Perjalanan Gila Part 36

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Part 25
Part 26Part 27Part 28Part 29Part 30
Part 31Part 32Part 33Part 34Part 35
Part 36Tamat

Cerita Sex Dewasa Perjalanan Gila Part 36 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita sebelumnya : Cerita Sex Dewasa Perjalanan Gila Part 35

That Day, A Finale

The story starts laying in the dark broken and bruised
I count the scars left in my heart from losing you
And I was wrong,
but let’s be honest you were too
I miss the part where I was falling hard for you​

We-o-we. Pas nyampe shuttle, ternyata udah penuh sama orang-orang yang tujuannya sama kayak gue. Gue kira, dengan ambil jadwal paling pagi, bakal rada kosong. Eh, ternyata salah perkiraan ya. Ada belasan orang, dengan umur beragam, lagi bersiap-siap naik ke bus yang lagi di panasin mesinnya.

Lima menit kemudian, semua orang di persilahkan naik satu-satu. Karena gue pengennya duduk deket jendela, gue sengaja masuk paling akhir. Setelah semua kursi terisi, sopir pun udah kelar persiapannya, minibus ini perlahan melaju, ninggalin area Central Park.

Perjalanan dari Jakarta ke Bandung, katanya makan waktu satu setengah jam, itu juga kalo ga macet. Si sopir bilang, kita bakalan lewat tol Cipularang, dan kalo macet di situ, yaudah berarti makin molor waktu perjalanannya. Gue ga bisa bayangin macet-macetan di tol gimana rasanya. Bentar deh, gue bayangin dulu.

Asyemeleh, ga enak kayaknya ya.

Minibus yang gue tumpangin udah masuk ke gerbang tol Cipularang sekarang, dan untungnya, perjalanan lancar-lancar aja. Gue ngelirik ke jam di tangan kiri gue, ooohh, masih jam setengah 7 kurang. Aman.

Selama di jalan, gue niruin aksen kayak film drama-drama Korea; pipi berpangku tangan, sisi kening nempel di jendela, menatap kosong ke segala pemandangan di luar sana. Gue pun mencoba menghayati, dengan sesekali narik napas dalem sambil berusaha ngehadirin kenangan-kenangan yang bikin kacau hati. Daripada kenangan, yang timbul malah berupa bayangan.

Manda sekarang lagi apa ya? Pasti dia lagi di rias, sama make-up artist tokcer. Di bikin jadi pengantin cewek paling cantik sedunia. Dunia gue, maksudnya. Terus, dia pasti lagi pake baju pengantin berwarna putih bersih, yang penuh hiasan di mana-mana. Satu jam dari sekarang, dia dan pasangannya bakal berjalan pelan-pelan, memasuki altar, terus saling ucapin janji pernikahan. Abis itu si cowok sematin cincin kawin ke jari manis Manda, terus mereka… mereka… ciuman. Abis itu semua orang yang hadir bakal bersorak gembira, dan Manda bakal ngelempar seiket bunga mawar yang dia bawa ke para undangan. Siapapun yang dapet, semoga bisa nyusul mereka.

Ahelah, jadi galau banget kan. Segala pake di bayangin detilnya sih, si kampret emang.

Gue… ga tau kenapa, masih belom sepenuhnya rela. Gue udah nekenin ke diri sendiri, bahkan berkali-kali mencoba menerima kenyataan bahwa orang yang lagi gue tuju sekarang akan ngelangsungin pernikahannya. Tapi perasaan ga bisa boong. Gue ga rela. Ga akan bisa.

But still, face it. Jangan lupa, tujuan gue dari awal itu buat minta kepastian dari alesan dia ngelakuin semua ini.

It’s gonna be a heartbreaking trip, though.

-o-​

Yippie, sampe juga di Bandung! Gue di drop di Jalan Raya Cihampelas, dan malah kebingungan mau kemana abis ini. Jam delapan. Apa gue dateng ke resepsinya aja ya? Ah sudahlah, yang manapun sama. Dan mumpung lagi di sini, gue malah kepikiran buat kulineran.

Oke, target pertama: tukang cilok di depan gue sekarang. Katanya, cilok itu salah satu jajanan terlangka di Bandung kota. Kalo di Bandung kabupaten atau di pinggirannya, masih banyak yang jual. Bagi gue, cilok melambangkan Bandung itu sendiri. Dan kalo tukang cilok makin langka disini, entah, gue ga bisa bayangin apa jadinya kota ini.

Jadi, kalo nemu tukang cilok di kota ini, sikat aja udah! Borong kalo perlu. It’s not your everyday cemilan, coy~

Oh iya, di Bandung itu jajanan tradisionalnya murah-murah. Untuk seplastik penuh cilok, gue cuma bayar goceng. Bumbu kacang lagi, beuuuhh! Ini baru namanya cilok. Pake-bumbu-kacang. Takdir cilok yang sesungguhnya adalah bersama bumbu kacang, bukan di lumurin saos, kecap, sama bubuk cabe.

And I feel like a traveler who got lost. Daripada makin kebingungan, akhirnya gue berusaha menikmati suasana Cihampelas yang toko-toko baju dan jajanannya baru mulai buka ini. Terus, gue buka lagi undangan dari Manda, ngeliat peta lokasi resepsinya. Oh, di Jalan Pasirkaliki. Peta nya ga terlalu jelas sih, cuma ngarahin jalur dari pintu tol Pasteur ke suatu titik di Jalan Pasirkaliki. Ini dia niat ga sih ngasih alamat undangan? Si kampret emang, mau nikah aja masih bisa nyusahin gue.

