Penghianatan Sahabat Season 2 Part 10

Season 1Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5Part 6Part 7
Part 8Part 9Part 10Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15

Cerita Dewasa Penghianatan Sahabat Season 2 Part 10

Cerita Dewasa Penghianatan Sahabat Season 2 Part 10

Menjadi Pelayan​

Sudah lebih dari seminggu Irfan tidak bisa bertemu dengan Bu Anita. Entah kenapa, dia merasa kekasihnya tersebut tengah berusaha untuk menjauhi dirinya. Bu Anita memang selalu beralasan sedang sibuk bekerja, namun sesibuk-sibuknya pekerjaan pasti ada waktu luang bukan? Masalah tersebut membuat Irfan jadi tidak fokus menyelesaikan pekerjaan-pekerjaannya di kantor. Sudah beberapa kali pelanggan perusahaan leasing kendaraan bermotor tempatnya bekerja mengajukan komplain terhadap pelayanan Irfan.

“Aku tidak bisa terus begini. Perempuan memang selalu menjadi titik lemahku,” gumam Irfan pada suatu malam.

Sejak dahulu, Irfan memang telah mempunyai masalah dalam hal hubungan dengan lawan jenis. Postur tubuhnya yang gempal, dan wajahnya yang tidak terlalu tampan, selalu menjadi hambatan. Beruntung, ia bisa berada di tengah-tengah permasalahan yang melanda temannya yang bernama Egi, dan sang kekasih yang bernama Mila. Ia akhirnya bisa bertemu dengan Bu Anita, atasan dari Egi yang juga mengalami masalah di keluarganya, dan ternyata menyukai permainan Irfan di atas ranjang.

Kini, ketika Bu Anita seperti tengah menjauh, mulai muncul beberapa nama perempuan lain di kepala Irfan. Yang pertama adalah Ratna, pacar baru Egi. Yang kedua adalah Mila, perempuan idamannya sejak ia masih menyandang status sebagai pacar Egi.

Alangkah terkejutnya Irfan ketika ia tengah melihat-lihat akun Instagramnya di kamar malam itu, ia melihat ada Stories baru dari Mila. Ia pun semakin terkejut ketika melihat bahwa isinya adalah foto Mila yang tengah berpose sedikit binal. Tak hanya itu, Mila pun membuat foto tersebut bersama Wulan, temannya yang juga tidak kalah cantik. Secara otomatis, foto tersebut pun membuat Irfan terangsang birahinya.

Mila

Di dalam Stories tersebut, Mila menyebutkan nama sebuah mall di Jakarta. Irfan pun langsung mengirim pesan personal lewat Instagram kepada Mila.

“Lagi di Jakarta, ya?”

Tak lama kemudian, Mila mengirimkan balasan. “Iya, Fan. Baru sampai neh.”

Irfan pun tersenyum. Kira-kira Mila mau gak yah diajak ketemu seperti dulu. Ia pun memberanikan diri untuk mengirim pesan, “Ketemuan yuk.”

“Boleh,” Mila membalas singkat.

Irfan pun kembali membalas, “Kalau besok gmana? Di mall aja kayak biasa?”

Namun Mila tidak kunjung melihat dan membalas pesan tersebut. Irfan sedikit kecewa, dan mencoba mengikis kekecewaan tersebut dengan melihat foto Mila dan Wulan yang tengah berpose dengan mimik wajah yang cukup menggairahkan tersebut. Foto tersebut jelas membuat dirinya terangsang, dan libidonya terasa akan meledak.

Irfan yang tengah berada di kamar kosnya pun langsung melepaskan celana, hingga kemaluannya yang berwarna kehitaman melesak keluar. Penis tersebut telah begitu tegang, dan langsung dielus-elus oleh Irfan. Sembari memainkan penisnya, Irfan membayangkan dirinya tengah berada di antara kedua perempuan berjilbab tersebut, dan keduanya mengelus tubuhnya secara bersama-sama. Irfan memejamkan matanya, dan berusaha membuat impian tersebut terasa seperti nyata.

“Ahhh, Mila … Wulan … nikmat sekali sentuhan kalian,” gumam Irfan pelan.

