Penghianatan Sahabat Part 4

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5Part 6Part 7Part 8
Part 9Part 10Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15Part 16
Part 17Part 18Part 19Part 20Part 21Part 22Part 23Part 24
Part 25Part 26Part 27Part 28Part 29SEASON 2

Penghianatan Sahabat Part 4

Start Penghianatan Sahabat Part 4 | Penghianatan Sahabat Part 4 Start

Hari ini, matahari telah tenggelam di ufuk barat, dan kegelapan malam pun mulai datang. Seluruh penduduk ibu kota mulai pulang ke rumah masing-masing, kecuali sebagian yang masih sibuk kerja lembur hingga larut malam di gedung-gedung tinggi di Jalan Sudirman.

Dulu Mila tahu betul kondisi itu, karena pekerjaannya yang begitu memaksa. Tapi kini, perempuan cantik tersebut sudah bisa beristirahat sejak sore. Di malam hari ia sudah bisa bersantai di kamarnya, yang kemarin menjadi saksi pergumulan dirinya dengan sang pacar, Egi.

Mengingat kejadian kemarin, perasaan Mila campur aduk, antara senang dan kecewa. Ia tahu hal tersebut terasa salah dalam menjalin sebuah hubungan. Namun ia juga tidak bisa berbohong pada diri sendiri tentang perasaannya yang sesungguhnya.

Semuanya bermula ketika mereka berdua tengah menonton film di ruang keluarga. Film tersebut sebenarnya hanya film Hollywood biasa, namun memang ada adegan ranjang yang ditampilkan, khas film barat. Terlihat di layar sang pria tengah asyik mengecupi tubuh sang perempuan yang telah polos tanpa busana, di dalam ruangan dengan penerangan yang seadanya.

Menyaksikan hal tersebut, birahi Egi dan Mila pun naik. Egi memulai terlebih dahulu dengan menggenggam tangan Mila, dan Mila pun membalasnya dengan meremas-remas tangan Egi. Sang pria kemudian mengambil inisiatif dengan mendekatkan wajah ke arah Mila, dan mencium bibirnya yang indah.

“Hmm, Sayang …” desah Mila.

Perempuan yang masih mengenakan jilbab tersebut pun membalas ciuman kekasihnya dengan kuluman yang tak kalah liar. Lidahnya mulai menjelajahi rongga mulut Egi, dan membelit lidah pasangannya tersebut. Tangan kanannya mulai merengkuh leher pacarnya dan mengelus-elus bagian belakang telinga. Egi pun tidak tinggal diam. Ia mengarahkan tangannya ke payudara Mila yang masih tertutup kaos berwarna putih, dan mulai mengelus-elusnya. Lama kelamaan, elusan tersebut pun berubah menjadi remasan yang keras, membuat pemiliknya mendesah penuh nafsu.

Aktivitas tersebut membuat kedua insan tersebut semakin dibakar birahi, yang kemudian diakhiri dengan keputusan Egi untuk menggendong tubuh Mila ke dalam kamar. Begitu tubuh Mila telah merebah di atas ranjang, pria berusia 25 tahun tersebut pun langsung menindih dan mencecar tubuh kekasihnya dengan ciuman serta rabaan. Ia bahkan langsung melepas kaosnya, dan melemparnya ke lantai. Melihat hal itu, Mila pun langsung bernafsu menjilati dada hingga puting Egi.

Semuanya terus berlanjut, keduanya saling memberi rangsangan, hingga Mila yang memang masih ingin mempertahankan keperawanannya mencegah Egi dari membuka celana dalamnya. Bila menuruti hawa nafsu, perempuan berjilbab tersebut sebenarnya sudah sangat ingin merasakan kenikmatan bersetubuh, merasakan tusukan penis Egi di dalam vaginanya. Namun ia masih memiliki akal sehat untuk mencegah hal tersebut terjadi. Ia pun mencoba memuaskan sang pacar dengan cara memberikan pelayanan blow job.

