Penghianatan Sahabat Season 2 Part 15

Season 1Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5Part 6Part 7
Part 8Part 9Part 10Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15

Cerita Dewasa Penghianatan Sahabat Season 2 Part 15

Cerita Dewasa Penghianatan Sahabat Season 2 Part 15

Begitu sampai di dalam kamar, Ratna langsung melihat sekeliling. Ada banyak tumpukan berkas di atas meja yang sepertinya biasa digunakan pemiliknya untuk bekerja. Ratna sekilas melihat beberapa kertas dengan gambar-gambar desain bangunan di atas meja tersebut.

Kamar tersebut tampak begitu rapi, berbeda dengan kamar lelaki biasa, termasuk Egi pacarnya. Selain meja yang ada di pojok ruangan, hanya ada lemari pakaian yang terbuat dari plastik. Tidak terlihat ada baju kotor yang berserakan, namun seprei tempat tidur yang ada di kamar tersebut memang terlihat sedikit kusut bekas ditiduri semalam.

Pria tersebut langsung merebahkan Ratna di atas ranjang, dan langsung mengecup bibir ranum perempuan cantik tersebut. Meski awalnya kaget, perlahan Ratna sudah mulai menikmati permainan sang pria dan membalas dengan kecupan yang tidak kalah liar. Birahinya telah terpacu sampai batas maksimal, hingga ia lupa bahwa pria yang tengah menindihnya tersebut sama sekali tidak ia kenal.

“Ahh … ” lenguhan Ratna kembali terdengar. Kali ini lebih keras, karena perempuan tersebut merasa tengah berada di ruangan tertutup, sehingga tidak akan terdengar oleh orang lain. Berbeda dengan sebelumnya di mana mereka berada di ruang terbuka yang bisa dimasuki oleh siapa saja setiap saat. Di sisi lain, ia pun tampak sudah menyerah pada derpaan syahwat yang melanda dirinya.

“Kamu sudah horny banget ya,” ujar pria tersebut sambil tersenyum nakal. Ratna hanya bisa tersipu dan mengangguk.

Pria itu kemudian menarik kaos longgar yang dikenakan Ratna dan melepasnya. Kaos polos tersebut kemudian ia lempar sembarangan ke lantai kamar. Kini, tubuh Ratna yang putih dan indah telah terpampang jelas di hadapannya, meski masih tertutup bra dan celana dalam berwarna hitam yang berukuran mini dan tidak mampu menutupi kemolekan payudara dan selangkangannya.

“Tubuh kamu indah banget, cantik. Beruntung banget pria yang jadi pacarmu itu,” gumam sang pria.

Ratna ingin membalas kata-kata tersebut, tetapi ia terlalu malu untuk melakukannya. Karena itu ia hanya diam, sambil menikmati rabaan tangan sang pria tua di tubuhnya. Sang pria mulai mengelus tubuhnya dari telapak kaki, naik ke betis, lutut, hingga menjalar ke paha Ratna yang terbuka. Tak lama kemudian, jemari sang pria telah bermain-main menggelitik kemaluan Ratna dari luar celana dalam.

Tak menunggu lama, pria tersebut langsung menarik celana dalam Ratna ke bawah, hingga vagina perempuan cantik tersebut pun tersingkap. Ia langsung membenamkan wajahnya ke kemaluan Ratna yang berbulu tipis, kemudian menjulurkan lidah untuk menjilati lipatan vagina Ratna. Sang perempuan pun langsung menggelinjang, karena selama ini belum ada pacar-pacarnya, termasuk Egi, yang melakukan hal itu kepadanya.

“Oom … geli banget rasanya,” ujar Ratna yang mulai menikmati permainan birahi pria tua tersebut sambil memejamkan mata. Ia yang sudah mulai tidak tahan langsung menjambak-jambak rambut pria tersebut guna melepaskan birahinya. Dalam hati ia menyesali mengapa ia begitu mudah terangsang seperti ini, tetapi sepertinya ia sudah tidak bisa menghentikan semuanya sekarang.

