Penghianatan Sahabat Season 2 Part 13

Season 1Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5Part 6Part 7
Part 8Part 9Part 10Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15

Cerita Dewasa Penghianatan Sahabat Season 2 Part 13

Cerita Dewasa Penghianatan Sahabat Season 2 Part 13

Fantasi Liar

Setelah menempuh perjalanan selama 30 menit dengan mobil, Egi dan Ratna pun sampai di depan kosan Ratna. Seluruh kamar di kos-kosan tersebut dihuni oleh perempuan, dan hampir semuanya berjilbab. Memang biasanya seperti itu, ketika ada seorang muslimah tinggal di sebuah kosan, maka muslimah yang lain juga akan ikut kos di situ. Sebaliknya bila ada seorang perempuan yang doyan party dan dugem, teman-temannya pun akan kos di lokasi yang sama.

“Sudah sampai neh,” ujar Egi.

“Iya,” jawab Ratna.

“Maafin aku ya. Serius itu bukan rencana aku, ini semua kerjaan Irfan brengsek itu.”

“Iya sayang, aku paham kok.”

Mereka berdua pun terdiam.

“Kamu kok gak turun?” Tanya Egi.

“Hmm, aku nginep di kos kamu aja boleh?” Tanya Ratna.

“Sejak kapan gak boleh? Hee,” Egi pun tersenyum dan langsung menjalankan kembali mobilnya.

***

Kos Ratna memang berjarak tidak jauh dari kos Egi. Pria tersebut masih menyewa kamar di tempat yang sama seperti dahulu, di sebuah rumah besar yang selalu sepi ditinggal penghuni kos yang lain. Itulah mengapa ia selalu bisa mengajak perempuan untuk masuk ke kamarnya tanpa harus takut diketahui siapa pun, mulai dari Mila, Bu Anita, hingga kini Ratna. Sekarang pun bukan kali pertama Ratna datang ke kamar kos Egi.

Mereka berdua langsung naik ke lantai dua, tempat kamar kos Egi berada. Mereka tidak harus sembunyi-sembunyi karena rumah tersebut tampak sepi seperti biasa. Hal ini berbeda jauh dengan kos Ratna yang sama sekali tidak membolehkan lelaki yang bukan saudara dari penghuni kos tersebut untuk masuk ke dalam.

Ketika sampai di depan pintu kamar, Egi langsung membuka kunci kamarnya, dan mempersilakan Ratna untuk masuk. Ia kemudian kembali menutup dan mengunci pintu tersebut dari dalam. Ia tidak sadar, bahwa gerak gerik mereka tak luput dari perhatian sesosok tubuh yang ada di pojok ruangan lantai 2 yang gelap tersebut.

“Sudah aku bilang berkali-kali, kamu rapihin kamar kek sekali-kali, Say …. hmmmpphhh,” Ratna tidak bisa menyelesaikan kata-katanya karena tiba-tiba Egi langsung memeluknya dari belakang dan mencium bibirnya yang ranum.

“Buat apa dirapihin kalau nanti bakal kita bikin berantakan lagi, Sayang,” ujar Egi sambil kembali mengecup bibir pacarnya tersebut.

“Ihh, lepasin … aku kan masih ngambek,” ujar Ratna sambil melepaskan diri dari dekapan Egi.

“Kan aku sudah minta maaf,” ujar Egi dengan wajah memelas.

“Jawab jujur, kamu sudah pernah ML sama Mila belum?”

“Belum …” Ujar Egi sambil menatap mata pacarnya tersebut. Ia melakukan itu karena ia memang mengatakan hal yang benar, ia memang tidak pernah bersetubuh secara langsung dengan Mila.

“Serius?”

“Serius banget.”

Ratna kemudian tersenyum, dan kembali mendekati Egi. “Jadi dia belum pernah ngerasain kelojotan dientot sama pacar aku yang ganteng ini,” ujar Ratna sambil membelai wajah pacarnya yang tampan.

Egi menggeleng. “Belum pernah sayang,” ujar Egi yang memang telah beberapa kali menyetubuhi Ratna di kamar tersebut.

“Kamu sudah mengambil keperawanan aku. Jangan pernah tinggalin aku ya,” ujar Ratna sambil memeluk tubuh Egi, dan menyandarkan kepalanya di dada pacarnya tersebut.

“Iya, Sayang. Pasti,” ujar Egi sambil membelai kepala Ratna yang berbalut jilbab.

