Petualanganku Part 1

PrologPart 1Part 2Part 3Part 4
Part 5Part 6Part 7Part 8Part 9
Part 10Tamat

Cerita Sex Dewasa Petualanganku Part 1- BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya : Cerita Sex Dewasa Petualanganku Prolog

Friends Forever

“plok…plok….plok…..”

Riuh tepuk tangan para peserta upacara kelulusan terdengar.

Aku adalah salah satu yang mengenakan topi persegi berwarna hitam yang berbaris dibawah panggung. Menunggu, saat pidato ‘tak jelas’ itu selesai dibacakan oleh murid terbaik dalam angkatan ini, Evan Alexander.

Dialah arti sesungguhnya dari kata ‘sahabat’.

Dialah siapa, yang bersedia berbagi suka dan duka. Berbagi canda dan tawa.

Cukup lama aku mengenal sosok Evan. Sudah 12 tahun tepatnya, semenjak ia pindah ke sekolah dasar saat kami duduk di kelas 5.

Evan adalah penggila teknologi sejati. Berbagai eksperimen ‘gila’ telah ia lakukan. Contohnya? Ia berusaha membuat reaktor nuklir mini sebagai bahan skripsi di garasi rumahnya. Entah ia sesungguhnya mampu atau tidak, semua itu tak terbukti sejak polisi menangkapnya atas tuduhan ‘membahayakan publik’, sejak saat itu Evan menghentikan eksperimennya dan beralih membuat skripsi tentang konspirasi H.A.A.R.P.

Berbeda dengannya.

Jika Evan memilih berkecimpung dalam dunia teknologi, hingga mengambil jurusan teknik enginering. Maka aku lebih suka berkecimpung dalam dunia sastra dan bahasa.

Coba kau bayangkan, ketika aku berusaha menjelaskan ‘kritik sastra feminis’ dan Evan berusaha menjelaskan tentang ‘relativitas ruang dan waktu’.
Salah satu dari kami hanya bisa menganggukkan kepala sementara yang lain mulai bercerita, dan setelah itu berkata “sumpah… gua ngak ngerti sama sekali”

***

Satu persatu, para lulusan naik keatas panggung untuk menerima ijazah. Tanda bahwa mereka telah menyelesaikan studi panjang selama empat tahun, hingga menerima gelar sebagai sarjana.

Kini giliranku.

Dengan dada berdebar penuh kebahagiaan, aku mengangkat ijazah yang tergulung dengan sebuah pita kuning mengikatnya ke udara.

Ayah dan ibuku berdiri, memberikan ‘standing aplouse’ bersamaan.

Yah, merekalah yang paling berjasa membentukku menjadi pribadi seperti sekarang ini.

Aku tak bisa meng’klaim’ bahwa diriku adalah orang hebat. Mungkin kata ‘hebat’ lebih cocok diberikan pada orang seperti Evan. Lulusan terbaik dengan banyak prestasi gemilang.

Aku turun dari panggung, menunggu hingga seluruh kawan-kawan satu angkatanku selesai menerima ijazah mereka. Lalu berkumpul, membuat sebuah lingkaran besar, dan melemparkan topi hitam kami keudara.

Dua tahun berlalu.

Evan kini sibuk dengan pekerjaan barunya di sebuah institusi penelitian teknologi nuklir. Kerutan-kerutan halus mulai nampak di raut wajah mudanya. Mungkin ia agak tertekan dengan pekerjaan itu, walau sebenarnya merupakan ‘hobi’ dan cita-citanya sejak dulu.

Sementara aku, sedikit berbeda.

Ayah menunjukku sebagai CEO pada perusahaan trading milik keluarga.

Sebuah posisi yang sesungguhnya tak kuinginkan, namun kuterima begitu saja karena hal itu merupakan ‘wasiat’ terakhir ayahku sebelum ia menghembuskan napas terakhirnya enam bulan lalu.

Berkali-kali aku merajuk pada ibu, untuk memberikan posisi ini pada adikku Naya.

