Penghianatan Sahabat Part 7

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5Part 6Part 7Part 8
Part 9Part 10Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15Part 16
Part 17Part 18Part 19Part 20Part 21Part 22Part 23Part 24
Part 25Part 26Part 27Part 28Part 29SEASON 2

Penghianatan Sahabat Part 7

Start Penghianatan Sahabat Part 7 | Penghianatan Sahabat Part 7 Start

Seperti janjinya, Irfan pun telah sampai di rumah Mila pada waktu yang telah dijanjikan. Seperti biasa, rumah Mila yang bercat putih nampak begitu sepi. Sepertinya ayah dan adik Mila tidak ada di umah. Ia pun langsung memarkir motornya dan mengetuk pintu depan.

Tak beberapa lama kemudian, Mila muncul dari dalam rumah dan membuka pintu. Hari itu Mila memutuskan untuk mengenakan kaos lengan panjang berwarna merah muda yang ketat membungkus tubuhnya, dengan jilbab yang berwarna senada. Pakaian itu benar-benar membentuk tubuhnya yang seksi, terutama bagian payudaranya yang memang besar. Jilbab yang cukup panjang pun tak bisa menyembunyikan bentuk dada yang indah tersebut. Untuk bawahan, Mila memilih celana berwarna hitam yang juga ketat membungkus kakinya yang jenjang.

Irfan pun sampai terpana dibuatnya. Matanya tampak fokus bukan di bagian wajah, melainkan di bagian payudara Mila. Ia baru sadar begitu Mila kemudian menyebut namanya.

“Hei, Irfan. Koq bengong?” Ujar Mila.

“Eh, gak apa-apa koq,” ujar Irfan yang sudah mulai tersadar. “Kamu sudah siap untuk jalan?”

“Sudah, yuk kita langsung,” ujar Mila. Perempuan cantik tersebut pun langsung keluar dan mengunci pintu rumahnya.

Irfan pun langsung duduk di posisi pengemudi motor matic miliknya. Mila juga langsung naik di belakang. Perempuan tersebut hanya membawa sebuah tas kecil yang ia letakkan di pangkuannya. Sejak naik ke atas motor, Mila tampak tidak menjaga jarak dengan Irfan. Meski tidak sampai memeluk tubuh Irfan yang gempal, namun Mila sepertinya tidak masalah ketika dadanya yang berukuran 36D menyentuh punggung Irfan.

Sang pengemudi benar-benar bisa merasakan lembutnya payudara Mila di punggungnya. Apalagi ketika melewati polisi tidur, posisi tubuh Mila bisa sangat menempel ke tubuhnya. Ia seperti tidak ingin perjalanan ini cepat berakhir.

Namun pada akhirnya, mereka pun sampai di mall. Mila dan Irfan seperti masih sama-sama mengetahui posisi masing-masing. Irfan masih sadar bahwa Mila merupakan pacar sahabatnya, dan Mila pun tidak ingin terlihat murahan dengan menggandeng tangan sahabat pacarnya. Karena itu mereka pun masih tetap menjaga jarak ketika berjalan.

Mereka berdua akhirnya sampai di toko buku dan langsung memisahkan diri. Mila tampak asyik melihat deretan komik-komik baru, sedangkan Irfan memilih untuk melihat-lihat rak majalah yang tidak terlalu jauh dari tempat Mila berdiri. Terkadang Irfan pun mencuri-curi pandang ke arah tubuh Mila yang terlihat begitu seksi dengan pakaian yang ia kenakan hari ini.

“Beruntung sekali Egi bisa mendapatkan pacar yang cantik dan bertubuh seksi seperti Mila,” pikir Irfan dalam hati.

Sekitar lima belas menit berlalu, Mila pun kembali menghampiri Irfan.

“Sudah selesai, Mil? Jadi beli buku apa?” Tanya Irfan.

“Gak ada yang bagus, jadi males beli.”

“Ohh.”

“Aku mau lanjut nonton, kamu mau temenin, gak?” Ujar Mila tiba-tiba.

Irfan pun langsung sumringah. Kapan lagi ia bisa mendapatkan kesempatan berduaan nonton dengan seorang perempuan cantik seperti Mila. “Boleh, yuk.”

Mereka berdua langsung meninggalkan toko buku dan naik ke lantai lima, tempat bioskop berada. Mereka pun mengantri tiket dan memilih film yang ingin mereka tonton. Film tersebut sebenarnya tidak terlalu terkenal, namun Irfan tidak menolak. Yang terpenting baginya adalah ia bisa nonton bioskop berdua dengan Mila.

“Mau duduk di mana?” Tanya penjaga tiket kepada mereka berdua.

“Di sini saja,” Mila langsung menunjuk sepasang tempat duduk yang berada di pojok ruangan bioskop. Dua bangku tersebut berada di baris yang berbeda, terpisah dengan bangku-bangku lain, sehingga tidak akan ada orang yang duduk di sebelah kiri dan kanan mereka berdua. Irfan merasakan ada maksud tertentu mengapa Mila memilih bangku tersebut, namun ia tidak ingin terlalu percaya diri terlebih dahulu.

Irfan dan Mila beruntung karena mereka hanya perlu menunggu sekitar tiga puluh menit sebelum mereka bisa masuk ke ruangan bioskop. Sebelumnya, mereka menyempatkan diri untuk membeli popcorn dan minuman ringan. Begitu film dimulai dan lampu ruangan dimatikan, Irfan dan Mila sama-sama berusaha untuk fokus menyaksikan jalan cerita yang tersaji di dalam film. Mereka tetap menjaga jarak ketika duduk di awal-awal pemutaran film.