Wajah binal Mila dan Wulan di foto yang mereka buat seperti terpatri di kepala Irfan, dan pria berperut buncit tersebut pun membayangkan kedua perempuan tersebut mengeluarkan mimik seperti itu setelah ia puaskan di atas ranjang. Keduanya pasti akan merasa kenikmatan yang tiada tara apabila mereka rela ia setubuhi. Imajinasi tersebut membuat penis Irfan tambah mengeras. Tak tahan dengan gairah tersebut, Irfan pun langsung pindah dari ranjangnya menuju kamar mandi.

Di dalam kamar mandi, ia terus mengocok penisnya sendiri, sambil membayangkan wajah cantik dan tubuh seksi Mila dan Wulan. “Ahhh, kalian seksi banget sih Mila, Wulan. Pasti enak banget ngentotin kalian semalaman,” ujar Irfan sambil memejamkan matanya.

Tak lama kemudian, gelombang kedutan sperma pun melanda pria tersebut. Cairan cinta kemudian meluncur dari lubang penis Irfan, yang kemudian langsung menyemprot kencang dinding kamar mandi. Dengan nafas yang tersengal, Irfan pun bersandar di dinding kamar mandi sambil memikirkan sebuah rencana. Ia pun tampak tersenyum setelahnya.

Anita

Sementara Irfan tak henti-henti memikirkan dirinya, Bu Anita justru tidak lagi memikirkan Irfan. Ia terlalu sibuk dengan urusan pekerjaan di kantor yang semakin hari semakin menggunung. Meski telah mengerjakan sebagian, tetap saja ada pekerjaan baru yang bertambah. Itulah mengapa pekerjaannya seperti tidak ada habisnya. Hal tersebut bahkan membuat Bu Anita terkadang sampai lupa makan siang.

Namun khusus untuk hari ini, ia ingin pulang cepat. Bukan karena pekerjaannya telah selesai, namun karena telah ada seseorang yang menunggunya di suatu tempat, dan ia harus cepat-cepat ke sana. Karena itu, ketika jam telah menunjukkan pukul 4 sore, ia pun langsung memanggil Egi, bawahannya.

“Iya, Bu. Ada apa?” Ujar Egi ketika sampai di ruangan Bu Anita.

Setelah beberapa lama diabaikan oleh Bu Anita, Egi kini telah kembali pada sikapnya sebagai seorang bawahan. Egi masih ingat betul bagaimana kisah mesra antara dirinya dan Bu Anita beberapa bulan lalu. Namun ia sadar bahwa itu semua sudah menjadi masa lalu. Meski sempat tidak bisa menerima kenyataan, namun Egi akhirnya sadar bahwa Bu Anita tidak lagi tertarik pada dirinya. Dan kebetulan, ia pun telah menemukan tambatan hati yang baru. Karena itu, ia pun telah bisa bersikap biasa saja di hadapan Bu Anita.

“Begini, saya harus pulang cepat. Kamu coba periksa ya dokumen-dokumen ini. Besok saya harus presentasi,” ujar Bu Anita yang saat itu tengah mengenakan atasan tanpa lengan yang berwarna putih, dan rok selutut yang berwarna coklat muda. Seperti biasa, perempuan tersebut tampak sangat seksi di balik balutan baju kerjanya.

“Hmm, tapi …” Tampak Egi sedikit ragu.

“Tapi apa Egi?”

Sebenarnya hari ini Egi sudah ada janji dengan Ratna, pacarnya. Namun bila ia harus mengerjakan dokumen yang baru diberikan Bu Anita, maka artinya ia harus lembur dan tidak jadi bertemu dengan Ratna.

“Berarti saya harus lembur ya, Bu?” Tanya Egi polos. Ia berharap atasannya tersebut mau berbaik hati memberikan dispensasi untuk menyelesaikan tugas tersebut di kemudian hari.

“Iya, kamu lembur saja ya. Saya pergi dulu,” ujar Bu Anita sambil berdiri dari kursi kerjanya, lalu mengenakan cardigan berwarna coklat muda yang sejak tadi tergantung di sebelah meja kerjanya. Ia pun langsung melangkah pergi tanpa menunggu jawaban apa pun dari Egi.

Egi pun menghela nafas yang terasa berat.

