Penghianatan Sahabat Season 2 Part 14

Season 1Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5Part 6Part 7
Part 8Part 9Part 10Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15

Cerita Dewasa Penghianatan Sahabat Season 2 Part 14

Cerita Dewasa Penghianatan Sahabat Season 2 Part 14

Hari ini, matahari bersinar seperti biasa untuk menerangi dunia. Namun, tidak ada yang tahu hal berbeda apa yang akan terjadi hari ini. Di sebuah kamar, seorang perempuan baru saja membuka mata setelah tidur panjang tadi malam.

“Hooaaaahhm,” perempuan tersebut menguap lebar, melepaskan hawa kantuk yang masih bersemayam di dalam tubuhnya. Begitu terbangun, ia langsung melihat ke arah jam dinding yang tergantung di sisi kamar. Jarum pendek telah mengarah ke angka 8. “Ahh, aku bangun siang sekali.”

Perempuan berparas cantik tersebut kemudian melihat sisi ranjang yang tidak ia tiduri, tampak sedikit berantakan tanda ada seseorang yang tidur di sana semalam. Namun, saat ini sudah tidak ada siapa pun di sana. Ia pun memeriksa smartphone miliknya yang tergeletak di atas meja rias di sisi ranjang. Ternyata, ada sebuah pesan yang baru masuk dan belum terbaca.

“Wulan, Om ada kerjaan pagi ini. Om pergi duluan ya. Love you,” begitu bunyi pesan dari Pak Syamsul. Sepertinya, pria tua tersebut pulang ketika kekasihnya yang bernama Wulan itu telah tertidur. Sebelum Wulan bangun, ia pun telah bangkit dan pergi beraktivitas. Wulan pun menghela napas panjang.

Sudah cukup lama sebenarnya Wulan bertanya-tanya tentang hubungannya dengan Pak Syamsul. Dalam hati, ia memang masih menyimpan rasa sayang terhadap ayah dari Mila tersebut. Namun lama kelamaan, ia merasa hubungan tersebut terasa hambar. Entah apa yang salah dengan hubungan mereka. Soal usia, sejak dahulu Wulan tidak pernah mempermasalahkannya, karena perempuan tersebut memang merasakan kenyamanan bersama Pak Syamsul. Tapi seiring berjalannya waktu, Wulan mulai menyadari bahwa perbedaan usia tersebut membuat komunikasi mereka sering tidak nyambung, dan harapan satu sama lain jadi sulit tersampaikan. Wulan pun bingung harus bicara dengan siapa tentang masalah ini.

“Ahh, aku tahu harus bicara tentang ini dengan siapa,” gumam Wulan akhirnya. Ia pun langsung mengirim pesan WhatsApp kepada seorang teman untuk janji bertemu hari itu. Kebetulan, Wulan memang tidak ada jadwal mengajar.

Setelah mengirim pesan, perempuan bertubuh seksi yang masih mengenakan baju tidurnya tersebut pun beranjak ke kamar mandi untuk memulai aktivitas.

***
Di kamar yang berbeda, pada waktu yang sama, seorang perempuan cantik lain pun baru saja bangkit dari tidurnya. Tak berbeda dengan Wulan, ia pun tak bisa menemukan pria yang baru saja menemani dia semalam. Kamar tempatnya menginap tampak telah sepi, meski kini telah terang dengan tirai yang sedikit terbuka, membiarkan cahaya mentari pagi masuk dengan bebas. Dengan tubuh yang masih dalam keadaan tanpa busana, perempuan tersebut pun bangkit dan berjalan ke arah meja, di mana ada secarik kertas tergeletak di sana.

“Aku berangkat kerja dulu ya, kamu istirahat saja dulu di sini. Luv, Egi.”

Membaca pesan tersebut, perempuan yang bernama Ratna itu pun tersenyum. Ia terpaksa tidak mengenakan pakaian apa-apa, karena tidak sempat membawa baju ganti semalam. Padahal, hari ini ia harus pergi ke kampus untuk menjalani beberapa sesi mata kuliah. Ia berencana untuk mengenakan pakaian yang ia kenakan kemarin untuk pulang ke kos, setelah itu barulah ia akan pergi ke kampus. Namun, jadwal kuliah Ratna sebenarnya masih cukup lama, sehingga ia pun berniat untuk bersantai terlebih dahulu di kamar Egi yang nyaman.

Ratna melihat ke sekeliling kamar, dan melihat pakaian dalamnya telah berserakan di lantai. Hal itu menjadi tanda betapa liarnya permainan ia dan Egi semalam. Apalagi mereka melakukannya sambil membayangkan tubuhnya dijamah oleh Irfan, yang merupakan teman Egi. Ratna pun tersenyum kembali mengingat apa yang terjadi.

“Aku mandi dulu ahh,” gumamnya.

Perempuan cantik tersebut pun langsung beranjak ke kamar mandi yang berada di dalam kamar kos tersebut. Begitu masuk, ia langsung membuka keran shower dan menikmati guyuran air hangat tepat di bawahnya. Ia menyabuni setiap jengkal tubuhnya yang indah, yang semalam telah habis digarap oleh sang kekasih.