“Jalan Pasirkaliki no. 51, Arjuna, Cicendo, Kota Bandung,” gue baca lagi lokasinya, “apa naik ojek aja kesana ya? Ga terlalu jauh sih dari Cihampelas ke Pasirkaliki.”

“Uhm, excuse me?”

Gue langsung nengok ke asal suara. Lah, bule? Sekarang, di samping gue berdiri seorang bule cewek. Ga terlalu cantik, badannya agak berisi, dan dari gayanya yang tanktop-an, bawa tas carrier, bercelana pendek cargo dan sepatu boots, gue taksir kayaknya ini bule traveler. Si bule juga ngalungin kamera DSLR-nya di leher. Fix, bule traveler ini mah.

“Y-ya?” gue nanggepinnya rada gugup, kaget ih, tiba-tiba gini.

“Can you speak English?” tanya dia lagi, dan gue cuma ngangguk pelan.

“Ah, great!” si bule berdecak riang, “what a relief. ‘Cause I’d like to ask for help to you.”

“Huh?” gue bengong, sambil kunyah cilok di mulut yang sempet ketunda tadi. “What can I do for ya, Miss?”

“Oh, how daring. Are you trying to flirt me? ‘Cause it works,” si bule ketawa ringan, ngasih liat barisan gigi putih dan rapi,

“Sadly, I’m a married woman. See this ring in my finger? Oh gosh, if only my husband isn’t around here, I’d like to take you to a date. Ohohoho~”

Just straight to the point, bitch. Kenapa jadi ngelantur si ini bule? Ahelah.

“Oh, hey, just kidding, ahahaha,” kata si bule lagi, sambil kibas-kibasin tangannya ke depan muka gue.

“Ah, yes, what I’m asking for help is… what’s the name of food you’re eating right now? I’m a bit curious.”

“The name is cilok.”

Si bule, rada kaget gitu langsung. Mungkin di negaranya ga pernah denger kata se-asing ini. “Ci-what? Chi–lock? What is that?”

“It’s a… ahhh, it’s gonna be difficult to describe it to ya, Miss. Ya need to try it for yourself~”

“Well… It appears that I’m kinda difficult to buy it for myself. You know… between me, and that guy over there,” si bule nunjuk ke tukang cilok yang dagangannya gue beli tadi, “we speak different language. So, can you buy it for me? I really wanna try some…”

Yaelah, bilang kek dari tadi kalo mau cilok terus minta beliin. Ribet amat sih ngomong kemana-mana gitu. Ga tau lagi genting gini apa, waktu gue mepet nih soalnya. “Oh, hnngg… ‘kay, wait for a bit, I’m gonna buy it for ya, Miss,” bales gue.

“Eh, wait. How much the price? Is it Rupiah, right?”

Gue pun senyum ke si bule. “No need. It’s kinda cheap, so consider this as a welcome treat to this country.”

Gue pun nyamperin si tukang cilok, beli goceng, dan sambil cerita-cerita kalo ada bule kepengen nyobain cilok, tapi kebingungan mau belinya gimana karena kebentur bahasa, jadinya minta tolong beliin sama gue. Eh, si kang ciloknya ketawa ngakak. Alhasil, porsinya di lebihin sama akangnya. Rejeki si bule emang.

“Here is yours,” gue ngasih seplastik penuh cilok si bule.

“Aaaaa~ chi–lock, come to mama,” bales si bule, kegirangan. Lalu nurutin insting perutnya, si bule nusuk satu cilok yang udah berlumuran saus kacang, terus dia lahap, di kunyah bentar, terus dia merem-merem sambil masih ngunyah. “The taste is… kinda weird, hhnngg… delicious, though. What an exotic taste!” si bule menjerit kegirangan, “my bae gotta try this one. Oh, boy, thank you so much.”

Terus, si bule ngeluarin dompetnya dari saku, ngerogoh isi dompetnya. Gue buru-buru mau cegah, kali aja dia mau ngasih gue duit gitu.

“Instead of money, I’d like to give you this,” kata si bule. Dia nyerahin sesuatu yang di bungkus plastik obat transparan. Kayak daun, warna ijo terang. “Here, take mine. It’s a, you know, my precious one. The rare four-leaf clover, which said can bring you prosperity and luck.”

Gue pun ngeliat lebih detil. O-em-ji, daun semanggi berkelopak empat! Gue pernah baca di buku dongeng-dongeng luar negeri, kalo daun semanggi berkelopak empat itu mitosnya bisa bawa keberuntungan. Dan gue bisa bedain sekarang sensasinya, antara ngeliat gambarnya doang di buku dongeng, sama ngeliatnya langsung.

“It was a gift, passed down from a lone weird traveler when I got lost on an expedition, years ago,” si bule bercerita ke gue.

“I dunno the connection between the clover and how I made myself found by the rescue team, but… one of them folks got amazed when I showed that to him. He said, he has been searching the famous four-leaf clover for a loooong, long time, but never expected to be found it on a beautiful girl who got lost in a deep forest. Yes, that man is my husband now. My greatest luck that I treasure the most.