Begitu meninggalkan kantor dengan mobilnya, Bu Anita langsung membuka smartphone miliknya. Ada sebuah pesan yang belum terbaca di sana. “Aku tunggu di Hotel A yah, kamar 215.” Bu Anita pun tersenyum membaca pesan tersebut. Senyumnya makin lebar ketika melihat foto profil dari sang pengirim pesan tersebut.

Begitu sampai di hotel yang dimaksud, Bu Anita langsung naik ke lantai 2 dan mengetuk kamar nomor 215. Ia sempat menoleh dulu ke kiri dan kanan, menatap koridor hotel yang tampak lengang. Tak berapa lama kemudian, pintu kamar tersebut terbuka. Di baliknya, telah menunggu seorang pria yang hanya mengenakan handuk, dengan tubuh bagian atas yang terbuka. Bu Anita terdiam melihat pemandangan tersebut, dan hanya berdiri di depan pintu kamar. Ia ingat betul kapan terakhir kalinya ia melihat lelaki tersebut bertelanjang dada seperti itu, dan kenangan tersebut membuat birahinya naik.

“Mengapa diam saja di situ, Anita. Ayo masuk,” ujar sang pria sambil menggandeng tangan Bu Anita untuk masuk ke dalam kamar, lalu menutup pintu kamar tersebut dan menguncinya.

“Kenapa gak pakai baju?” Tanya Bu Anita yang langsung meletakkan tas kerjanya di meja yang ada di kamar hotel tersebut. Ia pun tak lupa melepas sepatu kerjanya yang berwarna hitam.

“Owh ini,” ujar lelaki tersebut melihat ke arah tubuhnya sendiri. “Saya baru saja mau mandi, eh kamu sudah datang duluan.”

Bu Anita kemudian melepas cardigan yang ia kenakan, sehingga menunjukkan atasan tanpa lengan yang tengah ia kenakan. Lelaki tersebut pun langsung bisa melihat lengan dan leher Bu Anita yang putih dan begitu indah. Apalagi setelah itu Bu Anita langsung melepaskan ikat kepalanya, sehingga rambutnya yang cukup panjang pun tergerai indah.

Lelaki tersebut kemudian mendekati Bu Anita, dan langsung merangkul pinggul perempuan cantik tersebut. Bu Anita kembali terdiam diperlakukan seperti itu. Ia hanya bisa membalas dengan meletakkan tangannya di dada sang lelaki. Nafasnya tampak sudah tak terkendali, dan dadanya kian naik turun dengan cepat. Wajah lelaki tersebut begitu dekat dengan wajah Bu Anita, dan matanya menatap dengan tajam. Diperlakukan seperti itu, Bu Anita benar-benar tampak tidak berkutik.

Bu Anita kemudian menaikkan tangannya, hingga menyentuh pipi sang lelaki. Ia mengelusnya lembut dari pelipis hingga ke bagian dagu. Selangkangan lelaki tersebut yang hanya tertutup handuk hotel, kini telah menempel ke selangkangan Bu Anita. Perempuan tersebut kini bisa merasakan bahwa kemaluan lelaki tersebut kian menegang.

“Mengapa Bapak meminta saya ke sini?” Tanya Bu Anita.

“Saya tahu kamu mau INI,” jawab lelaki yang memang sudah tidak muda lagi tersebut.

“Bagaimana Bapak tahu saya mau … INI?”

“Saya bisa merasakannya.”

“Sejak kapan?”

“Sejak kamu melihat aku di kios.”

“Benarkah? Wajahku tidak bisa berbohong ya?”

Lelaki tersebut hanya tersenyum.

“Kalau saya ternyata tidak mau INI, bagaimana?” Tanya Bu Anita.

“Buktinya kamu datang, kan?”

Bu Anita pun balas merangkul tubuh lelaki tersebut, dan mengelus punggungnya yang terbuka. Perempuan cantik tersebut langsung merebahkan kepalanya di pundak sang lelaki, tak peduli akan perbedaan umur yang memisahkan mereka berdua. Ia merasakan kehangatan yang berbeda ketika tengah bersama dengan lelaki tersebut.

Lelaki itu kemudian melepaskan tubuhnya dari dekapan Bu Anita. “Saya mandi dulu, nanti kita lanjutkan.”

“Iya, Pak,” ujar Bu Anita sedikit kecewa.

“Mulai sekarang, panggil aku Mas saja,” ujar lelaki tersebut sambil tersenyum.