“bu…… aku ini lulusan sastra, ndak pantas jadi CEO…”,”lihat Naya, dia sekarang udah lulus jadi sarjana Managemen. biarlah posisi ini buat Naya, dia lebih pantas”

“Tomi…. kamu itu anak laki-laki. Seharusnya kan kamu yang menjabat posisi itu” ibu berkata dengan lembut.

Di usianya yang nyaris mencapai setengah abad, ia hanya berharap aku tidak memprotes keputusan ayah. Ditambah lagi, ibu mengidap kangker paru-paru, yang bisa merenggut nyawanya kapan saja.

“betul kak… aku ini perempuan, lagian, aku kurang bisa negosiasi…” Naya menimpali.

Dikepung oleh opini dari dua orang yang sangat mendukungku, aku hanya bisa pasrah.
Pekerjaan sebagai CEO tetap kujalani beberapa lama, hingga akhirnya aku jatuh sakit.

Saat itulah ibu, dan Naya tak bisa berbuat banyak.
Mereka akhirnya menyetujui permintaanku agar Naya diangkat menjadi CEO, sementara aku sebagai penasihatnya.

***

Angin semilir berhembus. Meliuk anggun melalui celah gorden berwarna putih kedalam paviliun VVIP tempatku dirawat. Gorden putih itu menari anggun, seakan berdansa dengan semilir angin yang ramah.
Sejuk sekali, jauh lebih baik dibandingkan udara AC yang kering.

Aku masih berbaring lemas. Meratapi tubuhku yang kini terjangkit ‘typhoid’.
Bubur, bubur, dan bubur. Hanya itu yang kumakan selama seminggu terakhir.
Rasanya aku kini sudah mampu mengecap dengan baik rasa bubur mana yang paling enak, hingga aku berpikir untuk berjualan bubur.

‘pikiran bodoh… hahaha’ batinku.

Disaat aku terbaring, menyusup dibalik selimut cukup tebal. Aku masih saja disibukkan dengan puluhan email yang masuk kedalam laptopku tiap hari. Email dari Naya, yang meminta pendapat tentang tawaran kerjasama dagang beberapa perusahaan ternama.

Jemariku menari lincah, diatas papan dengan tuts terhampar.
Kubalas email-email itu satu persatu hingga kudengar suara pintu terbuka.

‘oh iya…. sekarang jam besuk….’ batinku.
Siapakah gerangan yang mengunjungiku hari ini. Mungkinkah ibu? Ahh, beliau baru saja mengunjungiku tadi malam. Mungkinkah Naya? Tidak mungkin, untuk apa ia mengirim email jika ia akan datang kesini.

“hay bro…… apa kabar?”
Suara itu, suara yang telah lama tak kudengar. Evan.

Jemariku seketika berhenti bercengkerama dengan tombol persegi berwarna hitam yang terhampar. Bibirku tersenyum memandang sahabatku yang kini berdiri dengan tas ‘selempang’ menggelayut di sisi tubuhnya.

“oooii…… kok ngak ngomong mau dateng?”
Kuulurkan tangan kananku menyambutnya. Kami berjabat tanggan, sebuah jabat tangan khas yang telah kami lakukan bertahun-tahun.

“haha…. iseng aja, suntuk tiap hari dipenjara di lab…” katanya seraya tersenyum. “gimana? Udah baikan?”

“lumayan lah… mungkin dua-tiga hari lagi pulang….”,”gimana kerjaan lu? Beres?”

Entah apakah pertanyaanku salah. Atau nada ucapanku terkesan menyindir.
Senyum diwajah Evan menghilang.

“gua resign…. hahahaha” ekspresi datar Evan seketika meledak menjadi tawa.

“lahhh??? Lu gimana bro? susah lho masuk ke ‘BATAN'”

“hmmm….. gimana ya, namanya juga hidup. Kadang pilihan kita bukanlah yang terbaik” Evan merogoh sebuah buku tebal dengan sampul hitam bergambar piring terbang dalam tasnya yang berwarna abu-abu.

“nih gua bawain oleh-oleh…”

“apaan nih?” aku menerima buku itu.