Namun hal tersebut akhirnya justru membuat Mila kecewa karena beberapa hal. Pertama, ia kembali sadar bahwa ukuran penis Egi memang lebih kecil dibandingkan Irfan. Dan kedua, kekasihnya tersebut sepertinya tidak begitu kuat untuk menahan birahi dalam waktu yang lama. Baru sekitar sepuluh menit dirangsang dengan kuluman di penisnya, pria yang memang bertubuh kurus tersebut sudah tak tahan untuk melepaskan sperma. Ia tak mampu bertahan dari serangan nafsu Mila yang memang telah cukup lihai.

Begitu mengetahui bahwa Egi telah orgasme, Mila pun langsung pergi ke kamar mandi untuk mengeluarkan sperma Egi yang tertampung di mulutnya. Setelah itu, ia merenung sesaat, memandangi kaca di atas wastafel yang ada di kamar mandinya. Ia memandangi wajah cantiknya yang masih terbalut jilbab. Ia mengelus-elus pipinya sendiri, sambil berpikir kenikmatan seperti apa yang ingin ia dapatkan.

Mila pun mulai melepaskan jilbabnya hingga terlihat rambut panjangnya yang indah. Mila melanjutkannya dengan melepas kaos dan celana dalamnya, hingga tidak ada sehelai benang pun yang menempel di tubuhnya. Ia pun mulai mengelus-elus tubuhnya sendiri, hingga kemudian memutuskan untuk melakukan sesuatu demi memuaskan birahinya.

Agar pacarnya tidak curiga, Mila pun menyalakan shower, karena ia tidak ingin apa yang ia lakukan selanjutnya menarik perhatian. Ketika shower telah menyala, perempuan manis tersebut mulai mengelus payudaranya sendiri dengan tangan kanannya, dan menyentuh vagina dengan tangan kirinya. Ia pun memutar puting payudaranya yang masih berwarna kemerahan, dna masih berdiri tegak tanda pemiliknya masih memiliki nafsu yang memuncak. Ia kembali merasakan gairah birahi yang tak tertahankan.

Namun entah kenapa, Mila tidak bisa membayangkan tubuh kekasihnya, Egi. Ia justru tidak bisa melepaskan bayangan Irfan dan penis besarnya. Ia akhirnya malah membayangkan Irfan memeluknya dari belakang, dan menciumi lehernya yang terbuka. Ia bayangkan lelaki berkulit gelap dan bertubuh buncit tersebut membelai rambutnya yang hitam, dan mengelus-elus vaginanya, hingga memasukkan sebagian jari gempalnya ke dalam vagina yang masih perawan tersebut. Mila benar-benar ingin dipuaskan oleh sahabat pacarnya tersebut.

Beberapa menit bermain-main dengan fantasi tersebut, Mila akhirnya mendapat orgasme yang ia inginkan. Orgasme yang tidak bisa ia rasakan dari pacarnya sendiri. Sebelum keluar, ia pun sempat terduduk di atas toilet duduk, menikmati gelombang birahi yang menyeruak keluar.

Kejadian itulah yang kini tengah menguasai lamunan Mila ketika tengah sendirian di kamar. Apakah Irfan hanya imajinasinya semata, atau ia memang menginginkan tubuh Irfan secara nyata. Karena faktanya, Irfan lah yang menguasai imajinasi seksualnya.

Mila pun memutuskan bahwa ia perlu melakukan uji coba secara langsung. Ia pun mengambil smartphone dan mengirimkan WhatsApp kepada Irfan. “Halo Irfan, sudah tidur belum? Kamu ada waktu gak hari sabtu besok? Bisa temenin aku ke toko buku?”

Tidak lama kemudian, Mila menerima balasan. “Sabtu besok kosong sih, memangnya kamu gak jalan sama Egi?”

Mila sesaat bingung harus menjawab apa. Ia harus mengarang cerita yang masuk di akal agar Irfan tidak curiga. “Lagi males sama dia, habis sibuk mulu,” akhirnya Mila memutuskan untuk mengirim balasan seperti itu.

“Oke, Mil. Nanti aku jemput ke rumah ya,” Mila pun tersenyum membaca balasan dari Irfan tersebut dan kembali meletakkan smartphone miliknya.