Namun ketika akhirnya muncul sebuah adegan yang mengagetkan, Mila yang duduk di sebelah kanan Irfan tiba-tiba langsung memeluk lengan Irfan yang sebelah kanan. Pria bertubuh buncit tersebut pun bisa merasakan kelembutan payudara Mila yang masih tertutup kaos dan jilbab di lengannya. Mila pun tidak langsung melepaskan lengan Irfan, bahkan justru memeluknya lebih erat begitu ada adegan yang mengagetkan lagi di layar bioskop.

Merasakan hal tersebut, Irfan pun mulai berani dan mengarahkan tangan kirinya untuk menyentuh tangan Mila yang masih menempel di lengannya. Ternyata Mila membiarkan saja perlakuan Irfan tersebut. Tatapan Mila masih tetap ke layar bioskop ketika Irfan mulai menggenggam dan mengelus-elus tangannya yang lembut.

Irfan memang masih belum mempunyai banyak pengalaman, dan ia tidak tahu harus berbuat apa di situasi seperti itu. Sepanjang pemutaran film, ia hanya menggenggam tangan Mila yang tampak tidak marah diperlakukan seperti itu. Namun menjelang akhir film, Mila justru berinisiatif merebahkan kepalanya ke pundak sebelah kanan Irfan. Perempuan cantik tersebut pun kembali memeluk lengan kanan Irfan, membuat lelaki tersebut kembali bisa merasakan lembutnya sepasang payudara besar milik Mila.

Dengan memberanikan diri, Irfan pun menoleh ke arah wajah Mila. Mengetahui hal itu, Mila pun membalas tatapan tersebut. Perempuan tersebut tampak tersenyum dengan tatapan yang sayu. Tanpa diperintah, Irfan mengarahkan bibirnya mendekat ke wajah Mila. Bibir tersebut pun berlabuh di kening perempuan tersebut. Ini adalah pertama kalinya Irfan mencium tubuh seorang perempuan. Untungnya, Mila tidak menolak. Begitu Irfan melepaskan kecupannya, perempuan seksi tersebut hanya tersenyum, dan kembali memandang layar bioskop.

Sesaat kemudian, film pun selesai dan lampu kembali dinyalakan. Mila langsung melepas pelukannya di lengan Irfan, dan membetulkan posisi duduknya. Irfan merasa sedikit kecewa, namun apa yang terjadi di bioskop saat itu benar-benar melampaui ekspektasinya akan pertemuan hari ini dengan Mila.

Mereka berdua pun keluar dari bioskop bersama dengan penonton lain, dan memutuskan untuk mampir di foodcourt terlebih dahulu. Mereka sama-sama menghindari pembicaraan tentang apa yang terjadi di dalam ruangan bioskop tadi, dan lebih memilih untuk membicarakan hal lain. Mereka berdua bahkan tidak menyadari ketika ada seorang perempuan cantik yang tengah mendekati mereka.

“Halo, Mila,” ujar perempuan tersebut sambil menepuk punggung Mila. Mila pun begitu kaget karena hal tersebut. Namun begitu ia menoleh ke arah perempuan tersebut, ia hanya tertawa.

“Dasar kau Wulan, bikin kaget saja,” ujar Mila. Irfan pun bingung dengan apa yang sedang terjadi di hadapannya.

“Hayo lagi sama siapa,” ujar Wulan sambil melirik ke arah Irfan. Perempuan berkacamata itu pun langsung duduk di meja yang ditempati Mila dan Irfan tersebut.

“Oh iya, kenalkan ini Irfan, temannya Egi. Irfan kenalkan ini Wulan, teman terbaikku sejak masa SMA,” ujar Mila memperkenalkan mereka berdua. Irfan dan Wulan pun saling berjabat tangan. Sejenak Irfan tampak mengagumi kecantikan Wulan.

“Trus, kalian lagi ngapain di sini?” Tanya Wulan penasaran.

“Aku mau beli buku, tapi Egi lagi sibuk banget. Jadi aku ajak Irfan,” ujar Mila.

“Kenapa gak ajak aku?” Tanya Wulan.

“Hmm, aku kira kamu ada jadwal ngajar bimbel hari ini,” ujar Mila sekenanya.

“Owhh,” tanggap Wulan.

“Kamu hari ini bawa mobil gak?” Tanya Mila tiba-tiba kepada Wulan.

“Iya bawa, kenapa?”

“Kamu sekarang udah mau pulang?”

“Iya, ini udah mau jalan ke tempat parkir, eh malah ketemu kalian berdua.”

“Irfan, kalau aku pulangnya bareng Wulan gak apa-apa, kan?” Tanya Mila kepada Irfan.

Irfan tampak kecewa dengan pertanyaan tersebut, karena artinya kebersamaan ia dan Mila harus berakhir, dan ia tidak bisa menemani Mila pulang ke rumah. Namun ia sadar bahwa ia di posisi yang tidak bisa berbuat apa-apa. “Iya, gak apa-apa koq.”

“Oke, mau jalan sekarang, Mil?” Tanya Wulan.

“Yuk,” jawab Mila sambil berdiri. “Dah Irfan.”

Mila dan Wulan pun langsung beranjak ke tempat parkir, meninggalkan Irfan yang hanya bisa tertegun melihat dua perempuan cantik dan seksi tersebut meninggalkannya.

Bersambung

END – Penghianatan Sahabat Part 7 | Penghianatan Sahabat Part 7 – END

(Penghianatan Sahabat Part 6)Sebelumnya | Selanjutnya(Penghianatan Sahabat Part 8)