Perlahan, Egi pun merebahkan tubuh Ratna yang indah ke atas ranjang. Ia langsung menindih perempuan tersebut, dan kembali mengecup-ngecup bibirnya dengan liar.

“Nafsu banget sih, Sayang. Gak mau dilepas dulu baju sama jilbab aku?”

“Gak usah,” ujar Egi yang memang tengah bernafsu. Penisnya telah mengeras sejak tadi.

“Besok kan aku kuliah sayang. Nanti apa kata orang kalau pakaian aku lecek,” ujar Ratna yang memang tengah menjalani pendidikan S2 di Jakarta.

“Nanti kamu pakai baju aku saja, hee,” ujar Egi sambil tertawa.

“Nggak bilang sama dosen kalau aku abis dientot kamu?”

“Nakal yah kamuuuuu …”

Egi kemudian mulai menyelipkan tangannya ke balik jilbab Ratna yang tidak begitu panjang, yang berwarna merah muda. Ia langsung meremas-remas payudara perempuan tersebut yang berukuran cukup besar. Meski masih tertutup kaos ketat berlengan panjang yang juga berwarna merah muda, bentuk payudara Ratna tetap terasa di tangan Egi.

“Nghhh, geli sayang,” desah Ratna.

Tak puas memainkan payudara tersebut dari luar, Egi kemudian mengangkat kaos yang dikenakan Ratna hingga payudara Ratna terlihat. Ia pun mengeluarkan payudara tersebut dari bra berwarna hitam yang dikenakan Ratna. Tanpa menunggu lama, Egi langsung menjilat-jilat dan mengulum puting payudara Ratna yang berwarna kecoklatan. Puting tersebut memang telah menjadi kegemarannya selama berpacaran dengan Ratna. Bila Ratna kebetulan tengah haidh, payudara tersebut pun praktis menjadi bulan-bulanan Egi.

“Ngggggghhhh, enak banget sayang jilatan kamu …” desah Ratna.

Mendengar desahan itu, Egi pun makin bernafsu mengemut puting payudara Ratna yang telah mengeras. Ratna pun tak tinggal diam. Tangannya mulai menjambak-jambak rambut Egi demi menahan gairah, sambil memejamkan matanya. Jilbab yang ia kenakan pun telah sangat berantakan posisinya.

“Enak gak yank, aku emutin pas kamu lagi cemburu kayak gini sama Mila?” Tanya Egi untuk memancing birahi pacarnya tersebut.

“Ahhh enaaaakk, sayaaaang …” Jawab Ratna. “Mila bego yank, gak pernah mau dientotin sama kamu.”

Egi kemudian melepaskan jilbab yang dikenakan Ratna hingga rambutnya yang cukup panjang tergerai indah. Setelah itu, Ratna pun melepas kaos dan bra hitam yang ia kenakan, hingga tidak ada lagi sehelai benang pun yang menutup tubuh bagian atasnya. Egi semakin tidak tahan melihat tubuh seksi kekasihnya, dan langsung menurunkan celana panjang Ratna, lalu mengelus-elus vagina perempuan tersebut yang masih tertutup celana dalam. Tubuh indah perempuan tersebut benar-benar membuat birahinya meninggi.

“Kamu cemburu gak sih kalau tahu tubuh aku yang indah ini dijamah teman kamu sendiri?” Ujar Ratna tiba-tiba.

Mendengar hal itu, Egi merasa bahwa pacarnya tengah menggoda dirinya untuk menaikkan birahi. Ia sering membaca di beberapa forum porno bahwa memang ada pria atau wanita yang merasa terangsang apabila membayangkan pasangannya disentuh oleh orang lain. Ia pun memutuskan untuk mengikuti permainan tersebut. “Emang siapa sih yang berani pegang-pegang tubuh kamu? Si Irfan yang jelek dan gendut itu?”

“Ahh, iya sayang … bagaimana kalau Irfan colek-colek tubuh aku di depan kamu?” Tanya Ratna lagi sambil menikmati emutan di payudaranya dan elusan tangan Egi di selangkangannya.

“Dia pasti bakalan horny banget sayang. Dia kan gak pernah dapet pacar yang tubuhnya semontok kamu,” jawab Egi. “Emang apa aja yang dia lakuin ke kamu, Sayang?”

“Waktu belanja tadi, aku kan mampir ke toko pakaian. Pas mau masuk ke fitting room yang emang sepi, eh Irfan ikutan masuk,” ujar Ratna.