“So, I give it to you. My intuition said, you need it more than me. Whatever you’re looking for right now, may God bless you with the best luck. I hope you find it, the one that will fill the empty space in your heart.” Si bule pun ngajak salaman, dan gue sambut dengan riang. “I bid you farewell, boy,” katanya lagi.

“Miss, can I know your name?”

“Eliza,” dia ngunyah cilok dulu, terus ngelanjutin, “hope the universe lead us to another meet up. I pray for the best in your life, boy. Consider this as a thankful treat for bought me these exotic chi–locks. Goodbye!”

Si bule nyentrik, Eliza, pergi nyamperin seorang bule lainnya yang manggil dia dari kejauhan. Gue duga itu suaminya. Keren ya mereka, sepasang suami-istri yang lagi traveling bareng ke tempat-tempat baru, membuka pengalaman dan dunia baru. Pandangan baru. Juga memperluas cakrawalanya.

Gue mandangin lagi daun semanggi yang ada di telapak tangan gue. Terus gue keingetan sama sendal pemberian si bapak misterius. Sendal dan semanggi ini… terasa kayak bantuan dorongan semangat biar gue berani menghadapi kenyataan di depan sana. Seakan, semesta mau bilang lewat kebetulan-kebetulannya, kalo ada akhir yang indah di ujung garis perjalanan gue ini.

Segala yang pergi, akan kembali dalam bentuk yang beda, namun esensinya sama. Segala yang hilang akan diganti, dan apapun yang terjadi, terjadi karena suatu alasan. Mungkin, itu jalan supaya segala sesuatunya bisa jadi lebih baik. Lalu kebaikan akan melahirkan kebahagiaan, dan kebahagiaan akan melahirkan rasa syukur, lalu rasa syukur itu kembali jadi kebaikan lainnya, tersebar ke sekeliling kita, menularkan kebahagiaan hingga akhirnya semua disusupi rasa yang sama.

Dan dari sana, siklus kebahagiaan itu tercipta.

***

“Kang, yakin disini alamatnya?” gue kebingungan sambil mandangin gedung di depan gue. “Apa ga ada gedung lainnya gitu? Masa di sini sih?”

“Serius, a’,” bales si kang ojek. “Emang ini alamatnya. Makanya, saya aja heran kenapa si Aa’ ke sekolah hari Minggu gini. Mau ngapain nya?”

Gue bengong dulu, ngasih waktu buat berpikir. Lalu, intuisi kembali berbisik. Katanya, cari tau aja dulu.

Gue pun bayar ongkos ojek, terus si kang ojek berlalu cepat. Berbanding terbalik sama kata hati gue yang yakin, gue nya malah kebingungan. Di sini ga ada tanda-tanda orang kawinan, pesta, atau semacamnya. Dan lagi, ini mah sekolah gue dulu waktu di sini! Ini Manda ngerjain gue apa gimana sih?!

Celingukan, gue lalu nangkep satu pemandangan yang ga asing. Tukang bakso langganan gue dulu! Ahay, masih jualan doi. Ah, kalo udah selesai urusan sama Manda, gue mau mampir lagi ke sini. Buat sekarang, nyapa aja dulu sekalian silaturahmi.

“Mang Engkuuuuusss, apa kabaaaaarrr?” Gue teteriakan sendiri kayak orang gila, sambil nyamperin tukang bakso yang lagi bengong ngeliatin jalan.

Si kang bakso natap gue lama. Cukup lama, dan masih lebih lama lagi, dan gue serius bakal getok si kang bakso kalo sampe gue di kacangin lebih dari ini.

“Aduh… lupa ini teh siapa, bentar, nya. Yang suka lieur, tah?”

Gue ngangguk. “Bisa jadi, bisa jadi.”

“Yang suka bolos itu?”

Gue ngangguk lagi. “Iya, iya, sedikit lagi, sedikit lagi.”

“Yang kalo makan bakso suka nambah? Yang ga pake mi kuning sama kecap?”

Gue pun langsung ngacungin dua jempol ke doi. “Betuuuul, nah, Mang Engkus sekarang inget?”

Mang Engkus geleng kepala, pelan. Kan anying jadi orang. “Hehe, becanda deng. Mamang mah inget kalian berdua. Si barokokok Ebi, sama yang geulis nah, Manda. Ih, meni udah pada gede sekarang, nya? Kumaha damang? Asik di Jakarta sana tah?”

“Asik Mang, apalagi macetnya. Beuuuuh, makin kaco,” jawab gue, “saya kabarnya baik kok Mang Kus. Alhamdulillah. Mang Engkus sendiri gimana?”

“Wuih, saya mah jangan di tanya, kasep. Udah bisa terbang sekarang, tinggal pake sarung, iketin di leher, terus tangan ke atas. Syuuuut, bisa sampe gegoleran di angkasa.”

Kan emang bangsat tukang bakso langganan gue satu ini. Kalo di tanya ga pernah jawab serius, dan jawabannya selalu ngeselin. Tapi justru di situ bagian ngangeninnya. Apalagi dulu, kalo misalkan gue suntuk pulang sekolah mau kemana, gue sama Manda pasti makan bakso sambil becanda sama Mang Engkus. Ah, nostalgia banget emang jaman-jaman itu.