Dengan begitu bernafsu, pria tersebut membasahi seluruh area kemaluan Ratna dengan air liurnya. Bulu-bulu kemaluan Ratna yang telah dicukur membuat lidahnya merasakan tekstur kasar yang khas. Selain itu, cairan cinta Ratna yang mulai merembes keluar pun menimbulkan bau yang unik. Bukannya berpaling, pria tersebut justru terlihat makin bersemangat. Ia senang karena artinya perempuan muda yang tengah terbaring di ranjangnya tersebut telah menyerah dan siap untuk bertekuk lutut pada kejantanannya. Ia pun kembali menyelipkan lidahnya yang cukup panjang ke dalam celah vagina Ratna.

Lidah tersebut terasa sangat hangat, berbeda dengan sensasi yang pernah dirasakan Ratna saat kemaluannya dimasuki oleh jari atau penis lelaki lain. Apalagi ketika benda hangat nan basah itu menyentuh klitorisnya yang begitu sensitif. Perempuan muda tersebut pun merasa seperti tersengat listrik hingga tubuhnya melengkung ke atas.

“Enak banget ya, cantik?” Goda sang pria. Ratna hanya mengangguk sambil menggigit bibir bawahnya sendiri.

“Mau lagi?”Ratna pun kembali mengangguk.

“Apa maksudnya, Om tidak dengar?” sang pria terus saja menggoda Ratna yang tengah dimabuk birahi.

“Iya, Om. Ratna mau dijilatin lagi memeknya, ngghh …” Akhirnya Ratna pun menyerah dan memohon hal tersebut pada pria asing tersebut.

Sang pria pun tersenyum. Ia pun kembali melayani kemaluan Ratna dengan jilatan demi jilatan, sesekali diselingi dengan hisapan. Klitoris sang perempuan telah berkali-kali dijepit oleh bibir sang pria tua dan ditarik ke arah luar.

Beberapa menit kemudian, perempuan muda tersebut tampak sudah siap untuk mencapai klimaks. Sang pria yang mengetahui hal itu malah memasukkan lidahnya semakin dalam. Memutarnya sedikit di dalam, sebelum kemudian kembali menjilati klitoris Ratna dan sedikit menggigitnya. Hal itu membuat Ratna benar-benar tidak tahan.

Perempuan muda tersebut pun menekan kepala sang pria tua lebih dalam ke arah vaginanya demi mendapatkan kepuasan. Dan akhirnya …

“Aaaahhhhhhhhhh …” Ratna melepas lenguhan panjang tanda dia baru saja merasakan orgasme yang hebat. Pria paruh baya yang baru saja memberikan kepuasan tersebut langsung membersihkan sisa-sisa cairan kenikmatan yang ada di selangkangan Ratna.

Setelah selesai, sang pria pun naik dan memposisikan tubuhnya di samping tubuh Ratna. Dengan tubuh yang masih mengenakan kaos dan celana pendek, pria tersebut pun menarik Ratna ke pelukannya. Ia mendekapnya erat dan mendekatkan bibirnya ke bibir sang perempuan muda.

“Makasih ya, Om,” gumam Ratna. Ia sendiri tidak mengerti mengapa ia harus berterima kasih.

Sang pria tidak menjawab, tetapi langsung menutup mulut Ratna dengan kuluman bibir. Mereka pun kembali berciuman dengan panas, melepaskan semua gairah yang masih tersisa hingga Ratna merebahkan tubuhnya ke dalam pelukan hangat sang pria.

Petualangan mereka sepertinya tidak akan segera berakhir.

***

Setelah staminanya pulih, Ratna pun melepaskan diri dari dekapan sang pria. “Aku ke kamar mandi dulu ya, Om,” ujar perempuan cantik tersebut.

Bentuk ruangan kos yang ditempati sang pria tua tidak jauh berbeda dengan kamar kos Egi, sehingga Ratna tahu di mana letak kamar mandi berada. Bentuk interior kamar mandi tersebut tidak jauh berbeda dengan kamar mandi Egi, hanya posisi perlengkapan mandinya saja yang berbeda.

Di dalam kamar mandi, Ratna langsung melepas kaitan bra, satu-satunya penutup tubuh yang tersisa di badannya. Ratna kemudian mematut diri di depan cermin berukuran sedang yang tergantung di kamar mandi tersebut. Ia melihat bahwa tubuhnya masih terlihat begitu seksi, tanpa lemak berlebihan di tempat-tempat tertentu. Pantas saja banyak lelaki yang tertarik ketika melihat tubuhnya.