Egi pun makin bersemangat dengan permainan ini. Ia tak pernah membayangkan akan membicarakan hal seperti ini dengan pacarnya. Ia pun langsung melepas baju dan celananya sendiri karena telah merasa gerah. “Terus Sayang?”

“Dia menutup mulutku dengan tangannya yang besar, menyuruh aku untuk diam, sambil menekan tubuh aku ke dinding. Aku takut, tapi penasaran apa yang akan dia lakukan selanjutnya.”

Mendengar cerita itu, Egi menjadi sangat terangsang. Aneh memang. Pria tersebut mengemut payudara Ratna dengan lebih kencang, dan mulai menggesek-gesekkan kemaluannya ke bibir vagina perempuan cantik yang tengah ia tindih itu. Sebelumnya, ia telah melepas celana dalam perempuan tersebut yang berwarna hitam, dan melemparnya ke lantai kamar kos tersebut.

“Irfan kemudian mulai meraba-raba paha aku dari luar celana, tapi kemudian merambat ke belakang, ke pantat aku, Sayang. Menjijikkan sekali rasanya disentuh oleh dia.”

“Lalu kamu diam saja?” Ujar Egi sambil terus mengulum payudara pacarnya tersebut.

“Awalnya aku mau berontak, tapi gak berani teriak. Akhirnya aku cuma bisa menyender di dinding fitting room. Tapi Irfan malah semakin berani, tangannya terus naik ke pinggang, punggung, sampe sentuh bagian belakang beha yang lagi aku pake.”

“Tapi cuma dari luar kan?”

“Awalnya begitu, tapi kemudian tangannya masuk juga ke balik kaos aku, dan mengelus-elus kulit punggungku. Rasanya geli banget.”

“Berani banget dia.”

“Kemudian tangan Irfan terus naik, sampai ke kaitan bra yang lagi aku pake. Terus dia lepas.”

“Ahh, padahal kamu masih pake jilbab kan waktu itu?”

“Masih lah, tapi bra aku jadinya lepas, dan dia langsung angkat kaos aku ke atas, dan remas-remas toket aku kayak kamu gini, Sayang.”

“Ahhh, dia bisa ngerasain toket kamu yang kenyal ini donk?”

“Iya sayang. Terus dia juga deketin kepalanya, dan emut-emut puting toket aku juga. Kayak yang kamu lakuin sekarang. Dia lakuin itu sambil remas-remas pantat aku.”

“Apa yang kamu rasain waktu itu?” Tanya Egi

“Aku mau teriak, Sayang. Tapi gak bisa, rasanya enak banget ditindih di fitting room sambil digrepe-grepe kayak gitu. Irfan juga mainin puting aku dengan lidahnya yang kasar di dalam mulutnya, rasanya geli banget. Remasannya juga keras banget, seolah mau lepas pantat aku yang seksi ini dari tubuhku.”

Egi pun mengarahkan tangannya ke pantat Ratna, dan ikut meremasnya seperti yang diceritakan perempuan tersebut.

“Ahh, iya … Irfan melakukan itu ke aku, Sayang. Lebih keras lagi sayang.” ujar Ratna. “Setelah itu, dia juga cium bibir aku dengan liar, aku sampe kewalahan.”

Egi pun turut mencium bibir Ratna, hingga perempuan tersebut kesulitan melanjutkan cerita. “Perutnya yang gendut juga nempel di tubuh kamu donk?”

“Iya, Sayang. Aku jijik sebenarnya bayangin itu, karena tubuhnya kan gendut dan kulitnya hitam, kontras banget sama kulit aku yang putih. Apalagi pas dia mulai jilat-jilat pipi aku. Tapi anehnya, terasa enak banget.”

Egi kemudian mulai mengarahkan penisnya ke dalam vagina Ratna, dan mulai menggenjot tubuh perempuan cantik tersebut. “Aku masukin lagi ya, Sayang.”

“Ahh enak, Sayang. Terus genjot sayang. Punya kamu lebih besar dari punya Irfan …” Desah Ratna keenakan.

“Dia sampai keluarin penisnya di depan kamu, Sayang?”

“Iya, sayang. Katanya dia gak kuat, dan langsung menekan badan aku ke bawah. Aku disuruh berlutut, terus dia keluarin penis di depan muka aku. Aku disuruh ngemut penisnya yang hitam,” ujar Ratna sambil mengikuti irama pinggul Egi yang tengah menyetubuhi dirinya.

“Rasanya bagaimana, Sayang?”