“Atuhlah Mamang becanda. Mamang teh baik kabarna. Yah, begini-begini sajalah jualannya juga. Yang penting bisa sambung hidup, bukan begitu?”

“Begitu bukan, Mang,” bales gue.

“Bisaan si ujang emang.” Lalu kami pun ketawa berdua. Gue bahkan sampe lupa sekalian mau nanya apa ada pesta nikahan di sekitar sini apa engga. Mang Engkus juga pasti kaget kalo gue kasih tau yang nikah itu Manda. “Oh iya, kemarin nih, neng Manda ke tempat Mamang. Tumben, padahal udah lama ga mampir, loh.”

“Lah,” gue langsung terhenyak, “ngapain Mang?”

“Nitipin sesuatu. Kertas gitu. Buat kamu, jang. Bentar yak,” Mang Engkus buka laci kecil gerobaknya, terus ambil secarik kertas, dan nyerahin ke gue, “katanya si eneng, kalo besok Ebi kesini, kasiin kertasnya ke dia. Mamang juga sampe di kasih upah buat jualan hari Minggu gini. Padahal mah, kalo bukan permintaannya si eneng, Mamang mau libur. Sepi kalo Minggu mah, jang.”

Gue tertegun sejenak, ngeliat isi kertasnya. Di sana, ada satu tulisan tangan berupa kalimat singkat. “Aku tunggu di tempat di mana semuanya di mulai?” Gue merengut heran. “Ini maksudnya apa ya, Mang? Apa Manda nitip pesan lain, apa gitu? Engga?”

Mang Engkus geleng kepala, pelan. “Ga ada, jang. Udah, kitu doang. Ngasih duit sama kertas, titip pesen, sama jalan lagi. Dia juga perginya sendiri kok. Kenapa kitu?”

Gantian, gue yang gelengin kepala. Ada senyum terbit di muka gue. Senyum bahagia. Si kampret emang, bisaan banget dia ngerjain gue!

“Mang, saya pamit dulu yak. Mau jalan-jalan. Entar saya mampir kesini lagi kalo ada waktu. Makasih, nya? Tararengkyuuuh, Mamang~”

Gue pun pergi ninggalin Mang Engkus. Senyum di bibir gue makin lebar. Bahkan kebingungan yang ada di otak gue ga berhasil gangguin kebahagiaan yang gue rasain sekarang.

Gue lari sekenceng-kencengnya, kayak maling di kejar massa. Yap, gue maling yang lagi bahagia.

***

Tempat di mana semuanya di mulai. Tujuan gue awalnya ke Paris Van Java, tempat dimana gue pertama kalinya kencan sama Manda. Cuma, kok kayak ada rasa ragu gitu ya? Dan berhubung yang nuntun gue sampe saat ini adalah kata hati, makanya gue serahin lagi ke dia. Dan apa yang di bisiki intuisi tentang keraguan, itu bukan pilihan yang tepat.

Gue sekarang ada di perempatan. Lagi nungguin lampu merah, biar bisa nyeberang. Di otak, gue coba runutin lagi semua momen ketika gue sama Manda pacaran dulu. Tempat di mana semuanya di mulai. Ada banyak sih. Tempat gue sama dia ketemu dulu, itu persis di depan sekolah.

Tempat pertama kali kenalan, di toilet. Tempat pertama kali gue di cium idungnya, itu depan rumahnya. Kalo tempat pertama kali ehem-ehem sih ya jelas di kamarnya, kan suasana sepi gitu. Ahelah, ini bukan waktunya mikir begituan. Oke, lanjut runutin lagi.

Kalo pertama kali dia nginep bareng gue, ya di rumah. Tapi bukan sih. Itu waktu dia masih ada masalah sama senior-seniornya. Terus, gue jadi di gebukin karena ngelindungin dia. Itu di gudang sekolah. Abis itu, gue nyusun rencana bareng Om Drajat buat kasih pelajaran ke kakak-kakak kelad terkutuk itu. Masalah kelar, Manda bebas, lalu kita ke kantin. Bercanda-canda, abis itu pulangnya ke…

Ah, gue tau dimana! Tempat dimana semuanya di mulai, ketika masalah lama selesai dan cerita baru mulai ditulis. Cerita baru antara gue sama Manda.

Okeeeehhh, otewe!

***

Gue masih terus lari-lari kecil susurin Jalan Otto Iskandar Dinata. Tinggal ambil kiri di perempatan gede sana, abis itu lurus terus, dan gue bakal sampe ke tempat tujuan. Gotta go faster!

Gue ngebayangin ini semua. Gue serasa lagi kayak nyusurin takdir gue sendiri, lari-larian kayak orang gila dan ga peduli napas udah ngos-ngosan, demi biar sampe ke tujuan. Ini bikin gue mikir, usaha memang seberat ini. Untuk menghampiri tujuan, kita ga bisa cuma pasrah dan berharap tujuan itu yang nyamperin kita. Kagak, kampret. Ini tujuan, bukan tukang bubur kacang ijo yang kalo dipanggil bakal nyamperin.