-ENIGMA; Menguak Fakta-fakta Misterius Paling Fenomenal di Dunia-

“sejak kapan lu suka baca hoax?” tanyaku.

Dari cover buku itu, aku sudah bisa menilai apa isinya. Mungkin karena aku sering membaca, entahlah.

“eitsss… ingat bro, jangan nilai sebuah buku dari sampulnya, ingat?. Baca dulu…”

Dengan pandangan penuh keraguan tentang isi buku itu, aku akhirnya membacanya beberapa halaman.
Ternyata, isi buku itu adalah tentang beberapa misteri tak terpecahkan di dunia. Beberapa yang terbukti hoax juga dibahas penjelasannya secara detail dan berorientasi ‘sains’. Pantas Evan tertarik membacanya.

“trus?” tanyaku.

“gua mau ajak lo berpetualang…. gimana?”

Aku mengerutkan dahi, memandang matanya dengan tajam, mencoba mencerna dan menerka, guyonan apa lagi yang akan dia lontarkan setelah ini.

Raut wajah Evan tak berubah. Tetap menyiratkan sebuah ketertarikan luar biasa tentang segala yang ditulis oleh buku itu.

“lu……. serius?” tanyaku.

Evan hanya mengangguk sambil menyuguhkan senyum polos dalam raut wajahnya.

Diam sejenak.

“ghayahahahahaa………. wahahahaha…. lucu… lucu banget…. hahahahaha………” aku tertawa lepas, nyaris tak terhenti. Tawa itu baru berangsur mereda setelah aku menyadari, Evan memandangku dengan tatapan tajam.

“haa…haha…..ha.. Ehem…..”,”oke…. lu serius…”

“yup…. absolutely….” Evan menyilangkan tangannya di dada, lalu kembali tersenyum.

Kututup buku itu, lalu kukembalikan lagi kepada Evan.

“sory kalo gitu bro…. gua ngak bisa ikut…” jawabku.

“dih…. ayolah, katanya lu mau jadi penulis… lu bisa nulis tentang petualangan kita, terlebih lu mengalami semuanya secara ‘live’….” Evan berkata dengan antusias, sambil sesekali menggerakkan kedua tangan, layaknya seorang motivator.

“hold….hold….. oke gua nangkep kemana arah pembicaraan ini… tapi disini, gua punya tanggung jawab…” kataku seraya mengangkat telapak tangan kananku.

Evan terdiam sejenak. Aku tahu, ia pasti sadar seperti apa posisiku sekarang.

Setelah kepergian ayah, aku menjadi tulang punggung keluarga. Mengatur segala hal dibawah atap rumah besar nan mewah, yang sebenarnya bukanlah hasil jerih payahku. Sudah cukup aku menghamburkan uang demi memuaskan hasrat dan keinginanku yang ternyata tidak membawa hasil. Singkatnya, aku ingin menjadi pribadi yang lebih ‘tau diri’.

“oke…. gua ngak nuntut jawaban sekarang, gua tau tabiat lo, dan lo pasti ikut cepat atau lambat….” kata Evan seraya berdiri, lalu merogohkan tangannya kembali dalam tas.

“yakin banget lu?” tanyaku.

“yakin lah….. nih kado spesial…. kalo udah selesai baca, lu tau harus cari gua dimana….” Evan kembali menyodorkan sebuah buku padaku. Namun buku ini tak sebagus buku bergambar piring terbang tadi. Buku ini begitu lusuh, bahkan lebih mirip sebuah artefak.

“apaan nih?” tanyaku.

“baca dulu lah…… sekarang gua cao dulu bro. ada urusan…..” kata Evan seraya mengangkat jempolnya.

Aku hanya mengangguk, dan memandangi sahabatku itu melenggang pergi dan menghilang dibalik pintu setelah ia menutupnya.

Pikiranku kini tertuju pada buku kumal yang berada diatas pangkuanku.

Bahasa pada judulnya sama sekali tak kumengerti. ‘mungkin bahasa nepal atau mongol’ batinku.