Ia pun langsung menyalakan shower dan membersihkan diri di bawahnya. Ia menggosok-gosok tubuhnya, membersihkan sisa keringat dan cairan cinta yang menempel di kemaluannya. Ia mencari sabun dan menemukan sebotol sabun cair di sekitar tempatnya berdiri, dan langsung menggunakannya.

Tanpa disadari oleh Ratna, pintu kamar mandi tempatnya berada saat ini baru saja terbuka. Seorang pria baru saja masuk ke dalamnya secara perlahan. Tanpa menimbulkan suara yang berlebihan, pria tersebut kini telah ada tepat di belakang Ratna yang tengah tanpa busana.

“Hmpphh …” Ratna begitu kaget begitu pria tersebut memeluk tubuhnya dari belakang. Apalagi begitu ia menyadari bahwa pria yang tadi baru saja memuaskan dirinya dengan lidah di atas ranjang telah melepas seluruh pakaiannya. Ratna pun bisa merasakan dada sang pria menempel di punggungnya yang terbuka.

“Hee, tubuh kamu memang benar-benar indah, Sayang. Om suka banget,” ujar sang pria sambil mengelus-elus pinggul Ratna yang montok. Rabaan tersebut bahkan kemudian bergerak ke arah bokong perempuan muda itu.

Ratna bisa merasakan bagian tubuh sang pria tua yang mengeras dan mendorong selangkangannya. Ia tahu apa yang akan terjadi sebentar lagi. Sesuatu yang harus ia terima, meski dalam hati ada keinginan kuat untuk menolaknya. Namun, gairah yang begitu menggelora akhirnya mencegah dirinya untuk kabur dari dekapan pria tersebut.

Tangan sang pria kini telah bergerak ke arah payudara Ratna, dan meremasnya lembut. Di bawah shower, pria tua itu mengusap-usap bagian tubuh sensitif perempuan tersebut, lalu memilin-milin putingnya. Hal itu membuat Ratna yang baru saja mendapat orgasme, sudah mulai terangsang lagi.

“Om, geli banget. Matiin dulu donk showernya,” ujar Ratna.

“Gak apa-apa, begini aja lebih enak. Basah-basahan berdua,” jawab sang pria.

Ratna merasakan sensasi yang unik begitu tubuhnya yang masih dipenuhi sabun menempel erat dengan tubuh sang pria yang gelap dan terasa kasar. Ia tak habis pikir bagaimana pertemuan singkatnya dengan sang pria bisa berakhir dengan begitu banyak petualangan seksual seperti ini. Ia pun makin penasaran dengan hal-hal baru yang akan menimpa dirinya bersama sang pria.

Puas bermain dengan payudara Ratna, pria tersebut kemudian membalikkan tubuh perempuan tersebut. Ia kemudian mendorong tubuh Ratna ke dinding kamar mandi dan menekannya. Sambil merengkuh tubuh indah sang perempuan, bibirnya pun langsung mengulum mulut Ratna.

“Hmmpphh,” terdengar bunyi desahan sepasang insan yang berbeda usia tersebut di sela-sela ciuman mereka. Dalam dekapan tersebut, Ratna bisa merasakan ketegangan otot sang pria, terutama penisnya yang telah begitu tegak menekan selangkangannya. Payudara Ratna kini telah menempel erat dengan dada sang pria, hingga puting mereka berdua seperti saling bertemu.

Ratna sering menonton serial televisi baik yang berasal dari Barat maupun Korea, dan beberapa kali menyaksikan adegan sepasang pria dan wanita yang saling berciuman di bawah hujan. Adegan tersebut terlihat romantis sekali. Selama ini, ia selalu bertanya-tanya bagaimana rasanya diperlakukan seperti itu.

Ia tidak pernah menyangka bahwa ia kini telah bisa merasakannya. Tak hanya diguyur air dari atas, namun kini ia tengah berciuman dengan tubuh tanpa busana, dan dengan pria asing yang sama sekali tidak dikenalnya. Hal itu praktis membuat birahi perempuan tersebut meningkat.

Tanpa diduga oleh Ratna, tiba-tiba pria tua tersebut meletakkan tangan di bokong perempuan tersebut lalu menggendongnya ke atas.

“Ahh, Om. Mau ngapain ini?” Ratna bingung.

“Rasakan saja, kamu pasti suka,” ujar sang pria.