Lagipula, harapan itu sejatinya bukan kepada tujuan kita biar terkabul. Kita menaruh harapan, yang sebenernya supaya tujuan kita itu tetep ada di sana, ga kemana-mana. Banyak orang salah artiin di sini, menganggap bahwa harapan itu berarti akan terwujud, lalu kecewa ketika ga sesuai sama kenyataannya. Harapan cuma ngebantu kita supaya kita fokus sama apa yang di tuju, lalu usaha lah yang melengkapi prosesnya. Kalo kita udah usaha lalu hasilnya tetep ga sesuai sama harapan, kita juga pasti kecewa. Jelas.

Lalu hadir esensi-esensi baru yang melengkapi itu semua. Dengan melihat segala sesuatunya lebih luas, juga kekuatan untuk merelakan, dan rasa percaya. Kita butuh persepsi yang lebih luas, biar bisa liat pelajaran yang bisa kita ambil di akhir usaha kita. Merelakan dan menerima itu juga perlu, biar ga kebangetan baper sama kecewa. Biar kita bisa bangkit setelah sedih-sedihan sama kegagalan dan putus asa. Lalu, rasa percaya. Kalo kita percaya bahwa segala yang di takdirkan ini yang terbaik buat kita, maka rasa percaya itu akan menarik kebaikan-kebaikan buat kita. Hal-hal baru, pengganti-pengganti, terwujudnya mimpi-mimpi.

Segala proses ini satu adanya. Semua yang kita butuh untuk merasa bahagia. Simpel sih sebenernya, hanya saja… kita seringkali anggap hal-hal itu susah. Kamu adalah apa yang pikiranmu ciptakan. Kalo gue bisa anggap semua hal ini bisa dijalanin, semua yang susah itu jadi terasa ga ada apa-apanya. Sekalipun emang beneran susah, sih.

Sedikit lagi, sampe gue ada di akhir usaha gue ini.

Gue berentiin langkah tepat di seberang taman gede yang bersisian sama Masjid Raya Bandung. Yap, gue sekarang ada di seberang Alun-Alun Bandung, tempat dimana cerita lama usai, dan gue sama Manda mulai cerita baru kita, dulu. Apapun yang ada di sana, gue yakin itu yang terbaik yang bisa di kasih semesta untuk kita.

Bentar, gue istirahat dulu. Capek hoi, lari-larian ga berenti gini. Gila, udah kayak film drama aja.

Gue nyeberang, terus pas udah di depan alun-alun, gue celingukan. Sial, rame banget lagi. Nemuin Manda di antara kerumunan dan lalu-lalang banyak orang gini terasa kayak nyari jarum emas di antara tumpukan snack lidi-lidian. Salah makan dikit, ketusuk itu lidah. Mwahahahaha.

Ini bukan waktunya becanda, kampret!

Pikir, pikir, kalo gue jadi Manda, gue bakal ada di mana. Bakal nunggu gue di… gotcha!

Gue pun susurin alun-alun, menuju ke satu bangku yang gue tau banget letaknya di mana. Dan yap, di sana lah dia, si cewek gila dengan rambut di highlight warna-warni kayak pelangi, lagi duduk termenung ngeliatin suasana alun-alun yang rame. Ngeliat dia lagi duduk dengan tenangnya, bikin gue tersenyum lega. Seketika, warna-warni dunia kembali terasa hadir lagi di sekeliling gue.

“Geseran,” gue nempatin pantat di bangku tanpa permisi. “Bener-bener lo ya, dasar cewek gila, kampret, sialan, bangke, ga ada puas-puasnya lo ngerjain gue! Gue mah sampe kesusahan, galau-galauan, berusaha ikhlas sana-sini, eh lo nya malah duduk nyantai! Lo tuh ya–”

Manda nyengir lebar, terus motong omongan gue, “gimana rasanya ketemu aku lagi? Seneng, kesel, sedih, atau… ga percaya?”

“SEMUANYA!” gue ngebentak dia, reaksi dari kumpulan rasa sesak di dada. “Kalo ujungnya bakal kesini, terus ngapain lo bilang kayak gitu di Tidung? Kenapa juga sampe ngilang? Terus lo kenapa di sini? Emang ga jadi kawin? Terus si Rama kemana sekarang? Kok malah tega biarin ceweknya kelayaban sendirian sih? Dan… yang paling penting, kenapa lo bisa-bisanya susun rencana sama Devi demi liburan kemaren?”

“Bi, satu-satu atuh,” bales dia. Manda narik napas dulu, terus ngerangkul gue. Seakan ga punya rasa bersalah, dia cuek aja nyengir lepas di hadapan gue yang lagi nahan kesel sama sikapnya. “Aku jawab yang mana dulu nih? Ah, semua sama aja yang mana duluan. Jadi gini, aku mau cerita semuanya ke kamu.”

Asik, penjelasan. Gue suka bagian ini.

“Ketemu kamu lagi setelah liburan itu, ga pernah ada di rencana aku sebelumnya. Saat aku bilang, kita selesai sampai di sini, ya aku emang niatnya begitu. Aku mau selesai sama kamu, dan lanjut ke hidup aku yang mau masuk ke babak baru. Meski aku ga suka ngejalaninnya.