Namun, halaman-halaman berikutnya ditulis dalam bahasa inggris. Sepertinya buku ini adalah terjemahan seseorang, karena tulisan dalam buku itu sama sekali tidak di ketik, melainkan ditulis dengan tulisan tangan.

‘a place where the most efficacious drug can be found’

‘land with no tears… where everybody got healed from every disease’

‘you’ll find the truth of medical world… that all diseases can be treated with a drug called ‘elixir’…’

Itulah beberapa kalimat pada halaman pembuka.

Yah…. Elixir obat legendaris jaman dahulu, yang namanya kini dijadikan istilah untuk tiap obat yang mengandung alkohol.

‘omong kosong macam apa ini…..’ batinku.

Aku makin kehilangan minat untuk membaca halaman demi halaman setelahnya. Hingga aku menemukan sebuah bab yang membahas khusus tentang penyakit ‘kanker’ dalam indexnya. Ya, penyakit yang sedang di derita oleh ibuku.

Aku melompati beberapa halaman untuk mencapai halaman yang dimaksud, disanalah minatku untuk membaca kembali bangkit.

Kata demi kata, kubaca dengan seksama. Memperkecil kemungkinan diriku akan ditipu oleh takhayul maupun dongeng yang selalu kudengar sebagai penghantar tidur oleh ayah.

Tak dapat kupercaya, memang.

Sungguh tak masuk akal ketika kau membaca sebuah ‘cerita’ tentang bagaimana seorang yang mengidap kanker usus, dimana perutnya sudah menggembung dan terbaring sekarat, tiba-tiba mampu berjalan dan meladang tiga hari kemudian. Itulah mukdzizat yang dijanjikan oleh ‘elixir’.

Terlebih lagi ketika aku membaca sebuah bab lanjutan, yang berisi khasiat ‘elixir’ yang mampu menumbuhkan tangan seseorang yang putus karena diserang binatang buas.
Jika aku adalah maniak penggila hoax, mungkin aku akan berteriak “amaaaazinnggg……..”

Tapi tidak, aku sama sekali tak bersuara, bahkan tidak tersenyum geli membaca cerita-cerita itu.

Begitu bodohkah sang penulis? Aku kini penasaran seperti apa ‘elixir’ yang dimaksud hingga mampu membodohi seseorang, yang akhirnya menghabiskan waktu menulis sesuatu yang tak berharga.

Kupalingkan wajah dari buku kumal itu, lalu berkonsentrasi pada layar laptop.

Aku mengetik alamat search engine para kolom url browser laptopku.

Lalu mulai mencari sesuatu tentang ‘elixir’.

Oke, ini bukanlah pertama kali aku mendengar tentang ‘elixir’, aku tahu, atau setidaknya pernah mendengar namanya di sebut-sebut walaupun dengan berbagai istilah berbeda. Amrita, Dancing water,

Mansarover, bahkan Philosopher Stone, itulah sebutan-sebutan populer untuk ‘elixir’.

Bahkan sebuah artikel lain menyebutkan, bahwa ‘elixir’ mampu menghidupkan kembali orang yang sudah mati. ‘what a joke’.

Imajinasiku mulai bermain.

Jika elixir adalah hoax, mengapa legendanya tersebar hingga seluruh dunia?

‘oke Amrita kita coret dari daftar’ nama Amrita sendiri terkadang dikenal dengan sebutan ‘Amrit Sanskar’ atau ‘Nectar of Immortality’, yang tertulis pada manuskrip India kuno, dimana ‘Amrita’ dikatakan mampu memberi keabadian bagi siapa pun yang meminumnya. Karena itulah dewa-dewa bekerja sama dengan iblis untuk memperoleh Amrita.

Pikiranku teralih pada legenda cina kuno, tentang seorang kaisar dinasti Qin. Shi Huang Di.

Sang kaisar yang mengidam-idamkan kehidupan abadi, mengutus ratusan pria dan wanita untuk mencarikannya obat abadi. Namun utusan itu tak pernah kembali.