Pria tersebut kembali menempelkan punggung Ratna ke dinding kamar mandi dan menjepit tubuh Ratna. Bedanya, kini kaki perempuan tersebut menggantung dan tidak menempel dengan lantai. Pinggulnya disangga oleh tangan sang pria yang tampak begitu kekar mengangkat tubuh Ratna yang sintal. Secara otomatis, sang perempuan pun langsung mengalungkan tangannya di leher sang pria agar tidak terjatuh.

Tak menunggu lama, pria tua itu langsung menggesek-gesekkan penisnya ke arah kemaluan Ratna yang sudah begitu hangat.

“Boleh kan? Kamu sudah gak perawan kan?” bisik pria tersebut di telinga Ratna.

“Duh, mengapa di saat seperti ini masih meminta izin sih? Mau membuatku lebih terhina lagi?” pikir Ratna. Perempuan tersebut pun mengangguk sambil tersipu. Ia benar-benar telah merasa malu akan segala hal yang ia lakukan hari ini.

Dengan persetujuan itu, sang pria tua pun menyelipkan penisnya yang tegang ke dalam vagina Ratna. Perempuan tersebut terpejam merasakan sebuah batang penis dengan ukuran yang cukup besar menyelinap masuk ke dalam tubuh indahnya. Ia mencoba beradaptasi dengan ukuran kemaluan sang pria yang jelas lebih besar dibanding pacar-pacarnya sebelum ini. Apalagi, kini sang pria melakukannya sambil menggendong tubuhnya dan merenggangkan paha dan kemaluannya.

“Owhhh …. besar Om,” tak terasa akhirnya Ratna pun mengucapkan apa yang ada di pikirannya selama ini.

Sang pria hanya tersenyum, dan kembali menyodok penisnya lebih dalam. Dengan gerakan berirama, ia memaju mundurkan tubuhnya hingga tubuh Ratna berkali-kali membentur dinding kamar mandi. Semakin lama, gerakan tersebut makin cepat, membuat kepala Ratna terdongak setiap kali ujung penis tersebut menyentuh ujung vaginanya.

“Sempit banget memek kamu, Ratna,” ujar sang pria. “Om suka daun muda kayak kamu.”

Sudah tidak terkira betapa malunya Ratna mendengar kata-kata itu. Ia merasa sangat rendah telah mau dijadikan penyalur birahi oleh pria yang sama sekali ia tidak kenal itu. Namun, ia harus mengakui bahwa ia sangat menikmati persetubuhan ini. Guyuran air shower membuat suasana yang panas itu menjadi terasa “dingin”.

Ratna pun memutuskan untuk membantu sang pria menjemput kepuasan, sembari mengejar orgasmenya sendiri. Perempuan dengan tubuh yang begitu seksi itu menggoyang tubuhnya dengan gemulai, seirama dengan sodokan sang pria. Merasakan hal itu, sang pria pun merasa semakin bersemangat. Ia pun mempercepat sodokannya.

“Mimpi apa Om bisa merasakan tubuhmu yang indah ini, cantik,” gumam sang pria.

Ratna tidak menjawab, dan langsung menarik kepala sang pria ke arahnya dengan satu tangan, dan mencium bibirnya agar tidak lagi banyak bicara. Dikecup seperti itu, pria tua itu pun membalasnya tanpa mengendurkan sodokan penisnya. Ratna pun bisa merasakan betapa jantannya tubuh sang pria yang tengah menggumulinya tersebut.

“Kamu belum pernah kayak gini ya, Sayang?” Tanya sang pria.

Ratna menggeleng. “Belum pernah, Om. Ahhh …” ujar Ratna sambil terus mengeluarkan desahan.

“Tapi kamu suka kan?”

“Suka … banget. Ngghh …”

Ratna heran mengapa sang pria terus menerus menanyakan hal tersebut kepadanya. Mungkin sang pria merupakan tipe yang ingin mendapat kepastian dari apa yang dirasakan pasangan seksnya, dan itu membuat sang pria bisa merasa lebih terangsang.

Setelah beberapa lama bersetubuh dengan posisi menggendong Ratna, sang pria pun menurunkan tubuh sang perempuan dan memintanya membalikkan badan.

“Nungging donk, sayang,” ujarnya, sambil mematikan keran shower dan menghentikan aliran air dari atas.