“Aku hidup di tengah orang-orang yang nerapin penjara di sekitar mereka. Kamu pikir aku selama ini pacaran sama Rama sampe 5 tahun, dan sampe mau nikah begitu, itu atas kemauan aku sendiri? Heuuuhh… Bi, ga sama sekali. Itu semua demi hubungan bisnis yang terjaga baik sampe sekarang. Yah, atau mungkin seminggu sebelum ini. Om-Tante aku itu orang yang ambisius, dan ngejar materi di atas segala-galanya. Karena ambisi mereka juga, aku di jodohin sama anak kolega mereka. Sadis yak? Ya gitu, maklumin aja, pffft. Alesan mereka, biar mengikat.

“Kebebasan itu mahal buat aku, Bi. Di satu sisi, aku tinggal sama mereka, jadi mesti nurut apapun yang mereka mau aku untuk lakuin. Di sisi lain, aku pengen berontak, tapi ga tau caranya. Mesti berbuat apa. Yang aku bisa cuma nunggu, dan terus nunggu. Aku bahkan sampe ngelepas kamu, relain kamu gapai mimpi-mimpi kamu, dan aku ngejalanin hidup yang tersiksa di sini. Aku tau ketakutan-ketakutan kamu tentang rasa percaya sama orang lain, dan aku berharap, pas kita pisah dulu, kamu bisa jadi lebih baik. Eh, taunya kita sama-sama salah ya dulu…

“Kesalahan aku adalah karena ga bisa bikin kamu percaya dan tetap tinggal di sisi aku. Cuma bisa pasrah aja. Kesalahan kamu, hngg…”

“Ga mau berjuang untuk pertahanin semuanya, iya, gue tau,” timpal gue. “Kita sama-sama salah dulu, justru karena itu di kasih kesempatan untuk perbaiki semuanya.”

“Nah, bener banget!” Manda cubit pipi gue, gemes. “Kamu tau ga, aku selalu pengen yang terbaik buat kamu. Selalu berusaha semampunya, apapun. Bahkan meski harus di cap si jahat yang suka mainin perasaan orang.

“Pas aku di chat sama Devi, aku ngerasa itu kesempatan aku ngelakuin sesuatu untuk kamu. Aku ngerasa ga bisa menghindar dari pernikahan ini, segala tetek-bengeknya blablabla, jadi aku pikir aku bisa kasih kamu kado terakhir yang bisa bikin kamu jadi lebih baik lagi. Yaudah deeeh, aku susun rencananya berlapis-lapis. Devi cerita ya?

“Aku bilang aku ngelakuin tes buat kamu. Padahal itu bukan tes, tapi proses yang di perluin untuk bangkitin perasaan kamu lagi ke aku. Lalu supaya kamu sadar sama makna-makna dan pelajaran yang bisa kamu ambil. Supaya kamu inget sama mimpi-mimpi kamu lagi. Awalnya aku cuma emang pengen ketemu kamu lagi, ngabisin waktu berdua. Tapi pas kita bertatap muka, di teras rumah kamu itu, aku ngeliat cowok yang kehilangan segalanya karena luka dan mimpi yang hancur berantakan. How can I do to fix that?”

“Honestly, you fix every broken part,” bales gue. “Semua hal yang bisa gue ambil dari liburan ini, dari segalanya, bikin gue jadi merasa lebih baik sekarang, dan akan terus berusaha lebih baik lagi. Gue… jadi bisa berani menghadapi masalah, ngenyahin ketakutan-ketakutan gue, dan mulai percaya sama orang. Lo kasih semua yang terbaik, dan itu keren. Lo orang apa bukan sih, Man?”

“Yeeee, aku masih orang kok, nih, masih seksi begini,” bales dia, sambil ngeplak pundak gue. “Kamu tau ga, aku ga pernah kira… kalo hasil dari apa yang aku usahain ini, bisa arahin aku ke kamu lagi.”

“Ha? Maksudnya?”

“Kamu ngomong apa sama Rama pas di teras homestay itu? Yang aku lagi mandi.”

“Ngomong… apalah gue udah lupa. Kenapa sih emang?”

Manda ketawa dulu, baru ngelanjutin ceritanya. “Rama batalin acara nikahan aku sama dia. Tepat dua minggu sebelum hari H, dan untungnya undangan belum di sebar. Dia batalin pake jasa WO, tempat, dan lain-lain. Aku juga di putusin. Hiks. Aku mah di putusin mulu. Eh tapi, Rama bilang, kalo jangan sampe ada yang tau dulu kalo nikahannya batal. Seenggaknya sampe H-2.

“Dia juga bilang, percuma nikah sama orang yang hatinya bukan buat dia. Mau gimanapun usaha dia, dia ga pernah bisa menang dari kamu. Makanya, bukan berarti dia nyerah, tapi dia berjuang untuk lepasin aku… kembali ke kamu. Gituuu. Katanya ini inspirasinya dari kamu, pas kamu ngomong ke dia. Emang kamu ngomong apa sih? Udah gitu, Rama yang urus semuanya. Penjelasan ke orangtuanya, ke Om-Tante aku. So sweet ya? Kita ini kayak endingnya Kuch Kuch Hotta Hai, deh, Bi. Kamu jadi Rahul, aku Anjali, nah Rama jadi Salman. Pas kan?”

Anjirrr, dia masih inget itu film India. Udah berapa taun itu, astaga. Satu setengah dekade, dan dia masih inget endingnya? Eh, kalo di ingetin, gue juga sih. Endingnya emang co cwit banget. Salman relain Anjali buat Rahul. Tapi pas banget di nikahannya. Terus semua bahagia. Kalo sekarang, gue yakin pasti salah satu pihak yang paling banyak berkorban, bukan cuma sekedar perasaan aja. Entah Manda atau Rama.