Ratna baru menyelesaikan ritual mandinya sekitar 15 menit kemudian. Ia pun mengeringkan tubuhnya dengan handuk Egi yang tergantung di dalam kamar mandi. Sebelum keluar, ia tak lupa mematut tubuhnya di depan cermin yang ada di depan wastafel, mengagumi keseksian tubuhnya sendiri. “Pantas saja Egi selalu horny kalau jalan sama aku. Hmm, Irfan juga sih, hahaa …” gumamnya.

Begitu keluar dari kamar mandi, Ratna langsung mengenakan bra dan celana dalamnya. Setelah itu, ia bergerak ke arah lemari pakaian Egi, mencari sebuah kaos longgar untuk ia kenakan. Ia pun memutuskan untuk memakai kaos polos berwarna putih. Kaos tersebut tampak begitu tipis, sehingga masih memperlihatkan tubuhnya yang indah.

“Kruuukk …” tiba-tiba terdengar bunyi perut Ratna yang memberikan sinyal bahwa pemiliknya tengah lapar. Ratna pun bingung harus makan apa untuk sarapan. Ia bisa saja keluar atau memesan makanan lewat aplikasi online, tapi ia merasa malu harus bertemu penjual makanan atau kurir pengantar dengan pakaian minim seperti itu. Tapi kemudian Ratna ingat bahwa di kosan Egi sering ada roti tawar dan selai di dapur. Ia pun memutuskan untuk coba mencari sarapan di rumah kos tersebut.

Kamar kos Egi sebenarnya berada di lantai dua. Namun, karena ukuran rumah kos yang besar, terdapat dapur kecil baik di lantai satu maupun dua, sehingga Ratna tidak perlu berjalan terlalu jauh. Namun sebelum keluar, Ratna tetap memeriksa kondisi di sekitar kamar Egi. Ia tidak ingin terlihat keluar tanpa mengenakan jilbab yang biasanya ia pakai. Setelah beberapa saat, ia pun yakin sudah tidak ada orang di rumah kos tersebut, sehingga ia bisa bebas keluar.

“Mungkin seluruh penghuni kos ini sudah berangkat kerja,” pikir Ratna. Ia pun langsung beranjak ke arah dapur.

Sesampainya ia di dapur, Ratna pun menemukan roti tawar yang ia cari, lengkap dengan selai dan mentega. Di sana bahkan terdapat alat pemanggang roti yang bisa digunakan Ratna. Perempuan tersebut pun langsung mengambil dua helai roti tawar, lalu memasukkannya ke alat pemanggang. Setelah berwarna kecoklatan, roti tersebut keluar secara otomatis. Ratna pun mengambilnya dan mulai mengoleskan selai cokelat kesukaannya.

“Suka selai cokelat juga?” Ratna begitu kaget ketika mendengar suara seorang laki-laki di belakangnya.

Perlahan Ratna membalikkan badan ke belakang dan melihat seorang pria berusia sekitar 40an tahun sedang berdiri menghadap dirinya. Pria tersebut hanya mengenakan kaos dan celana pendek, sehingga memperlihatkan kaki dan pahanya yang berbulu. “Eh, iya Om,” jawab Ratna sambil tersipu.

Ratna sebenarnya merasa begitu malu karena ia tidak mengenakan pakaian tertutup yang ia biasa pakai, dan hanya mengenakan secarik kaos longgar yang bagian bawahnya hanya menutupi sampai ke setengah paha. Di baliknya, Ratna pun hanya memakai bra dan celana dalam. Kaos tersebut pun begitu tipis, sehingga pria berkulit gelap tersebut pasti bisa langsung melihat tubuhnya yang seksi. Perempuan tersebut pun merasa tak nyaman.

“Hee, nggak usah malu. Silakan lanjutkan,” ujar pria tersebut sambil tersenyum.

Ratna pun membalikkan badan dan melanjutkan aktivitasnya mengoles selai cokelat ke atas roti panggangnya. Tanpa ia duga, pria setengah baya tersebut ternyata telah berjalan mendekat dan telah berada tepat di belakangnya. Ratna tiba-tiba merasakan hembusan napas pria tersebut di lehernya. Ketika ratna akan bergerak, kedua tangan pria tersebut telah menempel di meja dapur tempat Ratna mengoles roti, sehingga mengurung tubuh perempuan cantik tersebut.

“Kamu jangan teriak, di sini gak ada siapa-siapa selain kita berdua,” ujar pria tersebut berbisik tepat di telinga Ratna. Perempuan tersebut seperti tersihir karena rasa tegang yang ia rasakan, dan seperti tidak bisa bergerak sama sekali. Ratna bahkan tidak berteriak ketika pria tua tersebut menempelkan tubuh bagian depannya ke bokong Ratna.