Ratna pun mengerti apa yang dimaksud sang pria dan menurutinya. Perempuan cantik tersebut membalikkan badan dan menempelkan tangannya di dinding kamar mandi. Di saat yang sama, ia memundurkan bokongnya hingga tersaji di hadapan sang pria. Payudaranya yang montok pun tergantung bebas.

Melihat hal tersebut, sang pria tua langsung menempelkan penisnya kembali di kemaluan Ratna dari belakang. Ia mengelus-elus sebentar bokong Ratna yang mulus, sebelum kemudian meremasnya.

“Ahh, Om,” ujar Ratna mendesah ketika merasakan bokongnya diremas.

“Montok banget pantat kamu, manis,” ujar sang pria yang memang seperti menggilai bokong Ratna tersebut.

Pria tersebut langsung menggesek-gesekkan penisnya yang masih tegang ke kemaluan Ratna, lalu meraih payudara sang perempuan dari belakang. Ia kembali menyodok liang vagina perempuan cantik itu sambil meremas-remas kedua payudaranya. Dengan gemas, ia pun menjilati lubang telinga perempuan tersebut, membuat pemiliknya kegelian.

Dengan liar, pria tua itu terus menggenjot kemaluannya di liang suci milik Ratna, yang disambut dengan goyangan pinggul sang perempuan. Mereka seperti sepasang kuda liar yang dimabuk birahi, dan hendak segera menuntaskan birahi mereka.

“Nggghh, ngghhhh, ahhh … ” lenguhan demi lenguhan terus terdengar dari bibir Ratna.

“Ahhh, ohhh …” sang pria pun seperti tidak mau kalah. Ia berkali-kali menjambak rambut Ratna sehingga pemiliknya terdongak, dan langsung menyapu bibir perempuan tersebut dengan bibirnya.

Tak butuh waktu lama bagi mereka untuk menjemput kepuasan. Tubuh sang pria kian menegang, demikian juga dengan kemaluannya. Liang kemaluan Ratna yang begitu sempit dan hangat seperti menjepit dan meremas-remas penisnya yang besar, membuatnya tak bisa bertahan lama diperlakukan seperti itu. Ratna yang telah berkali-kali dirangsang lewat payudara, pinggul, dan kemaluannya pun kian dekat menuju orgasme.

“Ahhh, Om mau keluar sayang,” teriak sang pria.

“Di luar ya om, ahhhh …” ujar sang perempuan.

“Ngggghhh, ahhhh … Ratnaaaaaa …” sang pria buru-buru mencabut penisnya ketika ia merasakan debur sperma yang hendak melesat keluar. Cairan birahi tersebut pun menyemprot tubuh Ratna dari belakang, hingga menempel di punggung dan pantatnya. Di saat yang sama, sebercik cairan cinta pun merembes keluar dari kemaluan Ratna.

Pria tua tersebut langsung merebahkan diri di atas lantai kamar mandi. Ratna pun melakukan hal yang sama, tetapi ia jatuh tepat di atas tubuh sang pria. Ratna seperti lupa bahwa ia merupakan pacar penghuni lain kosan tersebut, dan ia sama sekali tidak mengenal pria yang tengah memeluknya dan baru saja memberikan kepuasan birahi padanya tersebut.

***

Ketika Ratna tengah digenjot oleh seorang pria asing, di saat yang sama seorang perempuan tengah disibukkan dengan pikirannya sendiri. Ia sedang merebahkan diri di atas ranjang, di sebuah tempat tidur yang begitu besar. Ia hanya tinggal sendirian di dalam rumah yang mewah itu.

Perempuan tersebut tampak berkali-kali membaca pesan yang ada di smartphone miliknya.

“Aku tunggu malam ini di Hotel D ya, kamar 707. Jangan sampai gak datang.”

Mata perempuan tersebut menatap langit-langit kamar, tetapi pikirannya berusaha memperhitungkan apa yang akan terjadi apabila dia memenuhi permintaan sang pengirim pesan tersebut? Apa yang harus dia persiapkan untuk memenuhi kemungkinan-kemungkinan terburuk? Apa dia siap menerima konsekuensi yang mungkin terjadi apabila dia gagal menghadapi kemungkinan terburuk tersebut?

Anehnya, tidak sekali pun perempuan tersebut berpikir untuk tidak memenuhi undangan tersebut. “Apakah sebenarnya aku memang menginginkannya?” Gumam sang perempuan.