“Iya, Mas Syamsul,” ujar Bu Anita.

“Saya sudah beli makanan, dimakan saja dulu. Saya tahu kamu sering lupa makan kalau kerja,” ujar lelaki yang ternyata adalah ayah dari Mila tersebut. Lelaki itu kemudian langsung menuju kamar mandi hotel. Tak lama kemudian, terdengar bunyi keran shower dinyalakan.

Bu Anita langsung bisa melihat bungkus makanan yang ada di meja, dekat televisi. Pak Syamsul ternyata membeli paket makanan Jepang kesukaannya. Benar kata Pak Syamsul, hari ini memang dia kembali lupa makan siang. Untung saja Pak Syamsul membelikannya makanan. Sembari menyantap makanan tersebut, ia mengingat-ingat kembali alasan mengapa ia bisa sampai di kamar hotel ini.

Sejak kejadian tabrakan mobil antara dirinya dan Pak Syamsul, yang berakhir dengan keduanya bertemu kembali dan makan siang bersama, Bu Anita dan Pak Syamsul kian intens berkomunikasi. Awalnya hanya lewat WhatsApp, namun kemudian berlanjut ke pertemuan langsung seperti makan siang bersama. Dalam obrolan-obrolan tersebut, Bu Anita memang sering menyisipkan kata-kata yang memancing. Saat bertemu pun Bu Anita selalu berdandan secantik mungkin demi menarik perhatian. Ia tidak tahu alasannya, tapi yang pasti Pak Syamsul telah membangkitkan sebuah hasrat unik di dalam dirinya.

Hingga akhirnya semalam Pak Syamsul tiba-tiba mengirim pesan, “Besok aku senggang, kita ketemu di hotel yuk.”

Sebagai perempuan dewasa, Bu Anita jelas tahu apa yang dimaksud oleh Pak Syamsul dengan kata-kata tersebut. Ia pun langsung merasa deg-degan, namun tidak bisa mungkir bahwa ia tertarik dengan tawaran tersebut. Namun ia sadar bahwa ia tidak boleh terlihat murahan. Oleh karena itu, ia tidak membalas apa pun, dan hanya mengirimkan emoticon senyum saja.

Tanpa ia duga, Pak Syamsul benar-benar sangat berani. Ketika Bu Anita berada di kantor, Pak Syamsul justru mengirimkan beberapa pesan tambahan.

“Nanti pukul 4 jangan ke mana-mana yah.”

“Aku tunggu di hotel A.”

Bu Anita sebenarnya tidak membalas apa-apa. Ia memutuskan untuk langsung datang ke hotel yang disebutkan oleh Pak Syamsul. Mungkin lelaki tersebut hanya menggertak, dan tidak benar-benar ada di hotel. Karena itu ia tidak menduga bahwa Pak Syamsul benar-benar akan menunggunya, apalagi hanya mengenakan handuk ketika pertama kali membuka pintu. Mengingat hal tersebut, Bu Anita pun tersenyum sendiri. Tak terasa, makanan yang ia santap telah habis tak tersisa.

Dari arah kamar mandi, ia mendengar keran shower telah dimatikan. Tak lama kemudian, Pak Syamsul pun keluar, masih dengan balutan handuk yang menutupi bagian pinggang ke bawah. Melihat Bu Anita telah menghabiskan makanan yang ia bawa, Pak Syamsul pun langsung berjalan mendekatinya.

“Enak gak makanannya?” Tanya Pak Syamsul ketika telah berada di belakang kursi yang diduduki oleh Bu Anita. Tangannya perlahan membelai lengan Bu Anita yang terbuka.

Kulit perempuan tersebut terasa begitu halus begitu disentuh oleh tangan Pak Syamsul yang kasar, khas lelaki yang biasa bekerja fisik. Diperlakukan seperti itu, Bu Anita sedikit merinding.

“Enak. Bapak tahu dari mana saya suka makanan ini?” Tanya Bu Anita dengan degup jantung yang makin kencang.

“Panggil Mas saja,” jawab Pak Syamsul.

“Eh, iya. Maksudnya dari mana Mas tahu saya suka makanan ini?”

“Kan kamu suka bilang waktu kita ketemu?”

“Masa sih?” Bu Anita tampak bingung. Ia tidak menyangka bahwa ingatan pria tua seperti Pak Syamsul bisa sekuat itu.