Orang-orang dari dataran Cina khususnya pada masa itu, percaya bahwa batu giok, cinnabar, atau hematif akan memberi umur panjang bagi siapapun yang menelannya. Emas juga salah satu dzat yang dipercaya memberikan kesembuhan, seperti logam yang tak ternoda. Ide memakan dan meminum emas pertamakali tercetus di dataran Cina pada akhir abad ketiga sebelum masehi. Namun, semua itu tak sebanding dengan ‘keabadian’ yang dijanjikan oleh ‘elixir’

Selain itu, terdapat buku alkimia terkenal, berjudul ‘Rumus penting alkimia klasik’ yang di kaitkan dengan Sun Simiao, seorang spesialis alkimia yang menerima gelar kehormatan “king of Medicine” oleh generasi-generasi setelahnya.

Artikel tersebut tidak menceritakan secara rinci, apa isi buku yang dimaksud. Namun, diceritakan bahwa buku itu membahas tentang ramuan yang dapat membuat peminumnya hidup dalam keabadian. Merkuri, belerang, garam merkuri, dan arsen adalah bahan yang paling sering digunakan.

Ironisnya bahan-bahan tersebut kebanyakan beracun dan dapat menimbulkan kematian bagi siapapun yang meminumnya. Hanya dengan dosis dan takaran yang akurat dan dicampur dengan katalis khusus, bahan-bahan itu dapat menjadi ‘elixir’ yang dimaksud. Sayangnya, di artikel yang kubaca, sama sekali tak ada keterangan tentang takaran dan dosis yang dimaksud, maupun bahan-bahan lain untuk membuat ‘elixir’.

Jiajing, kaisar pada Dinasti Ming. Menghembuskan napas terakhirnya setelah mengkonsumsi ‘Elixir of Life’ yang mengandung merkuri dalam dosis mematikan. Tabib yang membuatnya, beserta keluarganya menghadapi hukuman pancung yang mengerikan setelah insiden itu.

‘apa mereka tidak bercanda?’ batinku.

Kembali kulirik buku itu, dan kubaca tiap-tiap halamannya.

***

Sebulan kemudian…

“bu……. boleh aku minta ijin?” tanyaku.

Aku, Naya, dan Ibu, kami bertiga sedang duduk di beranda rumah sambil menikmati secangkir teh hangat. Naya duduk di sisi Ibu, sedangkan aku di hadapan mereka.

“ijin apa?” tanya ibu seraya meletakkan cangkir porselen berisi teh yang baru saja ia minum.

Naya hanya mendengarkan, lalu menghirup teh dalam cangkirnya.

“aku mau ke Nepal……..”

“buuuuuuurrrrrrrrr…………. uhukkk….uhukkkkkkkk……..”

Air teh hangat dalam mulut Naya seketika tersembur begitu mendengar perkataanku. Ibuku mengalami reaksi kaget yang serupa, namun beliau cepat mengendalikan diri seraya menepuk-nepuk punggung Naya. Raut wajah mereka bagai melihat seekor sapi sedang memangsa harimau.

“uhuukkk…… kakak jangan yang aneh-aneh deh…….” Naya mengelus dada seraya mengatur napas.

“iya kamu Tom…. untuk apa jauh-jauh kesana nak……….” ibu menimpali.

Sementara aku? Aku masih terbengong-bengong melihat kekagetan mereka dengan air teh hangat mengalir pada rambut dan wajahku. Mungkinkah apa yang kukatakan begitu aneh dan tidak masuk akal, kurasa tidak. Perlahan aku mulai mengibaskan kepala agar air teh yang menempel di rambutku menghilang. ‘dengerin dulu alasannya kek…’

“ngak usah pake kuah kali Nay……….” protesku.

Kuambil beberapa helai kertas tisu putih diatas meja, lalu menyeka air teh yang membasahiku.

“sukurin….” Naya mendengus kesal.

Lohh…. siapa yang salah? Bukankah harusnya aku yang kesal karena ‘disembur’.

“mau apa kamu ke Nepal Tom?” tanya ibu.

Saat itulah aku memperlihatkan buku lusuh yang diberikan oleh Evan.
Sebuah buku tentang rahasia dunia pengobatan.