Perempuan tersebut pun memutuskan untuk menghubungi suaminya saja yang tengah berada di luar negeri. Tidak butuh waktu lama hingga sambungan telepon lewat WhatsApp itu terhubung.

“Halo, Om. Lagi ngapain?”

“Baru selesai ketemu rekan bisnis saja, Sayang. Kamu lagi ngapain?”

“Di rumah saja, rebahan,” jawab perempuan tersebut.

“Gak ke mana-mana?”

“Nggak, Om. Lagi males,” ujar sang perempuan, sebelum kemudian melanjutkan kata-katanya. “Oh iya, ada yang harus aku sampaikan, Om.”

“Katakan saja, Mila sayang. Ada apa sih?” Ujar suaminya, Om Burhan.

“Pak Jarot mengajak aku untuk bertemu malam ini,” ujar Mila. Ia sengaja tidak menyebutkan bahwa sang Walikota itu mengajak bertemu berdua saja di sebuah kamar hotel.

Terdengar suara menghela napas di ujung sambungan telepon. “Jadi begitu. Ya sudah, gak apa-apa. Kamu temui saja beliau,” jawab Om Burhan.

Itu tentu bukan jawaban yang diharapkan Mila. Namun jawaban tersebut memang seperti menjadi lampu hijau bagi Mila untuk memenuhi undangan tersebut. “Terima kasih, Om.”

“Baiklah, Om harus pergi dulu. Nanti kita teleponan lagi ya. See you.”

“See you, Om.”

“Oh iya, Mila …”

“Iya, kenapa Om?”

“Hati-hati ya,” ujar Om Burhan penuh arti.

“Baik,” jawab Mila singkat.

Sambungan telepon pun terputus.

***

Jam dinding di kamar tersebut telah menunjukkan pukul dua siang. Ruangan tersebut benar-benar sepi, nyaris tidak terdengar suara sama sekali. Terlihat seorang lelaki berusia sekitar 45 tahun sedang merebahkan tubuh di atas ranjang. Ia hanya mengenakan celana dalam untuk menutupi kemaluannya saja.

Tiba-tiba, dari dalam kamar mandi keluar seorang perempuan cantik yang hanya mengenakan bra, celana dalam, dan secarik kaos longgar berwarna putih. Itu adalah pakaian yang sama dengan yang ia kenakan saat masuk ke kamar tersebut untuk pertama kalinya. Perempuan tersebut tampak tersenyum saat melihat pria yang tengah berbaring di atas ranjang. Ia pun langsung merebahkan diri di samping sang pria.

Pria tersebut pun langsung menarik tubuh sang perempuan ke dalam dekapannya. “Terima kasih ya untuk hari ini,” ujar sang pria.

Sang perempuan hanya mengangguk dengan malu. “Tapi …”

“Tapi apa, Manis?”

“Boleh aku tahu nama Om?’

Sang pria hanya tertawa. “Tentu boleh, hee. Namaku Oscar.”

Om Oscar kemudian menjelaskan tentang latar belakangnya sebagai seorang kontraktor bangunan yang berasal dari luar kota. Ia mendapat tugas di Jakarta, sehingga harus menyewa sebuah kamar kos. Hal itu menjelaskan dokumen-dokumen desain bangunan yang dilihat sang perempuan sebelumnya.

“Sudah menikah? Punya anak?” Tanya sang perempuan.

Sang pria menghela napas. “Sudah Ratna, satu anak,” ujarnya.

Perempuan yang bernama Ratna tersebut tampak gelisah, tetapi ia tetap tidak melepaskan diri dari dekapan Om Oscar. Pria tua tersebut melihat gelagat itu, dan justru menarik tubuh sintal Ratna lebih dekat ke tubuhnya.

“Tok, tok, tok …” tiba-tiba pintu kamar kos tersebut diketuk dari luar.

Terlihat reaksi yang berbeda dari sepasang lelaki dan perempuan yang ada di kamar tersebut. Ratna tampak begitu terkejut, sedangkan Om Oscar nampak biasa saja. Ratna semakin gelisah ketika melihat reaksi dari pria tersebut. Ia bahkan semakin panik ketika Om Oscar justru bangkit dan menuju pintu dengan tenang, bahkan langsung membukanya.

Alangkah kagetnya Ratna karena ia mengenal dengan baik orang yang ada di balik pintu tersebut.