Pak Syamsul kemudian membelai rambut panjang Bu Anita dari pangkal hingga ujungnya. Ia singkap rambut tersebut, lalu ia menundukkan badan untuk mengecup leher perempuan cantik tersebut. Ia bisa menghirup bau parfum perempuan tersebut yang semerbak. Namun sebagai seseorang yang telah berpengalaman, ia tidak mau larut dan langsung menuruti permintaan birahinya. Ia ingin perempuan di hadapannya benar-benar takluk pada dirinya.

“Ahhh … Massssss,” Bu Anita yang diperlakukan seperti itu pun melenguh binal. Sejak melihat tubuh Pak Syamsul yang kekar di kiosnya, lengkap dengan dada yang terbuka dan keringat yang menetes, ia sudah ingin merasakan diperlakukan seperti ini oleh pria tersebut. Ia tidak menyangka bahwa fantasi tersebut akan menjadi nyata tanpa ia harus memintanya.

Masih dari belakang Bu Anita yang sedang duduk, Pak Syamsul menyelipkan tangannya ke dalam baju Bu Anita. Dengan cepat ia bisa merasakan bra yang dikenakan perempuan tersebut. Sambil memainkan lidahnya di leher dan telinga Bu Anita, Pak Syamsul pun meremas-remas lembut payudara perempuan yang telah dimabuk birahi tersebut.

“Kamu ingin INI kan, Anita?” Bisik pria tersebut dengan suara yang begitu dalam.

“Iya masssss, aku ingiiinnn INNIIIII,” ujar Bu Anita dengan setengah berteriak, dengan mata yang terpejam. Ia berusaha meresapi sentuhan demi sentuhan yang diberikan Pak Syamsul kepadanya.

Tanpa ia duga, Pak Syamsul langsung menggendong tubuhnya dari kursi tersebut. Tubuh indahnya terangkat, hingga ia direbahkan di atas ranjang. Kasur hotel yang masih tertutup selimut dengan rapi tersebut terasa begitu empuk.

Dengan cepat, Pak Syamsul langsung melumat bibir Bu Anita yang ranum. Bukan dengan ciuman liar dan membabi buta seperti yang biasa dirasakan oleh Bu Anita dari Egi dan Irfan, melainkan kecupan lembut seperti yang biasa diberikan seorang suami kepada istrinya. Bu Anita pun semakin pasrah. Bahkan, justru dirinya lah yang lebih bernafsu untuk melumat bibir Pak Syamsul.

Ini adalah pertama kalinya bibir mereka bersentuhan. Sebelumnya, hal terdekat yang pernah mereka lakukan hanya bersentuhan pipi. Namun begitu bertemu, bibir mereka seperti langsung saling mengirimkan sinyal birahi satu sama lain.

Mata keduanya saling bertatapan, dan tak lama kemudian kedua insan tersebut tersenyum. Mereka tidak perlu mengatakan apa pun. Namun mereka sama-sama tahu bahwa mereka berdua sama-sama menginginkan hal ini.

Pak Syamsul kemudian mengangkat baju atasan Bu Anita yang terbuat dari kain katun yang tipis, dan melemparnya ke lantai hotel. Ia pun bisa langsung melihat bra berwarna merah muda yang dikenakan perempuan beranak satu tersebut. Ukurannya memang tidak terlalu besar, namun bentuknya cukup proporsional dan tidak kendur.

Pria tua tersebut kemudian menurunkan kecupannya dari bibir Bu Anita ke arah bawah, mulai dari leher, bahu, tulang selangka, hingga ke belahan payudara perempuan tersebut. Ia singkap sedikit bra tersebut hingga payudaranya melesat keluar, lalu ia jilat-jilat puting Bu Anita sehingga membuat pemiliknya menggelinjang.

Sembari menikmati payudara Bu Anita, Pak Syamsul pun menyelipkan tangannya ke balik rok selutut yang dikenakan perempuan tersebut. Awalnya ia hanya mengelus-elus selangkangan Bu Anita dari balik celana dalam. Namun kemudian ia juga berusaha menarik celana dalam tersebut ke bawah hingga terlepas, dan langsung menyentuh kemaluan perempuan tersebut yang bulu-bulunya telah dicukur tipis.

