Penghianatan Sahabat Season 2 Part 2

Season 1Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5Part 6Part 7
Part 8Part 9Part 10Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15

Penghianatan Sahabat Season 2 Part 2

Start Penghianatan Sahabat Season 2 Part 2 | Penghianatan Sahabat Season 2 Part 2 Start

Perkenalan

“Jadi kamu mau buka butik muslimah di sini?” Ujar Pak Jarot sambil menyantap makanannya.

“Betul Jarot. Selain itu, aku juga mau beli beberapa properti, dan ada bisnis kecil-kecilan yang lain. Nanti istriku ini yang akan mengelola semuanya,” ujar Pak Burhan sambil menepuk-nepuk bahu istrinya. Mila hanya tersenyum.

“Lalu kamu mau bantuan aku untuk apa?” Tanya Pak Jarot.

“Kamu pasti tahu kalau dalam bisnis aku selalu ingin main bersih. Tapi kamu juga pasti tahu kalau berbisnis di kota ini rentan direcoki oleh para preman atau pesaing bisnis,” ujar Om Burhan.

Pak Jarot mengangguk-anggukkan kepala sambil tetap menyantap makanan di hadapannya.

“Karena itu aku mau minta semacam bantuan perlindungan dari kamu untuk aku dan istriku berbisnis di sini,” ujar Om Burhan.

“Tenang saja Burhan. Kalau ada apa-apa, kamu langsung WhatsApp aku saja, sebisa mungkin aku bantu. Aku sudah banyak hutang budi sama kamu, sekarang adalah saat aku membalasnya, hee” jawab Pak Jarot.

Pak Jarot dan Om Burhan pun sama-sama tertawa. Mila sebenarnya tidak terlalu mengerti apa yang mereka bierdua bicarakan. Tapi sepertinya semua berakhir dengan baik.

Baik Pak Jarot maupun Om Burhan sepertinya mempunyai usia yang sama. Mila mencoba menebak-nebak, mungkin mereka sempat sekolah atau kuliah di tempat yang sama.

Berbeda dengan Om Burhan, Pak Jarot mempunyai badan yang lebih kekar. Meski sudah berumur, nampak masih terlihat sisa-sisa otot yang pasti jauh lebih kencang di masa kejayaannya. Mila masih bisa melihat itu meski Pak Jarot masih mengenakan pakaian dinasnya. Namun yang paling menarik perhatian Mila adalah kumis yang bertengger di atas bibir Pak Jarot. Sangat berbeda dengan Om Burhan yang tidak memiliki bulu di wajahnya. Mila jadi membayangkan bagaimana ya rasanya menjadi istri Pak Jarot.

“Ahh, mikirin apa sih aku,” ujar Mila dalam hati.

“Jadi kalian baru menikah beberapa bulan yang lalu?” Tanya Pak Jarot tiba-tiba.

“Iya, betul Pak,” entah kenapa Mila langsung berusaha menjawab pertanyaan tersebut, bukannya membiarkan Om Burhan yang menjawab.

“Kamu beruntung Burhan, bisa mendapat istri yang cantik dan masih muda seperti ini, hee,” ujar Pak Jarot. Mila hanya tersipu malu mendengarnya.

“Namanya juga jodoh, harus disyukuri,” jawab Om Burhan sambil tersenyum. “Kamu juga beruntung bisa memperistri Farida.”

“Ahaha, iya sih. Aku masih ingat waktu itu harus bersaing dengan banyak sekali kandidat lain. Untung saja Farida memilih aku,” ujar Pak Jarot bangga. “Oh iya, kalau mau kapan-kapan aku mau undang kalian untuk makan malam di rumah, bagaimana?”

“Boleh saja, tergantung kesibukan kamu saja Jarot,” jawab Om Burhan.

“Kamu sendiri, saat ini bekerja atau jadi ibu rumah tangga saja Mila?” Tanya Pak Jarot.