“Penisnya Irfan bau banget, tapi ukurannya lumayan besar. Aku awalnya gak mau, tapi dia paksa kepala aku yang masih pakai jilbab untuk mendekat ke selangkangannya. Aku merasa malu banget disuruh begitu.”

Egi semakin merem melek membayangkan pacarnya dihinakan oleh Irfan seperti itu.

“Kemudian dia masukin penisnya ke mulut aku, sampai tertelan sebagian. Kemudian dia suruh kepala aku maju mundur, biar cepat keluar. Aku pun menurut, biar gak lama-lama dientotin mulut aku seperti itu. Sampai 10 menit, dia akhirnya keluar,” jelas Ratna.

“Dia keluarin spermanya di mulut kamu?”

“Iya, Sayang. Biar gak kemana-mana katanya. Abis itu aku keluarin lagi dan masukin ke tisu, Sayang. Sambil aku bersihin wajah aku yang kena tetesan sperma dia.”

Egi tak tahan lagi mendengar cerita itu. Ia pun melepaskan orgasmenya ke liang vagina Ratna.”Aaaaaaahhhhh …. Sayaaaaaaaaannnggggg”

“Nggggghhhhhh ….. Egi sayaaaaaang.”

Egi tak takut melakukan itu karena ia tahu Ratna selalu mengonsumsi pil KB. Tubuhnya pun langsung rebah menindih tubuh indah Ratna di atas ranjang. Matanya langsung terpejam menikmati gelombang birahi yang perlahan meninggalkan tubuhnya, seiring dengan keluarnya tetes demi tetes sperma ke vagina perempuan tersebut.

Egi pun membenamkan wajahnya di payudara perempuan tersebut, menikmati kelembutan kulit Ratna yang begitu nyaman. Sedangkan Ratna masih memandang ke langit-langit kamar sambil tersenyum.

“Terima kasih ya, Sayang,” gumam Egi kelelahan.

“Iya, Sayang.”

“Itu hanya imajinasi kamu saja kan, semua cerita dengan Irfan?”

“Hmm, tentu saja,” ujar Ratna dengan senyum makin lebar.

Tak lama kemudian, Egi tampak sudah tertidur. Ratna pun mengelus-elus kepala kekasihnya tersebut, yang sepertinya telah pulas. Perempuan tersebut kemudian menggeser posisi tidurnya, lalu bangkit dari ranjang untuk mengambil minum. Dengan tubuh yang masih telanjang, ia meneguk air putih dari botol yang ada di atas meja. Setelah itu, ia pun melihat tasnya yang diletakkan tidak jauh dari botol tersebut, dan mengambulnya.

Perempuan tersebut sempat melirik sebentar ke arah Egi yang tampaknya sudah tidur nyenyak. Ia sudah paham betul kalau kekasihnya itu pasti akan langsung ambruk setelah bersetubuh. Perlahan, tanpa ingin menimbulkan suara, Ratna membuka tasnya dan mengambil sesuatu dari dalam tas tersebut. Ia mengeluarkan sebuah tas plastik kecil yang berisi beberapa carik tisu, yang tidak sempat ia buang sebelumnya. Ia kemudian membuang tas plastik itu ke tempat sampah yang ada di kamar tersebut, lalu kembali berbaring di sisi Egi di atas ranjang.

Sebuah senyum tersungging di bibirnya. Tidak ada yang tahu arti dari senyum tersebut, kecuali Ratna sendiri.

***

Ketika Egi dan Ratna tengah bergumul panas di kamar kos, Irfan dan Mila masih menembus jalanan ibu kota untuk pulang ke rumah. Seperti yang diperkirakan Mila, Irfan tampak begitu gelisah sepanjang perjalanan. Pria tersebut seperti ingin menjalankan sebuah rencana tertentu, tapi bingung bagaimana memulainya.

Sejak awal perjalanan, Irfan tampak langsung mengendarai motor dengan cepat. Namun ketika ada kendaraan lain di hadapannya, atau harus berhenti karena lampu merah, ia justru mengerem dengan mendadak. Tubuh Mila pun jadi terombang-ambing di jok belakang motor. Beberapa kali, tubuh bagian depannya harus menempel ke punggung Irfan. Posisi tersebut membuat payudara Mila yang ukurannya cukup besar akan terasa langsung oleh Irfan.

“Hmm, strategi lama,” pikir Mila.