“Aroma tubuh kamu wangi banget, Anita,” ujar Pak Syamsul sambil terus mengulum payudara kecoklatan milik perempuan tersebut.

Ia tak sadar bahwa tubuh perempuan tersebut juga pernah dicicipi oleh mantan pacar anaknya. Namun karena Bu Anita memang rajin merawat tubuh, para lelaki tentu tak sadar kalau tubuhnya pernah dijamah oleh beberapa lelaki lain.

Dipuji seperti itu, Bu Anita hanya melenguh binal. Ia menikmati detik demi detik kebersamannya dengan pria tua tersebut, dan ingin meresapi setiap rangsangan yang diberikan.

Lama kelamaan, permainan jari Pak Syamsul di vagina Bu Anita semakin mendominasi aktivitas birahi mereka. Pria tua tersebut telah memasukkan dua jarinya ke dalam liang kenikmatan itu, dan meraba-raba klitorisnya. Sang perempuan pun merasa tergelitik dengan aktivitas tersebut, dan merasa birahinya kian memuncak.

“Ahhh, enak banget masss di situuuu,” desah Bu Anita dengan nada suara yang begitu binal.

Berbeda dengan Egi dan Irfan, Pak Syamsul memang terlihat begitu sabar melayani Bu Anita. Meski kemaluannya sendiri sudah terangsang melihat tubuh indah Bu Anita yang setengah telanjang, namun ia juga tidak kunjung melepas balutan handuk di selangkangannya. Beberapa kali Bu Anita coba melepas handuk tersebut, namun selalu ia tahan.

Permainan jari Pak Syamsul makin lama makin cepat, membuat Bu Anita tidak bisa menahan birahinya lagi, dan akhirnya “Aaaaahhhhhh ….”

Bu Anita melepaskan orgasmenya yang pertama dengan penuh kepuasan. Kepalanya mendongak ke atas dan matanya terpejam. Ia berusaha menikmati kedutan demi kedutan birahi yang tengah melandanya.

Melihat pasangannya tengah dilanda gelombang kenikmatan, Pak Syamsul pun mengendurkan rangsangannya. Ia menghentikan permainan jarinya di kemaluan perempuan tersebut, dan beralih membenamkan wajahnya di belahan payudara Bu Anita dan sesekali mengecup putingnya. Mereka tetap berada di posisi tersebut selama beberapa menit, hingga Bu Anita merasakan staminanya pulih kembali.

“Enak sekali permainan jari kamu, Mas,” ujar Bu Anita dengan manja. Pak Syamsul hanya tersenyum.

Langkah pertama telah ia jalankan, dan ia yakin setelahnya Bu Anita akan bertekuk lutut di hadapannya. Dan benar saja, karena perempuan tersebut kemudian langsung bangkit dan berbalik mendorong tubuh Pak Syamsul agar rebah di atas ranjang. Sambil menggigit bibir, Bu Anita pun melepaskan kaitan branya, dan melemparnya sembarangan. Ia kemudian juga melepas roknya, hingga tubuh gemulai perempuan tersebut kini tak berbalut sehelai benang pun.

Dengan binal, ia menduduki dada Pak Syamsul, dan mulai menggesek-gesekkan vaginanya di atas dada pria tua tersebut. Sesekali ia menyentuhkan liang senggamanya dengan puting Pak Syamsul, membuat dirinya sendiri dan pria di hadapannya makin terangsang. Demi menaikkan birahi pria tua tersebut, Bu Anita pun mulai meremas-remas payudaranya sendiri dan memasang wajah binal. Pak Syamsul tidak berkata apa-apa, dan hanya tersenyum melihat pemandangan erotis tersebut.

Bu Anita kemudian langsung menarik handuk yang masih menutupi bagian bawah tubuh Pak Syamsul dengan kencang, dan melemparnya. Di balik handuk tersebut langsung tampak sebatang penis dengan ukuran yang besar. Penis tersebut telah mencapai ukurannya yang maksimal, setelah pemiliknya mendapat rangsangan demi rangsangan dari Bu Anita.

“Besar ya, Mas,” ujar Bu Anita. Pak Syamsul lagi-lagi tak bersuara, hanya tersenyum. Hal tersebut membuat Bu Anita gemas, dan tanpa sadar birahinya pun kembali naik.