“Sekarang aku bantu mengembangkan usaha konveksi milik ayah,” jawab Mila.

“Wah cocok sekali donk ya. Saya harap kamu bisa memenuhi harapan Burhan untuk membangun bisnis di sini. Saya ingatkan bahwa membuka bisnis di sini sebenarnya mudah, daya beli masyarakatnya bagus. Tapi seperti kata Burhan, banyak hal-hal non teknis yang harus diwaspadai,” jelas Pak Jarot sambil tersenyum.

Mila hanya tersenyum mendengar penjelasan tersebut. Ia sendiri kembali merasa ada yang aneh dari senyuman Pak Jarot. Namun ia kemudian mengalihkan perhatian kembali kepada hidangan yang ada di hadapannya.

Hingga setengah jam kemudian, mereka asyik berdiskusi tentang bisnis dan kehidupan di kota S. Akhirnya, Pak Jarot pun harus pergi.

“Saya harus pergi, masih ada urusan lain. Terima kasih ya Burhan untuk makan malamnya,” ujar Pak Jarot sambil berdiri lalu menjabat tangan Om Burhan.

Setelah itu, Pak Jarot pun menjabat tangan Mila yang halus, sambil tersenyum ke arah perempuan tersebut. Tanpa berlama-lama, ia kemudian langsung pergi bersama dengan petugas keamanan yang mengiringinya.

“Om bisa jelaskan siapa itu Pak Jarot?” Tanya Mila begitu pria tersebut telah pergi.

“Ceritanya panjang, Mila. Tapi intinya, Om dulu pernah satu angkatan waktu kuliah dengan Farida, istri Jarot. Dan di awal karier politiknya, Om sedikit bantu dia untuk biaya kampanye dan semacamnya,” jawab Om Burhan.

“Owh … usia dia sama dengan Om?” Tanya Mila

“Sepertinya dua atau tiga tahun lebih tua, kenapa?”

“Gak apa-apa.”

“Nah, seperti yang kamu dengar tadi, membangun bisnis di sini gak mudah. Nanti kalau ada apa-apa, kamu langsung kontak Pak Jarot saja. Dia biasa jawab lewat WhatsApp,” ujar Om Burhan sambil memberikan nomor Pak Jarot kepada Mila.

“Baik, Om,” ujar Mila menganggukkan kepala. Ia merasa sangat antusias karena perjalanannya sebagai pebisnis akan dimulai sebentar lagi. Namun di sisi lain, ia pun penasaran bagaimana ia bisa meminta bantuan kepada Pak Jarot apabila dia merasa kesulitan nanti.

“Ahh, nanti kan tetap ada Om Burhan yang bantu aku,” pikir Mila.

—-

Di perjalanan pulang ke hotel, Mila langsung menelepon sahabatnya, Wulan.

“Apa kabar, Wulan? Bagaimana rumahku, masih berantakan? Hee,” tanya Mila sambil bercanda.

“Sudah rapi neh, tapi namanya ada dua cowok di sini, pasti nanti berantakan lagi. Aku heran bagaimana kamu bisa merapikan rumah ini sendirian,” jawab Wulan. “Bagaimana kamu dan ayah di kota S?”

“Baik-baik koq. Tapi aku mau kasih tahu, ayah kamu minta aku untuk urus bisnisnya di sini. Jadi untuk sementara waktu, kami akan tinggal di sini,” ujar Mila.

“Owh, soal itu. Ayah sudah bilang koq, dan aku memang sudah setuju. Ayah kamu juga sudah tahu.”

“Ya ampun, jadi cuma aku saja yang belum tahu. Ihh Om jahat,” ujar Mila sambil memukul lengan Om Burhan yang tengah menyetir. Ayah Wulan tersebut hanya terkekeh.

“Sudah tahu belum kamu akan tinggal di mana?” Tanya Wulan.

“Oh iya, kita akan tinggal di mana, Om?” Tanya Mila kepada Om Burhan.