“aku mau cari obat buat Ibu….” kataku.

Ibu dan Naya terdiam. entah apakah mereka menganggapku gila, atau marah karena sikapku.

“obat?” tanya Ibu. Beliau mengambil buku lusuh yang kutunjukkan lalu mulai membaca beberapa halaman bersama dengan Naya.

Ibu tiba-tiba menundukkan wajah setelah air mata menetes melalui pipinya. Naya bangkit dari kursinya, berjalan kearahku, lalu memeluk diriku erat dari belakang.

“loh…lohh… ada apa ini?” tanyaku polos.

Saat itu ibu tiba-tiba senggukan menahan tangis.

Penyakit yang di derita ibuku, memang belum begitu parah. Baru saja menginjak stadium satu. Namun stadium satu sudah cukup untuk membatasi segala aktivitas ibu, hingga ia tak bisa lagi melakukan hal-hal yang disukainya, seperti berlibur contohnya. Ibu seperti terpenjara dalam tubuhnya sendiri.

Itulah yang menjadi motivasiku untuk pergi bersama Evan. Untuk menemukan obat yang dapat mengembalikan kebahagiaan keluarga kami, mengembalikan senyum ibu.

“jangan Tom… ibu ngak mau nyusahin siapa-siapa….” ucap ibu setelah menyeka air matanya.

Naya tak berkata apapun. Mungkin ia terharu dengan keputusanku untuk mengesampingkan hidup demi kesehatan ibu.

“bu……” ucapku pelan “sampai sekarang, Tomi belum bisa berbakti… Tomi belum bisa ngasih prestasi, cuma bisa nyusahin orang tua….” jawabku.

“aku mau lakuin sesuatu yang berarti…”,

“aku mau buat ayah bangga…”

“bu………….” kini giliran Naya menyuarakan pendapatnya. “niat kakak baik,Naya juga dukung niat itu… Naya kepingin liburan lagi sama-sama ibu” ucapnya seraya melepaskan pelukannya padaku.

“ngak………” kata ibuku lirih “sekali ngak tetap ngak….. ibu ngak mau kehilangan kamu Tom… ibu udah kehilangan ayah…. siapa yang tau, bahaya apa yang ada disana… Nepal itu pegunungan tinggi, terjal, sering dilanda badai…… apa kamu sanggup?”

Aku tersenyum mendengarnya.

“aku ngak sendirian bu…. aku sama Evan….” ucapku “ibu tau kan siapa Evan? Bocah jenius dengan segala akal dan teknologi anehnya…. aku yakin bisa” aku mencoba meyakinkan Ibu untuk melepas kepergianku. Jujur, aku sendiri juga belum tahu apakah aku akan menemukan obat yang dimaksud. Namun mengingat penderitaan yang mungkin akan dialami Ibu di sisa hidupnya, membuat tekadku membulat.

Perdebatan itu berlangsung cukup sengit. Syukurlah Naya mendukungku.
Dengan berat hati, ibu mengijinkanku pergi setelah didesak oleh argumenku dan Naya.

“baiklah…. tapi kamu harus janji Tom… kasih kabar, jangan buat ibu dan Naya cemas…”

Kalimat itu sungguh menyejukkan hatiku. Bagai sebuah jendela besar yang dibuka dalam ruang penjara pengap dan berdebu. Menyeruakkan angin kebebasan, mempertontonkan indahnya langit tak berbatas.

Kini langkahku semakin mantap.

Hari ini, di usiaku yang menginjak 24 tahun, aku akan memulai sebuah petualangan paling berharga.
Petualangan untuk sebuah nyawa yang kukasihi.

***

“hoy………. dimana lu?” aku berbicara lantang, sedikit berteriak kepada handphone yang kugenggam.
Aku berdiri di terminal 2 bandara internasional Soekarno-Hatta, seraya menunggu kedatangan Evan.

“sabar broo……… masi macet nih…” jawabnya di seberang telepon.

“buruan ga pake lama….” jawabku. Aku segera memutus telepon itu dan mencari tempat untuk duduk.