Perempuan tersebut pun langsung mengelus-elus penis tersebut dengan tangannya yang lentik. Beberapa menit ia elus, penis tersebut tak tampak ada tanda-tanda akan meletus menyemburkan sperma. Sementara pemiliknya masih tampak tenang memandangi tingkah Bu Anita yang telah berubah nakal tersebut.

“Koq gak keluar-keluar sih, Mas?” Tanya Bu Anita bingung.

Menurut pengalamannya, bila penis sudah sampai pada ukuran maksimal, maka tak lama kemudian pemiliknya akan mencapai klimaks alias orgasme. Dan Bu Anita ingin Pak Syamsul cepat-cepat mendapat orgasme pertama agar ia mendapat kepuasan, dan kemudian siap menaiki bukit birahi secara perlahan untuk menyetubuhi kemaluannya dan mencapai orgasme kedua. Perempuan tersebut khawatir apabila mereka bersetubuh sekarang, maka Pak Syamsul akan orgasme di tengah-tengah pendakian dirinya mencapai orgasme selanjutnya. Bu Anita tidak mau dibuat kentang alias tanggung.

Karena itu, ia pun mencoba cara lain. Kali ini, ia coba memainkan penis tersebut dengan mulutnya, mulai dari menjilat batang dan ujungnya, hingga mengulum seluruh penis tersebut. Pak Syamsul tetap bergeming. Staminanya seperti belum tergoyahkan. Hal tersebut tidak berubah meski Bu Anita telah mencoba memainkan penis pria tua tersebut dengan cara memainkan lidahnya ketika penis tersebut berada di rongga mulutnya. Ia bahkan sampai coba mengenyot penis tersebut sekuat tenaga. Tak ada usahanya yang mempan.

Bu Anita pun mencoba cara berbeda yang lebih binal. Ia kini memainkan penis tersebut dengan payudaranya. Ia jepitkan penis tersebut di antara kedua gunung kembarnya, lalu ia jepit dan remas-remas. Ia lakukan hal tersebut sambil memandang Pak Syamsul dengan tatapan yang sayu, bagaikan seorang pelacur. Beberapa menit melakukan hal tersebut, penis Pak Syamsul tetap saja tegak berdiri.

Perempuan tersebut pun kehabisan akal. “Mas, boleh saya masukin kontolnya ke memek aku?” Tanya Bu Anita dengan kata-kata yang erotis.

Inilah saat yang ditunggu-tunggu oleh Pak Syamsul. Pria tersebut pun mengangguk. Ia membiarkan ketika Bu Anita berusaha memasukkan penisnya yang tegak berdiri ke kemaluannya sendiri. Namun untuk menjaga agar Pak Syamsul tidak cepat keluar, Bu Anita tidak melakukannya dengan menghadap ke arah Pak Syamsul. Ia justru mengambil posisi membelakangi wajah pria tersebut. Dengan begitu, ia berharap Pak Syamsul tidak akan melihat wajah binalnya saat menikmati sodokan penis besar pria tersebut, sehingga staminanya bisa terjaga dan tidak cepat orgasme.

Bu Anita benar-benar ingin mendapatkan kepuasan seks tertinggi bersama Pak Syamsul. Ia ingin persetubuhan yang nikmat, panjang, dan tuntas. Dengan gemulai, Bu Anita pun mulai menaikturunkan tubuhnya di atas selangkangan Pak Syamsul. Dalam diam, ia mendesah menikmati persetubuhan pertamanya dengan pria tua tersebut. Ujung kemaluan Pak Syamsul benar-benar bisa menyentuh lapisan terdalam vaginanya.

Dari belakang, Pak Syamsul tampak menaikkan tubuhnya dan menyingkap rambut Bu Anita. Ia kembali mengecup-ngecup leher perempuan tersebut. Tangannya yang bebas pun langsung memeluk tubuh sintal yang tengah telanjang tersebut, dan meremas-remas payudaranya yang indah.

“Mass … jangaann. Nanti Mas cepat keluar,” Bu Anita akhirnya mengutarakan kekhawatirannya.