“Besok kita akan cari apartemen untuk kita sewa. Om sudah punya beberapa kandidat, nanti kamu tinggal pilih saja,” ujar Om Burhan. Mila pun menyampaikan hal tersebut kepada Wulan.

“Ya sudah, begitu aja ya Wulan. Salam untuk ayahku,” ujar Mila yang kemudian langsung menutup telepon setelah Wulan mengucapkan salam perpisahan.

“Lagi ngapain mereka? Di kamar ya? Hee,” tanya Om Burhan sambip bercanda.

“Ihh, Om mau tahu aja. Mendingan mikirin kita mau ngapain habis ini,” ujar Mila sambil mengedipkan matanya. Om Burhan pun tersenyum dan merasa bahwa malam ini akan sangat panjang.

Sebelum mereka berdua sampai di hotel, Mila menyempatkan diri untuk mengirim pesan WhatsApp kepada Pak Jarot. “Salam kenal Pak Jarot. Ini nomor Mila, istri dari Pak Burhan. Mohon disimpan jika berkenan.”

—-

Pak Syamsul baru saja masuk ke kamar ketika Wulan menutup telepon dari Mila. Pria tersebut baru selesai mandi di kamar mandi, dan hanya mengenakan handuk untuk menutupi tubuh bagian bawahnya saja saat kembali ke kamar. Ya, kamar mandi di rumah tersebut memang tidak ada yang tersambung ke kamar tidur.

“Siapa itu, Wulan?” Tanya Pak Syamsul.

“Ohh, biasa. Anak Bapak yang lagi jalan-jalan, hee,” jawab Wulan sambil tertawa.

“Hahaa, sudah tahu dia kalau akan tinggal di sana?”

Wulan mengangguk.

Perempuan muda tersebut hanya mengenakan gaun tidur panjang, dan pakaian dalam di baliknya. Ia sedang duduk di atas ranjang, sambil bersandar di ujungnya. Rambutnya yang sebahu digerai, sehingga menunjukkan kecantikan alaminya.

Meski sudah berkali-kali menikmati keindahan tubuh pasangannya tersebut, Pak Syamsul tetap saja terangsang karenanya. Lelaki berusia kepala empat itu pun mendekati Wulan, dan ikut berbaring di atas tempat tidur.

“Ihh, Bapak koq dekat-dekat. Pakai baju dulu sana,” ujar Wulan.

“Salah kamu sih, bikin Bapak gak tahan,” ujar Pak Syamsul.

Lelaki tersebut pun langsung berbaring di sebelah Wulan, dan mulai membelai-belai paha Wulan yang terbuka. Semakin lama, belaian tersebut mengarah ke atas, sehingga menyingkap ujung bawah gaun tidur yang dikenakan Wulan. Tak perlu waktu lama, jemari Pak Syamsul pun langsung bisa menyentuh kemaluan Wulan yang masih tertutup celana dalam.

“Nghhh, mulai deh minta jatah lagi,” ujar Wulan sambil membelai wajah Pak Syamsul yang mulai keriput karena usia yang kian menua. Ia melakukannya sambil menahan birahinya yang mulai naik, karena dirangsang oleh Pak Syamsul.

“Tapi kamu suka kan dimintain jatah?” Goda Pak Syamsul sambil memposisikan tubuhnya agar menindih tubuh Wulan. Ia kemudian mendekatkan kepalanya ke wajah Wulan, hingga bibir mereka saling bertautan.

“Hmmpphhh,” gumam Wulan sambil berusaha melepas kaitan handuk yang menutupi bagian bawah tubuh Pak Syamsul. Begitu lepas, jemari Wulan pun langsung bergerak mengelus-elus penis milik ayah Mila tersebut.