Sebulan yang lalu

“tok….tok….tok…..”

Kuketuk sebuah pintu besar berbahan kayu jati yang menempel pada beberapa engsel disebuah rumah megah bergaya romawi dengan tembok berwarna putih dan halaman yang ditata apik.
Mobil BMW 320 silver milikku telah kuparkir disamping sebuah mobil Mercedes-Benz c240 hitam, dinaungi oleh rimbunnya dedaunan pohon mangga yang menyejukkan udara.

“ceklek…”

Pintu rumah itu terbuka.

Seorang pembantu berusia kira-kira sebaya denganku membukakan pintu. Asih, dialah pembantu dirumah ini.

“loh….. mas Tomi ya?” ia bertanya seraya mengerutkan dahi.

“ehh hehe… iya mbak,Evan ada?”

“ohhh…. pangling saya…. ada kok mas, duduk dulu….. sebentar ya Asih panggilin mas Evan…” jawabnya.

Aku hanya mengangguk, lalu melangkah masuk kedalam ruang tamu besar, dimana sebuah foto keluarga tergantung di dindingnya.

Kuhempaskan tubuhku para sofa berwarna abu-abu yang ‘terlalu’ empuk sehingga membuat tubuhku sedikit melesak kedalam.

Sayup-sayup, kudengar suara Asih memanggil Evan di lantai atas.
Tak lama, Evan turun dari lantai dua dengan tangan menyilang di dada. Seakan ia mengerti, maksud kedatanganku kesini.

“jadi….. tertarik juga kan?” ucapnya

“jangan salah paham……” kataku sambil mengangkat sebelah tangan. “gua cuma tertarik sama buku ini…. dan ngak peduli sama buku yang satu lagi….” aku menunjukkan buku lusuh yang diserahkan Evan tempo hari.

“hohohohoho………..” ia mulai tertawa dengan nada meledek, kemudian duduk di sofa seberang.

“yup…. gua tau lo pasti tertarik sama yang itu….” nada bicaranya sedikit sinis, seperti menyindirku yang sebelumnya menolak ide ‘petualangan’ gila miliknya.

Aku menyandarkan tubuhku, membuat posisi duduk yang lebih nyaman untuk memulai pembicaraan.

“jadi….. apa yang lu tau tentang buku itu..?”

“ngak banyak…..” jawab Evan “cuma ada satu yang gua tau…..”

“apa?”

“di nepal, ada orang yang berusia lebih dari dua ratus tahun…” lanjutnya.

“itu cuma informasi dari internet, ngak usah terlalu di gubris, bisa aja bohong…. tapi setidaknya, kita punya kemungkinan bahwa obat itu ‘mungkin’ memang ada”

“seperti apa orangnya?”

“mana gua tau…… ngak ada yang pernah posting fotonya, ngak ada yang pernah tau cerita hidupnya… tapi konon, sejak beberapa generasi, penduduk disana melihat orang itu ngak tambah tua….”

Aku mengerutkan dahi. Bukan cerita tentang manusia abadi yang kuharapkan.

Aku hanya ingin sebuah obat yang mampu menyembuhkan ibuku, itu saja.

“jadi…. orang itu hidup menyendiri? Begitu? Lantas, gimana bisa orang tau kalo si ‘dia’ ngak tambah tua…?” tanyaku lagi.

“entahlah…..” Evan mengangkat bahu “mungkin dia turun gunung, pergi kepasar, beli persediaan bumbu dapur atau apa….”

“please deh…… lu biasanya kan seneng sama teori-teori masuk akal… kenapa sekarang lu jadi orang aneh yang percaya begitu aja?” tanyaku.

Evan tersenyum tipis.ia mencondongkan posisi duduknya kearahku.

“sains…. menyimpan banyak misteri bro….” ucapnya. Aku tak menjawab, karena memang aku tak ingin berdebat dalam urusan ‘sains’ yang tak kumengerti.