Pak Syamsul hanya tersenyum, lalu menggeleng. Pria tersebut bahkan justru meremas payudara Bu Anita lebih kencang, dan memilin-milin putingnya, membuat pemiliknya menggelinjang. Ia pun membalas goyangan pinggul Bu Anita yang tengah naik turun di atas selangkangannya, dengan cara memajumundurkan pantatnya. Tampak pemandangan yang begitu sensual antara dua orang insan berbeda usia tersebut, tengah berusaha menjemput birahi dengan penuh semangat.

Dalam hati, Bu Anita masih khawatir Pak Syamsul akan segera orgasme. Namun setelah beberapa menit, ia sadar tengah menghadapi sosok yang berbeda. Pria tua tak sama dengan laki-laki biasa. Ia tidak kunjung terlihat akan segera orgasme. Bu Anita pun melupakan hal itu, dan lebih menikmati sodokan demi sodokan yang diberikan Pak Syamsul.

Mereka berbagi gairah hingga sekitar 30 menit, sampai kemudian justru Bu Anita yang merasa akan kembali mencapai puncak. Perempuan tersebut pun menambah kekuatan jepitan vaginanya yang masih terasa sempit meski telah beranak satu. Ia pun bergoyang dengan lebih binal, layaknya seorang pelacur yang harus memuaskan nafsu pelanggannya. Merasakan itu, Pak Syamsul pun tersenyum bahagia. Ia telah berhasil membuat Bu Anita mengeluarkan sisi binalnya. Hal tersebut pun membuat birahinya meledak, hingga ia juga kian sampai di puncak syahwat.

Bu Anita kemudian berbalik menghadap Pak Syamsul dan memeluk tubuh pria tua tersebut, lalu kembali menjepit kemaluan Pak Syamsul dengan vaginanya. Ia kembali naik turun di atasnya dengan gerakan yang gemulai, lama kelamaan semakin cepat. Ia gesekkan payudaranya ke dada Pak Syamsul. Ia jilat-jilat keringat Pak Syamsul yang mulai menetes di leher dan dada. Ia jambak-jambak rambut pria tersebut. Hingga akhirnya …

“… Aaaaaaahhhhhhhhh,” Pak Syamsul mendesah kencang.

“… Nggggghhhhhhhhhhh,” Bu Anita pun mengeluarkan lenguhan binal.

Keduanya pun ambruk di atas ranjang hotel yang awalnya rapi, tetapi sekarang telah sangat berantakan akibat pertempuran mereka berdua. Bu Anita tampak langsung memejamkan mata sambil menyenderkan kepala di dada Om Syamsul, sedangkan sang lelaki dengan lembut mengusap-usap rambut sang wanita. Kemaluan mereka masih bersatu, belum sempat terlepas. Keduanya menghabiskan waktu dengan menikmati gelombang birahi yang begitu dahsyat menerpa mereka.

Ketika Pak Syamsul telah selesai dengan birahinya, ia melihat Bu Anita tengah tertidur cukup pulas. Perempuan tersebut tampak sangat kelelahan. Dengan perlahan, pria tersebut pun menarik penisnya yang masih tertancap di liang senggama milik perempuan tersebut, lalu bangkit dari ranjang. Dengan kondisi masih tanpa busana, ia berjalan menuju meja tempat ia meletakkan smartphone. Tampak ada beberapa missed call dan pesan yang masuk. Pak Syamsul pun membuka kunci smartphone miliknya.

“Om, hari ini bisa jemput gak dari bimbel?”

Ternyata itu adalah pesan dari Wulan, teman anaknya yang selama ini telah menjadi temannya di ranjang. Wulan pun beberapa kali menelepon Pak Syamsul, namun tidak diangkat. Setelah membaca pesan tersebut, Pak Syamsul melirik ke arah tubuh Bu Anita yang masih terkapar di atas ranjang. Ia pun mengambil keputusan.

“Maaf, Wulan. Om hari ini ada kerjaan, kamu pulang sendiri dulu ya,” tulis Pak Syamsul.

Ia merasa tidak sedang berbohong. Karena saat ini, tengah ada seorang wanita yang harus ia garap. Pertarungannya dengan perempuan tersebut ternyata belum selesai.

(Penghianatan Sahabat Season 2 Part 9)Sebelumnya | Selanjutnya(Penghianatan Sahabat Season 2 Part 11)

Banyak Novel lain di Banyak Novel

Banyak Game lain di Banyak Game