“Nah, abis itu… aku susun rencana baru deh, biar pertemuan kita ini bisa jadi cetar dan keren. Aku sengaja minta satu undangan, ngerubah peta lokasi acara nikahannya, persiapin segala sesuatu, dan nunggu kamu di sini. Itu rencana nekat, aku tau. Aku naif sih, bertaruh kalo kamu bakal dateng, nemuin aku lagi. Aku ga tau gimana jadinya kalo misal udah di usir dari rumah karena bikin malu keluarga, dan kamu juga ga dateng. Untungnya, rasa percaya aku ga sia-sia. Fyuuuuh,” Manda hembusin napas panjang, “lega kalo gini. Perjuangan aku ga sia-sia, ternyata. Nyahahahaha~”

Gue pun ikutan ketawa. Ketawa bingung. Dia bikin rencana yang dia susun berlapis-lapis, lalu buat dia ancurin sendiri, abis itu bikin lagi, tapi dia ga tau bakal berhasil apa engga dan cuma modal percaya? Dia lebih gila daripada gue, jelas. Cuma cewek gila yang ngebuang segalanya demi rasa percaya doang.

Bahkan gue pikir gue udah cukup gila dengan nyanggupin undangan dia, dan karena mikirnya dia udah pasti nikah, jadi gue udah siap sama segala resikonya. Eh, ternyata masih ada yang jauh lebih gila daripada gue.

Yah, mau sampe kapanpun, gue ga pernah bisa menang dari dia, ternyata.

But, wait, tadi apa katanya? Di usir? “Bentar deh, lo bilang… lo di usir? Kok? Lah, terus gimanaaaa?”

Manda langsung nunjuk tas ransel dan koper yang dia taro di lantai. “Tuh, makanya aku bawa banyak barang. Udah kayak orang mau pindahan aja. Dan yess, aku di usir dari rumah. Om-Tante aku marah banget, karena mereka pikir ini gara-gara aku jadi Rama sampe batalin pernikahan kita. Terus aku di paksa buat yakinin Rama supaya jangan batalin pernikahannya, dan aku ga mau. Aku pikir, ini udah saatnya aku juga berusaha akan sesuatu. Biarpun di bilang naif, aku mau berjuang buat perasaan aku sendiri. Buat kamu. Jadi ya, aku tolak paksaan mereka. Aku ga mau jadi cewek pasrah lagi. Udah enak ga jadi nikah kok, di suruh jadiin nikahnya.

“Eeeh, terus aku di usir deh. Aku juga korbanin semuanya, sih. Warisan Papi-Mami, perusahaan dan bisnis mereka, sekarang mesti aku relain buat Om sama Tante. But as long as aku masih jadi ahli waris yang sah, mereka ga akan bisa balik nama. Aku cuma tinggal klaim apa yang jadi hak aku, suatu saat nanti. Kali ini, biarin Om sama Tante nikmatin dulu, biar mereka punya simpenan pas nanti aku klaim lagi. Gitu, simpel kan?”

Gue geleng-geleng kepala. Otak gue kusut dengerin semua cerita cewek yang pernah jadi adek kelas gue ini. Cuma Manda, yang cukup gila yang mampu ngelakuin semua ini. Dia bisa aja berada jauh untuk ga bisa gue gapai lagi, tapi malah tetep diem biar gue bisa kejar posisinya dan berdiri bersisian, untuk maju bareng-bareng. Kalo misal ada cewek yang berani dan gila untuk ngelakuin semua itu, nikahin!

“Jadi, kamu mau kemana abis ini? Yuk, aku anterin. Udah lama ga jalan-jalan di Bandung kan?” tanya dia, sekaligus mengakhiri topik tadi.

Semuanya udah jelas sekarang. Terus, abis ini mesti ngapain lagi? Bersamaan dengan kejelasannya, cerita gue sama Manda juga ikutan kelar.

Tapi selalu ada cerita baru untuk di tulis lagi. Awal baru untuk di mulai kembali.

“Gue mau ke… makan bakso Mang Engkus, yuk? Tadi udah janji sama Mang Engkus buat ke sana lagi kalo udah kelar urusan.” Gue pun bangkit berdiri, terus bawa koper Manda. “Oh iya, Nyokap titip pesen, katanya ‘kalo ga jadi nikah, suruh jadi anak Mama aja’ gitu dia bilang. Gimana? Gue rasa… Nyokap ga keberatan nambah satu anak lagi. Apalagi doi kan selalu pengen punya anak perempuan.”

Manda malah bengong dulu, kedip-kedip lama. “Emang ga apa-apa, Bi? Emang… aaaakkk, Senior mah emang bisaan,” Manda langsung menghambur, cium pipi gue berkali-kali, terus dia berenti, “sebentar deh. Berarti kita serumah gitu? Ih, kamu jadi kesempetan dong nakal-nakalin aku?”

“Kagak ya! Gue ga mau ngelakuin kayak gitu sebelom nikah. Ini udah prinsip.”

Manda pun ngelepas pelukannya. “Bagus kalo gitu. Tapi aku ga mau nikah sama kamu sebelum kamu kelarin kuliah kamu dulu,” bales dia.