Diperlakukan seperti itu, Pak Syamsul semakin merasa tidak tahan. Ia memperkuat kulumannya di bibir Wulan, dan berusaha mengangkat gaun tidur perempuan tersebut ke atas. Wulan pun tidak menolak, dan justru mengangkat tubuhnya agar Pak Syamsul bisa semakin mudah melepas pakaiannya.

“Indah sekali tubuh kamu, Sayang,” ujar Pak Syamsul ketika melihat tubuh Wulan yang hanya tertutup dengan bra dan celana dalam. Keduanya sama-sama berwarna merah muda, dan sama-sama mempunyai renda cantik di pinggirnya.

Wulan tidak menjawab, dan langsung mengalungkan tangannya ke leher Pak Syamsul. Perempuan tersebut kemudian menarik kepala pria tua tersebut dan kembali melumat bibirnya. Lidah kedua insan tersebut pun bertaut demi menumpahkan birahi masing-masing.

Pak Syamsul sendiri mulai menyentuh kemaluan Wulan yang masih tertutup celana dalam dengan penisnya yang kian membesar. Sedangkan tangannya mulai aktif meremas-remas buah dada Wulan yang masih tertutup bra. Dengan lihai, jari telunjuknya bisa menyelusup masuk ke dalam belahan dada Wulan, dan memainkan puting payudara perempuan tersebut.

“Aaaahhh …” terdengar desahan binal dari Wulan, yang semakin memacu birahi Pak Syamsul. Pria tersebut kemudian melepaskan ciumannya di bibir Wulan, dan mengalihkan bibirnya ke leher Wulan. Ia kecup leher putih dan jenjang tersebut bertubi-tubi, hingga meninggalkan bekas.

“Pelan-pelan dong, Pak,” ujar Wulan gusar.

Pak Syamsul yang sudah tidak tahan berusaha melepaskan kaitan bra yang dikenakan Wulan, serta menarik celana dalamnya ke bawah. Dalam sekejap, Wulan pun telah telanjang dengan sempurna, seperti juga Pak Syamsul. Pria tua tersebut kemudian menenggelamkan kepalanya di belahan payudara Wulan, sambil memposisikan penisnya di pintu gerbang kemaluan perempuan tersebut.

“Hmm, empuk sekali toket kamu, sayang,” ujar Pak Syamsul yang tengah menjilat-jilat puting payudara Wulan, membuat pemiliknya menggelinjang. Sementara di bawah, batang penis Pak Syamsul tampak menggesek-gesek selangkangan Wulan yang bersih tanpa bulu.

“Ngghhh, masukin Pak, cepetaaaann,” gumam Wulan yang juga telah dimabuk birahi.

Tanpa menunggu lama, Pak Syamsul langsung memasukkan kejantanannya ke belahan vagina Wulan, dan menekan lebih dalam.

“Aaaaahhhh …” Wulan seperti benar-benar menikmati proses masuknya batang kejantanan Pak Syamsul ke dalam kemaluannya, inchi demi inchi. Meski telah sering merasakannya, namun perempuan muda tersebut tetap bisa menikmati proses bersetubuh tersebut.

Pak Syamsul pun makin bersemangat setelah mendengar desahan Wulan yang kian nakal. Ia kembali mengecup-ngecup puting payudara perempuan berkaca mata tersebut, bahkan mengulumnya seperti bayi yang sedang menyusu kepada sang ibu. Pak Syamsul pun mempercepat kocokannya di kemaluan Wulan.

Wulan yang sudah tersapu ombak birahi, seperti tak tahan ingin dipuaskan. Ia pun menaik turunkan pinggulnya menjemput setiap dorongan yang dilakukan penis Pak Syamsul. Bunyi kecipak pun terdengar dari benturan cairan cinta mereka berdua yang telah merembes keluar. Keringat pun mulai bercucuran dari pori-pori tubuh mereka berdua yang telah bugil tanpa busana.