“Om, hentikan. Apa yang Om lakukan?” Ratna akhirnya mengungkapkan penolakannya, tapi dengan begitu pelan. Perlahan, Ratna bisa merasakan kejantanan pria tua tersebut yang mulai menegang dari balik celana pendeknya.

“Kamu jangan munafik, saya lihat kamu dan pacar kamu bermesraan sebelum masuk kamar kemarin malam,” ujar pria tersebut. Ratna pun kaget. Ia tidak menyangka ada orang yang melihat ketika ia dan Egi masuk ke dalam kamar semalam. “Kalau tidak salah, kamu semalam mengenakan jilbab, kan?”

Pria yang bertubuh cukup tinggi tersebut mulai berani membelai kening dan pipi Ratna, membuat perempuan cantik tersebut semakin tegang.

“Benar kan kamu semalam pakai jilbab?” Tanya pria itu lagi.

Ratna pun mengangguk.

“Kamu lebih cantik seperti ini,” ujar sang pria sambil menurunkan tangannya ke bawah, dan mulai membelai paha Ratna yang terbuka. Jemarinya pun kian naik, dan mulai berani meremas bokong Ratna yang seksi dan montok.

“Ahhhh,” tanpa sengaja Ratna pun melepaskan desahannya yang binal. Ia tidak bisa berbohong bahwa rangsangan pria yang jauh lebih dewasa dari dirinya tersebut telah membuatnya horny.

“Kamu pengen juga yah? Hee …” Ujar pria tersebut meledek.

Tanpa diduga oleh Ratna, pria tersebut kemudian mencolek selai cokelat yang masih berada di dalam toples dengan jari telunjuknya, lalu mengoleskannya ke bibir Ratna. Tangan pria tersebut pun masuk ke dalam rongga mulut Ratna, dan bermain-main di dalamnya. Diperlakukan seperti itu, Ratna merasa melayang, dan hanya bisa memejamkan mata. Perempuan yang mulai dimabuk birahi tersebut bahkan berusaha mengejar dengan mulutnya ketika sang pria hendak menarik jari telunjuknya yang berbalut selai cokelat.

Melihat mangsanya telah mulai terangsang, pria tersebut kemudian menyambut bibir Ratna dengan mulutnya. Ia mencium bibir perempuan tersebut dengan lembut, sambil berusaha membersihkan selai cokelat yang menempel di sana.

“Manis sekali bibir kamu cantik,” ujar pria tersebut sambil membalikkan tubuh Ratna hingga menghadap ke arahnya. Tangannya pun mengelus-elus punggung Ratna, lalu turun kem bawah untuk meremas-remas pantat perempuan tersebut. Sebaliknya, tangan Ratna pun telah mulai berani mengelus-elus lengan pria tersebut yang dipenuhi bulu. Ratna pun merasakan sensasi unik, karena ia tidak pernah menyentuh lengan pria yang seperti itu.

Setelah puas melumat bibir Ratna, pria tersebut kemudian mengangkat tubuh Ratna dan mendudukkan perempuan cantik tersebut di atas meja dapur. Dengan cepat, ia langsung mengangkat kaos yang dikenakan Ratna, lalu menyingkap bra yang menutupi payudaranya. Seperti kerbau yang kelaparan, pria tersebut langsung menyedot puting payudara tersebut dengan liar, membuat Ratna kelojotan.

“Ahhh, Ommm … Ahhh, hentikaaaaan,” ujar Ratna dengan suara pelan.

Pria tersebut tentu tidak menurut saja dengan penolakan Ratna. Ia bahkan kembali mencolek selain cokelat yang ada di sebelah Ratna, lalu mengoleskannya ke payudara Ratna, untuk kemudian ia hisap. Pria tersebut tampak sangat menikmati sekali mengulum payudara Ratna yang cukup montok sambil membersihkan sisa-sisa selai tersebut. Ratna pun merasa begitu terangsang diperlakukan seliar itu oleh pria tua yang sama sekali tidak ia kenal.

Bukannya menolak keras, Ratna justru menarik kepala pria tua tersebut, lalu mencium bibir pria tersebut dengan mesra. Ia berusaha melampiaskan nafsunya yang kembali naik, meski telah dikuras oleh Egi dalam pertempuran semalam. Pria asing tersebut seperti telah membangkitkan nafsunya yang terpendam.

“Om gendong ke kamar Om, yuk,” ujar sang pria tua di sela-sela ciuman mereka.

Ratna menggeleng. Ia masih ragu dengan semua yang terjadi pagi ini.

“Om gak akan sakitin kamu, janji,” ujar pria tersebut lagi. Kali ini, ia melakukannya sambil mengelus-elus kemaluan Ratna yang masih tertutup celanan dalam.

Ratna pun akhirnya menyerah. Ia kemudian mengangguk. Pagi ini sepertinya akan menjadi pagi yang tidak biasa bagi perempuan tersebut.

(Penghianatan Sahabat Season 2 Part 13)Sebelumnya | Selanjutnya(Penghianatan Sahabat Season 2 Part 15)

Banyak Novel lain di Banyak Novel

Banyak Game lain di Banyak Game