Ini memang bukan kali pertama Mila membonceng sepeda motor Irfan. Namun situasinya telah jauh berbeda antara dua kejadian tersebut. Di saat pertama Mila membonceng motor Irfa, ia tengah merasa galau akan hubungannya dengan Egi, dan mulai sedikit tertarik kepada Irfan. Hal itu terjadi sebelum ia menjalin hubungan dengan Pak Burhan. Itulah mengapa waktu itu Mila dengan senang hati membiarkan tubuhnya menyentuh dan menggesek tubuh Irfan.

Namun kini situasinya berbeda. Mila telah tahu bahwa Irfan tidak sebaik yang ia kira. Lelaki tersebut dengan sengaja mengancam Egi, lalu membuat skenario aneh untuk mempertemukan Mila, Egi, dan Ratna. Entah apa maksudnya. Namun apapun alasannya, Mila merasa harus membalas perlakuan Irfan. Untuk itu, ia memutuskan untuk mengikuti dulu permainan Irfan.

Saat mereka tengah berhenti di sebuah lampu merah, Irfan pun berkata, “kalau takut jatuh, pegangan saja Mila.”

Mila pun memasang sikap malu-malu, sebelum kemudian menuruti permintaan Irfan dan menyentuh pinggang pria bertubuh gemuk tersebut. Ia kemudian memeluk tubuh Irfan, hingga jemarinya menyatu tepat di depan perut Irfan yang masih mengenakan kaos dan jaket. Tak hanya itu, Mila pun menempelkan dadanya di punggung pria tersebut. Keduanya pun seperti sepasang kekasih yang tengah kasmaran.

Tak berhenti sampai di situ, Mila pun beberapa kali sengaja menyentuhkan tangannya ke selangkangan Irfan. Ia melakukannya secara sekilas, seolah ia menyentuhnya tanpa maksud apa-apa, murni karena efek guncangan di atas sepeda motor tersebut. Ketika menyentuh bagian vital dari Irfan tersebut, Mila bisa merasakan bahwa kemaluan lelaki tersebut telah mengeras. Ia telah cukup sering menyentuh milik Pak Burhan, sehingga ia tahu bagaimana perasaan lelaki yang tengah birahi.

Sambil mengendarai motor, Irfan tampak tak tenang. Ia masih coba melajukan motor dengan kencang dan kemudian mengerem mendadak, demi merasakan kenikmatan surga dalam bentuk payudara Mila. Dan perempuan di belakangnya pun dengan ikhlas menempelkan tubuhnya ke punggung Irfan. Tangan Mila yang beberapa kali menyentuh selangkangannya pun membuat syahwatnya meninggi. Ia pun semakin yakin bahwa Mila memang tengah ingin dipuaskan olehnya.

Sekitar 20 menit kemudian, mereka pun sampai di rumah Pak Burhan yang kini ditempati oleh Mila. Perempuan tersebut langsung turun dan memberikan helm yang ia kenakan kepada Irfan. Mereka berdua terdiam.

Mila tampak memejamkan mata dan mendekatkan wajahnya ke arah wajah Irfan, seolah-olah hendak mengecup bibir pria tersebut.

“Ahhh, inilah saatnya. Kini Mila telah takluk di hadapanku,” pikir Irfan.

Pria tersebut pun ikut memejamkan mata. Namun bibirnya tak kunjung bertemu dengan bibir Mila. Tak lama kemudian, ia pun membuka mata dan melihat Mila sudah tidak ada di hadapannya. Perempuan cantik berjilbab tersebut ternyata telah masuk ke balik pagar rumahnya.

“Aku sudah punya suami, jangan berharap lebih ya,” ujar Mila dari balik pagar sambil tersenyum. “Oh iya, lebih baik kamu jangan ganggu Egi lagi.”

Setelah itu Mila berbalik, dan langsung berjalan menuju pintu rumahnya. Entah sengaja atau tidak, goyangan pinggul Mila tampak begitu seksi di mata Irfan, membuat ia begitu terangsang. Ia merasa sangat kesal karena tidak berhasil menuntaskan syahwatnya yang tengah menggebu. Ia pun langsung menjalankan kembali motornya dengan cepat. Ia ingin lekas sampai di kamar kosnya, dan meluapkan birahinya dengan cara onani sambil membayangkan Mila.

Melihat Irfan telah pergi, Mila pun tersenyum.

“Satu telah pergi, kini tinggal satu lagi hidung belang yang harus kuhadapi. Hmm …” gumam Mila.

(Penghianatan Sahabat Season 2 Part 12)Sebelumnya | Selanjutnya(Penghianatan Sahabat Season 2 Part 14)

Banyak Novel lain di Banyak Novel

Banyak Game lain di Banyak Game