Sekitar 40 menit kemudian, Pak Syamsul tampak kian tegang, tanda bahwa syahwatnya kian mencapai puncak. Sementara itu, Wulan telah dua kali menjemput orgasmenya, namun masih ingin membuat ayah dari sahabat baiknya tersebut merasakan kepuasan yang luar biasa. Karena itu, ia pun membalas setiap genjotan pinggul Pak Syamsul dengan goyangan pinggul yang bisa memilin-milin batang penis pria tua tersebut.

“Ahhhh, nikmat sekali memek kamu, Wulaaaan,” geram Pak Syamsul.

“Kontol Bapak juga enak banget, jangan lupa keluarin di luar ya, Pak.”

Beberapa menit kemudian, Pak Syamsul tampak sudah akan menjemput birahi. Ia pun mencabut penisnya dari vagina Wulan dan menggesek-geseknya di payudara perempuan tersebut.

“Crrrrtt … Crrrtttt ….”

Sperma Pak Syamsul pun melesat keluar, hingga menempel di payudara, leher, hingga pipi Wulan. Merasakan hal tersebut, Pak Syamsul pun memejamkan mata demi menikmati gelombang birahi yang melandanya. Wulan yang melihat itu pun langsung mendekati penis Pak Syamsul untuk membersihkan sisa-sisa sperma tersebut dengan mulutnya yang indah. Malam tersebut pun berakhir dengan kebahagiaan bagi mereka berdua.

Setelah itu, kedua insan yang kelelahan tersebut pun saling berpelukan di atas ranjang. Mereka masih sama-sama telanjang, dan hanya menutupi diri dengan selimut besar yang ada di atas ranjang tersebut.

“Jadi, besok kamu sudah harus kembali mengajar di bimbel ya, Sayang?” Tanya Pak Syamsul.

“Iya, Pak. Kan sudah tahun ajaran baru,” jawab Wulan yang kini telah memejamkan mata. Ia menyandarkan kepalanya di dada Pak Syamsul yang terbuka.

“Di bimbel kamu, banyak guru atau rekan kerja yang muda dan ganteng ya?” Tanya Pak Syamsul lagi.

Ia memang merasa kurang percaya diri alias minder dengan hubungan yang ia bangun dengan Wulan. Ia masih merasa bahwa mendapatkan Wulan adalah sebuah mimpi, yang sedikit lagi akan berakhir. Tanpa ia akui kepada orang lain, itulah salah satu alasan mengapa ia masih menahan diri untuk tidak menikahi Wulan saat ini.

Memahami apa yang dirasakan pasangannya, Wulan pun kembali membuka mata dan menatap mata Pak Syamsul. “Walaupun ada yang lebih muda dan lebih ganteng, Wulan akan tetap sayang sama Bapak,” ujar Wulan. Perempuan muda tersebut pun langsung mengecup bibir Pak Syamsul dengan mesra.

Mereka berdua tersenyum, lalu langsung memasuki alam mimpi dengan tenang.

Di sebuah hotel di kota S, Mila tampak terbangun karena haus. Aktivitas bercinta dengan sang suami beberapa jam sebelumnya membuat cairan tubuhnya benar-benar terkuras. Ia pun melangkah gontai mencari air minum, dengan hanya mengenakan bra dan celana dalam saja.

Setelah meneguk segelas air putih, ia kembali ke sisi tempat tidur dan membuka smartphone miliknya. Di dalamnya, ia menemukan sebuah pesan yang belum terbaca. Ketika ia lihat, ternyata pesan tersebut berasal dari Pak Jarot.

“Salam kenal Mila cantik. Tentu saya akan menyimpan nomor kamu, karena kita pasti akan lebih sering bertemu setelah ini.”

Bersambung

END – Penghianatan Sahabat Season 2 Part 2 | Penghianatan Sahabat Season 2 Part 2 – END

(Penghianatan Sahabat Season 2 Part 1)Sebelumnya | Selanjutnya(Penghianatan Sahabat Season 2 Part 3)