Gue pun nyeletuk iseng, sambil towel pipinya yang mulai bersemu kemerahan. “Yaudah kita pacaran dulu aja gitu, itung-itung buat DP,” timpal gue.

“Ga mau, yeeee. Aku ga mau pacar-pacaran, capek. Maunya langsung di nikahin aja~”

“Yaudah nanti. Gue nya usaha dulu ngumpulin duitnya.”

“Aku bantuin, tenang aja,” Manda jalan duluan, ninggalin gue buat keluar dari area alun-alun. “Eh, tapi, emang kamu mau nikahin aku? Kita kan banyak beda nya.”

“Coba sebutin salah satunya.”

Lalu, Manda langsung nunjuk ke Masjid Raya Bandung. “Tuh, salah satunya. Kamu Jumat ke masjid, aku Minggu ke gereja. Kita beda kan?”

Ah, itu… anjirrr, gue langsung down lagi. Tapi gue tetep optimis, kalo di setiap ujung dari perbedaan, bakal menyatu di jalur yang sama pada akhirnya.

“Kalo itu… sambil jalan aja, gue yakin pasti ada jalan kok,” jawab gue, akhirnya. “Yang penting untuk saat ini, kita bisa saling menjaga lagi.”

“Dan mimpi bareng lagi~”

Janji. Satu janji yang terucap dulu, yang tetap terjaga sampe sekarang. Janji untuk selalu bersama-sama, dan bahagia berdua. Bahkan, misal kita ga bisa nepatinnya, kita akan saling meminta ke semesta untuk disatuin lagi, biar bisa sama-sama lagi. Satu janji yang berubah jadi mimpi untuk di gapai, mimpi sederhana yang membuat gue dan Manda merasa masih punya tujuan untuk mewujudkannya.

Mimpi itu terwujud sekarang.

Gue dan Manda nyusurin Jalan Asia Afrika, tempat kenangan kita berdua dulu. Di sini, semua di mulai. Cerita baru. Dan sekarang kita ke sini lagi, dengan cerita lainnya. Oh iya, ternyata koper Manda berat coy. Isinya apaan aja sih?

“Bi, berdiri di situ deh,” Manda nunjuk ke salah satu titik di trotoar, “nah iya, gitu. Tahan yak~”

Manda lalu bikin bingkai dengan jari telunjuk dan jempol kedua tangannya. Terus dia tutup sebelah mata, dan arahin bingkai jari-jarinya ke gue. Persis kayak dulu.

“I see a hero, once more. You’re always gonna be my hero, and I’m thankful for that. I love you, stupid guy, from yesterday, to this day, and gonna last on tomorrow. I wouldn’t say forever, but still… I love you to the moon and back!”

Gue pun senyum ke dia, lalu senyum itu berubah jadi ketawa. Ketawa lega. Karena satu fase di hidup gue terlewati, tapi membawa serta orang yang gue sayang ke fase selanjutnya.

“I love you, like I love the universe. Which one is bigger?” bales gue.

“Inget, perasaan kamu itu–”

Gue motong, “–ga akan pernah bisa menang dari aku. Hell, gue inget. Awas aja, gue bakal menang suatu saat. Tunggu aja~”

Manda pun ikutan ketawa. Terus, dia nyamperin gue. “Udah dengerin lagu yang aku kasih? Inget bagian akhir liriknya ga?”

“Inget,” gue ngangguk, pelan, “it will always be you and me–”

“–So why are we dreaming alone?” potong dia.

“Kenapa mesti bermimpi sendiri-sendiri,” tambah gue lagi.

“…Kalo bisa di satuin, untuk di wujudin berdua.”

Manda kembali menghambur, meluk gue. Kali ini erat banget. Dia langsung ngebenamin mukanya di bahu gue, dan seiring pelukan yang makin erat, tangisnya pecah namun tertahan di bahu gue. Satu tangis lega dan haru. Gue yang kebingungan, akhirnya cuma bisa bales pelukannya sambil tersenyum lebar.

Bahagia, kini terasa seperti pelangi. Banyak warna bercampur jadi satu, terlukis di satu tempat. Hati. Kebahagiaan serupa warna-warni.

Pada akhirnya, masih banyak rintangan yang gue dan Manda hadapin nanti. Tapi gue dan dia sepakat untuk ngejalaninnya berdua. Untuk menerapkan semua pelajaran yang kami dapet selama ini, demi bisa ngelewatin semua masalahnya. Dan yang paling penting dari semua ini, Nyokap punya anak baru untuk di urus, dan di omelin, tentunya. Myahahahahaha.

Jadi, ijinin gue nulis ini untuk di abadikan dan di baca:

Kamu cuma perlu percaya, bahwa tiap orang bisa mewujudkan mimpinya. Kamu hanya perlu berusaha, untuk bawa mimpi itu ke alam nyata. Sesederhana itu. Lalu, biarkan sisanya di urus semesta.

Aih, keren banget. Emang deh orang kalo euforia gini, bisa bikin hal-hal puitis. Oh iya, pas lagi pelukan, ada yang fotoin gue. Kayaknya fotografer handal gitu. Terus, dia nyamperin gue dan Manda, kasih liat hasil jepretannya.

Kata dia, ekspresi kami berdua sambil berpelukan itu, ga ternilai harganya.

Tamat