Tiba-tiba, ia mendengar suara pintu kamarnya diketuk dari luar. Sesaat kemudian, ayahnya muncul dan langsung masuk ke dalam kamar. “Kamu belum tidur?”

“Belum Yah, ada apa?”

“Besok bantu urus pengiriman barang ke Padang ya.”

“Ayah yakin tetap mau kirim ke sana? Itu modalnya kan dari uang yang harus disetor untuk bayar pinjaman ke bank,” ujar Mila mengingatkan.

“Gak apa-apa, nanti kan setelah barangnya sampai mereka janji mau langsung bayar. Baru setelah itu kita bayar utang ke bank, lumayan untungnya, Mil.”

“Ya sudah, terserah Ayah saja.”

Pak Syamsul baru akan beranjak keluar dari kamar anaknya, sebelum kemudian ia mengingat sesuatu dan berhenti. “Oh iya, kemarin Ayah ketemu Wulan. Dia sekarang ngajar bimbel ya?”

“Iya, Ayah. Lebih senang kerja dengan anak-anak katanya.”

“Dia sudah punya pacar atau belum sih?”

“Belum tuh. Emang kenapa Ayah tanya-tanya?” Ujar Mila curiga.

“Nggak, umur-umur segitu kan sudah waktunya punya pasangan. Kamu saja sudah beberapa tahun kan sama Egi,” jawab sang Ayah.

“Setiap orang kan beda-beda, Yah. Katanya Wulan juga mau main ke sini nanti, tapi belum tahu kapan,” ujar Mila.

“Ohh,” ujar Pak Syamsul menanggapi sambil berjalan keluar kamar. Ketika ia merasa Mila sudah tidak bisa melihatnya, ia pun tersenyum mengetahui bahwa Wulan akan datang ke rumah itu dalam waktu dekat.

Ia pun bergegas ke kamarnya dan langsung mengunci pintu. Kemudian duda berusia 50an tahun itu mengeluarkan smartphone miliknya dari kantong, dan membuka aplikasi Facebook. Ia membuka profil seorang perempuan yang ia temukan di daftar teman Mila, anaknya.

Pak Syamsul pun duduk di tepi ranjang, dan langsung memelorotkan celana panjangnya. Ia mengambil lotion yang ada di meja sisi ranjang, dan mengeluarkan isinya. Setelah rata di tangannya, Ayah Mila tersebut pun mulai mengusapkan ke kemaluannya sendiri, dan mulai mengocok maju mundur.

Pria tua tersebut melakukan hal itu sambil memandangi foto perempuan berjilbab yang tampil di layar smartphonenya. Ada foto perempuan tersebut ketika tengah mengajar di bimbel, ketika berkumpul bersama keluarga, hingga foto dirinya saat tengah bersama Mila. Namun Pak Syamsul paling menyukai foto perempuan tersebut ketika tengah selfie sendirian, dan tersenyum manis ke arah kamera. Ia membayangkan perempuan tersebut sedang tersenyum kepada dirinya.

“Ahhh, Wulannn … Cantik sekali sih kamu, Nak,” gumam Pak Syamsul di sela-sela aktivitas masturbasinya.

Ia pun makin bersemangat begitu melihat foto Wulan yang tengah berpose di pantai, dengan jilbab yang tidak begitu panjang dan kemeja putih bermotif bunga. Kemeja tersebut tampak tidak mampu menutupi seluruh tubuhnya dengan sempurna. Rok hitam yang dikenakan Wulan pun tengah berkibar menyingkap betisnya yang putih mulus. Pak Syamsul kian mempercepat kocokannya.

Hingga akhirnya semburan sperma pun meluncur keluar dari sarangnya. Pak Syamsul nampak menghembuskan napas lega. Ia tidak sadar bahwa tangannya yang tengah memegang smartphone tak sengaja menekan tombol ‘Like’.

Bersambung

END – Penghianatan Sahabat Part 4 | Penghianatan Sahabat Part 4 – END

(Penghianatan Sahabat Part 3)Sebelumnya | Selanjutnya(Penghianatan Sahabat Part 5)