peristirahatan terakhir orang tua kami. Ban mobil berwarna hitam mulai bergulir, menyusuri jalanan aspal yang di kanan kirinya ditumbuhi pepohonan rindang. Mobil yang kami kendarai mulai melesat, membelah lautan daun berguguran yang kini beterbangan.

Sedih?? Itu pasti.

Tapi aku tak boleh menyesali takdir. Aku tak boleh mengutuk yang maha kuasa atas musibah yang kami terima. Bersyukur, aku masih sempat memberikan bakti terakhir untuk Ibu. Melalui perjalanan panjang yang melelahkan, menyusuri lekuk puncak dunia, dan menemukan obat untuk penyakitnya di sana. Bersyukur, aku masih sempat menemani Ibu berlibur untuk terakhir kali. Menjalani hari bahagia dengan senyum dan tawa, dengan kenangan dan harapan.

Tak ada yang harus di sesali.

Yang bisa kulakukan, adalah menikmati nasi yang telah menjadi bubur, dengan taburan ayam suir, daun bawang, dan kerupuk di atasnya. Sebelum meninggalkan makam ibu, aku telah berjanji akan menjaga Naya dengan baik.

TAMAT