“banyak hal yang menginspirasi peneliti untuk memulai riset…. salah satunya legenda…” lanjutnya

“biasanya, mereka tanpa susah payah mengatakan bahwa legenda itu cuma dongeng, hoax, rekayasa, atau buah pikiran orang-orang kurang kerjaan….”,

“tapi ada kalanya, misteri itu ngak bisa mereka pecahkan hanya dari opini, akhirnya mereka riset….. dan…..”

“dan mereka ngebuktiin bahwa legenda itu palsu berdasarkan sains… begitu kan?” aku memotong ucapan Evan. Sudah tradisi, bahwa Evan akan ‘nyerocos’ panjang lebar jika kami sudah berbicara tentang dunia sains. Maka dari itu kuputuskan memotong ucapannya sebelum mengarah lebih jauh.

“nope……… salah” Evan menimpali opiniku.

Aku mulai mengerutkan dahi, didalam pikiranku kini telah berkelebat beberapa ide gila tentang apa yang akan Evan katakan kemudian.

“misteri-misteri itu…… kebanyakan memang palsu, cuma cerita…” lanjutnya

“tapi banyak diantara misteri itu yang ternyata, setelah di riset… memberikan jawaban bahwa legenda itu benar….”

“bullshit…. gua kok belom pernah denger? Semua ilmuan selalu bilang….. ‘ini hoax’,’ini palsu’ dan semacamnya..” ucapku.

Aku kini mulai meragukan kejeniusan Evan. Bagiku, Evan selalu berpikir kritis tentang segala hal, termasuk bagaimana mencuci tangan yang efektif agar tidak menyisakan bakteri. Bagimana bisa dia berpikir sedangkal itu.

“itukan yang mereka ingin lu percaya….” jawab Evan santai.

“pernah denger crop circle?” tanya Evan. Aku mengangguk.

“dropa stone? Atau bahkan naga? Vampir?”

“ya…. terus?”

Evan menyandarkan tubuhnya.

“seandainya….. ini seandainya lho… gua itu seorang peneliti ternama…”

“terus?”

“dan gua bilang…. bahwa semua itu benar, dengan memaparkan bukti-bukti yang udah gua temuin. Ehh Naga itu ada di sini lho…, Vampir itu ternyata ada disana lhoo…..apa pendapat lu tentang gua..?” tanya Evan.

“gua bakal berpikir lu gila dan gak pantes jadi peneliti….”

“tepat………..”

Kali ini aku dibuat tercengang dengan analogi yang diberikan Evan. Bahkan aku terkejut dengan ucapanku sendiri.

Aku baru menyadari, sebuah pesan tersirat yang terkandung dalam ucapannya. Para peneliti jenius dan ternama, pastilah menyembunyikan kebenaran, dan berpihak pada opini publik agar nama baiknya sebagai peneliti ternama tidak tercemar ‘hanya’ karena memaparkan bukti-bukti yang memperkuat legenda dimana publik menganggapnya gurauan semata.

“diminum mas………….” suara Asih mengagetkan lamunanku.

Dua buah gelas berisi air jeruk ia letakkan di meja yang memisahkan antara tempat dudukku, dan tempat duduk Evan.

“oh iya… makasih ya mbak….” jawabku.

Saat itu aku menyadari, Evan sedang memandang kearahku dengan tajam.

Aku hapal betul apa yang ada di pikirannya ketika mengeluarkan ‘jurus sakti’ seperti itu. Evan sedang serius.

Aku mengambil gelas berisi air jeruk yang diletakkan di hadapanku.

“diminum bro…. anggap aja rumah sendiri” ucapku. Lalu aku meminum es jeruk itu.

“sempak…. ini kan rumah gua, harusnya gua yang ngomong begitu….” Evan mendengus kesal, lalu mengambil gelas miliknya dan meminum isinya.

“haha…… santai sedikit lah….” jawabku seraya meletakkan kembali gelas yang kupegang.

“huff……jadi?” tanya Evan. Ia juga meletakkan gelasnya di atas meja, lalu menungguku memberi jawaban.

Sejenak aku mempertimbangkan kembali keputusanku.

“oke….. gua ikut…”

Bersambung